Seri Nagasasra

WAOSAN KA-21

On 30 Juli 2011 at 14:28 cantrik bayuaji said:

Nuwun Sugêng siyang andungkap sontên

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-20: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-16) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Setan Kober (Parwa-5). On 30 Juli 2011 at 14:22 JdBK 05

Wêdaran kaping-21: KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-17)

KÊRIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR; dan TOMBAK KYAI PLÈRÈD. [Parwa-6]

Keris legendaris: • Keris Mpu Gandring • Kêris Kyai Någåsåsrå • Kêris Kyai Sabuk Intên • Kêris Kyai Sêngkêlat • Kêris Kyai Condong Campur • Kêris Kyai Carubuk • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

Atas saran Ki Juru Martani, Ki Agêng Pêmanahan diminta untuk mengusahakan agar Tombak Pusaka Kyai Plèrèd, bisa mereka pinjam. Karena hanya dengan tombak pusaka peninggalan Majapahit tersebut, kulit Aryå Pênangsang bisa dilukai.

Hanya saja, tombak tersebut sedemikian berharga bagi Adipati Hadiwijåyå dan tidak akan mungkin dipinjamkan begitu saja kecuali kepada orang yang benar-benar dipercayai oleh Sang Adipati.

Maka terpaksa, Ki Agêng Pêmanahan, atas saran Ki Juru Martani, meminta agar Danang Sutåwijåyå, putranya yang kini telah diambil anak angkat oleh Adipati Hadiwijåyå, diminta untuk ikut memperkuat barisan.

………. Hingga di sini dongeng saya sigêg. Ganti kacarita ing lakon puniki:, saya akan dongengkan Tombak Pusaka Kyai Plèrèd

TOMBAK PUSAKA KANJÊNG KYAI PLÈRÈD

Konon Tombak Kyai Plèrèd tercipta karena birahi yang tak tertahankan Syekh Maulana Mahgribi terhadap Råså Wulan, adik Radén Sahid (kelak Kanjêng Sunan Kalijågå).

Di dalam pengembaraannya mencari Radén Sahid, setelah bertahun-tahun tidak berhasil menemukan kakaknya itu, akhirnya Råså Wulan bertapa di tengah hutan Glagahwangi. Di hutan itu Råså Wulan bertapa ngidang.

Di dalam hutan itu ada sebuah danau bernama Sêndhang Bèji. Tepat di tepi danau itu tumbuhlah sebatang pohon yang besar dan rindang. Batang pohon itu condong dan menaungi permukaan danau.

Pada salah satu cabang yang menjorok ke atas permukaan air danau Sêndhang Bèji itu, ada orang yang sedang bertapa. Orang itu bernama Syekh Maulana Mahgribi. Pada cabang pohon besar itu, Syekh Maulana Mahgribi bertapa ngalong.

Pada suatu siang menjelang senja yang cerah, datanglah Råså Wulan ke Sêndhang Bèji itu untuk mandi, karena matahari memancarkan sinarnya yang sangat terik. Perlahan-lahan Råså Wulan menghampiri Sêndhang Bèji yang airnya jernih dan segar.

Sama sekali ia tidak tahu bahwa di atas permukaan air sendhang itu ada seorang laki-laki yang sedang bertapa. Karena mengira tak ada orang lain kecuali dia sendiri di tempat itu, maka dengan tenang dan tanpa malu-malu Råså Wulan membuka seluruh pakaian penutup tubuhnya.

Dalam keadaan telanjang bulat, dengan perlahan-lahan Råså Wulan berjalan menghampiri danau. Dengan tenangnya dia mandi di Sêndhang Bèji itu. Kesejukan air danau itu membuat kesegaran yang terasa sangat nyaman pada tubuhnya.

Sementara itu, Syekh Maulana Mahgribi yang sedang bertapa tepat di atas air danau tempat Råså Wulan mandi, memandang kemolekan tubuh Råså Wulan dengan penuh pesona. Melihat kecantikan wajah dan kemontokan tubuh Råså Wulan yang sedang mandi tepat di bawahnya, bangkitlah birahi Syekh Maulana Mahgribi.

Mirip dengan kisah Batårå Guru dan Déwi Uma, yang akhirnya melahirkan Batårå Kålå, maka karena peristiwa itu, hamillah Råså Wulan. Råså Wulan tahu, bahwa orang laki-laki yang bergantungan pada cabang pohon di atas danau itulah yang menyebabkan kehamilannya. Tuduhan pun dilontarkan kepada Syekh Maulana Mahgribi.

Mengapa kau berbuat demikian?” Råså Wulan menghardik, dengan menunjuk-nunjuk ke arah Syekh Maulana Mahgribi. “Mengapa engkau menghamiliku?

Menerima makian demikian itu, Syekh Maulana Mahgribi diam saja, seakan-akan sama sekali tidak mendengar apa-apa. “Kamulah yang menghamiliki”, kata Råså Wulan. “Kamu harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu.” “Mengapa kau menuduhku”, tanya Syekh Maulana Mahgribi. “Lihat! Aku hamil”, kata Råså Wulan. “Dan kamulah yang menghamiliku.” “Kamu yakin bahwa aku yang menyebabkan kamu hamil?” tanya Syekh Maulana Mahgribi. “Ya. Aku yakin”, kata Råså Wulan. “Aku yakin bahwa kamulah yang menyebabkan aku hamil.” “Mengapa?” tanya Syekh Maulana Mahgribi. “Mengapa aku yang kau tuduh menghamilimu? ” “Di tempat ini tidak ada orang laki-laki lain kecuali kamu,” kata Råså Wulan. “Maka pasti kamu yang menghamiliku.

Singkat dongeng. Syekh Maulana Mahgribi tidak lagi dapat mengelak. Setelah anak yang dikandung oleh Råså Wulan itu lahir, lalu diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi, diberi nama Kidangtelangkas [Djåkå Tarub (?)]. Keturunan Kidangtelangkas itu kelak secara turun-temurun menjadi raja di Tanah Jawa.

Catatan: Legenda Råså Wulan, saling berbenturan:

1. Legenda Råså Wulan (adik Radén Sahid — Sunan Kalijågå –) sebagai istri Êmpu Supå Madrangki dan

2. Legenda Råså Wulan (adik Radén Sahid — Sunan Kalijågå–) sebagai istri Syekh Maulana Mahgribi.

Legenda inipun masih menyimpan pertanyaan lain, apakah Syekh Maulana Mahgribi ini identik dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Kalau ya, maka semakin mengaburkan nilai sejarahnya, sebab akan mengundang pertanyaan lain. Legenda-legenda di atas tidak memiliki referensi sejarah yang dapat dipertangungjawabkan.

Adalah menurut yang empunya lakon, konon tombak itu tercipta dari bagian tubuh Syekh Maulana Mahgribi, karena kekesalan beliau akibat dituduh menghamili Råså Wulan, tombak ciptaan itu akhirnya menjadi sipat kandêl raja-raja Jawa. Tombak itu dinamakan Kanjêng Kyai Plèrèd.

Secara turun-temurun tombak Kanjêng Kyai Plèrèd itu diwariskan kepada raja-raja yang bertahta. Pada waktu Danang Sutåwijåyå berperang tanding melawan Aryå Pênangsang, Danang Sutåwijåyå dipersenjatai tombak Kyai Plèrèd, dan dengan senjata andalan itu pula Sutåwijåyå berhasil membunuh Aryå Pênangsang. Selanjutnya Danang Sutåwijåyå menjadi Raja Mataram, dan Kanjêng Kyai Plèrèd merupakan senjata pusaka kerajaan Mataram. Saat ini tombak Kanjêng Kyai Plèrèd itu menjadi senjata pusaka di Keraton Yogyakarta.

Gantos cinarita, ujaring kåndå wontên ing kêlir pêdalangan Kembali ke dongeng siasat Adipati Hadiwijåyå untuk mengalahkan Aryå Pênangsang.

Adipati Hadiwijåyå tidak mengerti atas permintaan ini, selain Danang Sutåwijåyå masih kecil, tidak ada kelebihan Danang Sutåwijåyå yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat barisan Pajang.

Namun, dengan cerdiknya, Ki Agêng Pêmanahan meyakinkan Adipati Hadiwijåyå, bahwa mengajak Danang Sutåwijåyå untuk memperkuat barisan Pajang adalah salah satu dari rencana yang hendak dijalankan.

Pada akhirnya, Adipati Hadiwijåyå menyetujui. Bahkan manakala Ki Agêng Pêmanahan memohon agar Danang Sutåwijåyå diperkenankan membawa tombak pusaka Kyai Plèrèd, Sang Adipatipun tidak bisa menolaknya.

Setelah bantuan pasukan dari daerah telah sepenuhnya datang, maka pasukan segera berangkat. Tujuan awal adalah daerah Sélå. Daerah asal Ki Agêng Pêmanahan. Di sana, seluruh pasukan akan diatur sedemikian rupa.

Sélå menjadi daerah pemusatan pasukan Pajang, tetapi seluruh ciri-ciri pasukan Pajang akan berganti menjadi pasukan Sélå. Akan dikabarkan, bahwa pengikut Islam Abangan, bergabung di Sélå untuk memerangi Jipang Panolan dibawah pimpinan Ki Agêng Pêmanahan, keturunan Ki Agêng Sélå. Nama Pajang, tidak sedikitpun dibawa-bawa.

Pasukan segera berangkat berkelompok menuju Sélå. Dengan berpakaian rakyat biasa serta menyembunyikan seluruh persenjataan didalam bilah bambu, maka kelompok demi kelompok, secara terpisah-pisah waktu, agar supaya tidak mencolok dan menimbulkan kecurigaan, berangkatlah seluruh pasukan Pajang. Pergerakan pasukan ini benar-benar tersamarkan. Susul menyusul rapih dan teratur. Dan pada akhirnya, beribu-ribu pasukan pun kini telah berkumpul di Sélå.

Rencana segera dimatangkan di Sélå. Seluruh pasukan mengenakan tanda khusus yang disematkan dibaju mereka. Dengan pakaian rakyat biasa, layaknya para pasukan têlik sandhi, pasukan Pajang yang kini mengaku diri mereka sebagai pasukan Sélå, telah siap untuk bertempur.

Pada hari yang telah ditentukan, menjelang malam hari, pasukanpun bergerak. Pasukan dipecah dalam empat kelompok besar. Sengaja pasukan dipecah demi untuk kembali menyamarkan diri. Disuatu titik, yaitu diperbatasan wilayah Jipang yang berwujud sungai, disanalah, kelompok-kelompok pasukan harus kembali bertemu.

Setiap kelompok pasukan menempuh jalur khusus. Jaklur-jalur ini sengaja dilakukan menghindari daerah-daerah padat penduduk. Beberapa hari kemudian, seluruh kelompok telah bersatu kembali ditempat yang telah disepakati bersama.

Seluruh pasukan segera mempersiapkan diri, senjata-senjata dikeluarkan dari bilah bambu, anak panah dibagi-bagikan, Titik-titik penempatan prajurit ditetapkan dan segera ditempati oleh mereka-mereka yang ditunjuk untuk itu. Gerakan rahasia ini begitu rapi, sebentar saja, persiapan untuk sebuah perang besar, telah tertata. Pasukan Pajang siap melumat Jipang Panolan hari itu juga. Seluruh prajurit kini menunggu perintah selanjutnya.

Di titik yang lebih tersembunyi, terlindung dibalik pepohonan lebat, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani tengah menunggu saat yang tepat. Nampak Danang Sutåwijåyå, putra Ki Agêng Pêmanahan, putra angkat Adipati Pajang Hadiwijåyå telah mempersiapkan diri menjalankan tugas. Dia berdiri disamping kuda putih yang nanti harus ditungganginya. Sebatang tombak panjang, dengan ujung tertutup kain putih dan rangkaian bunga melati tergantung di sana, tergenggam erat ditangan kecil Danang Sutåwijåyå. Itulah tombak pusaka Kyai Plèrèd yang terkenal ampuh.

Ada yang tampak aneh dari kuda putih yang tali kekangnya tengah dipegang oleh Danang Sutåwijåyå. Kuda tersebut jelas bukanlah kuda jantan yang biasa dipakai untuk bertempur. Kuda ini jelas kuda betina. Dan tampak semakin aneh lagi, manakala diperhatikan lebih seksama, ekor kuda terlihat diikat keatas pelana sedemikian rupa, sehingga kemaluan kuda betina itu nampak terbuka jelas. Ki Juru Martanilah yang mempunyai rencana itu.

Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan tengah bersiap-siap mengirimkan seorang utusan yang hendak diutus ke Jipang. Utusan yang membawa surat tantangan perang. Namun, belum juga sang utusan berangkat, nampak dari kejauhan, di seberang sungai, tujuh orang tukang rumput berpakaian bagus terlihat tengah berjalan di tepian sungai sembari membawa keranjang rumput.

Ki Juru Martani tertegun, pucuk dicinta ulam tiba, dia tahu pasti, ketujuh orang yang tengah terlihat itu tak lain adalah perumput, pêkatik istana Jipang Panolan. Mereka pastilah tukang rumput yang tengah bertugas mencarikan rumput untuk makanan kuda kesayangan Aryå Pênangsang, Kyai Gagak Rimang. Cepat Ki Juru Martani memerintahkan agar Ki Agêng Pêmanahan mempersiapkan diri. Ki Juru Martani memberikan petunjuk singkat.

Ki Agêng Pêmanahan mengangguk tanda mengerti dan langsung menaiki punggung kudanya. Sejenak Ki Juru Martani memberikan petunjuk kepada Kepala Pasukan agar tidak melakukan gerakan apapun tanpa ada perintah darinya. Lalu, dia menaiki punggung seekor kuda.

Tak berapa lama, nampak Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan terlihat memacu kuda menyeberangi sungai yang dangkal di bawah. Melihat kedatangan dua orang yang tidak dikenal, tujuh orang tukang rumput terkejut. Apalagi, terdengar kemudian dua orang itu berteriak memanggil-manggil mereka. Seketika ketujuh perumput ini menghentikan langkah kakinya.

Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan menghampiri mereka. Begitu jarak sudah sedemikian dekat, keduanya segera turun dari atas pelana kuda masing-masing. “Kisanak, buat siapakah rumput-rumput ini?” , tanya Ki Juru Martani.

Salah seorang perumput menjawab: “Rumput-rumput ini untuk makanan kuda Kangjêng Aryå Jipang.

Ki Juru Martani tersenyum. Dia keluarkan sebuah gulungan rontal dari balik bajunya. “Kisanak, kami memiliki pesan buat junjungan kalian. Maukah kalian menyampaikannya?

Ketujuh orang saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka bertanya: “Kalian orang mana?” Ki Agêng Pêmanahan menjawab: “Katakan kepada junjungan kalian, kami berasal dari Sélå.” Ragu ketujuh orang tersebut. “Siapakah yang mau aku titipi?,” sergah Ki Juru Martani.

Agak ragu, salah seorang perumput mendekat.“Baiklah, mana?

Orang yang baru berkata segera mendekat dengan keranjang rumput yang tetap berada dipundaknya. Ki Juru Martani menyerahkan gulungan rontal itu kepada sang perumput. Namun diam-diam, Ki Agêng Pêmanahan bergerak kearah belakang sang tukang rumput dengan gerakan pelan.

Begitu gulungan rontal telah diterima dan telah diselipkan di pinggang sang perumput, cepat Ki Agêng Pêmanahan mencabut keris dari pinggangnya dan meraih daun telinga sang perumput tersebut.

Tak menunggu waktu, disayatnya daun telinga sang penerima rontal hingga putus seketika itu juga. Jerit kesakitan terdengar diiringi darah yang mengucur. Melihat kejadian itu, keenam perumput yang lain ketakutan dan langsung melarikan diri.

Perumput yang kehilangan daun telinganya terlihat mengerang-ngerang kesakitan sembari mendekap telinganya yang telah kehilangan cuping. Darah merembes disela-sela jari jemarinya. Sembari memegang keris, Ki Agêng Pêmanahan berkata: “Katakan kepada Aryå Pênangsang. Aku, orang Sélå menunggu dia disini. Jika dia lelaki sejati, pasti akan datang.

Sang perumput ketakutan setengah mati melihat Ki Agêng Pêmanahan. Cepat dia membalikkan badan dan langsung lari terbirit-birit dengan meninggalkan keranjang rumputnya yang tumpah ditanah.

Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani mengawasi sang perumput yang tengah berlari. Begitu sudah tidak terlihat mata, keduanya segera menaiki punggung kuda masing-masing dan kembali menuju barisan semula. Perang besar akan terjadi sebentar lagi. Bagaimana dengan Aryå Pênangsang?

ånå toétoégé Nuwun cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: