Seri Kerajaan Singosari-SUNdSS

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010.
[dongeng kaping-25. Rontal SUNdSS 29]

Dongèng sakdéréngipun, dongèng kaping-24; kapacak ing Rontal SUNdSS 17. Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Anggara Paing 1932Ç; 08 Juni 2010M; 25 Jumadil Akhir 1943 – Dal; 25 Jumadil Tsani 1431H

Pårå kadang:

Ki SHM dalam SundSSnya telah ‘menjléntrèhkên’ sepak terjang para pemberontak dari “nêgari antah bêrantah”, sampai berjilid-jilid. [Menurut catatan: sejak SUNdSS ke-17 sd SUNdSS ke-29, atau mungkin lebih). Dengan demikian Cantrik Bayuaji tidak akan mendongengkannya kembali.

Lalu:

Nagarakretagama mewartakan seseorang yang bernama Linggapati, penulis Pararaton menyebutkan Sang Lingganing Pati dari Mahibit, sedangkan Prasasti Mula Malurung menyebutkan seorang keluarga istana Kadiri yang tidak senang terhadap Ranggawuni, yaitu Sri Maharaja Lingga Chaya.
Pararaton menyebut pula nama Mahisa Bungalan.

Disebut pula oleh penulis Pararaton tentang pembangunan pelabuhan di Canggu (Cangu?) yang terletak di utara kotaraja, mengingat pelabuhan lama kerajaan Tumapel Yortan perlu dicarikan penggantinya.

Siapa Linggapati itu, lalu siapa Sang Lingganing Pati itu, siapa pula Sri Maharaja Lingga Chaya. Diakah orang yang disebut oleh Empu Parapanca dalam Nagarakretagama sebagai seorang perusuh?

Di mana letak Pelabuhan Yortan yang di belakangnya menjulang tinggi Gunung Paulauan yang berpuncak lima, dan mengapa perlu dicari penggantinya.

Di mana letak Mahibit dan dimana letak ‘kutha’ pelabuhan Canggu itu, dan mengapa perlu dibangun pelabuhan baru di Canggu.

Dimana letak Chungkialu dan siapa Mahisa Bungalan itu?

Adakah semua ini berkaitan dengan wedaran SUNdSS tentang pemberontakan?

Ki SHM dalam SUNdSSnya tidak banyak menyinggung tokoh-tokoh sejarah dan tempat-tempat bersejarah yang cantrik Bayuaji sebutkan di atas. Tetapi yang pasti, menurut Pararaton, Nagarakretagama, Prassati Mula Malurung dan peninggalan sejarah yang ditemukan, mereka dan tempat yang disebutkan itu benar-benar ada sebagai tokoh sejarah dan tempat terjadinya peristiwa sejarah.

Demikian alinia terakhir pada SUNdSS-27 On 4 Juni 2010 at 08:45 bayuaji Said:

Berikut dongeng selengkapnya:

BHATARA WISNU menumpas pemberontak KALAYAWANA” (Bagian Pertama)

Semasa pemerintahan Sri Baginda Jaya Wisnuwardhana di tahta Singosari dari tahun 1250 sampai tahun 1272, atau selama 22 tahun (menurut Pararaton), setidaknya ada lima peristiwa penting yang diwartakan oleh penulis Pararaton, Mpu Prapanca dalam pujasastra Negarakretagama, Tamra Prasasti Mula Malurung, dan beberapa peninggalan sejarah lainnya.

Pertama: perkawinan politis dalam upaya penyatuan dua kerajaan dalam satu negara kerajaan Singosari;

Kedua: Singosari menuju masa kejayaan;

Ketiga: penganugerahan desa sima dan pembebasan pajak pada daerah tertentu;

Keempat: pemusnahan gerombolan pemberontak Linggapati; dan

Kelima: pengalihan pelabuhan dan pembangunan pelabuhan baru sebagai upaya perluasan wilayah politis dan perdagangan.

Pemerintahan Ranggawuni Wisnuwardhana dan Mahisa Campaka Sang Ratu Anggabhaya Narasinghamurti, oleh penulis Babad Tanah Jawi disebut kåyå Wisynu lan kâng råkå Bâthårå Endrå [seperti Wisnu dan kakandanya, Bhatara Endra], Empu Prapanca dalam Nagarakretagama menyebutnya tulya madhawa sahagrajamagehi rat [bagai Madawa dengan Indra memerintah negara].

Adapun Pararaton sejak awal-awal dongeng ini, dan bahkan telah dijadikan judul buku Ki SHM, telah sering kita sebut kadi Någhå Roro Salèng (bagaikan Sepasang Ulang Naga di Satu Sarang).

Singosari dalam keadaan aman damai. Kedua pemimpin negara, raja dan wakil raja itu berkesempatan membangun Singosari dan mempersatukan kembali Tumapel dan Kadiri di bawah negara kesatuan kerajaan Singosari.

Sejak Ranggawuni naik tahta, Singosari adalah negara yang gemah ripah loh jinawi yang kelak mencapai masa keemasan dan kejayaannya pada pemerintahan putranya. Prabu Kertanagara.

Babad Tanah Jawi [04:4] mengabarkan:

Rånggåwuni jumênêng Nåtå ajêjuluk Syri Wisynuwardhånå nganti nakdhéréké Nåråsingå. Nganti têkan ing séda priyagung loro mau rukun bangêt, nganti dibasakaké: “Kåyå Wisynu lan kâng råkå Bâthårå Endrå”. Karatoné mundhak gêdhé pulih kåyå dhék jamané Prabu Érlangga, malah jajahané wuwuh Mâdurå.

Hal yang tidak disinggung oleh Ki SHM dalam SUNdSSnya adalah upaya Ranggawuni Wisnuwardhana dan Mahisa Campaka menyatukan kembali dua kerajaan yang terpecah pasca tewasnya Ken Arok.

Daha dibawah kekuasaan Mahisa Wonga Teleng atau Bhatara Parameswara, Janggala yang beribukotakan Kuthåråjå dibawah pemerintahan Anusapati.

Salah satu cara yang ditempuh oleh para sesepuh kraton yang diprakarsai oleh Eyang Putri Sang Ardanareswari Ken Dedes untuk menyatukannya, skaligus menyatukan kedua keturunan dari satu ibu yang berbeda ayah itu adalah menikahkan dua cucu keturunannya.

Sebagai putra mahkota pada waktu itu, Ranggawuni putra Anusapati dinikahkan dengan Waning Hyun. Waning Hyun yang mempunyai gelar abhiseka Jayawardhani adalah puteri raja Daha Kadiri Bhatara Parameswara, saudara perempuan Narasinghamurti sendiri, demikanlah maka hubungan antara Narasinghamurti dan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar.

Pernikahan ini menjadikan Janggala dan Daha yang tadinya terpecah, menjadi satu kembali di dalam kerajaan besar Tumapel yang bernama Singosari, seperti yang pernah dirintis oleh eyang kakungnya, Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi alias Ken Arok.

Pada masa-masa pemerintahan Någhå Roro Saléng (SUNdSS) itulah Singosari mulai merambah naik mengalami masa kejayaan, dan pada masa Prabu Kertanagara Singosari menggapai masa keemasan dan masa kejayaannya. Bahkan Prabu Kertanagaralah pencetus ide cakrawala mandala nusantara. Walau tujuannya adalah untuk membendung pengaruh Kubilai Khan ke wilayah timur, namun konsep tersebut justru menjadi inspirasi bagi Sumpah Palapanya Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada dan dewasa ini menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun sayang justru pada masa Kertanagara pula kerajaan Singosari runtuh.

Pårå kadang padépokan

Sejenak kita “menerobos lorong waktu” ke masa Singosari di tahun 1176Ç/1254M.

Ibukota kerajaan Tumapel yang luas seolah gadis muda yang baru terjaga, lalu bersolek dengan pupur harapan dan sehelai impian yang disampirkan di pundak kota baru bernama Pråjå Singosari.

Maka Kuthåråjå telah memprakarsai angên-angên, konsep yang akan terus hidup membayangi bhumi Tumapel di masa depan.

Dari wangsa-wangsa sebelum Tumapel, Ranggawuni, Sang Bhatara Indra Jaya Wisnuwardhana yang yang menurut Prasasti Maribong (angka tahun 1248M), beliau yang bergelar Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Semining Rat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana, memetik hikmah, seperti yang dituturkan para adiguru:

Tat twam ashi [aku adalah engkau]

Bhinneka tunggal ika berbeda-beda tetapi satu jua]

Tan hana dharma mangrwa [tiada kesetiaan yang mendua]

Dalam menjalankan pemerintahannya Prabu Semining Rat selain dibantu oleh Mahisa Campaka yang bergelar Batara Narasinghamurti sebagai Ratu Anggabhaya. Pemerintahan sehari-hari dilakukan oleh Mahamentri Patih Raganata.

Bersama Sang Ratu Anggabhaya yang berkewajiban mengurus keamanan segenap penjuru Tumapel, Sang Mapanji Semining Rat menjalankan pemerintahan didukung para pembesar utama Janggala-Kadiri, dukungan diberikan oleh Sang Pamegat ring Ranu Kabayan Sang Arya Apanji Patipati Empu Kapat, yang berhasil membulatkan suara raja-raja bawahan Kadiri.

(Sang Pamegat ring Ranu Kabayan Sang Arya Apanji Patipati Empu Kapat adalah orang yang menyembunyikan Ranggawuni dan Mahisa Campaka ketika masih kecil)

Ratu Anggabhaya yang memiliki nama kecil Mahisa Campaka adalah adik laki-laki Sang Permaisuri Waning Hyun. Mahisa Campaka masih terlalu muda sehingga pamannya yang bernama Guning Bhaya menjadi walinya dan mengurus kerajaan Kadiri. Namun saat Mahisa Campaka dewasa, Prabu Guning Bhaya digulingkan saudaranya yang seayah namun berlainan ibu, Nararya Tohjaya, putera Ken Angrok dengan Ken Umang.

Didampingi pejabat tinggi Kadiri yang setia kepada ayah dan pamannya, yaitu Pranaraja, Mahisa Campaka bersekutu dengan kakak ipar sekaligus sepupunya, Sri Semining Rat, putera mahkota kerajaan Janggala.

Pada tahun 1176Ç/1254M ibu kota Kerajaan Tumapel diganti nama dari Kuthåråjå menjadi Singosari. Demikianlah, di masa tenang pada tahun yang sama, saat Sri Kertanagara dinobatkan sebagai yuwaraja Kadiri, maka Ratu Anggabhaya telah memerintah kerajaan bagian Hring dengan abhiseka Sri Narajaya.

Sejak pemerintahan Någhå Roro Saléng , Bhumi Tumapel yang subur menggeliat, pajak dari warga kilalan masuk ke dalam kas kerajaan bagai mata air yang tak pernah surut.

Cengkeh, pala, merica, kayu cendana, gaharu, kapur barus, kapas, garam, gula, gading liman hingga cula badak, rempah-rempah, sulfur, bermacam-macam jenis burung diburu para vaniyaga dari negeri jauh (antara lain: Cina), Jawadwipa (Singosari/Majapahit, Kesultanan Tidore, Ternate sejak awal abad ke-13 merupakan percabangan dari Jalur Sutra yang kita kenal); seraya membawa barang dagangan di atas perahu masing-masing seperti emas batangan, piring emas, perak, lempengan tembaga, barang-barang pecah-belah dari porselin, keramik, kain sutera, kain brokat adiwarna, dan kain damas.

Bengawan Brantas yang mengalir deras dipecah dalam tiga kanal yang bermuara di laut Jawa telah lama sekali dilalui perahu-perahu para pedagang yang pergi ke Hujung Galuh (Churabaya), pusat perdagangan dan pelabuhan di masanya, tempat para vaniyaga bertransaksi sementara kapal-kapal mereka berlabuh di dermaga. Jual beli yang bernilai besar dibayar menggunakan tail emas, emas atau perak dengan berat yang telah ditentukan. sebagai alat pembayaran atau alat tukar yang sah.

Sang Maharaja Wisnuwardhana menyadari jika kemajuan Tumapel tidak terjadi dengan sendirinya, kalangan yang berjasa perlu dianugerahi desa sima. Terutama para brahmana dan pendeta yang berada di seluruh kawasan Janggala dan Panjalu, mereka semua dibebaskan dari ikatan thanibala, berhak penuh mengurus bangunan suci masing-masing tanpa diberatkan lagi dengan kewajiban membayar pajak. Pendapatan mereka melambung ditambah pengakuan yang sangat tinggi dari kawula kerajaan.

Pada tahun 1176Ç/1254M, Maharaja Wisnuwardhana atau Prabu Sri Semining Rat telah memerintahkan seorang puteranya yang menjabat raja muda di Daha menyelenggarakan pasamuhan agung untuk meneguhkan prasasti Mula Malurung, dihadiri raja-raja vasal dan pembesar Tumapel. Mereka diminta persetujuannya untuk pemberian anugerah desa swatantra kepada pejabat kerajaan yang berjasa, Sang Pranaraja.
Sang Ramapati Mapanji Singharsa yang bertindak sebagai juru bicara, menghaturkan salam hormat seraya menyebut satu-persatu nama besar yang melingkupinya:

Sejahteralah Sri Semining Rat yang bergelar Maharaja Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Semining Rat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana sang penguasa utama kerajaan Tumapel, penuh kemuliaan Sang Permaisuri Waning Hyun dengan abhiseka Sri Jaya Wardhani.

Kedua paduka yang bersinar berlangkan bintang citra kasih para putera dan puteri, yang mulia Sang Apanji Adhimurti Nararyya Wiraraja yang dicintai seluruh rakyat tlatah Madura, yang agung Nararyya Kirana penguasa bumi Lamajang, Nararyya Murddhaya yang gagah nan perkasa sang yuwaraja yang menduduki kerajaan Kadiri, Nararyya Turuk Bali sang juwita kesayangan puteri agung pengayom rakyat nagari Glang-Glang didampingi sang pangeran perkasa nan perwira Sang Jaya Katong.”

Ramapati mengambil jeda dengan selintas tarikan napas tenang, seraya menghadapkan wajahnya kepada deretan para priyagung yang duduk dalam sikap wibawa di atas kursi kebesaran para natha. Nama para bangsawan itu lalu bergema ke seantero paseban, mengalir dalam suara terang sang juru bicara sesepuh Tumapel yang dihormati.

Junjungan hamba yang berjiwa besar dan ksatria agung, Prabu Sri Narajaya yang bertahta di Hring. Juga saudara muda terkasih paduka raja, sang prabu Sri Ratnaraja sebagai penguasa kerajaan bagian Morono. Dan yang mulia Sri Sabhajaya, keluarga paduka pemangku sejati kerajaan Lwa.”

Lalu Sang Ramapati meletikkan ingatan segenap yang hadir kepada keagungan masa lalu yang telah menjayakan trah Wangsa Rajasa, bahwa Sang Prabhu Sri Semining Rat adalah cucu Sang Bhatara Syiwa yang wafat di tahta kencana, bahwa perkawinan Sang Prabhu dan Nararyya Waning Hyun telah memancarkan kebahagiaan di antara kedua keluarga utama kerajaan Tumapel hingga lahirlah putera mahkota, Sri Kertanagara.

Tutur Sang Ramapati khidmat, “atas kebesaran para leluhur kerajaan Tumapel, Sang Bhatara Parameswara, ayahanda Nararya Waning Hyun, pamanda sekaligus ayahanda mertua Sang Prabhu Sri Semining Rat, menganugerahkan desa sima Mula-Malurung kepada Pranaraja dan sanak kadang. Karena jasa-jasa Sang Pranaraja yang teramat besar kepada keluarga Janggala-Kadiri, menjalankan tugas-tugas dengan kukuh diliputi semangat pengabdian yang tiada pernah pupus. Yang bersangkutan telah bekerja keras semenjak mangkatnya Sang Bhatara Parameswara, lalu mengabdi kepada Sang Prabu Guning Bhaya, menjadi roda-roda kerajaan Kadiri hingga kepemimpinan Nararya Tohjaya. Sejak Tumapel kembali dilindungi panji-panji leluhur, Sri Semining Rat naik tahta menyatukan para keluarga, dan Pranaraja membuktikan sebagai abdi setia Sri Semining Rat, memimpin segala pekerjaan yang diembankan sampai selesai.”

Namun adakalanya kata yang tak terucap lebih besar gaungnya di luar dinding keraton, sudah menjadi rahasia umum jika keluarga kerajaan Tumapel pasca tewasnya Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi terpecah ke dalam dua kubu.

Kerajaan Kadiri dengan ibukotanya di Daha dikuasai oleh Mahisa Wong Ateleng, sedangkan Janggala beribukotakan Kuthåråjå di bawah pimpinan Anusapati. Namun ibunda sang penguasa kedua kubu tak membiarkan ketegangan di antara anak-anaknya yang berlainan ayah itu memanas, ia melakukan hal yang memang sepatutnya dilakukan seorang eyang, menikahkan cucu perempuannya, Waning Hyun, puteri raja Kadiri, dengan sepupunya, Ranggawuni, putera mahkota kerajaan Janggala. Dan Pranaraja yang memahami keinginan Ken Dedes, senantiasa mengupayakan jalan tengah dan menyediakan diri sebagai juru damai.

Siapa Sang Ramapati Mapanji Singharsa?

Beliau disebut oleh Pararaton:

Hana ta patih ira duk mahwa anjeneng ratu, apuspatha sira Mpu Raganatha

[Ada patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganatha , bergelar Sang Mahamentri Patih Raganatha.

Tetapi nama Raganata hanya dikenal oleh Pararaton, tidak dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan semasa Tumapel atau Singosari.

Disebutkan, Raganata digantikan Kebo Anengah pada awal pemerintahan Kertanagara, yang naik tahta tahun 1190Ç/1268M. Pada prasasti Penampihan (angka tahun 1191Ç /1269M) ditemukan nama-nama para pejabat Singosari, antara lain Sang Ramapati. Disebutkan pula bahwa, Ramapati adalah tokoh senior yang bijaksana, yang merupakan pemuka para petinggi kerajaan.

Nama lengkap Ramapati justru terdapat dalam prasasti Mula Malurung, yaitu Sang Ramapati Mapanji Singharsa, sebagai tokoh yang menyampaikan perintah Wisnuwardhana kepada bawahan, dan sebaliknya, menyampaikan permohonan bawahan kepada raja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, nama sebenarnya dari Raganata adalah Mapanji Singharsa, bergelar Sang Ramapati.

Siapa pula Kebo Anengah ?

SUNdSS baru sampai ke penyusunan kekuatan untuk menyerang “teroris” para penganut aliran sesat ilmu hitam, yang mengganggu stabilitas nasional Singosari semasa Prabu Wisnuwardhana, dongeng kali ini belum beranjak ke lakon “pemerintahan Sri Kertanagara.” Dongeng ini masih sangat jauh.

Kelak pada saatnya kita dapat mengetahui siapa Kebo Anengah.

Kini kita kembali ke dongeng “Wisnuwardhana”

Semua abdi bhumi Tumapel yang berjasa telah menerima anugerah desa sima dari Sang Prabu Semining Rat.

Mereka yang beruntung telah membakar seribu dupa, mempersembahkan sesaji dengan hiasan kembang adirupa yag telah dironce sebagai wujud syukur kepada para nayaka seraya mendoakan kesehatan dan kemuliaan segenap raja di pulau Jawa dan Madura.

Setiap pemberian anugerah kemudian dicatat dalam kitab bhumi, dilaksanakan oleh para ksatria yang terdiri dari Rakryan Mahamantri i Hino, Rakryan Mahamantri i Sirikan, dan Rakryan Mahamantri i Halu. Lalu diteruskan ke bawah kepada para tanda Rakryan Pakirakiran, juga kepada para Dang Acarya . Para penerima anugerah dan ‘sanak-kadang’nya telah kuat kedudukannya disandingi prasasti yang diwujudkan dalam tamra prasasti.

Pararaton, Nagarakretagama, Prasasti Mula Malurung, dan beberapa prassati lainnya memberitakan, bahwa upaya Sang Parbu Wisnuwardhana memakmurkan dan mensejahterakan kawula Singosari merayap naik untuk menuju puncak kejayaannya, tidak disukai oleh sekelompok orang. Orang-orang yang tidak senang jika Singosari menjadi besar.

Keluarga istana Kadiri terutama, di antara mereka ada yang tidak suka terhadap Ranggawuni, mereka keberatan terhadap penyatuan Kadiri dan Tumapel di bawah pemerintahan Någhå Roro Saléng itu.
Mereka merencanakan kudeta untuk melengserkan Prabu Wisnuwardhana dan Ratu Anggabhaya Mahisa Campaka dari tahta kencana Singosari.

Penulis Pararaton menyebutkan Sang Lingganing Pati dari Mahibit:

Mangkat sira amrep ing Mahibit, anghilangaken Sang Lingganing Pati

[Ia berangkat menyerang Mahibit, untuk melenyapkan Sang Lingganing Pati].

Nagarakretagama Pupuh XLI:2 mewartakan seseorang yang bernama Linggapati:

Siranghilangaken duratmaka manama linggapati mati sirnna sahana

[Beliau (Prabu Wisnuwardhana dan Ratu Anggabhaya Bhatara Narasinghamurti) memusnahkan perusuh yang bernama Linggapati berserta seluruh pengikutnya],

Sedangkan Prasasti Mula Malurung menyebutkan seorang tokoh keluarga istana Kadiri yang tidak senang terhadap Ranggawuni, yaitu Sri Maharaja Lingga Chaya

Disebut pula tentang pembangunan pelabuhan di Canggu (Cangu?) yang terletak di utara Kuthåråjå, mengingat pelabuhan lama kerajaan Tumapel Yortan perlu dicarikan penggantinya.

Bhatara Wisnuwardhana angadegaken kutha ring Canggu lor isaka 1193.

[Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun 1193Ç ].

Pararaton menyebut pula nama Mahisa Bungalan.

Demi menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan kerajaan, maka para pemberontak itu harus dimusnahkan. Untuk itu sang prabu mengirim bala tentara kerajaan yang dipandégani oleh seorang perwira muda pemimpin pasukan tempur Sang Senopati ing Ayudhå haran sira Mahisa Bunghalan.

Banyak hal yang dikerjakan oleh SUNdSS. Penulis Pararaton mewartakan tentang pembangunan sebuah kutha pelabuhan di Canggu yang terletak di utara kotaraja, di tepian Bengawan Brantas,
Canggu dibangun untuk membuka keterpencilan ibukota Kuthåråjå, memperluas wilayah politis dan perdagangan. Sebagai kota pelabuhan, sekaligus benteng pertahanan terhadap musuh.

Dalam penyerbuannya ke Mahibit untuk menumpas pemberontak Linggapati, benteng Canggu pun digunakan oleh sang senopati Mahisa Bungalan sebagai garis depan pertahanan pasukannya, garis terdepan untuk menyerang Mahibit.

ånå candhaké

Sebagai penutup dongeng pada dini hari ini, cantrik Bayuaji ingin nêmbang:

“Åjå turu soré kaki,
ånå déwå nglanglang jagad,
nyangking bokor kêncanané,
Isiné dongå tetulak
pangan lawan sandhang,
yå iku bagianipun,
wong mêlék sabar narimå
………………………………
sanityåså pinrihatin
puguh panggah cêgah dhahar lawan néndrå.

Janganlah engkau memperkaya hari-harimu dengan selalu memperkenyang perutmu dan memperlama tidurmu. Bukankah di saat malam-malam seperti ini Tuhanmu dan para MalaikatNya turun ke Langit Dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam yang terakhir.

Dia Maha Mendengar.

Berdoalah kepadaNya. Sampaikan keluh kesah deritamu, dan persoalan-persoalan hidupmu yang engkau tidak sanggup mengatasinya.

Bukankah Dia berjanji: ‘Siapa yang berdoa kepadaKu, niscaya Aku mengabulkannya, siapa yang memohon kepadaKu, niscaya Aku memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu niscaya Aku mengampuninya!
Dan Allah tidak pernah mengingkari janji.

Dia membawa kabar gembira bagi orang yang berjaga, prihatin dalam kesabaran.

Nuwun

Cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:30  Comments (8)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-sundss/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. jejak si GundUL ning tlatah lendhuT benter….!!

    • berHASIL….balek laGI sambel nGEMBOL
      buntelan rontal, matur nuwun

  2. malem2 ki GundUL mencari JEJAK keberaDAan
    rontal ning tlatah ki Gembleh.

  3. Alhamdulillah gerbong bisa dtemukan. ternyata rontal dislempitke neng ngisor jok.

  4. Lha Buto Elek niku nopo PT. Lapindo Perkasa nggih Ki?

  5. matur suwun rontal 102 nya pak satpam

  6. Laporrrr om Bayuaji :

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-20] di commentSUNdSS rontal ke-05.

    Pemerian tafsir “kebenaran” kesejarahan, lanjutan dongeng:

    WAMCA RAJASA SANG GIRINDRANATHA DAN TAFSIR SEJARAHNYA

    nahhh kok dongeng kaping 19 ga ada ? dari 18 lompat ke 20, atau ditaruh di mana gitu ?

    hi hi trims yeee 😛
    Dewi

  7. Kangen….Ki Bayuaji…bahkan Ki Punakawan Bayuaji…..mendongeng Antropologi & Arkeologi……sungguh mencerdaskan bangsa….kami setia menanti….toetoegnya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: