Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING-24

On 6 Agustus 2011 at 04:40 cantrik bayuaji said:

Nuwun
Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-23: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-19) Ratu Kalinyamat (Parwa-1). On 6 Agustus 2011 at 04:32JdBK 08:

Wêdaran kaping-24:
NYI RATU KALINYAMAT (Parwa ke-2)

Peranan Ratu Kalinyamat dalam Sejarah Nasional Nusantara Indonesia

Ratu Kalinyamat sebagai kepala daerah Jepara telah memainkan peranan penting tidak hanya pada level lokal atau regional, tetapi pada level internasional. Peranannya meliputi berbagai aspek kehidupan, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, mau pun hubungan internasional.

1. Bidang Politik

Peranan politik yang dilakukan Ratu Kalinyamat diawali ketika terjadi kemelut di istana Demak pada pertengahan abad ke-16 yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan sepeninggal SultanTrênggånå. Perebutan tahta menimbulkan peperangan berkepanjangan yang berakhir dengan kehancuran kerajaan.

Perebutan kekuasaan terjadi antara keturunan Pangéran Sêkar dengan Pangéran Trênggånå. Kedua Pangéran ini memang berhak menduduki tahta Kesultanan Demak. Dari segi usia, Pangéran Sêkar lebih tua sehingga merasa lebih berhak atas tahta Kesultanan Demak dari pada Pangéran Trênggånå.

Namun Pangéran Sêkar lahir dari istri ke tiga Radèn Patah, yaitu putri Adipati Jipang, sedangkan Pangéran Trênggånå lahir dari istri pertama, putri Sunan Ampel. Oleh karena itu Pangéran Trênggånå merasa lebih berhak menduduki tahta Kesultanan Demak.

Pangéran Prawåtå, putra Pangéran Trênggånå, membunuh Pangéran Sêkar yang dianggap sebagai penghalang bagi Pangéran Trênggånå untuk mewarisi tahta Kesultanan Demak. Pembunuhan terjadi di sebuah jembatan sungai saat Pangéran Sêkar dalam perjalanan pulang dari shalat Jum’at.

Oleh karena itu, ia dikenal dengan nama Pangéran Sêkar Sédå Lèpèn. Menurut dongeng tutur lisan masyarakat daerah Demak, pembunuhan itu terjadi di tepi Sungai Tuntang, sedang menurut dongeng legenda Blora, Pangéran Sêkar dibunuh di dekat Sungai Gêlis.

Pembunuhan ini menjadi pangkal persengketaan di Kesultanan Dêmak Bintårå. Radèn Aryå Pênangsang, putra Pangéran Sêkar berusaha menuntut balas atas kematian ayahnya, sehingga ia berusaha untuk menumpas keturunan Sultan Trênggånå. Apalagi ia mendapat dukungan secara penuh dari gurunya. Sunan Kudus.

Pangéran Sêkar mempunyai dua orang putra, yaitu Radèn Penangsang dan Radèn Mataram. Sepeninggal ayahnya, Radèn Penangsang diangkat menjadi adipati di Jipang bergelar Radèn Aryå Pênangsang.

Menurut pandangan masyarakat Blora, Aryå Pênangsang berwajah garang, urakan, seram, berkumis tebal, uwang malang, paha belalang, namun tidak begitu tinggi. Ia suka memakai celana komprang berwarna hitam, bêbêdan, dan memakai dêstar.

Bagi lawan-lawan politiknya, Aryå Pênangsang dituduh telah banyak melakukan kejahatan dan pembunuhan terhadap keturunan Sultan Trênggånå. Ia menyuruh Rangkut dan Gopta untuk membunuh Sultan Prawåtå.

Sultan Prawåtå terbunuh bersama permaisurinya pada tahun 1549 (Babad Demak II: 28). Ia kemudian membunuh Pangéran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat.

Pangéran Hadiri berhasil dibunuh oleh pengikut Aryå Pênangsang dalam perjalanan pulang dari Kudus, mengantarkan istrinya dalam rangka minta keadilan dari Sunan Kudus atas dibunuhnya Sultan Prawåtå oleh Aryå Pênangsang.

Namun Sunan Kudus tidak dapat menerima tuntutan Ratu Kalinyamat karena ia memihak Aryå Pênangsang. Menurut Sunan Kudus, Sultan Prawåtå memang berhutang nyawa kepada Aryå Pênangsang yang harus dibayar dengan nyawanya.

Aryå Pênangsang juga mencoba membunuh Adipati Pajang Hadiwijaya, menantu Sultan Trênggånå. Namun menurut sejarahwan J.Brandes, ia bertindak demikian karena membela hak-haknya.

Kematian Sultan Prawåtå dan Pangéran Hadiri tampaknya membuat selangkah lagi bagi Aryå Pênangsang untuk menduduki tahta Demak. Meskipun pembunuhan terhadap Sunan Prawåtå dan Pangéran Hadiri telah berjalan mulus, namun Sunan Kudus merasa belum puas apabila Aryå Pênangsang belum menjadi raja, karena masih ada penghalangnya yaitu Hadiwijåyå. Atas nasehat Sunan Kudus, Aryå Pênangsang berencana membunuh Hadiwijåyå namun mengalami kegagalan. Kegagalan itu mendorong pecahnya perang antara Jipang dan Pajang.

Di luar dugaan pihak Sunan Kudus dan Aryå Pênangsang, ternyata Ratu Kalinyamat tampil memainkan peranan penting dalam menghadapi Aryå Pênangsang. Ratu Kalinyamat minta kepada Hadiwijaya untuk membunuh Aryå Pênangsang.

Didorong oleh naluri kewanitaannya yang sakit hati karena kehilangan suami dan saudara, ia telah menggunakan wewenang politiknya selaku pewaris dari penguasa Kalinyamat dan penerus keturunan Sultan Trênggånå.

Ratu Kalinyamat memiliki sifat yang keras hati dan tidak mudah menyerah pada nasib. Menurut kisah yang dituturkan dalam Babad Tanah Jawi, ia mêrtåpå awêwudå wonten ing rêdi Dånåråjå, kang minångkå tapih rémanipun kaoré , bertapa dengan telanjang di gunung Dånåråjå, yang dijadikan kain adalah rambutnya yang diurai).

Tindakan ini dilakukan untuk mohon keadilan kepada Tuhan dengan cara menyepi di Gunung Dånåråjå. Ia memiliki sesanti, baru akan mengakhiri pertapaanya apabila Aryå Pênangsang telah terbunuh.

Ritual gaya Nyi Ratu Kalinyamat yang telanjang itu hingga kini masih menimbulkan berbagai tafsir. Demikian halnya dengan pernyataan Babad Tanah Jawi itu merupakan suatu kiasan yang memerlukan interpretasi secara kritis.

Historiografi tradisional memuat hal-hal yang digambarkan dengan simbol-simbol dan kiasan-kiasan. Dalam bahasa Jawa kata wuda (telanjang) tidak hanya berarti tanpa busana sama sekali, tetapi juga memiliki arti kiasan yaitu tidak memakai barang-barang perhiasan dan pakaian yang bagus.

Ratu Kalinyamat tidak menghiraukan lagi untuk mengenakan perhiasan dan pakaian indah seperti layaknya seorang ratu. Pikirannya ketika itu hanya dicurahkan untuk membinasakan Aryå Pênangsang. Di Gunung Dånåråjå itu lah Ratu Kalinyamat menyusun strategi untuk melakukan balas dendam kepada Aryå Pênangsang.

Peperangan antara Pajang dan Jipang tidak dapat terelakkan. Dalam peperangan itu, Aryå Pênangsang memimpin pasukan Jipang mengendarai kuda jantan bernama Gagak Rimang yang dikawal oleh prajurit Soreng.

Adapun pasukan Pajang dipimpin oleh Ki Gede Pemahanan, Ki Pênjawi, Ki Juru Mertani. Pasukan Pajang juga dibantu oleh sebagian prajurit Demak dan tamtama dari Butuh, pengging. Dalam peperangan itu Aryå Pênangsang terbunuh.

Terbunuhnya Aryå Pênangsang itu terjadi pada tahun 1480 Ç atau 1558 M. Menurut sumber sejarah peristiwa itu terjadi pada tahun 1556, sedang sumber lain mengatakan Aryå Pênangsang gugur pada tahun 1554.

Pertempuran dimenangkan oleh pihak Pajang dan Aryå Pênangsang gugur. Rangkaian peristiwa pembunuhan para kerabat raja Demak hingga perang antara Pajang melawan Jipang itu dalam sumber tradisi terjadi pada tahun 1549. Hal itu merupakan anti klimaks dari sejarah dinasti Demak.

Setelah kematian Aryå Pênangsang, Rêtnå Kêncånå dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat Peristiwa perebutan kekuasaan di Demak itu di satu pihak telah memunculkan tokoh wanita yang memegang peranan penting dalam kesatuan keluarga Kesultanan Demak, serta dalam bidang politik pemerintahan yang begitu menonjol. Sementara itu di pihak lain, memunculkan seorang tokoh baru atau homo novus yaitu Sultan Hadiwijaya.

Fernao Mendez Pinto dalam kesaksiannya menyatakan bahwa di wilayah Kerajaan Demak terdapat delapan penguasa yang memiliki hak untuk memilih raja baru sehingga berkedudukan sebagai dewan mahkota. P.J. Veth juga menyatakan terdapat daerah utama yang merdeka di Jawa dan Madura, salah satunya adalah Kalinyamat.

Kedelapan daerah merdeka itu adalah Banten, Jayakarta, Cirebon, Prawåtå, Pajang, Kedu, Madura, dan Kalinyamat. Kedudukan Kalinyamat sebagai daerah merdeka ini menempatkan Ratu Kalinyamat pada posisi strategis sebagai pemegang kekuasaan di Jepara. Karena termasuk sebagai dewan mahkota, maka kedudukan dan pengaruh penguasa di delapan daerah merdeka di bidang politik dan pemerintahan cukup kuat.

Sultan Demak untuk menggabungkan daerah Prawåtå dan Kalinyamat menggambarkan betapa dekatnya hubungan antara sultan dengan penguasa Kalinyamat. Kekuasaan Ratu Kalinyamat atas wilayah Kalinyamat dan Prawåtå cukup kokoh karena tidak ada ancaman dari pihak mana pun. Agaknya ia dihormati sebagai kepala keluarga Kasultanan Demak yang sesungguhnya.

Sepeninggal Sultan Prawåtå, ia menjadi pemimpin keluarga dan pengambil keputusan penting atas bekas wilayah Kasultanan Demak. Bagi Ratu Kalinyamat kekuasaan Pangéran Pangiri, putra Sultan Prawåtå, di Demak begitu kecil. Apalagi Pangéran Pangiri menjadi anak asuhnya dan dibesarkan oleh Ratu Kalinyamat. Sementara itu Sultan Pajang bukan merupakan hambatan bagi Ratu Kalinyamat.

Ada pun kekuasaan raja-raja Banten dan Cirebon baru saja muncul. Dengan demikian, di antara pewaris dinasti Demak di wilayah pantai utara Jawa, Ratu Kalinyamat lah yang paling menonjol.

Ratu Kalinyamat diperkirakan memerintah hingga 1579. Penggantinya adalah Pangéran Jepara, putra angkat Ratu Kalinyamat. Sejarah Banten menyebutkan bahwa putra mahkota Jepara yang bernama Pangéran Aria atau Pangéran Jepara adalah putra angkat Ratu Kalinyamat, putra raja Banten Hasanuddin.

Pada masa itu peranan Jepara mulai mengalami kemerosotan. Pada tahun 1599 Jepara dengan susah payah ditundukkan oleh Mataram. Jepara waktu itu memiliki daya tahan yang kuat karena kota pelabuhan itu dikelilingi dengan benteng yang menghadap ke pedalaman dan dijaga ketat oleh prajurit Jepara.

2. Bidang Ekonomi

Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara mengalami perkembangan tersendiri. Kekalahan dalam perang di laut melawan Malaka pada tahun 1512-1513 pada masa pemerintahan Pati Unus, menyebabkan Jepara nyaris hancur. Akan tetapi perdagangan lautnya tidaklah musnah sama sekali.

Kegiatan ekonomi menjadi semakin terbengkalai pada saat wilayah Kesultanan Demak menjadi ajang pertempuran antara Aryå Pênangsang dengan keturunan Sultan Trênggånå. Meski pun demikian, perdagangan lautnya masih dapat berlangsung, walau kurang berkembang.

Setelah berakhirnya peperangan melawan Aryå Pênangsang, Jepara mengalami perkembangan tersendiri. Apabila Sultan Pajang sibuk dalam rangka konsolidasi wilayah, maka Jepara pun sibuk membenahi pemerintahan dan ekonomi yang terbengkelai selama intrik politik berlangsung. Perdagangan laut Jepara dapat berlangsung meski pun kurang berkembang.

Namun beberapa tahun setelah berkuasa, Ratu Kalinyamat berhasil memulihkan kembali perdagangan Jepara. Konsolidasi ekonomi memang diutamakan oleh Ratu Kalinyamat. Di bawah pemerintahannya, pada pertengahan abad ke 16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut semakin ramai.

Pedagang-pedagang dari kota-kota pelabuhan di Jawa seperti Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, dan juga Jepara menjalin hubungan dengan pasar internasional Malaka. Dari Jepara para pedagang mendatangi Bali, Maluku, Makasar, dan Banjarmasin dengan barang-barang hasil produksi daerahnya masing-masing.

Dari pelabuhan-pelabuhan di Jawa diekspor beras ke daerah Maluku dan sebaliknya dari Maluku diekspor rempah-rempah untuk kemudian diperdagangkan lagi. Bersama dengan Demak, Tegal, dan Semarang, Jepara merupakan daerah ekspor beras.

Pada pertengahan abad ke-16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut menjadi semakin ramai. Menurut berita Portugis, Ratu Jepara itu merupakan tokoh penting di Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Barat sejak pertengahan abad ke-16.

Di bawah Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih diarahkan pada penguatan sektor perdagangan dan angkatan laut.
Kedua bidang ini dapat berkembang baik berkat adanya kerjasama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Banten, dan Maluku.

Meski pun daerahnya kurang subur, namun di wilayah kekusaan Ratu Kalinyamat terdapat empat kota pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan di pantai utara Jawa Tengah bagian timur yaitu Jepara, Juana, Rembang, dan Lasem. Oleh karena itu wajar apabila Ratu Kalinyamat dikenal sebagai orang yang kaya raya.

Kekayaannya diperoleh melalui perdagangan internasional, terutama dengan Malaka dan Maluku. Jepara merupakan pensuplai beras yang dihasilkan di daerah-daerah sekitar pelabuhan Jepara (hinterland).

Selain berperan sebagai pelabuhan transito juga menjadi pengekspor gula, madu, kayu, kelapa, kapok, dan palawija. Apalagi dengan berlakunya sistem comenda (yakni menyerahkan barang dagangan kepada pihak lain untuk diperdagangkan, atau memberikan “pinjaman’ berupa uang sebagai modal); dalam pelayaran dan perdagangan pada waktu itu, membuat Ratu Kalinyamat tidak hanya sebagai penguasa politik, tetapi juga sebagai pedagang.

Sesuai dengan letak geografis sebagai kota pelabuhan, Jepara menempati suatu titik yang menghubungkan dunia daratan dan dunia lautan. Dunia daratan adalah daerah Pati, Jepara, Juana, dan Rembang, sedang dunia lautan adalah jalur perdagangan dan pelayaran dengan daerah-daerah sekitarnya mau pun daerah seberang laut.

Dengan demikian dilihat dari segi ekonomi, pelabuhan Jepara berfungsi sebagai tempat menampung surplus dari daerah hinterland untuk memenuhi warganya dan didistribusikan ke daerah-daerah lain di seberang lautan. Sebaliknya Jepara juga berfungsi menampung produk-produk dari daerah luar untuk selanjutnya didistribusikan atau diperdagangkan ke daerah-daerah hinterland yang membutuhkan.

Perdagangan laut di pantai utara Jawa pada abad ke-16 sebagian besar dikuasai oleh bangsawan. Sebagai penguasa, mereka mempunyai hak beli dahulu bagi barang dagangan yang datang dan memborong barang dagangan yang tidak terjual. Pedagang-pedagang asing memberi prioritas kepada penguasa untuk memilih barang dagangan yang baik dengan harga lebih rendah dari pembeli lain.

Hubungan baik dengan penguasa setempat senantiasa dipelihara untuk kelancaran usaha mereka. Dengan jabatan politik yang tinggi dan dukungan finansial yang kuat memberi peluang bagi penguasa untuk menanamkan pengaruhnya dalam bidang politik dan pemerintahan.

ånå toétoégé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: