Seri Kerajaan Singosari-PdLS

Nuwun, sugeng pinanggih malih para kadang, cantrik bayuaji sowan, nyangking rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-8]

Pada episode sebelumnya cantrik bayuaji mendongeng tentang nDedes yang diarcakan sebagai Prajñaparamita. Pada epidose berikut ini cantrik bayuaji akan mendongeng asal muasal Angrok dalam:

DONGENG KEN ANGROK atawa

Angrok si kere munggah bale

Menyoal asal-usul Ken Arok(Ken Angrok) bak misteri. Penelusuran asal-usul Angrok ini menarik mengingat dalam dua kitab yang mengisahkan Angrok yakni Negarakertagama dan Pararaton sama sekali tidak memberikan kejelasan siapa ayah Angrok sebenarnya. Hal ini menimbulkan banyak penafsiran baik oleh sejarawan. Asal-usul Ken Angrok yang samar-samar menimbulkan banyak penafsiran. Mana yang paling tepat? Mungkin bukti-bukti yang lebih logis dan pararel dengan fakta-fakta sejarah yang bisa dihandalkan.

Sumber pertama kisah tentang Angrok ialah Serat Kidung Pararaton,

Dari penelitian, selama ini tempat kelahiran Angrok dengan memakai sumber kitab Pararaton yakni desa Pangkur. sira Ken Angrok, angher ing Pangkur. Demikian Pararaton menulis.

Dalam penelitian sesuai Pararaton, Pangkur itu letaknya ada di antara Kepanjen, Kabupaten Malang dan Blitar. Ada pula yang menyebutnya di daerah Ngawi. Tapi ada pendapat lain bahwa Angrok itu berasal dari Batu, Malang Raya lantaran disebutkan di Pararaton juga bahwa Ken Ndok sempat pula bertemu dengan Lembong dan Bango Samparan dari Karuman untuk mengakui bahwa anak yang diasuh dua laki-laki itu adalah anaknya.

wonten ta bobotoh sasiji saking Karuman haran sira Bango Samparan. ….

Ada seorang penjudi permainan saji <berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan.

Bango Samparan adalah orang tua asuh Angrok, dan di desa Karuman itulah Angrok pernah bertemu dengan orang Karuman (mungkin dimaksud adalah Bango Samparan), dan melakukan tindak kriminal. Sampai sekarang desa Karuman masih ada, dan merupakan bagian dari Kelurahan Tlogomas.

Secara ringkas, masa kecil Angrok tak sebesar kemegahannya ketika menjadi raja Singasari. Karena tekanan kemiskinan, tapi sangat mungkin juga karena lahir tak berbapa, Ken Ndok membuang Angrok ketika masih bayi dengan cara meletakkannya dalam keranjang yang dihanyutkan di Sungai Brantas. Ia berharap, agar bayi itu ditemukan oleh seseorang, dan akan diasuh serta dibesarkannya. dan akan bernasib lebih baik daripada dirinya.

Angrok ditemukan seorang pencuri bernama Lembong. Di cerita yang lain, Angrok tidak dihanyutkan di sungai tapi diletakkan begitu saja di makam dan diambil Lembong, dalam pengasuhan Lembong, Angrok pun dibesarkan menjadi seorang pencuri dan penyamun yang cerdik.

Runtuhnya kerajaan Daha (Kadiri), dan bangkitnya kerajaan Singasari oleh Angrok. Ia anak Ken Ndok, petani desa di tepi Brantas di kawasan Tumapel, di utara kota Malang sekarang. Harapan itu memang terjadi. Ia ditemu seseorang pencuri. Sehingga “si lembu peteng” ini pun tumbuh dan menjadi besar sebagai pencuri dan penyamun. Tapi, sekalipun pencuri, Angrok memang cerdik dan panjang akal.

Tumapel ketika itu di bawah kekuasaan seorang akuwu, Tunggul Ametung, yang tunduk di bawah kekuasaan Raja Kertajaya di Kediri (1191-1222). Berita tentang kejahatan pencuri ini tersebar juga di wilayah Kediri. Maka diperintahnya Tunggul Ametung agar menangkap pencuri itu.

Suatu ketika ia dikejar orang Tumapel beramai-ramai hendak ditangkap. Tiba di pinggir kali perbatasan ia terpaksa berhenti. Sejurus termangu. Tiba-tiba saja ia mendapat akal. Di pinggir kali itu ada sebatang pohon siwalan. Ia segera memanjat pohon itu sampai ke ujung. Duduk di salah satu pelepah daun. Ketika orang-orang tiba di situ, segera mereka mengepung pohon tal sambil berseru-seru menyuruh si Maling turun. Salah seorang dari mereka segera memanjat pohon itu dengan tangkas. Sementara itu si Maling tampak mengepit dua pelepah daun tal di kedua belah tangannya. Selagi orang masih sibuk bertanya-tanya di hati masing-masing tentang apa yang akan terjadi, si Maling dengan bersayap daun tal telah melayang terbang ke daratan seberang sungai.

Pararaton menulis:

Dadi sira amiresep sabdha ring awing awing, kinon sira amranga ron ing tal, pinaka hlaran ira kiwa tengen, marggan ira anglayang maring sabrang wetan, masa sira mati ya mwah.

“Sekarang ia menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati.” [lihat: PdLS rontal 1 halaman 27]

Orang-orang itu gagal menangkap si Pencuri. Dengan hati kesal tapi juga rasa kagum mereka kembali ke desa. Tanah seberang sungai itu wilayah kerajaan lain, yang tak mungkin mereka masuki beramai-ramai. Lagi pula arus kali itu pun tidak bersahabat. Lolos dari pengejaran, si Maling bersembunyi beberapa lama.

Sementara itu dewa-dewa di Suralaya berunding, mencari jalan bagaimana bisa menyelamatkan si Maling. Di persidangan para dewa ini ternyata Maling ini justru menjadi rebutan ketiga-tiga dewa Trimurti. Semuanya mengaku sebagai yang berhak atas pemuda maling yang berani dan panjang akal itu. Dewa Brahma dan Dewa Syiwa saling mengaku sebagai ayahnya. Sedangkan Dewa Wisnu mengaku, bahwa pada tubuh Maling itulah ia menemukan tempat awatara atau titisannya yang terbaru. Namun begitu kelak, jika si Maling sudah tampil sebagai raja Ken Angrok pembangun dinasti raja-raja Singasari, ternyata ia sendiri lebih cenderung pada Syiwa. Sehingga oleh karena itu untuk nama dinasti atau wangsa yang dibangunnya pun, Angrok memilih nama Girindrawangsaja – “keluarga yang lahir dari Girindra”. Girindra ialah nama lain dari Syiwa. Sang Bhatara Guru

Pararaton mengisahkan:

….. Andhikan iraji Dhangdhang Gendhis: ‘Sapa ta angalahakena ring nagaran isun iki? Manawa kalah, lamun Bhatara Guru tumurun saking akasa, Manawa kalah!’

Ingaturan sira Ken Angrok, yan siraja Dhangdhang Gendhis angandhika mangkana. Ling ira Sang Amurwwabhumi: ‘He para bhujangga Sewa Soghata kabeh, astwakena isun abhiseka Bhatara Guru’. Samangkana mulan ira abhiseka Bhatara Guru. Ingastwan ing bhujangga Brahmana Rsi. Tur sira anuhu anglurrug maring Deha.

Pangkur ada di Rejasa, Batu?

Didaerah Batu Kecamatan Junrejo ada sebuah desa bernama Rejasa atau nJasa atau lidah Jawa menyebutkan Rejoso (?) Konon daerah itu, di zaman Jawa Kuno sudah sangat ramai. Terbukti dengan banyaknya temuan-temuan purbakala di sana. Di desa itu, banyak sekali pematung dan tukang pahat batu alias Jlagra. Bila dikaitkan dengan banyaknya penemuan patung di daerah tersebut, bisa jadi keahlian itu adalah keahlian turun temurun dari masa kuno dulu. Maklum juga, lantaran Batu adalah daerah antara Daha (Kadiri) dan Tumapel (Malang Raya di masa Angrok).

Di jaman seperti itu, acapkali gelar atau nama seseorang dikaitkan dengan tempat asalnya. Angrok diduga lahir di Junrejo, Batu, desa bernama Rejasa itu. Di tempat itu ditemukan kolam kuno yang cukup besar, pernah juga ditemukan sebuah patung yang melambangkan Batara Wisnu yang kini keberadaannya tidak diketahui, ada yang menyebutnya di musium Adam Malik, namun ada yang meragukan bahwa patung Wisnu di musium itu adalah patung yang berasal dari desa nJasa. Beberapa penemuan lain disimpan di Vihara dekat situ saja yakni di Vihara Kertarejasa.

Di daerah Batu memang banyak sekali ditemukan partitan kuno pun petilasan candi. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah Batu dan sekitarnya sampai arah timur yakni Dinoyo merupakan daerah yang penting di masa itu. maka sangatlah masuk akal kalau Angrok memang dari daerah itu.

Di barat desa itu, ada sumber air yang dialirkan ke seluruh desa sini. Sumber air itu, menurut cerita turun-temurun adalah sumber air yang biasa didatangi Ken Ndok (Endok), ibu si Angrok. Sumber Ndok, begitu biasa orang-orang Rejasa menamai sumber air itu. endog, sebutan untuk Ndok. Ndok dalam bahasa jawa artinya telur. Itulah mengapa ibunda Angrok disebut sebagai Ken Ndok. Untuk menegaskan bahwa Angrok adalah anak tanpa ayah bahkan kerap disebut sebagai anak Dewa, Dewa Brahma. Pararaton memaparkan ibu Angrok adalah manusia, ibu tanpa asal usul yang jelas itu disebut Ken Ndok. Bagaimanapun, ibu adalah yang memiliki sel telur untuk dibenihi. Bisa jadi, Pangkur yang disebut di Pararaton itu ada di situ.

Tak jauh dari Sumber Ndok, seperti disebut di atas ada Partitan kuno. Partitan itu tepatnya di Jeding, masih Kecamatan Junrejo, Batu. Daerahnya masih sangat wingit. Di satu sisi, Partitan itu juga dianggap sebagai punden, sebuah partitan kuno yang berdiri megah di bawah pohon beringin tua itu.

Tokoh Angrok memang dikisahkan nakal dan gemar berkelahi. Menurut naskah Pararaton, Angrok adalah putra Dewa Brahma yang berselingkuh dengan seorang wanita bernama Ken Ndok dari desa Pangkur. Ken Ndok tinggal di daerah Pangkur. Tak ada yang tahu di mana daerah Pangkur itu, namun dari penelitian soal desa-desa kuno di Malang, dimungkinkan Pangkur terletak antara Kepanjen-Blitar.

Oleh ibunya, bayi Angrok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong. Berdasarkan temuan bekas peninggalan Angrok yang ada di desa Jiwut Jiput) kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.

Terkait dengan itu, beberapa bukti hal ini terkait dengan nama Angrok setelah menjadi raja yakni Sri Rajasa Amurwabumi. (kata Rajasa dekat sekali dengan kata Rejasa).

to be contiuned

Nuwun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: