Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING-25

On 6 Agustus 2011 at 05:19 cantrik bayuaji said:

Nuwun
Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-24: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-19) Ratu Kalinyamat (Parwa-2). On 6 Agustus 2011 at 04:40 JdBK 08

Wêdaran kaping-25:
NYI RATU KALINYAMAT (Parwa ke-3)

Hubungan Internasional

Kebesaran kekuasaan Ratu Kalinyamat tampak dari luas wilayah pengaruhnya. Menurut naskah dari Banten dan Cirebon, kekuasaannya menjangkau sampai daerah Banten. Pengaruh kekuasaan Ratu Kalinyamat di daerah pantai utara Jawa sebelah barat, di samping karena posisi politiknya juga karena harta kekayaannya yang bersumber pada perdagangan dengan daerah seberang di pelabuhan Jepara sangat menguntungkan.

Sebagai raja yang memiliki posisi politik yang kuat dan kondisi ekonomi yang kaya, Ratu Kalinyamat sangat berpengaruh di Pulau Jawa.

Hanya tiga tahun di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat, kekuatan armada Jepara telah pulih kembali. Berita Portugis melaporkan adanya hubungan antara Ambon dengan Jepara. Diberitakan bahwa para pemimpin Persekutuan Hitu di Ambon telah berulang kali minta bantuan kepada Jepara, baik untuk memerangi orang-orang Portugis maupun suku Hative di Maluku.

Di depan sudah disebutkan, bahwa pemerintahan Ratu Kalinyamat lebih mengutamakan strategi pengembangan Jepara untuk memperkuat sektor perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang ini akan dapat berkembang dengan baik kalau dilaksanakan melalui kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon.

Ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat harus menjalin hubungan diplomatik dan kerjasama dengan mancanegara agar kedudukan Jepara sebagai pusat kekuasaan politik dan pusat perdagangan bisa kokoh.

Bukti tersohornya Ratu Kalinyamat pada pertengahan abad ke-16 antara lain dapat ditunjukkan dengan adanya permintaan dari Raja Johor untuk ikut mengusir Portugis dari Malaka. Pada tahun 1550, Raja Johor mengirim surat kepada Ratu Kalinyamat mengajak untuk melakukan perang suci melawan Portugis yang saat itu sedang lengah dan menderita berbagai macam kekurangan.

Ratu Kalinyamat memenuhi ajakan itu. Pada tahun 1551 Ratu Kalinyamat mengirimkan ekspedisi ke Malaka. Dari 200 buah kapal armada persekutuan Muslim, 40 buah di antaranya berasal dari Jepara. Armada itu membawa empat sampai lima ribu prajurit, dipimpin oleh seorang yang bergelar Sang AdIpati.

Disebutkan dalam cacatan sejarah bahwa pada puncak tertinggi tiang kapal-kapal perang Nyi Ratu Kalinyamat, berkibar dengan megahnya bendera Sang Saka Gula Kelapa Merah Putih. Bendera dengan warna yang sama digunakan oleh pula oleh kapal-kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Singasari, dalam ekspedidi Pamalayu di bawah pimpinan Mahesa Anabrang yang diperintahkan Prabu Kertanegara membendung pengaruh dan kekuatan Negara Tiongkok yang hendak menguasai Nusantara, dalam upaya mewujudkan Cakrawala Mandala Nusantara, pada abad ke-13.

Prajurit dari Jepara ini menyerang dari arah utara. Mereka bertempur dengan gagah berani dan berhasil merebut kawasan orang pribumi di Malaka.

Serangan Portugis ternyata begitu hebat, sehingga pasukan Melayu terpaksa mengundurkan diri. Sementara itu, pasukan Jepara tetap bertahan. Mereka baru mundur setelah seorang panglimanya gugur. Dalam pertempuran yang berlanjut di darat dan di laut, 2000 prajurit Jepara gugur. Hampir seluruh perbekalan dan persenjataan berupa arteleri dan mesiu jatuh ke tangan musuh.

Walau pun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan, ekspedisi ini akhirnya mengalami kegagalan dan terpaksan kembali ke Jawa. Nasib malang tampaknya menimpa armada Jepara, karena tiba-tiba badai datang, 20 kapal penuh muatan terdampar di pantai dan menjadi jarahan orang Portugis. Dari seluruh armada Jepara, hanya kurang dari separo yang bernasib baik dan selamat kembali ke Jepara.

Walau pun pernah mengalami kegagalan, namun Ratu Kalinyamat tampaknya tidak berputus asa. Semangat menghancurkan Portugis di Malaka terus berkobar di hati tokoh wanita ini. Pada tahun 1573, ia kembali mendapat ajakan dari Sultan Aceh, Ali Riayat Syah untuk menyerang Malaka.

Ketika armada Aceh telah mulai menyerang, ternyata armada Jepara tidak muncul pada waktunya. Keterlambatan ini dengan tidak sengaja amat menguntungkan Portugis. Seandainya orang Aceh dan Jawa pada waktu itu bersama-sama menyerang pada waktu yang bersamaan, maka kehancuran Malaka tidak dapat dielakkan.

Armada Jepara baru muncul di Malaka pada bulan Oktober 1574. Dibanding dengan ekspedisi pertama, armada Jepara kali ini jauh lebih besar. Armada ini terdiri dari 300 buah kapal layar dan 80 buah di antaranya berukuran besar. Awak kapalnya terdiri dari 15.000 prajurit pilihan, yang dilengkapi dengan banyak sekali perbekalan, meriam, dan mesiu.

Salah satu pemimpin ekspedisi militer ke Malaka pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah Kyai Demang Laksamana yang oleh sumber Portugis disebut dengan nama Quilidamao. Nama itu pada jaman sekarang setingkat Laksamana Laut atau Jendral. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai penguasa bahari Ratu Kalinyamat lebih mementingkan kekuatan laut dari pada kekuatan angkatan darat.

Ini tidak berarti bahwa Jepara tidak mempunyai pasukan atau prajurit darat, akan tetapi kekuatan darat Jepara lebih bersifat defensif yaitu dengan dibangunnya benteng yang mengelilingi kota pelabuhannya yang menghadap ke darat.

Armada Jepara itu memulai serangan dengan salvo, tembakan yang seolah-olah hendak membelah bumi. Setelah memborbardir kota Malaka dengan tembakan artileri, keesokan harinya pasukan Jepara didaratkan dan mereka menggali parit-parit pertahanan. Rupa-rupanya peruntungan nasib belum jatuh di pihak Jepara.

Pada waktu armada mereka menyerang, 30 buah kapal besarnya malahan terbakar. Pasukan Jepara kemudian terpaksa membatasi gerakan dengan mengadakan blokade laut. Portugis baru berhasil menembus rintangan itu setelah melakukan serangan berkali-kali. Usaha Portugis untuk berunding mengalami kegagalan karena pihak Jepara menolak tuntutan Portugis yang dianggap terlalu berat.

Sementara itu dalam pertempuran laut pihak Portugis berhasil merebut enam buah kapal Jepara yang penuh bahan makanan kiriman dari Jepara. Akibat dari kejadian ini, pasukan Jepara yang selama tiga bulan dengan tegar melakukan blokade laut, kekuatannya berangsur-angsur surut karena kekurangan bahan makanan.

Mereka akhirnya terpaksa bergerak mundur dan menderita banyak korban. Konon hampir dua pertiga dari kekuatan angkatan perang yang berangkat dari Jepara musnah. Di sekitar Malaka saja terdapat sekitar 7.000 makam orang Jawa.

Dari pengiriman dua ekspedisi ke Malaka tersebut membuktikan bahwa Ratu Kalinyamat adalah seorang kepala pemerintahan yang sangat berkuasa. Walaupun ia gagal dalam misinya, namun orang-orang Portugis juga mengakui kebesarannya. Dalam bukunya, Diego de Couto menyebutnya sebagai Rainha da Japara, senhora poderosa e rica, yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa.

Ia juga disebut oleh sumber Portugis sebagai De kranige dame yaitu seorang wanita yang pemberani. Sifat berani Ratu Kalinyamat ini tampak dalam perjuangannya yang gigih dalam menentang kekuasaan bangsa Portugis. Kegagalan serangan Jepara itu terutama disebabkan oleh kekalahan dalam bidang teknologi militer dan pelayaran.

Kapal-kapal Portugis jauh lebih unggul dalam teknik pembuatannya dan lebih besar dari pada kapal-kapal Jepara. Meskipun perlawanan terhadap Portugis mengalami kegagalan, tetapi pengiriman armada itu cukup menunjukkan bahwa perekonomian di Jepara pada saat itu sangat kuat.

Sumber Portugis menyebutkan pula bahwa pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara juga menjalin hubungan dengan para pedagang di Ambon. Beberapa kali para pemimpin pelaut atau pedagang Ambon di Hitu minta bantuan Ratu Jepara untuk melawan orang-orang Portugis. Hal ini merupakan indikasi bahwa Jepara juga mempunyai jaringan perdagangan dengan Ambon.

Pada tahun 1579, Pakuan Pajajaran, sebuah kota dalam Kerajaan Sunda di Jawa Barat yang belum masuk Islam, ditaklukkan oleh Raja Banten. Pangéran Jepara putra Hasanuddin dari Banten yang menjadi putra angkat Ratu Kalinyamat ternyata tidak ikut dalam ekspedisi melawan Pejajaran.

Demikian pula Ratu Kalinyamat tidak disebutkan ikut dalam ekspedisi itu. Ada kemungkinan bahwa pada tahun 1579 Ratu Kalinyamat baru saja meninggal. Keponakannya dan sekaligus putra angkatnya, Pangéran Jepara, telah menggantikannya sebagai raja.

Sebagai kota pantai, Jepara merupakan kota bandar perdagangan yang karena fungsinya menarik pedagang dari berbagai suku dan kebangsaan untuk tinggal sementara mau pun menetap. Di bidang politik dan pertahanan, pelabuhan Jepara sebagai pusat pengiriman ekspedisi-ekspedisi militer untuk meluaskan kekuasaan ke Bangka dan ke Kalimantan Selatan yaitu Tanjung Pura dan Lawe.

Di bawah Ratu Kalinyamat, perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut menjadi semakin ramai. Dia begitu dihormati sebagai kepala keluarga Kasultanan Demak yang sebenarnya. Di bawah kekuasaannya, dia mampu mempunyai kekuatan armada yang tangguh.

Dia juga menjalin kerja sama dengan Ambon, sehingga para pemimpin persekutuan Hitu di Ambon telah berulang kali minta bantuan kepada Jepara baik untuk memerangi orang Portugis mau pun suku Hative di Maluku. Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih diarahkan pada penguasaan sektor perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang ini akan dapat berkembang dengan baik karena adanya kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon.

Bukti kebesaran Jepara terlihat pada tahun 1550, ketika Raja Johor minta bantuan armada perang kepada Jepara untuk melakukan perang jihad melawan Portugis di Malaka. Jepara mengirimkan 40 buah kapal dengan kapasitas angkut 1.000 orang prajurit bersenjata.

Meski pun prajurit Jepara mengalami kekalahan, Ratu Kalinyamat terus berusaha melakukan serangan lagi terhadap Portugis di Malaka. Pada tahun 1573 Ratu Kalinyamat sekali lagi diminta oleh Sultan Ali Mukhayat Syah dari Aceh untuk menggempur Portugios di Malaka. Armada yang dikirim sekitar 300 buah kapal, 80 buah kapal berukuran besar yang masing-masing berbobot 400 ton. Awak kapal terdiri atas 15.000 prajurit pilihan dengan banyak sekali perbekalan, meriam, dan mesiu.

Dengan armadanya yang kuat, Ratu Kalinyamat juga pernah melakukan dua kali penyerangan kepada Portugis di Malaka, yaitu pada tahun 1551 dan tahun 1574. Kedua penyerangan itu dilakukan Ratu Kalinyamat dalam rangka membantu Kesultanan Johor dan Aceh untuk mengusir Portugis dari Malaka.

Penyerangan pertama gagal, sedangkan pada penyerangan kedua, meskipun telah berhasil mengepung Malaka selama tiga bulan, ternyata pasukan Jepara ini tidak dapat memenangkan penyerangan dan terpaksa kembali ke Jawa.

Salah satu pemimpin ekspedisi militer ke Malaka pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat adalah Kyai Demang Laksamana. Nama itu pada zaman sekarang setingkat dengan Laksamana Laut atau Jendral. Hal itu menunjukkan bahwa sebagai pnguasa bahari, Ratu Kalinyamat lebih mementingkan kekuatan laut daripada kekuatan angkatan darat.

Meskipun demikian, tidak berarti bahwa Jepara tidak mempunyai pasukan atau prajurit angkatan darat, akan tetapi, kekuatan darat Jepara lebih bersifat defensive, yaitu dengan jalan dibangunnya benteng yang mengelilingi kota pelabuhan yang menghadap ke darat atau daerah pedalaman Jepara.

Kekalahan armada laut Jepara baik pada ekspedisi Adipati Unus maupun yang dikirim oleh Ratu Kalinyamat memang merupakan kenyataan yang harus diterima. Hal ini karena diakibatkan lebih canggihnya teknologi yang dimiliki oleh Portugis yang memiliki senjata pelontar yang unggul, yaitu meriam.

Meskipun demikian, harus diakui bahwa pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat masyarakat Jepara telah tampil dalam panggung sejarah Nusantara sebagai masyarakat bahari. Ciri utama masyarakat bahari adalah di dalam kehiupan mereka, khususnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari diperoleh dari kegiatan atau pekerjaannya mngeksploitasi dan memanfaatkan sumber daya laut.
Pada zaman itu, di samping berkehidupan sebagai nelayan, aktivitas pelayaran dan perdagangan adalah yang paling utama.
Bukti kejayaan Jepara pada zaman itu antara lain adalah armada laut yang besar dan kuat yang dimiliki Ratu Kalinyamat. Usaha melanjutkan cita-cita Adipati Unus untuk mengusir Portugis dari Malaka, menunjukkan bahwa Malaka merupakan salah satu titik dari jaringan perdagangan kota pelabuhan Jepara yang mulai mendunia. Sumber Portugis juga menjelaskan bahwa pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara juga menjalin hubungan dengan para pedagang di Ambon.

Beberapa kali para pemimpin pelaut dan pedagang Ambon di Hitu meminta bantuan pertolongan kepada Ratu Kalinyamat untuk melawan orang-orang Portugis maupun dengan suku lain yang masih seketurunan, yaitu orang-orang Hative. Hal ini merupakan indikasi bahwa Jepara juga mempunyai jaringan perdagangan dengan Ambon.

Dengan demikian maka, Ratu Kalinyamat dikenal sebagai tokoh historis legendaris yang dibicarakan masyarakat dengan berbagai versi. Sebagai akibat dari peperangan Aryå Pênangsang, di Jepara terdapat toponim-toponim nama desa yang berhubungan dengan dicederainya Pangéran Hadiri oleh prajurit Aryå Pênangsang hingga tewas.

Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin berkembang sebagai bandar perdagangan dan pelayaran. Ratu Kalinyamat tidak saja memegang peranan penting dalam politik dan pemerintahan, tetapi juga menguasai sumber-sumber ekonomi terutama hasil perdagangan dan pelayaran seberang laut.

Adanya sistem comenda menyebabkan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara yang sangat kaya. Lagi pula ia memiliki angkatan laut yang cukup kuat untuk mendukung aktivitas pelayaran dan perdagangan seberang laut. Jepara berkembang menjadi bandar perdagangan dan bandar transito yang dikunjungi para pedagang dari berbagai bangsa dan suku bangsa. Oleh karena ia menguasai aktivitas ekonomi dan perdagangan itu, maka wajar jika ia dikenal sebagai penguasa yang sangat kaya.

Kekayaan Ratu Kalinyamat merupakan faktor pendukung utama bagi kekuatan politiknya. Berkat kekayaannya, ia memiliki armada angkatan laut yang kuat untuk melakukan serangan terhadap Malaka pada tahun 1551 dan 1574. Serangan itu dilakukan atas dukungannya terhadap Kerajaan Johor dan Aceh, yang memintanya untuk membantu mengusir Portugis dari Malaka.
Permintaan kedua kerajaan itu memberikan gambaran bahwa secara politis Ratu Kalinyamat dikenal sebagai penguasa yang sangat kuat dan namanya cukup termasyhur.

Popularitasnya sebagai kepala pemerintahan tidak hanya dikenal di kawasan Nusantara bagian barat saja, tetapi juga di Nusantara bagian timur. Keberaniannya melawan kekuatan asing telah dikenal di sepanjang Nusantara dari Aceh, Johor, hingga Maluku.

Di samping itu, Ratu Kalinyamat dapat menjalankan politik persahabatan dengan kerajaan pedalaman sehingga dapat memelihara stabilitas politik. Dalam masa pemerintahannya, ia tidak mempunyai musuh.

Sebagai pewaris kekuasaan Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat memegang peranan yang terpenting dibanding dengan penguasa-penguasa yang lain di pantai utara Jawa pada abad ke-16. Sebagai pemersatu keluarga Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat mempunyai pengaruh yang cukup kuat di wilayah Banten dan Cirebon.

Ia juga mampu mempertahankan konsolidasi keluarga Kasultanan Demak. Tidak berlebihan kiranya apabila Ratu Kalinyamat disebut sebagai tokoh pemimpin keluarga Kasultanan Demak dan kepala pemerintahan yang terkuat dari dinasti Demak.

Hanya Jeparalah yang mampu mempertahankan eksistensi dan peranan Demak sebagai kerajaan yang bercorak maritim di pantai utara Jawa pada abad ke-16, yang memiliki kebesaran seperti pendahulunya.

Dengan mempelajari kehidupan dan peranan Ratu Kalinyamat, diperoleh pandangan yang lebih lengkap mengenai perkembangan historis peranan dan kedudukan wanita Indonesia. Ratu Kalinyamat menggambarkan sosok wanita yang tidak dibatasi oleh tradisi.

Aktivitas dan peranan Ratu Kalinyamat memberikan suatu bukti bahwa tidaklah benar jika wanita Jawa dari kalangan bangsawan tinggi sangat dibelenggu oleh kungkungan feodalisme. Kasus Ratu Kalinyamat jelas membuktikan bahwa wanita kalangan bangsawan justru mempunyai peluang yang lebih besar untuk tampil guna memainkan peranan penting yang sangat dibutuhkan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi.

Peluang untuk dapat melakukan peranan penting dalam bidang politik karena didukung oleh wewenang tradisionalnya, terutama karena keturunan. Ratu Kalinyamat telah melakukan aktivitas-aktivitas nyata bagi negaranya.

Demikianlah tancêp kayon sudah Dongeng Nyi Ratu Kalinyamat, dan dongeng selanjutnya kita tunggu saja, karena masih:

ånå toétoégé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: