Seri Kerajaan Singosari-SUNdSS

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Om Swastyastu,

Nama tassa bhagavato arahato samma-sambuddhassa,

Awignam astu namassidêm (Mugi linupútnå ing rêridhu).

Pårå kadang padépokan,

Nuwun

Agak lama cantrik Bayuaji tidak sowan, satu dan lain hal cantrik Bayuaji tengah ber’samadhi’ di suatu tempat, tapi hal itu sudah berlalu. Atas izin Allah SWT, cantrik Bayuaji masih diberi kesempatan untuk menikmati ‘istirah’, dan atas izin Allah Sang Maha Pemilik Kehidupan, masa-masa ‘bertapa’ telah paripurna, pikantuk Sih Kanugrahaning Gusti kang Måhå Wikan, rahayu kang jinangkå, kasêmbadan sasêdyané hamungkasi, hayu nir sambékålå.

Adalah rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Maha Pencipta.

Dumatêng pårå kadang sêdåyå, utaminipun Ki Seno såhå Ki Gembleh (On 19 Mei 2010 at 20:45 gembleh Said: dan On 19 Mei 2010 at 22:10 gembleh Said), matur gunging panuwun atas doanya, dan matur nuwun juga kawigatosanipun.

Khusus dumatêng Ki Mahesa Arema, cantrik Bayuaji ikut bergembira untuk perhelatan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Semoga Allah meridhai acara perhelatan itu dalam limpahan Kasih SayangNya yang tak terhingga.

Sungguh berbahagia sekali lho Ki, apalagi nanti kalau sudah saatnya tiba, dapet momong putu, he he he… Setiap hari gojégan sama putu.

Alhamdulillah, sampai saat ini, Allah memberi karunia momongan dua cucu yang imut-imut manis dan cakep kepada cantrik Bayuaji.

Sekali lagi selamat. Ulemannya cantrik tunggu.

Pårå kadang padépokan,

Keparéng cantrik Bayuaji, marak paséban, unjuk atur:
Cantrik Bayuaji ingin menyatakan bahwa di masa “reses” penulisan dongeng seolah terhenti.

Sebenarnya tidak, ini hanya masalah pembacaan rontal kidung Pararaton yang sejak mulai diberitakan wafatnya “Sang Ardanariswari, karma amamadhangi” Kuntum Bunga dari Kaki Gunung Kawi nDedes, maka “cerita” SUNdSS pada beberapa jilid merupakan lakon carangan yang “keluar” dari pakem. Sang Begawan SH Mintardja telah begitu lihai meracik lakon demi lakon ‘mbanyu mili berkesinambungan, yang seolah tak pernah tamat.

Pararaton, Nagarakretagama dan Prasasti Mula Malurung, serta naskah sejarah lainnya tidak mengabarkan secara rinci ‘kejadian-kejadian’ semasa pemerintahan Ranggawuni dan Mahisa Campaka, karena menurut kedua rontal itu dan dari peninggalan sejarah yang ditemukan, sejak Ranggawuni Wisnuwardhana naik tahta dengan pendamping Mahisa Campaka Ratu Anggabaya Batara Narasingha, hingga masa pemerintahan Kertanegara, Singosari “aman terkendali”. Adapun munculnya kisruh “golongan ilmu hitam” tidak pernah diberitakan. Meskipun Pararaton dan Nagarakretagama menyinggung sedikit tentang kekisruhan itu, tetapi ini hanya riak kecil di permukaan saja, dan tidak sampai menggoncang tahta sepasang ulang naga di satu sarang itu.

Bukankah sejak Raggawuni naik tahta hingga masa Kertanagara, Singosari adalah negara yang gemah ripah loh jinawi. Justru di masa pemerintahan någhå roro salèng itu Bhumi Tumapel yang subur menggeliat, para warganya mentaati anggêr-anggêr lan pranatan pråjå termasuk membayar pajak. Hasil bumi, hingga hasil hutan, juga gading dan cula badak, diburu para vaniyaga dari negeri jauh (Cina; ingat Jalur Sutra).

Kali Bengawan yang aliran derasnya dipecah dalam kanal-kanal yang bermuara di laut Jawa telah lama sekali dilalui perahu-perahu para pedagang yang pergi ke Ujung Galuh (muara Kali Mas, disebut juga Churabaya. Boleh jadi sekarang adalah Tanjung Perak Surabaya). Hal ini yang tidak disinggung oleh Ki SHM dalam SUNdSSnya.

Pada masa-masa itulah Singosari mengalami Masa Keemasan. Bahkan Prabu Kertanegaralah pencetus ide cakrawala mandala nusantara. Walau tujuannya adalah untuk membendung pengaruh Kubilai Khan ke wilayah timur, namun konsep tersebut justru menjadi inspirasi bagi Sumpah Palapa Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada dan dewasa ini menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun sayang justru pada masa Kretanagara pula Singosari runtuh.

Insya Allah. Pada saatnya cantrik Bayuaji akan mendongeng tentang ini.

Pårå kadang,

Bulan Februari 2010M yang baru lalu bertepatan dengan bulan Rabiulawal 1431H. Ketika bulan Rabiulawal tiba, ingatan kita tertuju kepada sosok manusia agung, manusia pilihan Tuhan, penuntun umat manusia dari alam kegelapan menuju alam bercahaya terang benderang. Rasulullah Muhammad SAW.

Hari itu adalah hari istimewa, tanggal 12 Rabiulawal adalah hari bersejarah, karena pada hari itulah Manusia Agung nan Mulia Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan ke dunia, Rasul rahmatan lil ‘aalamiin, pembawa rahmat bagi seluruh alam. mengasihi seluruh alam, dan menyempurnakan akhlak yang mulia.

Hari itu juga hari istimewa karena pada tanggal 12 Rabiulawal tahun ketigabelas kerasulan. Rasulullah, dan sahabat-sahabatnya tiba di Madinah al Munawwarah yang pada ketika itu disebut Yatsrib. Hijrah. Sebagai sejarah tonggak awal kebangkitan Islam.

Dan pada tanggal 12 Rabiulawal itu pula Nabi Muhammad SAW wafat, setelah merampungkan tugas suci beliau.

Inti dari perayaan Maulid Nabi bukan hanya kegembiraan atas kehadiran beliau dalam sejarah, tapi yang lebih penting dari semua itu adalah meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau.

Keteladan beliau, seperti pembelaan atas kaum lemah dan papa, pembebasan kaum tertindas, dan penegakan keadilan.

Peringatan Maulid Rasulullah Muhammad SAW kita jadikan ajang introspeksi, bukan ajang menghibur diri. Kita introspeksi apa yang salah dengan sikap dan perilaku kita yang tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan Nabi Muhammad. Inilah makna hakiki dari Maulid Nabi Muhammad. Bukankah Rasulullah SAW adalah suri teladan yang baik?

Firman Allah SWT:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, ….. ” [QS. Al Ahzab (33):21]

Pårå kadang,

Tak lama sesudah peringatan hari istimewa itu, menjelang pertengahan bulan Mei ini, saudara-saudaraku umat Hindu Dharma memperingati Hari Raya Galungan. Hari yang merupakan peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma melawan adharma.

Umat Hindu melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widi dan Dewa/Bhatara dengan segala manifestasinya sebagai tanda puji syukur atas rahmat Yang Maha Agung serta untuk keselamatan selanjutnya. Kemudian menyusul Hari Raya Kuningan. Pada hari itu sesaji dan persembahan atas turunnya kembali Sang Hyang Widi disertai oleh Dewata atau Pitara, mohon keselamatan dunia dengan segala isinya.

Hampir bersamaan dengan itu, berdekatan dengan Hari Raya Galungan, saudara-saudaraku umat Kritiani memperingati Hari Kenaikan Yesus. Memperingatinya berarti mengingatkan manusia pada kematian. Dengan memaknai kenaikannya, implikasinya adalah bahwa manusia wajib mengimani eksistensi dan kehidupan roh, kehidupan abadi.
Manusia tak boleh terbelenggu oleh kehidupan yang fana, menjadi budak kekuasaan, harta dan kesenangan duniawi yang sifatnya sementara ini.

Memperingatinya berarti meneladaninya. Teladan yang semasa hidupnya memberi contoh sebagai raja sekaligus hamba yang melayani, bertanggung jawab, penuh cinta kasih, anti kekerasan dan tak segan berkorban.

Kemudian tidak lama lagi tibalah Hari Tri Suci Waisak, peringatan yang dirayakan oleh saudara-saudaraku umat Budha, sebagai hari Buddha pada akhir bulan Mei ini, Hari Tri Suci Waisak merupakan hari kelahiran, hari mencapai penerangan sempurna dan hari parinibbana Sang Buddha, yang terjadi tepat pada malam Purnama Siddhi (menjelang akhir Mei). Ketiga peristiwa tersebut terjadi pada hari yang sama.

Dengan peringatan Hari Tri Suci Waisak diharapkan umat meningkatkan keyakinan dan ketaqwaan dengan kedewasaan dan kebersihan batin dari lobha, dosa, moha, sifat-sifat egoistis, dan kekotoran batin lainnya yang selalu menimbulkan perpecahan, permusuhan, perkelahian, pembunuhan dan perilaku menyimpang lainnya. Kekotoran batin semacam inilah yang harus kita hapus dari dalam batin kita masing-masing, sebagai bekal hidup menuju perdamaian, kerukunan, ketentraman dan kesejahteraan lahir batin.

Pada hari-hari yang cantrik Bayuaji sebutkan di atas, sebagai umat yang meyakini kebenaran ajaran agamanya. Umat manusia, siapapun dia. Hendaknya kembali memaknainya, menghayati kebenaran ajaran agamanya masing-masing dengan penuh keyakinan, umat berkumpul untuk menunjukkan penghormatan, perenungan diri, muhasabah (instropeksi, evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini,

Pårå kadang padépokan,

Cantrik Bayuaji ‘ujug-ujug’ koq menulis tentang peringatan Maulid Rasulullah SAW, kemudian Hari Raya Galungan, lalu Hari Kenaikan Yesus trus Hari Waisak.

Ups, hampir terlewatkan, ada satu tanggal lagi yang tidak boleh kita lupa, tanggal 20 Mei 1908 adalah berdirinya Budi Utomo, suatu organisasi anak bangsa pribumi aseli yang berlandaskan nasionalisme, yang menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Lalu apa hubungannya dengan dongeng arkeologi & antropologi di padépokan ini. Apa maksuddé ?.

Sebelum tiba pada episode selanjutnya dari DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI, berikut ini cantrik Bayuaji, mengajak pårå kadang padépokan yang mau dan peduli, untuk sejenak pada:

sebuah renungan

Pårå kadang padépokan,

Setelah membaca rontal Kidung Pararaton tentang carut-marut dan kudeta yang anehnya selalu berdarah di tlatah Singosari abad 13 silam; kemudian berturut-turut menyimak “rontal-rontal” masa kini, cantrik Bayuaji merenung, selalu beginikah perjalanan sejarah bangsaku, hingga hari ini?

Seprånå sapréne’, nêgari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal berupa kidung, babad, pujasastra, atau tamra prasasti.

Dan juga di abad 21 ini seperti yang sering kita baca di “rontal-rontal” modern yang hampir seluruh halamannya sarat dengan tulisan udreg-udregan, adu kekuatan, pamer kekuasaan.

Kita saksikan di televisi (di zamannya Ken Dedes, barang ini belum ada); setiap hari, kita “dipaksa” menonton acara tayangan pertengkaran, maki-maki, pengrusakan dan pembakaran fasilitas umum, perkelahian antar kampung, antar gang (maksudnya jalan kecil, tapi boleh juga disebut gank), saling bunuh, laku dan tindak anarkis. Pemaksaan kehendak.

Hampir di setiap daerah, saat pemilihan kepala daerah selalu diwarnai dengan pertengkaran, permusuhan antar kubu. Kubu yang kalah tidak mau menerima kekalahannya, dan kubu yang menang, dalam suasana euforia yang berlebihan, merasa kubunyalah yang paling berhak, paling dipercaya untuk mengatur segalanya di daerah.

Sering pula kita baca dan lihat bahwa ada golongan/partai/kelompok tertentu atau orang-perorang menyatakan bahwa dirinya, golongannya/partainya/kelompoknya adalah pihak yang paling benar, pihak yang paling berhak mengatur negeri {yang lainnya dianggapnya numpang (?)}.

Setiap perbedaan pendapat selalu diselesaikan dengan pertengkaran. Papua, mBah Priok, adalah contoh yang lain.

Tingkah laku para priyagung di gedung yang konon akan menyaingi Torre pendente di Pisa itu, tak kurang “mengerikan”.

Kosa kata “bang**at”, atau kata-kata lain yang tak senonoh, begitu mudahnya kita dengar, yang seharusnya tidak pantas diucapkan oleh penyandang sebutan yang terhormat itu. Kita juga pernah nonton tayangan “olahraga tinju kelas bebas”, dari priyagung-priyagung di sela-sela sidang.

Acara debat di layar kaca pun sering berebut kebenaran, hilang sudah unggah-ungguh, trapsilå subå sitå, sopan santun,…………………… daftar ini masih dapat ditambah dan diperpanjang…………….

Belum lagi tayangan “sinetron” perkosaan, pembunuhan, mutilasi, pergaulan bebas, narkoba, penggusuran, perkelahian antar kampung/suku/golongan, bahkan pertikaian separtai pun pernah kita saksikan. Sekelompok orang merasa paling berhak memakai lambang partai X. Kelompok yang lain seolah tidak mau kalah, mereka membuat partai X tandingan.

Alampun ikut “menangis”. Tanah longsor, gempa bumi, banjir di belahan bumi sini, tetapi di sisi lain tanah telah lama gersang, kering kerontang tak pernah disentuh hujan, bumi tak lagi ramah memberikan hasilnya pada manusia, dan tayangan “telenovela” ini tak pernah absen dari layar kaca kita.

Pårå kadang padépokan,

Kita sering disebut sebagai bangsa yang religius. Yang konon menjunjung tinggi norma-norma agama. Agama apapun itu.

Namun, marilah kita tengok sisi lain untuk melihat kenyataan yang ironis dalam kehidupan bangsa yang religius itu. Semudah melihat maraknya kehidupan ritual keagamaan, dengan mudah pula kita bisa melihat banyak ajaran dan nilai-nilai mulia agama yang seolah-olah benda-benda asing yang tak begitu dikenal.

Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat orang-orang yang masih jujur menjadi terpinggirkan, kesepian dan rendah diri.

Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin dan panutan agung Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan terselubung dan ketamakan.

Disiplin yang dididik agama seperti adzan pada waktunya, shalat pada watunya, haji pada waktunya, dan sebagainya, tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan melecehkan waktu dalam kehidupan kaum beragama.

Plakat-plakat bertuliskan dengan jelas an-nazhaafatu minal iimaan terjemahan pun jelas “kebersihan adalah bagian dari iman”, diejek oleh kekumuhan, tumpukan sampah, dan kekotoran hati di mana-mana.

Kesungguhan yang diajarkan Al Qur’an dan dicontohkan Kanjeng Nabi, Rasulullah Muhammad SAW tidak juga mempengaruhi sifat dan tabiat malas dan suka mengambil jalan pintas.

Di atas, korupsi merajalela. Sementara di bawah, nyolong dan jambret merebak di mana-mana.

Jumlah orang miskin dan pengangguran seolah-olah berlomba dengan jumlah koruptor dan mereka yang naik haji setiap tahun.

Nasib hukum juga tidak kalah mengenaskan. Tak perlulah kita capek terus bicara soal mafia peradilan dan banyaknya vonis hukum yang melukai sanubari publik untuk membuktikan buruknya kondisi penegakan hukum negeri ini.

Penegak-penegak keadilan sering kali justru melecehkan keadilan. Penegak kebenaran justru sering kali berlaku tidak benar.

Maniak kekuasaan menghinggapi mereka yang pantas dan yang tidak pantas. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya.

Mereka yang merebut kekuasaan merasa itulah kebenaran dari Tuhan, merasa begitu dekat kepada Tuhan, merasa berhak mewakili Tuhan. Bahkan merasa diri mereka adalah Tuhan. naudzubillah summa naudzubillahimindzaliq
Astagfirullahalazim,
Astagfirullahalazim,
Astagfirullahalazim.

Tidak hanya sesama saudara sebangsa, tidak hanya sesama saudara seagama, bahkan sesama anggota organisasi tertentu yang satu, setiap hari tidak hanya berbeda pendapat, tapi juga bertikai, berebut kebenaran. Seolah-olah kebenaran hanya milik masing-masing. Pemutlakan kebenaran sendiri seolah-olah ingin melawan fitrah perbedaan.

Kekerasan dan kebencian, bahkan keganasan, seolah-olah menantang tugas Rasulullah SAW: rahmatan lil ‘aalamiin, mengasihi seluruh alam, dan menyempurnakan akhlak yang mulia.
Penghargaan kepada manusia yang dimuliakan Tuhan seperti sudah mulai sirna dari hati. Termasuk penghargaan kepada diri sendiri.

Tidakkah hal ini juga pernah terjadi di abad-abad silam, seperti dikabarkan oleh Pararaton, dan rontal-rontal sejarah lainnya.

Pårå kadang padépokan,

Justru di tengah-tengah keadaan yang seperti ini. Umat manusia, sesuai dan menurut ajaran agama yang diyakininya, maka peringatan-peringatan Hari Maulid Nabiullah Muhammad SAW, Hari Raya Galungan, Hari Kenaikan Yesus, dan Hari Tri Suci Waisak itu menjadikan hari bagi umat manusia menurut keyakinan agama yang dianutnya, mendapatkan prinsip ajaran yang bernilai sebagai cahaya yang menerangi umat manusia demi melihat kebenaran dari alam kehidupan, demi memberikan rahmat, manfaat dan kemaslahatan yang sebenarnya dan sebesar-besarnya bagi alam semesta.

Dan sebagai bangsa, peringatan Hari Kebangkitan Nasional pun, hendaknya membuat kita semakin mempererat persatuan. Kita adalah bangsa yang satu. Indonesia.

Pårå kadang padépokan,

Sejenak kita menerawang ke masa silam, untuk menjadikannya sebagai cermin di masa kini.

Sejarah Tumapel yang kemudian bernama Singosari selalu diwarnai dengan pertumpahan darah. Tikaman keris ampuh buatan Empu Gandring oleh Ken Angrok di abad ke 13 berulang dalam nuansa dendam maupun hukum karma.

Historie se repete, demikian pepatah Prancis, yang artinya sejarah selalu berulang.

Dalam ranah perpolitikan para penguasa negeri ini setelah berbentuk republik, tergambar jelas bagaimana penguasa pengganti “menikam” kepada penguasa sebelumnya dengan “tikaman keris politik.”

Apapun nama keris itu. Darah tertumpah di tahun 1965 hingga 1966. Sekian ratus ribu (sejuta, dua juta atau tiga juta?) nyawa hilang atau dihilangkan.

Tigapuluhdua tahun kemudian, menorehkan sejarah serupa. Penguasa selanjutnya terpaksa lengser dalam latar demo massif mahasiswa dan membawanya ke sudut fait accompli persis yang dialami penguasa terdahulu. Api berkobar di kota-kota besar dan kembali sekian nyawa direnggut paksa, api berkobar dalam dendam dan amarah; kembali darah tertumpah di bulan Mei tahun 1998.
Dan para penguasa negeri ini sesudahnya?

Identifikasi “keris politik” dengan Keris Mpu Gandring itu bukanlah fiksi melainkan analogi, pelukisan pengetahuan melalui perbandingan guna memetik kemiripan dan kesetaraannya. Dan kesetaraan tematiknya ialah keduanya mewujudkan wahana kepolitikan bagi gapaian kepentingan mahkota kerajawian. Buhul kecocokannya adalah unsur keterpaksaan dan keteraniayaan Mpu Gandring untuk keris pesanan Ken Angrok maupun penguasa terdahulu untuk “keris politik” (pesanan?) penguasa kemudian.

Hikmahnya adalah pembelajaran kebangsaan character building di mana antara tujuan dan cara pencapaiannya mesti konsisten dan runtut bermoral jangan asal sampai.

Pesan ini penting bagi kaum muda, bagai para pemimpin bangsa masa kini, bagi para pemimpin masa depan negeri ini, juga penting dicamkan dalam masa-masa ketika banyak tokoh di masa kini saling rebut kedudukan politik, Entah para calon anggota parlemen (caleg), para calon presiden, para calon wakil presiden serta sekian banyak pihak.

Haruskah akan selalu berulang “Pakuwon Tumapel” (baca: Republik Indonesia) selalu anyir becek darah yang tumpah.

Mari kita catat:

Sang Pandhita Budha Mahayana menjatuhkan, sepata samyå tan rahayu: “lah kang amalayoken anakingsun mogghå tan panutugå pamuktine matyå binahud angeris

yang melarikan anakku tidak akan selamanya mengenyam kenikmatan, ia mati ditusuk keris ……..

…. Mangkana wong Panawijen, hasata pangangsone. Moggha tan metuwa banyune beji iki

demikian juga orang orang di Panawijen ini, tempat mereka mengambil air akan menjadi kering, dan tak akan ada lagi air yang keluar dari blumbang ini…

Angrok anungklang duwung anyar bergagang cangkring wilahan berbintik kuning pamor biru di atas baja pilih tanding.

Kutuk Sang Gusali Gandring dalam dendam amarah yang tertahan: “Kang amaten i ring sirå tembe kris iku, ….. oleh ratu pipitu tembe kris iku amaten i.”

….Kutuk keris itu meminta kematian demi kematian, ……darah tujuh raja para penguasa.”

Siapa yang tewas akibat tusukan keris Gandring?
1. Empu Gandring (si pembuat keris, bukan raja/ratu)
2.Tunggul Ametung
3. Kebo Idjo (perwira pasukan pengawal puri Tumapel, bukan raja/ratu)
4. Ken Angrok
5. Pangalasan Batil (abdi dalem, bukan raja/ratu)
6. Anusapati

Tohjaya mati ditusuk tombak pengusung tandunya di Katanglumbang, ketika melarikan diri dari Kota Singosari, tidak terbunuh oleh keris Gandring. Sejak itu Keris Gandring musnah.

Pårå kadang,

Adakah kutuk Sang Pandhita Budha Mahayana Sang Empu Purwa dan Sang Gusali Gandring masih “mandi” (ampuh?) hingga kini, kalau ya, dengan melihat siapa-siapa yang tewas akibat tusukan Keris Gandring di atas, maka berarti masih akan ada empat ratu/raja (penguasa) lagi yang harus mati” karena “tikaman keris”.

Dari daftar itu, ternyata “hanya” enam orang yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring. Itu pun hanya satu keturunan dari Ken Arok yang dibunuh dengan Keris Mpu Gandring. Jika Ken Arok “dianggap” yang termasuk dalam daftar tujuh orang yang “terkutuk”, maka baru ada dua orang dari trah Ken Arok yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring.
(1). Ken Arok dan (2). Anusapati)

Sedangkan daftar lainnya bukanlah sanak kadang dari Ken Arok itu sendiri. Atau jika Tunggul Ametung dimasukkan ke dalam daftar [karena bunyi kutukan adalah tujuh raja penguasa. Dan Tunggul Ametung adalah penguasa. jadi baru tiga orang raja/penguasa yaitu (1). Tunggul Ametung; (2). Ken Arok dan (3). Anusapati]

Nah, jika “tuah” kutukan Sang Mpu benar-benar manjur. Maka kita harus mulai menelusuri silsilah keluarga besar kita. Jangan-jangan masih termasuk dalam “trah” Ken Arok yang kita tahu “baru” satu orang keturunan dari Ken Arok yang terbunuh dengan keris itu. Atau paling tidak ada dua, jika Ken Arok termasuk di dalamnya, atau paling tidak baru tiga orang raja/penguasa.

Atau jangan-jangan di antara kita masih ada hubungan darah dengan ‘oknum’ yang menculik, atau bahkan mendalangi penculikan atau ikut menculik, atau ikut mendiamkan terjadinya penculikan, atau ikut bersekongkol dengan tindak penculikan, atau ikut menyediakan sarana, waktu, kesempatan sehingga terjadinya tindak penculikan, atau mengetahui tetapi mendiamkan tindak penculikan Kembang Panawijen itu.

Dengan demikian keturunannya terkena dampak dari kutukan sang Empu???

Atau bisa jadi kutukan Sang Mpu tidak hanya termasuk dalam 7 orang keturunan Ken Arok, tapi 7 orang saja dan itu bisa siapa saja. Namun demikian kita tetap harus berhati-hati, karena keris itu belum lengkap memakan 7 nyawa manusia, alias masih ada yang harus menunggu giliran untuk mati terbunuh dengan Keris Mpu Gandring.

Haruskah?????

Atau kita berharap saja agar Mpu Gandring tidaklah “seampuh” legendanya, terbukti dengan gagalnya memenuhi tenggat waktu pembuatan keris pesanan Ken Arok.

Cantrik Bayuaji tak hendak berpolemik tentang kutukan sang empu. Tetapi mari kita tengok, seperti telah disampaikan di atas, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

Perjalanan sejarah selanjutnya, ada miripnya, akan tetapi aura perebutan kekuasaan tidak lagi dipengaruhi keris tetapi berupa bantuan asing di luar pihak yang bersengketa ataupun berupa budaya asing dari luar sebagai alat perebut kekuasaan. Kita dapat belajar adanya Pasukan Tartar Kubilai Khan dalam mengakhiri Kerajaan Kediri. Kejatuhan Majapahit dengan masuknya budaya luar. Perpecahan kerajaan Mataram, dengan bantuan kompeni. Dan perpecahan itu terus berlanjut.

Betul kata Raja Solomo, bahwa tak ada kejadian baru di dunia ini. Kisah lama telah dipanggungkan lagi dengan ‘setting’ yang berbeda sesuai zamannya.
Penyelesaian kemelut hanya dapat dilaksanakan dengan bertindak penuh kesadaran, membuang karakter bangsa yang tidak selaras dengan alam dan mengembangkan karakter bangsa yang selaras dengan alam. Dan itu merupakan perjuangan, merupakan jihad sebuah bangsa.

Tetapi mengapa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh suasana yang selalu saja udreg-udregan rebutan kekuasaan, dan tidak hanya itu, tetapi juga suatu generasi yang haus darah, ingin menang sendiri, merasa paling benar, merasa paling berhak mengatur negeri, merasa paling mampu mengatur negeri, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki, tetapi ingin disebut manusia yang religius .

Kita kilas-balik:

1. Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga. Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua.

2. Baginda Jåyåbåyå terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jåyåsåbå. Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertåjåyå, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

3. Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara pårå kadang sêntånå sendiri. Golongan Rejasa melawan golongan Sinelir. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

4. Sang Parbu Seminingrat dan Ratu Anngabaya Narasinghamurti laksana Indra Medawa, Nagha Roro Saleng sedikit mengalami masa ketenangan dalam pemerintahannya.

5.Dalam tubuh kekuasaan Kertanegara yang kemudian naik tahta, meskipun diberitakan Singosari memasukim Zaman Keemasan, tetapi terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singosari, sehingga runtuhlah Singosari.

6. Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.

Beliau, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin amukti palapa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) amukti palapa.

Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada Mada (1364M)dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk(1389 M), Majapahit kerajaan pemersatu Nusantara kehilangan alas. Kerajaan Majapahit, pecah menjadi Kedaton Wetan dan Kedaton Kulon akibat sengketa keluarga yang saling berebut kekuasaan. Pertengkaran keluarga terjadi. Kelompok-kelompok pendukung dibentuk untuk saling menggalang kekuatan, bersengketa untuk merebut posisi kunci kekuasaan. Bau permusuhan dan saling curiga-mencurigai menebar di mana-mana di seluruh wilayah Majapahit, negeri menjadi tak terurus.

Akhirnya, bisul ketegangan itu pecah, perang antar keturunan Hayam Wuruk tak terhindarkan. Perseteruan antara Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) dan Wirabbhumi (putra Hayam Wuruk dari seorang selir) menyulut sebuah perang besar yang sangat merusak sendi-sendi Majapahit.
Perang saudara, perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya yang menyedihkan terjadi, Perang Paregreg (1401-1406 M) inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

Apa hasil perang? Majapahit kian melemah. Para pejabat kerajaan tak peduli lagi nasib negerinya. Alih-alih, mereka berlomba-lomba beraji mumpung. Korupsi merajalela, krisis multidimensi terjadi. Bertahun-tahun kondisi semacam itu terjadi dan dibiarkan terjadi. Lalu, beberapa dekade menjelang tahun 1500M, Majapahit, kerajaan pemersatu Nusantara, runtuh setelah berada di bumi Jawa Timur hampir 200 tahun. Babad Tanah Jawi mencatat tahun keruntuhan Majapahit itu dalam suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” yaitu 1400Ç atau 1478M.

7. Kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggånå dan garis keturunan Sekar Sedå Lepen. Haryå Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawåtå dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Haryå Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutåwijåyå, anak Sultan Hadiwijåyå dari Pajang.

8.Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijåyå, yaitu Danang Sutåwijåyå atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.

Benarkah Danang Sutåwijåyå adalah anak angkat Hadiwijåyå?
Gosip yang beredar, dia adalah anak kandung Djoko Tingkir, jadi ya anak kandung Hadiwijåyå sendiri; dari permaisuri? Sejarah akan membuktikan kemudian.

9. Setelah sultan ketiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyåkråkusumå, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin dalam di Bumi Pertiwi. Para keluarga sultan mendapat kedudukan sebagai sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada empat kesultanan yaitu : Hamengkubuwono, Yogyakarta. Pakubuwono, Solo. Paku Alam, Yogyakarta. dan Mangkunegoro, Solo.

10. Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali. Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Tahun 1965, dengan nyawa yang hilang atau dihilangkan yang tak dapat dihitung dengan pasti, seratus ribu, sejuta, dua juta atau tiga juta (?); kemudian tampillah supersemar yang kontroversi, Soeharto menjadi Presiden Kedua.

11. Soeharto, presiden yang kemudian memimpin Indonesia hingga 32 tahun lamanya, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur.

12.Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Soeharto hingga Pemilu.

13. Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan di tengah jalan karena intrik politik.

14.Kemudian naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.

15.Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat yang sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah Yudhoyono menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing-pesaingnya. Pemilu 2009 kembali memenangkan Yudhoyono untuk menjadi Presiden periode kedua. Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan Yudhoyono sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.

Tak perluhlah diceritakan secara rinci tentang gonjang-ganjing sejak Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Gus Dur, dituduh ada skandal macam-macam sampai skandal memilik wil (memangku wanita cantik). Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR. Beberapa pihak berharap dapat menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah skandal penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Megawati, diterpa isu seputar bisnis keluarganya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.

Yang terakhir adalah Yudhoyono (yudho=perang). Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekarang, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam. Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan Yudhoyono yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Skandal Bank Century.

Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina para pemimpinnya dan merobek-robek hati nuraninya sendiri.

Rakyat hanya bisa menjadi penonton sinetron telenovela panggung politik dan perseteruan para pemimpin mereka. Dan sebagai rakyat kita hanya bisa merenung.

Lalu apa yang kita perbuat?

Menonton saja?, hanyut dalam kisah sinetronnya?, nangis kalau ada yang sedih?, tertawa kalau lucu?, atau kita seperti Ki Witantra.

Pada awal-awal masa pemerintahan Ken Arok, ketika Ki Wintantra merasa yakin bahwa adik seperguruannya Kebo Idjo tidak bersalah. Ia rela melepaskan jabatannya sebagai panglima tertinggi tentara kerajaan, sebagai salah satu dari tujuh pemimpin di Tumapel. Witantra pergi meninggalkan Tumapel. Witantra telah meninggalkan kota. Ia léngsér saking palênggahan, menyepi ke padukuhan asri, ngénggar-ngénggar pênggalih, tanpa dapat berbuat apa-apa.

Mungkinklah ini juga bagian dari kutuk sang empu di abad 13 yang silam??????

Keadaan inikah yang menjadikan tlatah Panawijen (sekali lagi agar dibaca: Republik Indonesia) menjadi tanah cengkar????

Inikah kutuk Sang Pendeta Empu Purwa:

…. Mangkana wong Panawijen, hasata pangangsone. Moggha tan metuwa banyune beji iki

[“demikian juga orang orang di Panawijen ini, tempat mereka mengambil air akan menjadi kering, dan tak akan ada lagi air yang keluar dari blumbang ini…

Berikut cantrik bayuaji cuplikan tembang ular-ular, ayo padha diudi.

Bocah-bocah sirå pådhå guyubå lan rukunå dadiyå contoné bangså, lan pådhå rêkså-rinêkså dandanånå omah lan pêkaranganirå, idêp-idêp karo prihatin, supåyå énggal-énggal biså rampung, åjå rêbut kuwåså, ing têmbé yén wus rampung kanggo tinggalan bêbrayan pådhå ngênggoni, sak-anak lan putunirå.

Déné yen kowé pada cêngkrahan, iku pangabêktinirå mung kandêg ånå ing dêdalan, …. susah lan bungah, suwargå lan nêråkå, bêgjå lan mulyå, iku mung ginawê déwé- déwé.

Bisané pada makmur yén sirå kabéh pådhå akur guyub rukun. Bisané guyub rukun iku yén sirå pådhå sugih kawruh lan pêngalaman, bisané sugih pengalaman iku yén sirå sugih sêsrawungan, marang kåncå kang sugih pêngalaman.

Mulå iku pådhå sêsanjan, nanging åjå gawé pakitunaning liyan, dipurih têmurunå anak lan putu anggoné pasêduluran, sêbab sêkå rêkså-rinêkså, têpå salirå.

[Sumber : Buku We Yoga Dhi (ayo pådå diudi, yén digugu dadi Yoga kang Adhi)].

Sebagai penutup ngudåråså ini, Cantrik bayuaji ingin katakan, bahwa Pesan agung dari Yang Mulia Utusan Tuhan, dan peringatan-peringatan hari-hari keagamaan, ternyata tidak juga membekas.

Matur nuwun. Mohon dibukakan pintu maaf, bila di dalam ngudåråså ini ada kata atau kalimat yang kurang pantas, sehingga mengganggu pårå kadang. Kebenaran hanya berasal dari Tuhan. Kepareng cantrik Bayuaji madal pasilan.

Om shanti shanti shanti om.

Namo budaya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Nuwun,

Cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:30  Comments (8)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-singosari-sundss/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. jejak si GundUL ning tlatah lendhuT benter….!!

    • berHASIL….balek laGI sambel nGEMBOL
      buntelan rontal, matur nuwun

  2. malem2 ki GundUL mencari JEJAK keberaDAan
    rontal ning tlatah ki Gembleh.

  3. Alhamdulillah gerbong bisa dtemukan. ternyata rontal dislempitke neng ngisor jok.

  4. Lha Buto Elek niku nopo PT. Lapindo Perkasa nggih Ki?

  5. matur suwun rontal 102 nya pak satpam

  6. Laporrrr om Bayuaji :

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-20] di commentSUNdSS rontal ke-05.

    Pemerian tafsir “kebenaran” kesejarahan, lanjutan dongeng:

    WAMCA RAJASA SANG GIRINDRANATHA DAN TAFSIR SEJARAHNYA

    nahhh kok dongeng kaping 19 ga ada ? dari 18 lompat ke 20, atau ditaruh di mana gitu ?

    hi hi trims yeee 😛
    Dewi

  7. Kangen….Ki Bayuaji…bahkan Ki Punakawan Bayuaji…..mendongeng Antropologi & Arkeologi……sungguh mencerdaskan bangsa….kami setia menanti….toetoegnya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: