Seri Kerajaan Singosari-SUNdSS

Nuwun

Cantrik Bayuaji nggembol rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [dongeng kaping-26. Rontal SUNdSS 31]

Dongèng sakdéréngipun, dongèng kaping-25; kapacak ing Rontal SUNdSS 29.

Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Sukrå Kliwon, malem Saniscårå Umanis Wuku Pujut – 1932Ç; 12 Juni 2010M; 29 Jumadil Akhir 1943 – Dal; 29 Jumadil Tsani 1431H

BHATARA WISNU menumpas pemberontak KALAYAWANA” (Bagian Kedua).

Episode “banjir lêndhut bêntèr

Pada dongeng “Bhatara Wisnu menumpas pemberontak Kalayawana” (Bagian Pertama), disebut tentang pembangunan pelabuhan di Canggu yang terletak di utara Kuthåråjå, pada tahun 1193Ç. Namun sebenarnya Tumapel sudah memiliki pelabuhan besar yang dibangun semasa Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewaatau Mpu Sindok sebagai raja pertama Kerajaan Medang (Mataram Lama atau lebih dikenal dengan sebutan Mataram Hindu) periode Jawa Timur yang memerintah sekitar tahun 929 sd 947, pelabuhan itu adalah Pelabuhan Jedung.

Dipercaya Pelabuhan Jedung digunakan dan dikembangkan semasa Prabu Jayabhaya bertahta di Kadiri, yakni pada saat beliau mempersatukan dua kerajaan Panjalu dan kerajaan Janggala dalam kekuasaannya.

Pelabuhan dan benteng “kuthaCanggu, yang disebut-sebut digunakan sebagai benteng pertahanan garis terdepan penyerangan ke Mahibit oleh Sang Sénopati ing Ayudhå Mahésa Bungalan ketika menumpas gerombolan pemberontak Linggapati atas perintah Sang Prabu Ranggawuni Wisnuwardhana, ternyata menyimpan dongeng lain. Mengapa Pelabuhan Jedung yang terletak tepi pantai Selat Madura berpindah ke Canggu yang terletak di pedalaman, justru menjauhi perairan bebas.

Pada akhir abad ke-12, sekitar tahun 1178 ketika seorang penulis, dan juga seorang pengelana Cina bernama Chou Ku Fei menulis dalam karyanya Ling Wai Taita, suatu catatan muhibah ke She Po (Tanah Jawa), dia seorang jurnalis, seperti Empu Prapanca dengan Nagarakertagamanya.

Buku ini berisi gambaran kehidupan tata pemerintahan, keadaan istana raja, dan perdagangan di Tanah Jawa semasa Kerajaan Kadiri (Panjalu).

Buku ini kemudian dikutip oleh Chau Ju Kua dalam karyanya yang berjudul Chu Fan Chi atau Catatan Negeri-negeri Asing pada tahun 1225. Saat itu kerajaan Kadiri sudah dikalahkan kerajaan Tu-ma-pan(Tumapel/Singosari).

Disebutnya bahwa kerajaan di Tanah Jawa yang terkenal adalah Pui Chi Lung.

Disebutkan bahwa perdagangan antara Cina dan Pui Chi Lung telah berkembang pesat. Pui Chi Lung banyak mengekspor hasil bumi dan hasil hutan ke Cina.

Tentang perdagangan ini selanjutnya Chou Ku Fei menulis: “Di antara negara-negara asing yang kaya, yang di tepi pelabuhannya mempunyai gudang-gudang berisi berbagai macam barang-barang yang sangat berharga adalah Pui Chi Lung.

Kekayaannya hanya bisa ditandingi oleh negara Ta Shi; adapun San Fo Tsi belum bisa menyamai keduanya; kemudian baru yang lainnya.”

Pui Chi Lung (transliterasi Cina dari nama tempat di Jawa: Panjalu). Pada waktu itu Panjalu dan Janggala telah bersatu kembali berkat kemenangan Prabu Jayabhaya pada tahun 1135. Pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur telah dikuasi oleh Panjalu.

Ta-shi, suatu negara di Timur Tengah, Ta-shi transliterasi Cina, diduga adalah Arab; mengingat dalam tulisan selanjutnya disebut “raja Ta-shi” yang bernama Han-mi-mo-mi-ni mengirimkan utusan ke istana Cina. Boleh dipastikan bahwa nama ini adalah ucapan Cina untuk Amirul Mu’minin , gelar resmi para khalifah Islam.

Sedangkan San Fo Tsi adalah Suwarna Bhumi atau Sumatra, mungkin yang dimaksud adalah Sriwijaya.

Yang unik dalam pemberitaan Chou Ku Fei adalah perilaku para pedagang dan penjabat kerajaan baik Cina maupun Panjalu.

Chou Ku Fei menulis, bahwa telah ada suatu ketentuan dari penguasa kerajaan Cina, bahwa para pedagang Cina dilarang berdagang dengan Panjalu, dengan sebab yang tidak jelas; tetapi karena para pedagangnya dan para pejabatnya sudah berkolusi dan korup, maka perdagangan dari dan ke Panjalu didiamkan. Laporan yang dibuat oleh para pedagang Cina kepada pemerintahnya menyebutkan bahwa mereka berlayar ke wilayah selatan kerajaan sampai ke negara Sukitan, tanpa menyebut nama Panjalu.

Chou Ku Fei tahu bahwa Sukitan dan Pui Chi Lung atau Panjalu adalah negara yang sama dengan nama berbeda. Sehingga para pedagang itu telah menipu pemerintah kerajaan Cina, dan sudah barang tentu laporan itu telah dimanipulasi oleh para pedagang dengan sepengetahuan para pejabat kerajaan yang korup.

Yang ingin cantrik Bayuaji dongengkan di sini sebenarnya adalah tentang keberadaan dan letak geografi Pelabuhan Jedung, sedangkan dongeng tentang kolusi, korupsi dan mungkin nepotisme atau KKN di atas sekedar mengingatkan, bahwa “makhluk” KKN itu sudah pernah “hidup” di abad ke-12 sampai sekarang. (“Kagak adé matinyé” katé Bang Ga*us Timbun Harta).

Chou Ku Fei selanjutnya mengabarkan bahwa pelabuhan tempat bersandarnya jung, perahu dan kapal-kapal para pedagang adalah Pelabuhan Yau Toung. Dibelakang pelabuhan ada gunung yang menjulang tinggi disebut dengan nama Gunung Pau Lau An dengan satu puncak utamanya yang dikeleilingi oleh empat puncak lainnya dan selalu tertutup kabut. Gunung Pau Lau An ini digunakan sebagai kompas atau pedoman untuk perahu-perahu yang akan masuk pelabuhan.

Pelabuhan Yau Toung, transliterasi Cina dari Pelabuhan Jedung, sedangkan Gunung Pau Lau An adalah Gunung Penanggungan.

Dalam sejarah kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan (tinggi 1659 meter dpl. terletak di utara Gunung Arjuno-Welirang), adalah sebuah gunung yang penting. Kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat-nadikan Sungai Brantas, kerajaan-kerajaan itu ibaratnya bersandar mengelilingi Gunung Penanggungan, Kahuripan, Jenggala, Daha, Tumapel/Singosari dan Majapahit.

Gunung Penanggungan sering dijadikan ajang strategi perang, setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan-kerajaan itu. Airlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru.

Gunung Penanggungan dijadikan tempat untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Airlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Airlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. Makam-makam yang dikeramatkan ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus-ratus tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.

Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya indah-permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan-kerajaan ini nampaknya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.

Tanah Delta Brantas itu tidak stabil karena tanah di bawahnya masih terus saja bergerak. Tujuh jajaran antiklin sebagai sambungan ujung Pegunungan Kendeng yang mengarah ke Selat Madura. Misalnya, pernah terjadi kenaikan tanah di sekitar sambungan (muara) Kali Brantas dengan Kali Mas; palung sungai bergeser ke kiri sehingga airnya mengalir ke barat. Setelah mengisi ledokan yang dinamai Kedunglidah (di sebelah barat Surabaya sekarang), kemudian mengalir menuju laut dan bermuara di dekat Gresik. Menurut catatan sejarah, Kedunglidah itu masih ada pada tahun 1838.

Sejak zaman Kerajaan Medang (Mataram Hindu periode Jawa Timur) pada abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh).

Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Jenggala atau Kahuripan yang letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (tidak jauh ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan lumpur Sidoarjo sekarang).

Setelah kerajaan Airlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri, yang kemudian dipersatukan kembali oleh Prabu Jayabhaya pada tahun 1135, di bawah kerajaan Panjalu, yang sudah didongengkan di atas.

Memperhatikan uraian di atas, maka pembangunan pelabuhan sekaligus benteng (Pararaton menyebutnya “kutha”) di Canggu, tidak semata-mata sebagai upaya penyerangan ke Mahibit, tempat gerombolan pemberontak Linggapati bertahan, tetapi juga dapat dihubungkan dengan mundurnya fungsi delta Brantas yang didahului oleh rentetan bencana geomorfologis, maka pelabuhan dari muara Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, menjauhi perairan bebas.

Menurut Prasasti Kelagyan (Kamalagyan) yang dibuat semasa Prabu Airlangga bercandra sengkala 959Ç atau 1037M. Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan menceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah-rumah penduduk.

Prabu Airlangga membuat bendungan untuk mengatur daerah aliran sungai Brantas. yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, Sang Prabu Airlangga bertindak membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa aliran sungai Brantas kembali mengalir ke utara.

Mungkin, berpindahnya daerah aliran sungai (DAS) Brantas inilah yang disebut sebagai bencana “banyu pindah” dalam Kidung Pararaton. Demikian juga dalam Pararaton memberitakan adanya “pagunung anyar, yang timbul karena terjadinya erupsi jalur gunung lumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal. Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Dan ini menunjukkan bahwa sepanjang jalur dari Gunung Penanggungan, sesar Watukosek, yang memotong Kali Porong, adalah sebuah mud volcano (pegunungan lumpur).

Secara geologi, Jalur Jombang-Mojokerto-Bangsal adalah masih di dalam Jalur Kendeng, sejalur dengan lokasi semburan lêndhut bêntèr “Jeng” Lusi, alias Lumpur Sidoarjo, masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), di bawahnya dari selatan ke utara ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil.

Secara struktural aktivitas deformasi di wilayah Kendeng bagian timur ini terjadi melalui gravitational tectogenesis sebab geosinklin Kendeng Timur-Selat Madura masih sedang menurun. Kondisi elisional semacam ini tentu memudahkan piercement structures seperti mud volcano eruption. Dari geosinklin menjadi antiklinorium jelas melibatkan sebuah sistem elisional.

[Nyuwun pangapuntên pårå kadang, bukan sok mau paké cårå båså Inggeris, tetapi agak sulit mencari padanan istilah-istilah geologi yang saya sebutkan di atas kedalam Bahasa Indonesia yang baku dan yang benar].

Gunung Penanggungan, adalah gunung paling dekat ke lokasi semburan lêndhut bêntèr . Gunung yang terletak di sebelah selatan Sungai Porong ini dan masih ke sebelah selatan dari Gawir Watukosek, sebuah gawir sesar hasil deformasi sesar Watukosek yang juga membelokkan Sungai Porong, melalui titik-titik semburan lumpur panas termasuk lêndhut bêntèr itu, juga melalui deretan gunung-gunung lumpur di sekitar Surabaya dan Bangkalan Madura.

Daerah genangan lumpur sidoarjo sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari zaman Empu Sindok dan Airlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit nantinya.

Penelitian selanjutnya telah menemukan bukti-bukti bahwa telah terjadi berbagai deformasi tanah yang pangkalnya adalah bukit-bukit Tunggorono di sebelah selatan kota Jombang sekarang, kemudian menjalar ke timurlaut ke Jombatan dan Segunung.

Akhirnya gerakan deformasi tersebut mengenai lokasi pelabuhan Canggu di sekitar Mojokerto sekarang, lalu makin ke timur menuju Bangsal (sekitar 25 km di sebelah barat lokasi semburan lêndhut bêntèr sekarang).

Bencana erupsi semua gunung lumpur itu sangat dahsyat, dan bencana seperti ini nampaknya terjadi berulang-ulang, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256Ç atau 1334M pada zaman Majapahit.

Dan di abad ke-21 kini bencana banyu pindah dan pagunung anyar kembali terjadi gara-gara semburan lêndhut bêntèr “Jeng” Lusi atawa Lumpur Sidoarjo.

Pada akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13, pelabuhan Panjalu bukannya Pelabuhan Jung Galuh yang terletak di Muara Kali Mas, mengingat berita Cina itu menyebutkan nama pelabuhan lain yaitu Chung Kia Lu (Hujung Galuh).

Nama Janggala diperkirakan berasal kata Hujung Galuh, atau disebut Jung Yalu atau Chung Kia Lu berdasarkan dialek Cina. Hujung Galuh terletak di daerah muara sungai Brantas yang diperkirakan kini menjadi bagian kota Çhurabaya. Kota ini merupakan pelabuhan penting sejak jaman kerajaan Kahuripan, Janggala, Kadiri, Singosari, hingga Majapahit. Pada masa kerajaan Singosari dan Majapahit pelabuhan ini kembali disebut sebagai Hujung Galuh.

Penyebutan Hujung Galuh itu bertalian dengan letak Tapan, negara jajahan Panjalu.
Tapan transliterasi Cina dari kata Sampang yang terletak di sebelah timur Jung Galuh, yakni Pulau Madura.

Memperhatikan cacatan perjalanan Chou Ku Fei tersebut, dapatlah ditetapkan bahwa Pelabuhan Jedung atau Pelabuhan Yau Toung dalam dialek Cina, berada di muara Kali Porong yang menghadap ke Selat Madura, beradu pandang dengan Sampang, yang di belakangnya menjulang Gunung Penanggungan.

Adapun Sukitan merupakan transliterasi Cina dari Supitan (Dalam bahasa Jawa, selat disebut supit atau supitan, atau laut yang sempit), dimaksud di sini adalah Supitan Madura, suatu tempat yang membentang di perairan selat Madura dari Bangil sampai Surabaya atau pantai Barat Daya Madura.

Hingga sekarang belum diketahui dengan pasti apa sebenarnya nama asli dari Pelabuhan Yau Toung ini. Jika disepakati bahwa Pelabuhan Yau Toung merupakan transliterasi Cina dari Pelabuhan Jedung, maka didapati suatu daerah di dekat Kembang Sri, tepian Kali Porong.

Dibuktikan pula dengan ditemukannya Prasasti Kembang Sri atau lebih dikenal dengan sebutan Prasasti Jedung, dari zaman Kemaharajaan Empu Sindok, bunyi sebutannya mirip Yau Tuoung, dan letak geografisnya tidak menyalahi kemungkinan sebagai pelabuhan pada masa itu.

Tetapi karena kita tidak mampu melakukan identifikasi pelabuhan itu hingga hari ini, maka dalam sejarah selalu disebut pelabuhan Yau Toung atau pelabuhan Yortan.

Runtuhnya kerajaan Kadiri karena serbuan Tumapel Singosari semasa Ken Arok. Prabu Kertajaya tewas pada peperangan di Ganter. Dengan demikian Pelabuhan Jedung menjadi pelabuhan wilayah Tumapel.

Telah didongengkan di atas bahwa pembangunan ‘kutha’ Canggu bukan semata-mata karena alasan keamanan negara, tetapi lebih banyak karena dipicu faktor alam, yaitu tidak berfungsinya Pelabuhan Jedung karena bencana banyu pindahdan pagunung anyar, meluapnya lêndhut bêntèr maka pelabuhan dari muara Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu.

Baginda Prabu Wisnuwardhana seperti diterangkan dalam kitab Pararaton, yang menyebutkan bahwa beliau membangun ‘kutha’ Canggu Lor pada tahun 1193Ç/1271M.

Bhatara Wisnuwardhana angadegaken kutha ring canggu lor isaka 1193.

[Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun 1193Ç.]

Disebutkan bahwa Canggu Lor terletak di sebelah timur percabangan sungai Brantas menjadi Kali Mas dan Sungai Porong. Tepatnya berada di sebelah utara daerah Trik. Sungai Mas satu sisi dari Tarik, dan sisi lainnya menuju Hujunggaluh dan Sungai Porong. Toponimi nama Trik sekarang menjadi Tarik, yang diduga lokasi ibukota Kerajaan Majapahit.

Kesimpulan ini mengacu kepada keterangan yang diperoleh dari Kidung Sundayana. Disebutkan pada Kidung Sundayana (versi CC Berg) bahwa ketika rombongan Sang Prabu Linggabhuana dari Kawali Sunda hendak menuju ke Majapahit, kapal-kapal dari tatar Sunda melalui “kota bandar” yang terletak di sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan, terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur. Di tempat inilah kapal-kapal yang ditumpangi rombongan Prabu Linggabhuana berlabuh dan kemudian membangun perkemahan di atas tanah lapang yang biasa digunakan upacara kenegaraan dan keagamaan.

Canggu boleh jadi yang dalam Kidung Sunda disebut disebut sebagai “kota bandar”, karena di tempat ini pernah ditemukan sisa-sisa bangunan dalam bentuk bangunan talud (penahan gelombang atau bangunan dermaga), dan bata kuno dalam jumlah cukup banyak yang berserakan di mana-mana. Tempat ini ditengarai sebagai lokasi pusat ibu kota Majapahit. Di tempat ini pula terletak Dusun Medowo yang dalam naskah Negarakertagama disebut Madawapura.

Dalam perjalanan waktu Canggu akhirnya memang menjadi “kota”. Sekarang, Desa Canggu termasuk wilayah kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Disebutkan dalam Pararaton, bahwa Mahibit berada tidak jauh dari benteng Canggu. Diduga terletak di daerah Terung, tidak jauh dari kota keraton Majapahit. Tetapi karena kurangnya data-data sejarah, sulit dibuktikan dengan tepat lokasinya.

CATATAN

1. warga kilalan adalah komunitas pedagang asing; penduduk suatu komunitas pedagang; para pendatang yang berpofesi sebagai pedagang [Mohon dilihat kembali Bagian Pertama Dongeng Kaping-25di SUNdSS-29]

2. thanibålå”, pajak atas tanah, mungkin kalau sekarang adalah Pajak atas Bumi dan Bangunan (PBB); [Mohon dilihat kembali Bagian Pertama Dongeng Kaping-25 di SUNdSS-29]

3. tanah pêrdikan, secara harafiah berarti ‘wilayah merdeka’, dapat juga diesbut sebagai désa simåyakni satu kawasan atau desa-desa tertentu yang mendapat perlakuan khusus atau istimewa sebagai wilayah otonom penuh dan bebas mengatur kehidupan mereka sendiri, meskipun tetap berada atau menjadi bagian dari wilayah kerajaan yang berkuasa saat itu. [Mohon dilihat kembali Bagian Pertama Dongeng Kaping-25 di SUNdSS-29].

4.jalur sutra adalah sebuah jalur perdagangan melalui Asia Selatan yang dilalui oleh karavan (jalur sutra darat) dan kapal laut (jalur sutra laut), dan menghubungkan Chang’an, Cina Daratan, Antiokhia, Suriah, Damaskus,
Perdagangan ini sangat penting tak hanya untuk pengembangan kebudayaan Cina, India dan Roma, namun juga merupakan dasar dari dunia modern. Istilah ‘jalur sutra’ pertama kali digunakan oleh geografer Jerman Ferdinad von Richthofen pada abad ke-19 karena komoditas perdagangan dari Cina yang banyak berupa sutra.

Jalan sutra atau jalur sutra adalah jalur penting untuk perdagangan Tiongkok dengan Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Barat Serta Eropa dan Afrika. Jalan Sutra yang lazim disebut orang adalah jalur darat dari ibukota Dinasti Tang Tiongkok di timur ke Roma, ibukota Italia di barat. Jalur itu dibuka oleh seorang jendral bernama Zhang Qian Dinasti Han.

Kedua jalur Jalan Sutra itu disebut sebagai “jalur sutra darat“. Menelusuri salah satu Jalan Surat itu, dapat melewati Afganistan, Uzbekistan, Iran dan sampai Alexsandar Mesir, kalau mengambil jalan sutra lainnya bisa via Pakistan, Kabul Afganistan, tiba di Teluk Persia.

Adapun”jalur sutra laut” menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara utama peradaban zaman kuno dan sumber kebudayaan di dunia, dan mendorong maju pertukaran ekonomi dan kebudayaan daerah tersebut. Maka Jalan Sutra Laut juga dijuluki sebagai jalan dialog antara Timur dan Barat. [Mohon dilihat kembali Bagian Pertama Dongeng Kaping-25 di SUNdSS-29].

5.kidung sundayana. Sebagaimana halnya buku-buku kidung atau babad, seperti Pararaton, Babad Tanah Jawi, maka Kidung Sundayana pun terdiri dari beberapa versi, antara lain: Kidung Sunda, Kidung Sundayana atau Lalampahan (urang) Sunda, Geguritan Sunda (bahasa Bali Kuno). Masing-masing versi punya “hikayat” sendiri-sendiri .

6.çhurabhaya, Surabaya secara resmi berdiri pada tahun 1293. Tanggal peristiwa yang diambil adalah kemenangan Raden Wijaya, Raja pertama Mojopahit melawan pasukan Cina.

Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya.

Kota Surabaya juga sangat berkaitan dengan revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak penjajahan Belanda maupun Jepang, rakyat Surabaya (Arek-arek Suroboyo) bertempur habis-habisan untuk merebut kemerdekaan. Puncaknya pada tanggal 10 Nopember 1945, Arek Suroboyo berhasil menduduki Hotel Oranye (sekarang Hotel Mojopahit) yang saat itu menjadi simbol kolonialisme. Karena kegigihannya itu, maka setiap tanggal 10 Nopember, Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, ejaan nama Surabaya awalnya adalah Çhurabhaya. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I berangka tahun 1358M atau 1280Ç. Dalam prasasti itu tertulis Çhurabhaya termasuk kelompok desa di tepian sungai Brantas sebagai tempat penambangan atau penyeberangan yang sudah ada sejak dahulu (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji praçasti).

Walaupun prasasti Trowulan I sebagai bukti tertulis tertua yang mencantumkan nama Çhurabhaya, para ahli menduga bahwa Çhurabhaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut.

Diyakini oleh para ahli sejarah Çhurabhaya telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Sebuah hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanagara tahun 1275M atau 1197Ç, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M atau 1192Ç .

Nama Çhurabhaya muncul dalam pujasastra atau kakimpoi Negarakartagama tahun 1365M. Pupuh XVII, pada bait ke-5:

yan ring janggala lot sabha nrpati ring çhurabhaya manulus mare buwun

[Ketika sampai di Jenggala, sang raja singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.]

Hipotesis lain menyebutkan bahwa Surabaya semula berasal dari Junggaluh (lihat Jenggala), Ujunggaluh atau Hujunggaluh. Ini, terungkap pada pemerintahan Adipati Jayengrono. Kerabat kerajaan Mojopahit ini diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memerintah di Ujunggaluh. Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujunggaluh sebagai pelabuhan pantai terus manarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di sini.

Suatu keanehan, ternyata sejarah Surabaya ini terputus-putus. Kalau sebelumnya Surabaya dianggap sebagai penjelmaan dari Hujunggaluh atau Ujunggaluh, namun belum satupun ahli sejarah menemukan sejak kapan nama Hujunggaluh itu “hilang” dan kemudian sejak kapan pula nama Surabaya, benar-benar mulai dipakai sebagai pengganti Hujunggaluh. Perkiraan sementara, hilangnya nama Hujunggaluh itu pada abad ke-14.

Dongèng punikå kapunggêl sêmantên rumiyin, Insya Allah sanès wêkdal cantrik Bayuaji sagêd nyêrat dongèng candhakipun.

Lalu…..

Bagaimana penyerbuan tentara kerajaan yang dipimpin oleh seorang perwira muda pemimpin pasukan tempur
Sang Sénopati ing Ayudhå Mahésa Bungalan.

Berhasilkah dia melumpuhkan atau bahkan menghancurkan pemberontakan Sang Linggapati?
Siapa yang dimaksud dengan Bhatara Wisnu dan Kalayawana itu?

nyêbar godhong kårå, sabar sawêtårå, dongèng iki ånå tutugé

Nuwun

cantrik Bayuaji.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:30  Comments (8)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-sundss/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. jejak si GundUL ning tlatah lendhuT benter….!!

    • berHASIL….balek laGI sambel nGEMBOL
      buntelan rontal, matur nuwun

  2. malem2 ki GundUL mencari JEJAK keberaDAan
    rontal ning tlatah ki Gembleh.

  3. Alhamdulillah gerbong bisa dtemukan. ternyata rontal dislempitke neng ngisor jok.

  4. Lha Buto Elek niku nopo PT. Lapindo Perkasa nggih Ki?

  5. matur suwun rontal 102 nya pak satpam

  6. Laporrrr om Bayuaji :

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-20] di commentSUNdSS rontal ke-05.

    Pemerian tafsir “kebenaran” kesejarahan, lanjutan dongeng:

    WAMCA RAJASA SANG GIRINDRANATHA DAN TAFSIR SEJARAHNYA

    nahhh kok dongeng kaping 19 ga ada ? dari 18 lompat ke 20, atau ditaruh di mana gitu ?

    hi hi trims yeee 😛
    Dewi

  7. Kangen….Ki Bayuaji…bahkan Ki Punakawan Bayuaji…..mendongeng Antropologi & Arkeologi……sungguh mencerdaskan bangsa….kami setia menanti….toetoegnya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: