Seri Kerajaan Singosari-SUNdSS

Nuwun

Beberapa comment dari pårå kadang mengenai Babad Tanah Jawi di SUNdSS-14:

[On 4 Mei 2010 at 06:06 arga Said:
….Siapakah pengarang Babad Tanah Jawi dan tahun berapa kok didalamnya memuat cuplikan Pararaton?…..

On 4 Mei 2010 at 12:29 pelangisingosari Said:
……..monggo dipun pirsani wonten halaman lain-jejak masalalu.

On 4 Mei 2010 at 20:51 arga Said:
Ingkang kulo kajengaken Babad Tanah Jawi ingkang asli dalam bentuk tembang aksoro Jawi. Kulo injih gadhah buku Babad Tanah Jawi wiwit nabi Adam ngantos tahun 1647, kandelipun 447 koco, ingkang kasusun W.L. Olthof. Nanging isinipun benten sanget kaliyan ingkang wonten jejak masa lalu halaman lain. Isinipun kadosto: Prabu Watu Gunung dari Negeri Giling Wesi, Siyung Wanara, Raden Sesuruh (raja Majapahit kapisan), Nawangsih, Ki Ageng Selo menangkap petir lan sakpanunggalanipun. Mboten nyrita’aken Singasari. Sae sanget, namung kados dongeng.] ………

Pårå kadang, dalah Ki Sanak sêdåyå

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan, dengan harapan mudah-mudahan bermanfaat bagi pårå kadang padepokan.

Di pagi hari ini, sinambi sarapan kêtan dêlé yaitu separuh ketan putih dan separuh ketan gula jawa yang ditaburi bubuk dêlé, kelapa parut dan dikucuri juruh, suatu komposisi yang sangat indah. Adapun minumnya teh nasgitel, wuih uénakk têunan.

Berikut ini cantrik Bayuaji mendongeng tentang:

BABAD TANAH JAWI

[kasêrat ing dinten Wrahaspati Wagé Sungsang 1932Ç, 06 Mei 2010M; 22 Jumadil Awal 1943 – Dal; 22 Jumadil Ula 1431H]

Kepustakaan Jawa Lama merupakan jejak historis penuh misteri dan kontroversi. Kaum intelektual Belanda dan pribumi sejak masa kolonial kerap melakukan studi intensif dan tendensius. Kerja besar dalam membuat salinan atau analisis terhadap kepustakaan Jawa menghasilkan khazanah sejarah Jawa. Membaca pustaka Jawa adalah membaca (sejarah) Jawa.

Kepustakaan Jawa mengandung informasi kompleks dan penting dalam ikhtiar merekonstruksi masa lalu. Babad Tanah Jawi menjadi referensi penting dalam ikhtiar menelusuri dan membaca Jawa masa lalu dengan sekian edisi dan versi.

Babad sebagai genre kerap masuk dalam studi sastra dan sejarah. Pemahaman bahasa, struktur tulisan, imajinasi, dan sistem pemaknaan dalam babad menjadi ketentuan label sebagai teks sastra (puisi naratif).

Historiografi tradisional cenderung menempatkan babad sebagai referensi sejarah-imajinatif. Babad memiliki sifat religio-magis dan pekat dengan imajinasi. Sifat itu membuat ahli sejarah berada dalam ragu untuk memakai babad sebagai sumber sejarah yang sahih.

C.C. Berg dalam buku Penulisan Sejarah Jawa (1974) mengingatkan bahwa Babad Tanah Jawi meiliki tendensi sebagai ekspresi kultural yang tak bisa mutlak dikatakan sumber sejarah atau bacaan sastra-mitos-imajinatif.

Thomas Stamford Raffles dalam The History of Jawa menilai babad mengandung informasi-informasi penting dan cukup akurat untuk studi sejarah Jawa. J.J. Ras (1986) membuat bantahan bahwa babad tak patut menjadi bahan acuan untuk mengungkap masa lalu Jawa sebelum ada komparasi dengan sumber-sumber Eropa.

Polemik itu tidak mengganggu akademisi kolonial dan pribumi untuk intensif memberi perhatian atas sekian babad dengan tendensi filologis dan sastra ketimbang pamrih historis.

S. Margana dalam buku Pujangga Jawa dan Bayang-bayang Kolonial (2004) mengungkapkan babad merupakan problematik dalam historiografi modern. Para sejarawan kerap memahami babad sebagai tulisan atau sumber sejarah dalam tendensi subjektif. Para sejarawan yang menolak peran babad sebagai sumber sejarah memiliki argumen bahwa babad rentan dengan bias dalam menggambarkan fakta-fakta sejarah.

Babad cenderung menjadi percampuran dari fakta dan mitologi. Para sejarawan yang akomodatif justru menerapkan metode dan metodologi tertentu untuk menjadikan babad sebagai sumber informasi mumpuni daripada sumber-sumber kolonial.

Babad Tanah Jawi dalam studi kritis kerap menjadi acuan polemik mengenai kontroversi pengarang dan proses publikasi. Kontroversi terjadi untuk kesahihan penyusun Babad Tanah Jawi. Beberapa pihak mengakui ada Babad Tanah Jawi versi keraton dan versi para peneliti Belanda (Gupermanen).

Kontroversi itu dibarengi dengan penerbitan Babad Tanah Jawi dalam pelbagai versi. Masing-masing versi beda penyusun dan beda dalam muatan kisah secara kuantitatif dan kualitatif.

Babad Tanah Jawi merupakan karya sastra sejarah dalam bentuk tembang Jawa. Sebagai babad/babon/buku besar dengan pusat kerajaan zaman Mataram. buku ini tidak pernah lepas dalam setiap kajian mengenai hal hal yang terjadi di tanah Jawa, karena buku ini berkisah tentang sejarah Pulau Jawa. Babad Tanah Jawi disebut juga babad gêdhé atau babad mayor.

Di masa lalu, raja-raja di tanah Jawa dikenal gemar memamerkan silsilah atau asal-usul garis keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya. Babad Tanah Jawi yang dikumpulkan di masa pemerintahan Raja Paku Buwana I pada awal abad ke-18 hingga masa pemerintahan Paku Buwana III, dipercaya oleh beberapa ahli sebagai salah satu sarana yang digunakan kerajaan untuk keperluan legitimasi tersebut.

Buku Babad Tanah Jawi ini telah dipakai sebagai salah satu induk rekonstruksi sejarah pulau Jawa. Sebagaimana sebuah dongeng/babad/kidung/legenda seperti Pararaton, Teks asli Babad Tanah Jawi memuat silsilah raja-raja Jawa dari Nabi Adam, dewa-dewi dalam agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabarata, Cerita Panji masa Kadiri, masa kerajaan Pajajaran, masa Majapahit hingga masa Demak yang kemudian dilanjutkan lagi dengan silsilah kerajaan Pajang, Mataram dan berakhir pada masa Kartasura.

Di dalamnya ditemukan banyak legenda yang hingga kini masih dipercaya, terutama di kalangan masyarakat Jawa, bahwa para raja-raja Nusantara termasuk cikal bakal Kadhiri (Mataram Lama), Singosari, Majapahit, Padjadjaran, Pajang, dan Mataram Islam, mempunyai “garis keturunan langsung” dengan manusia pertama Nabi Adam as, hingga kepada Nabi terakhir Muhammad SAW, sampai para ulama.

Tapi tidak hanya itu, para penguasa Tanah Jawa pun dipercaya mempunyai “pertalian keluarga sedarah” dengan tokoh-tokoh pewayangan, terutama para dewa yang ‘bermukim’ di Kahyangan Suralaya, bahkan bertalian rapat dengan ‘tokoh’ mitos Nyi Roro Kidul, Penguasa Laut Selatan

Senopati Danang Sutawijaya peletak dasar-dasar dan pendiri dinasti Kesultanan Mataram diberitakan “berpacaran” dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Berikut cuplikan Babad Tanah Jawi (v Senopati) dalam tembang Kinanthi (10 dan 16):

(10).“wau ta Sang Senapati, kelawan sang narpaning dyah, tan kena pisah neng wuri, anglir mimi lan mintuna, nggennya mrih lunturireng sih.”
[Tersebutlah Sang Senopati, dan Sang Dewi (Ratu Kidul), tidak dapat dipisahkan, seperti Mimi dan Mintuno, mereka saling jatuh hati].

(16).Sinten ingkang mboten teluk, gung lelembut Nungsa Jawi, pra ratu wus teluk samya, mring Ratu Kidul sumiwi, ajrih asih kumawula, bulu bekti saben warsi.
[Siapa yang tidak tunduk, seluruh mahluk halus dan bangsa manusia di Jawa, para raja-raja sudah takluk semua, hanya kepada Ratu Kidul saja, mereka takut dan mengabdi, memberi pengabdian setiap tahun].

Sehingga dengan demikian buku Babad Tanah Jawi lebih sarat dengan dongeng daripada data kejadian, sehingga tidak bisa dibedakan lagi antara fakta dan fiksi.

Dalam masyarakat Jawa ada konsep pangiwå panengen untuk mencari legitimasi keturunan seseorang. Konsep panêngên, adalah keturunan yang berasal dari Nabi Adam ditarik ke bawah lewat para tokoh kenabian, Idris, Sits, Nuh, Sholeh, sampai Nabi Muhammad SAW turun temurun sampai para ulama. Sedangkan pangiwå, legitimasi garis keturunan yang tidak hanya menyangkut kepada para nabi, tapi juga tokoh-tokoh pewayangan, dari leluhur yang sama yaitu Nabi Adam, turun ke Sang Hyang Nur Rasa, Sang Hyang Nur Cahya, Batara Guru terus lewat para tokoh wayang, tokoh mitos Nyi Roro Kidul sampai ke raja-raja Jawa. Menyadari kentalnya campuran mitos dan pengkultusan, para ahli selalu menggunakannya dengan pendekatan kritis.

Babad Tanah Jawi ini punya banyak versi. Ahli sejarah purbakala Hoesein Djajadiningrat menyatakan bahwa kumpulan cerita babad Tanah Jawi ini diawali sejak tahun 1625. Menurutnya terdapat berbagai macam Babad Tanah Jawi yang ada, di antaranya adalah yang ditulis oleh Raden Ngabehi Yåsådipurå. Kemudian karya Pangeran Adilangu II, antara tahun 1689 hingga 1718.

Carik Bajra membuat ringkasan dari naskah yang sudah ada di awal abad 18 atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Carik Bajra inilah yang kemudian diedarkan untuk umum pada tahun 1788.

Perbedaan dari berbagi versi itu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, Perbedaan terletak pada penceritaan sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas, berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan. Sementara kelompok kedua dilengkapi dengan uraian panjang lebar.

Babad Tanah Jawi telah menyedot perhatian banyak ahli sejarah. Antara lain ahli sejarah HJ de Graff. Menurutnya apa yang tertulis di Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai zaman Kartasura di abad 18.

Demikian juga dengan peristiwa sejak tahun 1580 yang mengulas tentang kerajaan Pajang. Namun, untuk cerita selepas era itu, de Graaf tidak berani menyebutnya sebagai data sejarah, karena terlalu sarat campuran mitologi, kosmologi dan dongeng.

Selain Graaf, Meinsma berada di daftar peminat Babad Tanah Jawi. Bahkan pada 1874 ia menerbitkan versi prosa yang dikerjakan oleh Kertapraja. Meinsma mendasarkan karyanya pada babad yang ditulis Carik Bajra. Karya Meinsma ini lah yang banyak beredar hingga kini.

J.J. Meinsma (1874) dalam edisi Sêrat Babad Tanah Djawi wiwit sangking Nabi Adam dumugi ing Taun 1674 menunjukkan bahwa informasi mengenai pengarang (Carik Bajra) tertutupi oleh informasi politik dalam sejarah Jawa.

Hoesein Djajadiningrat (1983) memberi informasi bahwa ada sekian tambahan teks dalam redaksi dan penggubahan oleh Carik Bajra. Babad Tanah Jawi menjadi akumulasi dari sekian babad tua dengan muatan sejarah Jawa sampai pada masa pemerintahan Amangkurat IV (1719-1726).

Publikasi Babad Tanah Jawi muncul dalam pelbagai edisi dan versi. Raden Panji Joyosubroto pada tahun 1917 mengeluarkan Babad Tanah Jawi dengan aksara Jawa dalam 4 jilid.

Menjelang Perang Dunia II Balai Pustaka menerbitkan edisi Babad Tanah Jawi susunan Raden Ngabehi Yåsådipurå dengan aksara Jawa dalam 31 jilid selama 1934-1941 dalam bentuk aslinya. Asli sesungguhnya karena dalam bentuk tembang dan tulisan Jawa. Demikian juga halnya dengan Babad Tanah Jawi versi Pakubuwana VI.

Tulisan “terbaru” Babad Tanah Jawi dilakukan oleh W.L. Olthof tahun 1941, yang dialihbahasakan ke bahasa “aseli” oleh H.R. Sumarsono. Edisi W.L. Olthof, dengan judul Babad Tanah Djawi saking Nabi Adam doemoegi ing Taoen 1647 di Leiden (Belanda) pada tahun 1936.

Babad Tanah Jawi yang disusun oleh W.L Olthof tahun 1941 ini, isinya adalah babad para raja tanah Jawa, mulai dari Nabi Adam, hingga tahun 1647. Di buku inilah salah satu dari sekian banyak versi Babad Tanah Jawi yang menceritakan tokoh-tokoh “hebat dan sêkti” seperti Prabu Watu Gunung dari Negeri Giling Wesi, Siyung Wanara, Bidadari Nawang Wulan, Ki Ageng Selo si penangkap petir, dan lain-lainnya. Dengan penulisan yang naratif. Edisi Olthof ini hadir dalam terjemahan bahasa Indonesia dengan judul Babad Tanah Jawi Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 pada tahun 2007.

Penerbitan Babad Tanah Jawi dalam versi ringkas dilakukan oleh Sugiarta Sriwibawa dengan judul Babad Tanah Jawa dalam 2 jilid (1976 dan 1977) memakai bahasa Jawa. Ikhtiar ambisius untuk penerbitan dalam edisi bahasa Indonesia dilakukan oleh tim penerjemah dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (Amir Rochkyatmo, Sri Soekesi, Adiwinamarta, Sri Timur Suratman, Parwatri Wahjono) dengan prakarsa Siti Joya Fatmi Gunaevi dan sponsor dari Amanah Lontar. Tim itu mengeluarkan edisi Babad Tanah Jawi: Mitologi, Legenda, Folklor, dan Kisah Raja-Raja Jawa (2004) dalam 6 jilid setebal lebih dari 1500 halaman. Seri terbitan itu memakai bentuk prosa untuk membuat terobosan pada publik pembaca biar tidak repot membaca dan memahaminya. Peran Sapardi Djoko Damono sebagai editor membuat hasil terjemahan itu memiliki tingkat keterbacaan dan mutu literer.

Ide untuk penerbitan Babad Tanah Jawi itu berasal dari Siti Joya Fatmi Gunaevy Djajasasmita yang menginginkan ada terjemahan atas 31 jilid Babad Tanah Jawi susunan Raden Ngabehi Yåsådipurå. Ide itu direalisasikan dengan mengundang tim penerjemah untuk mengusahakan Babad Tanah Jawi dari bentuk puisi (berbahasa Jawa) menjadi bentuk prosa dalam bahasa Indonesia. Proyek besar itu menunjukkan dedikasi atas kepustakaan Jawa untuk publik Indonesia.

Babad Tanah Jawi merupakan jejak besar dalam membaca (sejarah) Jawa. Kehadiran Babad Tanah Jawi dalam pelbagai edisi dan versi memberi pilihan subjektif-objektif pada pembaca ketika memiliki minat untuk membaca Jawa dalam tendensi filologi, sastra, dan sejarah.

Rujukan koleksi Babad Tanah Jawi ada di Keraton Surakarta, Museum Sana Budaya (Yogyakarta), Perpustakaan Nasional RI, Universitas Leiden (Belanda), dan Fakultas Ilmu-Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Sumber tulisan:

1. _____________ Babad Tanah Djawi versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana (1925);
2. Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu;
3. Bandung Mawardi Telusur Babad Tanah Jawi, Suara Merdeka 17 Mei 2009;
4. Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu;
5. M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nuwun. Sugêng makaryå

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:30  Comments (8)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-sundss/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. jejak si GundUL ning tlatah lendhuT benter….!!

    • berHASIL….balek laGI sambel nGEMBOL
      buntelan rontal, matur nuwun

  2. malem2 ki GundUL mencari JEJAK keberaDAan
    rontal ning tlatah ki Gembleh.

  3. Alhamdulillah gerbong bisa dtemukan. ternyata rontal dislempitke neng ngisor jok.

  4. Lha Buto Elek niku nopo PT. Lapindo Perkasa nggih Ki?

  5. matur suwun rontal 102 nya pak satpam

  6. Laporrrr om Bayuaji :

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-20] di commentSUNdSS rontal ke-05.

    Pemerian tafsir “kebenaran” kesejarahan, lanjutan dongeng:

    WAMCA RAJASA SANG GIRINDRANATHA DAN TAFSIR SEJARAHNYA

    nahhh kok dongeng kaping 19 ga ada ? dari 18 lompat ke 20, atau ditaruh di mana gitu ?

    hi hi trims yeee 😛
    Dewi

  7. Kangen….Ki Bayuaji…bahkan Ki Punakawan Bayuaji…..mendongeng Antropologi & Arkeologi……sungguh mencerdaskan bangsa….kami setia menanti….toetoegnya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: