Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING 23

On 6 Agustus 2011 at 04:32 cantrik bayuaji said:

Nuwun
Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-22: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-18) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Setan Kober (Parwa-7). On 1 Agustus 2011 at 05:01 JdBK-06.

Wêdaran kaping-23:
NYI RATU KALINYAMAT (Parwa ke-1)

Ratu Kalinyamat sendiri yang memimpin rombongan Pasukan Pengawal. Dia kini keluar dari kereta dan menaiki seekor kuda. Ratu Kalinyamat terlihat gagah dan anggun ketika duduk di atas pungung kuda.

Sorot matanya garang, bertolak belakang dengan kecantikan wajahnya. Namun, walaupun begitu, malahan nampak terlihat semakin anggun.

Demikian cuplikan dongeng di atas.

Siapa Nyi Ratu Kalinyamat ?

Berikut sebagai dongeng sejarah, yang akan menjelaskan tentang :

1. Siapakah Nyi Ratu Kalinyamat?

2. Apa peranan Ratu Nyi Kalinyamat dalam sejarah kebangsaan Indonesia?

Yang dikisahkan oleh beberapa penulis, pengembara berkebangsaan Portugis yang pernah berkunjung ke Nusantara pada abad ke-16 pada tahun 1560an, semasa Sang Ratu Kalinyamat hidup; yaitu Meilink-Roelofsz dan Diego de Couto.

Penulisan ini juga bersumber pada serat atau babad: Serat Kandhaning Ringgit Purwa Babad Demak, Sêrat Kåndhå dan Babad Sejarah Banten.

Nama asli Nyi Ratu Kalinyamat adalah Rêtnå Kêncånå, puteri Trênggånå, Sultan Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangéran Kalinyamat.

Sebagai sorang legendaris Nyi Ratu Kalinyamat, makam Nyi Ratu dan Pangéran Hadiri (ada yang menyebutnya dengan nama Pangéran Rakit Hadirin, atau Pangéran Hadirin, atau Kyai Win Tang); nyaris tak pernah sepi pengunjung.

Mereka yang datang dari berbagai daerah semata-mata berharap karomah. Apa yang mereka harapkan dari aura makam tokoh legendaris yang pernah bertapa dengan telanjang itu?

Tokoh Nyi Ratu Kalinyamat sangat melegenda. Setidaknya, bagi masyarakat Jepara dan Pati, Jawa Tengah. Dia tidak hanya dikenal sebagai seorang putri yamg molek, tetapi juga cerdas dan berani.

Tak heran, jika akhirnya wanita tersebut memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati Jepara, yang kala itu wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Pati, Kudus, Rembang dan Blora.

Tatkala Nyi Ratu Kalinyamat mencari suami, terpaksa ia menggelar seyembara. Dengan seyembara itu, ia berhadap akan mendapatkan pendamping hidup yang tidak saja tampan, tetapi juga cerdas serta memiliki kemampuan setara dirinya.

Namun sayang, harapan tersebut tak pernah menjadi kenyataan. Hingga, secara tak sengaja ia bertemu Pangéran Hadiri, yang diutus ayahnya yang Sultan Aceh untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama Islam di Kesultanan Demak.

Lelaki berdarah Persia ini sangat tampan dan arif bijaksana. Tak heran bila Nyi Ratu Kalinyamat langsung kasmaran padanya. Dengan demikian Pangéran Hadiri berasal dari luar Jawa.

Terdapat berbagai versi tentang asal-usulnya. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang pedagang dari Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru pada Sunan Kudus.

Versi lain mengatakan, Win-tang berasal dari Tanah Rencong Aceh. Nama aslinya adalah Pangéran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah, dari Kesultanan Aceh (1514-1528).

Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib.

Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangéran Kalinyamat.

Ia berhasil menikahi Retna Kencana putri bupati Jepara, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangéran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangéran Hadirin atau Pangéran Hadiri.

Sayangnya, ibarat masa bulan madu Nyi Ratu Kalinyamat dan Pangéran Hadiri belum tuntas, sang suami keburu gugur di tangan pembunuh bayaran suruhan Adipati Jipang Aryå Pênangsang.
Hati sang Ratu Kalinyamat sangat terpukul dan berduka atas kenyataan pahit itu.

Pembantaian itu sendiri terjadi seusai menghadiri upacara pemakaman kakak kandungnya, Sunan Prawåtå. Sang kakak, juga tewas di tangan Aryå Pênangsang yang berambisi merebut tahta Kesultanan Demak.

Yang lebih membuatnya kecewa, ketika ia mengadukan kelakuan Aryå Pênangsang kepada Sunan Kudus, Sunan Kudus ternyata malah memihak Aryå Pênangsang.

Bahkan, Sunan Kudus mengatakan, bahwa semua itulah buah dari tindakan Sunan Prawåtå yang membunuh Pangéran Sêkar Sédå Lèpèn.

Setelah peristiwa pembantaian kakak kandung serta suaminya. Nyi Ratu Kalinyamat bersumpah akan menebus rasa malunya dan meraih kembali kehormatannya.

Keinginan tersebut membuatnya bertekad tapa telanjang, sampai merasa mendapat petunjuk bahwa pembunuh tersebut akan mendapat balasan yang setimpal.

Dalam hal ini sedikit banyak dia ikut serta menentukan arah dan nasib kerajaan selanjutnya. Walaupun perbuatannya hanyalah suatu proses terhadap suatu ketidakadilan dan perbuatan sewenang-wenang terhadap suaminya.

Tetapi hal ini mengundang simpati dan rasa kasihan masyarakat untuk membantu menghancurkan sumber kejahatan tersebut.

Di antara Adipati yang bersimpati pada ratu Kalinyamat adalah penguasa kadipaten Pajang, Djåkå Tingkir Hadiwijåyå. Di kemudian hari dia memang berhasil membunuh Aryå Pênangsang.

Kraton Demak lalu dipindahkan ke Pajang tahun 1568, maka tancêp kayonlah kebesaran Kesultanan Dêmak Bintårå.

Lebih dari dua windu Nyi Ratu Kalinyamat melakukan ritual tåpå wudå. Mula-mula, ritual itu dilakukan di Gelang Mantingan, kemudian pindah ke Desa Dånåråså, lalu berakhir di tempat Dånåråjå Tulakan Kêling Jêpara.
Ia baru akan puas setelah berhasil memakai kapala Aryå Pênangsang sebagai alas kaki.

Tåpå wudå tersebut benar-benar berakhir setelah Adipati kelak adalah Sultan Pajang Hadiwijåyå menghadap Nyi Ratu Kalinyamat sambil menenteng penggalan kepala Aryå Pênangsang dan semangkok darahnya.

Aryå Pênangsang berhasil dibunuh Sultan Pajang yang bernama R Hadiwijaya, menggunakan tangan Danang Sutåwijåyå (putra Ki Gêdé Pêmanahan), dalam suatu perkelahian di tepi bengawan antara Cepu dan Blora.

Tubuh Adipati Jipang Panolan itu dicabik-cabik dan serpihan tubuhnya ditanam terpencar-pencar di berbagai pelosok di Jawa Tengah.

Kepala Aryå Pênangsang itu benar-benar digunakan untuk keset oleh Nyi Ratu Kalinyamat, dan darahnya digunakan untuk keramas. Setelah puas, kepala Aryå Pênangsang dibuang ke sebuah kolam yang terdapat di Desa Mantingan.

Hingga kini, makam Nyi Ratu Kalinyamat nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Mereka yang datang dari berbagai daerah dengan harapan mendapat karomah.

Banyak di antara peziarah yang memohon kharomah agar parasnya menjadi cantik dan menawan juga sensual (bagi kaum hawa), atau gagah ganteng berkharisma bagi peziarah kaum adam di makam Pangéran Hadiri.

Kembali kepada pertanyaan siapa Ratu Kalinyamat?

Pada dongeng Keris Kyai Brongot Setan Kober, khususnya tentang Ratu Kalinyamat, fakta sejarah bercampur-aduk dengan dongeng legenda rakyat. Namun hal ini tidaklah berarti bahwa dongeng rakyat itu harus kita abaikan begitu saja.

Dalam dongeng rakyat, sekecil apapun pasti mengandung kebenaran fakta sejarah. Dongeng rakyat yang lazim dibuat dalam bentuk tembang atau kidung, juga telah memperkaya khasanah budaya kesusasteraan bangsa.

Dalam sejarah dikenal adanya istilah sumber sejarah tertulis, yakni segala keterangan dalam bentuk laporan tertulis yang memuat fakta-fakta sejarah secara jelas.

Sumber ini dapat ditemukan antara lain pada batu, tamra prasasti, dinding goa, lempengan logam (biasanya perunggu, emas atau perak), sarkofagus, kayu, rontal, kulit hewan, kain, kertas. film.

Sumber sejarah tertulis dapat bersifat naratif atau literatur yaitu berita sejarah yang memuat suatu cerita atau pesan. Sumber-sumber ini termasuk prasasti (misalnya prasasti tentang penetapan suatu daerah perdikan; prasasti tentang kehadiran seorang raja ke suatu tempat), cacatan perjalanan (semacam buku harian, misalnya Pujasastra Nagarakertagama), biografi.

Dalam sejarah modern, termasuk karya ilmiah berupa penemuan-penemuan ilmiah (rumus, dalil, rekayasa genetika, listrik, televisi, mesin).

[Pada kesempatan lain, akan diwedar sumber penulisan sejarah dalam Dongeng Sumber, Bukti dan Fakta Sejarah].

Pribadi Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat adalah seorang tokoh wanita yang sangat terkenal. Dia tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian “gagah berani” seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame yang seorang wanita yang pemberani.

Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa.

Di samping itu, selama tigapuluh tahun kekuasaannya ia telah berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya.

Ratu Kalinyamat adalah tokoh wanita Indonesia yang penting peranannya pada abad ke-16. Peranannya mulai menonjol ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak.

Ia menjadi tokoh sentral yang menentukan dalam pengambilan keputusan. Di samping memiliki karakter yang kuat untuk memegang kepemimpinan, ia memang menduduki posisi strategis selaku putri Sultan Trênggånå, Raja Demak ke tiga. Sultan Trênggånå adalah putra Radèn Patah, pendiri Kesultanan Demak.

Selama tigapuluh tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaannya. Dengan armada lautnya yang sangat tangguh, Ratu Kalinyamat pernah dua sampai tiga kali menyerang Portugis di Malaka.

Walaupun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan terhadap Portugis, ternyata ekspedisi tersebut mengalami kegagalan, dan pada akhirnya kembali ke Jawa.

Seorang pemimpin ekspedisi militer Ratu Kalinyamat ke Malaka tersebut adalah Kyai Demang Laksamana (sumber Portugis menyebut dengan nama Quilidamao).

Sejak terjadinya perebutan tahta di Demak, nama Ratu Kalinyamat muncul dalam panggung sejarah Indonesia, khususnya sejarah Jawa.

Dalam sejarah dinasti Demak, tokoh Ratu Kalinyamat mempunyai nama yang begitu menonjol ketika kerajaan itu mengalami kemerosotan akibat konflik perebutan tahta.

Popularitasnya jauh lebih menonjol dibanding dengan Pangéran Hadiri, bahkan Sultan Prawåtå, raja Demak ke empat.

Ratu Kalinyamat adalah putri Pangéran Trênggånå dan cucu Radèn Patah, sultan Demak yang pertama. Ratu Kalinyamat mempunyai nama asli Rêtnå Kêncånå yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat.

Rêtnå Kêncånå kemudian tampil sebagai tokoh sentral dalam penyelesaian konflik di lingkungan keluarga Kesultanan Demak.
Setelah kematian Aryå Pênangsang, Rêtnå Kêncånå dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat.

Penobatan ini ditandai dengan candra sengkala Trus Karya Tataning Bumi yang sama dengan tanggal 10 April 1549 atau tanggal 12 Rabiul Awal atu 10 April 1549.

Selama masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin pesat perkembangannya. Menurut sumber Portugis yang ditulis Meilink-Roelofsz menyebutkan bahwa Jepara menjadi kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada abad ke-16.

Adanya gelar ratu menunjukkan bahwa di lingkungan istana kedudukannya cukup tinggi dan menentukan. Lazimnya gelar itu hanya dipakai oleh orang-orang tertentu, misalnya seorang raja wanita, permaisuri, atau puteri sulung raja.

Babad Demak II menempatkan Ratu Kalinyamat sebagai puteri sulung Sultan Trênggånå. Kalau ini benar, berarti gelar ratu sudah sepantasnya melekat padanya. Sebagai puteri sulung raja, ia disebut Ratu Pembayun.

Pernyataan ini memiliki kesesuaian dengan sumber Portugis. Seorang musafir penulis Portugis yang bernama Fernao Mendez Pinto (1510-1583) menerangkan, ketika ia datang di Banten pada tahun 1544, datanglah utusan Raja Demak, seorang wanita bangsawan tinggi bernama Nyai Pombaya.

Besar kemungkinan yang dimaksudkan adalah Ratu Pembayun. Dengan demikian gelar ratu itu diperoleh dari ayahnya, dan bukan berasal dari suaminya yang hanya seorang penguasa daerah setingkat adipati.

Menurut Babad Tanah Jawi, Sultan Trênggånå mempunyai enam orang putra. Putra sulung adalah seorang putri yang dinikahi oleh Pangéran Langgar, putra Ki Agêng Sampang dari Madura.

Putra kedua seorang laki-laki yang bernama Pangéran Prawåtå yang kelak menggantikan ayahnya menjadi Sultan Demak ke tiga. Putra ketiga seorang putri yang menikah dengan Pangéran Kalinyamat.

Putra ke empat juga seorang putri yang menikah dengan seorang Pangéran dari Kasultanan Cirebon. Putra ke lima juga putri menikah dengan Radèn Djåkå Tingkir yang kelak menjadi Sultan Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. Ada pun putra bungsu adalah Pangéran Timur, yang masih sangat muda ketika ayahnya wafat.

Dalam sumber-sumber sejarah Jawa Barat, dijumpai nama Ratu Arya Japara, atau Ratu Japara untuk menyebut nama Ratu Kalinyamat.

Sementara itu Sêrat Kandhaning Ringgit Purwåmenyebutkan bahwa Sultan Trênggånå berputra lima orang. Putra pertama hingga ke empat adalah putri sedang putra bungsunya laki-laki.

Putri sulung bernama Rêtnå Kênyå yang menikah dengan Pangéran Sampang dari Madura, putri ke dua adalah Rêtnå Kêncånå yang menikah dengan Pangéran Hadiri, putri ke tiga adalah Rêtnå Mirah menikah dengan Pangéran Riyå, putri ke empat seorang putri, dan putra bungsunya bernama Pangéran.

Dari sumber ini terungkap bahwa Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Rêtnå Kêncånå. Suaminya, Pangéran Hadiri atau Pangéran Rakit Hadirin atau Pangéran Kalinyamat mempunyai sebutan lain Kyai Wintang.

Ratu Kalinyamat dapat digambarkan sebagai tokoh wanita yang cerdas, berwibawa, bijaksana, dan pemberani. Kewibawaan dan kebijaksanaannya tercermin dalam peranannya sebagai pusat keluarga Kesultanan Demak.

Walaupun Ratu Kalinyamat sendiri tidak berputera, namun ia dipercaya oleh saudara-saudaranya untuk mengasuh beberapa keponakannya. Menurut sumber-sumber sejarah tradisional dan cerita-cerita tutur di Jawa, ternyata ia menjadi pusat keluarga Kerajaan Demak yang telah tercerai berai sesudah meninggalnya Sultan Trênggånå dan Sultan Prawåtå.

Ratu Kalinyamat adalah seorang raja perempuan yang bertempat tinggal di Kalinyamat, suatu daerah di Jepara yang sampai sekarang masih ada. Kalinyamat kira-kira 18 kilometer dari Jepara masuk ke pedalaman, di tepi jalan ke Jepara-Kudus.

Pada abad ke-16 Kalinyamat menjadi tempat kedudukan raja-raja di Jepara. Kalinyamat adalah nama suatu daerah yang juga dipakai sebagai nama penguasanya. Th. C. Leeuwendal, Asisten Residen Jepara dalam Oudheidkundig Verslag 1930 menjelaskan mengenai lokasi kraton Kalinyamat dengan menggunakan berita dari Diego de Couto.

Peta Karesidenan Kalinyamat terletak kira-kira 2 pal sebelah selatan Krasak dan di sebelah barat jalan besar Kudus-Jepara.

Sementara itu P.J. Veth (1912) mencatat bahwa Kalinyamat pernah menjadi tempat kedudukan Ratu Jepara, suatu tempat yang ditemukan jejak-jejak atau bekas kebesaran masa lalu.

Meskipun penduduk setempat dan para pegawai sama sekali tidak tahu tempat yang tepat dari bekas istana, tetapi setiap orang berbicara mengenai Ratu Kalinyamat.

Di berbagai desa seperti Purwogondo, Robayan, Kriyan, dan tempat-tempat lain terdapat legenda mengenai Ratu Kalinyamat. Ada dugaan Krian mungkin merupakan tempat para “rakriya” (para bangsawan).

Beberapa tempat di daerah ini masih bernama Pecinan, pada hal tidak ada lagi orang Cina yang bertempat tinggal di situ.

Kemudian diketahui bahwa desa Robayan dan beberapa desa lainnya masih memakai nama Kauman. Di tempat-tempat tertentu orang masih menyebutnya dengan nama Sitinggil (Siti-inggil), yang terletak di tengah-tengah tanah tegalan.

Di situ ditemukan dinding tembok dari kraton lama yang diperkirakan panjang kelilingnya antara 5-6 km persegi.

Di sana sini terdapat benteng yang menonjol ke luar. Batas-batas dari kraton kira-kira meliputi sepanjang jalan besar Kudus, Jepara, Kali Bakalan, yang pada tahun 1900-an merupakan garis batas antara onderdistrik Pacangaan, Welahan, dan Kali Kecek.

Di kebanyakan tempat, tembok-tembok kraton itu masih dalam kondisi yang bagus. Di suatu tempat yang disebut Sitinggil, memang ditemukan bangunan batu bata yang ditinggikan, sementara di tempat lain menunjukkan adanya tempat mandi.

Dengan melalui penggalian percobaan di beberapa tempat dapat ditemukan adanya dinding-dinding benteng yang sangat berat yang memanjang sampai beberapa ratus meter.

Di tempat itu juga ditemukan pondasi-pondasi yang terbuat dari batu bata yang lebih kecil ukurannya dari pada emplasemen Majapahit. Batu-batu bata ini telah diambil dan dimanfaatkan oleh penduduk.

Di samping itu P.J. Veth memperoleh temuan penting dari berita Portugis mengenai “Cerinhama” atau “Cherinhama” yang disebut sebagai ibukota sebuah kerajaan laut atau kota pelabuhan Jepara yang terletak 3 mil atau kira-kira 12,5 pal ke pedalaman.

Di tempat itu lah letak reruntuhan kraton Kalinyamat yang menjadi tempat kedudukan atau peristirahatan Ratu Jepara.

Diperkirakan bahwa selama menjadi penguasa Jepara, Ratu Kalinyamat tidak tinggal di Kalinyamat, akan tetapi di sebuah tempat semacam istana di kota pelabuhan Jepara.

Sumber-sumber Belanda awal abad ke-17 menyebutkan bahwa di kota pelabuhan terdapat semacam istana raja (koninghof).

Hal ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat sebagai tokoh masyarakat bahari memang tinggal di kota pelabuhan, sementara itu daerah Kalinyamat hanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan.

Sejak masih gadis, Ratu Kalinyamat memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati Jepara. Kala itu wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Pati, Kudus, Rembang dan Blora. Kerajaan kecilnya mula-mula didirikan di Kriyan.

Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangéran Hadiri. Salah satu versi menyebutkan bahwa ia adalah putera Sultan Ibrahim dari Aceh, yang bergelar Sultan Muhayat Syah.

Waktu kecilnya bernama Pangéran Toyib. Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, ia diberi gelar Pangéran Hadiri, yang berarti yang hadir (dari Aceh ke Jepara).

Pertemuan dengan Ratu Kalinyamat terjadi karena pada waktu itu Pangéran Toyib diutus oleh Sultan Aceh untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama Islam di Kesultanan Demak.

Lelaki berdarah Persia ini sangat tampan, arif bijaksana, berwawasan Islam luas, dan ketaatan iman, serta berani menentang penjajah Portugis.

Setelah mengetahui asal-usul Radèn Toyib, hati Ratu Kalinyamat menjadi berdebar-debar. Ia teringat akan ramalan ayahnya bahwa pria yang akan menjadi pendampingnya kelak bukan berasal dari kalangan orang Jawa, melainkan berasal dari negeri seberang.
Kemudian Ratu Kalinyamat bersedia diperistri oleh Radèn Toyib.

Pada masa mudanya Pangéran Toyib mengembara ke negeri Cina. Di sana ia bertemu dengan Tjie Hwie Gwan, seorang Cina muslim yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Konon, ayah angkatnya tersebut menyertainya ke Jepara.

Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat dan menjadi adipati di Jepara, Tjie Hwie Gwan diangkat menjadi patih dan namanya berganti menjadi Pangéran Sungging Badar Duwung (sungging ‘memahat’, badar ‘batu atau akik’, duwung ‘tajam’).

Nama sungging diberikan karena Badar Duwung adalah seorang ahli pahat dan seni ukir. Diceritakan bahwa dialah yang membuat hiasan ukiran di dinding masjid Mantingan. Ialah yang mengajarkan keahlian seni ukir kepada penduduk di Jepara.

Di tengah kesibukannya sebagi mangkubumi Kadipaten Jepara, Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yang khusus didatangkan dari negeri Cina. Karena batu-batu dari Cina kurang mencukupi kebutuhan, maka penduduk Jepara memahat ukiran pada batu putih.

Berita Portugis mewartakan bahwa pernikahan Ratu Kalinyamat dengan Pangéran Hadiri tidak berlangsung lama. Hati Ratu Kalinyamat sangat terpukul dan berduka atas kematian Pangéran Hadiri pada tahun 1549 yang dibunuh oleh utusan Aryå Pênangsang.

Pembunuhan terjadi seusai menghadiri upacara pemakaman kakak kandungnya, Sunan Prawåtå yang juga tewas di tangan Aryå Pênangsang.

Dalam perkawinannya, Ratu Kalinyamat tidak dikaruniai putra. Ia merawat beberapa anak asuh. Salah satu anak asuhnya ialah adiknya sendiri, Pangéran Timur, yang berusia masih sangat muda ketika Sultan Trênggånå meninggal.

Setelah dewasa, Pangéran Timur menjadi adipati di Madiun yang dikenal dengan nama Panembahan Madiun.

Dalam Sejarah Banten tercatat bahwa Ratu Kalinyamat mengasuh Pangéran Arya, putera Maulana Hasanuddin, Raja Banten (1552-1570) yang menikah dengan puteri Demak, Pangéran Ratu.

Menurut historiografi Banten, Maulana Hasanuddin dianggap sebagai pendiri Kesultanan Banten. Maulana Hasanuddin sendiri juga berdarah Demak. Ayahnya, Fatahillah sedang ibunya adalah saudara perempuan Sultan Trênggånå. Maulana Hasanuddin kawin dengan putri Sultan Trênggånå.

Dari perkawinannya itu lahir dua orang putra, yang pertama Maulana Yusuf dan yang ke dua Pangéran Jepara. Yang terakhir ini disebut demikian karena kelak ia menggantikan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara.

Selama di Jepara, Pangéran Arya diperlakukan sebagai putra mahkota. Setelah bibinya meninggal, ia memegang kekuasaan di Jepara dan bergelar Pangéran Jepara. Masa pemerintahannya dan peranannya dalam bidang politik dan ekonomi memang tidak begitu menonjol seperti bibinya.

Tidak disebutkan dengan jelas apa alasannya Pangéran Arya dikirim ke Jepara untuk dididik oleh bibinya. Meski pun demikian, dapat diduga bahwa Ratu Kalinyamat dipandang mampu membimbing dan mendidik, memiliki wibawa, dan berpengaruh.

Adakalanya pendidikan putra raja diserahkan kepada keluarga raja yang bertempat tinggal tidak bersama-sama raja. Pemilihan Ratu Kalinyamat sebagai pendidik Pangéran Arya menunjukkan bahwa ia memiliki kepribadian yang kuat.

Di samping mengasuh kedua anak muda itu, Ratu Kalinyamat juga dipercaya untuk membesarkan putra-putra Sultan Prawåtå yang telah menjadi yatim piatu.

Sultan Prawåtå mempunyai tiga orang putra, dua laki-laki dan satu perempuan. Salah satu putra Sultan Prawåtå adalah Pangéran Pangiri, yang kelak berkuasa di Demak. Selain sebagai keponakan, kelak ia juga menjadi menantu Sultan Pajang.

Dalam Dongeng Babad Mayong Jepara, Ratu Kalinyamat selain mengasuh putra lelaki Pangéran Pangiri putra Sultan Prawåtå, di juga mendapat amanat untuk mengasuh putri putra Sultan Prawåtå yaitu Rr Ayu Mas Sêmangkin.

Babad Demak menyebutkan bahwa Pangéran Aryå Bagus Mukmin (Sultan Prawåtå) memiliki keturunan tiga orang anak yakni Pangéran Aryå Panggiri (Pangéran Madépandan) yang bergelar Sultan Ngawantipurå, Rr. Ayu Mas Sêmangkin dan Rr. Ayu Mas Prihatin.

Tahun meninggalnya Ratu Kalinyamat tidak dicantumkan dalam kitab kesusasteraan Jawa. Ia dimakamkan di dekat suaminya di pemakaman Mantingan dekat Jepara, yang mungkin dibangun atas perintahnya sendiri, sesudah ia menjadi janda pada tahun 1549. Pengganti Ratu Kalinyamat adalah Pangéran Japara yang berkuasa dari tahun 1579 sampai tahun 1599.

Menurut cerita Babad Tanah Jawi, ia adalah anak angkat Ratu Kalinyamat. Akan tetapi sumber Sejarah Banten menyebutkan bahwa putra mahkota itu, yang bernama Pangéran Aria atau Pangéran Jepara itu adalah anak angkat Ratu Kalinyamat, putra Raja Hasanudin, Raja Banten. Pada masa inilah peranan Jepara sebagai kota pelabuhan yang penting mengalami keruntuhannya.

ånå toétoégé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: