Seri Kerajaan Singosari-SUNdSS

Nuwun,
cantrik bayuaji sowan malih
.

Melanjutkan:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-20] di commentSUNdSS rontal ke-05.

Pemerian tafsir “kebenaran” kesejarahan, lanjutan dongeng:

WAMCA RAJASA SANG GIRINDRANATHA DAN TAFSIR SEJARAHNYA

Pada dongeng sebelumnya telah dijelaskan secara rinci apa dan siapa wangsa Rajasa itu. Berikut ini beberapa informasi tambahan tentang hal itu.

Berita Pararaton mengenai suksesi kekuasaan dari tangan Anusapati ke tangan Tohjaya berlainan sama sekali dengan keterangan yang didapat dari Prasasti Mula Malurung.

Berdasarkan prasasti Mula Malurung, Apanji Tohjaya tidak menggantikan Anusapati. tetapi menggantikan adiknya yang bernama Nararyya Gung Ing Bhaya (Gungingbhaya).

Tohjaya dan Nararyya Gung Ing Bhaya dalam Prasasti Mula Malurung disebut sebagai paman Nararyya Semi Ning Rat (Seminingrat atau Bhatara Wisnuwardhana).

Anak tertua Ken Arok dan Ken Dedes adalah Mahisa Wong Ateleng (Mahisa Wonga Teleng). Berdasarkan garis keturunannya maka seharusnya Mahisa Wong Atelenglah yang menggantikan Ken Arok. Tetapi tidak ada sumber sejarah yang diketahui menyebutkan bahwa Mahisa Wong Ateleng menjadi raja di Tumapel.

Dari Prasasti Mula Malurung kita hanya mengetahui adanya tokoh bernama Bhatara Parameswara yang sepeninggalnya digantikan oleh Nararyya Gung Ing Bhaya. Nama Anusapati tidak kita dapatkan pada Prasasti Mula Malurung yang sudah ditemukan, tetapi pada salah satu lempengan Prasasti Mula Malurung yang ditemukan belakangan kita jumpai seorang tokoh yang disebut sebagai båpå Nararyya Semi Ning Rat.

Dari Nagarakretagama dan Pararaton diketahui bahwa ayah kandung Nararyya Semi Ning Rat (Wisnuwardhana) adalah Anusapati, dengan demikian tokoh båpå dalam Prasasti Mula Malurung tentulah Bhatara Anusanåthå (Anusapati).

(Catatan: Prasasti Mula Malurung diperkirakan terdiri atas sepuluh lempengan, namun lempengan kedua, keempat, dan keenam tidak ditemukan. Boleh jadi nama Anusapati tertulis pada lempengan yang belum ditemukan itu).

Berdasarkan Prasasti Mula Malurung, Kerajaan Tumapel yang waktu itu meliputi juga bekas wilayah kerajaan Kadiri yang direbut oleh Ken Arok dari Prabu Dandhang Gendhis (Sri Kertajaya), di tahun 1222M, terdiri dari beberapa kerajaan kecil (diperintah oleh raja vasal, yuwaraja, setingkat pangeran atau adipati).

Dengan gugurnya Kertajaya, kerajaan-kerajaan kecil tadi dikuasai dan diperintah oleh keturunan Ken Arok dari garis Anusapati dan Semi Ning Rat. Agaknya sepeninggal Ken Arok, sebagian Tumapel diperintah oleh anak-anaknya, dan sebagian lagi oleh Anusapati.
(Prasasti Mula Malurung (1) Lempengan VIIA dan B)

1. Nararyya Kirana putera sang prabu Semi Ning Rat sendiri dirajakan di Lamajang [Lumajang (?)]; (2)
2. Nararyya Murddhaja dirajakan di Daha;
3. Nararyya Turukbali (3), puteri sang prabu, permaisuri Jayakatwang, dirajakan di Glang Glang daerah Wurawan. Sri Jayakatwang adalah keponakan sang prabu Semi Ning Rat;
4. Sri Ratnaraja, adik sepupu sang prabu dirajakan di Morono;
5. Sri Narajaya adik sepupu sang prabu dirajakan di Hring;
6. Sri Sabhajaya, sepupu sang prabu dirajakan di Lwa.
7. seorang lagi yang namanya tidak disebut menjadi raja di Madhura.

Cacatan:

(1). Prasasti Mula Malurung

I. Lempengan pertama berisi perintah Kertanagara untuk menerbitkan prasasti sebagai piagam pengesahan anugerah Bhatara Parameswara dan Semi Ning Rat penguasa Jawa.
II. Lepengan kedua belum ditemukan
III. Lempengan ketiga berisi pengabdian Pranaraja terhadap raja-raja sebelumnya. Kertanagara disebut sebagai putra Semi Ning Rat dan Waning Hyun. Waning Hyun adalah putri Parameswara. Pengganti Parameswara adalah Gung Ing Bhaya lalu Tohjaya. Sepeninggal Tohjaya, Semi Ning Rat menyatukan kembali kerajaan Tumapel.
IV. Lempengan keempat belum ditemukan.
V. Lempengan kelima berisi kesetiaan Pranaraja terhadap Semi Ning Rat. Juga berisi puji-pujian untuk Semi Ning Rat.
VI. Lempengan keenam belum ditemukan.
VII. Lempengan ketujuh berisi lanjutan nama-nama raja bawahan yang diangkat Semi Ning Rat, antara lain Kertanagara di Kadiri dan Jayakatwang di Gelang-Gelang.
VIII. Lempengan kedelapan berisi ungkapan terima kasih para abdi yang dipimpin Ramapati atas anugerah raja.
IX. Lempengan kesembilan berisi anugerah untuk Pranaraja adalah desa Mula dan Malurung. Disebutkan pula Semi Ning Rat adalah cucu Bhatara Siwa pendiri kerajaan.
X. Lempengan kesepuluh berisi perintah Semi Ning Rat melalui Ramapati supaya Kertanagara mengesahkan anugerah tersebut untuk Pranaraja.

(2). Lamajang atau Lumajang.

Nama Lumajang diduga berasal dari kata “Lamajang” yang diketahui dari penelusuran sejarah, data prasasti, naskah-naskah kuno, bukti-bukti petilasan dan hasil kajian pada beberapa prasasti dan naskah-naskah seperti: Prasasti Mula Malurung, Naskah Negara Kertagama, Kitab Pararaton, Kidung Harsa Wijaya, Kitab Pujangga Manik, Serat Babat Tanah Jawi dan Serat Kanda.

Prasasti Mula Manurung dinyatakan sebagai prasasti tertua dan pernah menyebut-nyebut “Negara Lamajang” maka dianggap sebagai titik tolak pertimbangan hari jadi Lumajang.

Prasasti Mula Manurung ini ditemukan pada tahun 1975 di Kediri. Prasasti ini ditemukan berangka tahun 1177Ç/1255 M, mempunyai 12 lempengan tembaga. Pada lempengan VII halaman A baris 1 – 3 prasasti Mula Manurung menyebutkan:

Beliau Nararyya Sminingrat (Wisnuwardhana) ditetapkan menjadi juru di Lamajang diangkat menjadi pelindung dunia di Negara Lamajang tahun 1177 Saka.

Pada Prasasti tersebut setelah diadakan penelitian/penghitungan kalender kuno maka ditemukan dalam tahun Jawa pada tanggal 14 Dulkaidah 1165Ç atau tanggal 15 Desember 1255M.

Mengingat keberadaan Negara Lamajang sudah cukup meyakinkan bahwa 1255M itu Lamajang sudah merupakan sebuah negara berpenduduk, mempunyai wilayah, mempunyai raja (pemimpin) dan pemerintahan yang teratur, maka ditetapkanlah tanggal 15 Desember 1255M sebagai hari jadi Lumajang.

(3). Turukbali dan Jayakatwang.

Dari ketujuh tokoh keturunan Ken Arok tersebut di atas, yang agak lengkap sumber sejarahnya adalah Turukbali. Dia adalah anak Nararyya Semi Ning Rat, dengan demikian dia adalah cucu Anusapati, yang menikah dengan Jayakatwang yang keturunan terakhir Raja Dandhang Gendhis.

Jayakatwang, atau Jayakatong, atau Aji Katong, atau Jayakatyeng. Dalam berita Cina ia disebut Ha Ji Ka Tang menjadi raja di Glang Glang (Gelang Gelang).
Semula Gelang Gelang disebut nama lain dari Kadiri. Namun gagasan tersebut digugurkan oleh naskah prasasti Mula Malurung. Dalam prasasti itu dinyatakan dengan tegas kalau Gelang-Gelang dan Kadiri adalah dua wilayah yang berbeda.

Jayakatwang adalah raja bawahan di Kadiri yang memberontak terhadap Kertanagara di Singosari.
Naskah prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan menyebut Jayakatwang pada saat memberontak masih menjabat sebagai Yuwaraja [adipati, raja muda (?)] di Gelang Gelang. Setelah Singosari runtuh, baru kemudian ia menjadi raja di Kadiri. Ia kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan sampai tahun 1293M.

Jayakatwang juga anak kemenakan Semi Ning Rat, karena ayah Jayakatwang yaitu Sastrajaya menikah dengan saudara perempuan Wisnuwardhana. Sastrajaya adalah anak Jayashaba, dengan demikian dia adalah cucu Prabu Dandhang Gendhis.

Dari prasasti Kudadu diketahui Jayakatwang memiliki putra bernama Ardharaja, yang menjadi menantu Kertanagara. Jadi, hubungan antara Jayakatwang dengan Kertanagara adalah sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan.

Berdasarkan Prasasti Mula Malurung, sepeninggal Nararya Gung Ing Bhaya maka Nararyya Tohjaya menggantikannya sebagai raja Kadiri.

[sekali lagi, jika informasi dari Prasasti Mula Malurung ini benar, maka Tohjaya tidak pernah menjadi raja di Singosari, sehingga tidak pernah ada peristiwa pembunuhan Anusapati oleh Tohjaya, sebagaimana dikabarkan oleh Pararaton).

Ki Sanak dan pårå kadang,

Rontal SUNdSS baru sampai pada episode: “Dendang tawa ringkik iblis betina yang seolah-olah mendapatkan korban sesajian beberapa sosok mayat baru” Ken Umang. Yang kini adalah Ibunda Maharaja Singosari. “Kabinet Tohjaya” pun disusun, sedangkan orang-orang yang setia pada Anusapati harus disingkirkan.

Demikianlah, pemaparan wamca Rajasa Sang Girindtanatha dan Tafsir Sejarahnya saya cukupkan hingga di sini. dan nyuwun sewu kalau Dongeng Arkeologi & Antropologi sudah melangkah terlalu jauh.

[kaserat ing dintên sapuniki, Anggårå Pon – 20 April 2010M; 06 Jumadil Awal 1943Ç – Dal; 06 Jumadil Ula 1431H]:

Nuwun.

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:30  Comments (8)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-sundss/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. jejak si GundUL ning tlatah lendhuT benter….!!

    • berHASIL….balek laGI sambel nGEMBOL
      buntelan rontal, matur nuwun

  2. malem2 ki GundUL mencari JEJAK keberaDAan
    rontal ning tlatah ki Gembleh.

  3. Alhamdulillah gerbong bisa dtemukan. ternyata rontal dislempitke neng ngisor jok.

  4. Lha Buto Elek niku nopo PT. Lapindo Perkasa nggih Ki?

  5. matur suwun rontal 102 nya pak satpam

  6. Laporrrr om Bayuaji :

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-20] di commentSUNdSS rontal ke-05.

    Pemerian tafsir “kebenaran” kesejarahan, lanjutan dongeng:

    WAMCA RAJASA SANG GIRINDRANATHA DAN TAFSIR SEJARAHNYA

    nahhh kok dongeng kaping 19 ga ada ? dari 18 lompat ke 20, atau ditaruh di mana gitu ?

    hi hi trims yeee 😛
    Dewi

  7. Kangen….Ki Bayuaji…bahkan Ki Punakawan Bayuaji…..mendongeng Antropologi & Arkeologi……sungguh mencerdaskan bangsa….kami setia menanti….toetoegnya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: