Seri Nagasasra

WAOSAN KA-19

On 26 Juli 2011 at 07:02 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-18: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-14) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr (Parwa-3). On 26 Juli 2011 at 06:43 JdBK 04

Wêdaran kaping-19: KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-15)

KERIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR [Bagian ke-4]

Keris legendaris: • Keris Mpu Gandring • Kêris Kyai Någåsåsrå • Kêris Kyai Sabuk Intên • Kêris Kyai Sêngkêlat • Kêris Kyai Condong Campur • Kêris Kyai Carubuk • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

Kabar kegagalan itu dilaporkan oleh Aryå Pênangsang kepada Sunan Kudus. Sunan Kudus tak habis pikir, betapa tinggi ilmu kanuragan yang dimiliki Adipati Hadiwijåyå. Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr, tidak mampu melukai tubuhnya sedikitpun.

Aryå Pênangsang mendesak Sunan Kudus agar diberi ijin untuk mengadakan penyerangan ke Kadipaten Pajang. Karena semua sudah kepalang basah.

Namun lagi-lagi, Sunan Kudus menghalanginya. Sunan Kudus masih memiliki satu cara lagi. Satu cara untuk memancing Adipati Hadiwijåyå keluar dari sarang. Jika berhasil dipancing keluar dari sarangnya, maka untuk memusnahkan segala ilmu kanuragan yang dimilikinya dan membunuhnya akan semakin mudah dilakukan.

Pada hari yang akan ditentukan, Sunan Kudus secara pribadi akan mengirimkan undangan khusus kepada Adipati Pajang. Sunan Kudus sengaja mengundang Sang Adipati guna untuk memperingati tahun baru Islam, satu Muharram, yang hendak dirayakan oleh Pesantren Kudus.

Waktu itu, kalender Jawa belum lahir. Kalender yang dipakai adalah kalender Hijriyyah dan kalender Saka. Kedua kalender yang berasal dari tradisi Islam dan tradisi Hindhu ini dipakai secara bersamaan. Jadi waktu itu belum dikenal istilah Suroan.

Kalender Jawa baru lahir kelak oleh cicit Ki Agêng Pêmanahan, cucu Panembahan Senopati, yaitu Kangjêng Sultan Agung Hanyåkråkusumå pada tahun 1555 Ç atau 1633M. Kalender Jawa adalah sistim penanggalan dimana kalender Hijriyah dari Islam dan kalender Çaka dari Hindu dilebur menjadi satu kesatuan.

Dapat dipastikan, Adipati Hadiwijåyå sebagai seorang pemimpin yang disegani di Jawa, akan menghargai undangan tersebut. Undangan dari seorang anggota Dewan Wali Sangha yang tergolong sepuh. Yang punya pengaruh dan suaranya didengar di dalam Dewan Wali. Maka mau tak mau, Adipati Hadiwijåyå akan hadir memenuhi undangan tersebut.

Manakala Adipati Hadiwijåyå telah datang ke Kudus, maka Aryå Pênangsang yang harus menyambut kedatangannya. Sunan Kudus telah menyediakan sebuah kursi khusus yang sengaja telah diberi mantra untuk melenyapkan segala macam ilmu kesaktian yang dimiliki siapapun yang duduk diatasnya.

Dan adalah tugas Aryå Pênangsang untuk mengusahakan agar Adipati Hadiwijåyå bisa duduk dikursi tersebut. Disamping itu, diam-diam Aryå Pênangsang juga harus mempersiapkan seluruh angkatan bersenjata Jipang untuk bersiap-siap menyerang Pajang.

Jika Adipati Hadiwijåyå telah menduduki kursi khusus tersebut, maka saatnya bagi Aryå Pênangsang untuk membunuh Sang Adipati saat itu juga. Dapat dipastikan, seluruh kekuatan Adipati Hadiwijåyå luruh. Begitu Sang Adipati telah tewas, maka Aryå Pênangsang harus segera memerintahkan penyerangan besar-besaran ke Pajang.

Dengan tidak adanya Adipati Hadiwijåyå, Pajang, sekuat apapun, hanya akan menjadi harimau tak bertaring. Pajang akan kucar-kacir. Dan Jipang pasti bisa menjebol Pajang.

Rencana yang sangat matang tersebut disetujui Aryå Pênangsang. Dan menginjak bulan ke sebelas menurut kalender Islam, yaitu bulan Dzulqo’idah, Sunan Kudus mengirimkan surat undangannya ke Pajang.

Surat dari Sunan Kudus tersebut diterima oleh Adipati Hadiwijåyå. Isi surat segera menjadi bahasan serius Sang Adipati. Disana tertera bahwasanya Sunan Kudus mengharap dengan hormat kepada Kangjeng Adipati Pajang, Hadiwijåyå, untuk bersedia hadir di Kudus pada bulan Muharrom guna ikut memperingati perayaan tahun baru Islam.

Seluruh orang terdekat Adipati Hadiwijåyå menyarankan agar Adipati Hadiwijåyå berhati-hati. Bisa jadi ini adalah jebakan baginya. Namun, tidaklah layak mengabaikan undangan seorang berpengaruh di Jawa seperti Sunan Kudus dimana wibawanya memiliki kekuatan dalam Dewan Wali Sångå.

Maka diputuskan, Adipati Hadiwijåyå akan berangkat ke Kudus dengan didampingi oleh Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani. Sedangkan Ki Mas Måncå, Ki Wilå dan Ki Wuragil, akan tetap di Pajang. Menyiagakan seluruh kekuatan angkatan bersenjata Pajang jika nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Adipati Hadiwijåyå mempercayakan Pajang kepada Ki Mas Måncå manakala dia pergi ke Kudus.

Dua bulan kemudian, menjelang beberapa hari sebelum hari perayaan yang tertera dalam surat undangan dari Kudus, berangkatlah rombongan Adipati Pajang ke Kudus. Segala macam kebesaran Pajang nampak dari rombongan tersebut. Disetiap jalan yang dilalui, rombongan Pajang senantiasa mendapatkan berbagai bentuk penghormatan dari rakyat.

Bahkan, ditempat-tempat mana rombongan Pajang bermalam, rakyat sangat bersuka cita menerima kehadiran mereka. Banyak yang mempersembahkan makanan dengan suka rela walaupun sebenarnya, seluruh rombongan tidak begitu memerlukannya. Perbekalan yang dibawa dari Pajang sudah lebih dari cukup.

Namun, Adipati Hadiwijåyå memerintahkan kepada seluruh prajurit yang ikut dalam rombongan agar menerima segala persembahan dari rakyat tersebut. Walaupun nampak remeh temeh, namun itu adalah wujud kecintaan rakyat kepada mereka semua. Jangan sekali-kali mengacuhkan persembahan makanan yang diunjukkan dengan rasa penuh kecintaan tersebut.

Beberapa hari kemudian, sampailah rombongan Adipati Pajang ke kota Kudus. Kedatangan rombongan dari Pajang ini mengagetkan masyarakat Kudus. Mereka terperangah melihat segala macam kebesaran yang terlihat. Mereka baru menyadari, bahwa Pajang ternyata sudah pantas jika menjadi sebuah Kerajaan besar.

Panji-panji Pajang berkibar-kibar. Berkelebat dengan gagah diterpa angin. Nampak didepan, Adipati Hadiwijåyå menaiki seekor gajah diiringi beberapa prajurit berkuda diarah depan, kiri, kanan dan baru rombongan berkuda juga dibelakangnya. Seluruh orang Kudus kagum melihat kebesaran Pajang.

Rombongan itu langsung menuju ke Pesantren Kudus. Disana, para santri menyambut kedatangan rombongan Adipati Pajang dengan menabuh rebana dan menyanyikan salawat Nabi seperti kebiasaan mereka.

Di antara rombongan, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, tetap mempertajam kewaspadaan mereka. Nampak, selain para santri, ada terlihat beberapa pasukan Jipang yang juga telah hadir disana. Bahkan ada beberapa pasukan dari daerah lain yang nampak ikut hadir.

Namun kedatangan rombongan dari Pajang, lebih menyita perhatian. Kebesaran Adipati Hadiwijåyå sangat memukau semua mata. Begitu Sang Adipati turun dari atas punggung gajah, nampak dipendåpå, beberapa santri langsung menyambutnya dan mempersilakan masuk ke pendåpå.

Seluruh rombongan turun dari kuda. Masing-masing tali kekang kuda ditambatkan ditempat yang telah disediakan. Perayaan tahun baru Islam di Kudus memang terlihat meriah.

Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani segera mengiringi Adipati Hadiwijåyå. Mereka masuk ke pendåpå diikuti para prajurit khusus Pajang yang lain.

Begitu seorang santri kembali mempersilakan agar Adipati Hadiwijåyå masuk ke ruang dalam untuk bertemu secara khusus dengan Sunan Kudus, Ki Agêng Pêmanahan segera memilih beberapa prajurit yang terlatih untuk ikut mengiringi Sang Adipati bersamanya.

Sedangkan Ki Juru Mêrtani, tetap bertugas diluar, menyiagakan seluruh prajurit yang tidak ikut masuk bila ada hal yang tidak dikehendaki nanti.

Manakala Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan dan beberapa prajurit pilihan masuk keruang dalam, betapa terkejut mereka ketika disana Aryå Pênangsang dan beberapa prajurit khusus Jipang Panolan telah berdiri menyambut. Baik Adipati Hadiwijåyå maupun Ki Agêng Pêmanahan segera waspada.

Aryå Pênangsang langsung bergerak memeluk Adipati Hadiwijåyå. Setelah itu dia berkata: “Dimas Hadiwijåyå, sangat senang hatiku melihat adimas bersedia hadir di Kudus ini. Sugêng rawuh Dimas

Adipati Hadiwijåyå tersenyum dan menjawab: “Kasinggihan kangmas, hati sayapun gembira bisa melihat kangmas Aryå Pênangsang juga hadir di Kudus ini.

Diam-diam, Ki Agêng Pêmanahan memberikan isyarat wspada kepada seluruh prajurit yang ikut masuk. Terdengar Aryå Pênangsang kembali berkata: “Mari adimas, silakan duduk disini…

Aryå Pênangsang mempersilakan Adipati Hadiwijåyå untuk duduk disalah satu kursi yang tersedia. Namun, mendadak terbersit perasaan ganjil di hati Adipati Hadiwijåyå manakala matanya melihat keberadaan kursi yang dimaksud oleh Aryå Pênangsang.

Tanpa sadar, Adipati Hadiwijåyå berkata: “Ah, kangmas. Bukankah itu kursi paling bagus di antara semua kursi yang ada di sini. Tak layak bagiku duduk di sana. Hanya Bapa Sunan Kudus sendiri sebagai tuan rumah yang pantas mendudukinya.” Aryå Pênangsang tersenyum simpul. “Tidak mengapa dimas, månggå…

Aryå Pênangsang terlihat agak memaksa. Sikap Aryå Pênangsang menambah ketidak nyamanan dihati Adipati Hadiwijåyå semakin bertambah-tambah. Terasa aneh. Adipati Hadiwijåyå, secara halus tetap menolak untuk duduk disana.

Sudahlah, kangmas Penangsang. Saya akan duduk dikursi sebelahnya saja. Kurang patut rasanya jika saya yang duduk di kursi itu.” Aryå Pênangsang kaget. Namun segera dia menutupi kekagetannya. “Ada apa dengan kursi itu? Apa yang dimas takutkan?

Adipati Hadiwijåyå tersenyum dan menjawab: “Ah, mungkin hanya perasaan saya saja. Tapi jika memang tidak ada apa-apa di sana, apakah kangmas berani mendudukinya?

Aryå Pênangsang sedikit bingung. Hal ini tak luput dari perhatian Adipati Hadiwijåyå dan Ki Agêng Pêmanahan. “Mengapa kangmas? Kangmas takut duduk di sana?,” sindir Adipati Hadiwijåyå.

Memerah wajah Aryå Pênangsang, dia menjawab: “Tidak ada apa-apa di sana, mengapa aku mesti takut?

Dan dengan pongahnya Aryå Pênangsang langsung berjalan kearah kursi tersebut dan langsung duduk di atasnya. Padahal Sunan Kudus telah wanti-wanti, kursi tersebut telah diisi dengan jåpå måntrå, siapa saja yang menduduki kursi tersebut, dapat dipastikan, seluruh ilmu kanuragan yang dimiliki akan luruh seketika itu juga.

Diam-diam, Sunan Kudus yang tengah mengintip dari dalam menggeram marah melihat kebodohan dan kesombongan Aryå Pênangsang. Namun dia belum memutuskan untuk keluar menemui Adipati Hadiwijåyå.

Melihat kursi yang semula ditawarkan kepadanya kini telah diduduki oleh Aryå Pênangsang, Adipati Hadiwijåyå tersenyum simpul, lalu mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan Aryå Pênangsang. Ki Agêng Pêmanahan dan beberapa prajurit, segera duduk bersila di bawah.

Setelah berbasa-basi sejenak, Adipati Hadiwijåyå menyengaja berkata demikian: “Oh ya kangmas, saya jadi ingat. Beberapa bulan yang lalu, Pajang kedatangan beberapa orang yang mengincar nyawa saya. Tapi syukurlah, Hyang Widdhi masih memberikan keselamatan kepada saya…,

Sengaja Adipati Hadiwijåyå menggantung kalimatnya untuk melihat tanggapan Aryå Pênangsang. Aryå Pênangsang agak gugup, tetapi berpura-pura kaget. “Benarkah? Ah berani sekali. Syukurlah jika dimas bisa lolos dari maut dan selamat sampai hari ini.

Adipati Hadiwijåyå tersenyum mengangguk, katanya kemudian: “Dan keris yang akan dipakai untuk membunuh saya, berhasil saya ambil…

Adipati Hadiwijåyå memberi isyarat kepada Ki Agêng Pêmanahan. Ki Agêng Pêmanahan nampak tegang. Kemudian dia mendekat dan mengulurkan sebuah peti kayu jati ke arah Adipati Hadiwijåyå.

Adipati Hadiwijåyå menerimanya, dan membuka peti tersebut. Dikeluarkannya sebilah keris dari sana. Dipegangnya sedemikian rupa sehingga semua mata bisa melihat keris ditanganya. “Inilah keris itu.”

Muka Aryå Pênangsang memerah padam. Apalagi ketika mendengar ucapan Adipati Hadiwijåyå selanjutnya. “Dan kehadiran saya di sini, selain memenuhi undangan Kanjeng Sunan Kudus, saya bermaksud mengembalikan keris ini kangmas Aryå Pênangsang, sebagai pemiliknya.

Dengan wajah tenang dan bibir tersenyum, Adipati Hadiwijåyå menyerahkan keris tersebut kepada Aryå Pênangsang. Ragu Aryå Pênangsang menerimanya. Namun akhirnya, dengan perasaan campur aduk antara malu dan marah, diterima juga keris itu.

Terdengar kembali Adipati Hadiwijåyå berkata datar: “Konon keris tersebut sangat ampuh. Tapi bagi saya keris ini tidak lebih hanya sebilah pisau dapur yang tumpul.

Amarah Aryå Pênangsang bangkit. Setengah menggeram dia berkata: “Jika saya yang menggunakannya, jangankan manusia, gunung jugrug sêgårå asat seketika.

Adipati Hadiwijåyå tergelitik juga, lalu Sang Adipati mencabut keris sakti andalannya Kyai Carubuk yang sedari tadi terselip di pinggang belakangnya. Keris pemberian Kanjeng Sunan Kalijågå. seraya berkata: “Lebih ampuh mana dengan Kyai Carubuk milik saya ini.”

Aryå Pênangsang seketika bangkit berdiri. Dengan mata merah memandang kearah Adipati Hadiwijåyå tajam. Adipati Hadiwijåyå lalu ikut bangkit pula. Suasana berubah tegang.

Dua orang ksatria ini kini telah berdiri berhadap-hadapan dengan keris di tangan masing-masing. Aryå Pênangsang dengan Kyai Brongot Sétan Kobèr di tangannya, sedangkan Adipati Hadiwijåyå dengan Kyai Carubuk.

Di bawah, baik prajurit Pajang maupun prajurit Jipang telah memutar keris mereka yang semula terselip dipinggang belakang, kini sudah diputar kedepan dengan gagang sudah mereka genggam. Tinggal mencabut kerisnya. Kedua pasukan khusus ini sudah siap tempur juga. Dua kekuatan tangguh, Jipang dan Pajang, kini sudah berhadap-hadapan.

Suasana tegang. Tak ada seorang-pun yang berani mengeluarkan suara. Hanya bunyi detak jantung yang berdegub kencang saja yang terdengar. Dan hanya terdengar oleh masing-masing pemilik jantung sendiri.

Nampak, Adipati Hadiwijåyå dan Aryå Pênangsang telah berhadapan dengan keris terhunus di tangan. Mata keduanya saling bertatapan. Kemarahan nampak di wajah mereka.

Di bawah, kedua kelompok prajurit khusus dari Jipang dan Pajang juga tegang. Begitu junjungannya diserang atau memulai menyerang dulu, maka merekapun telah siap menyerang lawannya. Sesaat, mereka melirik kearah junjungannya yang masih berdiri berhadap-hadapan, sesaat kemudian mereka melirik lawan mereka yang bersila bersebelahan. Suasana benar-benar genting.

Disaat kritis seperti itu, disaat keadaan yang tinggal meledak sebentar lagi, tiba-tiba terdengar suara salam yang keras. “Assalammu’alaikum.”

Serta merta, semua mata segera melayangkan pandangannya kearah mana suara salam itu berasal. Nampak Sunan Kudus keluar dari ruang belakang diiringi beberapa santri.

Sembari menghela nafas, seluruh prajurit Jipang maupun beberapa prajurit Pajang yang muslim menjawab salam Sunan Kudus, walau tidak serempak. Di sana, baik Adipati Hadiwijåyå maupun Aryå Pênangsang segera menghela nafas melepaskan ketegangan yang semenjak tadi menyergap seluruh persendian dan dada mereka.

Sunan Kudus berjalan menghampiri mereka sembari berucap lantang: “Lho…lho..lho. Kalian ini priyayi apa, atau sengaja hendak pamer keris?

Sunan Kudus bergerak ke tengah-tengah antara Aryå Pênangsang dan Adipati Hadiwijåyå. Tempati Adipati Hadiwijåyå berada disebelah kiri Sunan Kudus sedangkan Aryå Pênangsang berada di sebelah kanannya. Terlihat, Sunan Kudus sigap memegang pergelangan tangan kedua priyayi yang tengah hendak saling serang itu.

Tangan kiri Sunan Kudus tengah memegang erat pergelangan tangan kanan Adipati Hadiwijåyå yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kanan Sunan Kudus memegang erat pergelangan tangan kiri Aryå Pênangsang yang jelas-jelas tidak menggenggam apapun. Tangan kanan Aryå Pênangsang yang menggenggam Kyai Brongot Sétan Kobèr bebas bergerak leluasa.

Sunan Kudus menatap tajam Aryå Pênangsang, terdengar dia membentak. “Sarungkan kerismu, Penangsang.” Aryå Pênangsang termangu. Masih belum bergerak sedikitpun. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya: “Sarungkan, Penangsang.”

Aryå Pênangsang ragu. Belum juga menurunkan kerisnya. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya lebih keras: “Sarungkan kataku!.

Kali ini Aryå Pênangsang menurunkan Kyai Brongot Sétan Kobèr yang terangkat, kemudian menyarungkannya ke dalam warangkanya. Melihat Aryå Pênangsang menyarungkan keris, Adipati Hadiwijåyåpun ikut menyarungkan Kyai Carubuk ke dalam warangkanya.

Hampir saja aku membuat makanan segar bagi burung bangkai,” Aryå Pênangsang bergumam setengah menggeram. Adipati Hadiwijåyå tersenyum kecil.

Sunan Kudus menghela nafas, sembari tetap di tempatnya berdiri, Sunan Kudus berkata kepada Adipati Hadiwijåyå: “Maafkan nGger Adipati, adanya sesuatu yang tidak semestinya terjadi di sini. Anakmas Hadiwijåyå, sebagai tuan rumah, dan sesepuh pesantren saya menyesal. Dan untuk kebaikan kita bersama, saya menyarankan, tidak ada salahnya jika anakmas beserta rombongan segera pulang saja ke Pajang lebih awal. Disini, saya pribadi dan seluruh masyarakat Kudus, sudah merasa sangat terhormat atas kedatangan anakmas Hadiwijåyå berikut rombongan jauh-jauh dari Pajang. Skali lagi saya mohon maaf atas kejadian yang sama-sama tidak kita inginkan

Adipati Hadiwijåyå menghaturkan sembah didepan dada sembari berkata: “Bapa Kanjêng Sunan, seharusnya saya yang meminta maaf kepada Bapa Kanjêng Sunan Kudus, karena hampir saja saya membuat seorang wanita menjadi janda baru di ruangan dalam pesantren ini..

Mata Sunan Kudus berkilat mendengar kata-kata Adipati Hadiwijåyå. Sedangkan Aryå Pênangsang menggeram.

Sunan Kudus segera menyela: “Sudahlah…sudahlah. Saya memaklumi kemarahan anakmas Hadiwijåyå. Daripada berlarut-larut, sebaiknya anakmas mengalah..” “Baiklah Bapa Sunan, memang lebih baik bagi saya dan rombongan untuk segera meninggalkan tempat ini” Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan beserta beberapa prajurit khusus Pajang segera berpamitan kepada Sunan Kudus.

Rombongan dari Pajang memutuskan pulang terlebih dahulu sebelum acara puncak peringatan Tahun Baru Islam dimulai. Iring-iringan rombongan ini tengah keluar dari pondok pesantren Kudus.

Di ruang dalam, setelah melepas kepergian rombongan Pajang, Sunan Kudus memanggil secara pribadi Aryå Pênangsang diruangan khusus. Disana, hanya ada Sunan Kudus dan beberapa prajurit khusus yang terpercaya, termasuk Patih Matahun.

Sunan Kudus memarahi Aryå Pênangsang atas segala tindakan bodoh yang telah dilakukannya. Aryå Pênangsang menyela, meminta penjelasan dimanakah letak kebodohannya. Bukankah malah Sunan Kudus yang melerai disaat dia sudah berhadapan dengan Adipati Hadiwijåyå?

Dengan suara tinggi, Sunan Kudus berkata: “Siapa yang menyuruhmu duduk di kursi yang telah aku isi mantra khusus?” Seketika Aryå Pênangsang terdiam. “Apakah kamu tidak menyadari tadi, saat aku melerai kalian, tangan kanan Hadiwijåyå aku pegang erat, sedangkan tangan kananmu aku biarkan bergerak bebas?

Ingatlah sekali lagi. Bukankah aku memegang tangan kanan Hadiwijåyå yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kananmu yang tengah menggenggam Kyai Brongot aku biarkan bebas.

Aryå Pênangsang tetap terdiam. “Apa katamu tentang itu?” Aryå Pênangsang mengerutan dahinya, mencoba mengingat… “Aku katakan ‘sarungkan kerismu’ sampai tiga kali. Kamu tahu maksudku yang sebenarnya?

Aryå Pênangsang menatap Sunan Kudus, perlahan dia mengangguk-anggukkan kepalanya, sedikit demi sedikit mulai memahami maksud Sunan Kudus. “Maksudku ‘sarungkan kerismu ke dada Djåkå Tingkir, bukan ke warangkanya’. Kamu saja yang terlampau bodoh, sehingga tidak memahami kata-kata isyarat yang aku ucapkan. Kamu telah menyia-nyiakan kesempatan kamu memusnahkan salah seorang manusia yang menentangmu.

Aryå Pênangsang menggeram menyadari kebodohannya sendiri. Serta merta dia menyembah dan berkata: “Sebelum rombongan Hadiwijåyå jauh, tidak ada salahnya saya mengejar dan menghabisinya sekarang.

Sunan Kudus menatap tajam Aryå Pênangsang: “Ini bukan saat yang tepat menyerang rombongan Pajang dimana banyak berkumpul para tamu undangan di Kudus. Asal kamu tahu, kecuali aku dan kamu, tidak akan ada yang mampu menghadapi kesaktian Hadiwijåyå. Dia memiliki pegangan ilmu kanuragan warisan Buda Majapahit. Sangat riskan jika aku terjun sendiri. Tidak pantas bagiku berhadapan dengan anak kemarin sore seperti dia. Sedangkan kamu, saat ini hanya akan menjadi boneka mainan jika berhadapan dengan dia, karena seluruh ilmu kanuragan yang kamu miliki telah lumpuh.

Dada Aryå Pênangsang terasa panas dan sesak mendengar penuturan Sunan Kudus, “Lalu bagaimana Bapa Sunan?” “Selama tiga bulan berselang, mulai bulan Muharram ini, kamu harus berpuasa terus-menerus. Genap tiga bulan, seluruh hizib dan asma’ yang kamu miliki akan kembali pulih dan berfungsi. Setelah itu, aku akan mencari jalan lain untuk menghadapi Hadiwijåyå.

Aryå Pênangsang lemas mendengarnya. Dan Sunan Kudus berlalu kedalam sembari hanya mengucapkan salam.

ånå toétoégé Nuwun cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: