Seri MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA

On 12 Januari 2011 at 13:29 punakawan bayuaji said: |Sunting Ini

Dongengnya Ki Bayuaji:

Sampurasun , wilujeng patepung deui,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA [Bagian Ketujuh]

(Bagian Pertama. Kawali I On 23 Desember 2010 at 01:51 cantrik bayuaji said: HLHLP 072)
(Bagian Kedua. Kawali II On 25 Desember 2010 at 00:23 cantrik bayuaji said: HLHLP 073)
(Bagian Ketiga. Kawali III On 28 Desember 2010 at 11:40 cantrik bayuaji said: HLHLP 076)
(Bagian Keempat. Kawali IV On 31 Desember 2010 at 06:39 cantrik bayuaji said: HLHLP 079)
(Bagian Kelima, SSKK Parwa kahiji On 2 Januari 2011 at 06:29 cantrik bayuaji said: HLHLP 081)
(Bagian Keenam, SSKK Parwa kadua On 4 Januari 2011 at 06:01 cantrik bayuaji said: HLHLP 082)

***

SANGHYANG SIKSA KANDA (NG) KARESYAN {Parwa katilu}
[Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji]

***

[6]. tritangtu di nu reya. [Pupuh XXVI dan Pupuh XXVII]

Ini tri-tangtu di bumi. Bayu kita pina/h/ka prebu, sabda kita pina/h/ka rama. h(e)dap kita pina/hka resi. Ya tritangtu di bumi, ya kangken pineguh ning bwana ngara(n)na.

(Inilah tiga ketentuan di dunia. Kewibawaan kita ibarat raja, ucap kita ibarat rama, tekad budi kita ibarat resi. Itulah tritangtu di dunia, yang disebut peneguh dunia.)

Wibawa seorang raja, sabda seorang rama dan tekad budi seorang resi. Tugas ketiga tokoh itu ditegaskan, bahwa:
jagat daranan di sang rama, jagat kreta di sang resi, jagat palangka di sang prabu

(urusan bimbingan rakyat menjadi tanggung jawab sang rama/pemuka masyarakat, urusan kesejahteraan hidup menjadi tanggung jawab sang resi/ulama, dan urusan pemerintahan menjadi tanggung jawab raja/ pemegang kekuasaan).

Ketiga pemegang posisi itu sederajat karena “pada pawitannya, pada muliyana” (sama asal-usulnya, sama mulianya). Oleh karena itu diantara ketiganya:

haywa paala-ala palungguhan, haywa paala-ala pameunang, haywa paala-ala demakan. Maka pada mulia ku ulah, ku sabda ku hedap si niti, si nityagata, si aum, si heueuh, si karungrungan, ngalap kaswar, semu guyu, tejah ambek guru basa dina urang sakabeh, tuha kalawan anwam

(jangan berebut kedudukan, jangan berebut penghasilan, jangan berebut hadiah. Maka berbuat mulialah dengan perbuatan, dengan ucapan dan dengan tekad yang bijaksana, yang masuk akal, yang benar, yang sungguh-sungguh, yang menarik simpati orang, suka mengalah, murah senyum, berseri di hati dan mantap bicara kepada semua orang, tua maupun muda)

Tritangtu di nu reya merupakan tiga sendi kemenangan dalam masyarakat yang meliputi sikap “teguh, pageuh, tuhu” dalam kebenaran, Sikap ini mutlak dilakukan demi tercapainya kesejahteraan hidup. Bila setiap orang jujur dan benar dalam menjalan tugasnya maka sejahtera di utara-selatan-barat-timur dan dimanapun yang ada dibawah langit.

{XXVI}……. teguhkeun pageuhkeun sahingga ning tuhu, pepet byakta warta manah. mana kreta na bwana, mana hayu ikang ja(ga)t, kena twah ning janma kapahayu.
kitu keh,
sang pandita pageuh di kapanditaan(a)na. kreta;
sang wiku pageuh di kawikuan(a)na, kreta;
sang manguyu pageuh di kamanguyuan(a)na, kreta;
sang paliken pageuh di (ka)paliken(a)na. kreta;
sang tetega pageuh di katetegaan(a)na, kreta;
sang ameng pageuh di kaamengan(a)na, kreta;
sang wasi pageuh di kawasian(a)na, kreta;
sang ebon pageuh di kaebon(a)na, kreta;
maka nguni sang walka pageuh di kawalkaa-
{XXVII} n(a)na, kreta;
sang wong tani pageuh di katanian(a)na, kreta;
sang euwah pageuh di kaeuwahan(a)na, kreta;
sang gusti pageuh di kagustian(a)na. kreta:
sang mantri pageuh dikamantrian(a)na, kreta;
sang masang pageuh di kamasangan(a)na, kreta;
sang bujangga pageuh di kabujanggaan(a)na. kreta.
sang tarahan pageuh di katarahan(a)na, kreta;
sang disi pageuh di kadisian(a)na, kreta;
sang prebu pageuh di kaprebuan(a)na, kreta.
nguni sang pandita kalawan sang dewa ratu pageuh ngretakeun ing bwana, nya mana kreta lor kidul kulon wetan sakasangga dening pretiwi sakakurung dening akasa; pahi manghurip ikang sarwo janma kabeh.

({XXVI}……. Kukuhkan, kuatkan, batas-batas kebenaran, penuh kenyataan sikap baik dalam jiwa. Maka menjadi sentosa dunia. maka menjadi sejahtera kehidupan ini, karena perbuatan manusia yang serba baik.

Demikianlah,
bila pendeta teguh dalam kependetaannya, akan sejahtera;
bila wiku teguh dalam kewikuannya, akan sejahtera;
bila manguyu teguh dalam kemanguyuannya, akan sejah¬tera;
bila paliken teguh pada kepalikenannya, akan sejahtera;
bila tetega teguh dalam ketetegaannya, akan sejahtera;
bila ameng teguh dalam keamengannya, akan sejahtera;
bila wasi teguh dalam kewasiannya, akan sejahtera;
bila ebon teguh dalam keebonannya, akan sejahtera;
Demikian pula,
bila walka teguh dalam kewalkaan-{XXVII}nya, akan sejahtera;
bila petani teguh dalam kepetaniannya, akan se¬jahtera;
bila euwah teguh dalam keeuwahannya, akan sejahtera;
bila gusti teguh dalam kegustiannya akan sejahtera;
bila masang teguh dalam kemasangannya, akan sejahtera:
bila bujangga teguh dalam kebujanggaannya, akan sejahtera:
bila tarahan teguh dalam ketarahannya, akan sejahtera:
bila disi teguh dalam kedisiannya. akan sejahtera;
bila rama teguh dalam keramaannya, akan sejahtera;
bila resi teguh dalam keresiannya, akan sejahtera;
bila prebu teguh dalam keprebuannya. akan sejahtera.

Demikian, bila pendeta dan raja sungguh-sungguh mensejahterakan negara, maka sejahteralah di Utara, Selatan, Barat dan Timur semua yang tersangga oleh bumi, semua yang ternaungi oleh langit; hidup sentosalah serba makhluk semuanya.)

Arti:

(1). pendeta = pandhita, resi, maha guru keagamaan yang memiliki kemampuan linuwih, pemimpin atau pemilik sanggar (padepokan); begawan atau rama adalah pendeta juga, tetapi dia adalah raja yang lengser dari kedudukannnya sebagai raja untuk kemudian menjadi pedeta;
(2). wiku = bhiku, bhiksu; pandhita;
(3). manguyu = cantrik kepala, biasanya disebut putut manguyu, pengatur jadwal peribadatan/sembahyang/pemujaan (dengan memukul genta);
(4). paliken = cantrik yang ahli dalam seni rupa; (pelukis, pemahat, pematung?);
(5). tetega = cantrik setingkat di bawah manguyu; (tetega=teteg = kentongan, alat yang dipukul untuk memberitahu kegiatan peribadatan);
(6). ameng = cantrik pelayan sanggar; penghibur sanggar;
(7). wasi = cantrik kepala penanggung-jawab urusan penegakan hukum; pertapa;
(8). ebon = setara cantrik;
Demikian pula
(9). walka = cantrik pertapa yang mengenakan pakaian-kulit-kayu;
(10). petani = petani;
(11). euwah = penyawah (sawah) (?), petani (?);
(12). gusti = pejabat negara urusan pertanahan, arti lain adalah tuan tanah;
(13). masang = cantrik (?)
(14). bujangga = janggan;
(15). tarahan = tukang tambangan perahu, penambang;
(16). disi = ahli siasat, peramal (?);
(17). rama = resi, begawan, pandhita;
(18). resi = mahaguru, pandhita.
(19). prebu = prabu, raja, ratu.

Dari klasifikasi tugas dan sebutan di atas, terlihat adanya suatu tatanan masyarakat sanggar/padepokan yang sudah jelas stratifikasinya. Puncak tatanan ada pada diri seorang pendeta yang memang harus mampu bertindak sebagai seorang guru besar yang memang harus mandiri dalam kancah bidang keilmuannya.

Sedangkan cantrik ternyata bukanlah seseorang yang berkaitan dengan makna murid seperti yang kita bayangkan. Mesti dalam Bausastra Jawa-Indonesia “Janggan” diartikan Cantrik/Pelajar, nampaknya deskripsi tugasnya sebagai “seseorang yang melayani segala hal”, terasa lebih tepat.

Ini berkaitan dengan konteks paradigma kependidikan di padepokan yang memang terjadi lewat dedikasi pengabdian dalam arti seutuh-utuhnya. Sedangkan “Janggan” jika keahliannya dipandang mumpuni maka masuk dalam kategori mPu Janggan (yang kemudian dikenal dalam bahasa sekarang sebagai Pujangga (dari kata mPu Janggan).

Dari kesemunya itu maka inti ajaran Siksa Kandang Karesyian sebagaimana yang dimuat di dalam kropak 630 memberikan arti bahwa: Jika setiap manusia menyandang kedudukan apapun, sesuai dengan keahliannya, berpegang teguh kepada kebenaran dan menjalankan kewajiban sesuai dengan tugasnya masing-masing maka akan mencapai kesejahteraan sejati.

Kesejahteraan sejati dimaksud meliputi kesejahteraan batin dan kesejahteraan lahir. Kesejahteraan batin jika manusia tidak mengingkari kebenaran, sedangkan kesejahteraan lahir dapat diperoleh jika dalam menjalankan tugasnya dilakukan dengan cara yang jujur dan bersungguh-sungguh. Itulah yang di wasiatkan Wastu Kancana kepada generasi sesudahnya, termasuk kita yang hidup di masa sekarang ini.
Wasiat tentang kesejahteraan lahir mengandung pula konsep tentang bagaimana manusia harus teguh dan memiliki dedikasi dibidang keahliannya.

Pada dasarnya ketiga posisi itu terdapat pula dalam masyarakat kita sekarang, yaitu Pemuka Masyarakat, Ulama dan Pemerintah. Apa yang diharapkan dari trio itu pada jaman Siliwangi, rasanya masih diharapkan juga dewasa ini.
Konsep dan visi Wastu Kancana menurut hemat saya lebih maju dari praktek kenegaraan sekarang. Mari kita bandingkan dengan praktek-praktek kehidupan sebagai manusa, sebagai bangsa dan kehidupan kenegaraan itu sendiri di masa kini.

Saat ini banyak orang yang bukan negarawan mengurusi masalah negara, para ahli agama banyak yang terjun menjadi politikus, banyak politikus jadi pedagang, banyak kaum pedagang jadi penentu kebijakan negara. Semuanya menyebabkan kerancuan dan menjauhkan bangsa dari kesentosaan kesejahteraan kawulånya.

Mungkin perlu direnungkan kembali tentang nilai-nilai luhur yang dinasehatkan Wastu Kancana. Nilai-nilai tersebut pernah menjadi jati diri urang Sunda. Hal nya sama dengan Naskah Darma Pitutur yang dimuat dalam kropak 630.

Intinya mengajarkan, bahwa bertanyalah kepada ahlinya, serta serahkanlah suatu persoalan kepada ahlinya masing-masing. Tentang masalah keagamaan maka tanyakanlah kepada ahli agama — masalah perniagaan bertanyalah kepada ahli niaga — masalah kenegaraan bertanyalah kepada negarawan.

Janganlah ahli agama turut campur memaksakan kehendak untuk mengurus negara – tukang dagang ikut-ikutan menentukan kebijakan politik, karena semua itu bukan bidangnya.
Demikian seharusnya ahli agama dan raja harus teguh membina kesejahteraan didunia, maka akan sejahteralah di utara – barat dan timur, diseluruh hamparan bumi dan seluruh naungan langit, sempurnalah kehidupan seluruh umat manusia.

***

[7]. hirup cukup teu kaleuleuwihi . [Pupuh XIII dan XIV]

Setiap orang dianjurkan untuk selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu:

{XIII}……pakeun mo tiwas kala manghurip, pa-keun wastu di imah di maneh. Emet, imeut. rajeun, leukcen, paka predana, pakeun mo tiwas kala manghurip, pa-keun wastu di imah di maneh. emet, imeut. rajeun, leukcen, paka predana, morogol-rogol, purusa ning sa, widagda, hapitan. kara wa-leya, cangcingan, langsitan.
jaga ‘rang ngajadikeun gaga-sawh, tihap ulah sangsara. jaga rang nyieun kebo/a/n, tihap mulah ngu(n)deur ka huma beet sakalih, ka huma lega sakalih. hamo ma beunang urang laku sadu. cocooan ulah tihap meuli mulah tihap nukeur. pakarang ulah tihap nginjeum,
{XIV} simbut-cawet mulah kasarataan, hakan-inum ulah kakurangan, anak-ewe pituturan sugan dipajar durbala siksa.

({XIII}………. agar tidak gagal dalam hidup, agar rumah tangga kita penuh berkah, (yaitu) cermat. teliti, rajin. tekun. cukup sandang, bersemangat, berperibadi pahlawan, bijaksana, berani berkurban, dermawan, cekatan, trampil. Bila kita membuat sawah. untuk sekedar tidak sengsara; bila kita membuat kebun, untuk seke-dar tidak mengambil sayur-sayuran di ladang kecil milik orang lain atau ke ladang luas milik orang lain, sebab tak akan dapat memintanya: memelihara ternak untuk sekedar tidak membeli atau menukar, (memiliki) perkakas untuk sekedar tidak meminjam;{XIV} selimut dan pakaian jangan kekurangan; makan dan minum jangan kekurangan; anak dan isteri dinasihati supaya tidak dikatakan merusak kesusilaan.

Dengan demikian maka pelengkap hidup agar selamat dalam kehidupan dan mendapat berkah dalam berumah tangga, bermasyaraoat dan bernegara harus:
emet (cermat)
imeut (teliti)
rajeun (rajin)
leukeun (tekun)
paka predana (cukup sandang)
morogol-rogol (bersemangat)
purusa ningsa (berpribadi pahlawan)
widagda (bijaksana)
hapitan (berani berkurban)
waleya (dermawan)
cangcingan (gesit)
langsitan (cekatan)

dengan berikap hidup bersahaja:
jaga rang hees tamba tu(n)duh, nginum twa/h/k tamba hanaang, nyatu tampa ponyo, ulah urang kajo(ngj)onan. yatnakeun maring ku hanteu

(Hendaknya kita tidur sekadar penghilang kantuk, minum tuak sekadar penghilang haus, makan sekadar penghilang lapar, jangan berlebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa apa).

***

[8]. ulah pupujieun. [Pupuh XII]

{XII}…… lamun aya nu muji urang, suita, maka geuing urang, gumanti pulangkeun ka nu muji, pakeun urang mo kapentingan ku pamuji sakalih. lamun urang daek dipuji ma kadyangga ning galah dawa sinambungan9 tuna, rasa atoh ku pamuji. a(ng)geus ma dipake hangkara.

({XII}…… begitulah bila ada yang memuji kita, hendaknya segan dan sadarlah kita, ganti kembalikan kepada yang memuji supaya kita tidak mementingkan pujian orang lain. Kalau kita senang dipuji, ibarat galah panjang disambung ranting (belalai) karena merasa senang oleh pujian. Lalu menjadi takabur.)

***

[9]. panca parisuda. [Pupuh XIII]

Panca Parisuda memiliki arti Lima Obat Penawar. Ini kaitannya dengan sikap menerima kritik “lamun aya nu meda urang, aku sapameda sakalih” (kalau ada yang mencela (mengkritik) kepada kita, terimalah kritik orang lain itu).

Anggaplah kritikan, celaan adalah air untuk mandi. Dengan sikap tersebut dikatakannya:“kangken galah cedek tinugelan (Sama halnya dengan sodok dipapas menjadi runcing). Dengan kritik, akal budi kita akan makin kukuh dan tajam.

Selengkapnya:

{XIII}…… kitu, lamun aya nu meda urang, aku sapameda sakalih. nya mana kadyangganing galah cedek tinugelan teka. upamana urang kudil, eta kangken cai pamandyan. upamana urang kurit kangken datang nu ngaminyakan. upamana urang ponyo kangkn datang nu mere kejo. upamana urang henaang kangken (datang nu) mawakeun aroteun. upamana urang handeueul kangken (datang) nu mere seupaheun. ya sinangguh panca parisuda ngara(n)na. eta kangken galah cedek tinugelan.

({XIII}…… Begitulah, kalau ada yang mencela (mengkritik) kepada kita, terimalah kritik orang lain itu.
Yang demikian itu ibarat galah sodok dipotong runcing,
(1). ibarat kita sedang dekil, celaan itu bagaikan air buat mandi;
(2). ibarat kita sedang menderita kekeringan kulit, bagaikan datang orang yang meminyaki;
(3). ibarat kita sedang lapar, bagaikan datang yang memberi nasi;
(4). ibarat kita sedang dahaga, bagaikan datang orang yang mengantarkan minuman;
(5). ibarat kita sedang kesal hati, bagaikan datang orang yang memberi sirih pinang.

Itulah yang disebut panca parisuda (lima penawar); ibarat galah sodok diperpendek.)

***

[10]. ulah bohong, ulah maling, jeung pamali. [Pupuh V]

jaga rang dek luput ing na pancaga/n/ti(24), sangsara. Mulah carut mulah sarereh, mulah nyangcarutkeun maneh. Kalingana nyangcarutkeun maneh ma ngaranya: nu aya dipajar hanteu, nu hanteu dipajar waya, nu inya dipajar lain, nu lain dipajar inya. Nya karah (he)dapna ma kira-kira. Budi-budi ngajerum, mijaheutan, eta byaktana nyangcarutkeun maneh ngara(n)na.

(Waspadalah agar kita terluput dari pancagati(25) agar tidak sengsara. Jangan hianat, jangan culas, jangan menghianati diri sendiri. Yang dikatakan menghianati diri sendiri yaitu: yang ada dikatakan bukan, yang bukan dikatakan benar. Ya begitulah, tekadnya penuh dengan muslihat. Perbuatan memfitnah, menyakiti hati (orang lain), itulah kenyataannya yang disebut menghianati diri sendiri.)

(25) pancagati adalah lima penyakit serakah, kebodohan, kejahatan, tekabur dan keangkuhan.

{V}……nyangcarutkeun sakalih ma ngara(n)na: mipit mo amit, ngala mo menta, ngajuput mo sadu. maka nguni tu: tunumpu, maling, ngetal, ngabegal; sing sawatek cekap carut, ya nyangcarutkeun sakalih ngara(n)na.

({V}…… Yang disebut menghianati orang lain adalah: memetik (milik orang) tanpa izin, mengambil tanpa meminta, memungut tanpa memberi tahu. Demikian pula: merampas. mencuri, merampok, menodong; segala macam perbuatan hianat. ya menghianati orang lain namanya.)

{V}……sanguni tu: meor, ngodok, nyepet, ngarebut, ngarorogoh, papan jingan. maka nguni ngotok ngowo di pamajikan, di panghulu tandang. maka nguni di tohaan di maneh, itu leuwih mulah dipiguna dipitwah ku urang hulun. ulah mo pake na sabda atong teuang guru basa, bakti susila di pada janma, di kula kandang baraya.

({V}…… Demikian pula: meraup [mengambil barang orang dengan kedua telapak tangan], memasukkan tangan [untuk mengambil barang orang], mencomot, merebut, merogoh, menggerayangi rumah orang, Begitu juga terus menerus tinggal di rumah majikan, rumah penguasa atau pada raja. Hal demikian lebih-lebih jangan dilakukan, jangan diperbuat oleh seorang hulun. Jangan lupa menggunakan ucap yang hormat, sopan dan mantap, bakti dan susila kepada sesama ma¬nusia, kepada sanak keluarga.)

Yang tidak kurang menariknya adalah penjelasan yang menerangkan bahwa pada masa itu di kerajaan Sunda juga terdapat orang-orang yang memperoleh penghasilan dengan jalan melakukan pekerjaan yang tidak disukai masyarakat, melanggar norma-norma umum, tergolong sebagai sing sawatek cekap carut (segala macam perbuatan hianat), misalnya:

1. mipit mo amit = memetik (milik orang) tanpa izin;
2. ngala mo menta = mengambil tanpa meminta;
3. ngajuput mo sadu = memungut tanpa memberi tahu;
4. tunumpu = merampas;
5. maling = mencuri;
6. ngetal = mengutil;
7. ngabegal = membegal, menodong;
8. meor = meraup;
9. ngodok = merogoh;
10. nyepet = mencopet;
11. ngarebut = merebut, merampas;
12. ngarorogoh = merogoh saku;
13. papan jingan = memasuki rumah orang lain tanpa izin;
14. Termasuk sing sawatek cekap carut adalah perbuatan pamali yaitu: ngotok ngowo di pamajikan, di panghulu tandang = terus menerus tinggal di rumah majikan, rumah penguasa atau pada raja tanpa berbuat apa-apa.

Nuhun, sakieu heula dongeng Sanghyang Siksa Kanda (Ng) Karesyan parwa katilu

Sampurasun

Cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 17:47  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalammualaikum
    Salam
    Rahayu
    Sedulur kabeh
    Menarik nih kajiannya,
    tak perlu mencari
    Tak perlu dicari
    Bila yang bertemu ucapkan Alhamdulilah
    Bila yang belum bertemu ucapkan insyaallah
    Bukan bertemu atau tak bertemu
    Apa artinya kita bertemu
    Untuk apa kita bertemu
    Kalau sudah bertemu??
    Adakah perubahan
    Adakah nilai yang bisa diambil
    Biarkan misteri tetaplah misteri
    Dia akan datang dengan tiba tiba
    Dia akan datang tanpa disangka sangka
    Darimana datangnya??
    Tak seorang pun mengetahui..
    Sekarang, esok atau lusa
    Bulan ini, bulan depan atau tahun depan..
    Semua mungkin..
    Semua tak mustahil
    Semua tak pasti
    Yang pasti hanyalah kematian
    Menghadap Sang Ilahi Robbi
    Coba kalau semua berpikir
    Coba kalau semua bertujuan sama
    Tak hanya rakyat tapi juga pejabat
    Tak hanya birokrat tapi juga pengusaha
    Tak hanya rakyat awam tapi juga para cerdik pandai
    Tapi..apa yang terjadi??
    Apa yang kita saksikan??
    Berlomba lomba dalam urusan dunia
    Berlomba lomba dalsm urusan perut
    Berlomba lomba dalam urusan depan pantat
    Hahahaha…
    Sedikit yang ingat
    Sekali lagi Sedikit yang mengingat…
    Kebanyakan semua banyak berkutat
    Untuk urusan urat dan pantat
    Untuk urusat perut dan syahwat
    Kalau diterus teruskan bakalan kiamat.
    Hanya orang gila yang tak kumat
    Karena dibalik kegilaan ada nikmat
    Hahahahaha…
    Salam Paitun Gundul 87
    Gondal Gsndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: