Seri MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA

On 23 Januari 2011 at 21:41 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Sampurasun

Angin peuting pangnepikeun salam kuring.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA [Bagian Keduabelas

(Bagian Pertama. Kawali I On 23 Desember 2010 at 01:51 cantrik bayuaji said: HLHLP 072)
(Bagian Kedua. Kawali II On 25 Desember 2010 at 00:23 cantrik bayuaji said: HLHLP 073)
(Bagian Ketiga. Kawali III On 28 Desember 2010 at 11:40 cantrik bayuaji said: HLHLP 076)
(Bagian Keempat. Kawali IV On 31 Desember 2010 at 06:39 cantrik bayuaji said: HLHLP 079)
(Bagian Kelima, SSKK Parwa kahiji On 2 Januari 2011 at 06:29 cantrik bayuaji said: HLHLP 081)
(Bagian Keenam, SSKK Parwa kadua On 4 Januari 2011 at 06:01 cantrik bayuaji said: HLHLP 082)
(Bagian Ketujuh, SSKK Parwa katilu, On 12 Januari 2011 at 13:29 punakawan bayuaji said: HLHLP 086)
(Bagian Kedelapan, SSKK Parwa kaopat On 14 Januari 2011 at 06:07 cantrik bayuaji said: HLHLP 087)
(Dongeng Sisipan, Satriå Piningit Sang Ratu Adil, On 16 Januari 2011 at 00:07 cantrik bayuaji said:HLHLP 088)
(Bagian Kesembilan, Uga Wangsit Siliwangi I On 17 Januari 2011 at 22:37 cantrik bayuaji said: HLHLP 089 (Bagian Kesepuluh, Uga Wangsit Siliwangi II On 20 Januari 2011 at 05:22 cantrik bayuaji said: HLHLP 090)
(Bagian Kesebelas, Uga Wangsit Siliwangi III, On 21 Januari 2011 at 03:50 cantrik bayuaji said: HLHLP 091)

MENELISIK UGA WANGSIT SILIWANGI

Ratu? Saha? Ti mana asalna éta ratu? Ratu Adil?

Pemimpin? Siapa? dari mana asalnya Sang Pemimpin? Ratu Adil?

engké jaga, mun tengah peuting,
ti gunung halimun kadéngé sora tutunggulan,
tah éta tandana;

suatu saat nanti, apabila tengah malam,
dari gunung yang berkabut terdengar suara menggelegar,
nah itulah tandanya;

engké, mun geus témbong budak angon.

nanti, pasti terbukti pada waktunya akan nyata kalau sudah terlihat si anak gembala.

nyaéta budak angon;

dialah si anak gembala itu;

imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang.
ari ngangonna?
lain kebo lain embé,
lain méong lain banténg,
tapi kalakay jeung tutunggul.

rumahnya di tepi belakang palung sungai,
pintunya setinggi batu,
ternaungi handeuleum,
berdindingkan rimbunnya hanjuang,
apa yang dia gembalakan?
bukan kerbau bukan domba,
bukan pula harimau ataupun banteng,
tetapi daun-daun kering dan sisa potongan pohon.

budak angon enggeus euweuh,
geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan;
geus mariang pindah ngababakan, parindah ka lebak cawéné.

tetapi dia sudah pergi
dia pergi bersama pemuda berjanggut,
dia membuka daerah baru di lembah perawan

Siar ku dia éta budak angon
Jig geura narindak.
Hadé deui sakabéhanana.
Sanagara sahiji deui.
Nusa Jaya,
jaya deui,
sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.
Jig geura narindak,
tapi ulah ngalieuk ka tukang
.

Sekarang, cari oleh kalian si anak gembala.
Segeralah bertindak,
Maka menjadi baiklah semuanya.
Negara bersatu kembali.
Nusa jaya lagi,
sebab diayomi oleh ratu adil, ratu adil yang sejati.
Segeralah bertindak,
tapi ingat jangan menoleh kebelakang

Membaca naskah Uga Wangsit Siliwangi terasa mengandung hakekat yang sangat tinggi bila telah memahaminya. Karena di dalamnya digambarkan situasi kondisi sosial beberapa masa utama dengan karakter pemimpinnya dalam kurun waktu perjalanan panjang sejarah negeri ini pasca Prabu Siliwangi ngahiang.

Peristiwa itu ditandai dengan lenyapnya Pajajaran. Dan sesuai sabda Prabu Siliwangi bahwa kelak kemudian akan ada banyak orang yang berusaha membuka misteri Pajajaran. Namun yang terjadi mereka yang berusaha mencari hanyalah orang-orang sombong dan takabur.

Siapa Bocah Angon, Siapa Anak Gembala yang dicari? Satriå Piningit?kah dia?

……Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon…….

[……Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Bocah Angon.…….]

Gambaran tentang mesias Sang Ratu Adil itu bervariasi, ada yang digambarkan sebagai manusia, sebagai dewa atau sebagai suatu hal yang abstrak. Ide tentang mesianisme (messianism), muncul di berbagai bangsa di dunia ini.

Sosok Sang Ratu Adil memang masih misterius. Banyak sudah yang mencoba untuk menemukannya dengan caranya sendiri-sendiri. Alhasil, konon ada yang merasa yakin telah menemukannya, bahkan akhir-akhir ini banyak orang mengaku, bahwa setelah orang-orang tersebut membaca kemudian mereka-reka, berusaha memaknai sesuai dengan keinginannya kata demi kata, kalimat demi kalimat dari naskah-naskah tentang Ratu Adil, termasuk mempelajari nama diri, nama tempat, ciri-ciri khusus, perlambang-perlambang, ungkapan-ungkapan, pétung, kemudian mengeluarkan pernyataan, wårå-wårå bahwa dirinyalah si “Satriå Piningit Sang Ratu Adil ” itu.

Aneh dan menggelikan, bahwa dia telah merasa menemukan bahkan mengaku-aku dirinyalah Budak Angon atau Bocah Angon, si Satriå Piningit Sang Ratu Adil , yang ‘ketiban pulung’, yang merasa mendapatkan ‘sipat kandêl kraton, mendapatkan wisikkapanjingan wahyu kraton’, dan bahwa dirinyalah yang dapat menyelesaikan semua persoalan bangsa. Menyuruh orang lain mempercayainya.

Siapa yang menunjuk, pulung apa, dari kraton mana, Nggak jelas, apa maunya. Berpenampilan sangat menggelikan bak badut. Menggelikan, narsis, norak dan lucu sekali.

Banyak orang mengaku telah berhasil menemui si bocah angon, dan beberapa orang telah sowanke tempat itu, konon mereka mendapatkan sesuatu dari ‘beliau’ itu.

Sama halnya ketika Cantrik Bayuaji menanyakan ‘tempat siningker’, mereka pun dengan alasan yang tidak jelas juga berusaha menghindar, dikatakannya sengaja dirahasiakan, dikatakan durung wanciné Sinatriyå Piningit mangéjåwantah, wingit siningkêr, penuh perbawa. Nggak jelas juga siapa Bocah Angon itu).

Tetapi adakah ‘janji-janji’ Satriå Piningit, si Budak Angon (kalauapun di ada) itu?, itupun masih dipertanyakan apa memang benar ada yang menjanjikan, ‘siapa’ yang menjanjikan, dan apa ‘janjinya’; apa benar adanya, ataukah hanya sekedar angan-angan kosong belaka, bak hiburan pelipur lara, untuk melupakan penatnya memikul beban hidup yang semakin berat dan seakan-akan tak pernah ada habisnya? Mimpi?

Banyak teori tentang manusia-manusia istimewa yang datang membawa perubahan. Di dunia, orang-orang itu sering disebut “promethean”, diambil dari nama dewa Yunani Prometheus yang memberikan api (pencerahan) pada manusia. Mereka (berarti lebih daripada satu) bukan sekedar “manusia-manusia ajaib”, melainkan orang-orang yang memiliki kekuatan dahsyat, yaitu kekuatan ilmu, dan kecintaan pada bangsanya, sesama manusia dan lingkungannya, serta pada Tuhannya.

Sinatriyå. Satriå Piningit(?) adalah orang(-orang) yang peduli pada bangsanya, pada alam sekitar di tempat dia berada, berilmu tinggi, dan yang telah memutuskan untuk berbuat sesuatu.

Merekalah, dan hanya merekalah yang bisa melawan kehancuran, dan akhirnya membangkitkan peradaban.
Di zaman kegelapan, selalu ada saja orang yang belajar. Di antara banyak orang lupa, selalu ada orang yang sadar, di antara kejahatan, selalu ada orang yang baik. Bahkan walau cuma satu orang.

Kadang, kerusakan itu justru membakar jiwa seseorang untuk berbuat sesuatu. Belajar, berjuang, berkorban.
Sinatriyå , Budak Angon, atau Sang Bocah Angon sesungguhnya merupakan konsepsi tentang kehidupan dan kemanusiaan. Dalam konteks diri manusia, Budak Angon merupakan konsep tentang penemuan jati diri dan pengendalian diri untuk apa sesungguhnya dia dicipta. Selain jasadnya yang sesungguhnya hanyalah “tunggangan” yang harus ditundukkan, dikendalikan, dan diarahkan melalui proses “penggembalaan”, dalam dirinya juga terdapat kumpulan “sasatoan” (nafsu supiah, nafsu amarah dan nafsu aluamah (sasatoan = sato = hewan, nafsu-nafsu hewani) yang tidak untuk dimatikan melainkan untuk digembalakan sehingga menjadi potensi dan energi positif bagi penemuan misi hidupnya dan hidup sekelilingnya termasuk kita.

Dalam konteks kehidupan sesama, Budak Angon menjelaskan suatu upaya dan proses “penertiban”, pembangunan kesadaran, serta pengarahan hubungan antar-sesama yang dilandasi cinta dan kasih sayang. Suatu tatanan kehidupan yang lebih berkeadilan.

Dalam konteks sosok, pribadi-pribadi yang bekerja keras, sudi berkorban dalam upaya dan proses. Sang Bocah Angon yang sudi untuk pénéknå blimbing kuwi, lunyu-lunyu pénéknå., yang meskipun lunyu-lunyu , dia tetap sudi untuk mènék, sudi untuk berkorban.

Sang Bocah Angon memiliki jiwa yang pandai ngemong, jiwa yang ngéman, jiwa yang melindungi dan berkorban, jiwa yang sabar, amanah, bijak, ikhlas melaksanakan dan bertawakal.

Sinatriyå berjuang menyelamatkan dunia. Sang Ratu Adil mendatangkan zaman kebaikan, yang demikianlah disebut Budak Angon, Sang Bocah Angon.

Dalam bait-bait terakhir sasmita Jåyåbåyå digambarkan suasana negara yang kacau penuh carut marut serta terjadi kerusakan moral yang luar biasa. Namun dengan adanya fenomena tersebut kemudian digambarkan munculnya seseorang yang arif dan bijaksana yang mampu mengatasi keadaan.

Sebagaimana perintah Sri Maha Prabu Siliwangi:
Siar ku dia éta budak angon

Sinuwun Prabu Jåyåbåyå memberikan perintah yang sama:
mulå dèn upadinên sinatriyå iku

Ki Rånggåwarsitå dalam Sêrat Jåkå Lodhang mengisyaratkan datangnya Ratu Adil:
Sangkalané maksih nunggal jamanipun
Nèng sajroning madyå akir
Wiku Saptå ngèsthi Ratu
Adil
parimarmèng dasih
Ing kono kêrsaning Manon

Semakin jelas, bahwa Sri Maha Prabu Siliwangi melalui wangsitnya, Prabu Jåyåbåyå dengan sasmitånya dan juga Radèn Ngabéhi Rånggåwarsitå dengan Jåkå Lodhangnya hanya menyebutkan akan datangya Bocah Angon yang akan “mengembalakan” Tanah Jawa Tatar Sunda Nusantara ini sebagai Sinatriyå Ratu Adil (Satria Ratu Adil).

Belum diketahui siapa sebenarnya Sinatriyå Ratu Adil itu, Sri Baduga Maharaja Siliwangi dan Prabu Jåyåbåyå tidak menyebutkannya, juga Sang Pujangga Keraton Radèn Ngabéhi Rånggåwarsitå.

Demikian juga ‘berita’ 7 Satriå Piningit. Tidak satupun naskah dari ketiganya menyebutkan ketokohan 7 Satriå Piningit. Secara perspektif ilmiah, Ramalan Jåyåbåyå dan Ramalan Rånggåwarsitå tidak lebih hanya sekedar mitos atau diyakini tidak pernah ada, sebab tidak ditemukannya peninggalan manuskripnya yang asli, namun seolah-olah ada.

Pada naskah yang disebut sebagai “asli”, tidak ditemukan adanya cerita 7 Satria Piningit. Entah kalau naskah itu “palsu” atau mungkin “asli tapi palsu”, karena naskah itu dan naskah-naskah lain yang banyak beredar di masyarakat hanyalah dalam bentuk ‘copy’-an atau cetakan-cetakan yang tidak jelas sumber penulisannya.

Para sejarahwan banyak yang masih meragukan keaslian naskah tersebut, baik dari gaya bahasa yang dipakai, struktur kalimat, maupun usia alat tulis (rontal?, kertas?), yang dinilai terlalu muda untuk masa itu.

Boleh jadi dengan berlalunya masa, naskah “asli” telah ditambah, digothak-gathuk sedemikian rupa sehingga seolah-olah karya dan sasmitå Sang Prabu Jayabaya.

Hal ini diperkuat dengan suatu temuan bahwa, Ramalan Jåyåbåyå yang beredar dewasa ini adalah versi-versi gubahan (atau ditulis kembali) oleh seseorang yang mengambil dari sebuah sumber induk yang sama yaitu kitab yang disebut Musarar atau Asrar (memiliki kesamaan ide dan gagasan).

Dan sang penulis adalah seseorang yang hidup di zaman setelah zaman Jåyåbåyå atau pada masa dimana dia bisa mengikuti perkembangan sejarah sejumlah kerajaan pada masa lampau, seperti Jenggala, Kadiri, Singasari, Ngurawan, Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram.

Hingga saat ini para ahli terutama sejarahwan belum menemukan kitab otentik (asli) yang memuat Ramalan Jåyåbåyå dan naskah asli yang berupa tulisan Sang Prabu Jåyåbåyå.

Mungkin yang paling dekat, kalaupun benar adalah cerita tutur lisan masyarakat, tetapi sebagaimana cerita-cerita tutur lisan, sangatlah sulit diyakini kebenarannya.

***

Berikut beberapa hal tentang Uga Wangsit Prabu Siliwangi, yang menyebutkan tanda-tanda akan tibanya si calon Ratu Adil dengan sebutan Bocah Angon. dengan cacatan dari cantrik Bayuaji, bahwa telisik ini didasarkan pada cerita tutur lisan masyarakat penghayat keyakinan tentang Uga Wangsit Siliwangi juga Ramalan Jåyåbåyå, Ki Rånggåwarsitå dalam Sêrat Jåkå Lodhang yang berkaitan dengan akan hadirnya Sang Ratu Adil:

{1}. Suara menggelegar.

……Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana…..

[…… Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung yang berkabut terdengar suara menggelegar, nah itu adalah tandanya…..]

(sora tutunggulan, berarti suara para pembawa panji/tunggul, dapat juga diartikan suara yang menggelegar, ada juga yang mengartikannya suara minta tolong)

Kata “suara minta tolong” sepertinya sama dengan ungkapan sasmitå Jåyåbåyå dalam bait 169 yaitu:

sênêngé anggodha anjêjaluk cårå nisthå
ngêrtiyå yèn iku cobå
åjå kainå
ånå bêjå-bêjané sing dèn pundhuti
atêgês jantrané kaêmong sirå sâbrayat

[senang menggoda dan minta secara nista,
ketahuilah bahwa itu hanya ujian,
jangan dihina,
ada keuntungan bagi yang dimintai
artinya dilindungi kalian sekeluarga].

……Nyaéta budak angon…….
[…… Dialah si Anak Gembala. …….]

Bocah Angon di awal kemunculannya akan beraksi melakukan hal-hal sebagai pertanda kedatangannya. Salah satunya adalah meminta tolong kepada orang di sekitar gunung yang berkabut. Tidak jelas mengapa dia minta tolong kepada orang lain, apakah dia dalam kesulitan ataukah keperluan lainnya. Yang pasti bila telah terjadi hal demikian berarti itu pertanda akan kemunculannya.

Bocah Angonkah yang dimaksud sebagai Sinatriyå itu? Kalimat tersebut mengindikasikan bahwa minta tolong itu hanya sebatas ujian bagi yang dimintai pertolongan. Ujian apakah itu?

{2}. Gunung yang berkabut.

Ada yang meyakini, gunung yang berkabut (kabut = halimun) itu adalah Gunung Halimun (Taman Nasional Gunung Halimun), yang terbentang dari Badui dan Citoreh Kabupaten Lebak Provinsi Banten hingga Malasari di Kabupaten Bogor. Kabupaten Sukabumi. Letak geografis 6°37’ – 6°51’ LS, 106°21’ – 106°38’ BT.

Ada terdapat tempat yang dikeramatkan di wilayah Gunung Halimun ini. Terdapat 35 kesatuan masyarakat adat yang disebut kasepuhan, mereka bergabung dalam Kesatuan Masyarakat Adat Banten Kidul.

Setiap kasepuhan dipimpin oleh seorang Ketua Adat yang mereka sebut Abah. Masyarakat Kasepuhan memandang kawasan Gunung Halimun sebagai wilayah adat mereka yang sangat dihormati. Mereka membagi kawasan hutan atas tiga bagian, yaitu, leuweung kolot atau hutan primer, leuweung titipan atau hutan keramat yang pemanfaatannya atas izin Abah serta leuweung sampalan atau hutan bukaan, yang boleh dibuka oleh warga kasepuhan.

{3}. Dia gembalakan daun-daun kering dan sisa potongan pohon.

Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul.

[Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi daun-daun kering dan sisa potongan pohon.]

Bocah Angon memiliki kebiasaan mengumpulkan daun dan ranting. Kata daun dan ranting yang disebutkan pada Uga Wangsit Siliwangi dalam bahasa asli Sunda yaitu “kalakay jeung tutunggul “.

Kalakay adalah rontal yang biasa digunakan oleh orang kita pada zaman dulu kala sebagai lembaran untuk menulis. Sedangkan tutunggul adalah ranting pohon yang biasa digunakan orang kita pada zaman dulu kala sebagai pena untuk menulis.

Sang Bocah Angon ini memiliki kegemaran suka ‘menggembalakan’ kalakay jeung tutunggul. Dia terus mengumpulkan dan mengumpulkan kedua barang tersebut sebagai ‘hewan’ gembalaannya.

Kalau kalakay jeung tutunggul dapat diartikan sebagai kertas dan pena, dan keduanya merupakan alat tulis. Sedangkan ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih jika boleh diartikan belajar, bukankah ini menunjukkan simbol orang yang terpelajar dan berpendidikan.

Selanjutnya disebutkan:

Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun.

[Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan mendapatkan banyak sejarah/kejadian].

Kalimat tersebut bisa berarti bahwa Bocah Angon menggembalakan kertas dan pena untuk mendapatkan ilmu, secara berkelanjutan.

{4}. Rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu.

imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun,

[rumahnya di tepi belakang palung sungai, pintunya setinggi batu,]

Kata di ujung sungai menunjukkan bahwa rumah Bocah Angon letaknya berada dekat dengan hulu sungai. Siliwangi tidak memberikan gambaran berapa jarak antara rumah dengan sungai tersebut.

Bisa jadi hanya beberapa meter dari sungai, tetapi bisa jadi puluhan meter dari sungai.
Disebutkan bahwa “pintunya setinggi batu”. Kalimat tersebut bisa dipahami bahwa rumah Bocah Angon tidak hanya satu lantai, namun bertingkat.

Hal ini dapat juga dilihat pada sasmitå Prabu Jåyåbåyå bait 161 yaitu:

wétané bêngawan banyu
andhêdukuh pindhå Radèn Gatotkåcå
arupå pagupon dårå tundhå tigå

[sebelah timurnya bengawan
berumah seperti Raden Gatotkaca
berupa rumah merpati susun tiga]

{5}. Ternaungi handeuleum, berdindingkan rimbunnya hanjuang

kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang.

[Ternaungi Handeuleum dan berdindingkan rimbunnya Hanjuang]

Berarti di depan rumah Bocah Angon terdapat dua pohon yang sangat subur dan menjadi ciri khas rumahnya. Dalam hal ini hanya disebutkan dua buah pohon saja, artinya memang hanya ada dua buah pohon di depan rumahnya sebagai pembeda dari rumah lainnya.

Beberapa kalangan menafsirkan kata Handeuleum dan Hanjuang sebagai simbol saja. Benarkah kedua pohon itu sebenarnya bukan pohon hidup di atas tanah, tetapi sekedar simbol saja?

Handeuleum (Graptophylum pictum (Linn), Griff) atauDaun Ungu (Indonesia), Handeuleum (Sunda); Demung, Tulak, Wungu (Jawa); Carricature plant, Carmantine (Inggris).

Di Jawa Barat tumbuhan handeulem ini sangat banyak, daunnya berwarna merah dan bagi yang suka biasa dikonsumsi sebagai lalapan atau obat. Tanaman ini mengandung: zat tanin, alkaloid, sitosterol glikosida.

Daun Ungu banyak ditemukan tumbuh liar di pedesaan sebagai tanaman hias atau pohon kecil, tinggi sekitar satu-setengah sampai tiga meter, kulit dan daunnya berlendir baunya kurang enak. Berdaun tunggal, bertangkai pendek, berbentuk bulat telur sampai memanjang, ujung dan pangkal runcing, permukaan atas berwarna ungu mengkilap. Perbungaan majemuk, dengan bunga berwarna tua keluar dari ujung cabang. Buah berbentuk lonjong, berwarna ungu kecoklatan. Biji kadang-kadang dua, bentuknya buat kadang putih. Tanaman ini mempunyai tiga varietas, yaitu berdaun ungu, hijau dan berdaun belang-belang putih. yang biasa digunakan sebagai obat adalah yang berdaun ungu. Khasiatnya antara lain: wasir/ambeien (hemoroid), sembelit/susah buang air besar, melancarkan haid, bengkak terpukul/memar, demam karena perut kotor, bengkak karena terpukul, rematik, bisul, borok, sakit telinga.

Hanjuang (Cordyline fruticosa (L.) A.Chev). Nama umum/dagang: Andong (Indonesia), atau: Andong (Jawa); Bak Juang (Aceh); Linjuang (Batak); Tumjuang (Palembang); Hanjuang (Sunda); Kayu Urip (Madura); Andong (Jakarta); Endong (Bali); Penjuang (Dayak). Kerabat dekat Buntut Macan, Pandan Bali.

Nama hanjuang juga dipakai untuk sekelompok tumbuhan dari marga Dracaena. Daun hanjuang khas, berbentuk lanset, berukuran agak besar dan berwarna hijau kemerah-merahan (Cordyline) atau berwarna hijau muda (Dracaena).

Hanjuang merupakan sekelompok tumbuhan monokotil berbatang yang sering dijumpai di taman sebagai tanaman hias. Marga Cordyline memiliki sekitar 15 jenis. Sistem APG II memasukkan hanjuang ke dalam suku Laxmanniaceae. Namun demikian, beberapa pustaka lain memasukkannya ke dalam Liliaceae (suku bakung-bakungan) serta Agavaceae.

Berbatang bulat, keras, bekas dudukan daun nampak jelas, bercabang, putih kotor, berdaun tunggal, menempel pada batang, pangkal dan ujung runcing, tepi rata, panjang 20-60 cm, lebar 10-13 cm, pelepah 5-10 cm, pertulangan menyirip, hijau. Berbunga majemuk, bentuk malai, di ketiak daun, tangkai panjang, bulat, bercabang, daun pelindung panjang ± 1,4 cm, ujung runcing, kelopak berlaju, mahkota terdiri dari 6 daun mahkota, benangsari bertajuk, menempel pada tenda bunga, tangkai putih, putik putih, kepala putik bertaju tiga, ungu. Berbuah buni, bulat, merah mengkilat. Berbiji hitam mengkilat. Berakar serabut, putih kekuningan.

Hanjuang (Cordyline) sering dipakai sebagai tanaman pelindung dan pembatas blok pada sawah, ladang, serta perkebunan teh atau kina.

Hanjuang terutama C. fruticosa populer sebagai tanaman hias. Daun hanjuang dipakai sebagai pembungkus makanan. Hasil penelitian menunjukkan, bungkus daun hanjuang memiliki kemampuan anti bakterial. Beberapa jenis ada yang berdaun merah ada juga yang berdaun hijau (daunnya panjang) dan didaerah Sukabumi, tataman tersebut merupakan komoditi ekspor ke Korea dan Timur Tengah.

Dalam masyarakat Sunda, Jawa, serta Bali, hanjuang memiliki makna sebagai “pembatas ruang“, baik secara harafiah maupun filosofis. Sedangkan Handeuleum sebagai “peneduh”-nya.

{6}. Ditandai melesatnya bintang

disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang.

[melesatnya bintang yang terang benderang = komet?].

Ada yang nenterjemahkan melesatnya bintang yang terang benderang adalah hadirnya seseorang yang dapat memberikan pencerahan namun hanya sesaat (pemimpin yang sekedar membuka jalan bagi pemimpin penggantinya).

Pada sasmitå Prabu Jåyåbåyå bait 160 disebutkan:

sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa
ngalu-ngalu tumanja ana kidul wetan bener

[sebelumnya ada pertanda bintang berekor (komet)
panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur]

{7}. Keturunan bangsawan Pulau Dewata (Bali)

Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata.

[keturunan raja di masa lalu yang ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata.]

Siapa pemimpin bangsa yang beribukan putri dari Bali Pulau Dewata?

Bung Karno? Kita tidak tahu. Wangsit Siliwangi ini sudah terjadikah atau masih akan terjadi? Juga tidak seorangpun yang tahu.

Hanya yang pasti Bung Karno atau Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Rakyat Pribumi di Singaraja Bali Ida Ayu Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali, sedangkan Raden Soekemi sendiri dari gelarnya dapat diketahui beliau adalah bangsawan Jawa.

{8}. Pergi membuka lahan baru di lembah perawan

geus mariang pindah ngababakan, parindah ka lebak cawéné.

[sudah pergi membuka daerah baru di lembah perawan]

Ada yang menterjemahkan sebagai lembah cawan, lembah yang cekung bagaikan lunas perahu sehingga ada yang mengartikannya sebagai gunung Perahu (Tangkuban Perahu?), tetapi sampai saat ini belum diketahui dimana letak Lebak Cawéné berada. Dalam peta Jawa, tidak ada daerah yang diberi nama Lebak Cawéné.

Dalam makna lain cawene adalah sesuatu yang harus dijaga dan dirawat. lebak adalah lembah bagian dari alam lingkungan. Dengan demikian boleh saja dimaknai bahwa adanya kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup.

{8}. Gagak yang menjerit di dahan mati

Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul.

[Yang ditemui hanya gagak yang menjerit di dahan mati]

Banyak kemungkinan mengenai gagak menjerit tersebut. Namun dalam naskah-naskah lain seperti yang diungkap Rånggåwarsitå dan Jåyåbåyå bahwa Bocah Angon sebelum menjadi Ratu Adil hidupnya menderita, dia sering dihina oleh orang.

Perlambang gagak menjerit di dahan mati bermakna situasi dimana banyak suara-suara tanpa arti. Rakyat menjerit-jerit, penguasa mengumbar janji-janji kosong. Sedangkan negara digambarkan banyak ditimpa bencana.

Mencermati keadaan sekarang ini, para pemimpin, para penguasa, para manggala negara, sudah banyak yangdurhaka kepada Tuhannya. Aturan dan hukum yang berlaku adalah tidak ada aturan dan hukum, dan itu mereka buat sendiri, dan mereka sendiri pula yang melanggarnya.

Sementara aturan dan hukum yang telah dibuat Tuhan, karena Kasih SayangNya kepada mereka diabaikan, bahkan mereka tolak dan tentang habis-habisan.

Mereka menganggap bahwa hukum Tuhan hanya layak disimpan di museum, enak dilihat, dikaji, didiskusikan, diseminarkan, tapi tidak enak diberlakukan.

Bencana atau adzab. Longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, angin puting beliung. Tindak durjånå, culikå, deksurå, adigang, adigung adigunå, Maling, main, madat, mabok, madon.

Sama dan serupa seperti yang disasmitakan Prabu Jåyåbåyå:

Ratu tan nêtêpi janji, nilar kawikcasanan, ilang pêrbåwå kawibawané, musnå kuwasané. Para pamong pangêmbating pråjå dalah para pawongan kathah kang awatak ambêg angkara, sêsongaran. Adigang adigung adiguna ing budi. Rumaos wasis nglangkungi, Angandêlakên kagunannyå, Miwah jajaging pangêrti. Tan hånå kang madhani, Manèh lubèr båndhå-bandhu donyå brånå, padha rêbut bênêr, samyå nêrak anggêr-anggêr, nrajang ing wêwalêring kasusilan, pådhå karêm mo limå. Wuwuh éring pangwåså.

Tindak culikå lan durjånå lan pék-pinèk barange liyan, ugi tindak dêksurå sampun dados pakulinan ingkang limrah. Sânajan nâgari ngungkuraké pagunungan, ngéringake bênawi, ngananaké pasabinan, mângku bandaran agêng, nanging sêdåyå wau datan sagêd ndamêl karaharjan, katêntrêman, karahayon miwah kabagyan dumatêng pårå kawulå dasih.

Råjåkåyå, ingon-ingon, pèni-pèni råjåpeni, mas picis råjåbrånå kang dinarbé déning Nâgari dados rayahan tiyang kathah, kalêbêt pårå pamong pangêmbating pråjå ingkang handarbéni kuwåså.

Yå krånå mangkono dadi lêlantaran murkaning Pangêran Gusti Kang Måhå Utpati, Pangêran Gusti Kang Måhå Mêrjåyå marang praja dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal såkå anggoné pådå kasrakat ing sandang pangan dalah papan urip tan pinanggih karahayon wilujêng têntrêm ing samukawis………………

Saibå nggêgirisi nâgari punikå samångké. Manungså kawulané nagari kathah ingkang anandhang påpå cintråkå. Ånå lindhu gêdhé, bumi bangêt anggènipun gonjang-ganjing, gunung-gunung pating panculat jugrug lan ngêtokake momotané. Banjir bandhang sêgårå asat. Jalmâ manungså nibå tangi. Bilulungan.

Dèrèng lêrêm anggènnyâ nandhang lårå påpå, cilåkå målå mårå bêbåyå têkå.
Tiyang nguladi pangan pindhå gabah dèn intêri.
Sing kêbat kliwat,
sing kasèp kêplèsèt,
sing gawé ramê tåmpå gawé,
sing cilik kêcêlik,
sing anggak kêtungkak,
sing ngati-ngati sêsambat kêpati.
sing wêdi pådhå mati, nanging sing ngawur pådhå makmur.
sing béngkong bisa nggalang omah gêdhong magrong-magrong.

Akèh wong wus pådhå mangan uwong.
Kayu gligèn lan wêsi pådhå kolu diråså énak kåyå roti bolu.
Ingkang badhé tinumbas datan wontên ingkang mirah.
Dagang barang såyå laris, nanging bandhané såyå tapis.
Sing tuku nglênik sing dodol,
sing dodol pådhå akal-akalan.
Akèh barang klêbu luwang, akèh wong kalirên lan wudhå, ora dhuwé wirang mêrgå kâpêkså.
Sing wani ditalèni,
sing dorå pådhå uro-uro.

Akèh wong kalirên ing sisihé panganan.
Akèh wong nyêkêl båndhå ning uripé sângsårå.
Sing waras lan adil uripé anggagas lan kêpêncil,
sing ora bisa maling, pådhå digêthing,
sing pintêr duråkå pådhå dadi kåncå,
sing bênêr såyå thêngêr- thêngêr,
sing salah såyå bungah-bungah.

Akèh båndhå musnå tan wêruh playu lariné.
Akèh pangkat lan drajat pådhå diaji nanging ora mbêjaji

Kâtungkå praptanirå pagêbluk kang luwih déning nggêgirisi.
Akèh manungså wis ora duwé sirah
amung gêmbung mlaku pating bilulung, sirahé cinaplok déning någå lan macan.

Någå kinaryå aji, mahanani ngèlmu.
Macan kinaryå aryå, mahanani kêkuatan, kêkuwasaan, dhuwit lan kamurkan.

Wus ora ånå manungså amung bathang angucap jisim lumaku.
Sânadyan katon blêgêre sampurnå nanging wis ora ånå gunå-paédahê.

Duwé mripat wus ora bisa kanggo mulat
Duwé kuping wus ora bisa kanggo angrungu
Duwé tutuk wus ora bisa kanggo micårå
Duwé irung wus ora bisa kanggo nggåndå
Duwé ati wus ora bisa kanggo ngråså

Bédané wong urip karo mati kuwi ånå ing råså, sânadyan isih ambêgan, mloka-mlaku ning wis pådhå ora duwé råså.
Manungså sirah urang lumampah baris tut wuri déning barisan jrangkong.
Awéh sasmitå manungså wis malih kåyå urang, sirahé wis ora duwe uteg.
Déné barisan jrangkong minångkå prålampitå mânåwå manungså wus kélangan akal budi, utégé garing kari cumplung nyêngingis agawé miris.

Apakah ini terjadi secara kebetulan?

Prabu Siliwangi, Jåyåbåyå Rånggåwarsitå boleh jadi (kalaupun benar) adalah orang-orang pinilih yang dapat menerawang masa depan bangsanya dari zaman beliau itu masih hidup, beliau memilki kemampuan untuk menggambarkan prediksi masa depan yang diungkapkan melalui pralambang-pralambang.

Sehingga penggabungan antara keduanya ini, terwujud suatu karya sastra yang mampu memberikan gambaran tentang masa lalu dan masa depan secara jelas dan lebih meyakinkan, tetapi beliau juga seorang manusia biasa yang tiada luput dari kekhilafan yang sangat manusiawi sekali.

Namun terlepas dari pro dan kontra tersebut, bagi Wong Jåwå dan Urang Sunda (yang percaya), Ramalan Jåyåbåyå dan Uga Wangsit Siliwangi sangat diyakini akan kebenarannya. Termasuk yakin, bahwa sosok Sang Ratu Adil nu Sajati akan datang dan muncul untuk memperbaiki negeri ini.

Mungkin sebagian masyarakat sedang menunggu datangnya Satriå Piningit atau Ratu Adil yang berperan sebagai penyelamatan nusa, bangsa dan negara. Seseorang yang memberikan cahaya, pemimpin atau figur yang mampu mengeluarkan keadaan serba tak menentu di negeri ini. Tetapi mestilah mitologi Satriå Piningit kita reinterpretasi secara fundamental.

Dia ada dan hadir dalam tradisi bukan karena telah diramalkan akan hadir, yang menjanjikan bahwa dia akan membenahi suatu keadaan menuju kebaikan. Melainkan sebuah simbolisasi akan tercapainya keadilan dan kesejahteraan secara merata di negeri ini. Jika pemahaman akan Satriå Piningit masih dikatakan seorang figur, maka kita akan terus berenang-renang di lautan penuh ombak yang akhirnya membuat mabuk.

Biarlah tangan Tuhan yang yang mengaturnya, tak perlulah kita menerka dan mereka-reka sambil berarap-harap (utopis) akan datangnya Sang Ratu Adil. Harapan akan seseorang yang terlahir sebagai Satriå Piningit pada akhirnya bermuara kepada kultus individu. Pengkultusan individu inilah yang kemudian membuat keterlenaan semakin membius. Masyarakat akan lupa kepada realita sosial, lupa akan kesejahteraan yang masih jauh, keterbelakangan, kebodohan, hukum yang adil, pemimpin yang empati kepada rakyat dan sebagainya. Ini menjadi refleksi kontemplatif bagi sebuah bangsa yang masih memimpikan datangnya keadilan, kesejahteraan dan pembebasan, yang bernama Indonesia. Semoga.

Sanak kadang padepokan pelangisingosari ingkang dahat kinurmatan,

Masih banyak telisik tentang Uga Wangsit Siliwangi ini kalau dijlèntrèhkên, Cantrik Bayuaji cukupkan sampai sini saja, karena semakin banyak dipaparkan pasti akan semakin banyak penafsiran-penafsiran, padahal belum tentu penafsiran itu benar, mengingat pula semua orang dengan bebas dan leluasa dapat memberikan tafsiran-tafsiran yang bermacam-macam pula, bahkan penafsiran yang ada dapat saja diarahkan untuk kepentingannya atau paling tidak digathuk-gathukkan agar cocok dengan “apa-maunya” dan kepentingannya. Dan ini sudah banyak terjadi.

Lagi pula adalah hal yang sangat dilarang bagi kita meramalkan sesuatu yang belum terjadi. Karena jangankan kejadian di kelak kemudian hari yang masih jauh di masa yang akan datang, sedetik kemudian pun hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Untuk itu biarlah waktu yang akan membuktikannya kelak. Ka Gusti urang sumerah diri. keudah kieu takdirna

Sampurasun, wilujeng wengi

Angin peuting pangnepikeun hariring kuring.

cantri bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 17:47  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalammualaikum
    Salam
    Rahayu
    Sedulur kabeh
    Menarik nih kajiannya,
    tak perlu mencari
    Tak perlu dicari
    Bila yang bertemu ucapkan Alhamdulilah
    Bila yang belum bertemu ucapkan insyaallah
    Bukan bertemu atau tak bertemu
    Apa artinya kita bertemu
    Untuk apa kita bertemu
    Kalau sudah bertemu??
    Adakah perubahan
    Adakah nilai yang bisa diambil
    Biarkan misteri tetaplah misteri
    Dia akan datang dengan tiba tiba
    Dia akan datang tanpa disangka sangka
    Darimana datangnya??
    Tak seorang pun mengetahui..
    Sekarang, esok atau lusa
    Bulan ini, bulan depan atau tahun depan..
    Semua mungkin..
    Semua tak mustahil
    Semua tak pasti
    Yang pasti hanyalah kematian
    Menghadap Sang Ilahi Robbi
    Coba kalau semua berpikir
    Coba kalau semua bertujuan sama
    Tak hanya rakyat tapi juga pejabat
    Tak hanya birokrat tapi juga pengusaha
    Tak hanya rakyat awam tapi juga para cerdik pandai
    Tapi..apa yang terjadi??
    Apa yang kita saksikan??
    Berlomba lomba dalam urusan dunia
    Berlomba lomba dalsm urusan perut
    Berlomba lomba dalam urusan depan pantat
    Hahahaha…
    Sedikit yang ingat
    Sekali lagi Sedikit yang mengingat…
    Kebanyakan semua banyak berkutat
    Untuk urusan urat dan pantat
    Untuk urusat perut dan syahwat
    Kalau diterus teruskan bakalan kiamat.
    Hanya orang gila yang tak kumat
    Karena dibalik kegilaan ada nikmat
    Hahahahaha…
    Salam Paitun Gundul 87
    Gondal Gsndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: