Seri MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA [Bagian Pertama]

–Prasasti Kawali dan Kitab Sanghyang Siksakanda (Ng) Karesyan–

Sampurasun,

Angin peuting pangnepikeun salam kuring.

Puji anu janten mimiti ngamugi-mugi ka Gusti Nu Maha Suci. Gusti Nu Mahawisésa. Puja minangka bubuka carita, urang sanggakeun ka Pangéran Nu Maha Kawasa, kalayan syukur kapihatur ka Gusti Nu Maha Ngersakeun, Sang Hyang Maha Keresa, Gusti Nu Maha Murbeng Alam. Nuhun.

***

Kali ini cantrik Bayuaji hendak merajut kembali benang dongeng yang terputus, dongeng yang terakhir telah sampai pada dongeng tentang Ajaran Budhi, Jati Sunda pada Masyarakat Sunda, terutama semasa kejayaan Sang Prabu Siliwangi Niskala Wastu Kancana di Kawali Tatar Sunda.

Sebagaimana telah ditulis pada HLHLP-032 [On 12 Oktober 2010 at 06:38 cantrik bayuaji said: ], “AJARAN BUDHI” PADA MASYARAKAT PASUNDAN; kemudian pada HLHLP-035 [On 18 Oktober 2010 at 10:25 cantrik bayuaji said: ] “SUNDA, JATISUNDA”

Pusat Pemerintahan Sunda sampai tahun 1482 berada di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333-1482 adalah Zaman Kawali. Di dalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda.

Nama Kawali diabadikan di dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di “Astana Gede ” Kawali. Prasasti tersebut menegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” yang berarti keraton yang memberikan ketenangan hidup.

Ibukota kerajaan yaitu Kawali diduga muncul pada abad ke-14 yang semakin mendesak kedudukan Galuh dan Saunggalah, Ibukota Kawali berlokasi sangat strategis karena berada di tengah segitiga Galunggung, Saunggalah dan Galuh.

Sejak abad XIV Galuh dan Sunda kerap disangkut pautkan dengan Kawali, bahkan dua orang Raja Sunda dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).

Kisah perpindahan ibu kota Sunda tentu memiliki alasan yang masuk akal, sangat terkait dengan pengembangan wilayah dan keamanan negara.

Ketika masa Citraganda memang diwilayah Kawali sudah lebih maju dibandingkan Pakuan, hingga pusat pemerintahan pada periode berikutnya dialihkan ke Kawali, sedangkan Pakuan menjadi kerajaan daerah.

Tradisi perpindahan ibukota terjadi pula pada masa Purnawarman di Tarumagara dan Tarusbawa pada masa awal pemerintahannya. Namun peristiwa ini ada juga yang mengaitkan dengan sifat masyarakat Sunda yang agraris – sangat theis dan percaya terhadap kekuatan alam dan Penciptanya, sehingga perpindahan ibukota dari satu daerah kedaerah lainnya tak dapat dilepaskan dari adanya petunjuk sebagaimana didalam peristiwa spiritualnya.

Seringnya suatu masyarakat berpindah-pindah demikian didalam masyarakat modern sering ditafsirkan sebagai masyarakat nomaden, terutama ketika membandingkan masyarakat Sunda di Sukabumi Selatan, tepatnya di Cipta Gelar, namun yang perlu dipahami dalam masalah pemerintahan Sunda adalah latar belakang perpindahannya bukan hanya melihat sifatnya.

Pusat pemerintahan yang berpindah-pindah bagi generasi sesudahnya berakibat sulitnya melacak peninggalan masa lalu, seolah-olah ‘urang sunda’ tidak memiliki karya besar, sangat rentan untuk dinisbikan, terutama ketika daerah tersebut sudah ‘kalindih’ kegiatan ekonomi atau menjadi daerah pemukiman, seperti yang dialami situs Rancamaya dan Kota Bogor.

Kesulitan demikian berakibat pula banyaknya spekulasi tentang siapa yang pernah berkuasa didaerah tersebut. Misalnya, muncul spekulasi tentang kekuasaan Erlangga yang konon sampai menguasai tatar Sunda. Kondisi diatas juga dapat dirasakan ketika membaca buku dalam versi lainnya, terutama klaim yang menyatakan bahwa tanah Sunda dibagian barat pernah menjadi bagian dari kekuasaan Sriwijaya.

Pertama, klaim adanya kekuasaan Erlangga diketahui setelah diketemukan Prasasti Cibadak di sungai Citatih, diperkirakan dibuat pada abad ke 15.

Dalam kenyataannya Prasasti tersebut menjelaskan tentang Sri Jayabupati, raja Sunda yang ke-20.

Ternyata ia beristrikan putri Darmawangsa dari Jawa Timur, sehingga ia pun diberi gelar yang mirip dengan gelar yang diberikan kepada Erlangga.

Kedua, klaim tentang kekuasaan Sriwijaya di hubungkan dengan peninggalan purbakala yang berada di pesisir Banten. Daerah tersebut sampai saat ini masih diteliti tentang kaitannya dengan Salakanagara.

Dalam sejarah Sunda, Salakanagara dianggap sebagai awal dari kerajaan yang berada di tatar Sunda, namun jika menyangkut masalah Pulasari, maka tidak dapat pula dilepaskan dari eksisteni raja Pajajaran terakhir.

Perpindahan pusat pemerintahan yang akhirnya menyulitkan pencarian jejak masa lalu, dialami juga ketika mencari jejak muasal Sumedang. Padahal Sumedang lebih akhir dibandingkan kerajaan Sunda lainnya.

Sampai saat ini sangat sulit menetapkan pusat-pusat pemerintahannya, kecuali yang saat ini digunakan sebagai Museum Prabu Geusan Ulun.

Para ahli sejarah dalam menafsirkan sejarah Sunda menyimpulkan bahwa antara Sunda dan Galuh pada tahun 1333 sampai dengan tahun 1482 masehi sangat terkait erat dengan Kawali. Pakuan pada masa itu sudah menjadi kerajaan daerah, sedangkan Galuh fungsinya dianggap sudah berakhir.

Hal tersebut akibat perkawinan antara keturunan Sunda dan Galuh. Kesamaran demikian terjadi pula ketika Sunda beribukota di Kawali. Namun Galuh dinyatakan benar-benar dinyatakan hancur pada masa penyerangan Syarif Hidayat ke Talaga.

Kisah pemindahan ibukota Sunda terjadi pada masa Prabu Ajiguna Wisesa (1333 – 1340) dan berakhir pada masa kekuasaan Jayadewata, karena pada tahun 1482 M ia memindahkan kembali ibukotanya ke Pakuan.

Para penguasa Sunda di Kawali memiliki nama yang harum dan sangat dikenal masyarakat. Mungkin hal ini akibat dari sifat masyarakatnya Kawali dan sekitarnya yang homogen dibanding dengan masyarakat Pakuan, sehingga berita lisan pun dapat praktis diteruskan kegenerasi beikutnya.

Hal yang berbeda dengan masyarakat di wilayah Pakuan cenderung heterogen dan memiliki kegiatan ekonomi yang relatif tinggi dibandingkan Kawali, sehingga agak kurang peduli, atau dapat dikatakan sangat sedikit yang peduli terhadap masalah sejarahnya dimasa lalu.

Penguasa Kawali yang terkenal, yaitu Lingga Buana, Niskala Wastu Kencana dan Jaya Dewata. Didalam sejarah lisan, ketiga raja ini kerap dikaitkan dengan masalah sejarah masa lalu di tatar Sunda.

Seolah-olah Sunda tidak memiliki raja lainnya selain yang ketiga penguasa ini. Selain itu, banyak dari keturunannya yang juga menjadi tokoh dalam kisah yang lain.

Kisah ketiga raja dimaksud adakalanya pacaruk satu dengan lainnya. Masyarakat sulit membedakan, adakalanya ketiganya diistilah dengan sebutan Prabu Silihwangi. Memang ketiganya memiliki nama dan kesejarahannya yang Wangi (harum), sesuai dengan gelarnya, yakni Prabu Wangi; Prabu Wangisutah; dan Prabu Silihwangi.

Sesuai dengan amanat dalam prasasti Kawali yang dibuat oleh Wastu Kancana, bahwa secara ringkas kesejahteraan dan kejayaan negara harus melalui dua jalan utama, yaitu : magawe rahayu dan magawe kerta. Ini adalah Wangsit Prabu Niskala Wastu Kancana “Siliwangi”.

Prasasti

Karya besar yang dipersembahkan untuk generasi sesudah Prabu Niskala Wastu Kancana diabadikan dalam dua buah prasasti yang ditemukan di Kawali.

Prasasti tersebut sangat membantu generasi sesudahnya untuk mengenal keberadaan kerajaan Sunda di Kawali.

Kesejarahan Sunda di Kawali dikukuhkan dengan bukti otentik yang dimuat dalam Prasasti Kawali 1 yang terletak di Astana Gede. Prasasti ini diyakini merupakan tanda kehadiran Wastu Kencana.

Isi Prasasti tersebut, sebagai berikut:

Prasasti Kawali 1 :

// nihan tapa kawa

li nu siya mylia

bhagya parebu raja wastu

nu mangadeg di kuta kawa

li nu mahayu na kadatuan

surawisesa nu marigi sa

kuliling dayeuh nu najur sakala

desa aya ma nu pa(n)deuri pakena

gawe rahhayu pakeun heubeul ja

ya dina buana… //

[yang berada di kawali ini adalah yang mulia pertapa yang berbahagia Prabu Raja Wastu yang bertahta di Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit (pertahanan) sekeliling ibu kota, yang mensejahterakan (memajukan pertanian) seluruh negeri. Semoga ada (mereka) yang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia].

Prasasti Kawali 1 tentu tidak bisa dipisahkan dari Prasasti Kawali Ke 2. Isinya mengenai nasehat Prabu Wastu Kencana kepada para penerusnya. Prasasti tersebut sangat akrab disebuat Wangsit atau Wasiat Wastu Kencana.

Prasasti Kawali 2 :

//Aya ma

nu ngeusi bha

gya kawali ba

ri pakena kere

ta bener

pakeun na(n)jeur

na juritan.//

[semoga ada (mereka) yang kemudian mengisi (negeri) Kawali ini dengan kebahagiaan sambil membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati agar tetap unggul dalam perang]

Bagian tepian:

//haywa diponah ponah

haywa sicawuh cawuh

bhaga neker

bhaga angger//

[Jangan dimusnahkan

Jangang sewenang-wenang

Ia dihormati, ia tetap.

Ia menginjak, ia roboh.]

Prasasti tersebut merupakan wasiat dari Niskala Wastu Kancana kepada para generasi sesudahnya dan penerusnya agar dapat mempertahankan negara dengan cara berbuat kebajikan kepada warganya.

Wasiat ini benar-benar memiliki makna yang universal. Mungkin jika diterapkan dalam teori kepemimpinan dapat memberikan arah yang jelas tentang sosok pemimpin dalam melaksanakan amanahnya.

Wangsit ini berisi tentang wasiat agar selalu berbuat kebajikan (pakena gawe rahayu) dan kesejahteraan yang sejati (pakena kereta bener), konon perbuatan ini jika dilaksanakan dapat menjadikan sumber kejayaan dan kesentausaan segenap manusia.

Wasiat di dalam prasasti yang kedua memiliki makna yang universal. Mungkin jika diterapkan dalam teori kepemimpinan dapat memberikan arah yang jelas bagi perilaku pemimpin dalam melaksanakan amanah sehingga dapat dicintai rakyatnya.

Wastu Kancana juga melekat dihati masyarakat akan kesalehan sosialnya. Masyarakat Sunda mengenal ajaran atau nasehat yang ia berikan, berupa uraian tentang kebajikan dan kesejahteraan sejati sebagai mana yang terkandung di dalam ajaran Siksa Kanda (Ng) Karesyan, kemudian dikenal dengan sebutan “Wangsit (Wasiat) Wastu Kancana”.

Mungkin karena ajarannya ini pula yang kemudian mendapat gelar Prabu Wangisutah. Wastu Kencana didalam alur Sejarah Sumedang dan Galuh, disebutkan juga sebagai leluhur Pangeran Santri dan Pucuk Umum Sumedang.

Kumaha terusanana ieu lalakon

Insya Allah, kita lanjutkan pada wedaran berikutnya.

Nuhun

Sampurasun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 17:47  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalammualaikum
    Salam
    Rahayu
    Sedulur kabeh
    Menarik nih kajiannya,
    tak perlu mencari
    Tak perlu dicari
    Bila yang bertemu ucapkan Alhamdulilah
    Bila yang belum bertemu ucapkan insyaallah
    Bukan bertemu atau tak bertemu
    Apa artinya kita bertemu
    Untuk apa kita bertemu
    Kalau sudah bertemu??
    Adakah perubahan
    Adakah nilai yang bisa diambil
    Biarkan misteri tetaplah misteri
    Dia akan datang dengan tiba tiba
    Dia akan datang tanpa disangka sangka
    Darimana datangnya??
    Tak seorang pun mengetahui..
    Sekarang, esok atau lusa
    Bulan ini, bulan depan atau tahun depan..
    Semua mungkin..
    Semua tak mustahil
    Semua tak pasti
    Yang pasti hanyalah kematian
    Menghadap Sang Ilahi Robbi
    Coba kalau semua berpikir
    Coba kalau semua bertujuan sama
    Tak hanya rakyat tapi juga pejabat
    Tak hanya birokrat tapi juga pengusaha
    Tak hanya rakyat awam tapi juga para cerdik pandai
    Tapi..apa yang terjadi??
    Apa yang kita saksikan??
    Berlomba lomba dalam urusan dunia
    Berlomba lomba dalsm urusan perut
    Berlomba lomba dalam urusan depan pantat
    Hahahaha…
    Sedikit yang ingat
    Sekali lagi Sedikit yang mengingat…
    Kebanyakan semua banyak berkutat
    Untuk urusan urat dan pantat
    Untuk urusat perut dan syahwat
    Kalau diterus teruskan bakalan kiamat.
    Hanya orang gila yang tak kumat
    Karena dibalik kegilaan ada nikmat
    Hahahahaha…
    Salam Paitun Gundul 87
    Gondal Gsndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: