Seri MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA



On 4 Januari 2011 at 06:01 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Sampurasun, wilujeng enjing, wilujeng patepung deui,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA [Bagian Keenam]
(Bagian Pertama. Kawali I On 23 Desember 2010 at 01:51 cantrik bayuaji said: HLHLP 072)
(Bagian Kedua. Kawali II On 25 Desember 2010 at 00:23 cantrik bayuaji said: HLHLP 073)
(Bagian Ketiga. Kawali III On 28 Desember 2010 at 11:40 cantrik bayuaji said: HLHLP 076)
(Bagian Keempat. Kawali IV On 31 Desember 2010 at 06:39 cantrik bayuaji said: HLHLP 079)
(Bagian Kelima, SSKK Parwa kahiji On 2 Januari 2011 at 06:29 cantrik bayuaji said: HLHLP 081)

***

SANGHYANG SIKSA KANDA (NG) KARESYAN {Parwa kadua}

[Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji]

***

[2]. mikukuh dasa prebakti. [Pupuh II]

nihan sinangguh dasa prebakti ngaranya. anak bakti di bapa, ewe bakti di laki. hulun bakti di pacandaan(11), sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado(12), wado bakti di mantri, mantri bakti di nu nangganan. nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. ya ta sinangguh dasa prebak{III}ti ngara(n)na.

(Inilah yang disebut dasa prebakti:
1. Anak tunduk kepada bapak; isteri tunduk kepada suami;
2. hamba tunduk kepada majikan(11)
3. siswa tunduk kepada guru;
4. petani tunduk kepada wado;
5. wado(12) tunduk kepada mantri,
6. mantri tunduk kepada nu nangganan;
7. nu nangganan tunduk kepada mangkubumi;
8. mangkubumi tunduk kepada raja;
9. raja tunduk kepada dewata;
10. dewata tunduk kepada hiyang.

Ya itulah yang disebut dasa prebak{III}ti.)

(11). pacandaan atau pasandaan – tempat bersandar, majikan,
(12). wado atau wadwa – prajurit yang memimpin para petani melakukan kerja-bakti untuk raja yang sedang berlangsung.

ini na lakukeuneun. talatah sang sadu jati. hong kara name sewaya. senibah ing hulun di sanghyang pancatatagata (13).

(Ini yang harus dilaksanakan, amanat sang budiman sejati. Puji dan sembahku kepada Yang Maha Kuasa, hormatku kepada sanghiyang panca tatagata (13))

(13) tatagata, dari Sansekerta, dari kata tatha bermakna kenyataan yang ada; dan gata yang berarti yang sedang berlangsung.

panca ngaran ing lima, tata ma ngaran ing sabda, gata ma ngaran ing raga, ya eta ma ngaran ing sabda, gata ma ngaran ing raga. ya eta ma pahayuan sareanana.

(Panca berarti lima, tata berarti ucap, gata berarti raga, Ya itulah yang memberikan kebaikan kepada semuanya.)

Panca gata adalah:
1. Panca aksara (14)

2. Panca Byapara (15): Sanghyang Pretiwi (tanah), Apah (air), Teja (cahaya), Bayu (angin) mwang Akasa (angkasa).

3. Panca Putra (16): Pretiwi Sang Mangukuhan, Apah Sang Katung-maralah, Teja Sang Karungkalah, Bayu Sang Sandanggreba, Akasa Sang Wretikandayun (17).

4. Panca Kusika (18): Sang Kusika di Gunung, Sang Garga di Rum-but, Sang Mesti di Mahameru, Sang Purusa di Madiri, Sang Patanjala di Panjulan

5. Sanghyang Wuku (19) Lima (Dina) Bwana: Purba, Daksina, Pasima, Utara, Madya.

(14) Panca aksara, sering digambarkan sebagai lima huruf yaitu: NA, MQ, SI, WA, YA yang masing-masing dianggap identik dengan tenaga dan daya alam yang dianggap sebagai manifestasi Sang Hyang Nu Maha Taya (Tuhan Yang Maha Nyata), yang langsung mempengaruhi kehidupan manusia. Dalam hal lain disebutkan sebagai personifikasi dari kekuasaan Yang Maha Agung.

(15) Panca byapara, lima anasir pelindung/pembungkus.

(16) Panca putera, lima orang putera Sang Kandiawan yang dianggap penjelmaan panca kusika.

(17) Wretikandayun, pendiri kerajaan Galuh.

(18) Panca kusika, lima orang resi murid Siwa dalam mitologi Hindu.

(19) Wuku, sebenarnya berarti buku, ruas atau penggalan.

Penyebutan nama-nama para Hyang yang kemudian dikenal dengan nama-nama Isora, Brahma, Mahadewa, Wisnu dan Siwa, menunjukkan bahwa pada waktu naskah ini ditulis, sudah ada pengaruh agama Hindu dalam kehidupan Istana Kawali. Meskipun sebagaimana dapat dilihat pada Prsasati Kawali bahwa Prabu Siliwangi, dan juga masyarakat Sunda pada waktu itu bukan penganut agama Hindu, mereka adalah penganut ajaran Jati Sunda, yakni sama dengan ajaran Budi pada masyarakat Jawa pada waktu itu.

***

[3]. pancaaksara guruning janma. [Pupuh III]

Dalam Siksa Kandang dituturkan: “pancaaksara ma byakta nu katongton kawreton, kacakeuh ku indriya

(Pancaaksara adalah kenyataan yang terlihat dan teralami, serta tertangkap oleh indera). Artinya : “Pengalaman harus dijadikan sebagai pelajaran bagi manusia” dimana melalui pengalaman itu akan diperoleh hakikat dari diri manusia dan lingkungannya.

desa kabeh ngaranya: purba, daksina, pasima, utara, madya. purba, timur, kahanan hyang isora, putih rupanya; daksina, kidul, (kahanan hyang brahma, mirah rupanya; pasima, kulon) kahanan hyang mahadewa, kuning (rupanya); {IV} utara, lor, kahanan hyang wisnu, hireng rupanya; madya, tengah, kahanan hyang siwah, (aneka) warna rupanya. nya mana sakitu sanghyang wuku lima dina bwana.

(Tempat itu disebut: Purwa, Daksina, Pasima, Utara, Madya. Purba, yaitu timur, tempat Hiyang Isora, putih warnanya. Daksina yaitu selatan, tempak Hiyang Brahma, merah warnanya. Pasima yaitu barat, tempat Hiyang Mahadewa, kuning warnanya. {IV} Utara yaitu utara, tempat Hiyang Wisnu, hitam warnanya. Madya yaitu tengah, tempat Hiyang Siwa, aneka macam warnanya. Ya sekian itulah wuku lima di bumi.)

Ini wuku lima di maha pandita(20) . …….
kitu keh eta, ku twah ning janma mana kreta, ku twah ning janma mana na layu.
Ini karma ning hulun,
saka(21) jalan urang hulun, Karma ma nga-ranya pibudieun, ti(ng)kah paripolah saka jalan ngaranya. maka takut maka jarot, maka atong maka teuang di tingkah di pitwaheun, di ulah di pisabdaan, ……….. maka satya di kahulunan, maka lokat dasa kalesa(22), boa ruat mala mali(23) papa, kapanggih ning kasorgaan. Lamun teu(ng)teuing ngawakan karma ning hulun, kitu eta leuwih madan usya(24) ditindih ukir, ………………

Ini twah ing janma pigunacun na urang reya

(Ini modal kesejahteraan yaitu mereka sang dewata lima(20). …………….
Demikianlah karena perbuatan manusia maka sejahtera, karena perbuatan manusia maka sentosa.
Ini pekerjaan hulun untuk jalan(21) kita mengabdi. Pekerjaan itu disebut bakal budi, tingkah laku itu namanya jalan. Hendaknya takut, berhati-hati(?), hormat dan sopan dalam tingkah. dalam perbu-atan, dalam ulah dan perkataan.
Demikian pula bila berada di hadapan sang raja. Tetaplah setia dalam pcngabdian, akan pulih dari noda yang sepuluh(22) pasti terhapus dosa dan hilang(23) penderitaan, bersua dengan kebahagiaan. Bila benar-benar melaksanakan tugas sebagai hulun, yang demikian itu lebih memadai dari usya(24) setinggi bukit, ……………

Ini perilaku manusia yang akan berguna bagi orang banyak.

(20) Sang dewata lima, adalah Iswara, Brahma, Mahadewa. Wisnu dan Siwa.

(21) Saka, bermakna asal, permulaan, tiang, semua.

(22) dasa kalesa – spuluh noda adalah dosa yang bersumber kepada ketidak-mampuan memelihara dasa indera.

(23) mali (kd: bali), sembuh, putih.

(24) usya dari kata Skr.: usha, adalah hasrat, keinginan.

***

[4]. mikukuh darma pitutur. [Pupuh XV dan XVI]

Wejangan ini berkaitan dengan keharusan untuk seorang untuk belajar dari pengalaman dan dalam menuntut ilmu seseorang harus memiliki penyikapan untuk tidak memandang waktu, guru dan yang harus digurui dan harus bersikap teliti dan selektif.

{XV}…… kitu keh urang janma ini. Lamun dek nyaho di puhun suka lawan enak ma ingetkeun saur sang darma pitutur. Ini silokana:
talaga carita hangsa
gajendra carita banem
matsyanem carita sagarem
puspanem carita bangbarem.

kalinganya, kitu ja rang dek ceta, ulah salah geusan nanya. la-mun hayang nyaho di tanian herang, talaga banyu atis ma hangsa tanya. kalingana ma aya janma atisti ring apraniti. herang tineung. rame ambek, nya(ng)kah, kangken hangga dina talaga herang.
hayang nyaho di j(e)ro ning laut ma. matsya tanya. kalingana ma upama hayang nyaho di hedap sang dewa ratu deung di hedap mahapandita.
hayang nyaho di Iwirning leuweung ma gajah tanya. ini kalingana. kangken Iwir ta ma nyaho di tineung nu reya. kangken gajah ta ma nyaho di bebedas sang
{XVI} dewa ratu
hayang nyaho di ruum amis ning kembang ma, bangbara tanya. kalingana ta kangken ba(ng)bara ma janma bisa saba ngumbara, nya¬ho di tingkah sakalih. kangken ruum kembang ma janma rampes twahna, amis barungusan semu imut ti(ng)kah suka.
kalingana ulah salah geusan tanya.

({XV}…….. Demikianlah kita manusia ini. Bila ingin tahu sumber kesenangan dan kenikmatan. ingat-ingatlah kata sang darma pitutur. Inilah selokannya:
telaga dikisahkan angsa
gajah mengisahkan hutan
ikan mengisahkan laut
bunga dikisahkan kumbang.

Maksudnya, demikianlah bila kita akan bertindak, janganlah salah mencari tempat bertanya. Bila ingin tahu tentang taman yang jernih, telaga berair sejuk tanyalah angsa. Umpamanya ada orang menekuni pedoman hidup, jernih pikiran, hidup hasratnya, bergelora, ibarat angsa berada di telaga bening. Bila ingin tahu isi laut tanyalah ikan. Ibaratnya orang ingin tahu tentang budi raja dan budi mahapendeta. Bila ingin tahu tentang isi hutan tanyalah gajah, Ini maksudnya. Yang diibaratkan isi ialah tahu keinginan orang banyak. Yang diibaratkan gajah ialah tahu tentang kekuatan sang {XVI} raja.

Bila ingin tahu tentang harum dan manisnya bunga, tanyalah kumbang. Maksudnya yang diibaratkan kumbang itu ialah orang dapat pergi mengembara. tahu perilaku orang lain. Yang diibaratkan ha¬rum bunga ialah manusia yang sempurna tingkah lakunya, manis tutur katarya selalu tampak tersenyum penuh kebahagiaan. Maksudnya janganlah salah memilih tempat bertanya.)

***

[5]. ngawakan tapa di nagara. [Pupuh X]

Pada Naskah disebutkan:
{X}…… sing sawatek guna, aya na satya diguna kahuluan; eta kehna turutaneun, kena eta ngawakan tapa di nagara

(Setiap orang yang memiliki kemampuan dan keahlian dengan setia dilakukannya untuk kepentingan negara, harus ditiru, karena itu berarti melakukan tapa di tengah negara).
Diajarkan sebagaimana tertulis pada naskah, bahwa setiap pejabat atau alat negara, mereka yanga ahli dalam bidang usaha atau perekonomian, juga para cendekiawan dan rohaniwan, dan siapapun dia sing sawatek guna (setiap orang yang memiliki kemampuan dan keahlian), di dalam melaksanakan darma atau tugas masing-masing sesuai dengan kemampuan, keahlian dan fungsinya disebut ngawakan tapa di nagara (melaksanakan tapa di tengah negara).

Siapa sing sawatek guna itu. Mereka antara lain adalah: [Lihat juga jenis-jenis pekerjaan pada uraian tentang tritangtu di nu reya, pada wedaran ini juga]:

1. mantri =menteri;
2. mangkubumi = setingkat mentri;
3. nu nangganan = pejabat di bawah mangkubumi;
4. bayangkara = pejabat keamanan negara;
5. prajurit = prajurit, tentara;
6. hulu jurit = pemimpin prajurit;
7. pam[a]rang = pemerang, tentara;
8. pamanah = pemanah, salah satu kesatuan militer atau tentara;
9. bela mati = pasukan khusus ketentaraan;
10. juru moha = telik sandi?;
11. pangurang dasa calagara = pejabat pemungut pajak/cukai;
12. gusti = pejabat negara urusan pertanahan;
13. paraloka = pejabat pemerintahan urusan wilayah, semacam menteri dalam negeri;
14. pangalasan = pejabat pemerintahan urusan pertahanan negara, semacam senopati perang, tetapi ada yang mengartikannya sebagai orang utas;
15. juru lukis = pelukis;
16. pande dang = pandai tembaga, pembuat barang dari tembaga;
17. pande mas = pandai emas;
18. pande glang = pandai gelang;
19. pande wesi= pandai besi;
20. guru wida[ng] medu wayang = juru tatah wayang?;
21. kumbang gending = pembuat gamelan, penabuh gamelan;
22. tapukan = penari;
23. banyolan = pelawak;
24. pahuma = peladang;
25. panyadap = penyadap;
26. panyawah = penyawah, petani;
27. panyapu = penyapu;
28. rare angon = penggembala;
29. pacelengan = peternak babi, pemburu babi hutan;
30. pakotokan = peternak ayam;
31. palika = penangkap ikan, nelayan;
32. preteuleum = penyelam;
33. puhawang = pawang, pelaut;
34. hareup catra = juru masak;
35. memeng = dalang;
36. paraguna = ahli lagu, pencipta tembang;
37. hempul = ahli permainan;
38. prepantun = ahli pantun;
39. marangguy = ahli ukir;
40. panguyek = ahli pelbagai macam busana, ahli kain;
41. paratanda = tokoh keagamaan;
42. brahmana= tokoh agama, pemimpin agama, agamawan;
43. janggan = cantrik juru tulis sanggar, pencatat ajaran-ajaran yang diberikan di sanggar, penulis atau pengarang kitab, setingkat di bawah ajar dia adalah pelajar, masih tergolong cantrik juga;
Dari akar kata janggan, maka lahirlah kata bujanggan (Mpu janggan=empu janggan), pujangga (Mpu jangga=empu janggan). Prapanca penulis Pujasastra Kakawin Nāgarakṛtâgama adalah seorang janggan, gelarnya kemudian adalah Pujangga Prapanca, atau sering disebut Empu Prapanca.
44. pandita = pandhita, guru besar keagamaan yang memiliki kemampuan linuwih, pemimpin atau pemilik sanggar (padepokan);
45. juru basa darmamurcaya = ahli bahasa;
46. bujangga = janggan;
47. barat katiga = ahli cuaca.

Yang sangat menarik dari Pupuh X Kitab Sanghyang Siksa Kanda (Ng) Karesyan ini adalah bahwa siapapun mereka sing sawatek guna itu, harus bersikap:
rea lieuk, sugan ngarumpak nebuk nembung megat jajarah. jaga urang deuuk, ulah salah hareup, maka rampes disila. deung sugan urang dibaan lemek ku tohaan, tineungkeun picarek urang. asing seueup, maka suka ka tohaan.

(baik-baik melihat, jangan sampai melanggar, mendorong, mengganggu atau memutus jajaran. Bila kita duduk jangan salah menghadap, baik baiklah bersila. pikirkanlah betul-betul sebelum berbicara. Layak dan patut, yang kesemuanya itu semata-mata untuk kepentingan negara.)

Suatu tata-krama, hubungan yang sangat elegan para penyelenggara negara yang patut ditiru.

Catatan:

pangurang dasa calagara (pejabat pemungut pajak/cukai)”;

Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk “dasa” dan “calagra” (Di Majapahit disebut “walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja di antaranya : menangkap ikan, berburu, ngikis (memelihara saluran air), bekerja di ladang atau di “serang ageung
(ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi).

***

Nuhun, sakieu heula dongeng Sanghyang Siksa Kanda (Ng) Karesyan parwa kadua

Sampurasun

Cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 17:47  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalammualaikum
    Salam
    Rahayu
    Sedulur kabeh
    Menarik nih kajiannya,
    tak perlu mencari
    Tak perlu dicari
    Bila yang bertemu ucapkan Alhamdulilah
    Bila yang belum bertemu ucapkan insyaallah
    Bukan bertemu atau tak bertemu
    Apa artinya kita bertemu
    Untuk apa kita bertemu
    Kalau sudah bertemu??
    Adakah perubahan
    Adakah nilai yang bisa diambil
    Biarkan misteri tetaplah misteri
    Dia akan datang dengan tiba tiba
    Dia akan datang tanpa disangka sangka
    Darimana datangnya??
    Tak seorang pun mengetahui..
    Sekarang, esok atau lusa
    Bulan ini, bulan depan atau tahun depan..
    Semua mungkin..
    Semua tak mustahil
    Semua tak pasti
    Yang pasti hanyalah kematian
    Menghadap Sang Ilahi Robbi
    Coba kalau semua berpikir
    Coba kalau semua bertujuan sama
    Tak hanya rakyat tapi juga pejabat
    Tak hanya birokrat tapi juga pengusaha
    Tak hanya rakyat awam tapi juga para cerdik pandai
    Tapi..apa yang terjadi??
    Apa yang kita saksikan??
    Berlomba lomba dalam urusan dunia
    Berlomba lomba dalsm urusan perut
    Berlomba lomba dalam urusan depan pantat
    Hahahaha…
    Sedikit yang ingat
    Sekali lagi Sedikit yang mengingat…
    Kebanyakan semua banyak berkutat
    Untuk urusan urat dan pantat
    Untuk urusat perut dan syahwat
    Kalau diterus teruskan bakalan kiamat.
    Hanya orang gila yang tak kumat
    Karena dibalik kegilaan ada nikmat
    Hahahahaha…
    Salam Paitun Gundul 87
    Gondal Gsndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: