Seri Nagasasra

WAOSAN KAPING-4

On 7 Mei 2011 at 09:47 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun Sugêng énjang ndungkap siyang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI NSSI

Wêdaran kaping-4: GLAGAHWANGI KESULTANAN DÊMAK BINTÅRÅ (Bagian ke-3)

Wedaran kaping-1: Sumunaring Abhayagiri ring Ratu Boko. On 18 April 2011 at 09:51. NSSI 01. Wedaran kaping-2: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-1) On 28 April 2011 at 00:14 NSSI 04. Wedaran kaping-3: Glagahwangi Kesultanan Dêmak Bintårå (Bagian ke-2) On 2 Mei 2011 at 01:26 NSSI 06.

***

Puncak kebesaran Demak terjadi pada masa pemerintahan Sultan Trênggånå (1521 — 1546), karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah kekuasaan yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.

Sultan Trênggånå adalah putra Radèn Patah pendiri Demak yang lahir dari permaisuri Ratu Asyikah putri Sunan Ampel. Menurut Suma Oriental, ia dilahirkan sekitar tahun 1483. Ia merupakan adik kandung Pangeran Sabrang Lor, raja Demak sebelumnya (versi Sêrat Kåndå).

Sultan Trênggånå memiliki beberapa orang putra dan putri. Di antaranya yang paling terkenal ialah Sunan Prawoto yang menjadi raja penggantinya, Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara, Ratu Mas Cempaka yang menjadi istri Sultan Hadiwijaya (Mas Karèbét Djåkå Tingkir), dan Pangeran Timur yang berkuasa sebagai adipati di wilayah Madiun dengan gelar Rånggå Jumênå.

Sultan Trênggånå berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Wilayah kekuasaan Demak dari ujung timur Panarukan, ke Barat Pasuruan, Malang, Pajang, Galuh, Banten, kembali ke Timur Cirebon, Semarang, Cirebon, Pati, Lasem, Tuban, Gresik Madura, Surabaya dan Trowulan Mojokerto.

Daerah kekuasaan tersebut berhasil dikembangkan, khususnya ke wilayah Jawa Bagian Barat, antara lain karena Sultan Trênggånå melakukan penyerangan terhadap daerah-daerah kerajaan-kerajaan Hindu yang mengadakan hubungan dengan Portugis seperti Sunda Kelapa (Pajajaran) dan ke Jawa Bagian Timur Blambangan.

Di bawah Sultan Trênggånå, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546).

Panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trênggånå.

Kisah penyerangan dan pengusiran bangsa Portugis dari Bumi Nusantara disinggung juga oleh Ki Dalang SH Mintardja dalam “Rontal NSSI”nya, yakni ketika Pasukan Tentara Kesultanan Demak dibawah pimpinan seorang pemimpin pasukan sandhi-yudha Perwira Tinggi Aryå Palindih mendatangi Tanah Perdikan Banyu Biru di Lereng Bukit Telamoyo, meminta pertanggung-jawaban Kepala Tanah Perdikannya, yaitu Ki Ageng Gajah Sorå atas hilangnya Keris Pusaka Kraton Dêmak Bintårå Kyai Naga Såsrå dan Kyai Sabuk Intên.

Berikut cuplikannya (Rontal NSSI kaping-06 Bab V, menurut versi EYD).

…………………

Agaknya telah terjadi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat, sehingga ketika Mahesa Jenar telah berada di sampingnya, semakin jelas bahwa tubuh Gajah Sora gemetar.

Kemudian dengan suara yang bergetar pula ia berkata: ”Paman Wanamerta, tetua tanah perdikan Banyu Biru. Panjawi, harapan masa datang, dan Adi Mahesa Jenar yang berpandangan luas. Harap kalian mengetahui keputusanku…. Aku sama sekali tidak gentar menghadapi pasukan dari Demak itu, meskipun ternyata terdiri dari pasukan penggempur yang kuat”. Ia berhenti sebentar, lalu kemudian, ”Tetapi aku tak akan melawannya”.

Mendengar kata-kata Gajah Sora itu, Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar sangat terkejut. Segera wajah-wajah mereka memancarkan perasaan mereka yang menyimpan berbagai pertanyaan. Tetapi tak seorang pun yang menyatakannya.

Dengarlah dengan baik”, sambung Gajah Sora, ”Mungkin Adi Mahesa Jenar yang paling dapat mengerti perasaanku” Gajah Sora diam sebentar untuk menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. Matanya yang sayu dan kemerah-merahan itu, tanpa berkedip memandang ke arah bendera Sang Saka Gula Kelapa yang berbentuk segitiga panjang sebagai lambang kebesaran Kerajaan Dêmak Bintårå.

Beberapa tahun yang lampau…,” lanjut Gajah Sora, ”Aku pernah bertempur melawan orang-orang Portugis di Semenanjung Malaka untuk mempertahankan kebesarannya. Pada saat itu diatas kapalku berkibar pula dengan megahnya bendera Sang Saka Gula Kelapa itu. Haruskah aku sekarang melawannya? Tidak, aku tidak bisa” Kemudian ia terdiam. Dan kembali Gajah Sora menelan ludah beberapa kali. Matanya nampak semakin merah bukan oleh nyala kemarahan.

…………………….

Kembali mata Ki Ageng Gajah Sora melekat pada Sang Saka Gula Kelapa yang seolah-olah melambaikan tangan-tangannya kepada Gajah Sora, sebagai salam hangat setelah agak lama tidak bertemu. Karena itu hati Ki Ageng Gajah Sora menjadi semakin terkoyak-koyak.

……………………………….

Gajah Sora memandang Wanamerta dengan penuh pengertian dan haru. Tetapi ia sudah mempunyai suatu ketetapan bahwa ia sama sekali tak bermaksud menodai Sang Saka Gula Kelapa. Karena itu katanya, ”Paman…, aku tahu kesetiaan Paman dan segenap laskar Banyu Biru. Tetapi aku harap Paman juga mengetahui kesetiaanku kepada bendera itu, Sang Saka Gula Kelapa, sebagai lambang kesatuan negara. Termasuk Banyu Biru. Sebab Banyu Biru sendiri tak ada artinya di muka bumi ini, kalau tidak bersama-sama dengan daerah-daerah lainnya berkembang di taman sarinya. Negara kita ini. Sebaliknya, negara kita ini tidak pula akan tegak melawan badai sejarah kalau tidak berakar di dalam jiwa rakyat di daerah-daerah, termasuk Paman dan seluruh rakyat Banyu Biru.

…………………….

Sesaat kemudian kembali Gajah Sora memandangi bendera Gula Kelapa yang melambai kepadanya. Sesaat kemudian dilayangkan pandangannya kepada seluruh anak buahnya yang berbaris teratur di belakangnya dalam gelar Dirada Meta.

………………..

Bendera Sang Saka Gula Kelapalah yang membuat Ki Ageng Gajah Sora tidak mau bertempur melawan Dêmak Bintårå. Bendera Sang Saka Gula Kelapalah yang berkibar di atas tiang kapal-kapal perang Kesultanan Dêmak Bintårå yang dipimpin oleh Pati Unus yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor, mengusir kekuasaan asing bangsa Portugis dari Bumi Nusantara.

Pati Unus Pangeran Sabrang Lor adalah seorang Panglima Gabungan Armada Islam membawahi armada Kesultanan Banten, Kesultanan Dêmak Bintårå dan Kesultanan Cirebon, yang diberkati oleh mertuanya sendiri yang merupakan Pembina Umat Islam di tanah Jawa, Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati.

Pati Unus atau Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor (1480? – 1521) adalah Sultan kedua Dêmak Bintårå, yang memerintah dari tahun 1518 hingga 1521. Ia adalah menantu Raden Patah, pendiri Kesultanan Dêmak Bintårå.

Pada tahun 1521, Pati Unus memimpin penyerbuan ke Malaka melawan pendudukan Portugis. Pati Unus gugur dalam pertempuran ini, dan digantikan oleh adik iparnya, Sultan Trênggånå.

Gelar Pati Unus yang baru adalah Senapati Sarjawala dengan tugas utama merebut kembali tanah Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis. Gentingnya situasi ini dikisahkan kembali sebagai berikut:

Tahun 1512 Samudra Pasai jatuh ke tangan Portugis, berikutnya Malaka yang dikuasai. Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman bagi Demak di pulau Jawa.

Hal ini membuat tugas Pati Unus sebagai Panglima Gabungan Armada Islam Tanah Jawa semakin mendesak untuk segera dilaksanakan. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi yang dikenal dengan sebutan Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka tapi gagal dan balik kembali ke tanah Jawa.

Kegagalan ini karena kurangnya persiapan yang menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal.

Di tahun 1518 Raden Patah, Sultan Dêmak I bergelar Alam Akbar Al Fattah mangkat, beliau berwasiat supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Sultan Dêmak berikutnya.

Maka diangkatlah Pati Unus atau Raden Abdul Qadir bin Yunus, Adipati wilayah Jepara yang garis nasabnya adalah keturunan Arab dan Parsi menjadi Sultan Dêmak II bergelar Alam Akbar At-Tsaniy.

Memasuki tahun 1521, ke 375 kapal telah selesai dibangun, disinilah putri Sultan Trênggånå menunjukkan dirinya. Dia adalah Sri Bupati Jepara Rêtnå Kêncånå yang lebih dikenal dengan nama Ratu Kalinyamat. Dialah Panglima Perang Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan Dêmak Bintårå.

Dia yang digambarkan oleh orang-orang Portugis pada waktu itu, sebagai wanita yang tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian “gagah berani”. Dia adalah De Kranige Dame yang berarti seorang wanita yang pemberani. Kebesaran Ratu Kalinyamat, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica. Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa.

Maka walaupun baru menjabat Sultan selama 3 tahun Pati Unus rela meninggalkan segala kemudahan dan kehormatan kehidupan keraton bahkan ikut pula dua putra beliau (yang masih sangat remaja) dari pernikahan dengan putri Raden Patah dan seorang putra lagi (yang juga masih sangat remaja) dari seorang seorang isteri, anak Syeikh Al Sultan Saiyid Ismail, Pulau Besar dengan risiko kehilangan segalanya termasuk putus nasab keturunan, tapi sungguh Allah membalas kebaikan orang-orang yang berjuang di jalannya.

Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Dêmak dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang.

Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan Dêmak II. Dari sini sejarah keluarga beliau akan berubah, sejarah kesultanan Dêmak Bintårå akan berubah dan sejarah tanah Jawa akan berubah.

Armada perang Islam yang sangat besar berangkat ke Malaka dan Portugis pun sudah mempersiapkan pertahanan menyambut armada besar ini dengan puluhan meriam besar pula yang mencuat dari benteng Malaka.

Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Ia gugur membela kedaulatan negaranya yang mulai dirongrong kewibawaannya oleh penjajah bangsa Portugis yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Sebagian pasukan Islam yang berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat hampir 3 hari 3 malam lamanya dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis, karena itu sampai sekarang Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat di tahun 1521 ini.

Melalui situs keturunan Portugis di Malaka (kaum Papia Kristang) hanya terdapat kegagahan Portugis dalam mengusir armada Tanah Jawa (expedisi I) 1513 dan armada Johor dalam pertempuran kecil.

Armada Islam gabungan tanah Jawa yang juga menderita banyak korban kemudian memutuskan mundur dibawah pimpinan Raden Hidayat, orang kedua dalam komando setelah Pati Unus gugur.

Satu riwayat yang belum jelas siapa Raden Hidayat ini, kemungkinan ke-2 yang lebih kuat komando setelah Pati Unus gugur diambil alih oleh Fadhullah Khan (Tubagus Pasai) karena sekembalinya sisa dari Armada Gabungan ini ke Pulau Jawa, Fadhlullah Khan alias Falathehan alias Fatahillah alias Tubagus Pasailah yang diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai Panglima Armada Gabungan yang baru menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka.

Kegagalan expedisi jihad yang ke II ke Malaka ini sebagian disebabkan oleh faktor-faktor internal, terutama masalah harmoni hubungan kesultanan-kesultanan Nusantara.

Pada masa-masa awal era kesultanan di Indonesia, hubungan antar kesultanan, terutama yang berbatasan darat. Masing-masing kesultanan maupun kadipaten berusaha untuk mendominasi. Tidak terlepas dengan Kesultanan Dêmak Bintårå, setelah sebelumnya mereka di bawah kekuasaan Majapahit.

Pada awalnya, Kesultanan Dêmak Bintårå berusaha membangun legitimasi pemerintahannya terutama untuk mengantisipasi tumbuhnya kekuatan-kekuatan di pedalaman dan wilayah-wilayah tetangga yang tidak secara tulus mengakui kekuasaan Dêmak Bintårå.

Oleh karena itu, Kesultanan Dêmak Bintårå beriringan dengan “Dewan Wali” Walisångå dalam hubungan yang saling mendukung. Kesultanan Dêmak Bintårå mendapatkan legitimasi sebagai kesultanan yang sah yang merupakan penerus Majapahit.

Sementara Walisångå mendapatkan dukungan dari penguasa Kesultanan Dêmak Bintårå dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Dalam hal invasi ke Malaka, yang dipimpin Pati Unus, tidak semua kadipaten dan kesultanan mendukung invasi tersebut dengan sepenuh hati. Misalnya Kadipaten Tuban, yang dengan sengaja memperlambat armada lautnya sehingga praktis selamat dari kahancuran akibat kekalahan dari Portugis.

Adipati Tuban pada saat itu, adalah Ayahanda Sunan Kalijaga merasa khawatir apabila Tuban mengirim kekuatan tempurnya secara penuh, Dêmak Bintårå akan dengan mudah membokong dan menduduki Tuban yang praktis kosong.

Ancaman juga muncul dari wilayah-wilayah di tanah Jawa yang belum sepenuhnya memeluk Islam. Kemungkinan besar tidak mendukung invasi ke Malaka. Wilayah-wilayah tersebut bagaimanapun juga, yang penduduknya masih menganut Hindu atau Budha, menganggap Islam sebagai ancaman yang akan menggeser agama mereka.

Selanjutnya, masalah peralatan. Salah satu suku bangsa yang mampu membangun kapal yang baik adalah Bugis, dan suku-suku di Sulawesi dan Maluku.

Pada saat Majapahit menguasai wilayah tersebut, akses teknologi perkapalan, baik sumber daya manusia maupun kayu bisa mengalir dengan lancar sehingga menjadi modal yang besar bagi ekspansi Majapahit, bahkan perjalannya sampai ke Tanjung Harapan di Afrika.

Akan tetapi, pendudukan Majapahit atas wilayah Sulawesi dan Maluku tetap dianggap sebagai penjajahan oleh masyarakat lokal. Oleh karena itu, bukan hal yang mustahil bahwa akses teknologi perkapalan yang didapat oleh Dêmak tidak sepenuhnya karena masyarakat Maluku dan Sulawesi tetap menganggap Dêmak sebagai kelanjutan dari Majapahit.

Sampai beberapa abad kemudian, bila terjadi penyebaran penduduk Pulau Jawa dengan berbagai alasan seperti transmigrasi atau penempatan tentara-tentara dari Pulau Jawa ke wilayah-wilayah Indonesia lainnya di luar Jawa, khususnya di daerah yang rawan konflik, penduduk pribumi setempat menyebutnya sebagai penjajahan oleh Orang Jawa.

******

Adapun tentang ‘penyerbuan’ ke Sunda Kelapa merupakan dongeng tentang berdirinya Kota Jakarta, yang selanjutnya dijadikan sebagai Hari Ulang Tahun Jakarta, yang diperingati setiap tanggal 22 Juni, sebagai berikut:

Konon penyerangan terhadap Sunda Kelapa yang dikuasai oleh Pajajaran disebabkan karena adanya perjanjian antara raja Pakuan penguasa Pajajaran dengan Portugis yang diperkuat dengan pembuatan tugu peringatan yang disebut Padrao.

Isi dari Padrao tersebut adalah Portugis diperbolehkan mendirikan Benteng di Sunda Kelapa dan Portugis juga akan mendapatkan rempah-rempah dari Pajajaran.

Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal atau Padrão Sunda Kelapa adalah sebuah prasasti berbentuk tugu batu (padrão) yang ditemukan pada tahun 1918 di Batavia, Hindia-Belanda.

Prasasti ini ditemukan kembali ketika dilakukan penggalian untuk membangun fondasi gudang di sudut Prinsenstraat (sekarang Jalan Cengkeh) dan Groenestraat (Jalan Kali Besar Timur I), sekarang termasuk wilayah Jakarta Barat. Padrao tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, sementara sebuah replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta.

Prasasti ini menandai perjanjian Kerajaan Sunda – Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme dan membawa barang-barang untuk “Raja Samian” maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, pangeran yang menjadi pemimpin utusan raja Sunda.

Padrão ini didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat untuk membangun benteng dan gudang bagi orang Portugis.

Pada awal abad ke-16, pelabuhan-pelabuhan perdagangan penting di pantai utara Pulau Jawa sudah dikuasai oleh Kesultanan Demak dan Kesultanan Banten, dan Kesultanan Cirebon.

Khawatir peran pelabuhan Sunda Kelapa semakin lemah, raja Sunda, Sri Baduga mencari bantuan untuk menjamin kelangsungan pelabuhan utama kerajaannya itu. Pilihan jatuh ke Portugis, penguasa Malaka.

Dengan demikian, pada tahun 1512 dan 1521, Sri Baduga mengutus putra mahkota, Surawisesa, ke Malaka untuk meminta Portugis menandatangani perjanjian dagang, terutama lada, serta memberi hak membangun benteng di Sunda Kelapa.

Pada tahun 1522, pihak Portugis siap membentuk koalisi dengan Sunda untuk memperoleh akses perdagangan lada yang menguntungkan.

Komandan benteng Malaka pada saat itu adalah Jorge de Albuquerque. Tahun itu pula dia mengirim sebuah kapal, São Sebastião, di bawah komandan Kapten Enrique Leme, ke Sunda Kalapa disertai dengan barang-barang berharga untuk dipersembahkan kepada raja Sunda.

Dua sumber tertulis menggambarkan akhir dari perjanjian tersebut secara terperinci. Yang pertama adalah dokumen asli Portugis yang berasal dari tahun 1522 yang berisi naskah perjanjian dan tandatangan para saksi, dan yang kedua adalah laporan kejadian yang disampaikan oleh João de Barros dalam bukunya Da Asia, yang dicetak tidak lama sebelum tahun 1777.

Menurut sumber-sumber sejarah ini, raja Sunda menyambut hangat kedatangan orang Portugis. Saat itu Prabu Surawisesa telah naik tahta menggantikan ayahandanya dan Barros memanggilnya “raja Samio”.

Raja Sunda sepakat dengan perjanjian persahabatan dengan raja Portugal dan memutuskan untuk memberikan tanah di mulut Ciliwung sebagai tempat berlabuh kapal-kapal Portugis.

Selain itu, raja Sunda berjanji jika pembangunan benteng sudah dimulai maka beliau akan menyumbangkan seribu karung lada kepada Portugis. Dokumen kontrak tersebut dibuat rangkap dua, satu salinan untuk raja Sunda dan satu lagi untuk raja Portugal; keduanya ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522.

Pada dokumen perjanjian, saksi dari Kerajaan Sunda adalah Padam Tumungo, Samgydepaty, e outre Benegar e easy o xabandar, maksudnya adalah “Yang Dipertuan Tumenggung, Sang Adipati, Bendahara dan Syahbandar” Sunda Kelapa.

Saksi dari pihak Portugis, seperti dilaporkan sejarawan Porto bernama João de Barros, ada delapan orang. Saksi dari Kerajaan Sunda tidak menandatangani dokumen, mereka melegalisasinya dengan adat istiadat melalui “selamatan”.

Sekarang, satu salinan perjanjian ini tersimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, sementara satu salinan lagi disimpan di Arsip Nasional Torre do Tombo, Lisboa.

Pada hari penandatangan perjanjian tersebut, beberapa bangsawan Kerajaan Sunda bersama Enrique Leme dan rombongannya pergi ke tanah yang akan menjadi tempat benteng pertahanan di mulut Ciliwung.

Mereka mendirikan prasasti, yang disebut padrão, di daerah yang sekarang menjadi sudut Jalan Cengkeh dan Jalan Kali Besar Timur I, Jakarta Barat.

Adalah merupakan kebiasaan bangsa Portugis untuk mendirikan padrao saat mereka menemukan tanah baru.

Perjanjian inilah yang memicu serangan tentara Kesultanan Demak dipimpin Fatahillah ke Sunda Kelapa pada tahun 1527. Portugis gagal untuk memenuhi janjinya untuk kembali ke Sunda Kalapa pada tahun berikutnya untuk membangun benteng dikarenakan adanya masalah di Goa/India.

Sebelum benteng tersebut dibangun oleh Portugis, tahun 1526 Demak mengirimkan pasukannya menyerang Sunda Kelapa, di bawah pimpinan Fatahillah. Dengan penyerangan tentara Kesultanan Demak tersebut maka tentara Portugis dapat dipukul mundur dan berhasil “mengusir” orang Portugis dari Sunda Kelapa.

Kemenangan gemilang Fatahillah merebut Sunda Kelapa konon terjadi tanggal 22 Juni 1527 yang kemudian diperingati dengan pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti Kemenangan Abadi, atau Kemenangan yang Sempurna), disebut juga “fathan mubina” (kemenangan besar dan nyata).

Kemudian tanggal kemenangan Fatahillah terebut ditetapkan sebagai hari ulang tahun kota Jakarta, yang sebentar lagi akan diperingati oleh seluruh warga Jakarte. Angka tanggal, bulan dan tahun ini dari analisis menggunakan penanggalan Islam, bukan penanggalan Hindu-Jawa yang lazim digunakan pada waktu itu, seperti yang digunakan para pakar sebelumnya.

Aneh, bahwa perhitungan penetapan tanggal kemenangan itu didasarkan pada ‘utak-atik digatukkên’ berdasarkan pranåtåmångså, yakni penanggalan yang ada hubungannya dengan pertanian, bahwa nama Jayakarta diberikan pada “tanggal satu mångså kesatu”, yaitu pada 22 Juni 1527.

Tanggal itu dianggap berhubungan erat dengan masa panen. Sebagian besar warga Jakarta yang meyakini tanggal kelahiran kotanya ini. Tetapi sangat disayangkan, tidak ada yang mau meneliti lebih jauh apakah tanggal 22 Juni sebagai suatu tanggal yang pasti sebagai ketetapan Ulang Tahun Kota Jakarta!

Cantrik Bayuaji dan beberapa sejarahwan senior telah meragukan penetapan tanggal 22 Juni sebagai Hari Lahir Kota Jakarta, yang merupakan keputusan politik.

Sungguh ironis. kota yang menjadi pusat kekuasaan, ibukota Negara, warga kotanya menerima begitu saja keputusan politik 1956 tanpa melakukan kaji ulang kebenarannya.

Labuhan Kalapa dikuasai Kerajaan Sunda Pajajaran dan Orang Betawi sebagai pelaksana yang ngurusin Labuhan Kalapa. Pada saat Fatahillah menyerbu Labuhan Kalapa, ada 3.000 rumah orang Betawi yang dibumi hanguskan pasukan Fatahillah yang jumlahnya ribuan. Penduduk Betawi ini kemudian berlarian ke bukit-bukit hidup bagai Tarzan.

Babad Cirebon menuturkan: Wak Item sebagai Xabandar Labuhan Kalapa hanya punya pasukan pengikut sebanyak 20 orang. Dengan gigih melawan pasukan Fatahillah, walau akhirnya semua tewas, mati syahid melawan penjajah dari Jawa.

Xabandar Wak Item tewas dan ditenggelamkan ke laut oleh pasukan Fatahillan, sementara 20 orang pengikutnya semua juga tewas.

Dari kronik atau kitab babad tadi dapat disimpulkan bahwa tidak pernah ada pertempuran antara Fatahillah dan Portugis, dengan demikian tidak pernah ada peristiwa pengusiran bangsa Portugis di Sunda Kelapa oleh Tentara Demak, karena armada Fransisco de Xa tenggelam diperairan Ceylon. Jadi yang menghadapi Pasukan Fatahillah adalah Xabandar Wak Item dengan pengawal-pengawalnya yang berjumlah 20 orang.

Ketika Fatahillah menguasai Bandar Kalapa, maka orang-orang Betawi yang ada, tidak boleh mencari nafkah sekitar Bandar Labuhan. Ini diperkuat dengan Kitab Hikayat Tumenggung Al Wazir.

Orang-orang Betawi yang pindah karena rumah-rumah mereka dibumi hanguskan tersebar disekitar Tambora dan Tanah Sereal (Jakarta Barat sekarang).

Kalau kemudian hari orang Betawi membantu VOC menghancurkan kerajaan Jayakarta, adalah wajar karena dendam orang terusir. Dalam waktu 6 jam pada tahun 1619, kerajaan Jayakarta takluk pada VOC karena orang Betawi membantu.

Kembali pada kajian penetapan tanggal 22 Juni sebagai kelahiran kota Jakarta. Penggagas penetapan hari kelahiran Jakarta adalah Sudiro, Walikota Djakarta Raja (1958-1960).

Pada saat berkuasa itu, Sudiro meminta kepada Mr. M. Yamin (sejarahwan), Sudarjo Tjokrosiswono (wartawan) dan Mr. DR. Sukanto (sejarahwan) untuk mengkaji sejarah kelahiran kota Jakarta yang akan ditetapkan sebagai HUT Jakarta dikemudian hari.

Sukanto dalam penelitiaannya menggunakan perhitungan berdasarkan almanak Jawa dan Islam, karena dianggap Fatahillah adalah Muslim yang menghormati adat Jawa. Almanak Jawa digunakan berdasarkan penghitungan masa panen.

Untuk itu Sukanto memperkirakan nama Djakarta diberikan beberapa bulan setelah Maret 1527, berkaitan dengan mangsa panen. Sementara Prof. Dr. Husein Djajadiningrat meragukan tanggal satu mangsa kesatu pada 1527 jatuh pada 22 Juni bulan Masehi.

Dr.J.A.Brandes, ahli kebudayaan Jawa, menetapkan masa panen adalah mangsa kesepuluh (Kasadasa) yang jatuh pada 12 April sampai 11 Mei. Djajadiningrat menyatakan bahwa berdasarkan penanggalan Islam selalu dikaitkan dengan hari besar Islam atau bulan-bulan Hijryiah.

Patut diperhatikan bahwa bulan Rabiulawwal 933 H berlangsung sampai tanggal 4 Januari 1527. Sehingga ada kemungkinan penggantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta oleh Fatahillah terjadi antara tanggal 17 Desember sampai 4 Januari 1527.

Polemik 22 Juni untuk ditetapkan sebagai hari kelahiran kota Jakarta berlangsung cukup lama. Kemudian A.Heuken SJ menekankan keraguannya terhadap penetapan 22 Juni sebagai tanggal lahir Jayakarta.

Didalam kompilasi sumber-sumber sejarah Jakarta abad V (yang tertua) sampai tahun 1630 yang disusun oleh A.Heuken SJ, ditunjukkan bahwa penggantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang dilakukan Fatahillah yang dijadikan oleh Soekanto untuk menetapkan ulang tahun kota Jakarta “tidak terbukti oleh data sejarah apapun”.

Dengan begitu masihkah ada data bahwa sejarah memberikan informasi kebenaran tanggal 22 Juni sebagai kelahiran kota Jakarta ?

Fatahillah menyerbu Wak Itêm dan para pengikutnya di Labuhan Kalapa, bukan karena alasan agama, yang mengangap Wak Itêm dan para pengikutnya adalah para penyembah berhala, tapi bermaksud menguasai pintu dan jalur perdagangan.

Dengan demikian penetapan 22 Juni 1527 sebagai tanggal lahir Kota Jakarta adalah kesalahan sejarahkarena tidak ada sandaran data atau fakta sejarah dari manapun. Kecuali kompromi politik yang menghasilkan keputusan politik pada tahun 1960 oleh Soediro sebagai Walikota Djakarta Raja (1958-1960).

Setelah kita menelisik catatan sejarah, dimana ditetapkan perubahan nama Sunda Kelapa manjadi Jayakarta dan kemudian menjadi Jakarta, ternyata masih misteri dan kita tak usah meyakin-yakinkan diri kebenaran ini, karena ternyata (sebuah hipotesa) tak ada satupun fakta sejarah pun yang mendukung penetapan 22 Juni sebagai tanggal lahir Kota Jakarta.

Sebagai keputusan politik, tentu saja kita masih bisa mengubahnya demi kepentingan sejarah dan panutan generasi berikut.

to be continued [tü bi: kǝn’tinyu|ed]

Nuwun Sugêng malêm minggon, mangké dalu

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Telah Terbit on 20 April 2011 at 21:41  Komentar Dinonaktifkan pada Seri Nagasasra  
%d blogger menyukai ini: