Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING-15

On 25 Juni 2011 at 05:37 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

  1. Wedaran kaping-1: Sumunaring Abhayagiri ring Ratu Boko. On 18 April 2011 at 09:51 – NSSI 01
  2. Wedaran kaping-2: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-1) On 28 April 2011 at 00:14 – NSSI 04
  3. Wedaran kaping-3: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-2) On 2 Mei 2011 at 01:26 – NSSI 06
  4. Wedaran kaping-4: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-3) On 7 Mei 2011 at 09:47 – NSSI 08
  5. Wedaran kaping-5: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-1) On 11 Mei 2011 at 11:13 – NSSI 09
  6. Wedaran kaping-6: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-2) On 11 Mei 2011 at 11:27 – NSSI 09
  7. Wedaran kaping-7: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-3) On 18 Mei 2011 at 07:40 – NSSI 11
  8. Wedaran kaping-8: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-4) On 25 Mei 2011 at 01:35 – NSSI 13
  9. Wedaran kaping-9: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-5) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-1] On 31 Mei 2011 at 19:38 – NSSI 16
  10. Wedaran kaping-10: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-6) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-2] On 7 Juni 2011 at 21:18 – NSSI 18.
  11. Wedaran kaping-11: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-7) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-3] On 9 Juni 2011 at 10:01 – NSSI 19.
  12. Wedaran kaping-12: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-8) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-4] On 16 Juni 2011 at 03:40 NSSI 21.
  13. Wedaran kaping-13: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-9) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-5] On 19 Juni 2011 at 17:17 NSSI 22
  14. Wedaran kaping-14: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-10) Keris Mpu Gandring [Parwa ka-6. Tamat] On 21 Juni 2011 at 20:54 NSSI 23

Wêdaran kaping-15: KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-11)

Keris legendaris: • Keris Mpu Gandring • Kêris Kyai Någåsåsrå • Kêris Kyai Sabuk Intên • Kêris Kyai Sêngkêlat • Kêris Kyai Condong Campur • Kêris Kyai Carubuk • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

KÊRIS KYAI NÅGÅSÅSRÅ; KÊRIS KYAI SABUK INTÊN dan KÊRIS KYAI CONDONG CAMPUR; KERIS KANJENG KYAI SÊNGKÊLAT

Keris dan Êmpu

Setiap kerajaan yang pernah ada di pulau Jawa memiliki êmpu masing-masing yang membuat keris pusaka. Mereka menghasilkan pusaka-pusaka yang terkenal pula. Ada lebih seratus êmpu yang terkenal dari berbagai kerajaan tersebut. Sebagian nama-nama êmpu terkenal dari masing-masing kerajaan beserta hasil karya mereka di antaranya:

  1. Êmpu Kandangdéwå dengan hasil pusaka karyanya adalah keris dapur Sang Sabuk Intên, Sang Jalak, dan Sang Kålå Wêlang (zaman Kahuripan);
  2. Êmpu Windusarpå karyanya: Sang Barojol, Sang Bêthok, dan Sang Larbango (zaman Jênggålå);
  3. Êmpu Kanåkå, karyanya: Kyai Kalut dan Kyai Bang Wétan (zaman Pajajaran Makukuhan);
  4. Êmpu Bayuaji, karyanya Kyai Sétan Kober (zaman Cirebon);
  5. Êmpu Domas, karyanya Kyai Gajah, Kyai Sabuk Intên (zaman Majapahit);
  6. Êmpu Pujådéwå, karyanya: Kyai Gagak Ngoré dan Kyai Gåndå Wiså (zaman Majapahit);
  7. Êmpu Kalokå, karyanya Kyai Kuwung-Kuwung (asal Madura);
  8. Êmpu Humyang, karyanya Kyai Ombak Banyu (êmpu zaman Pajang);
  9. Êmpu Tunggul Måyå, karyanya Kyai Jabar (zaman Mataram);
  10. Êmpu Luyung, karyanya: Kyai Padas Polah dan Kyai Jamur Dipå (zaman Kartåsurå);
  11. Êmpu Ki Anom, karyanya Kanjêng Kyai Pulanggêni (zaman Sultan Agung, Mataram);
  12. Êmpu Ki Djåkå Sugatnå, karyanya Kanjêng Kyai Gajah Satrubondo (zaman Kraton Suråkartå);
  13. dan masih banyak lagi êmpu-êmpu terkenal lainnya.

Êmpu biasanya mengabdi ke kerajaan. Mereka menjadi salah satu orang yang dihormati di kerajaan karena kelebihannya membuat keris pusaka. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa untuk membuat keris tangguh agar menjadi senjata andalan, maka bahan yang dipakai untuk membuat keris, biasanya terdiri dari campuran besi, pamor, dan baja.

Sebelum memulai membuat keris ampuh, biasanya diawali dengan laku påså dan persiapan-persiapan lain yang memakan waktu enam hari. Persiapan-persiapan yang dilakukan antara lain: menyiapkan tempat produksi (bêsalen, panyirêpan, dulang landêsan, dan ububan); memilih pembantu pembuatan keris yang dapat dipercaya; menyiapkan semua bahan-bahan; mengajak para pembantunya untuk laku prihatin; mengadakan selamatan; dan menyiapkan mantra. Baru hari ketujuh memulai membuat keris.

Di antara mantra yang biasa dilafalkan êmpu adalah:

aum, sêmbahing anåtå tingalånå dé trilokå sarånå; awighnam astu, isun êmpu [Nama Sang Êmpu] tan awacånå, dé nir arthåkå darpå; dang dahånå hagni nirawèh sårå sudarmå”,

(Ya Tuhan, semoga sembah permohonan hamba ini Paduka ketahui wahai sang pelindung tiga dunia; jangan ada halangan, hamba êmpu [Nama Sang Êmpu] tidak mengucapkan kata-kata yang tidak berguna dan sombong; api yang menyala-nyala ini semoga memberi pusaka yang berguna).

Setiap keris yang dihasilkan oleh setiap êmpu dari masing-masing kerajaan tentu mempunyai ciri khas sendiri-sendiri, baik bentuk, ukuran, maupun kualitas. Keris yang dihasilkan oleh êmpu Majapahit, biasanya wilahan (bilah) menyatu dengan ukiran hulu (pegangan keris). Mulai dari ujung keris hingga pangkal pegangan terbuat dari logam.

Pada pegangan keris berbentuk patung manusia. Mulai pada zaman kerajaan Demak, pegangan keris sudah tidak menyatu lagi dengan wilahan. Pembuatan keris oleh êmpu lebih banyak atas perintah para wali. Seorang êmpu bernama Êmpu Supå Madrangki mendapat perintah dari Sunan Kalijågå untuk membuat keris dapur Sabuk Intên.

Keris, baru dikatakan lengkap jika sudah ada sarungnya atau yang disebut warångkå. Orang yang membuat warångkå keris disebut Mranggi. Jenis warångkå yang dikenal dalam perkerisan tradisi Jawa adalah Ladrang dan Gayaman. Bentuk Ladrang Yogyakarta dan Surakarta berbeda, demikian pula dengan bentuk Gayaman.

Sementara bagian-bagian warångkå adalah: ukiran, godongan, pijêtan, tampingan, awak-awak, bapangan, lênglêngan, gigir, gandar, dan bandar. Jenis kayu yang sering dipakai untuk membuat warangka adalah kayu: Timoho, Trembalo, Cendana, dan Galihjati.

KÊRIS KYAI NÅGÅSÅSRÅ dan KÊRIS KYAI SABUK INTÊN

Nama Kêris Kyai Någåsåsrå dan Kêris Kyai Sabuk Intên tanpa menyebutkan dapur menjadi terkenal karena menjadi topik dalam cerita karya Ki Dhalang Singgih Hadi Mintarja yang sedang kita ikuti ceritanya di gandhok ini.

Kedua keris yang menjadi rebutan antara golongan yang menghendaki agar keduanya dikembalikan kepada pemilik yang sah, Kêsultanan Dêmak Bintårå, dan golongan hitam. Diceritakan bahwa Mahésa Djênar, salah satu murid Sjèh Siti Djênar, mantan perwira tinggi pasukan pengawal sultan pada masa Kesultanan Dêmak Bintårå:

Aku ora bali ing Kraton Dêmak Bintårå kalamun durung bisa nggåwå kêris Kyai Någåsåsrå kalawan Kyai Sabuk Intên

Demikan prasêtyå Mahésa Djênar Rånggå Tohdjåjå dalam tekadnya untuk mengembalikan kedua pusaka kerajaan yang jêngkar dari walangkan gudang pusaka Kesultanan Dêmak Bintårå.

Tak seorang pun yang mengetahui, kemana perginya dan siapa yang membawanya. Konon bagi siapa yang mendapatkannya akan menjadi pewaris sah tahta kerajaan Dêmak Bintårå.

Kêris Kyai Någåsåsrå dan Kêris Kyai Sabuk Intên adalah sepasang keris pusaka dari zaman Majapahit. Kedua bilah keris ini menjadi simbol kekuasaan raja-raja Majapahit yang diperkirakan dibuat pada abad ketigabelas.

Keris ini tidak bisa berdiri terpisah, dan merupakan lambang menyatunya Kawula Gusti (Abdi dan Raja) atau juga sering dianggap sebagai simbol penyatuan antara manusia dan Tuhan.

Kêris Kyai Någåsåsrå adalah pusaka peninggalan kerajaan Majapahit. Någåsåsrå adalah nama salah satu dapur (bentuk) keris luk tiga belas dan ada pula yang luknya berjumlah sembilan dan sebelas, sehingga penyebutan nama dapur ini harus disertai dengan menyatakan jumlah luknya.

Secara umum keris Någåsåsrå pada bagian gandiknya diukir dengan bentuk kepala naga (biasanya dengan bentuk mahkota raja yang beragam), sedangkan badannya digambarkan dengan sisik yang halus mengikuti luk pada tengah bilah sampai ke ujung keris.

Dengan ciri-ciri antara lain adalah kruwingan, ri pandan dan grênêng, dan beberapa êmpu (berdasarkan zamannya seperti Majapahit, Mataram Lama dan Mataram Baru) membuat keris berdapur Någåsåsrå.

Pada keris dapur Någåsåsrå yang baik, sebagian besar bilahnya diberi kinatah êmas, dan pembuatan kinatah êmas semacam ini tidak disusulkan setelah wilah ini selesai, tetapi telah dirancang oleh sang êmpu sejak awal pembuatannya. Pada tahap penyelesaian akhir, sang êmpu sudah membuat bentuk kinatah sesuai rancangannya.

Bagian-bagian yang kelak akan dipasang emas diberi alur khusus untuk “tempat pemasangan kedudukan emas” dan setelah penyelesaian wilah selesai, maka dilanjutkan dengan penempelan emas oleh pandai emas.

Salah satu pembuat keris dengan dapur Någåsåsrå terbaik adalah Êmpu Ki Nom, merupakan seorang êmpu yang terkenal, dan hidup pada akhir zaman kerajaan Majapahit sampai pada zaman pemerintahan Sri Sultan Agung Hanyåkråkusumå di Mataram, tetapi ada sebagian ahli lain yang mengatakan bahwa Ki Supå Anom pada zaman kerajaan Mataram, sebenarnya adalah cucu dari Êmpu Supå Anom yang hidup pada zaman Majapahit, dan golongan ini menyebut Ki Nom dengan sebutan Ki Supå Anom II, dan yang hidup di zaman Majapahit disebut Ki Supå Anom I.

Kêris Kyai Någåsåsrå yang terkenal adalah berwarna putih kekuningan. Konon keris pusaka ini berluk 13 bertahtakan emas. Dibuat pada zaman kerajaan Majapahit, antara tahun 1466 dan 1478). Pembuatnya adalah Pangéran Mpu Sêdayu (Mpu Supå Madrangki/Mpu Pitrang).

Sang êmpu yang telah berhasil menunaikan tugas untuk membawa kembali Kêris Kyai Agêng Puwårå atau Kyai Sêngkêlat, mendapatkan penghargaan berupa sebuah tanah perdikan di daerah pesisir utara (Gresik) yang kemudian dikenal kemudian hari sebagai daerah bernama Sêdayu. Juga mendapatkan gelar kebangsawanan Pangeran yang berasal dari Sêdayu (Pangeran Sêdayu) beserta seorang Puteri Keraton.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa Êmpu Supå Madrangki adalah juga suami dari Déwi Råsåwulan, adik Sunan Kalijågå. Ia adalah êmpu keris kerajaan Majapahit yang hidup di sekitar abad ke 15. Karya karyanya yang termasyhur selain Kêris Kyai Någåsåsrå, Kyai Sêngkêlat dan Kyai Carubuk.

Sebelum menikah dengan Déwi Råsåwulan, Êmpu Supå Madrangki beragama Hindu kemudian memeluk agama Islam setelah berdialog dengan Sunan Kalijågå.

Catatan: Legenda Råså Wulan, saling berbenturan:

  1. Legenda Råså Wulan(adik Raden Sahid — Sunan Kalijågå –) sebagai istri Êmpu Supå Madrangki dan
  2. Legenda Råså Wulan(adik Raden Sahid — Sunan Kalijågå–) sebagai istri Syekh Maulana Mahgribi. Legenda inipun masih menyimpan pertanyaan lain, apakah Syekh Maulana Mahgribi ini identik dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Kalau ya, maka semakin mengaburkan nilai sejarahnya, sebab akan mengundang pertanyaan lain.

Kedua legenda di atas tidak memiliki referensi sejarah yang dapat dipertangungjawabkan. Demikian halnya tentang legenda dibuatnya Keris Kyai Sêngkêlat, yang akan didongengkan di bawah.

Dalam pada itu, menurut telik sandi kerajaan Majapahit, sang Adipati Blambangan bermaksud mengadakan pemberontakan terhadap kerajaan Majapahit. Maka untuk menumpas pemberontak yang mungkin sewaktu-waktu menyerbu ke Kota Raja, Sang Prabu telah menyiapkan kekuatan tandingan. Para êmpu juga dikerahkan untuk membuat berbagai senjata perang yang dipimpin oleh Êmpu Domas.

Sang Prabu juga meminta kepada Êmpu Supa agar dibuatkan sebilah keris bertuah yang bisa meredam 1000 macam bencana yang bisa terjadi di Majapahit. Sang êmpu pun memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dia mendapatkan petunjuk berupa gambaran bentuk sebilah keris dengan dapur naga yang mempunyai 1000 sisik.

Maka dibuatlah sebilah keris pusaka Någåsåsrå dengan 1000 sisik bertahtakan emas dengan luk 13. Kepala naga tidak bermahkota, luk menganggah pada gandik, tubuhnya melenggok mengikuti jumlah belahan luk, ekor naga yang ujungnya terdapat bentuk bupu terletak pada ujung keris.

Keris Någåsåsrå yang mempunyai 1000 sisik emas dan bersabuk intan berlian ini mempunyai tuah untuk meredam seribu bencana dari berbagai penjuru wilayah kerajaan. Puas hati sang Prabu dan akhirnya keris itu juga menjadi salah satu kêris piyandêl Majapahit. Konon keris dengan julukan Kyai Någåsåsrå yang memiliki luk 13, merupakan simbolisasi kebangunan jiwa dan keselarasan.

Benar juga, pemberontakan dan serbuan tentara Blambangan tidak berlangsung lama dan dapat diredam hingga Majapahit kembali tenteram. Dengan begitu, kita mendapatkan sebuah pelajaran. Bahwa sebilah keris akan dicipta dengan misi-misi tertentu. Bukan hanya sebagai benda pusaka yang mempunyai tuah semata.

Kêris Kyai Sabuk Intên, seperti juga dapur Någåsåsrå mempunyai luk tiga belas dengan ciri-ciri yang berbeda yaitu mempunyai sogokan, kêmbang kacang, lambé gajah dan grênêng.

Kyai Sabuk Intên dibuat oleh Êmpu Domas, memiliki luk 11, berwarna kebiru-biruan. Keris ini menjadi simbolisasi welas asih. Disebut dengan julukan Sabuk Intên karena pada bagian bawah keris terdapat selapis garis pamor berwarna putih intan.

Kyai Någåsåsrå mempunyai watak disuyuti oleh kawula. Dicintai dan disegani oleh rakyat. Dengan demikian ia akan mencinta dan dicintai Tuhan, perikemanusiaan, memberi perlindungan kepada orang yang kehujanan dan kepanasan, memberi makanan kepada orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, memberi tuntunan bagi yang kehilangan jalan.

Kyai Sabuk Intên mempunyai watak seperti watak lautan. Luas tanpa tepi. Menampung segala arus sungai dari manapun datangnya. Menerima dengan tadah banjir yang bagaimanapun besarnya. Namun gelombangnya dapat menunjukkan kedahsyatan dan kesediaan bergerak dan bahkan selalu bergerak.

Watak yang demikianlah yang memungkinkan seseorang dapat menemukan yang belum pernah ditemukan. Dan karenanyalah kesejahteraan rakyatnya dapat dijamin. Kesejahteraan lahir dan batin. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengalirkan airnya yang ditampung dapat beriak dengan manisnya, namun dapat bergulung-gulung dengan dahsyatnya, seolah-olah lautan itu sedang mendidih.

Saat ini keris-keris tersebut disimpan di Keraton Solo (tahun 1974, menurut Ensiklopedi Keris karya Bambang Harsrinuksmo, keris ini dibuatkan warångkå baru — dari kayu cendana wangi –). Banyak tiruan keris ini, yang beredar di mana-mana sampai kini, dimiliki perseorangan kolektor ataupun pejabat dan diperjualbelikan dengan harga beragam dari Rp 200 ribu hingga sekitar Rp 4 miliar. Percaya ??

Ketika Majapahit runtuh, kedua bilah keris itu dibawa ke keraton Demak oleh Raden Patah. Kemudian ketika Kerajaan Demak runtuh, keris keris tersebut dibawa oleh Djåkå Tingkir yang kemudian menjadi sultan di Keraton Pajang. Dan seterusnya kedua keris tersebut berada di bawah penguasaan raja-raja Mataram dan keturunannya sampai sekarang.

KÊRIS KYAI CONDONG CAMPUR dan KÊRIS KANJÊNG KYAI SÊNGKÊLAT

Kyai Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan dongeng rakyat. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur.

Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kêmbang kacang, satu lambé gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusèn dan lis-lis-an.

Dapur Keris Kyai Condong Campur yang lain memiliki luk berjumlah lima. Terdapat kêmbang kacang, dua jalu mêmêt dan dua lambê gajah. Pada wilah atau bilahnya terdapat blumbangan dan sogokan.

Sedangkan pamornya bisa berupa Tapèn Bêras Wutah atau lainnya, dengan pamor terbaik terbuat dari batu meteor yang jatuh dari angkasa, yang dipercaya sebagai pemberian para Dewa.

Selain kualitasnya yang luar biasa, pamor batu meteor ini sungguh melambangkan kesadaran kosmis yang tinggi. Keris yang dibuat dengan bahan campuran berasal dari benda angkasa dan bumi, melambangkan bersatunya Båpå Akåså (unsur paternal) dan Ibu Pêrtiwi (unsur maternal). Maka, anak atau hasilnya menjadi sangat bertuah ampuh dan berguwåyå atau berkharisma sangat kuat.

Dapur Condong Campur merupakan lambang persatuan, yang muncul di Majapahit sekitar abad 14. Disebut lambang persatuan, suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan.

Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan. Sedangkan campur berarti menjadi satu atau perpaduan. Dengan demikian, Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu.

Konon keris berdapur Condong Campur ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang êmpu. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat.

Kêris Kajêng Kyai Sêngkêlat

Ia memiliki watak yang lengkap dari watak seorang prajurit. Prajurit yang setia dan patuh akan kewajibannya, yang bekerja dan berjuang bukan untuk kepentingan diri. Tetapi seorang prajurit akan berjuang untuk tanah tumpah darah serta rakyatnya, dengan penuh kejujuran dan tanpa pamrih, dalam lingkaran kasih sayang Yang Maha Agung.

[Sastrå Jåwå, Sajarah Jati Tanåyå Pupuh 16 Dhandhanggulå 1:75 Susuhunan Kalijågå yåså kêris Kyai Sêngkêlat 17 sd 22:]

17. atut dènnyå pålåkråmå kalih | wusnyå bubaran nulyå pinrênah | panggonané dhéwé-dhéwé | dangu antaranipun | manujoni Jêng Sunan Kali | ring Supå lon manabdå | rèhantyå sirèku | hèh Supå sarèhning sirå | dadyå pandhé tur trahing êmpu linuwih | ingsun yasaknå kadgå ||

18. kang prayogå pantês anggon mami | aywå kusud dèn anggo ‘ulåmå | sun karyå gêgaman cothèn | lah iki bakalipun | wêsi bagus mung sakêmiri | såkå ing akhadiyat | Supå lon umatur | botên dados kirang kathah | kangjêng sunan nabdå hèh Supå sirapti | wêsi sagunung praptå ||

19. wus mangkono sabdèng wali luwih | barang wuwus jlêg katêkan dadyå | Supå kagyat wêsi gêngé | tumungkul nguswèng lêbu | turidyasmu nangis sru ajrih | triwikramaning tåmå | sakålå rinacut | wêsi sagunung wus sirnå | tanpå krånå namung sakêmiri mêksih | gyå cinandhak mring Supå ||

20. katêkêm ing måwå samadi ning | ngêningkên ciptå ring Suksmå Purbå | samånå wêsi wus dados | sajugå kadgå bagus | warnå bang lir sangkêlat abrit | gyå konjuk kangjêng sunan | winawas kang dhuwung | wangunan luk tigawêlas | tur sogokan lambé gajah ngandhap kalih | waskithå kangjêng sunan ||

21. hèh ta Supå wruhantå iki kris | nåmå Kyagêng Sangkêlat prayogå | awit abang suwarnané | dapur Sangkêlat iku | luk têlulas kadyå puniki | lan malih kita wruhå | têmbé iki dhuwung | dadyå pusakaning nåtå | kang mbawani wibawaning nuså Jawi | nora pantês sun anggyå ||

22. simpênånå pomå ingkang têrtip | sirå amung rumat kasérénan | déné bénjang ingkang nganggo | turuné Jåkå Tarub | kang wus kasub jangkaning wali |

Dalam satu legenda dikisahkan Sunan Kalijågå meminta tolong untuk dibuatkan keris coten-sembelih (pegangan khusus untuk menyembelih kambing). Lalu oleh beliau diberikan calon besi yang ukurannya sebesar kemiri.

Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Êmpu Supå sedikit terkejut. Ia berkata besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris.

Lalu Sunan Kalijågå berkata kalau besi itu tidak hanya sebesar kêmiri tetapi besarnya seperti gunung. Karena ampuh perkataan Sunan Kalijågå, pada waktu itu juga besi menjelma sebesar gunung.

Hati Êmpu Supå menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Sunan Kalijågå memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, Êmpu Supå berlutut dan takut.

Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan. Tidak lama, jadilah keris, kemudian diserahkan kepada Sunan Kalijågå. Akan tetapi anehnya begitu melihat bentuknya, seketika juga Sunan Kalijågå menjadi kaget, sampai beberapa saat tidak dapat berbicara karena kagum dan tersentuh perasaannya, karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan.

Maksud semula untuk dijadikan pegangan khusus, ternyata yang dihasilkan keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tigabelas. Sebenarnya, begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Sunan Kalijågå agak tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya.

Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu. Karena berwarna kemerahan, keris itu dinamakan Kyai Sêngkêlat bersemu merah sedangkan jumlah luknya yang tigabelas.

Lalu Êmpu Supå diberi lagi besi yang ukurannya sebesar kemiri. Setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan sunan Kalijågå sangat senang hatinya. keris itu disebut Kyai Carubuk.

Legenda di atas sangatlah bertolak belakang dengan legenda peperangan antara Kyai Codong Campur dan Kyai Sêngkêlat yang akan didongengkan di bawah ini, mengingat pada “waktu peristiwa peperangan” antara ketiga keris itu, sudah pasti Sunan Kalijågå belum lahir, tetapi dalam legenda di atas dikatakan Sunan Kalijågålah yang memerintahkan Êmpu Supå membuat keris yang kelak diberi nama Kyai Sêngkêlat. Jadi?

Legenda dan mitos, Kyai Sabuk Intên, Kyai Condong Campur dan Kyai Sêngkêlat

Dalam dunia keris muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara tiga keris, yaitu Keris Kyai Sabuk Intên, Kyai Condong Campur dan Kyai Sêngkêlat. Pertengkaran timbul karena adanya beberapa keberagaman golongan dengan kepentingannya masing-masing di Kerajaan Majapahit.

Condong Campur sengaja diciptakan sebagai lambang keinginan untuk bersatu, dalam keberagaman golongan di tengah semakin banyaknya “kelas” masyarakat baru (orang-orang kaya para pemilik modal, pedagang (yang diwakili oleh etnis Tionghoa) dan para pejabat kerajaan); ditambah pula kehadiran para pedagang (Persia, Arab) yang beragama Islam, sebagai penyebar agama baru pada waktu itu.

Paling tidak dari berbagai golongan di atas, ada dua golongan yang memiliki perbedaan pandangan sangat tajam pada masa itu, yaitu: golongan pertama, yaitu golongan para pemilik modal, pedagang dan pejabat; dan golongan kedua, yaitu golongan masyarakat bawah yang kecewa dengan kondisi yang mereka alami, seperti keterpurukan nasib, tekanan hidup dan penindasan.

Ketika itulah, semasa Kerajaan Majapahit sudah menjapai masa kejayaannya, terjadi banyak sekali perbedaan (heterogenitas) di negeri itu. Heteroginitas ini menyebabkan terjadinya perpecahan di masyarakat, baik dari aspek agama, budaya, etnis, golongan, strata sosial (kaya, miskin) dsb. Sangat lumrah bila pada awal keberagaman itu terjadi gejolak.

Dalam dunia keris, golongan pertama di atas dapat diibaratkan dengan keris dengan dapur Sabuk Intên. Sabuk berarti ikat pinggang. Sedangkan Intên berarti intan atau permata. Dengan demikian, Sabuk Intên memvisualisasikan golongan pemilik modal yang bergelimang harta benda.

Golongan kedua yang disebutkan di atas adalah masyarakat kelas bawah yang kecewa, marah, terhadap keadaan. Dalam bahasa Jawa, perasaan mereka disebut sêngkêl atiné atau jengkel hatinya. Dalam dunia keris, kondisi ini identik dengan keris dengan dapur Sêngkêlat, yang namanya diambil dari kata sêngkêl atiné, maka dibuatlah Keris Kyai Sêngkêlat.

Kêris Kyai Sabuk Intên (mewakili masyarakat kaya) merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian tersebut, Kyai Sabuk Intên kalah. Dalam pada itu Kyai Sêngkêlat (mewakili masyarakat miskin) yang tampil.

Selanjutnya babad perkerisan menceritakan:

Ketika Kerajaan Majapahit mulai surut, hiduplah seorang êmpu keris yang sêkti måndrågunå. Dia bernama Djåkå Supå putra dari Bupati Êmpu yang bernama Ki Supådriyå. Djåkå Supå adalah seorang pemuda yang sederhana, namun sangat menyukai tapa brata gêntur lêlaku prihatin.

Atas perjuangan tapa bratanya, beliau akan menurunkan pusaka pusaka yang hebat dan juga menurunkan êmpu-êmpu pembuat keris yang luar biasa di tanah Jawa. Konon pada suatu ketika, wilayah kerajaan Majapahit dilanda “pagêblug” yang sangat nggêgirisi, hingga banyak para kawulå yang pagi sakit sore meninggal dan sore sakit paginya meninggal.

Tidak hanya para rakyat jelata, banyak juga beberapa bangsawan, pandita dan sebagainya terserang penyakit yang sangat misterius ini. Hingga akhirnya kekawatiran Sang Prabu atas nasib penghuni Kraton oleh sebab ganasnya pagêblug tersebut terjadi juga, Dyah Ayu Sêkar Kêdaton jatuh sakit.

Sudah beberapa tabib pinunjul dari penjuru negeri dihadirkan untuk membantu kepulihan sang putri, namun hasilnya selalu nihil. Bahkan kalau malam menjelang, penyakit sang putri kian menjadi-jadi. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, Sang Prabu menugaskan segenap abdi dalem untuk bergiliran menjaga sang putri, khususnya di malam hari.

Hingga suatu malam, sampailah giliran jaga itu jatuh pada Tumênggung Supådriyå dan Tumênggung Supågati. Akan tetapi, karena mereka berdua ternyata sakit, maka tugas itu diwakilkan kepada anak anak mereka. Djåkå Supå putra dari Tumênggung Supådriyå dan Djigdjå adalah putra dari Tumênggung Supagati.

Sore itu langit agak mendung, disebelah barat semburat sinar matahari tampak kemerahan menyaput mega. Hingga dari jauh terlihat menakutkan laksana banjir darah siap menerkam majapahit. Mereka (Djåkå Supå dan Djigdjå) berangkat bersama sama menuju Kraton.

Di tengah perjalanan tak henti hentinya Djigdjå menceritakan kerisnya yang indah berlapis emas hasil buatanya sendiri. Kêris itu diberinya nama Kyai Sabuk Intên, sebuah keris yang indah, anggun, berpamor eksotis dan menyimpan energi gaib yang luar biasa, bahkan sembari bercanda, kadang Djigdjå setengah mencemooh keris buatan Djåkå Supå yang diberi nama Kyai Sêngkêlat itu.

Sêngkêlat memang berbentuk sangat sederhana, dia sangat polos, tak banyak ornamen, ibarat naga dia bagaikan seekor naga yang hitam legam tanpa mahkota. Namun dibalik kesederhanaanya itulah, Sêngkêlat adalah keris yang pilih tanding.

Sesampai di keputren, mereka berdua langsung mengambil tempat jaga masing masing. Djåkå Supå di sebelah kanan regol, sedangkan Djigdjå disebelah kiri. Beberapa saat waktu berlalu, tidak terjadi apa-apa.

Namun menjelang tengah malam, tiba tiba angin berdesir agak kencang menebar aura mistis yang menggetarkan hati para prajurit yang ikut menjaga kediaman sang putri, angin itu makin melembut dan melembut, hingga akhirnya banyak prajurit yang kemudian bergelimpangan tak mampu menahan hawa kantuk yang luar biasa.

Tiba-tiba dari arah gedong pusaka muncul sinar merah kehitaman yang sangat terang benderang, sinar itu naik memanjat langit setinggi lima pohon kelapa dewasa. Sinar tersebut berpendar pendar ke segala penjuru, menebarkan hawa teluh atau wabah penyakit yang mengakibatkan pagêblug tersebut.

Djåkå Supå dan Djigdjå tak terpengaruh dengan hawa kantuk itu, ternyata hanya mereka berdua yang masih tersisa dari serangan itu, mereka meningkatkan kewaspadaan, setelah mereka cermati ternyata sinar yang menebar teluh tersebut adalah Kêris Kyai Condong Campur.

Sabuk Intên yang sedari tadi sudah “okrak-okrok” ingin segera keluar dari warångkånya tiba tiba melesat naik ke angkasa, pertempuran Condong Campur dan Sabuk Intên tak terelakan lagi,

Dalam pertikaian tersebut, Kyai Sabuk Intên kalah. Sabuk Intên jauh di bawah kekuatan Condong Campur, baru sekitar beberapa saat Sabuk Intên dapat dikalahkan dan kembali ke warångkånya. Bahkan lambung Sabuk Intên “grimpil” di bagian depan, akibat hantaman Condong Campur.

Djåkå Supå tanggap sasmita, Kyai Sêngkêlat segera dicabut dari warångkånya setelah mendapat restu, keris pusaka tersebut membumbung tinggi ke angkasa, pertempuran terjadi sangat sengit sekali, desak mendesak dan serang menyerang. Kêris Kyai Sêngkêlat yang merasa sangat tertekan oleh keadaan ini akhirnya memerangi Kêris Kyai Condong Campur.

Hampir dini hari menjelang Shubuh, Condong Campur mulai kewalahan hingga akhirnya Sêngkêlat berhasil mematahkan ujung Condong Campur satu luk, akhirnya Condong Campurpun mlajar ketakutan dan dan berubah wujud menjadi Lintang Kêmukus kembali ke asalnya, terbang lebih tinggi, dan akhirnya lenyaplah ia berlindung di balik kabut beracun yang memancarkan cahaya yang menyilaukan yang menyelubungi dunianya, dan mengancam akan kembali ke bumi untuk membuat huru hara, yang disebut ontran-ontran dan pagêblug

Sejak saat itu Kyai Condong Campur tak pernah keluar lagi menebar pagêblug, semenjak saat itu pula Dyah Ayu Sêkar Kêdaton berangsur angsur sembuh, dan atas jasa-jasanya Djåkå Supå akhirnya diangkat menjadi Êmpu Kerajaan kesayangan sang Prabu. Kelak dari tangannya akan lahir pusaka pusaka hebat yang sampai saat ini dikejar kejar oleh para pecinta keris, dan dari beliau juga akan lahir êmpu êmpu hebat penerusnya.

Kenyataan sejarah

Dengan adanya perbedaan karena keberagaman golongantersebut, diupayakan adanya persatuan dan pembauran (condong campur) antar golongan. Tetapi yang kemudian terjadi hanyalah pembauran semu di permukaan saja. Padahal sesungguhnya tidak terjadi pembauran dalam kehidupan masyarakat.

Tidak berhasilnya upaya pembauran ini sesungguhnya disebabkan ketidakinginan para pemilik modal untuk melakukan pembauran tersebut dan khawatir akan terganggunya kepentingan mereka, dan dalam kenyataannya, masyarakat Majapahit tetap menunjukkan perpecahan, baik di masyarakat maupun di dalam istana.

Pada akhirnya perpecahan tersebut menyebabkan Majapahit menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada Kerajaan Demak, kerajaan Islam yang baru didirikan oleh Trah Majapahit itu sendiri.

ånå toétoégé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: