Seri MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA

Sampurasun. Wilujêng siyang,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA [Bagian Ketiga]

(Bagian Pertama On 23 Desember 2010 at 01:51 cantrik bayuaji said: HLHLP 072)

(Bagian Kedua On 25 Desember 2010 at 00:23 cantrik bayuaji said: HLHLP 073)

JEJAK KAWALI & TIGA PRABU WANGI

[Wangsit Niskala Wastu Kancana, Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji]

Tulisan yang dipahat pada permukaan batu Prasasti Kawali adalah salah satu wasiat atau wangsit, yang lebih dikenal sebagai Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji kepada kita semua.

Sememangnya demikian, bahwa nasehat atau wasiatnya tidak hanya berlaku bagi urang Sunda saja. Sang Maha Prabu Siliwangi bukan leluhur urang Sunda saja, beliau adalah leluhur kita semua, leluhur bangsa ini, maka pituturnya bagi siapa saja, bukan hanya untuk urang Sunda saja, suatu petatah-petitih agar dapat mempertahankan kedaulatan negara dengan cara berbuat kebajikan kepada warganya, mungkin jika diterapkan dalam teori kepemimpinan dapat memberikan arah yang jelas dan sosok seorang pemimpin yang bermoral dalam melaksanakan amanah rakyatnya, demikian juga bagi para kawulanya, dalam mengemban tugas Magawe Rahayu, Magawe Kerta. [Mensejahterakan dan menciptakan kebahagiaan bagi seluruh negeri]. Kalimat yang sangat singkat, tetapi wasiat ini benar-benar memiliki makna yang universal.

***

JEJAK KAWALI

Kawali dalam Naskah Carita Ratu Pakuan

Pada abad ke-14 di timur muncul kota baru yang makin mendesak kedudukan Galuh dan Saunggalah, yaitu Kawali. Lokasi Kawali berada di wilayah yang strategis, karena berada di tengah segitiga Galunggung, Saunggalah dan Galuh. Sejak abad XIV ini Galuh selalu disangkut pautkan dengan Kawali, bahkan dua orang Raja Sunda dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).

Gejala pengalihan pusat pemerintahan sudah nampak pada masa pemerintahan Prabu Ragasuci (1297 – 1303). Ketika naik tahta menggantikan ayahnya (Prabu Darmasiksa), ia tetap memilih Saunggalah sebagai pusat pemerintahan, karena ia sendiri sebelumnya telah lama berkedudukan sebagai raja di timur.

Tetapi pada masa pemerintahan puteranya, yakni Prabu Citraganda, Pakuan menjadi pusat pemerintahan.

Ragasuci bukan putera mahkota karena kedudukanya itu dijabat kakaknya Rakeyan Jayadarma. Menurut Naskah Wangsakerta: “Pustakan Rayarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3” (tetapi sangat disayangkan Naskah Wangsakerta ini diragukan nilai akurasi sejarahnya):

Jayadarma adalah menantu Mahisa Campaka di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal. Mereka berputera Sang Narararya Sanggaramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya (lahir di Pakuan). Karena Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam Babad Tanah Jawi, Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pajajaran yang kemudian menjadi Raja Majapahit yang pertama. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur.

Prabu Darmasiksa kemudian menunjuk putera Prabu Ragasuci sebagai calon ahli warisnya yang bernama Citraganda. Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa (Puteri Kerajaan Melayu) adik Dara Kencana isteri Kertanegara.

Citraganda tinggal di Pakuan bersama kakeknya. Ketika Prabu Darmasiksa wafat, untuk sementara ia menjadi raja daerah selama 6 tahun di Pakuan (ketika itu Raja Sunda dijabat ayahnya di Saunggalah). Dari 1303 sampai 1311, Citraganda menjadi Raja Sunda di Pakuan, ketika wafat ia dipusarakan di Tanjung.

Prabu Lingga Dewata (putera Citraganda) mungkin berkedudukan di Kawali. Yang pasti, Prabu Ajiguna Wisesa (1333 – 1340), menantunya sudah berkedudukan di Kawali. Sampai tahun 1482 pusat pemerintahan tetap berada di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Kawali. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat mengenal adanya lima orang raja.

Nama Kawali terabadikan dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di “Astana Gede ” Kawali. Prasasti tersebut menegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dalam Naskah Carita Ratu Pakuan yang ditulis oleh kai Raga dari Srimanganti – Cikuray dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” (keraton yang memberikan ketenangan hidup). Cuplikan dari Carita Ratu Pakuan tersebut, sebagai berikut:

dicariatekun ngambetkasi

kadeungeun sakamaruan

bur payung agung nagawah tugu

nu sahur manuk sabda tunggal

nu deuk mulih ka pakuan

saundur ti dalem timur

kadaton wetan buruhan

si mahut putih gede manik

maya datar ngaranna

sunijalaya ngaranna

dalem sri kencana manik

bumi ringit cipta ririyak

di sanghyang pandan larang

dalem si pawindu hurip

(Tersebutlah ngabetkasih

Bersama madu-madunya

bergerak payung kebesaran melintas tugu

yang seia dan sekata

hendak pulang ke Pakuan (Bogor)

Kembali dari keraton di Timur (Kawali-Ciamis)

Halaman Cahaya putih induk permata

Cahaya datar namanya

Keraton berseri emas permata

Rumah berukir lukisan alun

si sangiang pandan larang

keraton penenang hidup)

Nama kraton “sipawindu hurip” jika dikaitkan dengan prasasti Kawali disebut Surawisesa. Prasasti Kawali 1 ini yang sebenarnya merupakan bukti otentik bahwa Sunda pernah beribukota di Kawali.

Kawali sebagai pusat pemerintahan Sunda ditegaskan pula didalam Pustaka Nusantara II/2, dengan kalimat:

katatwa pratista sang prabu wastu kancana haneng surawisesa kadatwan. pinaka kithagheng rajya kawali wastanya. ring usama nira mangadeg dumadi mahaprabu rikung juga

(Persemayaman Sang Prabu Wastu Kancana adalah keraton Surawisesa. Ibukota kerajaannya bernama Kawali. Pada masa sebelumnya, ayahnya pun bertahta sebagai maharaja di situ).

Dari adanya Prasasti Kawali 1, para ahli sejarah Sunda kuna pada umumnya bersepakat, bahwa: “Dengan demikian pengertian Galuh dan Sunda antara 1333 – 1482 M harus dihubungkan dengan Kawali walaupun di Pakuan tentu ada seorang penguasa daerah. Keraton Galuh sudah ditinggalkan atau fungsinya sebagai tempat kedudukan pemerintah pusat sudah berakhir”.

Niskala Wastu Kancana

Raja Kawali lainnya yang terkenal adalah Niskala Wastu Kencana, ia putra dari Lingga Buana atau Prabu Maharaja. Pada saat peristiwa Bubat ia baru berumur sembilan tahun, sehingga tidak ikut rombongan Sunda ke Majapahit. Pasca gugurnya Prabu Wangi, Kawali dikuasakan kepada Sang Bunisora, pamannya yang terkenal ketaatannya terhadap agama, sehingga Bunisora dikenal pula sebagai Rajaresi, penulis Carita Parahyangan memberi gelar Satmata, yakni gelar keagamaan tingkat kelima dari tujuh tingkat keagaaman yang dianut penguasa Sunda waktu itu.

Niskala Wastu Kancana banyak dibimbing tentang masalah kenegaraan dan keagaamaa, sehingga ia tumbuh menjadi orang bijaksana dan banyak disukai masyarakat. Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Bunisora pada usia yang 23 tahun, dengan gelar Mahaprabu Niskala Wastu Kancana atau Praburesi Buana Tunggadewata, dalam naskah yang paling muda ia disebut Prabu Linggawastu putra Prabu Linggahiyang.

Karya besar yang dipersembahkan untuk generasi sesudahnya diabadikan dalam dua buah prasasti yang terletak di Kawali. Prasasti inilah yang sangat membantu generasi sesudahnya untuk mengenal keberadaan Sunda di Kawali. Niskala Wastu Kancana juga melekat dihati masyarakat akan kesalehan sosialnya. Masyarakat Sunda mengenal ajaran atau nasehat yang ia berikan, kemudian dikenal dengan sebutan Wangsit (Wasiat) Wastu Kancana, kemudian ia pun dikenal dengan sebutan Prabu Wangisutah.

Penulis Carita Parahyangan mengisahkan kehidupan Niskala Wastu Kancana, dan bagaimana rakyat mencintainya. Uraian tersebut seolah-olah memuji-muji perilakunya, bahkan dapat dijadikan contoh generasi penerusnya. Tulisan dalam Carita Parahyangan tersebut, sebagai berikut :

aya deui putra prebu, kasohor ngaranna, nya eta prebu niskalawastu kancana, nu tilem di nusalarang gunung wanakusuma. lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah.

sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, hiang bunisora, nu hilang di gegeromas. batara guru di jampang.

sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai.

batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta sanghiang pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu.

beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. nu dituladna oge makuta anggoan sahiang indra. sakitu, sugan aya nu dek nurutan. enya eta lampah nu hilang ka nusalarang, daek eleh ku satmata. mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh.

mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati. dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu.

cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat.

ngukuhan angger-angger raja, ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna.

sang wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang watangageung. ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.

Jayadewata

Penguasa Sunda di Kawali yang paling banyak dikisahkan masyarakat dalam bermacam versi, adalah Jayadewata. Pada masa mudanya lebih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa, putera Dewa Niskala. Kemudian ia memindahkan pusat pemerintahan Sunda kembali ke Pakuan.

Jayadewata mewarisi tahta ayahnya di Galuh (Dewa Niskala), dalam kapasitasnya sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Guru Dewataprana. Kemudian ia pun mewarisi tahta mertuanya di Pakuan. Gelar Sri Baduga Maharaja yang ia sandang di peroleh karena ia mewaris dua kerajaan, yakni Sunda dengan Galuh.

Sumber utama tentang keberadaan Sri Baduga Maharaja berasal dari prasasti Kabantenan dan Batutulis Bogor. Namun kisah Jayadewata jauh lebih terkenal dalam cerita masyarakat dengan gelar Prabu Silihwangi.

Kisah Jayadewata di tulis didalam Fragmen Carita Parahyangan, sebagai berikut:

diganti ku prebu, putra raja pituin, nya eta sang ratu rajadewata, nu hilang di rancamaya, lilana jadi ratu tilupuluhsalapan taun.

ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. tengtrem ayem beulah kaler, kidul, kulon jeung wetan, lantaran rasa aman.

teu ngarasa aman soteh mun lakirabi dikalangan jalma rea, di lantarankeun ku ngalanggar sanghiang siksa.

***

TIGA PRABU WANGI

Lingga Dewata berkuasa di Pakuan pada tahun 1311 – 1333 M. Lingga Dewata diperkirakan menjadi raja peralihan yang memindahkan pusat kerajaan Sunda ke Kawali, karena ia di makamkan di Kikis. Kemudian digantikan oleh Ajiguna Wisesa dengan gelar Prabu Ajiguna Linggawisesa (1333 – 1340) disebut-sebut sebagai raja Sunda pertama yang berkedudukan di Kawali.

Ajiguna Linggawisesa adalah menantu dari Lingga Dewata yang menikah dengan Dewi Uma Lestari atau Ratu Santika. Didalam versi lainnya disebutkan suami dari adik Lingga Dewata, yang menikah dengan Ratna Uma Lestari, putrinya Prabu Citraganda. Tentang muasal Ajiguna Wisesa kurang terlacak, jika dikaitkan dengan Suryadewata, putranya yang menjadi leluhur Talaga, mungkin pula ia berasal dari daerah Talaga.

Dari pernikahannya dengan Dewi Uma Lestari melahirkan dua orang putra, yakni Ragamulya dan Suryadewata. Ragamulya menggantikan Ajiguna Linggawisesa. Dalam Carita Parahyangan disebut Sang Aki Kolot. Ragamulya bernama nobat Prabu Ragamulya Luhur Prabawa, bertahta dari tahun 1340 – 1350 M, sedangkan Suryadewata menjadi raja daerah Talaga, dan dikenal sebagai leluhur Talaga, namun ia wafat ketika sedang berburu, dan dimakamkan di Wanaraja (Garut), sehingga ia diberi gelar Sang Mokteng Wanaraja.

Prabu Ragamulya Luhur Prabawa mempunyai dua orang putra, yakni Linggabuana dan Bunisora. Kelak keduanya menjadi raja di Kawali dan memiliki nama yang harum dalam sumbangsihnya terhadap perjalanan sejarah di tatar Sunda.

Raja-raja Kawali yang terkenal

Penguasa Kawali yang banyak dikisahkan, yaitu Lingga Buana (Prabu Wangi), Niskala Wastu Kencana (Prabu Wangisutah) dan Jaya Dewata (Prabu Silihwangi).

Didalam sejarah lisan, ketiga raja ini kerap dikaitkan dengan masalah sejarah masa lalu di tatar Sunda. Seolah-olah Sunda tidak memiliki raja lainnya selain ketiga penguasa ini, dan menggunakan nama gelar “Wangi”.

Tentang penggunaan nama “Wangi” sempat menjadi perdebatan dikalangan para sejarawan. Istilah wangi diberikan kepada raja-raja Sunda yang dianggap masyarakat mengharumkan Sunda. Disisi lain, masyarakat mengangap calutak (tidak sopan) jika menyebutkan nama asli dari rajanya, sehingga mereka lebih nyaman menggunakan nama kehormatannya, seperti nama ‘Wangi”. Perdebatan demikian terjadi dalam mencari siapakah raja Sunda yang bergelar Prabu Silihwangi.

Menurut Yoseph Iskandar (2005): “Prof. Dr. Syatrohaedi bersikeras mengemukakan pendapatnya, bahwa Mahaprabu Niskala Wastu Kencana itulah yang yang lebih tepat sebagai tokoh Prabu Siliwangi. Karena Sang Mahaprabu merupakan Silih = pengganti keterkenalan dan keharuman nama Prabu Wangi yang di Palagan Bubat. Hanya raja sekaliber Prabu Wangi yang layak dijuluki Prabu Silih Wangi atau Prabu Siliwangi.”

Perdebatan lainnya dalam mencari keaslian Siliwangi terjadi ketika Purbatjaraka pada tahun 1921 menafsirkan didalam bukunya “De Batoe-toelis bij Buitenzorg”, bahwa Sri Baduga Maharaja yang tercantum dalam prasasti Batutulis Bogor adalah raja yang gugur di Bubat. Sehingga dari tahun 1921, pelajaran Sejarah disekolah-sekolah mengisahkan tentang Gugurnya Sri Baduga Maharaja di Bubat pada tahun 1357 M.

Pendapat Purbatjaraka dikritik oleh Saleh Danasasmita, karena penyebutan Sri Baduga sebagai Prabu Siliwangi yang gugur di palagan Bubat terlalu dipaksakan, bertentangan dengan Kropak 406 Carita Parahyangan dan Pararaton, pada peristiwa Bubat, Sri Baduga belum lahir, bahkan Wastu Kancana baru berumur sembilan tahun.

Perdebatan mereda setelah Saleh Danasasmita (1981 – 1984) meluruskan bacaan Prasasti Batutulis Bogor, yang sejalan dengan maksud dari naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa 1 sarga 4. Kandungan naskah tersebut berisi, sebagai berikut :

raja pajajaran winastatwan ngaran prabhuguru dewataprana muwah winastwan ngaran sri baduga maharaja ratuhaji ing pakwan pajajaran sri sang ratu dewata putra ning rahyang dewa niskala. rahyang dewa niskala putra ning rahyang niskala wastu kancana.

rahyang niskala wastu kancana putra ning prabu maharaja linggabhuanawisesa.

(Raja Pajajaran dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana dan dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, putra Rahiyang Niskala Wastu Kancana. Sanghyang Wastu Kancana putra Prabu Linggabuanawisesa).

Saat ini memang tak dapat dipungkiri, bahwa ketiga raja Sunda tersebut berhak menyandang nama “Wangi”, yakni Prabu Wangi, Prabu Wangisutah dan Prabu Silihwangi, masing-masing untuk gelar Sri Maharaja, Prabu Niskala Wastukancana dan Sri Baduga Maharaja.

Prabu Wangi

Prabu Maharaja terkenal karena ia tokoh utama didalam peristiwa Bubat. Ia gugur di medan Bubat yang jauh dari kampung halamannya. Ia pun dilambangkan sebagai kesatria sekaligus penguasa Sunda yang ajeg kana pamadegana (memiliki harga diri) dan dijadikan anutan penting dalam cara-cara orang Sunda mempertahankan haknya. Setelah gugur di medan Bubat masyarakat Sunda memberinya gelar Prabu Wangi.

Lingga Buana dikisahkan di dalam Fragmen Carita Parahyangan. Sekalipun tidak terlalu banyak, namun telah menunjukan bahwa ia tokoh utama yang terlibat peristiwa Bubat. Isi dari Fragmen tersebut, sebagai berikut:

boga anak, prebu maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, kabawa cilaka ku anakna, ngaran tohaan, menta gede pameulina.

urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di sunda. heug wae perang di majapahit.

Linggabuana menggantikan Ragamulya (Aki Kolot), dengan nama nobat Prabu Lingga Buana (1350 – 1357) atau disebut juga Prabu Maharaja alias Prabu Wangi. Didalam Pustaka Nagara Kretabhumi parwa 1 sarga 4 disebut Prabu Maharaja Linggabhuanawisesa.

Linggabuana dinobatkan pada tanggal 14 bagian terang bulan Palguna tahun 1272 saka, bertepatan dengan tanggal 22 Februari 1350 M. Sebelum menggantikan posisi ayahnya, ia pernah menjabat sebagai adipati selama tujuh tahun dibawah perintah Sang Ajiguna, kakeknya. Kemudian ia pun menjadi Mahamantri merangkap sebagai putra mahkota selama dua tahun dibawah perintah Ragamulya, ayahnya.

Linggabuana disebut Prabu Maharaja, karena dianggap menguasai seluruh tatar Sunda yang sama dengan kekuasaan Purnawarman. Ia terkenal sebagai tokoh utama didalam peristiwa Palagan Bubat yang gugur jauh dari kampung halamannya. Prabu Maharaja dilambangkan sebagai ksatria sekaligus penguasa Sunda “nu ajeg kana pamadegannana”, memiliki harga diri dan dijadikan anutan penting dalam cara-cara orang Sunda mempertahankan haknya. Setelah gugur di Palagan Bubat masyarakat Sunda memberinya gelar Prabu Wangi.

Linggabuana beristrikan Dewi Lara Lisning, ia memperoleh empat orang putra-putri. Putri sulungnya diberi nama Citraresmi, oleh kakeknya diberi nama Dyah Pitaloka. Ia dipersunting oleh Prabu Hayam Wuruk, namun diberitakan ia gugur di peristiwa Perang Bubat. Putra yang kedua dan ketiga dari Linggabuana meninggal pada usia satu tahun. Putra yang keempat diberi nama Niskala Wastu Kencana yang lahir pada tahun 1348 M.

Prabu Wangi digantikan oleh Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora alias Kuda Lalean. Hal tersebut dikarenakan Niskala Wastu Kancana, putra Prabu Wangi masih berumur sembilan tahun.

Bunisora bertahta pada tahun 1357 sampai dengan 1371 M, bergelar Prabu Batara Guru Pangadiparamarta Janadewabrata, sejak masa muda tekun memperdalam ilmu keagaaman. Penulis Carita Parahyangan memberinya gelar Satmata, yaitu sebutan untuk tingkatan kelima dari tujuh tingkatan keagamaan pada waktu itu. Karena kesalehannya pula maka ia dijuluki Batara Guru di Jampang. Bunisora dimakamkan di Geger Omas.

Sang Bunisora didalam cerita Galuh dikisahkan, bahwa ia ayah dari Bratalegawa, seorang pengusaha yang terkenal. Bratalegawa dikenal sebagai penganut agama Islam pertama di Galuh, sehingga mendapat Gelar Haji Purwa Galuh (Haji pertama di Galuh). Banyak kisah dari ketutrunannya yang kemudian menjadi pemuka agama di daerah Jawa Barat. Mungkin semangat dan kesungguhan menekuni masalah keagamaan yang diciptakan Sang Bunisora ini mendorong keturunannya untuk menekuni agamanya masing-masing.

Prabu Wangisutah

Ketika terjadi peristiwa Perang Bubat usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia satu-satunya ahli waris Prabu Maharaja yang masih hidup. Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya (Sang Bunisora), Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja pada tahun 1371 pada usia 23 tahun.

Sebelum menjadi raja Sunda, Wastukancana mengembara kedaerah Lampung. Ia bertemu dengan seorang putri penguasa Lampung, yakni Lara Sakti, kemudian dijadikannya sebagai permaisurinya yang pertama. Dari perkawinannya lahir Sang Haliwungan yang bernama nobat Prabu Susuktunggal.

Permaisuri yang kedua dari Wastukancana adalah Mayangsari, puteri sulung Sang Bunisora atau Mangkubumi Suradipati. Dari perkawinan ini lahir Ningrat Kancana, setelah menjadi penguasa Galuh bergelar Prabu Dewa Niskala.

Niskala Wastu Kancana banyak dibimbing tentang masalah kenegaraan dan keagaamaan, sehingga tumbuh menjadi orang bijaksana dan banyak disukai masyarakat. Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Bunisora pada usia yang 23 tahun, dengan gelar Mahaprabu Niskala Wastu Kancana atau Praburesi Buana Tunggadewata, dalam versi naskah yang paling muda menyebutnya Prabu Linggawastu putra Prabu Linggahiyang.

Keharuman nama Wastu Kancana membawa pada penafsiran dari versi yang berbeda, bahwa: Mahaprabu Niskala Wastu Kancana itulah yang lebih tepat sebagai tokoh Prabu Silihwangi. Karena Sang Mahaprabu merupakan silih (pengganti) keterkenalan dan keharuman nama Prabu Wangi yang gugur di palagan Bubat. Hanya Prabu Wangi yang layak dijuluki Prabu Silih Wangi atau Prabu Siliwangi.

Karya besar yang dipersembahkan untuk generasi sesudahnya diabadikan dalam dua buah prasasti yang terletak di Kawali. Prasasti tersebut sangat membantu generasi sesudahnya untuk mengenal keberadaan kerajaan Sunda di Kawali.

Wastu Kancana juga melekat dihati masyarakat akan kesalehan sosialnya. Masyarakat Sunda mengenal ajaran atau nasehat yang ia berikan, berupa uraian tentang kebajikan dan kesejahteraan sejati sebagai mana yang terkandung di dalam ajaran Siksa Kandang Karesyan, kemudian dikenal dengan sebutan “Wangsit (Wasiat) Wastu Kancana”.

Mungkin karena ajarannya ini pula yang kemudian mendapat gelar Prabu Wangisutah. Wastu Kencana didalam alur Sejarah Sumedang dan Galuh, disebutkan juga sebagai leluhur Pangeran Santri dan Pucuk Umum Sumedang.

Setelah Wastu Kancana wafat pada tahun 1475, kerajaan Sunda dipecah dua diantara Susuktunggal (Pakuan) dan Dewa Niskala (Galuh) dengan kedudukan yang sederajat. Namun politik kesatuan wilayah telah membuat jalinan perkawinan antar cucu Wastu Kencana, sebagaimana dilakukannya melalui pernikahan putra Dewa Niskala (Jayadewata) dengan putri Susuktunggal (Kentring Manik Mayang Sunda).

Prabu Silihwangi

Penguasa Sunda di Kawali yang kemudian mengalihkan pusat pemerintahannya ke Pakuan dan paling banyak dikisahkan masyarakat dalam bermacam versi, adalah Jayadewata. Seolah-olah petilasan dari raja Sunda atau “Karuhun” Urang Sunda manapun tidak lengkap jika tidak dikaitkan dengan kebesaran nama Prabu Silihwangi.

Demikian pula dalam kisah-kisah yang bermuara dari hasil penelitian sejarah. Tak kurang yang berpendapat bahwa ia adalah tokoh penting yang terlibat di Palagan Bubat. Selain itu, ada juga yang menafsirkan bahwa Prabu Siliwangi tersebut adalah Niskala Wastu Kancana.

Didalam versi sejarah yang dikacaukan dengan masalah keagamaan, Prabu Siliwangi digambarkan sebagai raja Pajajaran terakhir yang dikejar kejar putranya yang bernama Kian Santang. Padahal ketika ia masih bertahta di Pakuan, Pajajaran masih ajeg, sekalipun ekspansi yang dilakukan para saudagar Islam sudah mulai merebak di tatar Sunda, sehinga ia pun dikisahkan mengeluarkan suatu amanah yang dikenal “Wangsit Siliwang”.

Di dalam versi sejarah resmi mencatat, bahwa raja Pajajaran terakhir bukanlah Prabu Siliwangi, melainkan Ragamulya Suryakencana, yang bertahta tanpa mahkota dan wafat di Pulasari, Pandeglang.

Jayadewata pada masa mudanya lebih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa, putera Dewa Niskala. Kemudian ia mewarisi tahta ayahnya di Galuh (Dewa Niskala), dalam kapasitasnya sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Guru Dewataprana. Kemudian ia pun mewarisi tahta mertuanya di Pakuan. Gelar Sri Baduga Maharaja yang ia sandang di peroleh karena ia mewaris dua kerajaan, yakni Sunda dengan Galuh.

Nuhun, sakieu heula dongeng kawali, engke ditambahan deui terusanana

Sampurasun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 17:47  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalammualaikum
    Salam
    Rahayu
    Sedulur kabeh
    Menarik nih kajiannya,
    tak perlu mencari
    Tak perlu dicari
    Bila yang bertemu ucapkan Alhamdulilah
    Bila yang belum bertemu ucapkan insyaallah
    Bukan bertemu atau tak bertemu
    Apa artinya kita bertemu
    Untuk apa kita bertemu
    Kalau sudah bertemu??
    Adakah perubahan
    Adakah nilai yang bisa diambil
    Biarkan misteri tetaplah misteri
    Dia akan datang dengan tiba tiba
    Dia akan datang tanpa disangka sangka
    Darimana datangnya??
    Tak seorang pun mengetahui..
    Sekarang, esok atau lusa
    Bulan ini, bulan depan atau tahun depan..
    Semua mungkin..
    Semua tak mustahil
    Semua tak pasti
    Yang pasti hanyalah kematian
    Menghadap Sang Ilahi Robbi
    Coba kalau semua berpikir
    Coba kalau semua bertujuan sama
    Tak hanya rakyat tapi juga pejabat
    Tak hanya birokrat tapi juga pengusaha
    Tak hanya rakyat awam tapi juga para cerdik pandai
    Tapi..apa yang terjadi??
    Apa yang kita saksikan??
    Berlomba lomba dalam urusan dunia
    Berlomba lomba dalsm urusan perut
    Berlomba lomba dalam urusan depan pantat
    Hahahaha…
    Sedikit yang ingat
    Sekali lagi Sedikit yang mengingat…
    Kebanyakan semua banyak berkutat
    Untuk urusan urat dan pantat
    Untuk urusat perut dan syahwat
    Kalau diterus teruskan bakalan kiamat.
    Hanya orang gila yang tak kumat
    Karena dibalik kegilaan ada nikmat
    Hahahahaha…
    Salam Paitun Gundul 87
    Gondal Gsndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: