Seri Nagasasra

WAOSAN KA-20

On 30 Juli 2011 at 14:22 cantrik bayuaji said:

Nuwun Sugêng siyang andungkap sontên

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-19: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-15) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Setan Kober (Parwa-4). On 26 Juli 2011 at 07:02 JdBK 04

Wêdaran kaping-20: KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-16) KERIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR [Parwa-5]

Keris legendaris: • Keris Mpu Gandring • Kêris Kyai Någåsåsrå • Kêris Kyai Sabuk Intên • Kêris Kyai Sêngkêlat • Kêris Kyai Condong Campur • Kêris Kyai Carubuk • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

Permintaan Ratu Kalinyamat.

Rombongan Pajang yang pulang lebih awal dari jadwal semula nampak keluar dari kota Kudus. Di sepanjang jalan, seluruh prajurit yang ikut dalam rombongan, senantiasa mempertajam kewaspadaan mereka. Kejadian yang pernah menimpa rombongan Ratu Kalinyamat dulu, membuat mereka lebih siaga dan waspada.

Di sepanjang perjalanan, banyak mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. Acara peringatan Tahun Baru Islam di Kudus belum juga dilaksanakan, namun rombongan dari Pajang nampak malah pulang lebih awal. Ada apa gerangan?

Ketika belum terlampau jauh dari kota Kudus, mendadak Adipati Hadiwijåyå memerintahkan rombongan berhenti. Perintah yang mendadak ini sedikit mengejutkan seluruh prajurit yang ikut dalam rombongan, tak terkecuali Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani. Namun, setelah menyadari jika Sang Adipati hanya sekedar ingin beristirahat, keteganganpun mencair.

Nampak, Adipati Hadiwijåyå turun dari atas punggung gajah tunggangannya. Beberapa prajurit yang bertugas mengiringi disamping binatang tunggangan bertubuh besar tersebut tanggap dan segera membantu. Melihat Sang Adipati turun, serentak seluruh rombongan-pun ikut turun dari punggung kuda masing-masing.

Daerah tempat mereka berhenti memang sangat memungkinkan untuk dijadikan tempat istirahat sejenak. Di samping tempatnya yang landai, rimbunnya pepohonan raksasa yang tumbuh di sepanjang jalan, membuat tempat tersebut terasa sejuk menyegarkan.

Bergegas Ki Agêng Pêmanahan memerintahkan beberapa prajurit mendirikan tenda darurat sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi Sang Adipati. Enam orang prajurit bekerja cekatan, sebentar saja telah berdiri tenda sederhana namun megah. Permadanipun segera dihamparkan di dalam tenda.

Adipati Hadiwijåyå berkenan duduk diatas permadani tersebut. Suasana yang segar. Para prajurit memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat sejanak. Masing-masing memilih tempat yang rindang. Berpencar walau tetap tidak jauh dari tenda Sang Adipati.

Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani menghadap. Keduanya duduk bersila di depan Adipati Hadiwijåyå. Nampak dari kejauhan, ketiga priyayi Pajang ini tengah berbincang-bincang serius.

Sejurus kemudian, terlihat Ki Agêng Pêmanahan memanggil seorang prajurit. Ki Agêng Pêmanahan memerintahkan sesuatu. Prajurit yang dipanggil bergegas menghampiri beberapa temannya yang lain, dia nampak memilih-milih, ada sekitar sepuluh orang yang dia pilih.

Kemudian mereka menghilang sejenak dibalik gerombol pepohonan dan kembali lagi dengan pakaian yang sudah berganti. Mereka semua melepas pakaian keprajuritan, dan kini telah berganti dengan pakaian rakyat biasa.

Di tempat lain, Adipati Hadiwijåyå diam-diam juga telah berganti pakaian. Begitu juga dengan Ki Agêng Pêmanahan. Namun anehnya, pakaian kebesaran Sang Adipati, kini malah dikenakan oleh Ki Juru Martani.

Banyak prajurit yang bertanya-tanya. Namun dari bisik-bisik satu teman ke teman yang lain, mereka jadi tahu jika Adipati Hadiwijåyå diikuti oleh Ki Agêng Pêmanahan dan sepuluh prajurit yang terpilih, hendak menuju ke Gunung Dånåråjå untuk menemui Ratu Kalinyamat yang tengah bertapa telanjang.

Mereka semua sengaja menyamar sebagai rakyat biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan dari mata-mata Jipang Panolan yang mungkin tengah memperhatikan rombongan mereka.

Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan dan kesepuluh prajurit yang kini telah berganti busana, terlihat berangkat meninggalkan rombongan. Kedua belas orang yang telah menyamar ini memacu kuda memisahkan diri dari dari rombongan dan memilih jalan yang menuju ke Jepara.

Agak lama berselang, Ki Juru Martani segera memerintahkan seluruh rombongan siap-siap berangkat. Ki Juru Martani dibantu dua orang prajurit, segera menaiki punggung gajah milik Sang Adipati. Rombongan Pajang yang kini dipimpin oleh Ki Juru Martani, berangkat kembali ke arah Pajang.

Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan berikut sepuluh orang prajurit yang kini telah menyamar sebagai rakyat biasa terlihat memacu kuda dengan kecepatan sedang. Mereka tengah menyamar sebagai para pedagang keliling.

Akhirnya, sampailah juga kedua belas orang ini ke kota Jepara. Adipati Hadiwijåyå segera mencari letak Gunung Dånåråjå. Sesuai petunjuk yang diberikan oleh prajurit Pajang yang sempat pulang ke Pajang untuk mengambil perbekalan makanan dan berbagai keperluan bagi Ratu Kalinyamat beserta seluruh yang mengawal dan melayaninya, Adipati Hadiwijåyå-pun akhirnya berhasil menemukan lokasi goa tempat dimana Ratu Kalinyamat tengah menjalani tapa telanjangnya.

Kedatangan kedua belas orang berkuda ini menimbulkan kecurigaan dari beberapa prajurit Pajang yang bertugas menjaga mulut goa. Mereka yang tengah bersembunyi di tempat-tempat tertentu dibeberapa sudut tersembunyi mulut goa, segera mempersiapkan diri.

Sang pemimpin pasukan memberikan isyarat agar memasang anak panah pada busurnya. Anak panah telah terpasang, busur telah diangkat dan direntangkan, siap menunggu isyarat untuk dibidikkan.

Namun sang pemimpin prajurit memekik tertahan manakala tanpa sengaja mengenali dua orang penunggang kuda yang tengah memacu kuda dibarisan depan. Seketika itu juga, dia memberikan isyarat agar menurunkan busur panah. Dia segera keluar dari tempat persembunyian diiringi empat prajurit yang lain.

Menyadari kedatangannya telah disambut sedemikian rupa, Adipati Hadiwijåyå beserta rombongan terus memacu kuda lebih kencang kearah atas. Ketika jarak antara prajurit berkuda dan kelima orang yang telah menyambut sedemikian dekat, Adipati Hadiwijåyå segera menghentikan laju kudanya.

Kelima orang prajurit Pajang yang menyambut rombongan menghaturkan sembah hormat. Adipati Hadiwijåyå segera memerintahkan agar secepatnya seluruh prajurit mencari tempat yang tersembunyi untuk menaruh kuda masing-masing.

Diiringi Ki Agêng Pêmanahan dan dihantar pemimpin prajurit penjaga, Adipati Hadiwijåyå segera memasuki goa. Sang pemimpin prajurit memanggil seorang pelayan wanita. Sang pelayan memekik gembira melihat kehadiran Adipati Hadiwijåyå dan Ki Agêng Pêmanahan. Beberapa pelayan yang lain segera menyadari akan hal itu, mereka semua segera mendekat dan menghaturkan sembah.

Adipati Hadiwijåyå memerintahkan seorang pelayan wanita untuk menghadap Ratu Kalinyamat, mengabarkan kedatangannya. Seorang pelayan wanita tergopoh-gopoh memasuki salah satu relung goa.

Sejenak kemudian keluar dan menghadap kembali kepada Adipati Hadiwijåyå. Sembari menyembah dia berkata: “Kasinggihan dhawuh, Kanjêng. Kanjêng Ratu Ayu Kalinyamat meminta Kanjêng Adipati masuk ke dalam. Hanya Kanjêng Adipati seorang, tidak boleh ditemani oleh siapapun.

Adipati Hadiwijåyå mengangguk. Kemudian berjalan kearah relung goa seorang diri. Di dalam, beberapa pelita terpasang didinding-dinding goa. Ruang itu cukup luas juga. Di sana, merapat ke dinding goa, terlihat agak samar, sesosok wanita cantik dengan tubuh sempurna dan rambut panjang terurai, tengah duduk bersila. Dan yang membuat Adipati Hadiwijåyå segera menundukkan muka, karena menyadari, sosok wanita cantik itu benar-benar telanjang bulat tanpa busana.

Untung, ruangan dalam goa cukup gelap dan hanya diterangi beberapa pelita, sedikit menyamarkan perwujudan telanjang tersebut. Namun walau bagaimanapun juga, jika mau melihat secara seksama, Adipati Hadiwijåyå sebetulnya bisa melihat tubuh itu secara utuh.

Dengan menundukkan wajah, Adipati Hadiwijåyå memberikan sembah. Dan sosok wanita cantik yang tengah bersila itu-pun membalas sembah Adipati Hadiwijåyå. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar keselamatan masing-masing.

Adipati Hadiwijåyå, sembari tetap menundukkan wajah-pun berkata: “Kakangmbok Ratu Ayu, seyogyanya kakangmbok Ratu berkenan mengenakai kemben. Sangat segan hati saya jikalau harus berbincang-bincang dengan kakangmbok sedangkan kakangmbok dalam keadaan telanjang bulat sedemikian rupa.

Dari balik geiaian rambut panjangnya, Ratu Kalinyamat tersenyum manis, “Maafkan aku dimas, aku terpaksa tidak dapat memenuhi permintaanmu. Biarlah, selain almarhum kangmas Sunan Kalinyamat, cukup kamu saja laki-laki yang melihat aku dalam keadaan tanpa busana seperti ini. Sudah menjadi sumpahku, tidak sudi aku mengenakan busana lagi, jikalau Hyang Måhå Agung, belum memberikan keadilan kepada si Pênangsang, pembunuh kakangmas Prawåtå dan kangmas Sunan Kalinyamat.

Adipati Hadiwijåyå menghela nafas berat. “Kakangmbok Ratu Ayu, Sangat prihatin saya melihat keadaan kakangmbok. Sampai kapan terus telanjang tanpa busana. Selain tabu didengar orang banyak, sekali lagi, saya juga sangat merasa segan dan rikuh jika harus kemari dan tetap melihat kakangmbok seperti ini.

Ratu Kalinyamat diam sejenak, mendesis lirih dan berkata: “Dimas, seharusnya aku yang mempertanyakan hal ini kepadamu. Tidakkah kamu kasihan, tidakkah kamu iba melihatku? Melihat penderitaanku? Melihat ketidak adilan yang menimpaku?

Adipati Hadiwijåyå terdiam. kemudian katanya: “Jangan salah sangka kakangmbok. Saya dan Nimas Sêkaring Kêdhaton senantiasa memikirkan keadaan kakangmbok Ratu Ayu disini. Saya juga terus menimbang-nimbang bagaimana cara terbaik untuk menyingkirkan Aryå Pênangsang.

Namun, keadaan di luar tidaklah memungkinkan bagi saya berhadapan langsung dengan Aryå Pênangsang secara terbuka. Båpå Sunan Kudus berada dibelakang Aryå Pênangsang. Båpå Sunan Kudus sangat berpengaruh dalam Dewan Wali Sångå. Kakangmbok tahu sendiri itu.

Sangat mudah bagi Båpå Sunan Kudus mempengaruhi keputusan Dewan Wali Sångå. Jika sampai Pajang berhadapan langsung dengan Jipang, bukan tidak mungkin, Båpå Sunan Kudus, melalui Dewan Wali Sångå akan memerintahkan Cirebon dan Banten bergabung dengan Jipang menghadapi Pajang.

Adipati Hadiwijåyå diam sejenak, kemudian melanjutkan kata-katanya: “Sungguh, secara pribadi, saya sendiri juga sudah tidak tahan melihat kelakuan Aryå Pênangsang. Hampir saja saya berkelahi dengan dia. Saya tidak bisa menahan diri.

Dan Adipati Hadiwijåyå menceritakan pertemuannya dengan Aryå Pênangsang di pesantren Kudus. “Hyang Widdhi Wåså masih berkenan mencegah saya berhadapan langsung dengan Aryå Pênangsang.

Terdengar helaan nafas lembut dari bibir Ratu Kalinyamat, lalu dia berkata: “Dengar dimas. Jika kamu benar-benar dapat menyingkirkan Aryå Pênangsang, aku bersumpah, disaksikan Hyang Måhå Agung, oleh langit dan bumi, semoga aku akan menuai kutuk jika aku mengingkari sumpah ini. Dengarkan. Jika kamu sanggup menyingkirkan si Pênangsang maka tahta Demak Bintara aku limpahkan kepadamu.”

Adipati Hadiwijåyå mengangkat wajahnya. Dilihatnya, dari balik geraian rambut panjangnya, sorot mata Ratu Kalinyamat berkilat-kilat, tengah menatap wajah Adipati Hadiwijåyå.

Bahkan, jikalau peraturan hukum sebelum jaman ini masih berlaku luas di masyarakat Jawa, dimana seorang laki-laki boleh memadu dua orang wanita kakak beradik sekaligus, maka sungguh akupun rela lahir batin kamu nikahi sebagai madu dari adikku Nimas Sêkaring Kêdhaton.

Namun, hal itu tidak mungkin bisa diterima kebanyakan masyarakat Jawa sekarang. Oleh karena itu, kamu boleh memilih selir-selir milik almarhum kangmas Sunan Kalinyamat dan almarhum kangmas Prawåtå yang engkau sukai untuk kamu nikahi.

Adipati Hadiwijåyå terdiam. Kesungguhan kata-kata Ratu Kalinyamat terpancar dari wajah ayunya. Sengaja, rambut panjangnya yang tergerai, disibak kesamping sedikit, sehingga payudara Sang Ratupun terlihat. Payudara yang padat berisi. Dada Adipati Hadiwijåyå berdesir melihatnya, cepat-cepat dia menundukkan wajah kembali.

Tapi ingat, dimas. Satu permintaanku, jika kamu berhasil mengalahkan Aryå Pênangsang, dan tahta Demak Bintara telah kamu pegang, aku minta, janganlah kamu mendirikan Kerajaan Buda. Biarlah kamu tetap meneruskan sebuah pemerintahan berbentuk Kesultanan Islam. Biarlah gelarmu dikenal orang sebagai seorang Sultan, bukan seorang Prabu.

Keheningan menyergap seketika. Dan Adipati Hadiwijåyå semakin terperangah manakala melihat Ratu Kalinyamat menyibak seluruhnya geraian rambut panjang yang menutupi tubuh bagian depannya. Kini, tampak jelas didepan mata Adipati Hadiwijåyå, tubuh polos Sang Ratu tanpa ditutupi oleh sehelai benangpun.

Mendadak dada Adipati Hadiwijåyå terasa sesak. “Inilah tanda kesungguhanku,” bisik Ratu Kalinyamat sembari tersenyum. Dengan menarik nafas berat, Adipati Hadiwijåyå menyembah hormat dan berkata: “Baiklah kakangmbok Ratu Ayu. Saya berjanji akan mencari jalan yang terbaik untuk menyingkirkan Aryå Pênangsang. Dan jika hal itu berhasil atas wårånugråhå Hyang Widdhi, saya berjanji, akan memakai gelar Sultan, bukan Prabu.” Dan Adipati Hadiwijåyåpun memohon diri untuk keluar ruangan. Dan Ratu Kalinyamat pun menghaturkan terima kasihnya.

Malam itu, Sang Adipati bermalam di Gunung Dånåråjå. Dengan didampingi Ki Agêng Pêmanahan, Adipati Hadiwijåyå membahas rencana yang tepat untuk memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat. Ki Agêng Pêmanahan mengusulkan, agar Sang Adipati mempercayakan hal ini kepada Ki Juru Martani.

Ki Juru Martani adalah sosok yang cerdik dan bisa diandalkan dalam memberikan pemecahan dan cara yang terbaik disaat semua jalan dirasa buntu.

Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada Ratu Kalinyamat, Adipati Hadiwijåyå beserta Ki Agêng Pêmanahan dan sepuluh prajurit yang mengiringinya, meninggalkan Gunung Dånåråjå bertolak ke Pajang.

Setibanya di Pajang, Adipati Hadiwijåyå beserta rombongan disambut para pejabat dengan suka cita. Tak ada yang kurang dari jumlah rombongan, Semua dalam keadaan baik dan selamat.

Adipati Hadiwijåyå berkenan untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Pada sore harinya, Adipati Hadiwijåyå memanggil Ki Mas Måncå, Ki Mas Wilå, Ki Mas Wuragil, Ki Agêng Pêmanahan berikut Ki Juru Martani.

Di ruang khusus, dan tidak ada orang lain yang hadir selain keenam orang tersebut, Adipati Hadiwijåyå menyampaikan maksudnya. Sang Adipati berkenan meminta pemecahan mengenai masalah Aryå Pênangsang.

Aryå Pênangsang tidak bisa terus menerus didiamkan saja. Harus ada pihak yang berani bertindak. Dan tampaknya, hanya Pajang yang mampu menghadapi kekuatan Jipang. Yang menjadi masalah, posisi Pajang Sangatlah terjepit.

Pajang yang dipimpin oleh seorang Adipati, dalam garis keturunan adalah menantu Sultan Trenggånå, sedangkan Jipang dipimpin oleh Aryå Pênangsang, kemenakan langsung Sultan Trenggånå.

Disadari atau tidak di antara anggota Dewan Wali Sångå memihak kepada salah satu di antara keduanya. Kanjêng Sunan Kudus berada di belakang Aryå Pênangsang, dan Kanjêng Sunan Kalijågå meskipun tidak secara terbuka, hampir setiap orang tahu, beliau adalah guru Djåkå Tingkir yang kini begelar Adipati Hadiwijåyå.

Oleh karenanya, Adipati Hadiwijåyå meminta pertimbangan dan jalan keluar yang tepat, yang tidak merugikan Pajang, namun bisa menghancurkan kekuatan Jipang.

Ki Mas Måncå mengusulkan agar Sang Adipati tidak gegabah berhadapan secara langsung dengan Aryå Pênangsang. Ki Mas Måncå telah mendengar kabar bahwa di pesantren Kudus, Sang Adipati hampir saja kehilangan pengamatan diri. Jika memang hendak berhadapan dengan Aryå Pênangsang, lebih baik menggunakan kekuatan pihak lain.

Ki Mas Wilå dan Ki Mas Wuragil membenarkan pendapat Ki Mas Måncå. Begitu juga dengan Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani. Yang menjadi masalah sekarang, siapakah kekuatan ketiga yang bisa dijadikan alat untuk memukul Jipang?

Seluruh yang hadir terdiam. Masing-masing tengah memeras otak. Dalam kediaman tiba-tiba Ki Agêng Pêmanahan angkat bicara sembari menyembah: “Mohon beribu ampun, Kanjêng Adipati. Jika diperbolehkan hamba akan memberikan masukan.” Adipati Hadiwijåyå mengangguk.

Menurut saya,” lanjut Ki Agêng Pêmanahan, ”Tidak ada lagi kekuatan dahsyat yang mampu menghadapi Jipang kecuali kekuatan Pajang. Tak ada jalan lain, tak ada kekuatan lain yang akan sanggup melakukannya. Oleh karenanya, kita tidak bisa mengharapkan daerah lain tampil secara mandiri berhadapan dengan Jipang.

Semua yang hadir mengerutkan dahi mendengarnya. “Mau tidak mau, pasukan Pajang sendiri harus bergerak. Namun.” Semua yang hadir menunggu.

Sebaiknya, pasukan Pajang harus melepas busana keprajuritan Pajang. Pasukan Pajang harus melepas ciri-ciri sebagai pasukan Pajang. Harus ada daerah lain yang berani tampil kedepan untuk mengakui bahwa, pasukan Pajang yang tengah bergerak menggempur Jipang, berasal dari daerahnya. Jika kelak terjadi perang terbuka, menang atau kalah, maka Pajang tidak akan terbawa-bawa.

Tertegunlah seluruh yang hadir. Ki Mas Måncå angkat bicara: “Pêmanahan, daerah manakah yang dimungkinkan untuk berani tampil mengakui seperti itu?

Ki Agêng Pêmanahan menyembah: “Kalau memang diijinkan, biarlah hamba dan paman saya, Ki Juru Martani yang akan tampil kedepan. Biarlah kami atas nama daerah Sêlå, memimpin pasukan Pajang melakukan perang terbuka dengan Jipang Panolan. Biarlah terdengar kabar, Jipang Panolan tengah berperang dengan Sélå.

Seluruh yang hadir menghela nafas berat. Suasana hening untuk beberapa saat. Ki Mas Måncå kemudian angkat bicara: “Daerah Sêlå selalu didekat-dekatan dengan Kanjêng Sunan Kalijågå.

Adipati Hadiwijåyå memincingkan mata mendengarnya. “Dan jika menyebut Jipang Panolan, orang-orang selalu mengkait-kaitkan dengan Kanjêng Sunan Kudus,” lanjut Ki Mas Måncå.

Dan akan menjadi sebuah berita yang besar manakala Dewan Wali Sångå mendengarnya, bukankah begitu kang Mas Måncå?” Sela Adipati Adiwijawa datar.

Ki Mas Måncå menyembah sesaat: “Benar dimas Adipati. Dan jika itu terjadi, tidak menutup kemungkinan, Dewan Wali Sångå akan campur tangan untuk memaksa kedua belah pihak agar melakukan genjatan senjata.

Adipati Hadiwijåyå menghela nafas sekali lagi. Nampak kini, Ki Juru Martani menghaturkan sembah. “Mohon beribu ampun, Kanjêng Adipati. Jika boleh saya hendak menghaturkan pendapat.” Adipati Hadiwijåyå mengangguk mempersilakan.

Sebaiknya Kanjêng Adipati mengeluarkan sayembara khusus secara terselubung kepada para pakuwon yang berada dibawah kekuasan Pajang. Mohon sayembara ditawarkan kepada para akuwu yang jelas-jelas telah nyata kesetiaannya kepada Pajang.

Hindari pakuwon yang masih diragukan kesetiaannya. Dari sekian banyak akuwu yang ditawari sayembara, pastilah ada yang akan berani tampil untuk memimpin pasukan Pajang dengan menggunakan ciri-ciri pakuwonnya. Jikalau memang tidak ada yang berani, maka terpaksa, saya beserta keponakan saya, Pêmanahan, akan tampil kedepan dengan mempertaruhkan nama Séla.

Saya berjanji, saya akan memotong kepala harimau terlebih dahulu agar peperangan tidak berjalan berlarut-larut. Aryå Pênangsang. Saya pastikan dia harus tewas terbunuh terlebih dahulu. Sehingga jika kemudian Dewan Wali Sångå ikut campur memaksakan agar terjadi gencatan senjata, maka disaat gencatan senjata terjadi, Aryå Pênangsang harus telah mati.

Ki Mas Måncå meragukan kata-kata Ki Juru Martani. “Juru Martani, yakinkah kamu dengan ucapanmu?” Ki Juru Martani menyembah: “Dengan rencana yang bakal hamba buat, untuk memperdaya Aryå Pênangsang, agar keluar dari sarangnya sendirian, saya yakin, saya pasti bisa memenuhi ucapan saya, Kanjêng Patih.

Ki Mas Måncå mengangguk-angguk, dia menoleh ke arah Adipati Hadiwijåyå: “Bagaimana, dimas Adipati?” Adipati Hadiwijåyå tercenung sesaat, kemudian katanya: “Baiklah, tapi hal tersebut dilakukan jika memang nanti tidak ada satupun pakuwon yang berani mengikuti sayembara. Oleh karenanya, aku akan memberikan imbalan besar. Yaitu, siapa saja yang berani memimpim pasukan yang bakal menggempur Jipang berasal dari pakuwonnya dan berhasil mematahkan kekuatan Jipang, maka aku akan memberikan Alas Mentaok dan daerah Pati sebagai imbalannya.”

Keputusan telah diambil. Tidak menunggu waktu lama, atas perintah Adipati Hadiwijåyå, Ki Mas Måncå segera memerintahkan Juru Tulis Kadipaten untuk membuat surat-surat undangan resmi. Surat-surat undangan yang bakal dikirim kepada para akuwu yang berada di wilayah kekuasaan Kadipaten Pajang.

Pada hari yang telah ditentukan, mereka harus datang ke Kadipaten Pajang atas perintah Adipati Hadiwijåyå.

Sayembara Adipati Pajang.

Tiga bulan kemudian, beberapa hari sebelum hari yang telah ditetapkan dalam surat undangan resmi, berdatanganlah para akuwu yang ada diseluruh wilayah Kadipaten Pajang. Mereka datang berkelompok, tidak bersamaan, gelombang pergelombang. Tidak ada yang mencolok. Karena memang begitulah pesan yang dituliskan dalam surat undangan dari Sang Adipati.

Dan pada hari yang ditetapkan, seluruh akuwu telah berkumpul di Siti Hinggil Kadipaten. Lama waktu berselang, mereka semua menunggu kehadiran Sang Adipati di tempat itu. Beberapa saat kemudian, muncullah Adipati Hadiwijåyå diiringi Ki Mas Måncå dan kepala pengawal pasukan khusus Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, berikut beberapa prajurit khusus yang mengawal.

Didepan para akuwu, Adipati Hadiwijåyå meminta Ki Mas Måncå membacakan sayembara. Seusai sayembara dibaca, suasana mendadak hening. Tak ada yang berani bersuara. Melihat keadaan menjadi sepi dan tegang, Adipati Hadiwijåyå angkat bicara, dia mempertegas isi sayembara dengan menantang, siapa yang berani tampil ke depan, yang akan memimpin pasukan Pajang, dengan menggunakan ciri-ciri dari pakuwonnya?

Suasana sepi tidak juga mencair. Hingga kemudian, seorang akuwu, maju ke depan dan menyembah seraya berkata: “Kasinggihan dhawuh, Kanjêng Adipati. Ijinkan saya mengutarakan kebimbangan saya, yang mungkin juga mewakili kebimbangan hati dari para akuwu yang hadir disini. Kanjêng, jika kami semua diperintahkan angkat senjata menggempur Jipang atas nama pasukan Pajang, sudah barang tentu, kami tidak akan banyak berfikir panjang, jiwa raga kami akan kami pasrahkan untuk itu. Namun, manakala kami harus menggempur Jipang atas nama pakuwon kami, mohon maaf, Kanjêng. Jika nanti benar-benar terjadi hal tersebut, kami tidak berani menanggung akibatnya dengan mengorbankan rakyat dan sanka kadang kerabat kami yang ada di pakuwon kami. Mohon Kanjêng memaklumi.

Adipati Hadiwijåyå menghela nafas. Kata-kata yang terucap dari seseorang itu memang ada benarnya. Karena tidak ada juga yang berani memasuki sayembara, maka Adipati Hadiwijåyåpun menutup pertemuan tersebut. Sebelum menutup pertemuan, Sang Adipati meminta pengiriman pasukan dari semua pakuwon untuk memperkuat barisan pasukan Pajang. Perintah yang terakhir ini, disambut dengan suka cita tanpa keraguan sedikitpun oleh semua akuwu yang hadir.

Mendapati sayembara yang dipermaklumatkan tidak ada yang menanggapinya, maka hari itu juga, Adipati Hadiwijåyå mengutus Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani untuk menjalankan siasat lain yang pernah mereka tawarkan. Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, segera menjalankan perintah.

Jajaran tentara Kadipaten Pajang segera mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah perang besar. Mereka ditempatkan langsung di bawah pimpinan penuh Ki Agêng Pêmanahan. Sembari menunggu bantuan pasukan dari daerah-daerah, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani mematangkan rencana yang telah mereka buat sebelumnya.

ånå toétoégé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: