Seri Nagasasra

WAOSAN KA-18

On 26 Juli 2011 at 06:43 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun Sugêng énjang

Katur pårå sanak kadang ingkang dahat sinu darsono ing budi, såhå ingkang tansah marsudi ing rèh kautaman,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-17: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-13) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr (Parwa-2). On 22 Juli 2011 at 13:53 JdBK 03

Wêdaran kaping-18: KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-14)

KERIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR [Bagian ke-3]

Keris legendaris: • Keris Mpu Gandring • Kêris Kyai Någåsåsrå • Kêris Kyai Sabuk Intên • Kêris Kyai Sêngkêlat • Kêris Kyai Condong Campur • Kêris Kyai Carubuk • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

Dipihak Pajang, telah sekian lama mengabdi tiga orang Trah Sélå, tedhak turun Majapahit dari Radèn Bondhan Kêjawèn (Ki Agêng Tarub II).

Radèn Bondhan Kêjawèn adalah putra selir Prabu Brawijaya V dengan Dèwi Wandhan Kuning atau Dèwi Bondrit Cemara, putri yang berasal dari daerah Wandhan atau Banda Niera sekarang.

Ketiga orang Trah Sélå ini memang sengaja dititipkan oleh Sunan Kalijågå kepada Adipati Hadiwijåyå. Mereka adalah Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani.

Putra tertua Getas Pandawa, KI Agêng Sélå — Bagus Sogom, Sagam (?) — mempunyai enam putri dan satu putra, Ki Agêng Mangenis Sélå (ragil). Ki Agêng Mangenis Sélå mempunyai seorang anak, Pêmanahan dan memungut anak angkat, Pênjawii (keponakan misan), sedangkan Juru Mertani adalah anak keponakan dan kakak menantunya. Ayah Juru Mertani, KI Agêng Saba, menikah dengan kakak Ki Agêng Enis, sedangkan adiknya menikah dengan Pêmanahan.

Sedangkan Ki Juru Martani adalah putra dari adik Ki Agêng Sélå. Ki Agêng Sélå memiliki tujuh orang adik perempuan. Dan salah satunya menurunkan Ki Juru Martani.

Usia Ki Juru Martani dengan Ki Agêng Pêmanahan tidaklah terpaut terlalu jauh. Walaupun begitu, Ki Agêng Pêmanahan tetap harus memanggil paman kepada Ki Juru Martani. Karena bagaimanapun juga, Ki Juru Martani adalah adik keponakan dari Ki Agêng Mangênis Sélå, ayah Ki Agêng Pêmanahan.

Ketiga keturunan trah Radèn Bondhan Kêjawèn ini telah lama berguru kepada Sunan Kalijågå. Dan manakala Djåkå Tingkir telah berhasil menjabat sebagai Adipati Pajang dengan gelar Adipati Hadiwijåyå, maka atas permintaan Ki Agêng Sélå, Sunan Kalijågå diminta menitipkan ketiganya kepada kepada Djåkå Tingkir.

[Dongeng Arkeologi & Antropologi Trah Sélå akan disusulkan kemudian]

Mendapati trah Tarub dititipkan oleh Sunan Kalijågå guna mengabdi di Pajang, Djåkå Tingkirpun tak mampu menolaknya. Ketiganyapun diterima sebagai pemimpin kesatuan Prajurit Pengawal Adipati yang kedudukannya langsung berada di bawah Lurah Prajurit Pengawal Adipati.

Kecakapan Ki Agêng Pêmanahan membuat Adipati Hadiwijåyå merasa tidak salah telah mempercayainya sebagai salah satu pemimpin Prajurit Pengawal. Ditambah kepintaran Ki Juru Martani dalam hal siasat politik maupun militer, membuat Adipati Hadiwijåyå akhirnya mengangkat Ki Agêng Pêmanahan dan Pênjawi sebagai Lurah Prajurit Pengawal Adipati. Adapun Ki Juru Martani, yang lebih tua, diangkat sebagai ‘pembimbing’ mereka

Eratnya hubungan antara Hadiwijåyå dengan ketiga tokoh dari Sélå ini dapat dilihat dengan diangkatnya Srubut (Danang anak Pêmanahan) menjadi anak angkat Hadiwijåyå, diberi nama Danang Sutåwijåyå (Sutå = anak, Wijåyå = Hadiwijåyå), dan dijadikan teman bermain Pangéran Bênåwå, putra Sang Adipati yang usianya juga tak terpaut jauh dengan Danang Sutåwijåyå.

Maka, jika Adipati Hadiwijåyå secara pribadi dekat dengan Ki Agêng Pêmanahan, Pangéran Bênåwåpun sangat akrab dengan Danang Sutåwijåyå. Jalinan persaudaraanpun tercipta antara keluarga Adipati dengan keluarga Ki Agêng Pêmanahan.

Hingga suatu hari, datanglah seorang pemuda dusun yang memohon untuk menghadap kepada Adipati Hadiwijåyå. Kehadiran pemuda ini menggemparkan seisi Kadipaten karena dia mengaku telah diutus secara langsung oleh Ratu Kalinyamat.

Tanpa menunggu waktu, Adipati Hadiwijåyå memerintahkan pemuda itu untuk segera menghadap kepadanya.

Kedatangan pemuda dusun yang konon diutus oleh Ratu Kalinyamat tersebut benar-benar menggemparkan seisi Kadipaten Pajang. Secepatnya Adipati Hadiwijåyå menyuruh pemuda itu untuk menghadap.

Adipati Hadiwijåyå menemui sang pemuda secara pribadi dengan hanya ditemani oleh Nimas Sêkaring Kêdhaton, Ki Mas Måncå, Ki Wilå dan Ki Wuragil.

Dari penuturan pemuda dusun tersebut, tahulah Adipati Hadiwijåyå dan seluruh yang hadir disitu bahwasanya Ratu Kalinyamat masih diberikan umur panjang.

Menurut sang pemuda, tubuh Ratu Kalinyamat dia ketemukan tengah tersangkut disebuah batang pohon besar yang kebetulan tumbuh didasar tebing.

Dalam keadaan yang terluka teramat parah, Ratu Kalinyamat ternyata masih hidup. Sangat beruntung sekali Ratu Kalinyamat karena saat terjatuh dari atas tebing, tubuhnya tidak sempat terbentur bebatuan cadas.

Dan lebih beruntung lagi karena tubuhnya menimpa sebatang dahan pohon raksasa yang tumbuhnya miring. Sungguh suatu keajaiban yang tidak akan mungkin bisa terulang lagi.

Sang pemuda yang kebetulan tengah mencari madu hutan, tanpa sengaja mendapati sosok tubuh seorang wanita yang penuh luka dan darah disana-sini tengah tersangkut di sebuah batang pohon.

Menitik dari pakaian yang dikenakan, jelas sosok ini bukan dari kalangan rakyat biasa. Mendapati sosok itu masih hidup dan tengah sekarat, segera saja sang pemuda melupakan tujuannya semula yang hendak mencari madu ke hutan. Dia segera membopong tubuh tersebut dan membawanya pulang ke desa.

Bêkêl atau Kepala Desa yang mendapat laporan tentang penemuan sesosok tubuh wanita dari sang pemuda, segera datang ke rumah sang pemuda untuk melihatnya sendiri.

Sang Bêkêl kaget melihat pakaian kebesaran Demak Bintara melekat pada tubuh wanita yang terluka parah tersebut. Segera saja Sang Bêkêl memerintahkan ahli pengobatan yang tinggal di desa tersebut untuk segera memberikan pertolongan secepatnya. Beberapa tulang yang cidera, dikembalikan lagi posisinya.

Luka-luka luar maupun luka-luka dalam, pelahan dengan pasti berangsur-angsur sembuh berkat ramuan yang diracik dari berbagai tanaman.

Dan satu minggu kemudian, sosok wanita yang tak lain adalah Ratu Kalinyamat tersebut, baru bisa diajak bicara. Dan terkejutlah seisi penghuni desa tak terkecuali Sang Bêkêl mendapati pengakuan dari wanita tersebut bahwasanya dirinya tak lain adalah Ratu Kalinyamat, permaisuri Sultan Hadiri, Sultan Demak V, dikenal juga sebagai Sunan Kalinyamat, yang kini telah tewas akibat terbunuh oleh pasukan Jipang Panolan.

Satu bulan kemudian, Ratu Kalinyamat telah mampu bangkit dari ranjang walau masih tertatih-tatih akibat cidera tulang yg dialaminya masih belum sembuh sempurna.

Pada masa itu, hubungan antar penduduk satu desa dengan desa lain sangat-sangat terbatas. Disamping kebutuhan ekonomi mereka telah tercukupi dari hasil pertanian olahan sendiri, medan dan jalan-jalan penghubung antar daerah masih sulit dan terjal.

Apalagi desa dimana Ratu Kalinyamat tertolong termasuk desa yang ada di lereng pegunungan. Maka bisa dibayangkan, betapa terasingnya letak desa tersebut.

Bagi para penduduk desa, adalah sebuah kehormatan besar bagi mereka telah menolong seorang permaisuri Sultan Demak. Dan kepada pemuda yang dulu menemukan tubuh Ratu Kalinyamat pada mula pertama, Sang Ratu menjanjikan sebuah jabatan di pemerintahan.

Sang pemuda itu diutus oleh Ratu Kalinyamat menyampaikan kabar keselamatannya ke Pajang. Dengan dibekali beberapa lembar rontal yang telah ditulisi pesan pribadi dari Sang Ratu, dan setelah diwanti-wanti agar berhati-hati di jalan karena ini adalah tugas yang cukup rahasia dan berbahaya jika sampai diketahui oleh mata-mata Jipang, maka berangkatlah sang pemuda ke Pajang.

Adipati Hadiwijåyå berikut sang permaisuri, Nimas Sêkaring Kêdhaton benar-benar bersyukur kepada Yang Maha Kuasa mendengar kabar yang dibawa oleh sang pemuda yang kini tengah ada di hadapan mereka. Bahkan sedemikian gembiranya, Nimas Sêkaring Kêdhaton meneteskan air mata bahagia.

Segera Adipati Hadiwijåyå membaca surat dari kakak iparnya yang diserahkan oleh sang pemuda. Nampak Sang Adipati mengerutkan dahi setelah membaca isi surat dari Ratu Kalinyamat.

Di sana tertulis bahwasanya Sang Ratu meminta kepada Adipati Hadiwijåyå supaya mengirimkan beberapa prajurit pilihan untuk mengantarkannya pulang ke Jepara.

Para prajurit harus nylamur lampah sebagai orang kebanyakan. Tidak hanya prajurit, Sang Ratu juga meminta agar dikirimkan pula beserta para prajurit, beberapa pelayan wanita.

Ratu Kalinyamat secara khusus meminta agar Adipati Hadiwijåyå memberikan ganjaran atau anugerah berupa uang yang sepantasnya kepada para penduduk desa yang telah berjasa menyelamatkan nyawanya.

Dan khusus kepada pemuda yang telah menemukan tubuhnya ketika terluka parah, Ratu Kalinyamat memohon agar pemuda tersebut bisa diberikan kedudukan yang pantas di jajaran pemerintahan Kadipaten Pajang.

Membaca permintaan yang kedua dan ketiga dari Ratu Kalinyamat, bagi Sang Adipati tidak menjadi masalah untuk memenuhinya, namun membaca permintaan pertama dimana Sang Ratu hendak berniat menuju Jepara, membuat Adipati Hadiwijåyå merasa berberat hati.

Adipati Hadiwijåyå memutuskan agar sang pemuda untuk sementara mundur dahulu dari hadapan beliau. Dia diutus agar beristirahat untuk sementara waktu. Beliau sendiri hendak membahas isi surat Ratu Kalinyamat dengan Nimas Sêkaring Kêdhaton, Ki Mas Måncå, Ki Wilå dan Ki Wuragil secara pribadi. Sang pemuda diantar beberapa prajurit pengawal Adipati menuju tempat peristirahatan yang telah disediakan baginya.

Tåpå Wudå Ratu Kalinyamat.

Jepara kini telah dikuasai oleh Jipang Panolan. Bila Ratu Kalinyamat nekad kembali ke Jepara, itu sama saja dengan ‘ulå marani gêpuk’. Begitulah Adipati Hadiwijåyå berpendapat. Namun, Nimas Sêkaring Kêdhaton malah berpendapat lain.

Saat ini, malahan tempat yang dirasa paling aman bagi kakak kandungnya memang hanyalah wilayah Jepara. Karena walaupun Jepara memang telah dikuasai Jipang Panolan, namun Ratu Kalinyamat, bagaimanapun juga, telah menghayati setiap jengkal tanah Jepara.

Bahkan, Nimas Sêkaring Kêdhaton dulu pernah mendengar bahwa kakak kandungnya memang memiliki tempat rahasia yang khusus, tempat yang sering kali dia pergunakan untuk menyepi dan bertapa.

Hanya Ratu Kalinyamat dan almarhum suaminya, Sunan Kalinyamat saja yang tahu dimana letak tempat tersebut. Para prajurit Jeparapun, tidak seorangpun yang mengetahuinya. Konon letaknya berada di sekitar Gunung Dånåråjå.

Mungkin, jika benar Ratu Kalinyamat berniat untuk menyembunyikan diri disana, pihak Jipang dapat dipastikan tidak akan bisa menemukannya. Ki Mas Måncå, Ki Wilå dan Ki Wuragil condong menyetujui pendapat Nimas Sêkaring Kêdhaton.

Apa yang telah diputuskan oleh Ratu Kalinyamat, tentunya memang sudah dipertimbangkan secara masak. Mungkin, selain beliau berniat untuk menyembunyikan diri ditempat yang paling aman menurut beliau, diam-diam Sang Ratu juga bisa menyusun kembali kekuatan dari para pendukungnya yang masih ada disana.

Siapa saja mereka, tentunya hanya Ratu Kalinyamat yang tahu. Ratu Kalinyamat lebih bisa berbuat sesuatu di Jepara daripada jika Sang Ratu memilih bersembunyi ke Pajang, begitu menurut pendapat Ki Mas Måncå.

Setelah berunding cukup lama, pada akhirnya, Adipati Hadiwijåyå memutuskan memenuhi semua permintaan Ratu Kalinyamat. Dikirimkannyalah dua puluh prajurit khusus pilihan dari Pajang dengan menyamar sebagai rombongan penari keliling.

Dengan membawa seperangkat gamelan sebagai bagian dari aksi penyamaran, ditambah lima orang pelayan wanita yang menyamar sebagai para penarinya, maka di hari yang telah ditentukan, berangkatlah mereka.

Di setiap tempat, mereka sengaja menggelar pertunjukan. Hal ini demi untuk mengelabuhi para mata-mata Jipang sekiranya keberadaan mereka tengah menjadi perhatian mereka. Dan pada akhirnya sampai juga mereka di desa dimana Ratu Kalinyamat tengah menyembunyikan diri.

Ratu Kalinyamat kemudian ikut rombongan Pajang tersebut dan meninggalkan desa dimana selama ini Sang Ratu telah dirawat untuk menuju ke Jepara. Dalam perjalanan ke Jepara, rombongan tersebut juga sering menggelar pertunjukan.

Namun, Sang Ratu sengaja tidak tampil ke muka umum. Hingga pada akhirnya, rombongan ini selamat sampai ke Gunung Dånåråjå.

Ratu Kalinyamat dan rombongan segera menuju gua rahasia yang selama ini sangat dirahasiakan oleh Sang Ratu. Dua puluh prajurit pilihan Pajang bertugas menjaga keselamatan Sang Ratu.

Sedangkan lima orang pelayan wanita bertugas melayani kebutuhan Sang Ratu. Sedangkan Ratu Kalinyamat sendiri, segera memilih tempat yang tepat, tempat yang tersembunyi dan agak gelap.

Dan setelah tempat tersebut dibersihkan sedemikian rupa, Sang Ratupun untuk sejenak beristirahat di sana sembari menunggu malam menjelang.

Begitu malam telah turun, Sang Ratu dengan diantar lima pelayan wanita, keluar dari gua menuju sungai Gajahan yang terletak tak jauh dari sana. Sang Ratu membersihkan diri disungai tersebut.

Selesai membersihkan diri, beliau kembali ke dalam gua. Sepeningal suaminya Sunan Kalinyamat yang dikenal juga bernama Sultan Hadiri yang terbunuh pada peperangan dengan Aryå Pênangsang pada suatu pertempuran. Sang Ratu telah meninggalkan tahta kerajaan untuk berkelana menuntut keadilan,

Tujuan Sang Ratu adalah menuju sebuah gua rahasia yang tidak seorangpun mengetahui letak gua tersebut kecuali Sang Ratu sendiri dan almarhum suaminya, Sunan Kalinyamat.

Di sana selain menyembunyikan diri, Ratu Kalinyamat juga bertekad akan melakukan tåpå wudå. yaitu menanggalkan pakaian kebesaran kerajaan sampai dendamnya kepada Aryå Pênangsang terbalaskan.

Ratu Kalinyamat yang dilukiskan sangat cantik bertapa hanya dengan berbalutkan rambutnya yang panjang terurai. Ia memohon pertolongan kepada Tuhan agar diberikan kekuatan sehingga bisa membalas dendam atas kematian suaminya.

Dia bersumpah ”ora pisan-pisan ingsun luwar såkå tåpå ingsun yèn durung kramas gêtihé lan kèsèt sirahé Aryå Penangsang”.

Di tempat yang telah dipilih itu, Sang Ratu melepaskan seluruh busananya hingga telanjang bulat. Rambut panjangnya diurai sedemikian rupa hingga menutupi bagian payudaranya. Ratu Kalinyamat duduk bersila.

Sang Ratu bertekad, dengan sumpahnya itu. Harapan terbesarnya adalah adik iparnya, yaitu Adipati Pajang Hadiwijåyå, karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan bupati Jipang.

Laku tapa Ratu Kalinyamat dengan sumpahnya itu ditafsirkan oleh masyarakat desa Dånåråjå sebagai wujud kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu kepada suaminya.

Ia dengan kesadaran dan keiikhlasannya yang tinggi bersedia meninggalkan gemerlapnya kehidupan istana demi membalas dendam atas kematian suaminya. Konon Ratu Kalinyamat bertapa sangat lama sampai-sampai rambutnya dikubur di tempat itu.

Tempat tapa telanjang Ratu Kalinyamat yang terletak di Desa Dånåråjå, Jepara bagian Utara itu, hingga sekarang menjadi tempat ziarah, dan Sungai Gajahan masih tetap mengalir di sana.

Diam-diam, walaupun Ratu Kalinyamat juga tengah menjalani tåpå wudå, melalui kedua puluh prajuirit pilihan yang menjaganya, Dalam keadaan seperti itu, hanya pelayan wanita saja yang diperbolehkan mendekati beliau.

Ratu Kalinyamat mencoba menghubungi beberapa mantan petinggi Jepara yang masih setia kepadanya. Beberapa mantan pejabat tersebut diam-diam pula bertandang menghadap ke Gunung Dånåråjå.

Dari sini, penggalangan kekuatan mulai dibangun kembali. Ratu Kalinyamat perlahan dan pasti, mulai merapatkan barisan para pendukungnya. Kekuatan Jepara yang tercerai berai akibat gempuran Jipang Panolan, diam-diam mulai menyatu kembali.

Usaha Pembunuhan Adipati Hadiwijåyå.

Aryå Pênangsang sudah bersiap untuk menyerang Pajang. Namun Sunan Kudus masih menghalanginya. Pajang terlalu kuat untuk diperangi saat ini. Seluruh kekuatan Islam Abangan, bahkan sedikit banyak kekuatan sisa-sisa prajurit Majapahit, kini telah merapat dalam satu barisan dibawah panji Kadipaten Pajang.

Jika Dewan Wali Sångå sudah jelas-jelas memberikan dukungan kepada Jipang, maka penyerangan ke Pajang tidaklah menjadi masalah. Karena sudah dapat dipastikan, Cirebon dan Banten, mau tidak mau akan ikut memperkuat barisan Jipang manakala Dewan Wali telah mengeluarkan fatwanya.

Kekuatan Pajang sebenarnya terletak pada sosok Djåkå Tingkir sebagai pewaris tahta Majapahit. Sosok Adipati Pajang ini mampu memberikan semangat yang luar biasa akan kejayaan Majapahit.

Sunan Kudus memberikan pendapat, bahwa jika Djåkå Tingkir berhasil dibunuh, maka dapat dipastikan, kekuatan Pajang akan terpecah-pecah, pembunuhan seperti yang pernah dilakukan kepada Sunan Prawåtå yang berhasil dengan gemilang, tidak ada salahnya dicoba untuk dilakukan sekali lagi kepada Adipati Pajang tersebut.

Aryå Pênangsang menanggapi hal yang dianjurkan oleh Sunan Kudus. Dipilihnyalah empat orang Prajurit Surèng, prajurit khusus Jipang Panolan, untuk menjalankan tugas rahasia tersebut.

Empat orang prajurit pilihan yang diambil dari anggota pasukan khusus segera ditugaskan menuju Pajang. Konon, Djåkå Tingkir adalah sosok manusia digdåyå.

Maka, sekali lagi, Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr yang berhasil direbut dari dalam kereta kencana Ratu Kalinyamat dan Sunan Kalinyamat di kala penyerangan kepada kedua bangsawan tersebut waktu itu, kini dibekalkan kepada empat orang prajurit tersebut.

Dengan menyamar sebagai pedagang keliling, empat orang prajurit khusus Jipang Panolan tersebut segera berangkat menuju Pajang. Beberapa hari mereka menempuh perjalanan dan akhirnya sampai juga di ibukota Kadipaten Pajang.

Sembari berpura-pura menjajakan dagangan berupa pakaian-pakaian jadi, mereka mencoba mencari tahu seputar keadaan dan suasana Kadipaten. Sebagai seorang prajurit khusus yang telah terlatih, mereka dengan sangat cepat mampu menandai dimana titik-titik lemah penjagaan Kadipaten Pajang.

Setelah yakin akan hasil penyelidikannya, maka pada hari keempat, tepat tengah malam, mereka segera memulai kegiatannya.

Malam itu, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani belum tertidur. Keduanya masih terjaga sembari berbincang-bincang. Namun mendadak, baik Ki Agêng Pêmanahan maupun Ki Juru Martani, merasakan perubahan suasana yang aneh.

Keadaan Kadipaten tiba-tiba terasa senyap. Bahkan suara burung malam yang sesekali terdengar, kini mendadak tak terdengar sama sekali. Seolah seluruh makhluk penghuni malam, telah hilang begitu saja, entah kemana. Bahkan, jengkerikpun tiba-tiba tidak memperdengarkan suara khasnya.

Suasana yang terasa aneh seperti itu membuat kedua orang ini waspada. Ki Juru Martani berbisik kepada Ki Agêng Pêmanahan bahwa sepertinya ada orang yang tengah menebarkan kekuatan gaib ilmu sirêp, yaitu sejenis ilmu yang dipergunakan untuk membuat orang lain tertidur pulas bagaikan mati.

Ki Agêng Pêmanahan segera memutuskan untuk keluar dari bilik pribadi. Dengan diikuti oleh Ki Juru Martani, keduanya segera berkeliling areal Kadipaten.

Didalam bilik peraduan, Adipati Hadiwijåyå juga merasakan perubahan suasana yang aneh tersebut. Malam itu, Sang Adipati tidur dengan ditemani empat orang istri selir beliau.

Keempat istri selir nampak pulas tertidur disisi kanan dan kiri Sang Adipati, mereka tertidur bagaikan mati. Hanya tinggal Adipati Hadiwijåyå saja yang terjaga dengan benak dipenuhi tanda tanya.

Ada sesuatu yang tengah terjadi. Sang Adipati kini mulai meningkatkan kewaspadaannya. Dengan tetap berbaring telentang, Adipati Hadiwijåyå sengaja menyelimuti tubuhnya dengan selembar kain kemben. Suasana sangatlah senyap.

Mendadak dari arah pintu kamar, lamat-lamat terdengar bunyi berisik. Mata Sang Adipati nyalang melirik ke arah pintu kamar. Jelas dari arah luar, ada orang yang sengaja berusaha masuk secara paksa kedalam.

Sang Adipati waspada. Dengan tetap dalam posisi telentang berselimutkan kain kemben, Sang Adipati siaga sepenuhnya.

Tidak berapa lama berselang, dua orang bercadar berhasil membuka pintu dan langsung masuk kedalam. Yang seorang segera bergerak kearah pembaringan dan yang seorang tetap menjaga pintu.

Terlihat keris dihunus dari warangka, berkilat sesaat tertimpa cahaya pelita kamar. Dengan memegang keris terhunus dan berjalan mengendap-endap, salah seorang bercadar mendekati pembaringan Adipati Hadiwijåyå.

Begitu jarak sudah sedemikian dekat dengan tubuh Sang Adipati, orang bercadar tersebut secepat kilat menikamkan keris kedada Sang Adipati. Keris terayun mengarah dada. Namun terjadi keanehan.

Tusukan yang telah sedemikian tepat dan mematikan tersebut seakan-akan telah membentur selapis dinding. Dada Sang Adipati sama sekali tidak terluka sedikitpun. Hanya kain kemben yang dijadikan selimut tersingkap.

Orang bercadar yang menusukkan keris terkejut. Sekali lagi dihunjamkannya keris kearah yang sama. Dan sekali lagi pula, bahkan orang yang menusukkan keris itu terpelanting ke belakang.

Disaat itu, Adipati Hadiwijåyå mendadak membuka matanya. Dengan menggeram marah, Adipati Hadiwijåyå segera menjejakkan kakinya ke dada orang bercadar yang berusaha hendak menusukkan keris sekali lagi ke arah tubuhnya.

Jejakan kaki Sang Adipati tepat mengenai dada. Tubuh orang bercadar terdorong kebelakang, dan jatuh menimpa perabotan kamar diiringi bunyi gaduh yang nyaring.

Bunyi gaduh akibat jatuhnya tubuh orang bercadar menimpa perabotan kamar membuat keempat istri selir terbangun. Begitu menyadari ada dua orang lain yang tengah hadir didalam kamar, mereka menjerit ketakutan.

Dengan bertelanjang dada, Adipati Hadiwijåyå bangkit dari pembaringan dan langsung menyambar sebuah keris yang menyandar disudut dinding. Adipati Hadiwijåyå menghunus keris tersebut seketika.

Salah seorang bercadar yang sedari tadi menjaga pintu, tanpa menunggu waktu langsung menyerang Sang Adipati. Perkelahian segera terjadi. Kegaduhan pun tercipta diiringi jerit ketakutan keempat istri selir yang kini nampak berkumpul berdiri di pojok kamar.

Tusukan keris bisa dihindari oleh Adipati Hadiwijåyå. Bahkan dengan tak terduga, keris ditangan Sang Adipati cepat menukik ke arah perut. Orang bercadar kaget. Begitu cepat serangan tersebut.

Dia berusaha menghindar selekasnya, namun karena terlalu cepatnya serangan, kulit perutnyapun tergores juga. Dibalik cadarnya, dia meringis kesakitan.

Salah seorang yang sedari tadi terjatuh, kini bangkit berdiri dan langsung menyerang. Kegaduhan kembali terjadi lebih dari semula. Namun, bagaimanapun juga, kedua pasukan khusus Surèng Jipang Panolan ini diam-diam harus mengakui, sosok Adipati Hadiwijåyå memang tangkas dan trengginas.

Belum lama pertempuran terjadi, karena terpancing suara gaduh dan jeritan para selir yg berselang-seling dengan teriakan-teriakan dari mereka yang tengah berkelahi, beberapa pasukan pengawal Adipati merangsak masuk ke dalam kamar. Nampak Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani langsung ikut meleburkan diri dalam kegaduhan. Sang Adipati berteriak lantang: “Jangan bunuh. Tangkap hidup-hidup.”

Apa daya dua orang menghadapi beberapa prajurit pengawal Adipati Pajang. Begitu tombak-tombak panjang yang runcing terarah ketubuh mereka, mau tak mau, mereka menghentikan serangannya dan langsung duduk bersimpuh.

Kangjeng Adipati, saya juga telah membekuk dua orang lain yang berada diluar.”. Ujar Ki Agêng Pêmanahan sembari menyembah.

Adipati Hadiwijåyå menyarungkan kerisnya. “Kurung mereka untuk sementara waktu. Obati luka-luka mereka. Besok pagi, hadapkan semuanya kepadaku.”

Ki Agêng Pêmanahan menyembah kemudian memerintahkan dua orang prajurit pengawal untuk mengikat tangan kedua orang bercadar yang kini tengah duduk bersimpuh. Keduanya digiring keluar kamar dan dibawa ke pakunjaran.

Malam itu, Adipati Hadiwijåyå terpaksa harus tidur dikamar permaisurinya, Nimas Sêkaring Kêdhaton yang jadi ikut terbangun akibat kejadian tersebut. Beberapa pelayan wanita terpaksa pula membereskan seluruh perabotan pecah belah yang hancur berserakan akibat perkelahian barusan. Malam itu, seisi Kadipaten Pajang geger.

Keesokan harinya, keempat orang yang semalam tertangkap, dihadapkan secara khusus kepada Adipati Hadiwijåyå. Cadar mereka telah dibuang. Kini wajah keempat-empatnya nampak jelas sudah. Mereka menundukkan muka, menunggu jatuhnya hukuman mati yang pasti akan diberikan oleh Adipati Hadiwijåyå.

Sang Adipati terdiam agak lama memperhatikan keempat orang yang nampak sudah sangat pasrah tersebut. Di sana, Ki Mas Måncå, Ki Wilå, Ki Wuragil, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani ikut hadir.

Berikut beberapa prajurit pengawal. Suasana tegang, menantikan apa yang hendak dilakukan oleh Sang Adipati. Tak ada yang berani mengeluarkan suara sekecil apapun. Pada akhirnya, Adipati Hadiwijåyåpun angkat suara. “Dimas Pêmanahan. Bagaimana hasilnya?

Ki Agêng Pêmanahan menyembah sejenak dan menjawab: “Kasinggihan Dalem Kangjeng, keempat orang ini adalah prajurit Surèng dari Jipang Panolan.

Seluruh yang hadir terkejut seketika mendengar jawaban Ki Agêng Pêmanahan. Adipati Hadiwijåyå lekat memperhatikan keempat orang dihadapannya sembari memincingkan mata. Yang diperhatikan semakin menundukkan kepala.

Nampak kemudian, Ki Agêng Pêmanahan mengeluarkan benda berbuntalkan kain putih dari balik bajunya, kemudian menyembah sejenak dan berjalan duduk menghampiri tempat Adipati. “Mohon Kangjeng Adipati berkenan memeriksa benda ini.”

Adipati Hadiwijåyå menerima benda berbungkus kain putih yang dihaturkan Ki Agêng Pêmanahan. Dengan menahan nafas, dibukanya kain putih penutup, begitu benda telah lepas dari penutupnya, memerahlah wajah Sang Adipati. Bibirnya tanpa sadar bergumam: “Kyai Brongot Setan Kober.

Suara Sang Adipati menambah keterkejutan semua yang hadir. Ditangannya kini tergenggam sebilah keris yang tak lain adalah Kyai Brongot Setan Kober, keris pusaka milik Sunan Kudus yang telah diberikan kepada Aryå Pênangsang.

Dada Adipati Hadiwijåyå bergemuruh. Ditunjukkannya keris ditangan kepada Ki Mas Måncå. Ki Mas Måncå memincingkan mata memperhatikan keris tersebut lekat-lekat. Sembari menarik nafas, wajah Ki Mas Måncå bersemu merah. “Bagaimana, kangmas?”, tanya Adipati Hadiwijåyå.

Ki Mas Måncå diam sesaat. Kemudian dia menjawab: “Terserah dimas Adipati. Ini sudah keterlaluan.

Keris lalu diserahkan kembali kepada Ki Agêng Pêmanahan. Kini kembali Adipati Hadiwijåyå memperhatikan empat orang prajurit Surèng Jipang Panolan. Sang Adipati dengan suara tertahan, menanyakan langsung kepada keempat prajurit dihadapannya, benarkah Aryå Pênangsang yang telah memerintahkan mereka.

Salah seorang prajurit yang ditunjuk untuk menjawab, dengan terbata-bata membenarkan akan hal itu. Suasana menjadi bertambah tegang.

Adipati Hadiwijåyå menghela nafas, kemudian berkata: “Kalian orang Jipang, terimakasih kalian mau mengunjugi Kadipaten Pajang, sungguh kedatangan kalian sangat tidak kuduga. Aku mengucapkan selamat datang

Mendengar titah Sang Adipati, semua yang mendengar tidak menduga sama sekali. “Pulanglah kalian kembali ke Jipang Panolan. Sampaikan salamku kepada junjungan kalian Adipati Jipang, Kangmas Arya Penangsang. Katakan padanya biarlah keris Kyai Brongot Sétan Kobèr, sementara ada di Pajang, kelak akan kukembalikan. Kalian tidak usah takut kekurangan bekal, kalian akan aku beri segenggam intan dan emas permata, serta uang kèpèng yang banyak. Katakan juga kepada junjungan kalian, bahwa Djåkå Tingkir masih segar bugar” Demikian Sang Adipati berkata.

Keeesokan harinya, keempat prajurit Surèng dari Jipang dihantarkan oleh prajurit khusus pengawal Adipati keluar dari ibu kota Pajang untuk pulang kembali ke Jipang Panolan.

Betapa malu keempat orang prajurit Surèng tersebut mendapat perlakuan semacam itu.

Kepulangan empat prajurit Surèng ke Jipang Panolan, bukannya membawa kabar keberhasilan yang membuat Aryå Pênangsang senang, namun malahan membawa malu yang mencoreng muka Aryå Pênangsang.

Tidak hanya gagal menjalankan tugas, tapi juga meninggalkan Keris Kyai Setan Kober di Pajang. Sudah bisa ditebak, diam-diam keempat orang prajurit ini dijatuhi hukuman penggal kepala oleh Aryå Pênangsang karena tidak berhasil menjalankan tugas.

ånå toétoégé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: