Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING-10

On 7 Juni 2011 at 21:18 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun Sugêng dalu

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

Waosan sebelumnya: Wedaran kaping-9: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-5). Keris Mpu Gandring [Parwa ka-1] On 31 Mei 2011 at 19:38 NSSI 16

Wêdaran kaping-10: KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-6)

Keris legendaris: • Keris Mpu Gandring • Keris Kyai Någåsåsrå • Keris Kyai Sabuk Intên • Keris Kyai Sengkelat • Keris Kyai Condong Campur • Keris Kyai Carubuk • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

KERIS MPU GANDRING [Parwa ka-2]

Ini adalah dongeng seorang anak manusia sudra, si kéré munggah balé, yang merayap menggapai tahta. Melambungkan cita-citanya. Ia yang disebut sebagai kekasih para dewa. putra Brahma, titisan Wisnu, penjelmaan Syiwa Budha. Anggrok, yang berambisi menikahi Ken Dedes Sang Ardanareswari.

Kuntum Bunga dari Panawijen Kaki Gunung Kawi yang teramat cantik itu, yang dari guwa garbanya dipercaya melahirkan para penguasa Tanah Jawa, dan berikutnya adalah Takhta Pakuwon Tumapel.

Telas purwwa wetan ing Kawi. Kaputer sawetan ing Kawi. Sama awedhi ri sira Ken Angrok, mahu ariwa riwa, ahyun angadhega ratu. Wong Tumapel sama suka yan Ken Angrok angadheg ratu, katuwon pan dulur ing widdhi

[Sudah dikuasailah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu, semua takut terhadap Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja, orang-orang Tumapel semua bergembira, kalau Ken Angrok menjadi raja disana.]

Tumapel semakin lama semakin besar, di bawah pemerintahan Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Ken Angrok bocah ndusun Rêjåså. Angrok (ref. Kamus Jawa Kuno atau Kamus Kawi, dari kata dasar “rok”, bermakna nempuh, nrajang, ngamuk, guncang, serbu) — tepat sekali — Angrok atau Arok, Sang Pengguncang; tetapi bagi Kawulå Singasari yang menyambut baik pengangkatan dirinya sebagai akuwu Tumapel yang baru, Arok adalah Sang Pembangun, dan mereka menyukai junjungannya yang baru itu.

Tafsir sejarah Angrok-nDedes pun, pada kata Pendeta Lohgawe, guru Angrok. berdasar sumber utama Pararaton, Ken Angrok adalah Pembangun.

Angrok memang Sang Pengguncang Tanah Jawa, tetapi dia juga Sang Pembangun dinasti Rajasa, yang menurunkan raja-raja di Jawa.

Ditunjukkan oleh Angrok untuk para kawulå di seluruh Tumapel, bahwa ia adalah Sang Pembangun. Perang Ganter salah satu contohnya,

Sang Prabu Dangdhang Gendhis dari Kerajaan Daha Kadiri dengan angkuhnya bersabda:

Sang Ratu ring Daha Siraji Dangdhang Gendhis angandika ring para Bhujangga sahaneng Deha, ling ira: ‘He kita para bhujangga siwa soghata, paran sangkan ira nora anembah ring isun? Apan isun saksat Bhatara Guru’.

Sumahur para bhujangga sakapasuk ing nagareng Kadhiri: ‘Pukulun tan wonten ing kuna kuna bhujangga anembah ring ratu’, mangkana linging bhujangga kabeh. Ling i raji Dhangdhang Gendhis: ‘Lah Manawa kang kina kina nora anembah. Kang mangko ta isun sembahen den ira! Manawa sira tan wrh ing kasaktin isun, mangke sun weh I pangawyakti.’

[Raja di Daha, Dandhang Gendis, berkata kepada para bujangga yang berada di seluruh wilayah Daha, sabdanya: “Wahai, para bujangga Syiwa Soghata, mengapa kalian tidak mau menyembahku, bukankah aku ini Batara Guru.”

Menjawablah para bujangga di seluruh daerah negara Daha: “Gusti tuanku, semenjak jaman dahulu kala tak ada bujangga yang menyembah raja.” demikianlah kata bujangga semua.

Kata Raja Dandhang Gendis: “Nah, jika semenjak dahulu kala memang tak ada yang menyembah, sekarang ini aku perintahkan kalian menyembahku, Tidak tahukan kalian kesaktianku, segera akan kubuktikan.”]

Aku telah memerintah kerajaan ini cukup lama tak dan tergoyahkan. Adakah di antara kalian tidak tunduk menyembah kepadaku. Rajamu yang baik serta bijak mulia ini.

Hai para pandita, resi, pujangga dan para kawulaku. Aku tiada bedanya dengan Syiwa Bathara Guru.

Pararaton menceritakan:

Mangko ta siraji Dhangdhang Gendhis ngadekaken tumbak. Landheyan ipun tinancepaken ing lemah. Sira ta alinggih ri pucuk ing tumbak. Tur angandhika: ‘Lah para bhujangga, delengen kasaktin isun!’

Sira ta katona acaturbhuja, atri nayana, saksat bhatara Guru rupanira. Winidhi anembaha para bhujangga sakapasuk ing Deha…….

[Kemudian Raja Dhangdhang Gendhis mendirikan tombak, batang tombak itupun dipancangkan ke dalam tanah, ia duduk di ujung tombak, seraya berkata: “Nah, para bujangga, lihatlah kesaktianku.”

Ia tampak berlengan empat, bermata tiga, laksana wujud diri Sang Batara Guru, para bujangga di seluruh daerah Daha diperintahkan menyembah……”],

Seakan serentak, ruang pesewakan agung itu hening, tiada seorangpun yang berani bersuara. Prabu Dhangdhang Gendhis adalah raja ditakuti kala itu, para kawula, sentana, hulubalang, pangreh praja selalu patuh menjunjung tinggi titah Sang Raja, tidak ada satupun yang berani menentang perintahnya.

Suara pendapa kedaton Daha hening suwung. Tiada bisik-bisik di antara pandita, resi dan janggan. Serentak sukma mereka disentakkan kuasa sang Prabu dengan sangat kuat. Semakin takutlah para resi, pandita, janggan dan lainnya.

Sang Prabu tertawa, tawanya menggema, meruntuhkan setiap hati di paseban ageng itu. Kembali Sri Baginda memerintahkan agar para pandita bersujud kepadanya.

Setelah dirasa cukup menunjukkan segala kelebihannya, Sang prabu memperkenankan mereka untuk pulang ke padepokannya masing-masing. Mengabarkan bahwa sang Raja sudah menjelma sebagai dewata. Namun tidaklah demikian; tidak semua pandita mau menerima perintah sinuwun Dhangdhang Gendhis.

Mereka ingin memberontak. Sejak lama para pandita, resi dan pujangga Daha telah mendengar kabar. Bahwa di daerah Tumapel yang berubah nama Singasari, ada seorang raja baru yang berwibawa dan disegani, bergelar Sri Rajasa.

Tak jauh dari perbatasan Daha, para pujangga mengurungkan langkah pulang ke padepokan masing-masing. Mereka sepakat menuju Singasari guna menghadap Sri Rajasa. Yang awal kelahirannya bernama Ken Angrok itu.

Saat para janggan, resi dan pandita sampai ke kota Singasari, bertuturlah mereka di hadapan sang akuwu Angrok tentang Sang Prabu Dhangdhang Gendhis.

Kabar larinya para pendeta ke Tumapel itu dan kesiapan ngluruknya wadyåbålå Tumapel itu tercium juga oleh sang Dhangdhang Gendhis. Para pendeta memilih berlindung pada Ken Arok, bawahan Dhangdhang Gendhis yang menjadi akuwu di Tumapel. Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dan menyatakan Tumapel merdeka, lepas dari Kadiri.

Dhangdhang Gendhis sama sekali tidak takut. Ia mengaku hanya bisa dikalahkan oleh Syiwa. Mendengar hal itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Guru (nama lain Syiwa) dan bergerak memimpin pasukan menyerang Kadiri.

Pararaton menulis:

Andhikan iraji Dhangdhang Gendhis: ‘Sapa ta angalahakena ring nagaran isun iki? Manawa kalah, lamun Bhatara Guru tumurun saking akasa, Manawa kalah!’

[Dhangdhang Gendhis berujar: “Siapakah yang akan mengalahkan negara kami ini, barangkali baru kalah, kalau Batara Guru turun dari angkasa, mungkin baru kalah.”]

Mendengar sesumbar Sang Prabu, Ken Angrok pun meminta restu kepada para Brahmana untuk memakai nama Hyang Caturbuja alias Bhatara Guru untuk menyerang Daha.

Keberhasilan Ken Angrok dalam memanfaatkan situasi politik di Daha membuatnya mampu memperbesar kekuasaanya dan memperluas pengaruhnya di Jawadwipa. Obsesinya untuk menjadi raja di Jawadwipa menjadi kenyataan.

Pararaton mengisahkan:

Ingaturan sira Ken Angrok, yan siraja Dhangdhang Gendhis angandhika mangkana. Ling ira Sang Amurwwabhumi: ‘He para bhujangga Sewa Soghata kabeh, astwakena isun abhiseka Bhatara Guru’. Samangkana mulan ira abhiseka Bhatara Guru. Ingastwan ing bhujangga Brahmana Rsi. Tur sira anuhu anglurrug maring Deha.

[Diberi tahulah Ken Angrok, bahwa raja Dandhang Gedis berkata demikian. Kata Sang Amurwabumi: “Wahai, para bujangga Syiwa Soghata, restuilah kami mengambil nama abhiseka Batara Guru.” Demikianlah asal mulanya ia menggunakan nama abhiseka Batara Guru, dan telah direstui pula oleh para bujangga brahmana dan resi, Selanjutnya ia pun lalu pergi menyerang Daha].

Dhangdhang Gendhis mulai gemetar ketika mendengar para resi, pandita juga pujangganya telah merestui sang Rajasa dengan gelar Batara Guru. Pertempuran pun terjadi di sebelah utara Ganter, suatu dusun yang diduga terletak antara Blitar dan Kediri sekarang.

Di sebelah utara Ganter tentara Tumapel bertempur melawan tentara Daha, apagut sama prawira, anglong ing linongan, maka terdesaklah tentara Daha. Mahisa Walungan adik Raja Dandhang Gendis gugur, bersama-sama dengan menterinya yang perwira, bernama Gubar Baleman.

Mereka gugur diserang tentara Tumapel yang datang menyerbu laksana amah gunung den ipun aprang. Ken Angrok menghormati kedua perwira Kerajaan Daha itu sebagai pahlawan.

Samangka ta wado Deha kapalayu, apan pinakadhin ing prang sampun kawenang. Irika ta manjata Deha bubar kawon, pungkur wedhus, dawut payung, tan hana pulih manih.

[Sekarang tentara Daha terpaksa melarikan gelanggang payudan, mereka merasa inti kekuatan perang telah kalah, tentara Daha bubar laksana lebah, lari terbirit birit meninggalkan musuh pungkur wedhus, dawut payung, dan tak ada perlawanan lagi.]

[Maka Raja Dandhang Gendis mundur dari pertempuran, angungsi maring Dewalaya. Gumantung ing awang-awang, tekan ing undhakan, pakathik, juru paying, lawan mawa tadhah sedhah, tadah toya, panglante, sama milu angawang-awang.

Prasiddha alaah ring Deha, den ira Ken Angrok. Lawan sirayin ira, haran Dewi Amisani, Dewi Asin, Dewi Maja, mangkin sama katuran yan siraji Dhangdhang Gendhis alah aprang. Karengha honti Dewalaya gumantunging awang-awang. Mangke ta sira twan dewi katiga, muksa lawan kadhaton pisan.

[Sudah kalah Daha oleh Ken Angrok. Dan adik adik Sang Dandhang Gendis, Dewi Amisani, Dewi Asin, dan Dewi Maja telah diberi tahu, bahwa raja Dandhang Gendis telah kalah berperang, dan terdengar karengha honti Dewalaya gumantunging awang-awang, maka mereka bertiga muksa lawan kadhaton pisan.

Irika ta sira Ken Angrok huwus ing jaya satru, mulih maring Tumapel. Kaputer bhumi Jawa den ira, saka kala panjeneng ira huwus kalah ing Deha warna-warna janma iku.

[Sesudah Ken Angrok menang terhadap musuh, lalu pulang ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, ia sebagai raja telah berhasil mengalahkan Daha pada tahun warna-warna janma iku(1144Ç).]

Nagarakretagama Pupuh 40 (3), mengabarkan:

ri sakabdhikrtasangkara sira tumeka sri narendreng kadinten aang wiranindita sri-krtajaya nipuneng sastra tatwopadesa sighralah gong bhayamrih malajeng anusup pajaran parswa sunya sakweh ning bhrtya mukyang para prajurit asing kari ring rajya sirnna.

[Tahun sakabdhikrtasangkara (1144) beliau melawan raja Kediri, Sang adiperwira Sri Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa, Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil, Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.]

Berdasarkan kitab Nagarakretagama, Prabu Kertajaya bersembunyi di Dewalaya (alam Dewa), disebutkan sebagai ‘melarikan diri ke dalam biara terpencil’ atau tempat suci, maka bukan tidak mungkin Prabu Kertajaya sebenarnya tidak tewas di tangan Ken Arok, melainkan melarikan diri ke Kabataraan Gunung Sawal (Panjalu Ciamis) yang merupakan tempat suci dimana bertahtanya Batara (Dewa) Tesnajati.

Seusai peperangan di dusun Ganter, pulanglah dia ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, Ken Angrok mengangkat dirinya sebagai raja dan mengubah status Tumapel yang semula merupakan negara bagian dari Kerajaan Daha (Kadiri) menjadi negara merdeka dengan nama Singasari.

Bahwa Ken Arok benar-benar berkeinginan menjadi raja, Puncak kekuasaan kemudian berhasil ia peroleh, sekaligus menjadi awal kemelut berkepanjangan yang diwarnai dengan pertumpahan darah. Ken Arok menjadi raja pertama Singasari, beribu kota di Kutaraja. ia pun mengangkat dirinya sebagai raja pertama Singasari yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi, dalam waktu hanya lima tahun.

Namun di balik kebesaran Singasari, Pararaton mencatat bahwa bibit perpecahan mulai tumbuh subur. Ada jalinan asmara, tapi juga perselingkuhan, cemburu, pengkhianatan, culas, haus darah dan dendam; penuh intriks, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antar saudara, pembunuhan, dan kematian. Justru timbul di lingkungan kecil keluarga Angrok Sang Pembangun itu sendiri.

Ataukah Angrok melakukan perannya sebagai Sang Pengguncang kembali? Seperti sejak awal berdirinya, Tumapel kembali berdarah, sejak Sang Akuwu Tumapel Tunggul Ametung dibunuh oleh Ken Arok.

Ken Arok sedang dibakar oleh api yang telah menyentuh perasaannya. Di masa-masa lalu, ketika ia masih berkeliaran di hutan-hutan, apapun pernah dilakukannya.

Merampas, merampok dan juga memerkosa. Tetapi kini sebagai seorang Akuwu ia tidak berdaya melawan lembutnya tangan-tangan Umang yang menyeretnya ke dalam lembah yang berbahaya.

Meskipun wajah Ken Arok menjadi semakin tegang. Namun Ken Arok seakan-akan telah benar-benar membeku, sehingga ia tidak mampu berbuat apapun juga di depan Umang. Umang mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya melonjak kegirangan.

Kalau ia berhasil, maka ia akan dapat duduk di samping akuwu baru itu. Setidak-tidaknya ia akan mendapat sebagian dari kekuasaan atas Tumapel, yang akan melimpah kepada anak-anaknya kelak. Itulah awal bencana itu.

Umang si “perempuan binal” telah berhasil menjebak sang Akuwu baru, di padang perburuan. Penulis kropak menyamarkan sebagai kuda si Umang: “yang sedang enak-enak memakan rerumputan muda”.

Panji-panji kemenangan telah berkibar di hatinya. Ia telah berhasil menundukkan seekor burung rajawali yang menguasai seluruh langit Tumapel. Ken Arok pun kêsrimpet pinjung Ken Umang, dan bagaimanapun juga Angrokpun akhirnya mengakuinya, ia memang memerlukannya. Ia memang memerlukan perempuan lain selain Ken Dedes.

Tingkah laku Ken Arok setelah peristiwa itu benar-benar membuat Ken Dedes menjadi heran. Meskipun Ken Arok adalah seorang suami yang baik sejak mereka nikah, namun tiba-tiba saja Ken Arok menjadi seperti seorang pengantin yang baru saja dipertemukan di pelaminan. tetapi Ken Dedes tidak menaruh prasangka apapun.

Ia menyangka bahwa sesuatu sedang bergetar di dalam dada Ken Arok. Mungkin ia sedang tidak berminat untuk berburu di hutan, atau kelelahan yang mencengkamnya. Mungkin badannya tetapi juga mungkin pikirannya.

Sebagai seorang istri yang baik, Ken Dedes berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Namun kegelisahan yang kadang-kadang mencengkam Ken Arok sehingga mempercepat detak jantungnya, teraba oleh perasaan halus seorang istri.

Meskipun Ken Arok berusaha bersikap sebaik-baiknya, tetapi tangan Ken Dedes merasakan getar yang tidak wajar pada arus darah suaminya. Demikianlah, maka setelah musim berburu itu telah menimbulkan persoalan baru di dalam istana Tumapel. Persoalan yang akan berekor panjang sekali.

Ken Dedes menyadari bahwa dirinya dimadu. Dan perselingkuhan pun dilegalisasi. Segera Dedes meminta Angrok menikahinya, dengan alasan Pakuwon Tumapel perlu diatur oleh lelaki yang kuat. Tapi satu hal yang dilupakan Ken Dedes, disini tak jelas siapa memanfaatkan siapa.

Walau Ken Dedes menjadi permaisuri dan meminta agar keturunanya memperoleh hak atas tahta sebagai syarat yang diajukannya, tetapi Angrok memiliki istri lain, yang jelas lebih dicintainya. Cinta yang tumbuh yaitu Umang. Ini bukanlah siapa yang tercantik, tetapi ini tentang hati. Tentang cinta yang tak bisa dibohongi.

Ken Dedes yang merana di malam-malamnya, merasa kesepian. Kandungan yang ada hasil pernikahannya dengan Ametung, dirawat dan dipeliharanya dengan baik. Dan kemudian, setelah anaknya, Anusapati lahir, ia didik untuk menjadi pewaris singgasana Singasari.

Di sisi lain Ken Arok dan Ken Umang memiliki anak juga, Tohjaya. Maka menjadi pentinglah siapa yang akan mewarisi kerajaan ini, apalagi setelah Ken Arok berhasil mengalahkan raja Kediri, Kertarajasa dan mendirikan kerajaan Singasari.

Selain itu Ken Arok dan Ken Dedes juga memiliki anak yang sebenarnya diramalkan akan menurunkan raja terbesar dipulau Jawa.

Demikianlah, gonjang-ganjing êmbhok tuwå êmbhok ênom yang berakibat Sang Amurwabhumi bertindak “tebang pilih”.

Pararaton menulis:

Alama sirå patutan manih lawan sirå Ken Angrok, mijil lanang haran Mahiså Wongateleng. Mwah hari den irå Mahiså Wongateleng lanang haran Sang Apanji Saprang. Harin irå Panji Saprang lanang haran sirå Aghnibhåyå. Harin ira Ghnibhåyå wadon, haran sirå Dewi Rimbhu. Patpat suthanira Ken Angrok lawan Ken Dedes.”

[Setelah lama perkawinan Ken Angrok dan Ken Dedes itu, maka Ken Dedes dari Ken Angrok melahirkan anak laki laki, bernama Mahisa Wonga Teleng, dan adik Mahisa Wonga Teleng bernama Sang Apanji Saprang, adik Panji Saprang juga laki laki bernama Agnibaya, adik Agnibaya perempuan bernama Dewi Rimbu, Ken Angrok dan Ken Dedes mempunyai empat orang anak.]

Hånå tå bini ajin irå Ken Angrok anom, haran sirå Ken Umang. Sirå ta apatutan lanang haran sirå Panji Tohjaya. Harin irå lanang haran sira Panji Sudhatu. Harin irå Panji Sudhatu lanang, haran sirå Tuwan Wregola. Harin irå Tuwan Wregola stri haran sirå Dewi Ramti. Kweh ing putra 9; lanang 7; wadon 2.”

[Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama panji Tohjaya, adik panji Tohjaya, bernama Panji Sudhatu, adik Panji Sudhatu bernama Twan Wregola, adik Twan Wregola perempuan bernama Dewi Rambi. Banyaknya anak semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang.]

Tohjaya yang di”êmban cindhé”kan harus menjadi Putra Mahkota, dan dengan berbagai cara Anusapati anak Tunggul Ametung yang di”êmban siladan”kan, harus disingkirkan, dengan demikian maka terbukalah jalan bagi Tohjaya menggantikannya sebagai penerus takhta Singasari.

ånå toêtoêgé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: