Seri MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA

Sampurasun,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA [Bagian Keempat. Kawali IV]

(Bagian Pertama. Kawali I On 23 Desember 2010 at 01:51 cantrik bayuaji said: HLHLP 072)

(Bagian Kedua. Kawali II On 25 Desember 2010 at 00:23 cantrik bayuaji said: HLHLP 073)

(Bagian Ketiga. Kawali III On 28 Desember 2010 at 11:40 cantrik bayuaji said: HLHLP 076)

***

AMANAT WASTU KANCANA dan KEMBALI KE PAKUAN

[Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji]

***

AMANAT WASTU KANCANA

Prabu Raja Wastu atau Niskala Wastu Kancana adalah putera Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di Palagan Bubat pada tahun 1357. Wastu Kancana adalah satu-satunya ahli waris Linggabuana yang masih hidup, karena ketiga saudaranya telah wafat.

Ketika terjadi Pasunda Bubat usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia satu-satunya ahli waris Prabu Maharaja yang masih hidup. Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya (Sang Bunisora), Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja Sunda di Kawali pada tahun 1371 dalam usia 23 tahun.

Niskala Wastu Kancana banyak dibimbing dan diajarkan masalah kenegaraan dan keagaamaan, oleh Sang Bunisora. Ajaran tentang kesejatian hidup yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Wasiat (wangsit) Kancana tentunya tidak terlepas dari pengaruh bimbingan Sang Bunisora, yang memang dikenal sebagai rajaresi.

Di dalam Carita Parahyangan ia diberi gelar Satmata. Salah satu Wali yang diberi gelar Satmata dalam Babad Tanah Jawi adalah Sunan Giri.

Menurut Kropak 630, tingkatan batin manusia dalam keagamaan adalah acara, adigama, gurugama, tuhagama, satmata, suraloka, dan nirawerah.

Satmata adalah tingkatan kelima dan tahap tertinggi bagi seseorang yang masih ingin mencampuri urusan duniawi. Setelah mencapai tingkat keenam (suraloka), orang sudah meninggalkan terhadap kehidupan umum. Pada tingkatan ketujuh (nirawerah) padamlah segala hasrat dan nafsu, seluruh hidupnya dipasrahkan sepenuhnya kepada Hiyang Batara Tunggal. Tuhan Yang Maha Esa.

Peranan Sang Bunisora tersebut membentuk pribadi Wastu Kancana menjadi orang yang bijak dan religius. Penulis Carita Parahyangan menguraikan bahwa:

sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, hiang bunisora, nu hilang di gegeromas.

(Sekalipun umurnya masih muda namun perilakunya seperti yang sudah banyak pengalaman, sebab ratu taat kepada Satmata, mentaati pengasuhnya, Hyang Bunisora, yang mendiang di Gegeromas).

Pada masa Wastu Kancana ada peristiwa yang cukup penting, yakni peristiwa Perang Paregreg; masuknya pengaruh islam ke Tatar Sunda yang dibawa oleh Bratalegawa atau Haji Purwa Galuh, putra Sang Bunisora, dan tibanya Laksmana Ceng Ho di Pelabuhan Cirebon. Didalam rombongan tersebut terdapat Syekh Hasanudian yang kemudian turun di Karawang serta mendirikan Pesatren Quro.

KEMBALI KE PAKUAN

Niskala Wastu Kencana memiliki dua orang putra dari istri yang berbeda. Keduanya mewarisi tahta yang sederajat, yakni Sunda di Galuh dan Sunda di Pakuan.

Setelah Wastu Kancana wafat pada tahun 1475, kerajaan Sunda dipecah, Sunda Galuh yang berpusat di Keraton Surawisesa diperintah oleh Ningrat Kencana dengan gelar Prabu Dewa Niskala sedangkan Sunda Pakuan yang berpusat di Keraton Sri Bima diperintah oleh Sang Haliwungan dengan gelar Prabu Susuktunggal (Pakuan).

Tentang penobatan Susuktunggal di Pakuan diceritakan sebagai berikut: “setelah ayahnya wafat Prabu Susuktunggal menjadi raja di Pakuan Pajajaran yang berdiri sendiri, hingga tahun 1482 Masehi. Dengan demikian baginda berkuasa 100 tahun lamanya. Ia wafat pada usia 113 tahun”.

Adapun Dewa Niskala, bahwa: “Prabu Niskala Wastu Kancana, pada tahun 1371 menikah dengan Dewi Mayangsari, putri bungsu Prabu Suradipati (Bunisora), putri itu baru berusia 17 tahun. Salah seorang putranya ialah Sang Ningratkancana.

Pada usia 23 tahun dinobatkan menjadi raja wilayah Garut dengan nama abhiseka Prabu Dewaniskala. Baginda menjadi rajamuda pada ayahnya hingga 1475 M”.

Pembagian tahta Sunda sama sekali tidak memutuskan hubungan kekerabatan keturunan dari Wastu Kencana, bahkan politik kesatuan wilayah dibangun telah membuat jalinan perkawinan antar putra-putri keduanya yang masih terbilang sebagai cucu Wastu Kencana.

Hal ini sebagaimana dilakukannya melalui pernikahan Jayadewata, putra Dewa Niskala dengan Kentring Manik Mayang Sunda, putri Susuktunggal.

Hubungan perkawinan dilakukan juga oleh para keturunan Sang Bunisora dengan keturunan Wastu Kencana. Dua orang putra Wastu Kancana menikah dengan putri Giri Dewata alias Ki Gedeng Kasmaya putra Sulung Bunisora yang menikah dengan Ratya Kirana puteri Ganggapermana raja daerah Cirebon Girang. Oleh karena itu Ki Gedeng Kasmaya menjadi penguasa tersebut menggantikan mertunya.

Ngarumpak Larangan

Kisah penyatuan kerajaan Sunda warisan Wastu Kancana tidak terlepas dari adanya peristiwa di Galuh. Pada masa tersebut, tahta Sunda di Kawali sudah diwariskan kepada Dewa Niskala, dan ia di anggap ngarumpak larangan yang berlaku di keraton Galuh. Mungkin pada waktu dikatagorikan dengan pelanggaran moral.

Masalah moralitas di wilayah Galuh sangat mewarnai perubahan jalannya sejarah Sunda, ditenggarai dari kisah Smarakarya Mandiminyak (Amara) dengan Pwah Rababu, istri Sempakwaja yang membuahkan perebutan tahta Galuh. Kisah selanjutnya adalah Kisah Dewi Pangrenyep.

Didalam versi cerita tradisional, seperti pantun dan babad, kisah ini diabadikan didalam lalakon Ciung Wanara. Demkian pula didalam kisah Dewa Niskala yang dianggap ngarumpak tabu keraton dengan cara menikahi putri hulanjar dan sekaligus istri larangan.

Dari masing-masing kisah tersebut sebenarnya dapat disimpulkan, bahwa keraton Galuh memiliki tradisi yang sangat menghormati moralitas, pada masa itu diatur dalam suatu bentuk etika hidup dan kenegaraan, yang disebut Purbatisti – Purbajati, bahkan memiliki sanksi yang tegas, dikucilkan dari lingkungan atau diturunkan dari tahtanya.

Keyakinan dan ketaatan Keraton Galuh demikian menjadikan suatu hal yang lumrah ketika nyusud kagirangna, karena Cikal Bakal Galuh adalah Kendan yang didirikan oleh Resi Manikmaya, resi sekaligus penguasa.

Pada periode berikutnya para keturunan Galuh menciptakan keseimbangan dengan membentuk negara Galunggung sebagai negara agama (kabataraan) yang memiliki kekuatan untuk mengontrol perilaku penguasa Galuh.

Ketaatan Galuh terhadap Galunggung nampak pula ketika masa Demunawan menginisiasi Perjanjian Galuh, sehingga pada periode berikutnya sangat wajar, ketika Dewa Niskala dipaksa untuk mengundurkan diri karena dianggap ngarumpak larangan.

Kisah akhir dari suatu kerajaan di pulau Jawa tentunya hampir sama, antara lain melahirkan mitos-mitos yang terkait dengan kondisi sang raja atau keluarganya. Misalnya, munculnya mitos tentang Sabda Palon Naya Genggong di Majapahit dan Wangsit Siliwangi di Pajajaran.

Kedua mitos tersebut ditafsirkan sedemikian rupa dan ditautkan dengan kondisi kekinian, pada akhirnya melahirkan paradigma tentang akan munculnya Ratu Adil.

Mitos selanjutnya yang muncul juga dikaitkan dengan kisah Ratu Kidul yang sangat melegenda, bahwa Bondan Kejawan, putra Kertabumi dari selirnya, Wandan Bondan Cemara, mengungsi ke Mataram. Ia kemudian memperistri Nawangwulan ratu Mataram yang juga disebut Ratu Kidul.

Dari perkawinan ini lahir Ratu Angin-angin atau Ratu Kidul yang kelak diperistri oleh Sutawijaya pendiri kerajaan Mataram.

Memang agak sulit melacak kebenarannya, mengingat hanya beredar di kalangan masyarakat tradisional dalam bentuk sejarah lisan, pantun atau babad yang sarat dengan simbol-simbol, masih perlu ditafsirkan.

Namun biarlah masalah tersebut hidup terus. Paling tidak dapat menjelaskan adanya ikatan sejarah dan benang merah antara masa kini dengan kearifan masa lalu.

Peristiwa Dewa Niskala didalam sejarah resmi sangat terkait pula dengan eksodusnya keluarga Keraton Majapahit ke Kawali, pasca huru hara di Majapahit yang menjatuhkan Brawijaya V. Pada masa tersebut Majapahit mendapat serangan beruntun Girindrawardana.

Keluarga keraton Majapahit mengungsi ke Pasuruan, Blambangan dan Supit Urang, namun tak kurang pula yang mengungsi ke Kawali disebelah barat Majapahit.

Kisah pelarian keluarga keraton Majapahit yang menuju wilayah Galuh tiba di Kawali.

Mereka dipimpin oleh Raden Baribin, saudara seayah Prabu Kretabhumi. Mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala. Raden Baribin kemudian dijodohkan dengan Ratu Ayu Kirana, putri Prabu Dewa Niskala.

Putri ini adiknya Banyakcatra atau Kamandaka, bupati Galuh di Pasir Luhur dan Banyakngampar bupati Galuh di Dayeuh Luhur.

Sayangnya Dewa Niskala dianggap ‘ngarumpak larangan’ karena menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan (wanita terlarang) dari salah satu rombongan para pengungsi. Rara hulanjar sebutan untuk wanita yang telah bertunangan.

Sama halnya dengan aturan di Majapahit, yakni perempuan yang masih bertunangan dan telah menerima panglarang, tidak boleh diperistri kecuali tunangannya telah meninggal dunia atau membatalkan pertunangannya.

Wanita terlarang (istri larangan) di dalam tradisi Sunda pada masa itu ada tiga macam. Hal ini sebagaimana rujukan dari Carita Parahyangan dan Siksa Kandang Karesian, yaitu:

(1) gadis atau wanita yang telah dilamar dan lamarannya diterima, gadis atau wanita terlarang bagi pria lain untuk meminang dan mengganggu,

(2) Wanita yang berasal dari Tanah Jawa, terlarang dikawin oleh pria Sunda dan larangan tersebut dilatar belakangi peristiwa Bubat, dan

(3) ibu tiri yang tidak boleh dinikahi oleh pria yang ayahnya pernah menikahi wanita tersebut.

Sejatinya suatu larangan akan ditaati jika mengandung sanksi, karena suatu larangan tanpa sanksi hanya bersifat himbauan maka tidak memiliki alat pemaksa.

Demikian pula di dalam hukum adat, seseorang akan dikenakan sanksi jika ia melanggar keseimbangan adat, dalam hal ini ada ketentuan adat yang dilanggar Dewa Niskala, yakni Purbatisti Prbajati (tradisi) keraton Galuh yang selalu diamanatkan oleh Wastu Kencana dan leluhur sebelumnya.

Peristiwa pernikahan Dewa Niskala dengan hulanjar atau istri larangan, serta akibat dari perbuatannya tetsebut diabadikan oleh penulis Carita Parahyangan, sebagai berikut:

diganti ku tohaan galuh, enya eta nu hilang di gunung tiga. lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran salah tindak bogoh ka awewe larangan ti kaluaran.

Hal yang sama dituliskan pula sebagai berikut :

//sang ningrat kancana / a

thawa prabhu dewa niskala/

madeg ratu ghaluh pakwan

ing (1397-1404) ikang ca

kakala//lawasnya/pitung warca/

mapan sira kawilang sang sa

lah mastri lawan wanodya

sakeng wilwatikta//

(Sang Ningrat Kancana atau Prabu Dewa Niskala, menjadi ratu Galuh Pakuan pada tahun 13897-1404. Lamanya 7 tahun. Karena ia terhitung bersalah memperistri gadis [hulanjar] dari Wilwatikta) [Wilwatikta adalah sebutan lain dari Majapahit]

Prabu Susuktunggal merasa bahwa keraton Surawisesa telah dinodai, sehingga mengancam untuk memutuskan segala hubungan kekerabatan dengan Galuh. Ancaman demikian tidak berakibat menakutkan jika disampaikan oleh kerabat biasa, namun lain halnya jika disampaikan oleh seorang raja Sunda yang sederajat dengan Dewa Niskala, sehingga wajar jika kemudian terjadi ketegangan.

Prabu Susuktunggal didalam kisah dan versi lainnya memang tak ada kesan yang tak baik, bahkan penulis Carita Parahyangan memiliki kesan yang sangat baik, ia mencatatkan sebagai berikut:

enya kieu, mimiti sang resi guru boga anak sang haliwungan, nya eta sang susuktunggal nu ngomean pakwan reujeung sanghiang huluwesi, nu nyaeuran sanghiang rancamaya.

tina sanghiang rancamaya aya nu kaluar.

“ngaran kula sang udubasu, sang pulunggana, sang surugana, ratu hiang banaspati.”

sang susuktunggal, enya eta nu nyieun pangcalikan sriman sriwacana sri baduga maharajadiraja, ratu pakwan pajajaran. nu kagungan kadaton sri bima – untarayana madura – suradipati, nya eta pakwan sanghiang sri ratudewata.

titinggal sang susuktunggal, anu diwariskeunana tanah suci, tanah hade, minangka bukti raja utama.

lilana ngadeg ratu saratus taun.

Ketegangan diantara kedua keturunan Wastu Kancana tersebut berakhir ketika para pemuka kerajaan mendesak keduanya untuk mengundurkan diri. Sebagai bentuk kompromi keduanya harus menyerahkan tahtanya kepada Jayadewata, yakni putra Dewa Niskala dan sekaligus menantu Susuktunggal.

Pada masa itu Jayadewata telah menduduki jabatan sebagai Putra Mahkota Galuh, sedangkan di Sunda diangkat sebagai Prabu Anom.

Dari adanya peristiwa tersebut tentunya mengandung hikmah yang cukup besar, karena peristiwa ini maka pada tahun 1482 M kerajaan Sunda warisan Wastu Kencana tersebut bersatu kembali dibawah pemerintahan Jayadewata, dengan sebutan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

Dari Kawali ke Pakuan.

Kisah penyatuan kembali kerajaan Sunda menurut versi sejarah resmi terjadi akibat perselisihan penguasa Galuh dengan Sunda yang cenderung memutuskan hubungan kekerabatan keraton Surawisesa dan Pakuan.

Hal tersebut dipicu oleh Dewa Niskala yang dianggap melanggar larangan dengan menikahi Hulanjar dan istri larangan. Untung saja Wastu Kancana sebelumnya telah mempersiapkan Jayadewata, cucunya untuk meneruskan tahta Sunda. Jika saja tidak dipersiapkan dimungkinkan hubungan Sunda dengan Galuh akan kembali sebagai hubungan sebelum dilakukannya perjanjian Galuh di Purasaba.

Jayadewata pada waktu itu masih berposisi sebagai Putra Mahkota Sunda Kawali dan sebagai Prabu Anom di Pakuan. Gelar Prabu Anom berdasarkan pada garis kekerabatan setelah menikah dengan putrinya Prabu Susuktunggal, yakni Kentring Manik Mayang Sunda.

Sedangkan Putra Mahkota karena ia putra dari Dewa Niskala.

Jayadewata sebelumnya melakukan pernikahan dengan dua cucu Wastu Kancana lainnya, yakni Ambetkasih, putri Gedeng Sindang Kasih dan Subanglarang, putra Gedeng Tapa.

Pada masa itu ia masih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa.

Lalampahan Jayadewata di Cirebon ditafsirkan para sejarawan untuk menimba ilmu kenegaraan dan mendapat pengalaman lain sebagai bekal dikemudian hari. Kisah Sang Pamanah Rasa di dalam cara mendapatkan Ambetkasih di Sindangkasih misalnya, digambarkan sejarawan tradisional dengan sangat dramatis, bagaimana ia dapat mengalahkan Amuk Murugul yang sakti mandraguna dalam suatu lomba tanding satria, ia pun menyamar dengan nama Keukeumbing Rajasunu.

Kisah ini dapat ditemukan dalam cerita pantun yang syarat dengan simbol-simbol. Namun dalam dunia nyata memang kedua tokoh benar adanya. Amuk Murugul kemudian Menjadi raja Singapura (Cirebon) sedangkan Sang Pamanah Rasa menjadi raja Pajajaran.

Didalam kisah lainnya Subanglarang adalah Santriwati dari Pondok Quro Karawang, dari pernikahan tersebut lahir Walangsungsang. Putra dari Subanglarang kemudian menjadi penyebar agama Islam di Cirebon.

Namun didalam naskah Wangsakera, Walangsungsang dianggap cucu dari Jayadewata. Dari epos sejarah ini banyak kisah dalam bermacam versi, Misalnya dikisahkan Jayadewata (Prabu Siliwangi) dikejar-kejar putranya supaya pindah ageman, bahkan tak kurang yang mengidentifikasi Walangsungsang sebagai Kian Santang.

Kekeliruan identifikasi ini berhenti sejenak setelah para penafsir mengalihkan nama Kian Santang kepada Sunan Rokhmat yang dimakamkan di Godok Garut, namun kisah ageman Prabu Siliwangi sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan yang menarik.

Rupanya kebesaran nama Prabu Siliwangi memang sangat menarik untuk diperbincangkan, tak pernah habis-habisnya, karena masyarakat tradisional di Jawa Barat seolah-olah tidak mau melepaskan kisah raja-raja Sunda jika tidak mengaitkan dengan nama Prabu Siliwangi.

Akibatnya banyak versi dan banyak kisah, seolah-olah Prabu Siliwangi adalah raja Sunda seluruh jaman dan tokoh untuk semua kisah serta versinya.

Jayadewata adalah penguasa Sunda di Kawali yang kemudian mengalihkan pusat pemerintahannya ke Pakuan. Pada masa muda lebih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa, putera Dewa Niskala, yang mewarisi tahta ayahnya di Galuh. Sebagai raja Sunda di Galuh ia bergelar Prabu Guru Dewataprana.

Kemudian mewarisi tahta mertuanya di Pakuan dengan gelar Sri Baduga Maharaja.

Sumber utama tentang keberadaan Sri Baduga Maharaja berasal dari prasasti Kabantenan dan Batutulis Bogor. Namun kisahnya jauh lebih terkenal dalam cerita masyarakat dengan gelar Prabu Siliwangi.

00//wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu

diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diyadingan sri

baduga maharaja ratu haji pakwan pajajaran sri sang ratu de

wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa nis

kala sa(ng) sidamoka di gunatiga, i(n)cu rahyang niskala wastu

ka(n)cana sa(ng) sidamoka ka nusa larang, ya siya nu nyiyan sakaka

ia gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghayang talaga

rena mahawijaya, ya siya pun 00i saka, pan

dawa (m) bumi 00

(Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi mendiang prabu ratu. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewata Niskala yang mendiang ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat [hutan] samida, membuat telaga Rena Mahawijaya, Ya dialah [yang membuat semua itu]. [Dibuat dalam {tahun} 1455Ç).

Jika dicermati dari Prasasti Bogor, Jayadewata dinobatkan sebagai raja Sunda dua kali, yakni di Kawali dengan gelar Prabuguru Dewataprana dan di Pakuan dengan gelar Sri Baduga Maharaja. Berita yang sama dimuat dalam naskah Pustaka Negara Kretabhumi parwa 1 sarga 4 halaman 47, sebagai berikut:

raja pajajaran winstwan ngaran prabhuguru dewataprana muwah winastwan ngaran cribaduga maharaja ratuhaji ing pakwan pajajaran cri sang ratu dewata putra ning rahiyang dewa niskala wastu kancana. rahyang niskala wastu kancana putra ning prabhu maharaja linggabhuanawicesa.

(Raja Pajajaran dinobatkan dengan gelar Prabhuguru Dewataprana dan dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baguga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, putra rahiyang Niskala Wastu Kancana. Rahiyang Niskala Wastu Kancana putra Prabu Maharaja Linggabuanawisesa)

Dari dua kali pengangkatannya tersebut tentunya membuahkan tandatanya, namun dapat terjawabkan jika diketahui bahwa Jayadewata sebelum dinobatkan jadi raja Sunda ia menyandang gelar (jabatan) Putra mahkota (rajaputra) di Galuh dan Prabu Anom di Pakuan.

Gelar putra mahkota karena memang ia putra dari Dewa Niskala sedangkan Prabu Anom karena ia menikah dengan rajaputri Pakuan, putrinya Prabu Susuktunggal, yakni Kentring Manik Mayang Sunda.

Kisah pengangkatannya di dua kerajaan tersebut adalah suatu bentuk kompromi yang tekait dengan ketegangan penguasa Galuh dengan Sunda. Hal tersebut diinisiasikan oleh para pemuka kerajaan untuk menjaga harmoni antara Galuh dengan Sunda.

Kisah pelantikan Jayadewata di abadikan dalam Carita Ratu Pakuan yang disusun oleh Kai Raga dari Srimanganti (Cikuray).

Jayadewata bertahta memerintah wilayah kerajaan Sunda (Galuh dan Sunda, kemudian disebut Pajajaran) pada tahun 1404 sampai dengan 1443Ç, atau pada tahun 1482 sampai dengan 1521M.

Pajajaran dimasa pemerintahannya mencapai puncaknya. Menurut penulis Carita Parahyangan “disebabkan melaksanakan pemerintahan yang berdasarkan purbatisti purbajati, tidak pernah kedatangan musuh kuat atau musuh halus. Tentram disebelah utara, selatan, barat dan timur”.

ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. tengtrem ayem beulah kaler, kidul, kulon jeung wetan, lantaran rasa aman.

Jayadewata memiliki banyak gelar, diantaranya gelar sri baduga maharaja ratu (h)aji di pakwan pajajaran sri sang ratu dewata, namun yang sering disebut-sebut oleh para sejarawan adalah Sang Pamanah Rasa, Sri Baduga Maharaja dan Prabu Siliwangi.

Masyarakat di tatar Sunda merasa teu wasa untuk menyebut gelarnya, bahkan ada yang menganggap tidak sopan (calutak), sehingga dalam cerita Pantun dan Babad lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.

Suatu gelar yang diberikan kepada raja Sunda yang berjasa besar, yakni Prabu Wangi, diberikan kepada Prabu Maharaja yang gugur dalam palagan Bubat dan Prabu Wangisuta, gelar untuk Prabu Niskala Wastu Kancana.

Alasan lain tentang nama Sri Baduga disebut Siliwangi, menurut Wangsakerta karena dalam hal kekuasaan ia menggantikan Prabu Wangi (Linggabuana) dan Prabu Wangisuta (Wastu Kancana).

Dalam Kertabahumi 1/5 h. 22/23 ditegaskan, :

cri baduga maharaja atyantakaweh yasa nira ring nagara sunda. swabhawa matangyan sira pramanaran prabu ciliwangi mapan sira sumilihaken kacakrawrtyan sang prabhu wangi ya ta sang mokteng bubat lawan sang prabhu wangisuta ya ta sang mokteng nusalarang

(Sri Baduga Maharaja sangat banyak jasanya terhadap negeri Sunda. Kekuasaanya seolah-olah tidak berbeda dengan Sang Prabu Maharaja yang gugur di Bubat. Itulah sebabnya ia digelari Prabu Siliwangi karena menggantikan pemerintahan Sang Prabu Wangi yaitu yang gugur di Bubat dan Sang Prabu Wangisuta yaitu mendiang di Nusa Larang)

Penulis Carita Parahyangan menyebutnya dengan nama Sang Ratu Jayadewata. Kisah tersebut, sebagai berikut :

diganti ku prebu, putra raja pituin, nya eta sang ratu rajadewata, nu hilang di rancamaya, lilana jadi ratu tilu puluh salapan taun.

ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. tengtrem ayem beulah kaler, kidul, kulon jeung wetan, lantaran rasa aman.

Jayadewata sampai pada tahun 1482 masih memusatkan kegiatan pemerintahan Sunda di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Sunda Kawali, selanjutnya pemerintahan di pindahkan ke Pakuan. Di dalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda.

Dongeng ieu aya terusanana, punten ka sadayana simkuring bade pamit heula atur nuhun tos dibaturan

Sampurasun. Wilujêng énjing,

Cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 17:47  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalammualaikum
    Salam
    Rahayu
    Sedulur kabeh
    Menarik nih kajiannya,
    tak perlu mencari
    Tak perlu dicari
    Bila yang bertemu ucapkan Alhamdulilah
    Bila yang belum bertemu ucapkan insyaallah
    Bukan bertemu atau tak bertemu
    Apa artinya kita bertemu
    Untuk apa kita bertemu
    Kalau sudah bertemu??
    Adakah perubahan
    Adakah nilai yang bisa diambil
    Biarkan misteri tetaplah misteri
    Dia akan datang dengan tiba tiba
    Dia akan datang tanpa disangka sangka
    Darimana datangnya??
    Tak seorang pun mengetahui..
    Sekarang, esok atau lusa
    Bulan ini, bulan depan atau tahun depan..
    Semua mungkin..
    Semua tak mustahil
    Semua tak pasti
    Yang pasti hanyalah kematian
    Menghadap Sang Ilahi Robbi
    Coba kalau semua berpikir
    Coba kalau semua bertujuan sama
    Tak hanya rakyat tapi juga pejabat
    Tak hanya birokrat tapi juga pengusaha
    Tak hanya rakyat awam tapi juga para cerdik pandai
    Tapi..apa yang terjadi??
    Apa yang kita saksikan??
    Berlomba lomba dalam urusan dunia
    Berlomba lomba dalsm urusan perut
    Berlomba lomba dalam urusan depan pantat
    Hahahaha…
    Sedikit yang ingat
    Sekali lagi Sedikit yang mengingat…
    Kebanyakan semua banyak berkutat
    Untuk urusan urat dan pantat
    Untuk urusat perut dan syahwat
    Kalau diterus teruskan bakalan kiamat.
    Hanya orang gila yang tak kumat
    Karena dibalik kegilaan ada nikmat
    Hahahahaha…
    Salam Paitun Gundul 87
    Gondal Gsndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: