Seri Kerajaan Singosari-SUNdSS

Nuwun, cantrik bayuaji sowan:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010.
[dongeng kaping-24; Rontal SUNdSS 17]

Suryå mlêthèk ing bang-bang wétan, kalanipun jago sami kluruk, mêrtandhani énjang wiwit malih. Sumonggo pårå kadang, samyå nênuwun dumatêng Gusti Kang Akaryå jagad:
“Mugi mugi ing dintên sapunikå langkung saé tinimbang dintên ingkang sampun kapêngkêr, lan mugi-mugi dintên mbénjang sagêda langkung saé tinimbang dintên sapunikå.”

Sumonggo dongéng punikå kalajêngakên malíh. Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Budå Kliwon, Wuku Galungan 1932Ç; 12 Mei 2010M; 28 Jumadil Awal 1943 – Dal; 28 Jumadil Ula 1431H .

Rånggåwuni Syri Wisynuwardhana Sêminingrat jumênêng Nåtå nganti nakdhéréké Anggåbåyå Bathårå Nåråsinghå

Dalam sejarah dicatat keturunan Ken Dedes dari benih Tunggul Ametung jauh sampai ke cucu-cicitnya. Juga dari benih Ken Angrok, Ken Dedes memberikan putra-putrinya, cucu dan keturunannya. Ranggawuni anak Anusapati yang berarti cucu Tunggul Ametung dan Ken Dedes, dinobatkan sebagai raja, dengan abhiseka Bhatara Wisnuwardhana, bergelar Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana.

Prasasti Maribong (Trowulan II) di wilayah Jipang, angka tahun 1186Ç/1264M semula terbaca 1170Ç/1248M, menyebutkan bahwa nama abhiseka Baginda Wisnuwardhana adalah Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat, yang naik tahta pada tahun 1170Ç/1248M.

Prasasti yang sama menyebutkan bahwa Sang Prabu Seminingrat adalah cucu Bhatara Syiwa (Ken Arok) líneng dampa kanaka (yang wafat di tahta kencana), pendiri kerajaan yang sekarang diperintah oleh sang prabu. Ken Arok disebut sebagai swapitãmahã stawanã binaśrantalokapãlaka (yang “mententramkan dan mempersatukan dunia”.)

Saat Ranggawuni menjadi raja. Mahisa Campaka anak Mahisa Wonga Teleng cucu Ken Arok dan Ken Dedes, menjadi raja Anggabaya dengan gelar Bhatara Narasingha.

Keduanya memerintah Singosari yang besar. Keduanya mengakhiri konflik Singosari yang sepertinya tak pernah selesai. Pararaton menggambarkan kegembiraan Ken Dedes melihat cucu-cucu keturunannya yang diibaratkan dwi-tunggal mengakhiri pertikaian antar keluarga. Keduanya menyatukan keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Angrok.

Tidak ada keterangan yang pasti kapan Kembang Panawijen Kaki Gunung Kawi itu menutup ajal. Padahal dari rahim Ken Dedes Sang Ardanariswari inilah raja-raja besar Majapahit, dinasti Rajasa, termasuk Kertanegara, Hayam Wuruk, raja-raja Demak, Pajang, hingga Mataram Islam, berasal.

Berlandaskan uraian pemberian cerita Garudeyå pada Candi Kidal (simak kembali Dongeng Arkeologi & Antropologi, dongeng kaping-14 PdLS-73.) Digambarkan dalam bentuk relief pada sisi utara candi, relief ketiga yakni relief yang menggambarkan Sang Garudeya dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan membebaskan dari perbudakan.

Relief ini ingin menceritakan bahwa Anusapati yang digambarkan sebagai Sang Garudeya sedang mengendong ibunya, tiada lain bermaksud Anusapati meruwat ibunya, Ken Dedes yang cantik jelita namun nestapa selama hidupnya. Anusapati sangat berbakti dan mencintai ibunya. Dia ingin ibunya menjadi suci kembali sebagai wanita utama dan sempurna lepas dari penderitaan serta nestapa. Sehingga Anusapati mendapat julukan “Sang Garuda Yang Berbakti.”

Dengan demikian dapat diduga Ken Dedes wafat pada masa pemerintahan Anusapati, bukan pada masa pemerintahan kedua cucunya.

Pararaton mengabarkan pengangkatan Ranggawuni dan Mahisa Campaka menjadi penguasa kerajaan:

Tumuli sira Ranggawuni angadeg ratu, kadi nagha roro saleng. Lawan sira mahisa Campaka, sira Ranggawuni, abhiseka Bhatara Wisnu Wardhana karatun ira. Sira Mahisa Campaka dadi ratu Angabhaya, abhiseka Bhatara Narasingha. Atyanta patut ira tan hana wiwal.”

[Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan seperti sepasang ular naga di satu sarang.
Ranggawuni bernama nobatan Wisnuwardana, demikanlah namanya sebagai raja, Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya, bernama nobatan Batara Narasinga. Sangat rukunlah mereka, tak pernah berpisah.]

Nagarakretagama menceritakan:

Bhatara wisnuwarddhana kateka putra nira sang gumanti siniwi,
Bhatara narasingha rowang ira tulya madhawa sahagrajamagehi rat
.”

[Batara Wisnuwardana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, beserta Narasinga, beliau berdua bagaikan Madawa dan Indra di dalam memerintah negara.]

Nagarakretagama tidak menyebutkan siapa nama asli Wisnuwardhana. Nama Ranggawuni sendiri tidak pernah dijumpai dalam prasasti apa pun sehingga diduga oleh para ahli sejarah merupakan nama ciptaan penulis Pararaton.

Sebuah prasasti yang terbuat dari tembaga yang kini tersimpan di musium Frankfurt am Main Jerman, menerangkan Bhattãra Jaya Srí Wisnuwarddhana bersama Bhatãra ring Singhanãgara, memerintah Singosari.

Babad Tanah Jawi menulis:

Rånggåwuni jumênêng Nåtå ajêjuluk Syri Wisynuwardhana nganti nakdhéréké Nåråsingå. Nganti têkan ing sédå priyagung loro mau rukun banget, nganti dibasakaké: Kåyå Wisynu lan kâng råkå Bathårå Éndrå. Kâratoné mundhak gêdhé pulih kåyå dhék jamané Prabu Érlangga, malah jajahané wuwuh Mâdurå.”

Prasasti Mula Malurung mencatat:

Sepeninggal sang prabu Tohjaya, Nararyya Seminingrat naik tahta berkat dukungan semua para pembesar, terutama dukungan Sang Pamegat ing Ranu Kebayan Sang Apanji Patipati. Berkat dukungan itu, pulihlah kembali kerajaan Tumapel. …...”

Agak berbeda pemberitaan antara Prasasti Mula Malurung dan Pararaton atau Negarakretagama. Tidak heran, karena Prasasti Mula Malurung lebih menekankan kepada pemberian anugerah berupa piagam pengesahan atas desa Mula dan Malurung menjadi sima (daerah perdikan) kepada Pranaraja.

Tidak disebutkan dengan jelas siapa tokoh Pranaraja ini; hanya disebutkan bahwa beliau dan keturunan-keturunannya yang telah berjasa pada raja.
Apakah dia Mapasanggahan Sang Pranaraja Rakryanmantri yang bernama Empu Sina?

Seperti sudah dijelaskan pada Dongeng Arkeologi & Antropologi, dongeng kaping-22 di SUNdSS-11, Pranaraja adalah suatu gelar jabatan setara dengan hulubalang atau panglima tentara, bukan nama orang.

Di dalam prasasti Piagam Mula Malurung dikeluarkan pada tahun 1177Ç/125 nama Wisnuwardhana tidak pernah disebut, beliau disebutkan dengan nama Narãryya Semining Rat (Semi Ning Rat, atau Seminingrat) atau Semining Rat Jagannatha yang beristrikan Narãryya Waning Hyun, putri pamannya yaitu Bhatara Parameswara (Mahisa Wonga Teleng.)

Pararaton menyebutkan Mahisa Wonga Teleng adalah ayah dari Mahisa Campaka alias Narasinghamurti. Menurut Nagarakretagama, Narasingamurti memiliki putra bernama Lembu Tal, yang kemudian menjadi ayah dari Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit.

Apabila Bhatara Parameswara benar-benar identik dengan Mahisa Wonga Teleng, maka dapat disimpulkan kalau Waning Hyun adalah saudara perempuan Narasinghamurti. Dengan demikian, hubungan antara Narasinghamurti dengan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar.

Prasasti Wurara yang berangka tahun 1211Ç/1289M menyebutkan bahwa istri Wisnuwardhana adalah Jayawarddhanibarrya (Jayawarddhani), maka dapat dipastikan bahwa Narãryya Waning Hyun identik dengan Jayawardhani.

Berkat dukungan Sang Apanji Patipati, Wisnuwardhana Nararyya Semining Rat berhasil menyatukan kembali kerajaan Singosari yang diwarisinya dari Anusapati dan kerajaan Kadiri yang diwarisinya melalui pernikahannya dengan Putri Waning Hyun dari Bhatara Parameswara.

Sebuah penjelasan yang sangat menarik mengenai penobatan Narãryya Seminingrat kita dapati pula pada Prasasti Mula Malurung ini. Keterangan itu menyebutkan bahwa sepeninggal Narãryya Tohjaya, semua pejabat kerajaan dengan dipimpin oleh Sang Pamegat ring Ranu Kabayan Sang Arya Apanji Patipati Empu Kapat. Panji Patipati Empu Kapat ini yang menyelamatkan hidup mereka dari ancaman Panji Tohjaya diangkat sebagai dharmadikarana (hakim tertinggi) seperti terbukti dalam serat Kekancingan Gunung Wilis tahun saka 1191; dengan jabatan barunya itu, menobatkan Narãryya Semining Rat sebagai raja Tumapel. “(nararyya smining rat ta pinasangaken prajapatya). “

Penjelasan ini menimbulkan kesan tentang tidak adanya calon raja yang sah yang duduk di tahta kerajaan, atau menunjukkan bahwa terdapat beberapa orang yang tidak berhak, tetapi mereka berusaha untuk dapat menduduki tahta kerajaan.

Dari Pararaton diketahui bahwa pada awal kerajaan Singosari tiga raja berturut-turut memerintah menggantikan yang lainnya dengan cara pembunuhan. Ketiga raja tersebut adalah Tunggul Ametung, mati dibunuh Ken Angrok yang menggantikannya menjadi raja. kemudian Ken Arok pun dibunuh oleh Anusapati melalui tangan seorang pangalasan dari batil. Akhirnya Tohjaya anak Angrok dari Ken Umang berhasil membunuh Anusapati, dan menggantikannya menjadi raja. Tohjaya pun mati terbunuh juga.

Berita tentang peristiwa saling membunuh di antara raja-raja Singosari dalam Prasasti Mula Malurung disebut dengan istilah lína. Ken Arok, kakek Narãryya Seminingrat pendiri kerajaan Singosari yang meninggal di tahta kencana disebut sang líneng dampa kanaka. Bhatara Parameswara (Mahisa Wonga Teleng), ayah Waning Hyun, ayah mertua, juga paman Narãryya Seminingrat meninggal di Kebon Agung disebut sang líneng kubwan agêng, dan lína pwa pamanira.

Sebuah prasasti terbuat dari tembaga ditemukan di daerah Pakis Wetan Kedu, berangka tahun 1189Ç/1267M. Prasasti ini dikeluarkan oleh raja Kêrtanãgara makamañglaya Paduka Bhatara Jaya Sri Wisnuwarddhana.

Istilah makamañglaya , mengandung maksud “di bawah pengawasan” atau “dengan bimbingan”, bermakna bahwa raja yang mengeluarkan prasasti itu “diperintah” oleh raja sebelumnya (biasanya ayah atau ibunya), dan pada waktu prassati itu diterbitkan, ayah atau ibu yang menjadi raja sebelumnya itu masih hidup.

Sangat disayangkan prasasti Pakis Wetan ini hanya ditemukan sebagian lempengan permulaannya saja, sehingga tidak dapat diketahui dengan pasti isi lengkapnya.

Bahwa raja Kêrtanãgara sudah disebutkan sebagai raja dalam Prasasti Pakis Wetan, dapatlah dijelaskan dengan mengacu pada Kakawin Nagarakretagama, yang menyatakan bahwa Paduka Bhatara Jaya Sri Wisnuwarddhana telah menobatkan putranya menjadi raja pada tahun i saka rasaparwwatenduma (1176Ç/1254M), tetapi beberapa ahli sejarah menyatakan agaknya Baginda Bhatara Jaya Sri Wisnuwarddhana mengangkat putranya hanya menjadi yuwaraja atau kumararaja, yaitu rajamuda di Daha.

Berita dalam Nagarakretagama bahwa Kertanagara naik takhta tahun 1176Ç/1254M terbukti keliru, karena dalam prasasti Mula Malurung pada tahun 1177Ç/1255M. Kertanagara masih menjabat sebagai raja muda di Kadiri, sementara Tumapel atau Singosari tetap dipimpin Wisnuwardhana. Mungkin yang dimaksud Kertanagara naik tahta tahun 1254 adalah sebagai yuwaraja, bukan sebagai maharaja.

Pengangkatan ini diduga karena pengaruh yang begitu kuat dalam pemerintahan dari ibunda Kêrtanãgara, yakni Jayawarddhaniatau Nararyya Jayawarddhani atau Nararyya Waning Hyun, juga karena kedudukan dan asal-usulnya sebagai pewaris kerajaan Kadiri dari Bhatara Parameswara.

Pada Prasasti Mula Malurung (Lempengan VIIA dan B), disebutkan bahwa keturunan Ken Arok anak Wisnuwarddhana yang bernama Nararyya Murddhaya (nama lain Kêrtanãgara) dirajakan di Daha, dan menguasai seluruh wilayah Kadiri.

Menurut prasasti Mula Malurung, demikian juga yang diuraikan dalam Prasasti Mahaksobhya (diterbitkan prabu Kêrtanãgara pada tahun 1211Ç/1289M), sepeninggal Raja Tohjaya terjadi penyatuan Janggala dan Panjalu oleh Raja Wisnuwardhana. Berita ini tidak pernah disinggung dalam Pararaton ataupun Nagarakretagama. Dapat diduga sepeninggal Ken Arok terjadi perpecahan yang menyebabkan Kadiri memisahkan diri dari Tumapel.

Mengapa pewaris kerajaan Kadiri adalah Seminingrat dan bukan Mahisa Campaka, Ada kemungkinan bahwa Waning Hyun lahir dari garwâ padmi (permaisuri) sedangkan Mahisa Campaka lahir dari garwâ ampil /ampéyan (selir), itulah sebabnya maka Prasasti Mula Malurung menekankan pernikahan antara Nararyya Waning Hyun dan Seminingrat.

Setelah ‘gonjang-ganjing’ selama 32 tahun, sejak terbunuhnya Tunggul Ametung di tahun 1222, hingga terbunuhnya Tohjaya di tahun 1250. Singosari yang kisruh, naiknya seorang raja selalu diawali dengan terbunuhnya raja terdahulu. Singosari tidak pernah tenang, dendam, pertikaian demi pertikaian selalu mengguncang tahta Singosari di tahun -tahun itu. Tetapi sejak naiknya cucu Ken Dedes di tahta kencana Singosari, Singosari diberitakan aman, damai, dan tenteram. Ternyata tidak!

Tidak?!

Ada sekelompok “teroris” yang menginginkan agar Singosari kacau balau. Ketenangan dan ketentraman Singosari tidak boleh terjadi. Singosari sengaja dibuat kisruh oleh sekelompok orang yang tidak menyukai sepasang ular naga di satu sarang itu. Orang-orang yang masih menyimpan dendam lama.

Di antara keluarga raja Kadiri ada yang tidak suka terhadap Ranggawuni, mereka keberatan terhadap penyatuan Kadiri dan Tumapel di bawah pemerintahan någhå roro saléng itu.
Prasasti Mula Malurung Lempengan X A dan XI A (?) menyatakan secara tersamar atas ketidak-senangan penyatuan kedua kerajaan itu dengan kalimat:

Sungguh takutlah para pengikut Sri Maharaja Lingga Chaya kepada Paduka para Prabu semuanya. Takutnya sama seperti rama Sri Maharaja Lingga Chaya kepada Paduka Sri Maharaja Jagannatha.”

Siapa Sri Maharaja Lingga Chaya? Diakah orang yang disebut oleh Empu Parapanca dalam Nagarakretagama sebagai seorang perusuh? Penulis Pararaton menyebutkan adanya seseorang yang namanya mirip yaitu Sang Lingganing Pati, kemudian disebut pula nama Mahisa Bungalan. Pararaton menyebut suatu daerah yang bernama Mahibit dan Canggu (atau Cangu?)

Di mana letak Mahibit dan Canggu itu? Siapa Sang Lingganing Pati itu dan siapa pula Mahisa Bungalan itu?

ånå candhaké

Sugêng énjang pårå kadang, sugêng ngêmban kajibahan luhur, ngupadi kasampurnaning gêsang.

Nuwun.

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:30  Comments (8)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-sundss/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. jejak si GundUL ning tlatah lendhuT benter….!!

    • berHASIL….balek laGI sambel nGEMBOL
      buntelan rontal, matur nuwun

  2. malem2 ki GundUL mencari JEJAK keberaDAan
    rontal ning tlatah ki Gembleh.

  3. Alhamdulillah gerbong bisa dtemukan. ternyata rontal dislempitke neng ngisor jok.

  4. Lha Buto Elek niku nopo PT. Lapindo Perkasa nggih Ki?

  5. matur suwun rontal 102 nya pak satpam

  6. Laporrrr om Bayuaji :

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-20] di commentSUNdSS rontal ke-05.

    Pemerian tafsir “kebenaran” kesejarahan, lanjutan dongeng:

    WAMCA RAJASA SANG GIRINDRANATHA DAN TAFSIR SEJARAHNYA

    nahhh kok dongeng kaping 19 ga ada ? dari 18 lompat ke 20, atau ditaruh di mana gitu ?

    hi hi trims yeee 😛
    Dewi

  7. Kangen….Ki Bayuaji…bahkan Ki Punakawan Bayuaji…..mendongeng Antropologi & Arkeologi……sungguh mencerdaskan bangsa….kami setia menanti….toetoegnya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: