Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING-1

SUMUNARING ABHAYAGIRI DI RATU BOKO
On 18 April 2011 at 09:51 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun Sugêng énjang

Mengiringi “perjalanan” Ki Rånggå Tohjåyå Mahésa Djênar, seorang perwira tinggi Panglima Tentara Pasukan Pengawal Sri Baginda Sultan Trenggånå di Kraton Dêmak Bintårå.

Dia yang mêlèngsérkan dirinya sendiri dari jabatan tinggi itu karena keadaan yang sangat memaksa, Mahesa Jenar pergi meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya.

Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan. Tapi dipundak Sang Pecinta Melati Hutan ini terpikul tugas berat, mencari dan mengembalikan pusaka kraton yang jêngkar dari walangkan kraton Dêmak Bintårå. Kyai Någå Såsrå dan Kyai Sabuk Intên.

Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut.

Cantrik Bayuaji kembali merajut dan menyajikan Dongeng Arkeologi & Antropologi seri NSSI, khususnya situs-situs sejarah yang “dikunjungi” Sang Pahlawan Pemilik Aji-aji Såsrå Biråwå.

Semoga berkenan. Sumånggå.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

Wêdaran kaping-1: SUMUNARING ABHAYAGIRI DI RATU BOKO

Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa bernama Prabu Boko, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan nama Pegunungan Boko. [NSSI 01 halaman 7].

Syahdan Rara Jonggrang, seorang putri Raja Boko mengajukan syarat kepada Bandung Bondowoso yang hendak meminangnya.

Berikan aku seribu candi dalam semalam, maka kuberikan cintaku padamu”.

Tentu saja Rara Jonggrang tak akan menduga kalau dengan kesaktian dan dibantu préwangan para jin, Bandung Bondowoso dengan mudah menciptakan candi-candi itu.

Cemas karena mendekati candi keseribu, Rara Jonggrang mengatur siasat dengan membuat kegaduhan dan membangunkan hewan-hewan piaraan.

Kokok ayam membuat Bandung Bondowoso mengira hari telah pagi dan gagal memenuhi tugasnya.

Kelak setelah mengetahui bahwa ia diperdaya oleh sang putri. Bandung Bondowoso melepaskan kemarahannya dengan mengutuk Rara Jonggrang menjadi patung yang keseribu.

Rara Jonggrang menjadi patung batu. Patung Btari Durgå yang kini berdiri tegak di pintu masuk Candi Sewu.

Cinta yang sepertinya indah sebenarnya berpotensi menjadi letusan magma, sekaligus dendam.

Situs Ratu Baka (Bahasa Jawa: Ratu Båkå) adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang menurut anggapan para ahli sejarah memiliki multi fungsi yang terdiri dari beberapa komponen, yakni benteng kraton dan gua.

Situs Ratu Boko berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Yogyakarta pada pertigaan Prambanan berbelok ke kanan sejauh + 3 Km, atau 50 km barat daya Surakarta. Luas keseluruhan komplek adalah sekitar 25 ha.

Bangunan utama Situs Ratu Boko adalah peninggalan purbakala yang ditemukan kali pertama oleh arkeolog Belanda, HJ De Graaf pada abad ke-17.

Wujudnya berupa bangunan seperti gapura utama, candi, kolam seluas 20 meter x 50 meter dengan kedalaman dua meter, gua, pagar dan alun-alun, candi pembakaran, serta paseban.

Petilasan bangunan pendopo, balai-balai, tiga candi kecil, kolam, dan keputren terdapat di sebelah tenggara. Sedangkan gua Wadon, gua Lanang, dan beberapa gua lainnya, serta kolam dan arca Budha berada di sebelah timur.

HJ De Graaf mencatat berdasarkan berita dari para musafir Eropa yang sedang mengadakan perjalanan, di sebelah selatan Candi Prambanan terdapat situs kepurbakalaan.

Sementara cerita yang berkembang di masyarakat setempat, Situs itu dihubungkan dengan Prabu Boko yang berasal dari Bali.

Tahun 1790 Van Boeckholtz menemukan reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Situs Ratu Boko. Penemuan itu langsung dipublikasikan. Rupanya, itu menarik minat ilmuwan Makenzic, Junghun, dan Brumun. Tahun 1814 mereka mengadakan kunjungan dan pencatatan.

Seabad setelah penemuan Van Boeckholtz, yaitu sekitar tahun 1890, FDK Bosch mengadakan riset arkeologis tentang peninggalan kepurbakalaan di selatan Candi Prambanan dalam laporan yang berjudul Kraton Van Ratoe Boko.

Situs ini menampilkan atribut yang diduga sebagai tempat berkegiatan atau situs pemukiman, namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas.

Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Syailendra atau Rakai Panangkaran dari Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan Medang.

Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas kraton. Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini.

Nama “Ratu Boko” berasal dari legenda masyarakat setempat. Kata kraton berasal dari kata Ke-Ratu-an yang artinya istana atau tempat tinggal ratu atau berarti juga raja, sedangkan Boko berarti burung bangau.

Hal ini masih menjadi pertanyaan siapa sebenarnya Raja Bangau tersebut, apakah penguasa pada zaman itu atau nama burung dalam arti sebenarnya yang dahulu sering hinggap di kawasan perbukitan Ratu Boko?

Diduga Ratu Boko “si Raja Bangau” adalah ayah dari Rara Jonggrang, yang juga menjadi menjadi nama candi utama pada komplek Candi Prambanan.

Berbeda dengan kraton lain di Jawa yang umumnya didirikan di daerah yang relatif landai, situs Ratu Boko terletak di atas bukit yang lumayan tinggi. Ini membuat kompleks bangunan ini relatif lebih sulit dibangun dari sudut pengadaan tenaga kerja dan bahan bangunan.

Terkecuali tentu apabila bahan bangunan utamanya, yaitu batu, diambil dari wilayah bukit ini sendiri. Ini tentunya mensyaratkan terlatihnya para pekerja di dalam mengolah bukit batu menjadi bongkahan yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan.

Kedudukan di atas bukit ini juga mensyaratkan adanya mata air dan adanya sistem pengaturan air yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolam pemandian merupakan peninggalan dari sistem pengaturan ini; sisanya merupakan tantangan bagi para arkeolog untuk merekonstruksinya.

Posisi di atas bukit juga memberikan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah bagi para penghuninya, selain tentu saja membuat kompleks ini lebih sulit untuk diserang lawan.

Keistimewaan lain dari situs ini adalah adanya tempat di sebelah kiri gapura yang sekarang biasa disebut “tempat kremasi”. Mengingat ukuran dan posisinya, tidak pelak lagi ini merupakan tempat untuk memperlihatkan sesuatu atau suatu kegiatan. Pemberian nama “tempat kremasi” menyiratkan harus adanya kegiatan kremasi rutin di tempat ini yang perlu diteliti lebih lanjut.

Sangat boleh jadi perlu dipertimbangkan untuk menyelidiki tempat ini sebagai semacam altar pemujaan atau tempat sêsajèn.

Sumber prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran tahun 746-784 M, menyebutkan bahwa Kraton Ratu Buko merupakan Abhayagiri Vihara.

Abhaya berarti tidak ada bahaya, Giri berarti bukit atau gunung, vihara berarti asrama atau tempat.

Dengan demikian Abhayagiri Vihara berarti asrama tempat para Bihksu Agama Budha yang terletak di atas bukit yang penuh kedamaian atau vihara tempat para bihksu mencari kedamaian, tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual.

Pada periode berikutnya sekitar tahun 856M, kompleks Abhayagiri Vihara tersebut difungsikan sebagai Kraton Walaing oleh Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu.

Oleh karena itu tidak mengherankan bila unsur Agama Hindu dan Budha tampak bercampur di bangunan ini. Dari situs itu sendiri ditemukan bukti tertua yang berangka tahun 792 M berupa Prasasti Abhayagirivihara.

Prasasti itu menyebutkan seorang tokoh bernama Tejahpurnpane Panamkorono. Diperkirakan, dia adalah Rakai Panangkaran yang disebut-sebut dalam Prasasti Kalasan tahun 779 M, Prasati Mantyasih 907 M, dan Prasasti Wanua Tengah III tahun 908 M.

Rakai Panangkaran lah yang membangun candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Kalasan. Meski demikian Situs Ratu Boko masih diselimuti misteri. Belum diketahui kapan dibangun, oleh siapa, untuk apa, dan sebagainya. Orang hanya memperkirakan itu sebuah bangunan kraton.

Menurut Prof. Buchari, seorang ahli sejarah, bangunan Kraton Boko merupakan benteng pertahanan Balaputradewa atau Rakai Kayuwangi, putera bungsu Rakai Pikatan.

Konon Rakai Kayuwangi diserang oleh Rakai Walaing Puhuyaboni, cicit laki-laki Sanjaya yang merasa lebih berhak atas tahta daripada Rakai Pikatan, karena Rakai Pikatan hanyalah suami dari Pramodharwani, puteri mahkota Samarottungga yang beragama Budha.

Dalam pertempuran tersbut Rakai Walaing berhasil dipukul mundur dan terpaksa mengungsi di atas perbukitan Ratu Boko dan membuat benteng pertahanan di sana.

Namun pada akhirnya Kraton Boko dapat digempur dan diduduki Rakai Kayuwangi yang secara sengaja merusak prasasti yang memuat silsilah Rakai Walaing, dengan menghilangkan bagian yang memuat nama-nama ayah, kakek dan buyut Rakai Walaing.

Berbeda pula dengan bangunan lain dari masa klasik Jawa Tengah, Situs Ratu Boko mempunyai karakter dan keistimewaan tersendiri.

Tinggalan bangunan masa klasik Jawa Tengah pada umumnya berupa candi (bangunan suci/kuil), sedang peninggalan di Situs Ratu Boko menunjukkan tidak saja bangunan suci (candi), tetapi juga bangunan-bangunan lain yang bersifat profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung.

Sifat keprofanan tersebut ditunjukkan oleh adanya tinggalan yang dahulunya merupakan bangunan hunian dengan tiang dan atap yang dibuat dari bahan kayu, tetapi sekarang hanya tinggal bagian batur-baturnya saja yang terbuat dari bahan batu.

Di samping bangunan-bangunan yang menunjukkan sifat sakral dan profan, di dalam Situs Ratu Boko ini juga ditemukan jenis-jenis bangunan lain, yaitu berupa kolam dan gua.

Ditinjau dari tata letaknya, bangunan-bangunan di Situs Ratu Boko dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) kelompok, yaitu: kelompok Gapura Utama, kelompok Paseban, kelompok Pendapa, kelompok Keputren, dan kelompok Gua.

Kelompok Gapura Utama terletak di sebelah barat yang terdiri dari Gapura Utama I dan II, talud, pagar, candi Pembakaran dan sisa-sisa reruntuhan.

Kelompok Paseban terdiri dari batur Paseban dua buah, talud dan pagar Paseban. Kelompok Pendapa terdiri dari batur Pendapa dan Pringgitan yang dikelilingi pagar batu dengan tiga gapura sebagai pintu masuk, candi miniatur, serta beberapa kolam penampung air berbentuk bulat yang dikelilingi pagar lengkap dengan gapuranya.

Kelompok Keputren berada di sebelah tenggara, terletak pada halaman yang lebih rendah dan terdiri dari dua batur, kolam segi empat, pagar dan gapura. Adapun kelompok Gua terdiri dari Gua Lanang dan Gua Wadon.

Månggå pårå kadang, silakan berwisata ke situs Ratu Boko, kasihan Dewi Roro Jonggrang berdiri sendirian di sana

Catatan:

  1. Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit masih setia mengunjungi sanak kadang di gandhok NSSI ini hingga paripurna.
  2. Dongeng Arkeologi & Antropologi lainnya juga masih berkunjung di gandhok Gagak Seta. Insya Allah, mohon doa restu sanak kadang.

Nuwun cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: