Seri MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA

On 24 Januari 2011 at 23:10 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Sampurasun. Wilujeng wengi

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA [Bagian Ketigabelas] TAMAT

(Bagian Pertama. Kawali I On 23 Desember 2010 at 01:51 cantrik bayuaji said: HLHLP 072)
(Bagian Kedua. Kawali II On 25 Desember 2010 at 00:23 cantrik bayuaji said: HLHLP 073)
(Bagian Ketiga. Kawali III On 28 Desember 2010 at 11:40 cantrik bayuaji said: HLHLP 076)
(Bagian Keempat. Kawali IV On 31 Desember 2010 at 06:39 cantrik bayuaji said: HLHLP 079)
(Bagian Kelima, SSKK Parwa kahiji On 2 Januari 2011 at 06:29 cantrik bayuaji said: HLHLP 081)
(Bagian Keenam, SSKK Parwa kadua On 4 Januari 2011 at 06:01 cantrik bayuaji said: HLHLP 082)
(Bagian Ketujuh, SSKK Parwa katilu, On 12 Januari 2011 at 13:29 punakawan bayuaji said: HLHLP 086)
(Bagian Kedelapan, SSKK Parwa kaopat On 14 Januari 2011 at 06:07 cantrik bayuaji said: HLHLP 087) (Dongeng Sisipan, Satriå Piningit Sang Ratu Adil, On 16 Januari 2011 at 00:07 cantrik bayuaji said:HLHLP 088)
(Bagian Kesembilan, Uga Wangsit Siliwangi I On 17 Januari 2011 at 22:37 cantrik bayuaji said: HLHLP 089 (Bagian Kesepuluh, Uga Wangsit Siliwangi II On 20 Januari 2011 at 05:22 cantrik bayuaji said: HLHLP 090)
(Bagian Kesebelas, Uga Wangsit Siliwangi III, On 21 Januari 2011 at 03:50 cantrik bayuaji said: HLHLP 091)
(Bagian Keduabelas, Menelisik Uga Wangsit Siliwangi, On 23 Januari 2011 at 21:41 cantrik bayuaji said: HLHLP 092)

PRABU SILIWANGI MOKŞA?

pun, sapun kula jurungkeun
mukakeun turub mandepun
nyampeur nu dihandeuleumkeun
teundeun poho nu baréto
nu mangkuk di saung butut
ukireun dina lalangit
tataheun di jero iga.

Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu

Tentang penggunaan nama “Wangi” sempat menjadi perdebatan dikalangan para sejarawan. Istilah wangi diberikan kepada raja-raja Sunda yang dianggap masyarakat mengharumkan Sunda. Disisi lain, masyarakat mengangap calutak (tidak sopan) jika menyebutkan nama asli dari rajanya, sehingga mereka lebih nyaman menggunakan nama kehormatannya, seperti nama ‘Wangi”.

Perdebatan demikian terjadi dalam mencari siapakah raja Sunda yang bergelar Prabu Silihwangi.
Menurut Yoseph Iskandar (2005): “Prof. Dr. Syatrohaedi bersikeras mengemukakan pendapatnya, bahwa Mahaprabu Niskala Wastu Kencana itulah yang yang lebih tepat sebagai tokoh Prabu Siliwangi.

Karena Sang Mahaprabu merupakan silih = pengganti keterkenalan dan keharuman nama Prabu Wangi yang di Palagan Bubat. Hanya raja sekaliber Prabu Wangi yang layak dijuluki Prabu Silih Wangi atau Prabu Siliwangi.

Perdebatan lainnya dalam mencari keaslian Siliwangi terjadi ketika Purbatjaraka pada tahun 1921 menafsirkan didalam bukunya “De Batoe-toelis bij Buitenzorg”, bahwa Sri Baduga Maharaja yang tercantum dalam prasasti Batutulis Bogor adalah raja yang gugur di Bubat. Sehingga dari tahun 1921, pelajaran Sejarah disekolah-sekolah mengisahkan tentang Gugurnya Sri Baduga Maharaja di Bubat pada tahun 1357 M.

Pendapat Purbatjaraka dikritik oleh Saleh Danasasmita, karena penyebutan Sri Baduga sebagai Prabu Siliwangi yang gugur di palagan Bubat terlalu dipaksakan, bertentangan dengan Kropak 406 Carita Parahyangan dan Pararaton, pada peristiwa Bubat, Sri Baduga belum lahir, bahkan Wastu Kancana baru berumur sembilan tahun.

Perdebatan mereda setelah Saleh Danasasmita (1981 – 1984) meluruskan bacaan Prasasti Batutulis Bogor, yang sejalan dengan maksud dari naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa 1 sarga 4. Kandungan naskah tersebut berisi, sebagai berikut :

raja pajajaran winastatwan ngaran prabhuguru dewataprana muwah winastwan ngaran sri baduga maharaja ratuhaji ing pakwan pajajaran sri sang ratu dewata putra ning rahyang dewa niskala. rahyang dewa niskala putra ning rahyang niskala wastu kancana. rahyang niskala wastu kancana putra ning prabu maharaja linggabhuanawisesa.

(Raja Pajajaran dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana dan dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, putra Rahiyang Niskala Wastu Kancana. Sanghyang Wastu Kancana putra Prabu Linggabuanawisesa).

Saat ini memang tak dapat dipungkiri, bahwa ketiga raja Sunda tersebut berhak menyandang nama “Wangi”, yakni Prabu Wangi, Prabu Wangisutah dan Prabu Silihwangi, masing-masing untuk gelar Sri Maharaja, Prabu Niskala Wastukancana dan Sri Baduga Maharaja.

Jika kita menelisik silsilah raja-raja Sunda (Kawali hinga Pakuan Pajajaran) yang sudah disusun berdasarkan penelitian yang cukup dalam dari Buku Sejarah Jawa Barat dan jika sebutan Siliwangi itu diberikan sebagai gelar untuk raja-raja Sunda setelah gugurnya sang Raja Sunda di Bubat, maka ada sembilan sembilan sosok raja yang dapat disebut Prabu Siliwangi.

Suatu kelaziman menurut tradisi Sunda Lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Oleh karen itu maka diyakini bahwa Siliwangi bukan nama pribadi:

Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira”.

[Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.]

Berikut berturut-turut raja-raja Sunda sejak Kawali hingga Pajajaran yang bergelar Siliwangi:

1. Prabu Siliwangi ke-I, Prabu Linggabuana yang bertahta di kerajaan Sunda (Kawali) pada tahun 1350M. bukan di Pajajaran. Pajajaran kala ini belum berdiri. Beliau gugur di Bubat pada tanggal 9 September 1357M. Beliaulah yang kemudian disebut Prabu Wangi, karena namanya harum (wangi) dan sangat dicintai rakyatnya di kala itu. Prabu (Sri) Wangi kemudian disinomkeun (diberi julukan gelar kehormatan) menjadi Prabu Sri Wangi atau Prabu Siliwangi.

2. Prabu Siliwangi ke-II, Maharabu Niskala Wastu Kencana, putra Linggabuana (1348-1475M). Ketika terjadi peristiwa Perang Bubat, usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia satu-satunya ahli waris Prabu Maharaja yang masih hidup. Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya (Sang Bunisora), Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja Sunda di Kawali pada tahun 1371 dalam usia 23 tahun.

3. Prabu Siliwangi ke-III, Prabu Ningrat Kencana atau Prabu Dewa Niskala Wastu Kencana (1374-1482M ada yang menyebutkan 1397-1404).

4. Prabu Siliwangi ke-IV, disebut juga Raja Pajajaran ke-1. Jayadewata yang terkenal dengan julukan Sri Baduga Maharaja (1482-1521M). Beliaulah pendiri keradjaan Pajajaran yang beribukota di Pakwan Pajajaran (Bogor sekarang).

Mempunyai putra-putri antara lain: Rara Santang (putri), yang kemudian menikah dengan seorang Pejabat dari Mesir, kemudian berganti nama menjadi Hajah Syarifah Mu’adim) yang kemudian mempunyai putra bernama Syarif Hidayatullah.

Putra lainnya adalah Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang, kemudian juga masuk Islam dengan nama Samadullah dan setelah berhaji menjadi Haji Abdullah Iman (Inilah yang oleh para ahli pantun disebut Kian Santang).

5. Prabu Siliwangi ke-V atau Raja Pajajaran ke-2. Prabu Sanghyang Surawisesa, 1522-1535.

6. Prabu Siliwangi ke-VI, atau Raja Pajajaran ke-3. Prabu Dewata Buana, 1535-1543.

7. Prabu Siliwangi ke-VII, atau Raja Pajajaran ke-4. Prabu Ratu Sakti, 1543-1551.

8. Prabu Siliwangi ke-VIII, atau Raja Pajajaran ke-5. Prabu Nilakendra, 1551-1567.

9. Prabu Siliwangi ke-IX, atau Raja Pajajaran ke-6. Prabu Ragamulya, 15671579M, maka sering disebut radja terahir (seda) disebut juga Prabu Seda. Dan setelah beliau turun tahta dan menyingkir dari kerajaan, kemudian masa keradjaan Pajajaran usai dan mulailah masa kerajaan Pasundan Islam.

Kesimpulan:
Jika menghitung dari Prabu Linggabuana sebagai Siliwangi ke-I, maka ada sembilan Prabu Siliwangi, sedangkan kalau menghitung dari Niskala Wastu Kancana sebagai Prabu Siliwangi ke-I, maka ada delapan Prabu Siliwangi.

Tokoh Prabu Kian Santang tidak cocok dengan data sejarah ini. Karena kalau Kian Santang putra Sri Baduga Maharaja yang bernama Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuwana, memang beliau masuk Islam dan menjadi Haji Abdullah Iman, beliau wafat tahun 1479M.

Sedangkan keradjaan Pajajaran dengan Ageman Kasundaan (Jati Sunda), yang bukan Islam, berlangsung sampai ke masa Prabu Seda tahun 1579M maka di sinilah ketidak-cocokannya. Islam baru masuk ke kawasan Pajajaran secara menyeluruh setelah Prabu Seda turun tahta (bukan masa Sri Baduga Maharaja ayah Walangsungsang (alias Kian Santang).

Jadi setelah wafat Kian Santang (1479M), selama 100 tahun Pajajaran masih berkuasa dengan Prabu Seda, sebagai rajanya.

Legenda dan petilasan Prabu Siliwangi

Legenda tentang Siliwangi merupakan cerita yang tak ada habisnya dalam masyarakat Sunda. Prabu Siliwangi dianggap sebagai Raja Pajajaran yang terbesar dan termashur. Ia memiliki kekuatan gaib dan diyakini tak pernah wafat, namun hanya ngahiang raganya.

Ruhnya tetap hidup dan berada di wilayah Tatar Sunda dan secara gaib melindungi orang Sunda yang berada dalam kesulitan. Sewaktu-waktu ruh Sang Prabu dapat menampakkan diri dalam bentuk Maung Lodaya (harimau besar).

Kalangan sesepuh percaya bahwa ruh Prabu Siliiwangi dapat diundang maupun tidak diundang masuk ke dalam badan seseorang dan melalui orang itu. Sang Prabu akan memberi amanat atau petunjuk.

Biasanya orang yang kesurupan tersebut bersikap seperti seekor harimau, karena kemasukan ruh harimau jadi-jadian pengikut Prabu Siliwangi. Bahkan sebagian orang meyakini bahwa Prabu Siliwangi menurunkan wangsit kepada masyarakat Sunda agar kejayaan Pajajaran tercapai kembali (Lihat Uga Wangsit Siliwangi)

Mitos tentang Prabu Siliwangi hidup pula di sekitar tempat-tempat yang dipercaya sebagai lokasi yang ada hubungannya dengan Sang Prabu.

Di Tatar Sunda banyak tempat yang diyakini merupakan jejak dan peninggalan Prabu Siliwangi, ada yang berupa bekas tempat tinggal, tempat ngahiang, pernah didatangi, pernah dilalui, dan lain-lain.

Hampir di semua tempat di Jawa Barat diyakini oleh masyarakat Sunda khususnya sebagai makam (petilasan) Prabu Siliwangi dan semuanya dijadikan tempat berziarah bahkan untuk bertapa.

Beberapa lokasi keramat yang oleh dianggap sebagai makam atau petilasan Prabu Siliwangi dipercaya oleh orang Sunda berada di beberapa tempat, antara lain bekas keraton Leuwi Sipatahunan, ada yang menyebutnya di Leuweung Sancang (Garut), Tampomas (Sumedang), Majalengka, Ciamis, Rancamaya Bogor, Gunung Gede Lereng Gunung Salak (Bogor), Banten, Curug Puntang (Gunung Malabar, Bandung) dan sumur Jalatunda (Brebes).

Tak ada ciri-ciri khusus yang menunjukkan keaslian atau kisah yang memastikan bahwa salah satu dari makam-makam tersebut adalah benar-benar makam asli Prabu Siliwangi.

Bagi masyarakat Sunda, nama Siliwangi menjadi makna tersendiri. Beliau adalah Raja Pajajaran yang paling tersohor, pandai menyejahterakan rakyat, berlaku adil, dan bijaksana. (Lihat Sanghyang Siksa Kandang Karesian).

Salah satu fragmen ketika Sang Prabu Siliwangi bertemu dengan putranya, “berdebat” soal keyakinan, diceritakan:

Coba kau pegang ujung kayu kaboa di sebelahmu, anakku, dan aku akan pegang ujung yang satunya,” ujar Sang Prabu Siliwangi di hutan Sancang Garut manakala kembali terkejar Kian Santang, putranya sendiri.

Syahdan menurut cerita lisan, Prabu Siliwangi diminta oleh Kian Santang agar memeluk ageman Islam.

Adapun Prabu Siliwangi yang Raja Pajajaran, hanya bersabda: “Aku memberi kebebasan bagi siapa pun untuk memilih agama. Yang aku cemaskan adalah keserakahan orang. Setelah memilih yang satu, lalu berganti-ganti lagi memilih yang baru, begitu seterusnya. Sementara bagi seorang raja, keyakinan adalah sebuah kehormatan dan tidak dapat berganti-ganti seperti orang dengan mudahnya membalikkan telapak tangan,

Maka, saling memegang ujung ranting kayu kaboa sudah merupakan simbul bahwa dua ujung itu tak akan pernah bertemu.

Kayu kaboa menjadi saksi utama perjanjian antara Kian Santang dengan Prabu Siliwangi. Sambil memegang sepotong kayu kaboa, Prabu Siliwangi menyatakan kepada Kian Santang bahwa dirinya tidak akan dapat mengikuti ajakan Kian Santang karena akan ngahiang (mokşa) bersama anak buahnya yang setia.

Sesudah Sang Prabu selesai berbicara, wujudnya menghilang seketika dan sejak itulah orang Sunda meyakini bahwa Prabu Siliwangi ngahiang.

Kaboa (Aegiceras Corniculata), salah satu spesies mangrove, yaitu tumbuhan yang khas di Sancang (Di pesisir pantura, sekitar Jepara telah dibudidayakan).

Semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian pohon mencapai 6 m. Akar menjalar di permukaan tanah.

Kulit kayu bagian luar abu-abu hingga coklat kemerahan, bercelah, serta memiliki sejumlah lentisel.

Daunnya berkulit, terang, berwarna hijau mengkilat pada bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah, seringkali bercampur warna agak kemerahan.

Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion, dengan masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 8-12 mm.

Buah berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang), permukaan halus, membengkok seperti sabit. Dalam buah terdapat satu biji yang membesar dan cepat rontok.

Kaboa memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas, tanah dan cahaya yang beragam. Mereka umum tumbuh di tepi daratan daerah mangrove yang tergenang oleh pasang naik yang normal, serta di bagian tepi dari jalur air yang bersifat payau secara musiman.

Perbungaan terjadi sepanjang tahun, dan kemungkinan diserbuki oleh serangga. Biji tumbuh secara semi-vivipar, dimana embrio muncul melalui kulit buah ketika buah yang membesar rontok.

Biasanya segera tumbuh sekelompok anakan di bawah pohon dewasa. Buah dan biji telah teradaptasi dengan baik terhadap penyebaran melalui air.

Kulit kayu yang berisi saponin digunakan untuk racun ikan. Bunga digunakan sebagai hiasan karena wanginya. Kayu untuk arang. Daun muda dapat dimakan.

Aegiceras corniculatum telah diketahui berpotensi sebagai sumber senyawa anti bakteri. Penelitian dilakukan pada daun mangrove Aegiceras corniculatum sebagai sumber bahan bioaktif anti bakteri Vibrio harveyi dan Vibrio parahaemolyticus.

Sampel diekstrak dengan metanol. Uji anti bakteri terhadap Vibrio harveyi dan Vibrio parhaemolyticus dilakukan dengan metode difusi agar dengan konsentrasi 5000, 10.000, dan 20.000 ppm dengan pelarut aquades.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun A. corniculatum mampu menghambat V. parahaemolyticus pada semua konsentrasi dengan zona hambatan 0,275-0,55 mm. Namun ekstrak ini tidak menunjukkan daya hambat terhadap laju pertumbuhan bakteri V. Harveyi.

Masyarakat percaya, bahwa setelah ngahiang, Prabu Siliwangi mindarupa (berubah wujud) menjadi harimau putih, sedangkan pengikutnya menjadi harimau belang manjang yang disebut Maung Sancang.

Warna garis-garis hitam horizontal yang memanjang dari arah kepala ke bagian ekor membedakan Maung Sancang dan Maung Lodaya, penghuni asli Sancang yang bergaris-garis hitam vertikal.

Konon harimau putih itu jelmaan Prabu Siliwangi bersemayam di sebuah goa besar bernama Guha Garogol dan sesekali merenung menyendiri di puncak Karang Gajah di dekat muara Sungai Cikaingan.

Adapun Maung Sancang mendiami rumpun-rumpun kayu kaboa, yang terdapat di pantai Samudra Hindia kawasan Sancang.

Prabu Siliwangi kadang-kadang menampakkan diri dalam wujud harimau putih dan menghuni Guha Garogol di tengah hutan Sancang. Para nelayan sering melihat harimau putih itu pada senja hari sedang ngadakom di puncak Karang Gajah. Karang tinggi besar di pantai curam penuh gelombang, sebelah timur muara Sungai Cipangisikan.

Para pengikutnya berubah menjadi harimau belang memanjang. Harimau belang memanjang inilah yang disebut Maung Sancang dan suka “bersemayam” di kayu kaboa.

Di Hutan Sancang inilah, diyakini sebagai tempat persinggahan akhir dan petilasan Sang Prabu sebelum beliau mokşa.

Sampai abad ke-21 ini, kepercayaan tersebut tetap dipegang teguh. Masyarakat Pameungpeuk, yaitu sebuah kota kecamatan di tepi perbatasan hutan Sancang, kerap terdengar orang melakukan “pertikahan” (pernikahan) dengan “warga” Hutan Sancang.

Dengan kata lain, banyak manusia kawin dengan harimau. Banyak orang tua di Garut Selatan yang “bisa” menikahkan manusia dengan harimau.

Bila diurut dari “pelarian” kejar-mengejar antara ayah dan anak itu, petilasan akan didapat dimulai dari wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur yang merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Pajajaran (dekat dengan ibu kota Negeri Pajajaran, yaitu Kota Pakuan atau Bogor sekarang).

Di puncak Gunung Gede/Pangrango, ada petilasan Prabu Siliwangi. Begitu pun di puncak dan lereng Gunung Salak. Bahkan masyarakat Hindu telah membangun Kuil Prabu Siliwangi, dengan alasan, di lereng Gunung Salak tempat kini dibangun kuil, merupakan tempat suci Prabu Siliwangi. Orang Hindu merasa perlu menghormati Prabu Siliwangi, sebab Beliau katanya merupakan raja pertama yang menyebarkan Hindu di Jawa Barat (?).

Di Sukabumi Selatan ada gua bernama Kutamaneuh. Dipercaya penduduk setempat sebagai tempat ngahiang Prabu Siliwangi.

Yang paling mendekati sejarah yang disusun para ahli, petilasan Prabu Siliwangi ada di Bukit Badigul Rancamaya. Bahkan menurut ahli sejarah, Prabu Siliwangi tidak ngahiang tetapi mati biasa karena tua dan jasadnya dimakamkan di Bukit Badigul Rancamaya Bogor. Lalu 12 tahun kemudian diperabukan. Sampai dengan hari ini, ke Bukit Badigul masih sering didatangi oleh para peziarah, kendati mesti memasuki kawasan real estate Rancamaya Resort.

Di wilayah Kabupaten Bandung juga didapat petilasan Prabu Siliwangi, misalnya di Gunung Padang dan di Kawah Cibuni. Tiap hari-hari tertentu, banyak orang datang untuk bertapa.

Demikian pula di wilayah Kabupaten Kuningan. Di objek wisata Cibulan misalnya, ada tempat bertapa, sebab di sana ada batu keramat yang diyakini bekas Prabu Siliwangi duduk melepas lelah. Begitu lekatnya nama Prabu Siliwangi di hati masyarakat Sunda sehingga bila orang berkata Pajajaran, mesti dikaitkan dengan nama Siliwangi.

Ketika terjadi “perbenturan” masalah keyakinan, Sang Prabu beserta seluruh keluarga kerajaan yang setia sudah memutuskan melepaskan segala atribut ke bangsawanannya dan memilih menjadi rakyat biasa, hal ini dilakukan untuk menghindari perasaan bersalah dari sang Raja terhadap rakyatnya yang setia, mereka semua sepakat untuk melakukan hal itu, dan kalangan keluarga serta pengikutnya yang setia berusaha untuk melidungi nama baik pemimpinnya, mereka menyebarkan berita bahwa pemimpinnya “ngahyang”, dengan berita tersebut pengikut setia sang Raja yang jauh dari pusat pemerintahan tentu diharapkan tidak akan mencari lagi sang rajanya.

Dari logika tersebut di atas tentu sekarang sang raja telah wafat, dan keluarga dekatnya sudah menghilangkan identitas kebangsawannya dan memilih menjadi rakyat biasa, yang mengakibatkan putusnya tali sejarah keberadaan keturunan kerajaan, serta memilih mengasingkan diri, dan tempat pengasingan tersebut sengaja disembunyikan oleh pengikut setianya sampai akhirnya ditelan waktu dan orang Sunda biasa menyebutnya ngahyang.

Seperti umumnya manusia, yang dibatasi oleh usia, dengan kata lain siapapun dia, termasuk seorang raja sekalipun, tentunya akan meninggal dunia. sehingga kita tidak akan bisa menemukan jejak Prabu Siliwangi berupa makam “resmi”. Kesimpulannya Makam sang Raja akan sangat sulit untuk dibuktikan keberadaannya kalau tidak bisa dikatakan mustahil.

Terlepas dari semua itu, semua tulisan mengenai Prabu Siliwangi perlu dihargai, dipelihara dan diambil contoh baiknya. Demikianlah yang terjadi terjadilah.

***

Sumber penulisan:

1. ________.Babad Tanah Djawi versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana (1925);

2. __________. Wawacan Sajarah Galuh. Proyek Pembinaan dan Pengembangan, Perpustakaan Nasional, Jakarta. 2003.

3. Atja Drs., Tjarita Parahjangan, Jajasan Kebudajaan Nusalarang, Bandung. 1968;

4. Ayatrohaedi.Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Pustaka Jaya, Jakarta. 2005;

5. Bandung Mawardi Telusur Babad Tanah Jawi, Kabut Institut Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan, Suara Merdeka 17 Mei 2009.

6. Dalimartha, Setiawan. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Trubus Agriwidya, Ungaran. 1999.

7. Danasasmita, Saleh [et al.]. Sewaka Darma (Kropak 408) ; Sanghyang Siksa Kandang Karesian (Kropak 630) ; Amanat Galunggung (Kropak 632) (transkripsi dan terjemahan, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bandung. 1987.

8. Danasasmita, Saleh, Sejarah Bogor, Pemda DT II Bogor. tanpa tahun.

9. Danasasmita, Saleh. Ya Nu Nyusuk Na Pakwan (Mencari Gerbang Pakuan), dalam Mencari Gerbang Pakuan dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda. Pusat Studi Sunda. Bandung. 2006.

10. Ekadjati, Edi S., Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah), Pustaka Jaya, Bandung. 2005.

11. Ekajati. Edi S. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. 2005.

12. Hariwijaya, M. & Ratih Sarwiyono. Serat Jåyåbåyå , Media Wacana. Yogyakarta. Edisi Revisi Juli 2008.

13. Hembing Wijayakusuma, Prof. H. M. Hidup Sehat Cara Hembing. Elex Media Komputindo. Jakarta. 1997.

14. Kartakusuma, Richadiana, Situs (Kabuyutan) Kawali di Ciamis Jawa Barat: Ajaran Sunda di dalam Tatanan Tradisi Megalitik, dalam KIBS (Kongres Internasional Budaya Sunda) jilid I. Yayasan Kebudayaan Rancage. Bandung. Tahun tidak tercatat.

15. Kartakusuma, Richadiana, Situs Kawali: ajaran Sunda dalam tradisi mégalitik? dalam Sundalana 4: 41-64. Pusat Studi Sunda. Bandung. 2005.

16. Mangkudimedja, R.M., Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Departemen P dan K. Jakarta. 1979.

17. Muhlisah, Fauziah. Tanaman Obat Keluarga. Penebar Swadaya. Jakarta. 1999.

18. Mulder, Niels. Kebatinan Dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa: kelangsungan dan perubahan kulturil. Gramedia. Jakarta. 1983.

19. Padmopuspito, Ki. J. Pararaton; Teks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia. Taman Siswa, Yogyakarta. 1966.

20. Poerbatjaraka. Kapustakan Jawi. Djambatan. Jakarta. 1964.

21. Poesponegoro, M.D., Notosusanto, Nugroho. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Balai Pustaka, Jakarta. 1990.

22. Slamet Muljana. Prof. Dr, Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang, tahun tidak jelas). LKIS. Yogyakarta. 2005.

23. Slamet Muljana. Prof. Dr, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya.. Bhratara. Jakarta. 1979.

24. Soewarno. Moh. Hari, Ramalan Jåyåbåyå Versi Sabda Palon. Yudha Gama Corp, Jakarta. 1982.

25. Sultan Hamengku Buwono X. Merajut Kembali Keindonesiaan Kita. Gramedia, Jakarta. 2008.

26. Tampubolon, Oswald T. Tumbuhan Obat. Bhratara, Jakarta. 1995.

27. Tjetjep, SH dkk. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, Bandung. tanpa tahun.

28. Tjondronegoro, Sediono M. P.. Gunawan Wiradi, 2 Abad Penguasaan Tanah Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 2008.

29. Wahju, Amman N. Waosan Babad Galuh: Dari Prabu Ciungwanara hingga Prabu Siliwangi (Naskah Kraton Kasepuhan Cirebon), Penerbit Pustaka. Jakarta. 2009.

30. Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung. 1987.

31. Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten. Bandung. 2005.

32. Zoetmulder, P. J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Djambatan – KITLV Jakarta. 1983.

* * * * * *

Paripurna sudah babaran dongeng arkeologi & antropologi “Magawe Rahayu Magawe Kerta”:
(Bagian Pertama. Kawali I On 23 Desember 2010 at 01:51 cantrik bayuaji said: HLHLP 072)
(Bagian Kedua. Kawali II On 25 Desember 2010 at 00:23 cantrik bayuaji said: HLHLP 073)
(Bagian Ketiga. Kawali III On 28 Desember 2010 at 11:40 cantrik bayuaji said: HLHLP 076)
(Bagian Keempat. Kawali IV On 31 Desember 2010 at 06:39 cantrik bayuaji said: HLHLP 079)
(Bagian Kelima, SSKK Parwa kahiji On 2 Januari 2011 at 06:29 cantrik bayuaji said: HLHLP 081)
(Bagian Keenam, SSKK Parwa kadua On 4 Januari 2011 at 06:01 cantrik bayuaji said: HLHLP 082)
(Bagian Ketujuh, SSKK Parwa katilu, On 12 Januari 2011 at 13:29 punakawan bayuaji said: HLHLP 086)
(Bagian Kedelapan, SSKK Parwa kaopat On 14 Januari 2011 at 06:07 cantrik bayuaji said: HLHLP 087) (Dongeng Sisipan, Satriå Piningit Sang Ratu Adil, On 16 Januari 2011 at 00:07 cantrik bayuaji said:HLHLP 088)
(Bagian Kesembilan, Uga Wangsit Siliwangi I On 17 Januari 2011 at 22:37 cantrik bayuaji said: HLHLP 089 (Bagian Kesepuluh, Uga Wangsit Siliwangi II On 20 Januari 2011 at 05:22 cantrik bayuaji said: HLHLP 090)
(Bagian Kesebelas, Uga Wangsit Siliwangi III, On 21 Januari 2011 at 03:50 cantrik bayuaji said: HLHLP 091)
(Bagian Keduabelas, Menelisik Uga Wangsit Siliwangi, On 23 Januari 2011 at 21:41 cantrik bayuaji said: HLHLP 092) (Bagian Ketigabelas, Prabu Siliwangi Mokşa, On 24 Januari 2011 at 23.11 cantrik bayuaji said: HLHLP 093)

Sebagaimana sabda Sang Prabu Siliwangi kepada rakyat Pajajaran ketika beliau lengser meninggalkan istana:
Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu (Hari ini, perjalanan kita hanya sampai di sini), maka demikian juga halnya Dongeng Arkeologi & Antropologi Magawe Rahayu Magawe Kerta, Lalakon magawe rahayu magawe kerta ngan nepi oge.

Sakitu nu kapihatur, pun paralun nyuhun pangapunteun bilih aya nu lepat boh tina seratan atanapi panghartosan. Simkuring seja nguningakeun supados urang sadaya tiasa ngamumule budi sareng daya (budaya) karuhun/sesepuh urang. Mugi ieu seratan tiasa mamaparin mangpaat kanggo urang sadaya.

Gemah Ripah Repeh Rapih, Runtut Raut Sauyunan, Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wangian sangkan dugi kana Karahayuan.

Sing kabeh pada bakti ka Batara Seda Niskala

Mangga nyanggakeun. Rampes

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 17:47  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalammualaikum
    Salam
    Rahayu
    Sedulur kabeh
    Menarik nih kajiannya,
    tak perlu mencari
    Tak perlu dicari
    Bila yang bertemu ucapkan Alhamdulilah
    Bila yang belum bertemu ucapkan insyaallah
    Bukan bertemu atau tak bertemu
    Apa artinya kita bertemu
    Untuk apa kita bertemu
    Kalau sudah bertemu??
    Adakah perubahan
    Adakah nilai yang bisa diambil
    Biarkan misteri tetaplah misteri
    Dia akan datang dengan tiba tiba
    Dia akan datang tanpa disangka sangka
    Darimana datangnya??
    Tak seorang pun mengetahui..
    Sekarang, esok atau lusa
    Bulan ini, bulan depan atau tahun depan..
    Semua mungkin..
    Semua tak mustahil
    Semua tak pasti
    Yang pasti hanyalah kematian
    Menghadap Sang Ilahi Robbi
    Coba kalau semua berpikir
    Coba kalau semua bertujuan sama
    Tak hanya rakyat tapi juga pejabat
    Tak hanya birokrat tapi juga pengusaha
    Tak hanya rakyat awam tapi juga para cerdik pandai
    Tapi..apa yang terjadi??
    Apa yang kita saksikan??
    Berlomba lomba dalam urusan dunia
    Berlomba lomba dalsm urusan perut
    Berlomba lomba dalam urusan depan pantat
    Hahahaha…
    Sedikit yang ingat
    Sekali lagi Sedikit yang mengingat…
    Kebanyakan semua banyak berkutat
    Untuk urusan urat dan pantat
    Untuk urusat perut dan syahwat
    Kalau diterus teruskan bakalan kiamat.
    Hanya orang gila yang tak kumat
    Karena dibalik kegilaan ada nikmat
    Hahahahaha…
    Salam Paitun Gundul 87
    Gondal Gsndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: