Seri Kerajaan Singosari-SUNdSS

Nuwun
Sisipan dongeng (dimuat di SUndSS-32):

LÊNDHUT BÊNTÈR

b>DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [dongeng kaping-26. Rontal SUNdSS 31]

Bhatara Wisnu menumpas pemberontak Kalayawana” (Bagian Kedua). Episode “banjir lêndhut bêntèr

Harusnya dongeng ini adalah dongeng sebelum bobo, dongeng anak-anak, tapi kalo malem pårå kadang sudah jarang “bobo”, meskipun tidak semuanya, lagi asyik nonton bola (yang tepat nonton orang-orang bermain bola), dan yang didongengi bukan anak-anak lagi, he he he he.

Maka dongeng ini diwedar sekarang:

TIMUN EMAS

Pada jaman dahulu ada seorang yang dikenal dengan sebutan mBok Råndå, kerena dia memang seorang janda, tapi ada juga yang menyebutnya dengan panggilan mBok Sirni, dia menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja.

Suatu hari mBok Sirni didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak. Si Raksasa ini tahu aja>/i> kalau si mBok Sirni kepengin punya momongan. Tapi konon begitulah kata yang empunya cerita.

Memang dasarnya si empunya cerita menghendaki demikian, maka disebutnya si buto ini adalah buto sekti, maka dijulukilah dia Buto Sekti. Raksasa ini kemudian memberinya biji mentimun kepada si mBok Sirni agar ditanam dan dirawat dan setelah dua minggu di antara buah ketimun (mentimun atawa ketimun, ya) yang ditanamnya nanti akan ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas. Agar dipetik dan dari dalamnya akan lahir seorang anak manusia (heubaat teunan ilmunya si Buto nih. Lha jenenge saja Buto Sekti).

Namun nDoro Menggung simbah Buto meminta syarat apabila anak itu berusia dua tahun harus diserahkan ke Buto untuk disantap.

Setelah dipikar-pikir akhirnya Mbok Sirni-pun setuju. Wah dengan gembira si Mbok Sirni ini akhirnya menanam biji-biji mentimun pemberian simbah buto. Lah wong tanah di daerahnya mBok Sirni subur banget, iyakan ?

Akhirnya setelah ditanam dan dirawat, betul sekali….kehebatan ilmu bioteknologi simbah Buto Sekti ini …! Setelah dua minggu ada satu timun berwarna emas yang beusaaarrr banget!.

Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama si Timun Emas.

Timun Emas ini lahir sebagai gadis. Semakin hari Timun Emas tumbuh menjadi gadis kecil cantik jelita.
Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji si mBok Råndå. Tetu saja si mBok amat ketakutan kehilangan anak semata wayangnya si Timun Emas, dia mengulur-ulur janji agar raksasa datang dua tahun lagi.

Terjadilah dialog antara simbah Buto dan si mBok Råndå :“nDoro Menggung mBah Buto, anakku ini masih cilik, baru dua tahun to (maksudnya buto),nanti saja kalau sudah dua tahun lagi kan sudah semakin gede, makin enak rasanya karena semakin dewasa, semakin gurih kang Buto dan enak untuk disantap”, Kata si mBok Sirni.
Hue hehehehe … bener juga katamu mbok Sirni .. aku tunggu !”, dan Buto Sekti pun setuju dan kemudian dia pergi lagi.

Batin mBok Sirni ”Dasar Buto gendheng nan rakus diiming-iming yang enak-enak pasti mau kan”.

Mbok Sirni-pun semakin senang pada Timun Emas. Diapun sayang pada Timun Emas karena rajin membantu. Tetapi setiap kali ia teringat akan janjinya Mbok Sirni hatinya menjadi cemas dan sedih, lah wong anak satu-satunya. Kepriben.

Suatu malam mBok Sirni bermimpi, wah ini bukan sekedar mimpi, tapi pituduh, wangsit, ini petunjuk agar anaknya selamat. Dalam mimpi dia diberitahu harus menemui petapa di Gunung Watu Gundul.

Paginya si mBok ini langsung berangkat. Di Gunung Watu Gundul ia bertemu dengan seorang petapa yang memberinya empat buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam, dan terasi sebagai penangkal kalau dikejar sama nDoro Menggung mBah Buto Sekti.

Sesampainya dirumah diberikannya empat bungkusan tadi kepada Timun Emas, dan diberitahu kalau dikejar Buto Sekti aji-aji ini harus disebarkan.

Setelah dua tahun ditunggu-tunggu si Buto Sekti datang lagi untuk menagih janji. Blaik ! mBok Råndå Sirni kaget bukan kepalang. Raksasa Buto Sekti tiba-tiba muncul. Masak si Timun Emas yang disayang-sayang akan diuntal dijadikan sarapannya si Buto Sekti?

(Ada nggak ya padanan yang pas untuk kosa kata “untal atawa nguntal, yang radha-radha sopan gitu, tapi mana ada buto sopan).

Sebelum simbah Buto datang, mBok Råndå Sirni, yang sudah tahu akan kedatangan si buto, menyuruh Si Timun Emas lari lewat pintu belakang. Raksasa Buto tahu, maka dikejarlah si Timun Emas.

Setelah berlari jauh Timun Emas kecapaian. Si Timun Emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Si Buto Jelek (namanya saya ganti, ngak enak rasanya kalo nyebut buto sekti, luwih sreg nyebut Buto Jelek); kesenengan memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga Buto sekti eh Buto Jelek. … Lah wong mentimun ini menjadikan dia banyak gas diperutnya malah membuahkan lapangan gas yang baunya minta ampun……… Jelas menambah tenaga dan kekuatannya.

Setelah si Buto Jelek puas memakan uang rakyat (eh mentimun); maka dia lalu kembali mengejar si Timun Emas. Timun Emaspun lari sipat kuping, sambil menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam, menghalangi dari kejaran si Buto Jelek.

Haiya kalau cuman pohon-ponon bambu kerdil begini”, kata si Buto Jelek. bagi buto sekti (lho kok sekti lagi), dia mudah sekali melewatinya.

Dengan kemarahan yang amat sangat, dibabatnya rumpun bambu duri itu oleh si buto, meskipun di tubuhnya penuh luka tergores duri bambu, si Buto yang nggak sekti lagi, dia kesakitan, tapi dia terus mengejar dan mengejar dan mengejar……….

Si Timun Emas-pun membuka bingkisan ketiga yg berisi garam dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitan dan sisa-sisa kesaktiannya raksasa Buto Jelek dapat melewati tumpahan air asin tadi. Batin si Buto, ”whalah wong cuman gas kick dan over pressure gini keciil ……

Akhirnya Timun Emas menaburkan terasi … lah ini kan terasi Sidoarjo belinya aja di deket pabriknya, di toko sekitar Jalan Mojopahit Sidoarjo,

(Lho kata yang empunya cerita terasi itu pemberian seorang pertapa di Gunung Watu, lha sekarang koq berubah jadi beli di Sidoarjo?). Biarin saja, wong maunya si empunya cerita begitu.

Sudah barang tentu, lha wong namanya terasi, ya baunya amis banget gitu! Seketika si Buto Jelek dan sudah nggak sekti lagi ‘gebres-gebres
(Bahasa Indonesianya apa ya…???)

Si Buto Jelek nggrundel: ” … blaik ini bau amis banget, nggak karu-karuan.” Tapi Buto Jelek ini dasarnya emang buto gendheng, malah tertawa ngakak … “Hua hahahah ha ha, Mosok lawan Buto kok pakai terasi …!” Terus kakinya gedrug-gedrug sambil meloncat-loncat …. timbullah gempa! … tapi apa yang terjadi kemudian …. muncratlah lumpur dari tanah sekelilingnya …. ..terbentuklah danau lumpur yang mendidih, akhirnya si Buto Jelek Nan Tidak Sekti Lagi ini mati tenggelam.

Si Timun Emas selamat, dan seperti biasanya sebagai dongeng sebelum bobo, pasti happy ending forever hidup bahagia bersama ibunya si mBok Råndå Sirni.

Pertanyaan:

Cantrik Bayuaji, esuk-esuk koq “mendongeng” Timun Emas, apa maksudde:

Begini:

Timun Emas adalah cerita rakyat yang jadi legenda. Setiap kelompok masyarakat di Indonesia sejak dulu memiliki legenda daerahnya masing-masing. Sebutlah “Sangkuriang dan Dayang Sumbi” di Jawa Barat.

Kisahnya sangat lekat dengan fenomena alam Gunung Tangkuban Perahu dan Danau Bandung (dulu Bandung adalah danau).

Rakyat pada zaman Jenggala dan Kediri pun punya fenomena alam gunung lumpur yang sekarang sedang bererupsi di Banjar Panji. Rakyat pada masa itu pasti melihat sebuah fenomena semacam yang terjadi di Banjar Panji sekarang.

Mengapa?

Karena, di sekitar Banjar Panji sekarang ditemukan beberapa gunung lumpur lama, sebagian masih keluar gas metan dan endapan garamnya sesekali. Dan, danau lumpur adalah sebuah kaldera gunung lumpur. Maka, nampaklah bahwa kisah Timun Emas dirajut masyarakat Jenggala dan Kediri setelah melihat kaldera dan gunung lumpur di sekitarnya.

(Mohon simak kembali DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [dongeng kaping-26. Rontal SUNdSS 31]

Bledug Kuwu, di selatan dukuh Kuwu, selatan Purwodadi juga punya asal-usulnya sendiri menurut cerita rakyat. Dikatakan, Bledug Kuwu adalah terowongan tempat seekor naga dari Laut Kidul keluar masuk. Mengapa Laut Selatan ? Karena, air lumpur di Bledug Kuwu asin, dan asap Bledug Kuwu adalah hembusan nafas sang Naga. Konon katanya begitu.

Setiap legenda rakyat berharga untuk dicermati dalam hubungannya ke fenonema alam. Saat fenomena Danau Bandung diselidiki, para ahli geologi zaman Belanda saat itu pun meneliti legenda Sangkuriang.

Kita nikmati saja suatu cerita rakyat sebagai dongeng rakyat yang mengasyikkan, meskipun disampaikan dengan cara gethok tular yang akhirnya sangat bervariasi…… sampailah pada generasi ke generasi.

[Pertanyaan lain: Masih adakah orang-tua orang tua masa kini yang mempunyai momongan kecil antara umur dua sampai lima tahun, berkesempatan dan sudi mendongengkan kisah-kisah rakyat di tanah air kita, seperti dongeng Timun Emas ini, pada putra-putrinya???]

Simpulan:

1. Lêndhut bêntèr “Jeng” Lusi, alias Lumpur Sidoarjo adalah juga telaga lumpur dan diakhir cerita, si buto meninggal tenggelam dalam telaga lumpur.

2. Nama mBok Råndå dalam “dongeng” di atas adalah mBok Råndå Sirni. Ada kemiripan dengan desa Siring, salah satu desa yang terkena lêndhut bêntèr “Jeng” Lusi [ini namanya gothak-gathik gathuk]

3. Digothak-gathik gathuk lagi, mBok Råndå datang ke pertapa di Gunung Watu Gundul dapat biji mentimun, jarum, garam dan terasi. Apa yang dimaksud adalah Gawir Watukosek?

[Cocokkan dengan uraian berikut: Gunung Penanggungan, adalah gunung paling dekat ke lokasi semburan lêndhut bêntèr . Gunung yang terletak di sebelah selatan Sungai Porong ini dan masih ke sebelah selatan dari Gawir Watukosek, sebuah gawir sesar hasil deformasi sesar Watukosek yang juga membelokkan Sungai Porong, melalui titik-titik semburan lumpur panas termasuk lêndhut bêntèr itu, juga melalui deretan gunung-gunung lumpur di sekitar Surabaya dan Bangkalan Madura.

4. Kekasih hati Timun Emas (dalam legenda lain disebut sebagai Dewi Sekartaji), adalah Panji Asmara Bangun dan sumur pengeboran yang memuncratkan terasi… eh lumpur, namanya Banjar Panji-1; ada nyrempet-nyrempet panjinya. [ini namanya gothak-gathik gathuk juga, he he he]

5. Dongeng Timun Emas ini ditemukan pada suatu kidung dari jaman kerajaan Jenggala, dan Kerajaan Jengala dengan ibukota kerajaan Kahuripan letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang, tidak jauh ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan lumpur Sidoarjo sekarang.

Pårå kadang padépokan

Pada intinya, semua legenda dan dongeng pastilah ada sebab musabab terjadinya, yang sangat mungkin ada hubunganya dengan kenyataan sejarah disuatu tempat dimana cerita itu berkembang. Dan soal “kebenarannya” nggak usah dipersoalkan, lha namanya saja legenda atawadongeng sebelum bobo.

Sumonggo

Nuwun

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:30  Comments (8)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-sundss/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. jejak si GundUL ning tlatah lendhuT benter….!!

    • berHASIL….balek laGI sambel nGEMBOL
      buntelan rontal, matur nuwun

  2. malem2 ki GundUL mencari JEJAK keberaDAan
    rontal ning tlatah ki Gembleh.

  3. Alhamdulillah gerbong bisa dtemukan. ternyata rontal dislempitke neng ngisor jok.

  4. Lha Buto Elek niku nopo PT. Lapindo Perkasa nggih Ki?

  5. matur suwun rontal 102 nya pak satpam

  6. Laporrrr om Bayuaji :

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-20] di commentSUNdSS rontal ke-05.

    Pemerian tafsir “kebenaran” kesejarahan, lanjutan dongeng:

    WAMCA RAJASA SANG GIRINDRANATHA DAN TAFSIR SEJARAHNYA

    nahhh kok dongeng kaping 19 ga ada ? dari 18 lompat ke 20, atau ditaruh di mana gitu ?

    hi hi trims yeee 😛
    Dewi

  7. Kangen….Ki Bayuaji…bahkan Ki Punakawan Bayuaji…..mendongeng Antropologi & Arkeologi……sungguh mencerdaskan bangsa….kami setia menanti….toetoegnya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: