Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING-14

On 21 Juni 2011 at 20:54 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun Sugêng dalu DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

Waosan sebelumnya Wedaran kaping-13: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-9). Keris Mpu Gandring [Parwa ka-5] On 19 Juni 2011 at 17:17 NSSI 22

Wêdaran kaping-14: KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI (Bagian ke-10)

Keris legendaris: • Keris Mpu Gandring • Keris Kyai Någåsåsrå • Keris Kyai Sabuk Intên • Keris Kyai Sengkelat • Keris Kyai Condong Campur • Keris Kyai Carubuk • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

KERIS MPU GANDRING [Parwa ka-6. Tamat]

Malam itu semakin larut. Semakin lama menjadi semakin dalam. Bintang-bintang telah jauh berkisar dari tempatnya. Suara raung anjing-anjing liar mengumandang dari tebing-tebing pegunungan. Dan malam menjadi semakin garang karenanya. Desah angin pegunungan yang mengalir lewat jurang-jurang yang dalam, terdengar seperti bunyi siul raksasa yang sedang bermalas-malas, mengiang jerit nyaring, pekik burung hantu yang sedang berkelahi. Dan malam yang sepi itu benar-benar sedang merajai permukaan bumi, seluruh wajah bumi menjadi kelam, ditelan oleh hitamnya malam.

Berikut ini kutitipkan beberapa puisiku mengenang orang-orang Tumapel Singasari pada abad ke-12 itu:

I. NDÈDÈS KÈNGIS WÊNTIS IRÅ © cantrik bayuaji 62010

ndèdès kuntum kembang kaki gunung kawi. andai engkau tak pergi ke taman boboji, andai engkau tak turun dari joli, andai tak ada angin nakal bertiup menyingkap kain sinjangmu, kèngis wêntisirå andai tak ada perwira muda bekas begal melihat rahasyanirå

ndèdès sang ardanarèswari, satêkan irå ring taman boboji sirå ndèdès tumurun saking joli.

menginjakkan kaki ke dingklik di bawah sedikit terangkat kain sinjangnya, melangkah anggun.

pagi ceria matahari tersenyum hangat dan angin bertiup nakal menyingkap ujung kain.

tersingkap betisnya, terbuka sampai nampak rahasianya terlihat oleh angrok perwira muda pengawal utama istana menyala menyilaukan mata.

terpesona ia melihat betis yang indah memancarkan sinar betis perempuan naréswari.

angrok, tan wruh ring tingkah irå. terkejut, terpaku dan terpesona menggelegak naluri kejantanannya, meronta.

berhari-hari angrok, si perwira muda pengawal bekas begal, tak bisa nyenyak tidur, terbayang apa yang dilihatnya di pagi itu, di taman boboji.

teringat kata danghyang lohgawé: yèn hånå stri mangkånå kaki iku stri narèswari arané angalapå ring wong wadon iku dadi ratu anåkråwati dia adalah perempuan narèswari dia adalah perempuan yang paling utama. dari guwå garbånya akan lahir para penguasa

angrok tertegun, tak hanya rebut ndèdès istri akuwu amêtung. pada sang ardanarèswari cita-citanya melambung perempuan itu harus melahirkan anak-anaknya yang kelak menguasai tlatah jawadwipa.

dan di hari-hari berikutnya betis indah itu masih ada di dalam matanya melekat dalam pikirannya.

sebilah keris bergagang cangkring haus darah penjelmaan ambisinya telah menjadi sejarah.

kasêrat hing Jakarta, kacirèn suryå sangkålå Sirnå Pråjå Ilanging Panêmbah.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

II. SANDHÉ JABUNG SAMPUN ING SURUP AMASANG SANDHÉ. © cantrik bayuaji 42011

[sandyakala saat rembang petang, matahari menjelang terbenam, ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya.]

Candik Ayu dan Candik Ålå yang kadang datang bergantian di senja hari hidupmu. Candik Ayu adalah suasana hati yang riang, kecantikan yang indah, senja yang tenteram, cerah, dedaunan nampak menjadi lebih hijau cemerlang, bunga-bunga terlihat begitu indah mempesona.

Langit bersih, tapi tidak selalu tanpa awan, burung-burung bernyanyi riang mengiringi Sang Bagaskårå turun menuju ke peraduannya, keindahannya dapat dirasakan. Tetapi yang muncul sesaat kemudian langit berangsur berubah warna.

Sinar jingga-kuningnya menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut silih berganti, kuning, jingga, merah. Semburat merahnya menyiram seluruh muka bumi. Merah dan semakin merah. Merah darah, kelabu hitam kelabu dan muram.

Candik Ålå. Kelelawar beterbangan keluar sarang mencari mangsa di awal petang.

Pohon-pohon menunjukkan kekuasaan bayangan keangkuhan. Sepertinya akan ada keburukan, petaka yang akan merenggut semua kebahagiaan.

Candik Ålå. Kala wayah surup. Sandyakala saat rembang petang, matahari menjelang terbenam, ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya.

Waktu siang hampir hilang. Waktu malam menjelang datang. Berlangsung pergantian antara terang dan kegelapan. Akan ada padanya kebingungan atau jiwa yang tertekan. Ruh menjadi rentan, dekat dengan kegilaan. Bahkan lebih dekat lagi dengan kematian.

Candik Ålå. Angrok Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi pralåyå. Kain-kain selintru bergetar tertiup angin yang basah, wayah surup. sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé Guntur menggelagar bersahut-sahutan. Sindhung riwut. Udan salah mångså. wantén duwung anyar bergagang cangkring wilahan berbintik kuning berpamor biru di atas baja pilih tanding, buatan Sang Gusali Gandring.

Saatnya akan tiba meminta darah penguasa petinggi negeri Anggrok Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi tak kuasa melawan takdir

Terngiang sumpah sêpåtå sang empu sakti: “Kang amatén i ring sirå têmbé kris iku, anak putun irå mati déné kris iku, oléh ratu pipitu têmbé kris iku amatén i.” Kutuk keris itu meminta kematian demi kematian, anak cucu keturunan dan darah tujuh para penguasa negeri.

Kaserat hing Jakarta, kacirèn suryå sangkålå Siji Siji Nêmahi Pati.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

III. TÊMBANG PANJANG ILANG © cantrik bayuaji 12011

Senja menjelang malam, sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé, surup tatkala Candhik Ålå menguasai bumi, Sang Amurwabhumi pralåyå,

teriring Têmbang Panjang Ilang, menggema di antara perbukitan yang mengurung lokasi upacara pendharmaan. Suara têmbang yang ajêg, berirama tlutur, mengalun tersendat.

Tirtå puspå lawan dupå. Kumêlun ngambar arum mawar, Katur Hyang Kawåså. Ratu-ratuning naréndrå. Ninging nålå, nanging rumêgung nålå sru sumênyut. Mugi sihing padukéndrå. Pasingå cahyå rahayu….

Têmbang Panjang Ilang dilantunkan secara bersama oleh para sisya yang terdiri dari pria dan perempuan setengah baya yang mengenakan busana dan ikat kepala serba berwarna putih, diiringi tabuhan gamelan satu-satu itu lebih mirip dengungan serangga.

Menimbulkan suasana khidmat sekaligus mistis, mengiringi hampir sepanjang upacara perabuan jenazah Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.

Kaserat hing Jakarta, kacirèn suryå sangkålå Gusti Aji Tan-Hana Roro.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

IV. APANJI TOHJÅYÅ PRALÅYÅ © cantrik bayuaji 2010

Tak ada yang meniup terompet kemenangan. Tak ada yang menabuh genderang. Yang ada adalah gemuruh suara hati yang tersingkirkan Panji-panji keakuan yang dikibarkan terkulai sudah Pasukan-pasukan mlajar dari istana tak beraturan.

Gemuruh itu semakin jelas terdengar. Ranggawuni Narasingamurti bukan lagi saudara. Tohjåyå harus dilengser paksa Ken Umang terlantarkan, menangis meraung bak bocah kehilangan boneka

Tak ada lagi bahasa kata. Tak ada lagi harum bunga. Yang ada hanya bahasa amarah, panah, gada dan pedang. Singosari kembali anyir becek darah yang tumpah dari tahta kali ini Tohjåyå

Debu membubung di langit Tumapel Kutaraja Tak ada segar udara. Tinggal perih dan sesak yang terasa.

Kalah dan menang telah kehilangan makna. Gemuruh perang terus saja membahana. Gemuruh perang ada di mana-mana. Gemuruh perang tak hanya ada di istana Gemuruh perang juga terdengar dari dalam dada Maharaja Tohjaya.

Tak ada iringan gamelan yang ditabuh pelan Tak ada irama tlutur têmbang Panjang Ilang yang dilantunkan Rawuh sireng Katang Lumbang mukta ta sira. Linan sira. Anuli dhinarmme. Pendharmaan Sang Apanji Tohjåyå di Katang Lumbang berlangsung sunyi.

Kasêrat hing Jakarta, katiti suryåsêngkålå Moktå Irå Ilang Cidrå.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

V. NDÈDÈS PUTRI AYU KÈN © cantrik bayu aji 062010

swuh rêp dåtå pitånå remang-remang bléncong memudar cahaya berayun pelahan dihembus sepoi bayu basah menyusuri jejak beribu langkah sang kala, di atas bara anglo tembikar yang retak, terhidu semerbak wangi setanggi dupa terpedih kemelun asap kemenyan, membubung membuka tabir purba têmbangkan kidung agung rontal pustaka para raja,

sétra panawijèn. nDèdès di masa mekar kuncup kegadisannya kadusthå bakal karudhåpêkså direnggut paksa sang penguasa lelaki setengah tua yang tak dicinta. Sang Pandhita Budha Mahayana menjatuhkan sêpåtå: “samyå tan rahayu; lah kang amalayokên anakingsun mogghå tan panutugå pamuktiné matyå binahud angêris,” “Moggha tan mêtuwå banyune bèji iki.” Panawijen mengering sumber air. Petaka berkelanjutan di Tanah Tumapel, katuhon pagêwêning widhi kèngis wêntis irå, kèngkab tèkêng rahasyanirå tèhér katon murub dèn irå Angrok nDèdès sang ardanariswari di Taman Boboji,

hati yang kalut Angrok putra Brahma, titisan Wisnu, penjelmaan Syiwa Budha, tan wruh ring tingkah irå ke Dang Hyang Loh Gawe, Bango Samparan lalu ke Lulumbang dia pergi. Angrok anungklang duhung anyar bergagang cangkring wilahan berbintik kuning pamor biru di atas baja pilih tanding

“Kang amatèn i ring sirå têmbé kris iku, ….. olèh ratu pipitu têmbé kris iku amatèn i.” kutuk keris itu meminta kematian demi kematian, darah tujuh raja para penguasa menebar petaka menggulung Tumapel melahirkan dendam dan berbalas dendam.

Tunggul Amêtung harus disingkirkan, dimusnahkan Atas nama kawula yang tertindas Atas nama diri dan kepentingan pribadi Gandring Sang Gusali, Kêbo Idjo si prajurit pengawal puri jadi tumbal nafsu angkara dan ambisi.

Pakuwon Tumapel anyir becek darah yang tumpah, sumpah sepata dua empu nan sakti dionarkan kobaran amarah relung-relung hati tertutup geram dan benci. nDèdès bernasib tidak begitu indah, hanya sekejap merasakan nikmatnya menjadi permaisuri sang nata, sang akuwu dibunuh lelaki yang ia saksikan di depan mata, tapi tak bisa apa-apa. Di masa hamil tua menjelang persalinan Anusapati, nDèdès harus rela dinikahi Angrok sang amurwabhumi di tahta Singasari.

nDèdès, Perawan Panawijèn ‘karma amamadhangi’ pemilik cahaya ilmu penerang hidup yang sangat teramat cantik itu, dari guwa garbanya melahirkan para penguasa Tanah Jawa.

Prajñaparamita. Tak sekalipun lepas mata memandang wajah dan tubuh nDèdès yang sekarang tepat berada di depan saya.

Sang Paramèsywari Agung dua raja, Ibu Suri dua dinasti cantik jelita bak bidadari. Semua kesempurnaan seolah ada pada perempuan itu: bibir tipis, hidung mbangir, buah dada padat, leher jenjang, lengan halus, dan kulit kuning langsat semerbak mewangi.

Duduk bersila berpadmasana diatas kelopak kuntum teratai merah dan kedua tangannya berdharmacakramudra.

Tersadar. Saya tengah berada di Museum Nasional Jakarta memandangi patung nDèdès putri ayu tapi terlihat sedih.

Hari itu, gerimis Januari pagi seolah tak jemu juga di sekitar ruangan museum yang sepi berserakan reruntuhan batu-batu candi diam membisu perempuan jelita dari Singasari itu menyendiri.

Kaserat hing Jakarta, katiti suryåsêngkålå Bayu Aji Ambrasthå Drêsthi.

**************************** Makna suryåsêngkålå: Sirnå Pråjå Ilanging Panêmbah (2010) Siji Siji Nêmahi Pati (2011) Gusti Aji Tan-Hana Roro (2011) Moktå Irå Ilang Cidrå (2010) Bayu Aji Ambrasthå Drêsthi. (2010) ånå tjandhaké Nuwun cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: