Seri MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA

Sampurasun,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA [Bagian Kedua]

(Bagian Pertama On 23 Desember 2010 at 01:51 cantrik bayuaji said: HLHLP 072)

SITUS KAWALI

[Wasiat Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji]

[Sebagai penghormatan kepada Guru: Sampurasun Ambu Wirumananggay Richadiana Kartakusuma, abdi kataji ku pedaran Ambu perkawis kabuyutan puseur dangiang Galuh; jalaran kitu abdi nyuhunkeun widi bade copi seratan tadi, hatur nuhun sateuacanna, Wassalam. Bagus Bayuaji]

Kabuyutan yang merupakan pusat keagamaan karakter khas Tatar Sunda, bentuk bangunannya jauh berbeda dengan candi yang indentik bercorak Hindu-Budha.

Dengan kecenderungan kemegahan artefak-artefaknya yang bersifat sangat artifical. Sedangkan kabuyutan sangat alami yang kini kerap ditemukan telah berupa lahan bukit dengan sejumlah besar bongkah dan kerakal andesit seakan terserak memenuhi suatu lahan perbukitan, bukit, gunung dan dataran tinggi; dan bahkan sepintas tidak tampak sebagai bangunan keagamaan melainkan bukit yang dipenuhi batu.

Kenyataan bahwa pusat pemujaan masyarakat Sunda di masa lalu hampir selalu terdapat pada suatu bukit adalah sesuai kepada tujuan dan fungsi pokoknya yakni puseur dangiang, yang diyakini sebagai tahta persemayaman leluhur, karuhun. Maka itu bukit atau gunung dimanapun berada dipercaya adalah paragi ngahiyang (parahiyangan).

Gunung, bukit atau dataran tinggi yang umumnya terletak sebagai batas desa atau batas suatu pemukiman identik dengan kabuyutan itu sendiri. Oleh karena itu setiap tempat yang disebut kabuyutan walaupun dilandasi oleh kepercayaan yang sama namun bentuk dan karakter pemujaannya memiliki ciri khusus. Hal itu tidak sekedar dirujuk sebagai alasan dan penempatan situs belaka melainkan konsep pengetahuan dan keagamaan masyarakat Sunda. Bahwa adanya konsep pemilihan dan penempatan kabuyutan suatu selain dengan dasar pertimbangan lingkungan (ekologis: sungai, bukit: lahan ekologis yang sarat sumberdaya) juga keyakinan pemangku budaya.

Betapa keliru jika kepurbakalaan diukur dan dinilai melalui penetrasi Hindu Budha yang menimbulkan kesan seakan-akan segenap masyarakat Nusantara memeluk Hindu-Budha. Padahal kenyataannya sama sekali tidak demikian. Sebagaimana diamati CM. Pleyte (cf. Danasasmita l975:37) bahwa: “Hinduisme i.e. Sivaism made its entry into the Pasundan but wether it ever became popular is rather doubtful,, as not more about half a score of images belonging to the Sivaitic pantheon have been discovered, whilst such temples and monasteries as ain Middle and Eastern Java sought for in vain. It is fair to conclude therefore, that while a few of the native princes did perhaps adopt the foreign religion, the bulk of the population remained true to their original creed founded on animism and ancestor worship”.

Bahwa masyarakat Sunda akrab dengan kehidupan berladang yang identik dengan sebutan masyarakat pahuma (peladang), tidak memberi peluang subur untuk pertumbuhan kultur Hindu melainkan sebaliknya tradisi megalitiklah yang tetap bertahan sebagai esensi dari kehidupan spiritualnya. Dengan sistem keyakinan kepada Leluhur yang disebut hiyang merupakan unsur pemujaan tertinggi senantiasa mewarnai kabuyutan di Tatar Pasundan.

Oleh karena itu bangunan keagamaan yang didirikannya memiliki ciri dan karakter yang sesuai latar belakang budaya pendukungnya. Mungkinkah (kabuyutan) yang identik dengan istilah sunda wiwitan mengacu kepada sebagian besar sisa aktivitas budaya yang memperlihatkan kentalnya unsur tradisi megalitik pada hakekatnya mencerminkan adanya kesinambungan dan pengakuan leluhur terhadap berlangsungnya kehidupan.

Dengan kata lain kabuyutan dimengerti sebagai kepribadian manusia Sunda di dalam dimensi waktu. Rangkaian tingkah laku yang terbentuk dari endapan pengalaman pribadi yang dimilikinya di masa lampau? Dipilihnya corak tradisi megalitik dipahami penstrukturan pola kepribadian sejalan motivasi dan kemampuannya untuk menjembatani dirinya dan masa lampau serta memberi arah kepada kehidupan sesuai tuntutan sosial budaya dan keagamaan? Maka harus dicari bentuk-bentuk pengulangan tingkah laku yang direpresentasikan ke dalam simbol-simbol keagamaan tentu saja khas Sunda.

Dua kabuyutan di kabupaten Ciamis yang cukup menarik adalah Kawali (desa Kawali-kecamatan Kawali) dan kabuyutan Susuru (desa Kertabumi Bojong) kabupaten Ciamis yang merupakan kawasan paling timur di provinsi Jawa Barat (geografis sekarang).

Dua dari sejumlah situs di kabupaten Ciamis yang dikenal disebut kabuyutan, yaitu bangunan keagamaan (pusat upacara) biasa ditemukan pada suatu bukit, gunung, dataran tinggi atau lahan tertinggi dari suatu lingkungan sekitarnya. Bentuk bangunannya berupa teras berundak yang disusun sesuai mengikuti lahan dan lingkungan alam yang ditempatinya (mengimposisi), disusun makin ke atas dan berakhir pada suatu pundenyang terletak di paling atas sebagai lahan paling suci.

Di situs Kawali ditemukan sejumlah batu besar berupa bongkah dan batu tegak enam diantaranya bergoreskan aksara dan bahasa Sunda Kuno. Dari keenam prasasti itu, dua batu tegak bertuliskan sanghiyang lingga hiyang; sanghiyang lingga bingba, bukti bahwa situs kabuyutan Kawli ditujukan bagi pemuja hiyang walau belum diketahui apakah pemujaan hiyang juga berlaku bagi situs-situs yang tergolong bercorak tradisi megalitik (kabuyutan).

Sejauh penelitian telah dilakukan terhadap bangunan yang berciri teras (punden) berundak seperti itu tidak selalu memiliki pola dan denah yang sama. Situs Kawali merupakan satusatunya situs kabuyutan yang memiliki kriteria jelas terutama mengandung informasi langsung berupa prasasti meskipun tidak mencantumkan angka tahun namun Ayatrohaedi (l984) pakar sejarah Sunda, memperkirakan secara palaeografis bentuk dan gaya aksara prasasti-prasasti Kawali berasal dari abad ke-13-14 M

Sejumlah bangunan termasuk ke dalam kategori kabuyutan secara khusus bercorak tradisi Megalitik terletak di dataran tinggi atau lahan tertinggi di sekitarnya umumnya memilih lahan di ujung desa, sengaja terpencil dari hunian. Khususnya bukit atau gunung sebagai hulu dari sungai terbesar di wilayah kabupaten Ciamis (DAS Cimuntur). Arah hulu terdapat situs Kawali yang terletak di pertemuan Cibulan, Cikadongdong dan Cimuntur, menuju ke hilir sekitar 25 km ke arah tenggara terdapat situs Karangkamulyan pada pertemuan Cimuntur dan Citanduy (Patimuan), kedua sungai ini menuju ke Segara Anakan dan langsung bermuara ke laut selatan di Samudra Hindia.

Artefak-artefak situs Kawali sebagian besar artefak intax (berada pada matriks). Dari pesan disampaikannya dipastikan bahwa Kawali adalah situs keagamaan dengan inti pemujaan pokok kepada karuhun dibuktikan adanya kata hiyang berkali-kali dalam prasasti-prasastinya.

Situs Kawali secara regional terletak di lereng timur gunung Sawal (363m dpl) pada garis 108 15’ 108 30’ BT dan 77’-722’16” LS dengan luas situs 5 Ha dan ketinggian topografi 375 m dapl. Situs ini diapit dua sungai yaitu Cikadondong di sebelah utara dan kurang lebih 150 meter disebelah selatan mengalir sungai Cibulan dari barat ke timur dan lebih ke baratnya lagi dijumpai kolam kecil yang airnya berasal dari sumber mata air, kolam itu disebut Cikawali (tidak pernah kering sepanjang tahunnya).

Kedua sungai ini bertemu di tenggara situs dan mengalir relatif tenggara menuju Cimuntur di desa Selacai.

Sejumlah tinggalan budaya di situs Kawali terbuat dari batu-batu besar berukuran bongkah dan kerakal andesit diletakkan terbaring dan tegak (berdiri: batu datar dan menhir); artefak-artefaknya tidak dibentuk khusus melainkan memanfaatkan bentuk dan kondisi alami batunya (kecuali artefak pangeunteungan). Enam batu di ataranya merupakan prasasti yang beraksara dan berbahasa Sunda Kuno (tidak satupun memuat pertanggalan). Namun pada prasasti pertama tercantum nama Parebu Raja Wastu.

Prasasti (batu) Kawali I (panjang 72 x lebar 81 x tebal 16,5 cm) dipahatkan pada sisi muka 10 baris ditandai adeg-adeg (pembuka) beraksara dan berbahasa Sunda Kunå; tiap-tiap baris diberi semacam garis bawah berjarak 6cm-7,5cm; bagian tebalan dipahatkan sebaris tulisan yang dari konteks isi berawal dari sisi timur.

Pada cungkup satu:

Di dalamnya terdapat artefak batu Jungjung (batu desolit atau batu kursi desolit) batuan lempeng yang disusun menyerupai tempat duduk dengan sandaran (ukuran panjang 147 x 145 x ; lebar 40 cm) disekelilingnya terdapat batuan lempeng dan boulder sebagai lantai sejajar permukaan batu kursi (panjang 180 cm x Lebar 218 cm x tebal 30 cm) seakan hamparan balai.

Pada cungkup dua:

Teks sisi muka:

//nihan tapa kawa

li nu siya mylia

bhagya parebu raja wastu

nu mangadeg di kuta kawa

li nu mahayu na kadatuan

surawisesa nu marigi sa

kuliling dayeuh nu najur sakala

desa aya ma nu pa(n)deuri pakena

gawe rahhayu pakeun heubeul ja-

ya dina buana… //

[yang berada di kawali ini adalah yang mulia pertapa yang berbahagia Prabu Raja Wastu yang bertahta di Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit (pertahanan) sekeliling ibu kota, yang mensejahterakan (memajukan pertanian) seluruh negeri. Semoga ada (mereka) yang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia].

Teks bagian tepian (cetak tebal pada Prasasti):

//haywa diponah ponah

haywa sicawuh cawuh

bhaga neker

bhaga angger//

[Jangan dimusnahkan

Jangang sewenang-wenang

Ia dihormati, ia tetap.

Ia menginjak, ia roboh.]

Pada cungkup tiga:

//Aya ma

nu ngeusi bha

gya kawali ba

ri pakena kere

ta bener

pakeun na(n)jeur

na juritan.//

[semoga ada (mereka) yang kemudian mengisi (negeri) Kawali ini dengan kebahagiaan sambil membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati agar tetap unggul dalam perang]

Pada cungkup empat:

Tempat prasasti Kawali III. Letak cungkupnya berhadapan dengan prasasti Kawali I sekitar 2 meter. Prasasti Kawali III adalah temuan baru pada akhir tahun l995 (oleh juru kunci).

Para sarjana menyebut sebagai prasasti Kawali VI, isi pesannya berkait erat dengan prasasti I dan II, mungkin prasasti ini sebenarnya prasasti Kawali III. Bentuk batunya tidak beraturan, berukuran terpanjang 71 cm; lebar 80 cm dan tebal 17 cm dengan posisi rebah. Prasasti dipahatkan enam baris menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kunå.

Teks:

//bani poro ti (n)

gal nu atis

tina rasa aya ma nu

nosi dayeuh bawo

ulah botoh bisi

kokoro//

[berani (menahan) kotoran, mengendaplah dingin dari rasa yang akan datang yang mengisi kerajaan. Marilah jangan berlebihan sehingga tidak sengsara berkekurangan]

Pada cungkup lima:

Tempat batu Tapak (prasasti Kawali IV). Penduduk menyebutnya kolenjer (kalender = pertanggalan) bentuk batunya hampir bersegi lima tidak sama sisi diletakkan dengan posisi terbaring dengan ukuran panjang 115 cm; lebar 94,5 cm dan tebal 21,5 cm.

Pada bidang datar berukuran 98 x 52 cm digoreskan 45 kotak terdiri dari 5 kotak disusun vertikal (dari atas kebawah) dan 9 kotak disusun horizontal (dari kiri ke kanan, di bagian luar kotak itu (sebelah kanan) terdapat cap tangan kiri, sepasang telapak kaki serta lubang-lubang kecil dan sebaris prasasti pendek berbunyi (anggana?) menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kunå.

Ada yang mengira lubang-lubang pada batu ini jejak pitmarked. Namun mengingat lubang lubang ini tersebar memenuhi permukaan batu hingga ke bagian bawah dan samasekali tidak menunjukkan pola tertentu, lagi pula setiap lubang maka yang disebut “pitmarked“ tidak lebih dari hasil pelapukan cuaca, mengingat lingkungan situs Kawali lembab, rimbun oleh berbagai tanaman keras yang sangat hiem (tua) hingga sulit ditembus cahaya matahari, kondisi lembab menyebabkan tumbuh lumut-lumut pada setiap permukaan temuan. Batu Tapak berorientasi 5º arah baratlaut membujur utara-selatan.

Pada cungkup enam:

Tempat batu Panyandungan atau prasasti Kawali V. Letak cungkup sekitar 16 meter di utara batu Tapak di dalamnya terdapat sebuah batu tegak atau menhir yang berukuran tinggi 120 meter lebar antara 38-51 cm dan tebal 41 cm. Batu ini ditopang sebuah batu dan disisi selatan, sepintas mirip lingga semu dan pada salah satu sisi pemukaannya datar seakan menghadap ke selatan. Pada bagian datar itu digoreskan prasasti beraksara dan berbahasa Sunda kunå terdiri dari dua baris, ukuran aksara tinggi 4 cm dan lebar 2,2-6 cm sedangkan jarak aksara di antaranya sekitar 1-3 cm dipahatkan dari kiri ke kanan, berbunyi sebagai berikut:

Teks :

//sanghiyang ling

ga hiyang//

[Sang Maha Suci Lingga Yang Telah Tiada (Leluhur)]

Pada cungkup tujuh:

Tempat batu Panyandaan atau prasasti Kawali VI. Terletak 10 meter di tenggara batu panyandungan di dalamnya terdapat batu tegak atau menhir yang berukuran tinggi 120 cm, lebar 52-55 cm, tebal 23 cm batu menhir ini disebut batu Panyandaan yang juga mirip lingga semu dan bentuknya agak lebih lebar dari pada batu panyandungan. Salah satu bagian datar menghadap ke arah selatan di-pahatkan dua baris berukuran tinggi 5-7 cm dan lebar 2-9 cm beraksara dan berbahasa Sunda Kunå. Di sebelah selatan batu panyandaan ditemukan menhir kecil yang berukuran tinggi 50 cm dan lebar 40 cm itu tidak digoreskan tulisan

Teks:

//sanghiyang ling

ga bingba//

[Sang Maha Suci Lingga Yang Terwujud (arca)]

Pada cungkup delapan:

Terdapat batu Pangeunteungan, 4 meter di tenggara batu Panyandaan ini terdiri dari sebuah batu tegak atau menhir dengan ukuran tinggi 125 cm lebar 39 cm dan tebal 20 cm bentuknya agak melengkung menghadap utara seperti sengaja melindungi benda di bawah batu yang berpenampang persegi dengan permukaan datar berukuran panjang 41 cm x lebar 37 cm x tinggi 14 cm (dikurangi alas 5 cm). Bagian permukaan dilengkapi pelipit berukuran lebar sekitar 4 cm. Bagian tengahnya berlubang segitiga dengan kedalaman sekitar 18 cm ukuran. Lubang itu selalu terisi air yang dipercaya penduduk sebagai paragi ngeunteung (tempat bercermin).

Temuan Lain

Temuan penyerta dimaksudkan adalah temuan yang tersebar di lingkungan situs Kawali baik yang termasuk ke dalam situs pemujaan (di dalam bangunan teras) maupun di luar situs pemujaan (di luar bangunan teras). Terdiri dari benda-benda atau objek-objek yang terserak terlepas dari konteksnya dan meragukan untuk diidentifikasi meskipun bentuknya telah diketahui berupa batu tegak dan kerakal andesit.

Letaknya masih di dalam lingkungan bangunan teras memungkinkan bahwa di masa lalu serakan tersebut merupakan sisa dari bangunan, karena itu upaya yang dilakukan menghitung jumlah serakan yang telah nampak ke permukaan.

Kemungkinan sebagian peninggalan masih terpendam atau telah hilang (?), dan tatkala dilakukan pemugaran pada lahan yang telah ditentukan untuk diletakkan pavedstone dan tiang bangunan cungkup, lahan terlebih dahulu digali hingga kedalaman 50 cm dari permukaan tanah ditemukan kerakal andesit dan boulder sebagai penyusun terasnya.

Dongeng ieu aya terusanana, punten ka sadayana simkuring bade pamit heula atur nuhun tos dibaturan

Sampurasun

Cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 17:47  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalammualaikum
    Salam
    Rahayu
    Sedulur kabeh
    Menarik nih kajiannya,
    tak perlu mencari
    Tak perlu dicari
    Bila yang bertemu ucapkan Alhamdulilah
    Bila yang belum bertemu ucapkan insyaallah
    Bukan bertemu atau tak bertemu
    Apa artinya kita bertemu
    Untuk apa kita bertemu
    Kalau sudah bertemu??
    Adakah perubahan
    Adakah nilai yang bisa diambil
    Biarkan misteri tetaplah misteri
    Dia akan datang dengan tiba tiba
    Dia akan datang tanpa disangka sangka
    Darimana datangnya??
    Tak seorang pun mengetahui..
    Sekarang, esok atau lusa
    Bulan ini, bulan depan atau tahun depan..
    Semua mungkin..
    Semua tak mustahil
    Semua tak pasti
    Yang pasti hanyalah kematian
    Menghadap Sang Ilahi Robbi
    Coba kalau semua berpikir
    Coba kalau semua bertujuan sama
    Tak hanya rakyat tapi juga pejabat
    Tak hanya birokrat tapi juga pengusaha
    Tak hanya rakyat awam tapi juga para cerdik pandai
    Tapi..apa yang terjadi??
    Apa yang kita saksikan??
    Berlomba lomba dalam urusan dunia
    Berlomba lomba dalsm urusan perut
    Berlomba lomba dalam urusan depan pantat
    Hahahaha…
    Sedikit yang ingat
    Sekali lagi Sedikit yang mengingat…
    Kebanyakan semua banyak berkutat
    Untuk urusan urat dan pantat
    Untuk urusat perut dan syahwat
    Kalau diterus teruskan bakalan kiamat.
    Hanya orang gila yang tak kumat
    Karena dibalik kegilaan ada nikmat
    Hahahahaha…
    Salam Paitun Gundul 87
    Gondal Gsndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: