Seri ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA

WEDARAN KEDELAPAN

On 12 Februari 2011 at 20:29 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA, SANG SIVA BUDA. POLITIK DAN SINKRETEISME RELIGIUS HINDHU-BUDDHA. Parwa ka-2
[Waosan kaping-8]

  1. Waosan kaping-1: Singasari Menuju Puncak Kejayaan, Parwa ke-1. On 28 Januari 2011 at 17:33,HLHLP 095;
  2. Waosan kaping-2: Singasari Menuju Puncak Kejayaan. Parwa ke-2. On 31 Januari 2011 at 00:58, HLHLP 096;
  3. Waosan kaping-3: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara bertahta di Tumapel. On 1 Februari 2011 at 01:08, HLHLP 097;
  4. Waosan kaping-4: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Cakrawala Mandala Nusantara. On 2 Februari 2011 at 21:32. HLHLP 98;
  5. Waosan kaping-5: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Menghadapi Pemberontakan Dalam Negeri. dan Wwang Tartar. On 4 Februari 2011 at 22:42. HLHLP 099;
  6. Waosan kaping-6: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Runtuhnya Kerajaan Singasari. On 6 Februari 2011 at 22:50. HLHLP 100.
  7. Waosan kaping-7: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Sang Siva Buda. Politik dan Sinkreteisme Religius Hindhu-Buddha. Parwa ka-1 On 8 Februari 2011 at 23:50 HLHLP 101.

Singasari, Masa Keemasan Kertanagara dan Keruntuhan Dinasti Rajasa, Analisis Antroreligi, Antropolitik, dan Sosiokultural atas Pemerintahan Kertanagara

Masa pemerintahan raja Kertanagara mendapat tempat khusus dalam Nagarakretagama. Kitab Pujasastra yang digubah dizaman Hayam Wuruk ini menempatkannya sebagai seorang Yogin sejati pengikut Tantrisme Subhuti. Ciri khas keagamaan Tantrisnya melahirkan konsepsi religius sinkretis Hindhu-Buddha, sebagai Tantrisme Kalacakra. Tak ayal kemudian, konsep religius ini mempengaruhi jalan kebijakan politik yang Kertanagara tempuh.

Pemerintahan raja Kertanagara sangat menarik perhatian, karena selama Kertanagara memegang pemerintahan, terjadi berbagai peristiwa sejarah yang penting untuk diketahui. Pemberitaan peristiwa sejarah itu pun kadang-kadang menimbulkan persoalan yang meminta pemecahan dari para ahli sejarah karena penjelasan mengenai jalannya peristiwa masih gelap.

Banyak peristiwa sejarah penting yang masih simpang-siur pemberitaannya, seperti ekspedisi Pamalayu atau perluasan cakrawala mandala, pemberontakan dalam negeri, pergantian para wreddha patih dan pengangkatan para yuwa patih, serta kejatuhan Kertanagara sebagai akhir dari kekuasaan Singasari atau dinasti Rajasa.

Tinjauan antropolitik, sosiokultural, dan religi sangat diperlukan demi terangnya masa-masa peralihan dari Singasari ke Majapahit ini. Pemusatan kajian dan pendekatan antropologi tidak bisa dipungkiri menjadi pilihan akhir dari metode penelitian atas pemerintahan Kertanagara, khususnya sebagai bagian dari analisis mikro raja-raja dinasti Rajasa.

Pemerintahan Kertanagara merupakan masa keemasan Singasari dan merupakan zaman lahirnya embrio gagasan Nusantara berupa perluasan cakrawala mandala yang diwujudkan dalam ekspedisi Pamalayu. Namun ironisnya, kemajuan disatu pihak beriringan denga kemunduran dipihak lain yaitu, pemberontakan Jayakatwang sebagai titik didih perlawanan atas sikap ahangkara raja Kertanagara.

Peristiwa-peristiwa sejarah disekitar masa Kertanagara mengandung paradoks yang melahirkan pertanyaan, jika demikian bagaimanaka kiranya bila masa Kertanagara dikaji dari sudut pandang antropologi prespektif religi antropolitik, dan sosiokultural berkaitan dengan kejatuhan Singasari?

Telah diutarakan bahwa penobatan Kertanagara berlangsung pada tahun 1176 Ç atau tahun 1254 M. Penobatan itu harus ditafsirkan bahwa Kertanagara pada waktu itu baru dinobatkan sebagai raja muda atau yuwaraja. Hal ini terbukti dari istilah makamngalnya (di bawah pengawasan) yang sering ditemukan dalam prasasti Kertanagara sebelum tahun 1929. Baru setelah raja Wisnuwardana wafat pada tahun 1190 Ç atau tahun 1268 M, maka Kertanagara mempunyai tanggung jawab penuh sebagai raja.

Sejak pembentukan kerajaan Singasari oleh Ken Arok alias raja Rajasa, yang pada waktu itu belum bernama Singasari tetapi Kutaraja, Kertanagara adalah raja pertama dan terakhir, alias satu-satunya raja Singasari yang penobatannya tanpa pertumpahan darah. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa terdapat kebenaran dalam pembunuhan beruntun dalam dinasti Rajasa awal menurut berita Serat Pararaton. Istilah saling bunuh-membunuh ini disebutkan dalam prasasti Mula-Malurung sebagai līna atau lebih jelasnya, kakek Nararya Seminingrat yang meninggal dibangku emas disebutkan sebagai sang lineng dampa kanaka.

Siapa namanya waktu masih kecil tidak diketahui. Baik Pararaton maupun Negarakretagama serta Prasasti Sarwadharma dan Kidung Panji Wijayakrama tidak menyebutnya. Negarakretagama dan prasasti Sarwadharma dengan tegas menyebut bahwa nama Kertanagara adalah nama abhiseka. Dalam Kidung Panji Harsawijaya, raja Kertanagara biasa disebut Siwa-Buddha. Gelar Siwa-Buddha dinyatakan pada prasasti Wurare, 1289, dan Negarakretagama 43 (5), Sang mokten siwabuddhaloka adalah cerita Buddha tentang Kama Rupini dari Singhalanggala.
Sebabnya tidak lain karena prabu Kertanagara memang mempunyai pengetahuan yang sangat mendalam tentang ajaran agama Siwa dan Buddha dan memiliki pengetahuan tentang ajaran agama.

Negarakretagama agak panjang menguraikan pemerintahan raja Kertanagara. Sudah pasti bahwa uraian itu hanya menyinggung segi-segi yang baik saja, karena uraian itu ditulis dalam rangka pujasastra. Pujasastra dapat dipandang sebagai kegiatan ritual Hindu yang bertujuan untuk memuja kebaikan dan kehebatan leluhur terutama leluhur raja-raja yang memerintah.
Negarakretagama dibuat oleh Prapanca dalam rangka memuja leluhur raja Hayam Wuruk.

(I.) Analisis Antroreligi atas paham Kalacakra Prabu Kertanagara.

Sebagaimana telah dijelaskan dimuka. Si Prabu Kertanagara menganut paham Kalacakra dan paham ini dalam Negarakretagama pupuh 43 (3) disebut sebagai Tantra Subuthi oleh Prapanca.

Ndan ri wreddhi nireki matra rumegep sarwwakriyadhyatmika
Mukya’ng tantra subhuti rakwa tinengot kempen rasanye hati

[Berlomba-lomba beliau menghirup seluk-beluk kebatinan,
Pertama-tama tantra subuti diselami, intinya masuk ke hati,]

Alasan dipegangnya paham ini oleh Sang Prabu Kertanegara disebutkan dalam Negarakretagama lanjutan pupuh 43 (3),

Puja yoga samadhi pinrih ira’n amrih sthitya ning rat kabeh
Astam tang ganasastra nitya madulur ddaneniwo ring praja.

[Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja,
Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba
].

Dari keterangan di atas ada beberapa pokok bahasan yang harus diperhatikan dalam kajian antroreligi paham Kalacakra yang dianut oleh Sang Prabu Kertanagara ternyata merupakan sinkreteisme Hindhu-Buddha dan secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Unsur Buddha Aliran Mahayana

Unsur-unsur kemahayanaan paham Kalacakra yang dianut oleh Sang Prabu Kertanagara antara lain:

1.1. Tantra Subuthi.

Dalam Negarakretagama pupuh 43 (3) disebutkan, “…berlomba-lomba beliau menyerap seluk beluk kebatinan. Terutama tantra Subuthi, diselami rasanya merasuk kedalam hati. Subuthi adalah salah seorang pengikut Buddha. Nama itu terdapat dalam karya Mahayana yang bernama Prajna Paramita.

Tantra yang diikuti oleh Prabu Kertanagara dikatakan berasal dari Subuthi. Namun, dalam daftar karya mantra dari aliran Mahayana nama itu tidak ada. Sedangkan gelar bajra yang terdapat dalam prasasti Tumpang dan diberikan kepada Sri Baginda Kertanagara, memperkuat asumsi bahwa beliau ahli dalam mantarayana atau tantrayana.

Dalam prasasti itu beliau bernama Jnanesvara Bajra.
Bajra adalah simbol kebijaksanaan abadi serta tak terhancurkan yang melingkupi segala sesuatu. Merupakan sebuah benda suci yang menjadi alat dalam puja lambang dari maitri (kasih sayang), uppayakausalya (hukum sebab akibat) dan juga samyaksambodhi (kesadaran). Kata bajra juga berarti petir atau intan.

Nama tersebut didapat pula dalam Negarakretagama pupuh 43 (2) dengan susunan yang agak berbeda sedikit, yakni Sri Jnanabajresvara. Nama itu nama abhiseka sebagai Jina. Atau dapat dikatakan, bila Tantra Subuthi ini dilihat dari sudur pandang antroreligi jelas bahwa raja Kertanagara lebih menerima ajaran ini karena di dalamnya tersimpan unsur-unsur esoteris yang berupa paham kesamaan manusia sebagai arketipe ketuhanan dalam mikrokosmos yang bilamana seseorang telah masuk kedalamnya maka seluruh larangan dalam pancasila budhis terabaikan, sebab ia telah menjadi Jina atau Wairocana Locana.

Bhoddisatwa tertinggi yang mewujud dan lepas dari ikatan kemelakatan panca skandha manusia, dengan demikian ia hanya menggunakan kamanya sebagai jalan hatha yoga menuju kebudhaan.
Prajñā-Pāramitā Hrdāyā Sutrā merupakan salah satu Sutra yang terkenal dalam umat Buddha Mahayana.

Terjemahan Sutra ini dalam bahasa Indonesia dikenal nama Sutra Hati. Untuk memahami Sutra ini, sebaiknya di baca dengan hikmat agar dapat lebih dipahami.
Sutra Mahayana, Prajñā-Pāramitā Hrdāyā Sutrā, di dalamnya disebutkan bahwa bhoddisattva Avalokitesvara memperoleh kesadaran tentang kesunyataan dari panca skandha hingga dapat berdiam dalam kebijaksanaan sempurna – prajna paramita, dan mencapai annutara samyaksamboddi – pencerahaan kebuddhaan tiada tara.

Sang Avalokitasvara sedang membina Samadhi Kebijaksanaan Sejati untuk mencapai nirvana. Dalam pengalaman batin, dengan jelas terlihat, bahwa lima kelompok kegemaran (Panca-Skhanda) itu sebenarnya adalah kosong (Sunyata). Dengan pencapaian meditasi ini, maka Sang Avalokitesvara telah terbebas dari segala sumber sengsara dan derita.

Maha Prajna Paramita adalah Mantra suci Agung, Mantra unggul dan Mantra yang tiada taranya; Yang benar dan tepat untuk menghapuskan semua derita, karena itulah Sang Avalokitasv mengucapkan Mantra Prajna Paramita yang berbunyi : “Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhisvaha

Teks lengkap:

Om namo bhagavatyai arya-prajnaparamitayai!

Namah Sarvajñāya
Âryāvalokiteśvaro bodhisattvo gambhìrāyām prajñā-pāramitāyām caryām caramāņo vyavalokayati sma: Pañcaskandhās tāmś ca svabhāva-śūnyān paśyati sma.

Terpujilah wahai Yang Maha Mengetahui.
Ketika Sang Maha Suci, Bodhisattva Âryāvalokiteśvara sedang bermeditasi merenungkan Prajñā-Pāramitā (Kesempurnaan dalam Kebijaksanaan), nampaklah bahwa pañcaskandha (Lima Kelompok Kehidupan) adalah hampa.

Iha Śāriputra rūpam śūnyatā, śūnyataiva rūpam. Rūpān na pŗthak śūnyatā, śūnyatāyā na pŗthag rūpam. Yad rūpam sā śūnyatā, yā śūnyatā tad rūpam.
Evam eva vedanā-samjñā-samskāra-vijñānāni.

Di sini oh Śāriputra, rupa adalah kosong, dan hampa tidak berbeda dengan ada. Maka ada pada hakekatnya adalah kosong dan tiada adalah rupa. Demikian pula halnya dengan rasa, pikiran, keinginan, dan kesadaran.

Iha Śāriputra sarvadharmāh śūnyatā-lakşaņā anutpannā aniruddhā amalāvimalā nonā na paripūrņāh.

Di sini oh Sariputra, ketiadaan dari segala sesuatu adalah tidak terlahirkan, tidak termusnahkan, tidak ternodakan, tidak terbersihkan, tidak tertambahkan, dan tidak terkurangkan.

Tasmāc Chāriputra śūnyatāyām na rūpam na vedanā na samjñā na samskārā na vijñānam.
Na cakşuh-śrotra-ghrāņa-jihvā-kāya-manāmsi. Na rūpa-śabda-gandha-rasa-spraşţavya-dharmāh. Na cakşur-dhātur yāvan na mano-vijñāna-dhātuh.

Oleh sebab itu, oh Chāriputra, dalam kekosongan itu maka tiada ada, tiada rasa, tiada pikiran, tiada keinginan, dan tiada kesadaran; tiada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran; tiada rupa, tiada suara, tiada bau, tiada rasa, tiada rasa-sentuh dan tiada gambaran pikiran; tiada alam penglihatan sampailah kepada tiada alam kekuatan pikiran dan kesadaran (delapan belas alam pengenal)
Bukan mata (na cakşuh), bukan telinga (na śrotram), bukan hidung (na ghrāņam), bukan lidah (na jihvā), bukan raga (na kāyah), bukan batin (na manah). Bukan bentuk (na rūpam), bukan suara (na śabdah), bukan bau (na gandhah), bukan rasa (na rasah), bukan rasa-sentuh (na spraşţavyam), bukan gambaran-pikiran (na dharmah). Bukan unsur mata (na cakşur-dhātuh), sampai kepada bukan unsur pikiran dan kesadaran (na mano-vijñāna-dhātuh).

Na vidyā nāvidyā na vidyākşayo nāvidyākşayo yāvan na jarāmaraņam na jarāmaraņakşayo na duhkha-samudaya-nirodha-mārgā, na jñānam na prāptih.

Bukan pengetahuan (na vidyā), bukan kebodohan (nāvidyā), bukan akhir pengetahuan (na vidyākşayah), bukan akhir kebodohan (nāvidyākşayah), sampai kepada bukan umur tua dan kematian (na jarāmaraņam), bukan akhir umur tua dan kematian (na jarāmaraņakşayah), bukan penderitaan (na duhkham), bukan asal-mula penderitaan (na duhkha-samudayah), bukan lenyapnya penderitaan (na duhkha-nirodhah), bukan jalan yang menuju lenyapnya penderitaan (na mārgāh), bukan kebijaksanaan (na jñānam), bukan pencapaian (na prāptih).

Tasmād aprāptitvād bodhisattvānām prajñāpāramitām āśritya viharaty acittāvaraņah, cittāvaraņa-nāstitvād atrasto viparyāsātikrānto nişţhanirvāņah, tryadhavavyavasthitāh sarvabuddhāh prajñāpāramitām āśrityānuttarām samyaksambodhim abhisambuddhāh.

Karena bukan pencapaian, maka Bodhisattva berkelana tanpa rintangan batin melalui pelaksanaan Prajñāpāramitā. mengandalkan Kebijaksanaan Sejati untuk mencapai nirvāņa; oleh sebab itu hati nuraninya telah terbebaskan dari segala kemelekatan dan halangan. Karena tidak ada lagi kemelekatan dan halangan, maka tidak ada rasa takut dan khawatir, dan dapat terbebas dari ilusi dan keterperdayaan, dengan demikian dapat mencapai Kesempurnaan Sejati. Para Budha di masa lampau, sekarang, dan yang akan datang membina pada Kebijaksanaan Sejati untuk mencapai Kesadaran Sejati Tertinggi.

Tasmāj jñātavyam prajñāpāramitā-mahāmantro mahāvidyāmantro ‘nuttaramantro ‘samasama-mantrah, sarvaduhkhapraśamanah, satyam amithyatvāt prajñāpāramitāyām ukto mantrah, tad yathā: Gate Gate Pāragate Pārasamgate Bodhi Svāhā.

Iti Prajñāpāramitā-hÂdayam samāptam.

Oleh karena itu Prajñāpāramitā dikenal sebagai Mantra Yang Agung (mahāmantrah), Mantra Pengetahuan Yang Agung (mahāvidyāmantrah), Mantra Yang Tertinggi (anuttaramantrah), Mantra Yang Tanpa Banding (asamasama-mantrah), yang dengan pasti mampu melenyapkan semua penderitaan (duhkha).
Mantra Prajñāpāramitā yang (seharusnya) diucapkan dengan benar tanpa salah adalah:

Gate Gate Pāragate Pārasamgate Bodhi Svāhā”.

Demikianlah Prajñāpāramitā-hŗdaya-sūtra telah selesai diwedarkan

Catatan:

1. Arti kata:
aprāptitvād = bukan pencapaian;
āśritya (ind) = mencari suaka; memperoleh suaka; menggunakan; memakai; praktek;
viharati (vi + √hŗi) = cerai berai; bubar; buyar; terpisah; terbuka; musnah; hancur; menjelajahi; berkelana melalui; berjalan; berdiam; tinggal;
acittāvaraņah (a + citta + āvaraņah) = tanpa rintangan batin;
nāstitvād (na + astitvād) = tidak terdapat, tidak ada; tiada;
atrasto (a + trasta) = tidak gemetar; tidak gentar; tidak takut;
viparyāsa (m) = jatuhnya; tergulingnya; kebingungan; lamunan; khayalan;
atikrānta (m,f, n) = teratasi; terlampaui; terseberangi;
nişţha (m, f, n) = terpancarnya; mengeluarkan; menghasilkan; tercapainya; puncak;
nirvāņa = padamnya nafsu;
jñātavya (m, f, n) = diketahui; dikenal; dipahami; dipertimbangkan sebagai;
ukta (p kl; √vac) = yang diucapkan;
samāpta (m, f, n) = berakhir; tamat; lengkap; selesai;

2. Mengingat keterbatasan pemahaman atas mahāmantrah ini, mohon maaf bila terjadi salah di dalam menterjemahkan Prajñā-Pāramitā Hrdāyā Sutrā mahāmantrah ini. Kepada sanak kadang yang lebih mumpuni dipersilakan melakukan koreksi demi untuk kesempurnaannya.

Pada permulaan abad ke-8 para pendeta Mahayana membawa kitab Mahavairocanasutra ke Tiongkok dan Tibet. Sudah pasti bahwa kitab-kitab tersebut juga sampai di Indonesia sekitar tahun 1200 atau abad ke-13.
Tidaklah aneh jika kemudian ajaran ini dikenal di Singghasari masa Kertanagara berupa paham Kalacakra. Prapanca mengidentifikasikan aliran Vajrayana ini dengan Tantra Subuthi. Tampak ada persesuaian yang mencolok antara Vajrayana dengan praktik hathayoga dan aliran Tantrayana Subuthi yang dipeluk oleh raja Kertanagara. Negarakretagama pupuh 43 (3). Terbukti dalam makamnya, Kertanagara diwujudkan manunggal dalam arca Wairocana-Locana.

1.2. Samadimantra dan Abhisekakrama.

Mantra adalah ucapan yang mengandung kekuatan gaib. Tiap bunyi, suku atau kata, berarti pendalaman tentang kekuatan gaib sebagai unsur kekuatan Brahman (purushavatara-Hindu) atau sebagai pembangkitan energi pencerahan dari alam dharmakaya sebagai bentuk sugestif-witarka dari Sang Wairocana, bagaimana Trikaya dalam kosmologi Buddha mengalir dan mengemanasi dalam semesta. Tiap bunyi, suku kata yang diucapkan dalam mantra adalah unsur dari kata mutlak-parâ vâc.

Mengucapkan bunyi, suku atau kata yang bersangkutan berarti membangkitkan kekuatan gaib yang terkandung didalamnya, sehingga jelas terlihat bagaimana mantra membangkitkan tenaga supranatural yang setiap bunyi suku katanya dianalogikakan dengan nama-nama dewata.

Kepercayaan kepada mantra tumbuh dengan suburnya dalam aliran Mahayana. Mereka yang telah terlatih dalam samadhi mempunyai kemampuan supranatural.
Samadhi dalam Budha Mahayana dilambangkan dalam mudra Amithaba dhyanamudra-kontemplasi pemusatan pikiran pada dasabhumika bhoddisattva.

Bagi mereka tiap bunyi, tiap bunyi yang diucapkan membangkitkan kekuatan gaib sepeti yang dimaksud. Demikianlah kombinasi pemakaian mantra, mudra dan samadhi pada hakikatnya pembangkitan kekuatan gaib dari tiga jurusan, yakni dari ucapan, gerak, dan pikiran. Pembangkitan yang demikian, bagaimanapun sangat intensif.

Demikianlah sadhaka, yakni orang yang berlatih atau terlatih, mampu menguasai segala kekuatan menurut kehendak hatinya. Karena pemusatan diri kepada suatu mantra yang mempunyai pertalian erat dengan dewa tertentu, sadhaka memerintahkan dewa yang bersangkutan menitis kedalam dirinya. Akibatnya, ia memiliki kekuatan gaib seperti dewa yang dipanggilnya.

Negarakretagama pupuh 41 (5), bagaimana Kertanagara diharapkan menjadi dewa penakluk atas kerajaan Malayu dengan harapan Malayu dapat ditaklukkan dengan kedewaan Kertanagara sebagai Jina.
Penggunaan mantra dan bersamadhi hanya dapat berhasil atas petunjuk seorang guru yang mahir dalam hal bersangkutan. Hanya guru yang demikianlah yang mempunyai wewenang untuk menahbiskan seorang murid atau seorang dik’a. Dengan penahbisan itu, murid yang bersankutan wewenang untuk turut memiliki atau menguasai kekuatan gaib. Penahbisan itu disebut abhiseka.

Dari penjelasan ini bila dilihat dari sudut pandang antroreligi akan menjadi kesimpulan bahwa penahbisan Kertanagara sebagai Jnanabajreswara (Negarakretagama) atau Jnanesvara Bajra (Prasasti Tumpang-Prasasti Singasari) menjadi sebentuk penteofanian diri Kertanagara sebagai nirmanakaya.

2. Unsur Hindhu aliran Siwa

Yoga Kamayoga, diperlukan dalam menjalankan samadhi dan mantra. Yoga berasal dari kata yug yang berarti menghubungkan atman kepada Brahman (realitas tertinggi) atau dengan kata lain purusha (meleburkan diri) kedalam widyut-energi murni atau mahapurusha.

Dalam kajian antroreligi tindakan seperti ini disebut sebagai memanifestasikan majestas (keagungan) yang sakral kepada yang profan (being).
Dalam paham Kalacakra dari kacamata Hindhu berarti penghubungan diri dengan Ishvara (realitas tertinggi) dengan menggunakan kama-nafsu ragawi sabagai kamasana-kendaraan jasmani menghalau maya-ilusi, hingga mencapau mahamaya-realitas ilusi, menuju moksa atau kelenyapan.

Penggunaan nafsu-maya dalam Yoga Hindu telah lama dilakukan bahkan dikanonkan dalam kitab Kamasutra. Kitab tantris yang mengajarkan teknik-teknik penyaluran kama dengan tujuan pencapaian moksa bukan sebaliknya.

Moksa dalam Hindu umumnya terjadi setelah kematian, namun dalam Tantrisme Kalacakra moksa dapat dicapai bahkan sebelum kematian menghadang. Namun untuk meraihnya diperlukan tekhnik yoga tertentu. Dalam hal ini terutama hathayoga, yakni yoga yang sangat keras, memegang peranan penting. Yogin, atau praktisi yoga laki-laki (Yogini untuk perempuan) yang sedang menjalankan yoga tersebut, harus berusaha membangkitkan ular sebagai titisan dewi Parwati sakti Siwa.

Ular itu akan menutup saluran tertentu dalam badan yang akan memberikan akibat kemenangan atas samsara-kesengsaraan. Kemenangan atas samsara berarti kelepasan dari lingkaran reinkarnasi atau moksa. Latihan itu disebut tantrayana, latihan membangkitkan Dewi.

Dalam pandangan Tantrayana, jiwa manusia adalah atman, percikan terkecil dari Brahman. Bila atman berhasil melebur dalam Brahman melalui hathayoga maka ia akan menjadi mahatman atau jivan mukta. Dalam mitologi atman analog dengan deva (sinar) dan Brahman adalah devi, sehingga muncullah kesimpulan bahwa devi atau sakti (atman) adalah aspek dinamis semesta (prajna) Brahman dan Brahman adalah konstanitas semesta. Keberhasilan membangkitkan sakti dan menyatunya dengan sang dewi ular sebagai titisan sakti Siwa adalah bentuk kebahagiaan yang tertinggi yang dapat dicapai.

Dasar filsafat kepercayaan ini ialah bahwa realitas yang tertinggi ialah persatuan antara dua sifat yang berjenis maskulin dan feminin. Jenis maskulin adalah aspek yang tertinggi, sedangkan jenis feminin adalah aspek pembebasan. Yang pertama disebut upaya, yakni syarat. Maksudnya ialah syarat mencapai kebenaran. Yang kedua bersifat pasif, merupakan aspek pembebasan, disebut prajna.

Kesatuan antara maskulinitas dan feminitas melaksanakan kesatuan transendental, mengakibatkan pembebasan dari samsara. Berdasarkan pandangan itu, maka semua dewa, Buddha dan boddhisattva mempunyai sakti yang berupa dewi atau perempuan. Kesatuan antara jenis maskulin dan jenis feminin adalah manifestasi dari prinsip tertinggi.

Demikianlah dapat dipahami mengapa dalam tantrayana, wanita sebagai pendukung feminitas mendapat kehormatan luar biasa. Seorang wanita yang menjadi yogini dengan sendrinya mendapat kehormatan dan kedudukan yang sangat tinggi, lebih tinggi daripada wanita biasa. Oleh karena itu, yogini dipandang sebagai salah satu jalan yang mulia untuk mencapai pembebasan. Jika dilakukan dengan awidya, mengakibatkan klesa-dosa atau leta yang merupakan perintang kejalan moksa.

Terbukti dalam pendarmaannya, di Sagala Kertanagara ditegakkan arca Ardhanesvara yang berarti Ishvara setengah Nara/Wanita (ard = setengah; nara = wanita; ishvara = Ishvara/Siwa yang merupakan arca Siwa manunggal dengan saktinya, yakni dewi Parwati.

Ånå candhaké.

Mêkatên, dongèng kapunggêl dumugi sêmantên rumiyin. Dongèng tutugé, dongèng pungkasan:Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Sang Siva Buda. Politik dan Sinkreteisme Religius Hindhu-Buddha. Parwa ka-3.

Nuwun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 18:02  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-sri-maharajadhiraja-krtanagara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. lho, dereng wedhar ta ki, …
    kula tetep setiya nengga tutugipun dongeng kertanegara lho ki, ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: