Seri Kerajaan Singosari-SUNdSS

Nuwun

Cantrik Bayuaji sowan menyampaikan Woro-woro:

Dongeng Arkeologi dan Antropolgi agak tersendat wedarnya, dikarenaken “peti wasiat penyimpan harta karun” (hardisk) sedang diformat, terkena virus “golongan hitam pengelupas kulit pisang

Tetapi disamping itu, mengingat pårå kadang lagi kasêngsêm dan magitå-gitå dan kêpéngin segera membaca kidung rontal SUNdSS, terbukti bila rontal belum diwedar, pårå kadang rajin mengogrok-ogrok, ingin segera tahu akhir kisah “si pengulit pisang”. Sampai-sampai Your Excellency Bapak Satpam gurawalan bingung dicantolno ndik endi yo….., nggregeli sampek kleru terus lehe nyantolno.

Dengan demikian cantrik Bayuaji tidak ingin mengganggu pårå kadang di dalam menikmati kasêngsêmnya itu.

Nampaknya pertikaian antar “teroris” makin seru. Lima jilid berturut-turut di SUNdSS 17, 18 19, 20 dan 21 carios “kupas kulit pisang” berlangsung dengan seru. Jujur saja, karena kepiawaian Ki SHM, maka “lahirlah” tokoh-tokoh lakon “yang menghidupkan” PdLS, SUNdSS dan rontal-rontal karya-ciptaannya.

Ki SHM menjléntréhkan kisah rencana kudeta dua kelompok besar musuh negara, yaitu golongan “tukang kupas kulit pisang” dan golongan “para lingga”, keduanya punya kepentingan yang sama, meruntuhkan tahta Någhå Roro Salèng; cuma caranya yang berbeda.

Sinuwun di Singosari pun sampai menurunkan para “sesepuh” untuk turun gunung mencari sisik mêlik. Mahisa Agni, Wintantra dan Mahendra, “tokoh” yang sejak awal kisah Pelangi Singosari selalu hadir meramaikan lêlampahan pråjå Singosari, meskipun sudah ngunduri sêpuh, masih ikut cawé-cawé dalam urusan pråjå Singosari.

Namun usia seseorang tak dapat dicegah, tetapi beliau-beliau itu tidak lupa, bahkan telah menyiapkan generasi-generasi penerus, sebut saja Mahisa Bungalan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat anak Mahendra.

Mahendra yang di awal-awal kisah ini kecewa karena cintanya tidak ditanggapi oleh Ken Dedes. Tetapi dalam perjalanan hidup selanjutnya justru dialah yang menjadi salah satu pendukung kelestarian tahta Singosari di tangan anak cucu keturunan Ken Dedes.

Di sisi lain beberapa “tokoh” dari dua golongan musuh kerajaan, mereka adalah para ‘teroris’ musuh negara, yakni Paguh, Empu Baladatu; juga Tapak Lamba, Daranambang, Linggadadi dan Lingapati dari Mahibit, adalah “askar-askar tak begune” sisa-sisa pejabat kraton yang berjaya semasa Tohjaya bertahta, adalah nama-nama yang disebut juga oleh KI SHM.

Dalam pada itu Pararaton hanya mencatat sedikit nama yaitu Mahisa Bungalan dan Sang Lingganing Pati (Linggapati ?) dari Mahibit. Disebut juga nama pelabuhan Canggu.

Nagarakretagama Pupuh XVII:5 menyebut nama kota yang disinggahi oleh Prabu Hayam Wuruk di antaranya Churabhaya (Surabaya?).

Disebut pula pada Prasasti Pucangan yang dibuat pada masa akhir pemerintahan Prabu Airlangga, nama pelabuhan Hujung Galuh (Surabaya Lama?);

Prasasti Kamalagyan yang dibuat juga pada zaman Prabu Airlangga yang bercandra sengkala 959Ç (1037 M). Ditulis pada Prasasti Kamalagyan tersebut, bahwa Prabu Airlangga membuat bendungan untuk mengatur daerah aliran sungai Brantas. yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, Sang Prabu Airlangga bertindak membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa aliran sungai Brantas kembali mengalir ke utara.

Dengan dibangunnya bendungan itu pelabuhan Hujung Galuh semakin ramai dikunjungi oleh perahu-perahu dagang dari tlatah lain.

Mungkin, berpindahnya daerah aliran sungai (DAS) Brantas inilah yang disebut sebagai bencana “banyu pindah” dalam buku Pararaton.

Demikian juga dalam Pararaton memberitakan adanya pagunung anyar, akibat gempa, yang menunjukkan bukti bahwa sepanjang jalur dari Gunung Penanggungan, sesar Watukosek, yang memotong Kali Porong, rawan gempa.

Pagunung anyar timbul karena bencana terjadinya erupsi jalur gunung lumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal (?). Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km.

Erupsi semua gunung lumpur itu sangat dahsyat sehingga dapat dibayangkan bagaimana terganggunya kehidupan di Majapahit pada akhir tahun 1300-an dan pada awal 1400-an.

Serangan fatal mungkin terjadi karena rusaknya pelabuhan Canggu di dekat Mojokerto, sehingga Majapahit yang merupakan kerajaan maritim menjadi terisolir dan perekonomiannya mundur. Zaman itu, Canggu di Mojokerto masih bisa dilayari dari laut sekitar Surabaya sekarang.

Bencana seperti ini kelihatannya terjadi berulang-ulang, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256Ç/1334M pada zaman Majapahit.

Secara harafiah, banyu pindah=air pindah, sedangkan pagunung anyar = gunung baru

Penelitian selanjutnya telah menemukan bukti-bukti bahwa telah terjadi berbagai deformasi tanah yang pangkalnya adalah bukit-bukit Tunggorono di sebelah selatan kota Jombang sekarang, kemudian menjalar ke timurlaut ke Jombatan dan Segunung. Akhirnya gerakan deformasi tersebut mengenai lokasi pelabuhan Canggu di sekitar Mojokerto sekarang, lalu makin ke timur menuju Bangsal (sekitar 25 km di sebelah barat lokasi semburan Lumpur Sidoarjo sekarang).

Di dekat Bangsal ada sebuah desa yang namanya Gunung Anyar. Begitu juga di tempat pangkal bencana terjadi di selatan Jombang ada nama desa serupa yaitu Denanyar yang semula bernama Redianyar yang berarti gunung baru.

Perhatikan bahwa nama Gunung Anyar juga dipakai sebagai nama sebuah kawasan di dekat Surabaya yang sekarang menjadi terkenal dalam hubungan dengan kasus semburan “mBak Lusi” (Lumpur Sidoarjo), sebab ternyata gunung anyar adalah sebuah mud volcano (pegunungan lumpur)yang membentuk kelurusan dengan Lumpur Sidoarjo.

Pada saatnya nanti cantrik Bayuaji akan mendongeng kembali tentang Linggapati, Mahibit, Canggu, Bubat, Mahisa Bungalan, Churabhaya, Hujung Galuh, mBak Lusi (?) dari beberapa data sejarah yang ada.

Kali ini Cantrik Bayuaji mohon izin untuk beristirah sejenak.

Kepada Saudara-saudaraku Umat Budha, Cantrik Bayuaji mengucapkan Selamat Hari Waicak. Semoga semua mahluk berbahagia

Nuwun

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:30  Comments (8)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-sundss/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. jejak si GundUL ning tlatah lendhuT benter….!!

    • berHASIL….balek laGI sambel nGEMBOL
      buntelan rontal, matur nuwun

  2. malem2 ki GundUL mencari JEJAK keberaDAan
    rontal ning tlatah ki Gembleh.

  3. Alhamdulillah gerbong bisa dtemukan. ternyata rontal dislempitke neng ngisor jok.

  4. Lha Buto Elek niku nopo PT. Lapindo Perkasa nggih Ki?

  5. matur suwun rontal 102 nya pak satpam

  6. Laporrrr om Bayuaji :

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-20] di commentSUNdSS rontal ke-05.

    Pemerian tafsir “kebenaran” kesejarahan, lanjutan dongeng:

    WAMCA RAJASA SANG GIRINDRANATHA DAN TAFSIR SEJARAHNYA

    nahhh kok dongeng kaping 19 ga ada ? dari 18 lompat ke 20, atau ditaruh di mana gitu ?

    hi hi trims yeee 😛
    Dewi

  7. Kangen….Ki Bayuaji…bahkan Ki Punakawan Bayuaji…..mendongeng Antropologi & Arkeologi……sungguh mencerdaskan bangsa….kami setia menanti….toetoegnya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: