Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING-13

On 19 Juni 2011 at 17:17 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun Sugêng sontên andungkap surup

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

Waosan sebelumnya: Wedaran kaping-12: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-8). Keris Mpu Gandring [Parwa ka-4] On 16 Juni 2011 at 03:40 NSSI 21

Wêdaran kaping-13: KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-9)

Keris legendaris: • Keris Mpu Gandring • Keris Kyai Någåsåsrå • Keris Kyai Sabuk Intên • Keris Kyai Sengkelat • Keris Kyai Condong Campur • Keris Kyai Carubuk • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

KERIS MPU GANDRING [Parwa ka-5.]

Keris Mpu Gandring: sebuah hipotesa

Sebilah keris, dengan panjang bilah 48 Cm, panjang keseluruhan 60 Cmr, dari gånjå naik 9 Cm hingga 17 Cm berbentuk luk 5 , kemudian lurus hingga ujungnya. Gandik bermotif naga asli. Belakang juga bermotip gambar naga, ekor naga sejajar naik ke atas hingga 3/4 bilah dipisahkan sogokan sampai ke ujung keris.

Lukisan dan relief naga terbuat sangat indah tapi belum sempurna seolah terburu-buru, sisik naga pun sangat terburu buru dibuatnya dengan goresan kuku. Jadi keris ini dibilang belum selesai, tapi sudah berwujud keris yang cukup indah dengan goresan empu yang sangat mumpuni kesaktiannya.

Gandring dikenal sebagai gusali (pengrajin logam) yang tersohor di kerajaan Tumapel (cikal bakal Singasari). Ia juga dikenal sakti. Karena “profesional” dan sakti itu ia kemudian diberi gelar “Mpu”. Ken Arok, seseorang yang dipercaya sebagai titisan Wisnu, memesan keris kepadanya.

Ken Arok memberikan tenggat waktu bagi Gandring. Tenggat itu berlalu dan Gandring telah menyelesaikan kerisnya. Namun sarung keris belum tuntas. Karena tak sabar, Ken Arok mengambilnya, lalu membunuh Gandring. Gandring sempat menyumpahi Ken Arok dan keturunannya: tujuh turunan bakal mati tertikam keris itu.

Zaman itu, teknologi pengolahan logam atau metalurgi masih sangat tradisional: besi dipanaskan dan ditempa; atau dalam istilah metalurgi, diberi perlakuan panas (heat treatment) dan dibentuk (forging). Kemudian, ilmu metafisika masuk, dan besi yang telah terbentuk (misal: pedang, keris dll), diberi doa-doa, dan menjadi sakti. Begitukah? Entahlah.

Bagaimana Mpu Gandring membuat kerisnya jadi ampuh? Mpu Gandring memilih bahan yang kuat tapi ringan. Zaman itu, proses pemaduan logam dengan logam lain barangkali tak menghasilkan paduan yang memuaskan. Jadi, bahan monolitik adalah pilihan. Mpu Gandring memilih batu meteor sebagai bahan kerisnya.

Hal ini juga perlu diteliti lebih jauh apakah batu meteornya bisa diberi perlakuan panas dan dibentuk. Batu meteor jenis ini bisa dilihat dan disentuh di Museum Geologi – Bandung. Tapi, apakah bahan itu yang digunakan Mpu Gandring atau bukan, ini masih pertanyaan.

Setelah, keris terbentuk, Mpu Gandring mencelupkan keris (yang masih panas) tersebut ke dalam bisa ular. Ada proses difusi dari racun ular ke dalam keris yang masih membara itu. Bisa ular sebagian menempel hanya di permukaan, dan sebagian lain berdifusi ke dalam keris. Setelah mendingin, keris dimasukkan ke dalam sarungnya, dan disimpan.

Bisa dibayangkan jika keris itu disentuh atau ditancapkan ke tubuh: bisa ular segera menempel dan masuk ke dalam darah, lalu bagian tubuh akan lumpuh dan manusia bisa mati.

Pada zaman itu, hanya sedikit orang yang mengetahui proses pembuatan keris secara “ilmiah”; salah satunya adalah Mpu Gandring. Karena pengetahuan dan pengalaman yang cukup “maju” dalam pembuatan keris, mungkin Mpu Gandring juga dikenal sebagai mahaguru pada zaman itu.

Apakah dia bisa disebut profesor di jaman ini? Penelitian lebih jauh sangat diperlukan untuk memperoleh informasi mengenai peta kemajuan teknologi Jawa pada abad lampau.

***

Adakah kutuk Sang Pandhita Budha Mahayana Sang Empu Purwa dan Sang Gusali Gandring masih “mandi” ’ [mandi (båså Jåwå) = akèh dayané, ampuh (wiså, tåmbå, dongå), (tuah)] hingga kini; kalau ya, dengan melihat siapa-siapa yang tewas akibat tusukan Keris Gandring di atas, maka berarti masih akan ada empat ratu/raja (penguasa) lagi yang harus “mati” karena “tikaman keris”.

Keenam orang yang telah tewas tertusuk Keris Empu Gandring:

  1. Empu Gandring, Sang Gusali pembuat keris;
  2. Tunggul Amêtung; Akuwu, Sang Penguasa Negari Tumapel;
  3. Kebo Idjo; Perwira Pengawal Puri Tumapel;
  4. Ken Arok; Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi. Pendiri dan Maharaja Pertama Kerajaan Singasari yang bertahta di Kutharaja;
  5. Pangalasan Batill; Abdi Dalem Puri Singasari;
  6. Anusapati. Anak kandung Akuwu Tumapel Tunggul Amêtung & Ken Dedes. Maharaja Kedua di Kerajaan Singasari.

Dari daftar itu, ternyata “hanya” enam orang yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring. Itu pun hanya satu keturunan dari Ken Arok yang dibunuh dengan Keris Mpu Gandring. Jika Ken Arok “dianggap” yang termasuk dalam daftar tujuh orang yang “terkutuk”, maka baru ada dua orang dari trah Ken Arok yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring, yakni Ken Arok dan Anusapati.

Sedangkan yang lainnya bukanlah sanak kadang dari Ken Arok itu sendiri. Atau jika Tunggul Amêtung dimasukkan ke dalam daftar [karena bunyi kutukan adalah tujuh raja atau tujuh penguasa]; dan Tunggul Amêtung adalah penguasa. jadi baru tiga orang raja/penguasa yaitu Tunggul Amêtung; Ken Arok dan Anusapati.

Nah, jika “tuah” kutukan Sang Mpu benar-benar manjur. Maka kita harus mulai menelusuri silsilah keluarga besar kita. Jangan-jangan masih termasuk dalam “trah” Ken Arok yang kita tahu “baru” satu orang keturunan dari Ken Arok yang terbunuh dengan keris itu. Atau paling tidak ada dua, jika Ken Arok termasuk di dalamnya, atau paling tidak baru tiga orang raja/penguasa.

Atau jangan-jangan di antara kita masih ada hubungan darah dengan ‘oknum’ yang menculik, atau bahkan mendalangi penculikan atau ikut menculik, atau ikut mendiamkan terjadinya penculikan, atau ikut bersekongkol dengan tindak penculikan, atau ikut menyediakan sarana, waktu, kesempatan sehingga terjadinya tindak penculikan, atau mengetahui tetapi mendiamkan tindak penculikan Kembang Panawijen itu. Dengan demikian keturunannya terkena dampak dari kutukan Sang Gusali Mpu Gandring???

Atau bisa jadi kutukan Sang Mpu tidak hanya termasuk dalam tujuh orang keturunan Ken Arok, tapi tujuh orang saja dan itu bisa siapa saja. Namun demikian kita tetap harus berhati-hati, karena ratu pipitu tembe kris iku amateni,

Keris itu belum tuntas ‘melaksanakan tugasnya’ menghilangkan tujuh nyawa manusia penguasa, alias masih ada dua orang penguasa yang menunggu giliran harus mati terbunuh dengan Keris Mpu Gandring. Atau kita berharap saja agar Mpu Gandring tidaklah “seampuh” legendanya, terbukti dengan gagalnya memenuhi tenggat waktu pembuatan keris pesanan Ken Arok.

Kematian yang saling susul menyusul. Kematian Empu Gandring, Tunggul Amêtung, Kebo Idjo, Sri Rajasa, Pangalasan Batil, disusul oleh Anusapati.

Kita tidak pernah mendengar, apa yang disumpahkan oleh Sang Gusali Gandring saat meregang nyawa ditusuk keris bergagang cangkring itu, tetapi rasa-rasanya Sang Empu Gandring tentu pernah melepaskan kutuk bagi Ken Arok yang membunuhnya.

Betapapun baik hati Empu Gandring tetapi mengalami perlakuan yang sama sekali tidak adil dari Ken Arok, maka Mpu Gandring tentu tidak dapat menerimanya begitu saja. Apalagi ia tidak sempat berpikir dengan nalar, sehingga ia tidak sempat memaafkan kesalahan Ken Arok.

Mungkin tidak terucapkan, tetapi goncangan hatinya tercermin pada keris buatannya yang menuntut kematian demi kematian. Apalagi ketika kita ingat akan kemarahan Empu Purwa ketika anak gadisnya yang bernama Ken Dedes itu hilang. Ia tanpa dapat mengendalikan dirinya telah memecahkan bendungan dan mengeringkan Panawijen sehingga harus dibuat sebuah padukuhan baru di tempat lain.

Kemudian betapa hatinya melonjak ternyata di dalam kutuknya, lah kang amalayoken anak ingsun, moggha tan panutuga pamuktine, matya binahud anggris, siapa yang ikut serta melarikan anak gadisnya, tidak dapat mengenyam kenikmatan dan akan mati tertusuk keris..

Kutuk dari dua orang Empu yang memiliki pancaran nurani yang tajam. Kini kita membaca dalam rontal kidung para ratu; beberapa orang yang terlibat di dalam usaha untuk melarikan itu seorang demi seorang telah terbunuh.

Tunggul Amêtung, dan Ken Arok yang meskipun pada waktu itu ia tidak lebih dari seorang prajurit yang belum tahu apa-apa, yang hanya sekedar mengikuti perintah Akuwu Tunggul Amêtung.

Jika dendam ini masih harus dinyalakan di dalam hati, maka Singasari tidak akan sempat mengemasi dirinya. Singasari tentu akan disibukkan saja oleh dendam yang tiada henti-hentinya. Anusapatipun pada gilirannya tebunuh oleh keris itu.

Tohjaya menyusul kemudian. Tohjaya, putera Ken Arok dari selirnya Ken Umang tidak terbunuh oleh keris ini, namun mati ditusuk keris yang lain oleh seorang prajurit berpangkat rendah, pengawal setianya, seorang pengusung tandunya di Katanglumbang, ketika melarikan diri dari Kota Singasari, dan akhirnya tewas karena luka-lukanya.

Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya. Keris asli menurut Kidung Pararaton bergagang cangkring. Diduga keris itu sekarang berada di Pura Agung Besakih, sebuah pura yang terletak di desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem Bali dan bergagang kayu cendana.

***

Cantrik Bayuaji tak hendak berpolemik tentang kutukan sang empu. Tetapi mari kita kaji, seperti telah disampaikan di atas, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal, bahwa di Negari yang terbentang di khatulistiwa ini, keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

Perang selalu mengerikan. Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

Dibekali dengan sakit dan lapar. Lårå låpå. Dengan mêsu rågå, cêgah dahar kalawan néndrå disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya.

Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah.

Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara pårå kadang sêntånå sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain.

Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

[Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya.

Majapahit kerajaan pemersatu Nusantara kehilangan alas. Kerajaan Majapahit, pecah menjadi Kedaton Wetan dan Kedaton Kulon akibat sengketa keluarga yang saling berebut kekuasaan. Pertengkaran keluarga terjadi. Kelompok-kelompok pendukung dibentuk untuk saling menggalang kekuatan, bersengketa untuk merebut posisi kunci kekuasaan. Bau permusuhan dan saling curiga-mencurigai menebar di mana-mana di seluruh wilayah Majapahit, negeri menjadi tak terurus.

Akhirnya, bisul ketegangan itu pecah, perang antar keturunan Hayam Wuruk tak terhindarkan. Perseteruan antara Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) dan Wirabbhumi (putra Hayam Wuruk dari seorang selir) menyulut sebuah perang besar yang sangat merusak sendi-sendi Majapahit.

Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi. Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Perang saudara, perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya yang menyedihkan terjadi. Apa hasil perang? Majapahit kian melemah. Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

Para pejabat kerajaan tak peduli lagi nasib negerinya. Alih-alih, mereka berlomba-lomba beraji mumpung. Korupsi merajalela, krisis multidimensi terjadi. Bertahun-tahun kondisi semacam itu terjadi dan dibiarkan terjadi. Lalu, beberapa dekade menjelang tahun 1500M, Majapahit, kerajaan pemersatu Nusantara, runtuh setelah berada di bumi Jawa Timur hampir 200 tahun. Babad Tanah Jawi mencatat tahun keruntuhan Majapahit itu dalam suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi”.

Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trênggånå dan garis keturunan Sêkar Sédå Lèpèn.

Haryå Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawåtå dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Haryå Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutåwijåyå, anak Sultan Hadiwijåyå dari Pajang.

Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijåyå, yaitu Danang Sutåwijåyå atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram. Benarkah Danang Sutåwijåyå adalah anak angkat Hadiwijåyå? Gosip yang beredar, dia adalah anak kandung Djoko Tingkir, jadi ya anak kandung Hadiwijåyå sendiri; dari permaisuri? Sejarah akan membuktikan kemudian.

Setelah sultan ketiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyåkråkusumå, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin dalam di Bumi Pertiwi.

Para keluarga sultan mendapat kedudukan sebagai sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada empat kesultanan yaitu: Hamengkubuwono di Yogyakarta; Pakubuwono di Solo. Paku Alam di Yogyakarta. dan Mangkunegoro di Solo.

Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Tetapi kembali intriks perebutan kekuasaan muncul kembali. Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta.

Tahun 1965, dengan nyawa yang hilang atau dihilangkan yang tak dapat dihitung dengan pasti, seratus ribu, sejuta, dua juta atau tiga juta (?); kemudian tampillah supersemar yang kontroversi, Soeharto menjadi Presiden Kedua.

Soeharto, presiden yang kemudian memimpin Indonesia hingga 32 tahun lamanya, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur. Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Soeharto hingga Pemilu.

Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan di tengah jalan karena intrik politik uga. Kemudian naiklah Megawati sang Wakil Presiden menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.

Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat yang sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah Yudhoyono menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing-pesaingnya.

Pemilu 2009 kembali memenangkan Yudhoyono untuk menjadi Presiden periode kedua. Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan Yudhoyono sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.

Tak perluhlah diceritakan secara rinci tentang gonjang-ganjing sejak Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Gus Dur, dituduh ada skandal macam-macam sampai skandal memilik wil (memangku wanita cantik). Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR. Beberapa pihak berharap dapat menjadi Presiden RI.

Ditiupkanlah skandal penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Megawati, diterpa isu seputar bisnis keluarganya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.

Yang terakhir adalah Yudhoyono. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekarang, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam. Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan Yudhoyono yang pertama, kemudian Badai Skandal Bank Century, terakhir Bendahara partainya tersandung kasus penyuapan.

Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk merobek-robek hati nuraninya sendiri.

Rakyat hanya bisa menjadi penonton sinetron telenovela panggung politik dan perseteruan para pemimpin mereka. Dan sebagai rakyat kita hanya bisa merenung.

Lalu apa yang kita perbuat?

Menonton saja?, hanyut dalam kisah sinetronnya?, nangis kalau ada yang sedih?, tertawa kalau lucu?, atau kita seperti Ki Witantra.

Pada awal-awal ketika Ki Wintantra merasa yakin bahwa adik seperguruannya Kebo Idjo tidak bersalah. Ia rela melepaskan jabatannya sebagai panglima tertinggi tentara kerajaan, sebagai salah satu dari tujuh pemimpin di Tumapel.

Witantra pergi meninggalkan Tumapel. Witantra telah meninggalkan kota. Ia léngsér saking palênggahan, menyepi ke padukuhan asri, ngénggar-ngénggar pênggalih, dia ingin melagukan tembang kinanti dan tanpa dapat berbuat apa-apa.

Mungkinklah ini juga bagian dari kutuk sang empu di abad 13 yang silam? Keadaan inikah yang menjadikan tlatah Panawijen (agar dibaca: Republik Indonesia) menjadi tanah cengkar????

Inikah kutuk Sang Pendeta Empu Purwa:

…. Mangkana wong Panawijen, hasata pangangsone. Moggha tan metuwa banyune beji iki” [“demikian juga orang orang di Panawijen ini, (agar dibaca: Republik Indonesia) tempat mereka mengambil air akan menjadi kering, dan tak akan ada lagi air yang keluar dari blumbang ini…

Berikut cantrik bayuaji cuplikan tembang ular-ular, ayo pådhå diudi.

Bocah-bocah sirå pådhå guyubå lan rukunå dadiyå contoné bangså, lan pådhå rêkså-rinêkså dandanånå omah lan pêkaranganirå, idêp-idêp karo prihatin, supåyå énggal-énggal biså rampung, åjå rêbut kuwåså, ing têmbé yén wus rampung kanggo tinggalan bêbrayan pådhå ngênggoni, sak-anak lan putunirå.

Déné yen kowé pada cêngkrahan, iku pangabêktinirå mung kandêg ånå ing dêdalan, …. susah lan bungah, suwargå lan nêråkå, bêgjå lan mulyå, iku mung ginawê déwé- déwé.

Bisané pada makmur yén sirå kabéh pådhå akur guyub rukun. Bisané guyub rukun iku yén sirå pådhå sugih kawruh lan pêngalaman, bisané sugih pengalaman iku yén sirå sugih sêsrawungan, marang kåncå kang sugih pêngalaman.

Mulå iku pådhå sêsanjan, nanging åjå gawé pakitunaning liyan, dipurih têmurunå anak lan putu anggoné pasêduluran, sêbab sêkå rêkså-rinêkså, têpå salirå.

[Sumber : Buku We Yoga Dhi (ayo pådå diudi, yén digugu dadi Yoga kang Adhi)].

Cantrik bayuaji hanya ingin katakan, ternyata Pesan agung dari Yang Mulia Utusan Tuhan, dan peringatan-peringatan hari-hari keagamaan, ternyata tidak juga membekas.

ånå tjandhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: