Seri MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA

On 14 Januari 2011 at 06:07 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Sampurasun,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
MAGAWE RAHAYU MAGAWE KERTA [Bagian Kedelapan]

(Bagian Pertama. Kawali I On 23 Desember 2010 at 01:51 cantrik bayuaji said: HLHLP 072)
(Bagian Kedua. Kawali II On 25 Desember 2010 at 00:23 cantrik bayuaji said: HLHLP 073)
(Bagian Ketiga. Kawali III On 28 Desember 2010 at 11:40 cantrik bayuaji said: HLHLP 076)
(Bagian Keempat. Kawali IV On 31 Desember 2010 at 06:39 cantrik bayuaji said: HLHLP 079)
(Bagian Kelima, SSKK Parwa kahiji On 2 Januari 2011 at 06:29 cantrik bayuaji said: HLHLP 081)
(Bagian Keenam, SSKK Parwa kadua On 4 Januari 2011 at 06:01 cantrik bayuaji said: HLHLP 082)
(Bagian Ketujuh, SSKK Parwa katilu, On 12 Januari 2011 at 13:29 punakawan bayuaji said: HLHLP 086)

***

SANGHYANG SIKSA KANDA (NG) KARESYAN {Parwa kaopat.}

[Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji]

***

[11]. janma utama nu kapuji [Pupuh XI]

{XI}……nya mana aya ma na urang nu kapuji, «i cangcingan, si langsitan, maka predana, emet imeut rajeun leukeun satya di guna tohaan. eta ma turut twahna deung gunana, boa urang kapuji deui.
aya ma/na/janma rampes ruana, rampes ti(ng)kahna, rampes twahna, turut saageungna kena eta sinangguh janma utama ngara(n)na.

Pelengkap hidup agar selamat dalam kehidupan dan mendapat berkah dalam hidup harus:
({XI}……… Bila ada di antara kita yang terpuji: cekatan, trampil, penuh keutamaan, cermat, teliti. rajin, tekun, setia kepada tugas dari negara. Yang demikian itu perlu ditiru perbuatan dan kemahirannya. pasti kitapun akan mendapat pujian pula.

Bila ada orang baik penampilannya, baik tingkahnya, baik per¬buatannya, tirulah seluruhnya karena yang demikian itu disebut manusia utama.)

***

[12]. parigeuing, dasa pasanta [Pupuh XXIV]

Dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat tradisional ada 3 posisi yang menjadi tonggak kehidupan, yaitu Rama (Pendiri kampung dan Pemimpin masyarakat) Resi (Tokoh agama) Prabu (Raja/pemerintah/penguasa yang memiliki kekuasaan).

Dalam naskah, dianjuran agar orang memiliki wibawa seorang prabu, ucapan seorang rama dan tekad seorang resi.

pahi nyaho di sabda sang prabu, sang rama, sang resi, bisa matitiskeun bayu, sabda, heddap. nya mana nya ho di geui(ng), di upageui(ng), di parigeui(ng); ya ta tri geui(ng) ngara(n)na.
geui(ng) ma bisa ngicap bisa ngicup dina kasukaan. ya geui(ng) ngara(n)na. upageui(ng) ma ngara(n)na bisa nyandang bisa nganggo, bisa babasahan, bisa dibusana, Ya upageui(ng) ngara(n)na. parigeui(ng) ma ngara(n)na bisa nitah bisa miwarang ja sabda arum wawangi. nya mana hanteu surah nu dipiwarang ja katuju nu beunang milabuh siloka.

(Lalu memahami sabda sang prabu, sang rama. sang resi, bila dapat mengendalikan hasrat, ucap, dan budi. Maka yang demikian itu mengetahui tentang geuing. upageuing. parigeuing; yaitu yang disebut trigeuing.)

geuing ialah dapat makan dan dapat minum dalam kesenangan. Itulah arti geuing.

upageuing berarti dapat bersandang. dapat berpakaian, dapat berganti pakaian (selama yang lain dicuci), dapat berbusana. Itulah arti upageuing.

parigeuing berarti dapat memerintah. dapat menyuruh, karena tuturnya manis dan ramah.
Sehingga tidak merasa segan orang yang disuruh karena terkena oleh hasil menyelami seloka.

akitu na dasa pasantra, geus ma: guna, rama, hook, pesok, asih, karunya, mupreruk, ngulas, nyecep, ngala angeen. nya mana suka bungah padang caang nu dipi¬warang. ya ta sinangguh parigeui(ing) ngara(n)na.

ini silokana: mas, pirak, komala, hinten, ya ta sanghyang catur yogya ngara(n)na. Ini kalingana.
mas ma ngaranya sabda tuhu tepet byakta panca aksara.

pirak ma ngaranya ambek kreta yogya rahayu.
komala ma ngaranya geui(ng) na padang caang lega loganda.

hinten ma ngaranya cangcing ceuri semu imut rame ambek. Ya ta sinangguh catur yogya ngaranya.

(Demikianlah (yang disebut) dasa pasanta (sepulluh penenang hati), yaitu bijaksana, ramah, sayang, memikat hati. kasih. iba membujuk, memuji, membesarkan hati, mengambil hati. Maka senang. gembira, dan cerahlah orang yang disuruh. Itulah yang disebut pari-geuing.

Dengan kalimat lain, bawa Parigeuing memerlukan dasa pasanta (10 cara penenang), yaitu:

1. guna (bijaksana);
2. rama (ramah);
3. hook (sayang);
4. pesok (memikat);
5. asih (kasih);
6. karunya (iba hati);
7. mupreruk (membujuk);
8. ngulas (memuji);
9. nyecep (membesarkan hati);
10. ngala angen (mengambil hati).

Inilah selokannya: emas, perak, permata, intan. yang disebut catur yogya (empat hal yang terpuji).

Ini maksudnya:

Emas berarti ucapan yang jujur. tepat, nyata panca aksara.

Perak berarti hati yang tenteram, baik. bahagia.

Permata berarti hidup dalam keadaan cerah. puas, leluasa.

Intan berarti mudah tertawa. murah senyum, baik hati.

Itulah yang disebut catur yogya.

***

Salah satu kunci ke arah kesejahteraan sejati itu dalam kropak 630 lembar 26 dan 27 diuraikan sebagai berikut:

Terakhir marilah kita renungkan Wasiat tersebut sebagai kearifan masa lalu, karena:

hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma baheula hanteu teu ayeuna
henteu ma baheula henteu teu ayeuna
hana tunggak hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna.

Ada dahulu ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini.
Bila tidak ada masa silam maka tiada masa kini.
Ada tonggak tentu ada batang.
Bila tak ada tonggak tentu tidak ada batang.
Bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

……ini kawuwusan siksa kandang karesian ngaranya, ja na pustaka nipun sang ngareungeupun. mula nibakeun sastra duk ing teja (di)wasa, huwus ing wulan katiga pun. ini babar ing pustakanipun: nora (0) catur (4) sagara (4) wulan (1)

(Demikianlah yang dikatakan Siksa Kandang Karesian, semoga menjadi sumber pengetahuan bagi yang mendengarkan. Mulai menulis naskah waktu hari bersinar cerah. Selesai dalam bulan katiga. Ini (tahun) selesainya pustaka: nora (0) catur (4) sagara (4) wulan (1). (1440 Ç atau 1518 M).

Pada dasarnya isi naskah ini berisi gambaran tentang ajaran moral umum untuk kehidupan masyarakat pada masa itu, dan tentunya tidak hanya dikhususkan untuk urang Sunda saja.

Kita yang hidup di abad yang katanya modern ini, saya pikir ajaran moral Sanghyang Siksa Kanda (Ng) Karesyan tersebut masih sangat tepat kalau kita semua (sekali lagi bukan hanya urang Sunda saja) dapat melaksanakannya, terutama para yang merasa menjadi pemimpin bangsa.

Nuhun, sakieu heula dongeng Sanghyang Siksa Kanda (Ng) Karesyan

Sampurasun

Cantrik Bayuaji

On 16 Januari 2011 at 00:07 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Sampurasun. Wilujeng enjing

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
[Sisipan Dongeng Magawe Rahayu Magawe Kerta]

SATRIÅ PININGIT SANG RATU ADIL

[Ratu Adil nu Sajati, Budak Angon, Bocah Angon, Satriå Piningit, Hérucåkrå, Tunjung Putih, Pudhak Sinumpêt]

Ingsun Angidhepa Sang Hyang Guru Reka, Kamatantra: swaranku manikastagina.

Sebelum mendongeng bagian-bagian terakhir dari Dongeng Arkeologi & Antropologi Magawe Rahayu Magawe Kerta yaitu Uga Wangsit Siliwangi, Menelisik Uga Wangsit Siliwangi dan Prabu Siliwangi Mokşa, terlebih dahulu saya akan mendongeng ‘sang messiah’ Sang Ratu Adil yang disebut dengan berbagai julukan antara lain Budak Angon; Bocah Angon; Satriå Piningit, Hérucåkrå; dan lain-lain.

Sebagaimana Jångkå Jåyåbåyå , Uga Wangsit Siliwangi juga menyebutkan dengan jelas akan datangnya ‘sang messiah’ itu, Sang Ratu Adil, maka Dongeng Arkeologi & Antropologi Magawe Rahayu Magawe Kerta ini akan berlanjut dengan ‘Dongeng Arkeologi & Antropologi Sabdå Palon Nåyå Genggong’, yang ada kaitannya dengan dongeng Ratu Adil ini.

Siapa Satriå Piningit Sang Ratu Adil itu?

Kehidupan bangsa-bangsa di dunia tidak selalu berjalan mulus, melainkan keadaannya selalu mengalami perubahan silih berganti. Misalnya pada suatu masa suatu bangsa mengalami kemajuan, kemakmuran, dan persatuan, tetapi pada masa yang lain mungkin mengalami kemunduran, kesulitan ekonomi, dan perpecahan.

Ada kalanya suatu bangsa mengalami kesejahteraan, keamanan, dan kesentosaan, tetapi ada kalanya tertimpa berbagai malapetaka, seperti bencana alam, perang saudara, serangan negara lain, pemberontakan, kezaliman penguasa, rusaknya moral merajalelanya må limå kekurangan pangan, hama dan penyakit merebak dimana-mana, harga kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan kebutuhan hidup lainnya semakin tak terjangkau, wabah penyakit, dan lain-lain.

Pada saat-saat suatu bangsa mengalami penderitaan yang amat sangat, maka muncullah impian dan harapan mereka akan datangnya seorang pemimpin yang diharapkan mampu berperan sebagai penolong, penyelamat, atau pembebas atau paling tidak pencerah dari penderitaan rakyat negeri tersebut.

Pemimpin yang diidam-idamkan itu disebut dengan berbagai istilah, ratu adil, penolong, penyelamat, pembebas penderitaan rakyat, dan lain-lain.

Dalam kepercayaan agama-agama, pemimpin yang diidam-idamkan itu mendapat sebutan dengan berbagai julukan, seperti nabi, rasul, mesias, al mahdi, al masih, al masih al maw’ud, dan lain-lain.

Harapan akan datangnya seorang penolong itu dalam ilmu perbandingan agama disebut dengan harapan mesianis (messianic hope), dan sang penolong itu disebut messiah (messias). Istilah messias ini berasal dari bahasa Ibrani ”mashlah” yang artinya orang yang diurapi dengan minyak suci.

Gambaran tentang mesias itu bervariasi, ada yang digambarkan sebagai manusia, sebagai dewa atau sebagai suatu hal yang abstrak. Ide tentang mesianisme (messianism), muncul di berbagai bangsa di dunia ini.

Sosok Satriå Piningit Sang Ratu Adil memang masih misterius. Banyak sudah yang mencoba untuk menemukannya dengan caranya sendiri-sendiri.

Alhasil, konon ada yang merasa yakin telah menemukannya, bahkan akhir-akhir ini banyak orang mengaku, bahwa setelah orang-orang tersebut membaca kemudian mereka-reka, berusaha memaknai sesuai dengan keinginannya kata demi kata, kalimat demi kalimat dari naskah-naskah tentang Ratu Adil, termasuk mempelajari nama diri, nama tempat, ciri-ciri khusus, perlambang-perlambang, ungkapan-ungkapan, pétung, kemudian mengeluarkan pernyataan, wårå-wårå bahwa dirinyalah si “Satriå Piningit Sang Ratu Adil ” itu.

Aneh dan menggelikan, bahwa dia telah merasa menemukan bahkan mengaku-aku dirinyalah Budak Angon atau Bocah Angon, si Satriå Piningit Sang Ratu Adil , yang ‘ketiban pulung’, yang merasa mendapatkan ‘sipat kandêl kraton, mendapatkan wisikkapanjingan wahyu kraton’, dan bahwa dirinyalah yang dapat menyelesaikan semua persoalan bangsa. Menyuruh orang lain mempercayainya.

Siapa yang menunjuk, pulung apa, dari kraton mana, Nggak jelas, apa maunya. Berpenampilan sangat menggelikan bak badut. Menggelikan, narsis, norak dan lucu sekali.

***

Pemahaman Wong Jåwå dan Urang Sundamengenai suatu pengharapan (Mesianis) tersebut di atas, didasarkan pada suatu ‘ramalan’ yang tersusun dalam kalimat sastra para pujangga dan raja ternama di zaman dahulu kala.

Istilah “Ratu Adil”, “Hérucåkrå”, “Tunjung Putih” dan “Pudhak Sinumpêt” muncul dalam Jångkå Jåyåbåyå Catur Sabdå.

Istilah “Zaman Édan” dan “Éling lan Waspådå” muncul dalam Sêrat Jåkå Lodhang dan Sêrat Kålåtidhå karya sastrawan Rånggåwarsitå.

Istilah “Satriå Piningit” muncul dalam karya Rånggåwarsitå yang lain, selain istilah “Nåtånagårå”.

Sementara itu istilah “Budak Angon” dan “Ratu Adil nu Sajati” muncul dalam Uga Wangsit Siliwangi.

Apakah Bocah Angon yang ‘pènèknå blimbing kuwi’ yang ‘lunyu-lunyu pènèknå’, juga Ratu Adil?. Siapa tahu?

Sebagian masyarakat Indonesia percaya akan datangnya masa kejayaan dan kemakmuran yang dipimpin oleh “Sang Ratu Adil” yang telah diramalkan oleh para leluhur dan dinanti-nantikan kemunculannya oleh masyarakat Nusantara (khususnya Jawa dan Sunda).

Yang akan datang dan membawa pencerahan adalah cerminan dari rasa haus manusia akan harapan, kelapangan spiritual dan kesegaran air kehidupan.

Apakah Sang Ratu Adil itu hanya sebuah khayalan atau angan-angan atau memang manusia pilihan Tuhan Yang Maha Esa yang betul-betul akan datang sesuai dengan dambaan masyarakat Indonesia (lebih khusus lagi bagi masyarakat Jawa dan Sunda), serta mampu mewujudkan Negara yang Adil, Makmur dan Sentosa.

Kontroversi dan silang pendapat tentang keberadaan Sang Ratu Adil ini telah memunculkan berbagai pendapat dan masing-masing mendasarkan pada alasan yang berbeda-beda. Perbedaan pendapat tersebut kurang lebih terbagi dalam enam kelompok pendapat, yaitu:

Pendapat pertama, mengatakan bahwa, apa yang ditulis dan disampaikan oleh para Pujangga tersebut merupakan bentuk karya sastra adiluhung yang memiliki tingkat apresiasi yang tinggi yang digunakan untuk menyampaikan pikiran, ungkapan dan pendapat, sekaligus di dalamnya mengandung pasêmon sebagai medianya.

Pasêmon adalah kalimat sindiran yang halus penuh lambang yang hampir tak teraba dan terbaca oleh setiap orang untuk menilai dan mengkritik orang lain termasuk pemimpin atau Raja. Saking halusnya kalimat yang digunakan, maka hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui arti kalimat yang terkandung di dalamnya.

Pasêmon yang ditujukan kepada raja disebut Praja, dimana sindiran tersebut muncul sebagai akibat ketidak-setujuan terhadap sifat, sikap, dan perilaku pemimpin atau penguasa yang dianggap kurang baik.

Pendapat kedua, mengatakan bahwa Sang Ratu Adil hanyalah sebuah kiasan dan sebagai pengejawantahan dari perilaku secara syariat dan tasawuf, sebagaimana dikisahkan dalam pewayangan yakni Wahyu Makutå Råmå yang diperebutkan oleh Pândåwå dan Kuråwå, yang akhirnya Arjunå dari pihak Pândåwå yang memperolehnya. Wahyu Makutå Råmå, ternyata berupa ilmu yaitu Hastå Bråtå.

Hastå berarti delapan sedangkan Bråtå berarti laku, watak atau sifat utama para delapan dewa-batara yang diambil dari sifat alam. Batara Wisnu, simbol bumi/tanah; Batara Bayu, simbol angin/maruto; Batara Baruna, simbol air/laut; Batari Ratih/Chandra, simbol bulan; Batara Surya, simbol matahari; Batara Indra, simbol langit/angkasa; Batara Brahma, simbol api/dahana; Batara Kartika/Ismaya, simbol bintang.

Dapat diartikan juga bahwa Hastå Bråtå adalah delapan laku, watak atau sifat utama yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh seorang pemimpin atau siapa saja yang terpilih menjadi pemimpin, seorang pemimpin utama.

Pendapat ketiga, menyatakan bahwa sesungguhnya pada setiap diri kita ini adalah calon pemimpin, asalkan mau berusaha, berjuang dan mengamalkan Hastå Bråtå serta didukung dengan pemahaman yang baik, niat yang tulus serta tekad yang kuat, Insya Allah, akan lulus dalam ‘Kawah Cåndrå Dimukå’ (ujian), sehingga bisa menjadi Sang Ratu Adil.

Pendapat yang keempat, percaya bahwa Sang Ratu Adil itu memang akan muncul dengan didampingi oleh pembimbing spiritual/pengasuhnya Sabdå Palon dan Nåyå Génggong dan mampu membawa bangsa Indonesia kearah kemakmuran.

Pendapat yang kelima, juga percaya bahwa Sang Ratu Adil itu memang akan muncul, tapi tidak didampingi oleh pembimbing spiritual/pengasuhnya Sabdå Palon dan Nåyå Génggong, karena Sang Ratu Adil itu adalah Sabdå Palon dan Nåyå Génggong sendiri.

Pendapat yang keenam, bahwa secara perspektif ilmiah, Uga Wangsit Siliwangi, Ramalan Jåyåbåyå, Ramalan Rånggåwarsitå tidak lebih hanya sekedar mitos atau diyakini tidak pernah ada, sebab tidak ditemukannya peninggalan manuskripnya yang asli, namun seolah-olah ada.

Hingga saat ini para ahli terutama sejarahwan belum menemukan kitab otentik (asli) yang memuat Ramalan Jåyåbåyå dan naskah asli yang berupa tulisan Sang Prabu Jåyåbåyå.

Terlepas dari mana yang benar dari semua persepsi tersebut, pada dasarnya upaya untuk menafsirkan apa yang telah ditinggalkan oleh para leluhur kita, bukanlah hal yang mudah.

Namun tidak ada salahnya kita berwacana, berdiskusi dan mencoba untuk memecahkan dan membuka tabir misteri Nusantara ini melalui olah intuisi, logika dan penalaran kita sebagai manusia, dan tentunya tidak menjadikan kita sesat dan ingkar serta tidak boleh menyentuh batas-batas, apalagi mendahului kehendak/kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Mengapa Sang Ratu Adil nu Sajati itu menjadi sedemikian penting dan menjadi dambaan masyarakat? Hal tersebut tak terlepas dari pengaruh keberadaan warisan leluhur dan pesan-pesan yang ditinggalkan, seperti Sêrat Musarar Jåyåbåyå, Sabdå Palon Nåyå Génggong, Uga Wangsit Siliwangi dan Ramalan Rånggåwarsitå yang entah kebetulan atau tidak, yang jelas keempat-empatnya menyebutkan hal-hal yang hampir senada tentang keberadaan Sang Ratu Adil atau Satriå Piningit di Bumi Nusantara.

Apa yang digambarkan oleh Jåyåbåyå yang seorang Raja yang hidup pada abad-XI, namun mampu merefleksikan gambaran kondisi kedepan dan meramalkan tentang akan munculnya sejumlah kerajaan setelah Jenggala, Kadiri, Singasari dan Ngurawan yang bukan kekuasaan Jåyåbåyå yaitu Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram serta raja raja dan pemimpin lainnya yang berupa pralambang, hingga datangnya zaman paling sengsara di Jawa (Kalabendu) disusul datangnya Sang Ratu Adil yang mampu mengubah keadaan dan membawa kemakmuran di Tanah Jawa (Nusantara).

Jika kita melihat pada sejarah perkembangan Indonesia yang telah memasuki lima era yaitu dari Era Pra-Kolonial (sebelum 1602) dengan munculnya kerajaan-kerajaan Hindu, Buddha dan Islam.

Kemudian dilanjutkan dengan Era Kolonial, berturut-turut Portugis, VOC/Belanda dan Jepang (1602-1945), hingga tercapainya Kemerdekaan, lalu dimulainya Era Orde Lama (1945-1966) yang dilanjutkan dengan Era Orde Baru (1966-1998) sampai Era Reformasi dewasa ini, seakan terdapat kesesuaian atau dapat dikatakan mendekati dengan apa yang telah diramalkan oleh para leluhur kita.

Namun berdasarkan pendapat para ahli, karya sastra yang ditulis pada masa yang diperkirakan sebagai era Jåyåbåyå, memiliki kecenderungan terpengaruh oleh ajaran Islam.

Pendapat tersebut menyebutkan bahwa Kakawin Gatutkåcåsråyå karya Mpu Panuluh, banyak menggunakan kata-kata dari Bahasa Arab. Penggunaan kosa kata Arab yang serupa juga dapat ditemukan dalam Sêrat Baråtåyuddhå, karya bersama Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Berarti telah terjadi interaksi antara Hindu dengan Islam.

Sêrat Praniti Wakyå banyak mengambil inspirasi penulisan dari sumber-sumber Islam. Sêrat ini seolah merupakan bentuk sinkretis perpaduan antara Islam dan Kejawen. Akan tetapi nampak bahwa ajaran Islam lebih dominan sebagai substansi. Sedangkan ‘Kejawen’ sendiri terposisikan sebagai kulit luar dari bentuk pemikiran Jawa yang telah terisi dengan ruh Islam.

Berdasarkan bukti bukti yang ada menunjukkan, Sêrat Jåyåbåyå muncul pada pertengahan abad ke-18 dan semakin populer di abad ke-19.

Pendapat tersebut mengandung arti bahwa, Ramalan Jåyåbåyå yang beredar dewasa ini adalah versi-versi gubahan (atau ditulis kembali) oleh seseorang yang mengambil dari sebuah sumber induk yang sama yaitu kitab yang disebut Musarar atau Asrar (memiliki kesamaan ide dan gagasan).

Sang penulis adalah seseorang yang hidup di zaman setelah zaman Jåyåbåyå atau pada masa dimana dia bisa mengikuti perkembangan sejarah sejumlah kerajaan pada masa lampau, seperti Jenggala, Kadiri, Singasari, Ngurawan, Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram.

Namun beliau ini juga memang memilki kemampuan untuk menggambarkan prediksi masa depan yang diungkapkan melalui pralambang-pralambang. Sehingga penggabungan antara keduanya ini, terwujud suatu karya sastra yang mampu memberikan gambaran tentang masa lalu dan masa depan secara jelas dan lebih meyakinkan.

Namun terlepas dari pro dan kontra tersebut, bagi Wong Jåwå dan Urang Sunda (yang percaya), Ramalan Jåyåbåyå dan Uga Wangsit Siliwangi sangat diyakini akan kebenarannya.

Termasuk yakin, bahwa sosok Sang Ratu Adil nu Sajati akan datang dan muncul untuk memperbaiki negeri ini.

Siapakah Budak Angon Sang Ratu Adil nu Sajati itu?:

Éyang Agung Sang Maha Prabu Sri Paduka Siliwangi memberikan sasmita:

“Apabila tengah malam, dari gunung yang berkabut terdengar suara menggelegar. Nah, itulah tandanya, tah éta tandana; seketurunan dia disambat untuk memberikan bantuan di lembah perawan. Budak Angon itu berumah di tepi belakang palung sungai, yang ternaungi handeuleum, dan teduh oleh rimbunnya hanjuang, dia menggembalakan kalakay dan tutunggul.”

-. Gunung Yang Berkabut (Gunung Halimun);
-. Lembah Perawan (Lebak Cawene);
-. Tepi Belakang Palung Sungai (Birit Leuwi);
-. Handeuleum;
-. Hanjuang;
-. Kalakay, jeung
-. Tutunggul.

Siar ku dia éta budak angon
Jig geura narindak.
Sanagara sahiji deui.
Nusa Jaya,
jaya deui,
sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.
Jig geura narindak,
tapi ulah ngalieuk ka tukang
.

[Cari oleh kalian Bocah Angon itu.
Segeralah bertindak.
Negara bersatu kembali.
Nusa akan jaya lagi,
sebab akan diayomi oleh ratu adil, ratu adil yang sejati.
Segeralah bertindak,
tapi ingat jangan menoleh kebelakang.]

Dongeng saya cukupkan hingga di sini, wedaran selanjutnya adalah naskah lengkap Uga Wangsit Siliwangi

Nuhun. Sampurasun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 17:47  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalammualaikum
    Salam
    Rahayu
    Sedulur kabeh
    Menarik nih kajiannya,
    tak perlu mencari
    Tak perlu dicari
    Bila yang bertemu ucapkan Alhamdulilah
    Bila yang belum bertemu ucapkan insyaallah
    Bukan bertemu atau tak bertemu
    Apa artinya kita bertemu
    Untuk apa kita bertemu
    Kalau sudah bertemu??
    Adakah perubahan
    Adakah nilai yang bisa diambil
    Biarkan misteri tetaplah misteri
    Dia akan datang dengan tiba tiba
    Dia akan datang tanpa disangka sangka
    Darimana datangnya??
    Tak seorang pun mengetahui..
    Sekarang, esok atau lusa
    Bulan ini, bulan depan atau tahun depan..
    Semua mungkin..
    Semua tak mustahil
    Semua tak pasti
    Yang pasti hanyalah kematian
    Menghadap Sang Ilahi Robbi
    Coba kalau semua berpikir
    Coba kalau semua bertujuan sama
    Tak hanya rakyat tapi juga pejabat
    Tak hanya birokrat tapi juga pengusaha
    Tak hanya rakyat awam tapi juga para cerdik pandai
    Tapi..apa yang terjadi??
    Apa yang kita saksikan??
    Berlomba lomba dalam urusan dunia
    Berlomba lomba dalsm urusan perut
    Berlomba lomba dalam urusan depan pantat
    Hahahaha…
    Sedikit yang ingat
    Sekali lagi Sedikit yang mengingat…
    Kebanyakan semua banyak berkutat
    Untuk urusan urat dan pantat
    Untuk urusat perut dan syahwat
    Kalau diterus teruskan bakalan kiamat.
    Hanya orang gila yang tak kumat
    Karena dibalik kegilaan ada nikmat
    Hahahahaha…
    Salam Paitun Gundul 87
    Gondal Gsndul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: