Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING-2

GLAGAHWANGI KESULTANAN DÊMAK BINTÅRÅ

(Bagian ke-1)

On 28 April 2011 at 00:14 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun, sampun lingsir wêngi Sugêng enjang

Wêngi…………… Sansåyå nglangut sêmiliring bêbaratan tumiyup lon-lonan nggåndå wanginé arumdalu, kênångå lan cêmpåkå ugå kêmbang saptå ronå Kêmênyan putih kêluk sêtanggi dupå ing ngawiyat tangis kêdasih lan kidung råråwogå mèlu ngobahaké ati Mirêngnå pujå puji pangaståwå sajroning sêpi Rontal Kidung Agung panyambung tali jiwå têtêmbangan pårå jiwå suci kang tansah lumampah wontên ing margi kautaman lan kabêcikan, sanityåså pinrihatin puguh panggah cêgah dhahar lawan néndrå. luyut sumujud ing ngarså Dalêm Gusti Dhuh Gusti, wålå wålå kuwatå

Gusti Ora Saré, Gusti tansah midangêtaké panjêlihé pårå kawulå kang nandhang påpå cintråkå.

Sansåyå dalu araras abyor kang lintang kumedhap. Titi sonyå têngah wêngi lumarang gandaning puspitå ‘rum, kasiliring samirånå mrik, Ong……….. sêkar gadhung, kongas gandanyå o…. mawèh raras rênaning driyå, o…. o…. o….

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

Wêdaran kaping-2: GLAGAHWANGI KESULTANAN DÊMAK BINTÅRÅ (Bagian ke-1)

Glagahwangi Dêmak Bintårå

Kesultanan Demak adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintårå, daerah yang subur di muara sungai sungai Tuntang dan Lusi.

Semarang di sebelah Barat Daya, Alas Prawoto (?) di Tenggara, Juwana di Timur Laut, berturut-turut Pati, Kudus, dan Jepara, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria, sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi.

Bintårå sebagai pusat Kesultanan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi Kesultanan Demak.

Demak sebelumnya merupakan daerah yang dikenal dengan nama Bintårå atau Glagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit, yang dikuasai oleh Raden Patah.

Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah.

Setelah Majapahit runtuh maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.

Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Majapahit. Pada kurun waktu inilah Dongeng Arkeologi & Antropologi Sirna Ilang Kertaning Bhumi, Dongeng Sabdo Palon dan Nåyå Genggong dimulai.

Raden Patah disebutkan adalah salah seorang keturunan Raja Bhre Kertabumi raja Majapahit. Nama Raden Patah terdapat dalam Babad Tanah Jawi yang disusun pada masa pemerintahan Paku Buwono I yang menjadi Sunan Mataram hingga 1719. Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra Brawijaya, raja terakhir Majapahit dari seorang selir dari negeri Campa.

Menurut Babad Tanah Jawi dan Sêrat Kåndå, Raden Patah lahir di Palembang pada 1455M dengan nama Pangeran Jimbun –sebuah nama atau dialek Cina. Selama 20 tahun, Jimbun hidup di kediaman adipati Majapahit di Palembang, Aryå Damar.

Setelah beranjak dewasa, Jimbun kembali ke Majapahit. Oleh orangtuanya, Raden Patah dikirim kepada Raden Rahmat atau Sunan Ngampel (Ampel) Denta di Surabaya untuk belajar Islam. Ia mempelajari pendidikan Islam bersama murid-murid Sunan Ampel yang lainnya: Raden Paku (Sunan Giri), Maulana Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Qasim (Sunan Drajat).

Menurut Sêrat Kåndå pula, putri Campa (kini termasuk wilayah Kamboja) ini dinikahi oleh Brawijaya ketika Brawijaya masih menjadi putra mahkota belum menjadi raja Majapahit. Sang permaisuri Raja, yaitu Ratu Dwarawati, merasa cemburu terhadap putri Campa itu. Untuk menghindari kemungkinan buruk, Raja Brawijaya memberikan selir Campanya itu kepada putra sulungnya, yaitu Aryå Damar Bupati Palembang.

Setelah melahirkan Raden Patah, putri Campa itu dinikahi Aryå Damar, yang kemudian melahirkan Raden Kusen. Raden Patah dinikahkan dengan cucu Raden Rahmat, Nyi Ageng Maloka. Selanjutnya ia dipercaya untuk menyebarkan Islam di Desa Bintårå dengan diiringi oleh Aryå Dilah (Ki Dilah), disertai oleh 200 pasukannya.

Menurut Lombard Raden Patah merupakan pendiri kantor dagang di Demak, sebuah pelabuhan di pesisir Jawa yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang, di sekat Gunung Muria. Ia berasal dari Cina, mula-mula menetap di Gresik, lalu pindah ke Demak.

Menurut Tome Pires yang singgah di pelabuhan Demak, Demak memiliki hingga 40 jung dan telah meluaskan kewibawaannya sampai ke Palembang, Jambi, “pulau-pulau Menamby (?) dan sejumlah besar pulau lain di depan Tanjung Pura”, yaitu Bangka (di mana terdapat Pegunungan Menumbing) dan Belitung.

Saat itu di Demak terdapat tak kurang dari “delapan hingga sepuluh ribu rumah” dan tanah sekelilingnya menghasillkan beras berlimpah-limpah, yang sebagian untuk diekspor ke Malaka. Menurut penjelajah Portugis itu, Demak dan Rembang terkenal dengan galangan-galangan kapalnya. Kapal-kapal dibuat dari kayu jati yang banyak tumbuh di wilayah pesisir Jawa Tengah dan Timur waktu itu.

Demak juga dikelilingi beberapa kota-pelabuhan tempat terjadi perniagaan besar: Juwana, Pati, Rembang, Jepara, dan Semarang, yang ketika itu penduduknya berkisar sekitar 3.000 kepala. “Pedagang yang punya uang datang ke sana untuk dibuatkan jung,” begitu tulis Pires.

Siapakah Aryå Damar yang disebut-sebut råmå kuwalon Raden Patah?

Aryå Damar adalah nama seorang pemimpin legendaris yang berkuasa di Palembang pada pertengahan abad ke-14 sebagai bawahan Kerajaan Majapahit. Ia disebut juga dengan nama Ario Damar atau Ario Abdilah. Nama Aryå Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan di Palembang yang membantu Majapahit menaklukkan Bali pada tahun 1343M.

Identifikasi dengan Adityawarman

Sejarahwan Prof. Berg menganggap Aryå Damar identik dengan Adityawarman, yaitu penguasa Pulau Sumatra bawahan Majapahit. Nama Adityawarman ditemukan dalam beberapa prasasti yang berangka tahun 1343 dan 1347 sehingga jelas kalau ia hidup sezaman dengan Aryå Damar.

Menurut Berg, Aryå Damar adalah penguasa Sumatra, Adityawarman juga penguasa Sumatra. Karena keduanya hidup pada zaman yang sama, maka cukup masuk akal apabila kedua tokoh ini dianggap identik. Di samping itu, karena Adityawarman adalah putra Dara Jingga, maka Aryå Damar dan adik-adiknya juga ‘dianggap’ sebagai anak-anak putri Melayu tersebut.

Namun demikian, daerah yang dipimpin Adityawarman bukan Palembang, melainkan Pagaruyung, sedangkan kedua negeri tersebut terletak berjauhan. Palembang sekarang masuk wilayah Sumatra Selatan, sedangkan Pagaruyung berada di Sumatra Barat.

Sementara itu, Berita Cina dari Dinasti Ming (1368 sd 1644) menyebutkan bahwa di Pulau Sumatra terdapat tiga kerajaan dan semuanya adalah bawahan Pulau Jawa (Majapahit). Tiga kerajaan tersebut adalah Palembang, Dharmasraya, dan Pagaruyung.

Dengan demikian, Aryå Damar bukan satu-satunya raja di Pulau Sumatra, begitu pula dengan Adityawarman. Oleh karena itu, Aryå Damar tidak harus identik dengan Adityawarman. Jadi, meskipun Aryå Damar dan Adityawarman hidup pada zaman yang sama, serta memiliki jabatan yang sama pula, namun keduanya belum tentu identik.

Aryå Damar adalah raja Palembang sedangkan Adityawarman adalah raja Pagaruyung. Keduanya merupakan wakil Kerajaan Majapahit di Pulau Sumatra.

Ayah Tiri Raden Patah?

Aryå Damar adalah pahlawan legendaris sehingga nama besarnya selalu diingat oleh masyarakat Jawa. Dalam naskah-naskah babad dan serat, misalnya Babad Tanah Jawi, tokoh Aryå Damar disebut sebagai ayah tiri Rade Patah, raja pertama Kesultanan Demak.

Dikisahkan ada seorang raksasa wanita ingin menjadi istri Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad). Ia pun mengubah wujud menjadi gadis cantik bernama Endang Sasmintapura, dan segera ditemukan oleh patih Majapahit yang juga bernama Gajah Mada (?) di dalam pasar kota.

Sasmintapura pun dipersembahkan kepada Brawijaya untuk dijadikan istri. Namun, ketika sedang mengandung, Sasmintapura kembali ke wujud raksasa karena makan daging mentah. Ia pun diusir oleh Brawijaya sehingga melahirkan bayinya di tengah hutan. Putra sulung Brawijaya itu diberi nama Jåkå Dilah.

Setelah dewasa Jåkå Dilah mengabdi ke Majapahit. Ketika Brawijaya ingin berburu, Jåkå Dilah pun mendatangkan semua binatang hutan di halaman istana. Brawijaya sangat gembira melihatnya dan akhirnya sudi mengakui Jåkå Dilah sebagai putranya.

Jåkå Dilah kemudian diangkat sebagai bupati Palembang bergelar Aryå Damar. Sementara itu Brawijaya telah menceraikan seorang selirnya yang berdarah Cina karena permaisurinya yang bernama Ratu Dwarawati (putri Campa) merasa cemburu. Putri Cina itu diserahkan kepada Aryå Damar untuk dijadikan istri.

Aryå Damar membawa putri Cina ke Palembang. Wanita itu melahirkan putra Brawijaya yang diberi nama Raden Patah. Kemudian dari pernikahan dengan Aryå Damar, lahir Raden Kusen.

Dengan demikian terciptalah suatu silsilah yang rumit antara Aryå Damar, Raden Patah, dan Raden Kusen. Setelah dewasa, Raden Patah dan Raden Kusen meninggalkan Palembang menuju Pulau Jawa. Raden Patah akhirnya menjadi raja pertama Kesultanan Demak, dengan bergelar Panembahan Jimbun.

Aryå Dilah dari Palembang

Lain lagi dengan naskah dari Jawa Barat, misalnya Hikayat Hasanuddin atau Sejarah Banten. Naskah-naskah tersebut menggabungkan nama Aryå Damar dengan Jåkå Dilah menjadi Aryå Dilah, yang juga menjabat sebagai bupati Palembang. Selain itu, nama Aryå Dilah juga diduga berasal dari nama Arya Abdilah.

Dikisahkan ada seorang perdana menteri dari Munggul bernama Cek Ko Po yang mengabdi ke Majapahit. Putranya yang bernama Cu Cu berhasil memadamkan pemberontakan Aryå Dilah bupati Palembang.

Raja Majapahit sangat gembira dan mengangkat Cu Cu sebagai bupati Demak, bergelar Molana Arya Sumangsang. Dengan demikian, Arya Sumangsang berhasil menjadi pemimpin Demak setelah mengalahkan Aryå Dilah.

Kisah dari Jawa Barat ini cukup unik karena pada umumnya, raja Demak disebut sebagai anak tiri bupati Palembang. Sementara itu, berita tentang pemberontakan Palembang ternyata benar-benar terjadi.

Kronik Cina dari Dinasti Ming mencatat bahwa pada tahun 1377 tentara Majapahit berhasil menumpas pemberontakan Palembang.

Rupanya pengarang naskah di atas pernah mendengar berita pemberontakan Palembang terhadap Majapahit. Namun ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana peristiwa itu terjadi.

Pemberontakan Palembang dan berdirinya Demak dikisahkannya sebagai satu rangkaian, padahal sesungguhnya, kedua peristiwa tersebut berselang lebih dari 100 tahun.

Swan Liong

Kisah hidup Raden Patah juga tercatat dalam kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong Semarang. Sebagaimana disebut juga dalam Berita Cina, antara lain Catatan Sejarah Dinasti Yuan; dan Ying-yai-seng-lan, yang ditulis olehs: Ma Huan, sekretaris Laksamana Cheng Ho.

Ditulis dalam naskah itu bahwa Raden Patah disebut dengan nama Jin Bun, sedangkan ayah tirinya bukan bernama Aryå Damar, melainkan bernama Swan Liong. Swan Liong adalah putra raja Majapahit bernama Yang-wi-si-sa yang lahir dari seorang selir Cina.

Mungkin Yang-wi-si-sa logat Cina untuk Hyang Wisesa atau mungkin Hyang Purwawisesa. Kedua nama ini ditemukan dalam naskah Pararaton. Swan Liong bekerja sebagai kepala pabrik bahan peledak di Semarang. Pada tahun 1443 ia diangkat menjadi kapten Cina di Palembang oleh Gan Eng Cu, kapten Cina di Jawa.

Swan Liong di Palembang memiliki asisten bernama Bong Swi Hoo. Pada tahun 1445 Bong Swi Hoo pindah ke Jawa dan menjadi menantu Gan Eng Cu. Pada tahun 1451 Bong Swi Hoo mendirikan pusat perguruan agama Islam di Ampel Denta, dan ia pun terkenal dengan sebutan Sunan Ampel.

Swan Liong di Palembang memiliki istri seorang bekas selir Kung-ta-bu-mi raja Majapahit. Mungkin Kung-ta-bu-mi adalah ejaan Cina untuk Bhre Kerthabhumi. Dari wanita itu lahir dua orang putra bernama Jin Bun dan Kin San.

Pada tahun 1474 Jin Bun dan Kin San pindah ke Jawa untuk berguru kepada Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Tahun berikutnya, Jin Bun mendirikan kota Demak sedangkan Kin San mengabdi kepada Kung-ta-bu-mi di Majapahit.

Tidak diketahui dengan pasti sumber mana yang digunakan oleh pengarang kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong di atas. Kemungkinan besar si pengarang pernah membaca Pararaton sehingga nama-nama raja Majapahit yang ia sebutkan mirip dengan nama-nama raja dalam naskah dari Bali tersebut.

Misalnya, si pengarang kronik tidak menggunakan nama Brawijaya yang lazim digunakan dalam naskah-naskah babad. Jika dibandingkan dengan Babad Tanah Jawi, isi naskah kronik Cina Sam Po Kong terkesan lebih masuk akal.

Misalnya, ibu Aryå Damar adalah seorang raksasa, sedangkan ibu Swan Liong adalah manusia biasa. Ayah Aryå Damar sama dengan ayah Raden Patah, sedangkan ibu Swan Liong dan Jin Bun berbeda.

Hubungan dengan Raja Demak

Naskah-naskah di atas menunjukkan adanya hubungan antara pendiri Kesultanan Demak dengan penguasa Palembang. Teori yang paling populer adalah yang bersumber dari Babad Tanah Jawi, yaitu Raden Patah disebut sebagai anak tiri Aryå Damar.

Sementara itu catatan Portugis berjudul Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins (Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina), penulis: Tomé Pires menyebut raja Demak sebagai keturunan masyarakat kelas rendah dari Gresik.

Naskah ini ditulis sekitar tahun 1513 sehingga kebenarannya relatif lebih meyakinkan daripada Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi sendiri disusun pada abad ke-18, yaitu berselang ratusan tahun sejak kematian Raden Patah. Melalui naskah itu, si penulis berusaha menunjukkan kalau Demak adalah pewaris sah dari Majapahit. Raden Patah pun disebutnya sebagai putra kandung Brawijaya.

Mungkin penyusun Babad Tanah Jawi juga pernah mendengar adanya hubungan antara Demak dengan Palembang. Maka, Raden Patah pun dikisahkan sebagai anak tiri bupati Palembang.

Karena nama bupati Palembang yang paling legendaris adalah Aryå Damar, maka tokoh ini pun “dipaksa menjadi” ayah tiri sekaligus kakak Raden Patah. Penulis Babad Tanah Jawi tidak menyadari kalau Aryå Damar dan Raden Patah hidup pada zaman yang berbeda.

Aryå Damar merupakan pahlawan penakluk Bali pada tahun 1343, sedangkan Raden Patah menjadi raja Demak sekitar tahun 1500an.

Kronik Sam Po Kong

Pada 1475, sekitar 1.000 tentara Demak pimpinan Jin Bun menyerang Semarang. Ia menaklukkan Semarang lalu bergerak menuju Klenteng Sam Po Kong yang ada di kota itu.

Jin Bun memerintah pada pasukannya agar jangan menghancurkan klenteng itu, karena sebelumnya Sam Po Kong merupakan sebuah masjid yang dibangun oleh orang-orang Tionghoa Muslim dari daratan Tiongkok yang bermahzab Hanafi.

Namun, setelah kekuasaan Dinasti Ming di Tiongkok melemah. Sejak armada Dinasti Ming tak lagi singgah di Semarang, hubungan orang-orang Tionghoa Muslim dengan sanak saudara mereka di Tiongkok terhenti.

Satu persatu masjid di Semarang dan Lasem, yang dibangun pada masa Laksamana Cheng Ho, berubah fungsi menjadi klenteng. Selain tak menghancurkan Sam Po Kong, Jin Bun juga tak memaksa agar orang-orang Tionghoa yang non-Muslim untuk memeluk Islam.

Kebaikan hati Jin Bun tersebut disambut orang-orang Tionghoa non-Musli dengan janji bahwa mereka akan setia pada Demak dan tunduk pada hukum Demak yang Islam.

Lima abad kemudian, Residen Poortman pada tahun 1928 mendapatkan tugas dari pemerintah kolonial untuk menyelidiki: apakah benar Raden Patah itu orang Tionghoa tulen.

Poortman pun menggeledah kelentang Sam Po Kong lalu menyita naskah berbahasa Tionghoa sebanyak tiga pedati, lalu dibawa oleh Poortman ke Institut Indoologi di Negeri Belanda.

Atas permintaan Poortman, hasil penelitiannya atas naskah Klenteng Sam Po Kong diberi tanda GZG, singkatan Geheim Zeer Geheim alias naskah yang sangat rahasia dan hanya boleh dibaca di kantor, dan tidak sembarang orang boleh membacanya.

Dengan begitu, yang boleh melihatnya hanyalah Perdana Menteri Colijn, Gubernur Jenderal, Menteri Jajahan, dan pegawai arsip negara di Rijswijk di Den Haag. Menurut Muljana, hasil penelitian terhadap kronik Sam Po Kong itu itu hanya dicetak lima eksemplar, dan tidak satu pun berada di Jakarta.

Arsip Poortman ini kemudian dikutip oleh Mangaraja Onggang Parlindungan yang menulis buku kontrovelsial Tuanku Rao yang terbit pada 1964. Parlindungan memiliki hubungan dekat dengan Poortman saat ia menuntut ilmu di sekolah tinggi teknologi di Delft, maka itu dapat menyalinnya.

Prof. Dr. Slamet Muljana yang menulis buku berjudul Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, banyak mengutip buku Tuanku Rao. Buku Slamet Muljana –guru besar di Universitas Indonesia– yang terbit tahun 1968 juga menimbulkan kontroversi.

Pemerintah Orde Baru pada 1971 melarang peredaran buku tersebut. Rupanya teori bahwa pendiri Demak (dan juga delapan dari Sembilan Wali Sångå) adalah orang Tionghoa membuat pemerintah Soeharto gerah. Ditambah ketika itu pemerintah Orde Baru baru saja selesai “mengamankan” negara dari gerakan komunis yang dianggap bahaya laten.

Seharusnya larangan peredaran buku yang dianggap meresahkan itu tidak perlu terjadi. Lazim dalam dunia keilmuan atau akademisi, suatu teori akan dibantah oleh teori lainnya. Setiap teori yang timbul, kita lakukan pengkajian dan penelitian yang obyektif, tentukan teori mana yang dapat menyajikan data dan bukti akurat yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Selalulah diingat terutama hal yang berkenaan dengan sejarah, kita mengenal suatu ungkapan bahwa kebenaran sejarah adalah bersifat hipotetik.

ånå tjandhaké Nuwun cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: