Seri Nagasasra

WAOSAN KA-3

On 2 Mei 2011 at 01:26 cantrik bayuaji said:

Nuwun Sugêng wêngi, kasugêngan ing madyå ratri

Indahnya suasana di tengah malam, saat orang-orang telah lelap dalam tidurnya, aku masih terjaga, aku masih ingin leluasa ‘curhat’ kepadaNya.

Sejenak menatap ke langit dari balik jendela dan langsung melihat suasana malam di luar sana, kadang awan kelam menutupi, angin malam yang basah berdesir lembut, membawa rintik gerimis.

Satu-satu bintang masih nampak di sela gugusan mega-mega. Kerlap-kerlip lampu di jalan.

Di luar sana terdengar suara-suara parau penjual mié, wédhang rondé, kué putu atau saté. Satu atau dua hamba-hambaMu, ya Tuhan. Di saat-saat begini masih berkelana menyusuri jalanan, mengais rejeki yang Engkau tebarkan.

Wangingya kembang terbawa semilir angin. Di dinginnya malam, di sunyi senyapnya malam, alangkah nikmatnya ketika Engkau masih mengijinkan aku dapat “berkencan” di malam ini denganMu.

Tuhanku. Alangkah sangat sayang sekali jika aku lewatkan saat-saat seperti sekarang ini, malam yang Engkau sediakan untuk hamba-hambaMu.

Wong Mukmin mau yèn bêngi anggoné turu mung sêthithik. Lan yèn wus ngancik ing madyaning wêngi utawa sêprapating wêngi kang wêkasan, dhéwèké pådhå nyuwun pangapuraning Gusti Pangéran.

[Mereka (Orang-orang mukmin) sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam, mereka selalu memohon ampun kepadaNya ]

[QS Adz Dzariyat (51) : 17-18).

Bukankah Dia turun disetiap malam ke langit yang terendah, yaitu saat sepertiga malam terakhir, maka Dia pun berfirman:” Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu maka Aku berikan kepadanya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu maka Aku ampunkan untuknya

Dan waktu yang paling tepat mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia bangun melaksanakan shalat pada sepertiga malam yang akhir.

Jadikanlah pertemuan ini waktu yang selalu dinanti-nantikan dan dirindukan oleh hamba yang dirinya sangat dhaif dan penuh kekurangan dan kelemahan seperti diriku ini.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

Wêdaran kaping-3: GLAGAHWANGI KESULTANAN DÊMAK BINTÅRÅ (Bagian ke-2)

Wedaran kaping-2: Glagahwangi Dêmak Bintårå (Bagian ke-1) On 28 April 2011 at 00:14 NSSI 04

Kesultanan Demak di bawah pemerintahan Radèn Patah (1500 sd 1518)

Berdasarkan Babad Tanah Jawi, yang menjabat sebagai sultan yang pertama Demak adalah Radèn Patah.

Babad Tanah Jawi mengabarkan:

Miturut caritå: Sang Prabu Kêrtawijåyå ing Majapait iku wis tau kråmå karo putri såkå ing Cêmpå (tanah Indhiyå Buri). Putri mau kapêrnah ibu alit karo Raden Rahmat utåwå Sunan Ngampêl (sacêdhaké Suråbåyå). Sunan Ngampèl kagungan putrå kakung siji, asmå Sunan Bonang, lan putrå putri siji, asmå Nyai Gêdhé Malaka. Nyai Gêdhé Malaka iku måråsêpuhé Radèn Patah utåwå Panêmbahan Jimbun, yåiku kang sinêbut: Sultan Demak kang kapisan. Sénåpati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panêmbahan Palèmbang Sayidin Panåtågåmå.

Mengapa beliau menggunakan gelar Panêmbahan Palèmbang? Boleh jadi karena beliau mempunyai garis silsilah dari Palembang.

Ada pun menurut Serat Pranitiradya, ia bergelar Sultan Syah Alam Akbar. dan dalam Hikayat Banjar disebut Sultan Surya Alam.

Nama Patah sendiri berasal dari kata Arab, al-Fatah, artinya “Sang Pembuka”, sebagai gambaran bahwa ia adalah pembuka kerajaan bercorak Islam di Jawa.

Pemakaian gelar sultan belum menjadi tradisi pada masa Radèn Patah, karena, menurut Lombard, pemakaian gelar sultan untuk raja-raja Jawa baru dimulai pada tahun 1524, yakni pada masa Trênggånå menjadi penguasa Demak (sementara penguasa Malaka telah memakai gelar itu kira-kira sejak 1456).

Lokasi Kesultanan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yang sudah hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan rajanya yang pertama yaitu Radèn Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah (1500 – 1518).

Pada 1479 Radèn Patah meresmikan Masjid Agung Bintårå di Demak sebagai pusat pemerintahan.

Sunan Ngampèl lan Sunan Bonang iku dadi panunggalané pårå wali. Pårå wali mau kang misuwur: Sunan Giri (sakidul Grêsik), ånå ing kono yåså kêdhaton lan mêsjid; Ki Pandan Arang (ing Sêmarang) lan Sunan Kali Jågå (ing Dêmak). Ing taun 1458 ing Dêmak wis ånå mêsjid bêcik.

Ia juga memperkenalkan pemakaian kitab Salokantara sebagai pegangan undang-undang kerajaan (ada pula yang beranggapan bahwa Salokantara dibuat oleh Trênggånå, anak Radèn Patah). Kitab ini kini sudah raib tak jelas rimbanya.

Sikap Radèn Patah kepada umat beragam lain pun sangat toleran. Misalnya, kuil Sam Po Kong tetap berfungsi sebagai kelenteng warga Cina. Suma Oriental memberitakan bahwa pada 1507 Paté Rodin Sr. alias Radèn Patah meresmikan Masjid Agung Demak yang baru saja diperbaiki.

Radèn Patah juga tidak memerangi umat lain yang juga mayoritas, Hindu dan Buddha, sebagaimana wasiat Sunan Ngampel, gurunya. Walau sebelumnya, seperti yang tertera dalam babad dan serat, memberitakan ia menyerang Majapahit, hal tersebut dilatarbelakangi persaingan politik dalam menguasai Jawa, bukan karena sentimen agama.

Lagi pula, Badad Tanah Jawi dan Serat Kanda memberitakan bahwa pihak Majapahitlah yang lebih dulu menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik.

Pemberitaan penyerangan Majapahit oleh Demak, masih mengundang perdebatan para sejarahwan, baik mengenai kebenaran fakta sejarahnya, yang meliputi waktunya, tempat terjadinya peristiwa dan siapa tokoh-tokoh sejarah pelakunya.

Suma Oriental lengkapnya Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins (“Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina” kompendium (summa) yang ditulis oleh Tomé Pires pada tahun 1512-1515, berisi informasi tentang kehidupan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara pada abad ke-16.

Dikisahkan bahwa pada 1512, menantu Paté Radèn, yakni Pate Unus Bupati Jepara, menyerang benteng Portugis di Malaka. Tokoh Pate Unus ini identik dengan tokoh Yat Sun dalam kronik Cina, yang diberitakan menyerang bangsa asing di Moa-lok-sa tahun 1512.

Perbedaannya hanyalah bahwa Pate Unus merupakan menantu Paté Rodin Sr. (menurut Pires), sedangkan Yat Sun adalah putra Jin Bun (menurut kronik Cina). Baik sumber Portugis maupun sumber Cina sama-sama menyebutkan bahwa armada Demak hancur dalam pertempuran di Selat Malaka itu.

Menurut kronik Sam Po Kong, Jin Bun wafat pada 1518 dalam usia 63 tahun. Ia lalu digantikan oleh Yat Sun, yang dalam Babad Tanah Jawi bergelar Pangeran Sabrang Lor.

Menurut babad dan serat, Radèn Patah memiliki tiga istri. Pertama adalah putri Sunan Ngampel, yang menjadi permaisuri, melahirkan Raden Surya dan Raden Trênggånå, yang masing-masing kemudian naik takhta, bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Sultan Trênggånå. Istri yang kedua berasal dari Randu Sanga, yang melahirkan Raden Kanduruwan.

Raden Kanduruwan pada masa pemerintahan Sultan Trênggånå berhasil menaklukkan Sumenep di Madura. Istri yang ketiga adalah putri bupati Jipang, yang melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyawa.

Setelah Pangeran Sabrang Lor wafat tahun 1521, Raden Kikin dan Raden Trênggånå berseteru memperebutkan takhta Demak.

Raden Kikin akhirnya dibunuh oleh keponakannya sendiri, yaitu putra sulung Raden Trênggånå yang bernama Raden Mukmin alias Sunan Prawoto, di tepi sungai.

Maka dari itu, Raden Kikin dijuluki “Pangéran Sêkar Sédå ing Lèpèn”, yang berarti bunga yang gugur di sungai. Sementara itu, kronik Cina menyebutkan dua orang putra Jin Bun, yaitu Yat Sun (Paté Unus/Sabrang Lor) dan Tung-ka-lo (Trênggånå ).

Suma Oriental menyebutkan bahwa Paté Rodin memiliki putra yang bernama Paté Rodin Junior, dan seorang menantu bernama Pate Unus. Tulisan Pires ini menyebutkan bahwa usia Paté Rodin Jr. lebih tua daripada Pate Unus. Dengan kalimat lain dapat kita tafsirkan bahwa Sultan Trênggånå merupakan kakak ipar Pangeran Sabrang Lor.

Kehidupan Politik

Pada masa pemerintahan Radèn Patah Demak memiliki peranan yang penting dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di pulau Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peranan Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis 1511.

Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman bagi Demak di pulau Jawa. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada tahun 1513 Demak melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka, dengan Panglima Perang Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Demak Sri Bupati Jepara Rêtnå Kêncånå yang lebih dikenal dengan nama Ratu Kalinyamat putri Sultan Trênggånå sendiri, adapun pemimpin pasukan armada laut Angkatan Laut Kesultanan Demak adalah Adipati Unus atau terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.

Pada rontal “Yang Terasing” Anggitan Ki Dhalang SH Mintardja (13 episode).

Diceritakan oleh Ki Dhalang SH Mintardja tentang pergolakan yang terjadi di pesisir Utara sebelah Timur Demak melalui kata-kata Puranti:

“Wiyatsih“ suara Puranti merendah “Demak yang sedang sibuk menenteramkan daerah bergolak dipesisir Utara sebelah Timur,……

Bila yang dimaksud adalah pergolakan di pesisir Utara sebelah Timur, maka peristiwa itu terjadi pada tahun 1546, tatkala Pasukan Tentara Demak yang dipimpin langsung oleh rajanya sendiri, yakni Sultan Trênggånå melakukan penyerbuan ke wilayah Pasuruan dan Blambangan.

Pada tahun-tahun di bawah kepemimpinan Sultan Trênggånå, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran, menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di Sunda Kelapa (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527 sd 1546). Panglima perang Demak pada waktu itu adalah Fatahillah, yang juga menjadi menantu Sultan Trênggånå.

Pada saat yang demikian itu muncul tokoh perempuan dari Jepara (yakni suatu daerah yang menjadi bagian dari Kesultanan Demak) sebagai pejuang yang berusaha menyelamatkan tahta dari perang saudara.

Dari sinilah Ki Dalang SHM terilhami adanya tokoh senopati perempuan dari Kesultanan Demak.

Tetapi siapa tokoh perempuan dari Jepara itu?, yang pasti bukan Puranti atau Wiyatsih. Dia adalahRatu Kalinyamat

………

Selama 30 tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaannya. Dengan armada lautnya yang sangat tangguh, Ratu Kalinyamat pernah dua sampai tiga kali menyerang Portugis di Malaka.

Dari kisah perjalanan seorang jurnalis berkebangsaan Portugis penulis Portugis Diego de Couto, pernah dilukiskan bahwa Ratu Kalinyamat adalah seorang tokoh wanita yang sangat terkenal.

Dia tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian “gagah berani” seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame yang berarti seorang wanita yang pemberani.

Kebesaran Ratu Kalinyamat, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa.

Kapal-kapal perang Ratu Kalinyamat ketika melakukan penyerbuan melawan orang-orang Portugis di perairan Laut Jawa, pada tiang-tiang utama kapal berkibar bendera dan umbul-umbul Sang Saka Gula-Kelapa bendera Sang Merah-Putih.

Walaupun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan terhadap Portugis, ternyata ekspedisi tersebut mengalami kegagalan, dan pada akhirnya kembali ke Jawa.

Seorang pemimpin ekspedisi militer Ratu Kalinyamat ke Malaka tersebut adalah Kyai Demang Laksamana Pangeran Sabrang Lor (sumber Portugis menyebut dengan nama Quilidamao).

Serangan Demak terhadap Portugis walaupun mengalami kegagalan namun Demak tetap berusaha membendung masuknya Portugis ke pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Adipati Unus (1518 – 1521), Demak melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan.

Kehidupan Ekonomi

Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya, bahwa letak Demak sangat strategis di jalur perdagangan nusantara memungkinkan Demak berkembang sebagai kerajaan maritim.

Dalam kegiatan perdagangan, Demak berperan sebagai penghubung antara daerah penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan penghasil rempah-rempah Indonesia bagian barat.

Dengan demikian perdagangan Demak semakin berkembang. Dan hal ini juga didukung oleh penguasaan Demak terhadap pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa.

Sebagai kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang.

Dengan demikian kegiatan perdagangannya ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di bidang ekonomi.

Kehidupan Sosial Budaya

Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya Islam karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.

Sebagai pusat penyebaran Islam Demak menjadi tempat berkumpulnya para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Bonang.

Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan Kesultanan Demak bahkan para wali tersebut menjadi penasehat bagi raja Demak.

Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara raja/bangsawan – para wali/ulama dengan rakyat. Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun Pondok Pesantren. Sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di antara orang-orang Islam).

Demikian pula dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang merupakan peninggalan dari Kesultanan Demak. Salah satunya adalah Masjid Demak, di mana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan-pecahan kayu yang disebut Soko Tatal.

Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Masjid (pendopo) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad saw) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon.

ånå toêtoêgé atawa to be continued [tü bi: kǝn’tinyu|ed]

Nuwun cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: