Seri ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA

Dikirim pada tanggal 2011/02/16 pukul 21:04

WEDARAN KESEMBILAN

Nuwun,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA, SANG SIVA BUDA. POLITIK DAN SINKRETEISME RELIGIUS HINDHU-BUDDHA. Parwa ka-3.
[Waosan kaping-9. Dongeng Pungkasan Seri Singasari
Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara]

  1. 1. Waosan kaping-1: Singasari Menuju Puncak Kejayaan, Parwa ke-1. On 28 Januari 2011 at 17:33,HLHLP 095;
  2. Waosan kaping-2: Singasari Menuju Puncak Kejayaan. Parwa ke-2. On 31 Januari 2011 at 00:58, HLHLP 096
  3. Waosan kaping-3: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara bertahta di Tumapel. On 1 Februari 2011 at 01:08, HLHLP 097;
  4. Waosan kaping-4: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Cakrawala Mandala Nusantara. On 2 Februari 2011 at 21:32. HLHLP 98;
  5. Waosan kaping-5: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Menghadapi Pemberontakan Dalam Negeri. dan Wwang Tartar. On 4 Februari 2011 at 22:42. HLHLP 099;
  6. Waosan kaping-6: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Runtuhnya Kerajaan Singasari. On 6 Februari 2011 at 22:50. HLHLP 100.
  7. Waosan kaping-7: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Sang Siva Buda. Politik dan Sinkreteisme Religius Hindhu-Buddha. Parwa ka-1 On 8 Februari 2011 at 23:50 HLHLP 101
  8. Waosan kaping-8: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Sang Siva Buda. Politik dan Sinkreteisme Religius Hindhu-Buddha. Parwa ka-2. On On 12 Februari 2011 at 20:29 HLHLP 103

(II.) Analisis Antropolitik atas Pemerintahan Raja Kertanagara

Kidung Harsawijaya memberitakan bahwa Pemerintahan raja Kertanagara sangat dibenci oleh para petinggi kerajaan di zaman Wisnuwardhana karena mereka dipecat oleh Kertanagara akibat menentang politik perluasan cakrawalamandala.

Dendam kesumat ini menurut Kidung Panji Wijayakrama menimbulkan pemberontakan-pemberontakan atas pemerintahan Sri Baginda Kertanagara. Walaupun dapat dipadamkan secara militer, secara ideologi kebencian itu mendarah daging dalam hati lawan politik Kertanagara.

Kebencian dan dendam memuncak dengan pemberontakan Jayakatwang atas hasutan Dyah Arya Wiraraja adipati Sumenep [Negarakretagama pupuh 44 (4)] dalang intelektual kejatuhan Kertanagara.

Bagaimana kiranya sebab-musabab perlawanan ini lahir dari mikro menjadi makro hanya dapat dilihat dari pendekatan antropolitik atas pemerintahan raja Kertanagara.

Dengan kata lain memandang pola kebijakan politik raja Kertanagaralah sebagai sebab kemunculan tindakan kontra-politik mikro yakni pemberontakan Mahisa Rangga serta Caya Raja [Negarakretagama pupuh 41 (5)] atau Kalana Bhaya (Pararaton) yang berhasil dipadamkan Kertanagara menjadi tindakan kontra-politik makro yang akhirnya meruntuhkan kekuasaannya.

Dengan kata lain, pendekatan antropolitik mengasumsikan bahwa perlawanan politik mikro dan makro itu adalah bentuk lain dari peribahasa senjata makan tuan.

Dikatakan demikian, walaupun Kertajaya melaksanakan politik perkawinan dengan Jayakatwang dengan harapan mempererat tali kekeluargaan antara Singasari-Kediri, melalui perkawinan antara anak Kartanagara dan Ardhraja anak Jayakatwang tidak menyebabkan dendam kesumat itu mereda.

Solusi Kertanagara adalah solusi politis jangka pendek yang hanya menyelesaikan masalah dalam interval waktu singkat dan tidak memberikan solusi jangka panjang.

Pendekatan antropolitik, menguraikan pola pemerintahan Kertanaga secara kausal dari dalam personalitas-religius independensi raja Kertanagara, sebagai penyebab dari keruntuhan kerajaannya sendiri, yakni:

1. Sikap ahangkara

Telah dijelaskan dimuka tentang dasar pikiran raja Kertanagara sebagai titisan Jina di kerajaan Singasari. Terbukti bahwa sebagai Jina beliau tidak hanya menguasai kekuatan gaib di semesta alam, tetapi juga menguasai kerajaan secara nyata.

Kekuasaan rohaniah dan lahiriah yang terdapat pada satu orang itu pasti saling mempengaruhi. Dalam kajian sosial-religi, pandangan agama dinilai dapat mempengaruhi pola pikir dan paradigma seseorang baik secara personal-intern maupun secara personal-ekstern.

Demikianlah, dapat diharapkan bahwa dasar pikiran raja Kertanagara sebagai Jina juga mempengaruhi politik kenegaraan yang dipegangnya. Kertanegara merasa kuat dan mampu menghindarkan segala bencana.
Sebagai raja yang secara positif menguasai orang-orang di Keraton dan diwilayah Singasari, ia merasa orang yang paling tinggi.

Demikianlah dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Pararaton kita dapati peristiwa sejarah tentang pemecatan mahamantri patih Raganata, seorang yang bijak lagi cakap dalam melaksanakan tugasnya. Mahamantri empu Raganata selalu memberikan nasihat-nasihatnya kepada sang prabu. Segala kesulitan dalam menjalankan pemerintahan secara jujur dikemukan. Tetapi tindakan-tindakan yang demikian itu tidak disukai oleh batara Siwa Buddha, kahngkaraneng bhumi.

Epiteton itu mengandung pengertian bahwa raja Kertanagara mengagungkan kekuatannya sendiri. Ia sadar bahwa ia menguasai kekuatan gaib. Akhirnya, mahamantri Raganata berhenti dari jabatannya sebagai patih, dan dilorot menjadi adhyaksa di Tumapel.

Pengarang Panji Wijayakrama itu melanjutkan uraniannya, bahwa raja Kertanagara bersikap ahangkara atau angkuh terrhadap siapapun juga. Artinya, ia tidak takut menghadapi siapa pun juga.

Dalam hal ini, sikap ahangkara itu ditujukan kepada mahamantri bijak empu Raganata yang telah berusia lanjut. Sudah pasti ada sebabnya, mengapa raja Kertanagara serta merta menghentikan patihnya dan menggantikannya dengan Mahisa Anengah dan Apanji Angragani.

Pada saat pemecatan itu, raja Kertanagara merasa seakan-akan disiram kejahatan atau bermandi kejahatan, heran mengapa empu Raganata terlalu menurutkan nafsunya, terlalu mementingkan kedudukannya. Yang terang ialah bahwa raja Kertanagara tidak dapat menerima keberatan-keberatan yang dikemukakan oleh Mpu Raganata.

Sikap ahangkara itu ditunjukkan pula oleh raja Kertanagara kepada Kaisar Tiongkok Kubilai Khan Khan. Dalam bidang politik, raja Kertanagara ingin menguasai Nusantara. Sejak tahun 1275 M (menurut Negarakretagama), ia telah mulai dengan pengiriman tentara keluar Jawa.

Sikap ahangkara itu semakin membuncah pada saat utusan Kaisar Khan, Meng Khi mengirim surat perintah tunduk kepada raja Kertanagara. Dibalasnya surat itu dengan menyuruh memahatkan surat balasan Kertanagara pada kepala Meng Khi.

Itulah sekedar contoh sikap ahangkara raja Kertanagara. Ia terlalu mengagungkan kekuasaannya sebagai Jina dan sebagi raja. Ia tidak takut kepada siapapun. Juga tidak takut kepada kekuasaan kaisar Tiongkok.

2. Hubungan antara Kubilai Khan dan Kertanagara

Setelah kaisar Kubilai Khan melihat utusannya kembali dengan luka di dahinya, ia sangat marah. Kemudian ia menyiapkan tentaranya yang terdiri dari orang Mongolia untuk menyerbu Singasari. Ekspedisi terjadi pada tahun 1292. demikianlah pengiriman tentara Mongolia itu pada hakikatnya tidak ada hubungannya dengan undangan adipati Wiraraja dari Sumenep untuk menolong Raden Wijaya dalam memerangi raja Jayakatwang di Kediri, seperti diuraikan dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsa Wijaya.

3. Politik Perkawinan dan Gagasan Cakrawalamandala

Bila dilihat lebih dalam gagasan cakrawalamandala Kertanagara sebagai usaha membendung hegemoni Kubilai Khan atas Asia umumnya dan Asia Tenggara khususnya akan lebih berdasar dan bersumber pada watak ahangkara raja Kertanagara.

Beliau sadar akan keagungan dan kekuasaannya. Beliau tidak mau tunduk terhadap kaisar Kubilai Khan. Kesadaran akan keagungan itu menimbulkan keberanian untuk menanggulangi kekuasaan dan nafsu menjajah kaisar Kubilai Khan di wilayah Nusantara.

Dalam Negarakretagama pupuh 44 (3), hanya dinyatakan bahwa semua raja-raja sampai Nusantara tunduk kepada cicit batara Girinata, yakni Sri Kertanagara.

Dalam Panji Wijayakrama, tidak disebutkan kekuasaan raja Kertanagara di daerah seberang. Yang tersebut dalam pupuh VII (153) ialah kekuasaan raja Kertarajasa Jayawardana setelah pengusiran tentara Tartar dan sekembalinya tentara Singasari dari Melayu di bawah pimpinan Kebo Anabrang.

Sedangkan politik perkawinan Kertanagara, baik kedalam mandala Singasari dan keluar, bukanlah usaha membendung hegemoni Kubilai Khan melainkan sebagai upaya peredam kemungkinan pemberontakan.

Demikianlah landasan politik perkawinan di dalam negeri merupakan persiapan keamanan kerajaan, pengelakan pemberontakan.

4. Ekspedisi Pamalayu

Ekspedisi Pamalayu merupakan manifestasi gagasan cakrawalamandala raja Kertanagara sebagai bumper atas hegeomoni Kubilai di Asia Tenggara.

Negarakretagama pupuh 41 (5) menyebut pengiriman tentara oleh Kertanagara untuk menaklukkan Melayu pada tahun 1197 Ç atau tahun 1275 M. Pada pupuh 42 (1), Negarakretagama kembali menyebutkan pengiriman kembali tentara Singasari atas perintah Kertanagara untuk menaklukkan Bali. Ekspedisi kedua ini berhasil dan raja Bali ditahan sebagai tawanan perang.

Dilihat dari sudut antropolitik, secara jangka pendek raja Kertanagara sepintas berhasil melaksanakan politik cakrawalamandala namun bila dilihat efek politik terhadap stabilitas dalam negeri adalah negatif, karena bermunculan pemberontakan mikro (Mahisa Rangga dan Cayaraja) serta pemberontakan makro (Jayakatwang).

5. Pemberontakan atas Raja Kertanagara sebagai penyebab runtuhnya Kerajaan Singasari

Telah dijelaskan secara singkat di atas bahwa ekspedisi Pamalayu rancangan raja Kertanagara menimbulkan tindakan kontra-politik sejak ekspedisi itu masih berupa gagasan perluasan cakrawalamandala.

Tindakan-tindakan kontra politik yang dilakukan para wreddha menteri menyebabkan mereka harus rela dilengserkan oleh raja Keranagara ke jabatan yang lebih rendah.

Berita Kidung Harsa Wijaya dan Kidung Panji Wijayakrama menguraikan pemecatan para wreddha mantri yang dimulai dari pemecatan patih Raganata, demung Wiraraja, dan tumenggung Wirakreti.

Pengalihan posisi dari para wreddha menteri ke para yuwa menteri itu menyebabkan nestapa dalam hati pujangga Santasemereti, sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan pura keraton Singasari dan memilih bertapa di hutan.

Tak ayal pemecatan itu menimbulkan pemberontakan dari orang dalam keraton yang tidak terima atas keputusan sang prabu, pemberontakan Cayaraja/Baya/Bhayangkara pada tahun 1192 Ç atau 1280 M.

Pemberotakan ini sebagai pemberontakan atas pemecatan Mpu Raganata dan para wreddha menteri lainnya sebab mengingat makna literer Cayaraja adalah “bayang-bayang raja atau pelindung raja”, bhaya adalah dari kata bhayangkara yang berarti “pelindung, penjaga keselamatan.”

Pemberontakan tak hanya berhenti sebelum ekspedisi Pamalayu dijalankan, lima tahun setelah tentara Singasari menyerang Melayu, yakni tahun 1280 M. Mahisa Rangka memberontak kepada Kertanagara, pemberontakan ini jika secara jumlah fisik merupakan pemberontakan mikro namun dari segi politik, pemberontakan ini merupakan kontinuitas dari pemberontakan Cayaraja.

Skala pemberontakan yang semakin membesar bukannya membuat Kertanagara sadar akan kekeliruan kebijakan politik yang ia ambil malah ia semakin bertindak gegabah dengan mengirimkan kembali pasukan Singasari untuk menaklukkan Bali.

Sejak pengiriman pasukan Singasari pertama ke Melayu kekuatan militer penjaga keraton di Singasari telah menipis apalagi ditambah pengiriman tentara Singasari ke Bali.

Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Wiraraja, menurut Kidung Panji Wijayakrama segera ia mengutus Wirondaya untuk mengirimkan surat kepada Jayakatwang penguasa Gelang-Gelang yang berisi hasutan bahwa inilah momentum tepat untuk menyerang Singasari karena tak ada lagi pelindung militer disekeliling Kertanagara yang ada hanya “harimau tua,” Mpu Raganata.

Walaupun ekspedisi ke Bali berhasil, namun tidak dengan perlindungan raja Kertanagara di Singasari sendiri. Taktik dua arah yang dilancarkan Jayakatwang atas Singasari. Kertanagara gugur dan mengakhiri dinasti Rajasa Singasari.

(III.) Analisis Sosiokultural atas Pemerintahan Raja Kertanagara.

Uraian dari pendekatan antroreligi dan antropolitik diatas telah cukup menggambarkan watak sosial raja Kertanagara. Sifat ahangkara yang berlebihan atas pentahbisannya sebagai Jina melahirkan paradoks, alih-alih Kertanagara ingin menunjukkan kekuatan dan keagungannya (majestas) sebagai raja ternyata malah melahirkan sikap egoisme yang justru akhirnya menciptakan determinan antara dirinya dengan para pembesar-pembesar andalannya.

Pemecatan para wreddha mantri manimbulkan kebencian di hati rakyat, yang kemudian menimbulkan pemberontakan-pemberontakan baik mikro maupun makro. Secara sosial, Kertanagara mempersempit ruang gerak publik dan merampas hak bersuara dan mengeluarkan pendapat dikalangan warganya.

Bukannya menanggapi dengan memberikan alasan logis, malah ia semakin menunjukkan gelagai kediktatoran dengan memecat para punggawa ahli keraton.

Gagasan cakrawalamandala yang terwujud dalam ekspedisi Pamalayu menimbulkan kekhawatiran dalam diri para wreddha mantri akan timbulnya pemberontakan berskala besar.
Tanggapan Kertanagara atas permasalahan ini hanya berupa tindakan solusi politik jangka pendek yaitu perkawinan politik.

Jelasnya, keruntuhan Singasari disebabkan oleh tindakan gegabah raja Kertanagara, hilangnya simpati rakyat atas pemerintahan yang dikendalikannya serta semakin menipisnya kekuatan militer pelindung keraton Singasari.

Terlepasnya Kertanagara dari makna kultural yang seharusnya menjadi landasan pijakan membuatnya lari terlalu jauh dari garis lingkar konsensus hukum agama Hindu-Buddha sebagai patokan hukum sosiokutural, sehingga memudahkan pemberontak untuk menaklukkan Kertanagara baik dari segi politik, religi, dan sosial.

(IV.) Djoko Dolok

Joko Dolok adalah sebuah strategi politik masa lalu. Di tengah kota Surabaya, tepatnya di Taman Apsari, yaitu di jalan Joko Dolok, terdapat beberapa peninggalan kuno yang merupakan warisan budaya nenek moyang.

Salah satu peninggalan tersebut adalah arca Budha Mahasobya yang lebih dikenal dengan nama Joko Dolok.
Pada lapiknya terdapat prasasti yang merupakan sajak, memakai huruf Jawa kuno, dan berbahasa Sansekreta.

Dalam prasasti tersebut disebutkan tempat yang bernama Wurare, sehingga prasastinya disebut dengan nama prasasti Wurare.

Arca Budha Mahasobya ini berasal dari Kandang Gajak. Pada 1817 dipindahkan ke Surabaya oleh Residen de Salis. Daerah kandang Gajak dulu merupakan wilayah Kedoeng Wulan, yaitu daerah dibawah kekuasaan Majapahit.

Pada masa penjajahan Belanda termaasuk dalam Karesidenan Surabaya, sedangkan masa sekarang termasuk wilayah desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Arca Budha Mahasobya, yang terkenal dengan nama Joko Dolok ini, sekarang banyak dikunjungi orang-orang yang mohon berkah. Namun jika melihat lapiknya, sangat menarik karena memuat beberapa data sejarah di masa lampau. Angka prasasti menunjukkan 1211 Ç dan ditulis oleh seorang abdi raja Kertajaya bernama Nada.

Prasasti yang berbentuk sajak sebanyak 19 baik ini isi pokoknya dapat dirinci menjadi 5 hal, yaitu :

  1. Pada suatu saat ada seorang pendeta yang benama Arrya Bharad bertugas membagi Jawa menjadi 2 bagian, yang kemudian masing-masing diberi nama Jenggala dan Panjalu. Pembagian kekuasaan ini dilakukan karena ada perebutan kekuasaan di antara putra mahkota.
  2. Pada masa pemerintahan raja Jaya Şri Wisnuwardhana dan permaisurinya, Şri Jayawarddhani, kedua daerah itu disatukan kembali.
  3. Pentahbisan raja (yang memerintahkan membuat prasasti) sebagai Jina dengan gelar Şri Jnanja Şiwabajra. Perwujudan sebagai Jina Mahasobya didirikan di Wurare pada 1211 Ç.
  4. Raja dalam waktu singkat berhasil kembali menyatukan daerah yang telah pecah, sehingga kehidupan menjadi sejahtera.
  5. Penyebutan si pembuat prasasti yang bernama Nada, sebagai abdi raja.

Beberapa data tersebut jka dipadukan dengan data-data sejarah yang lain seperti kitab Negarakretagama, Pararaton, dan prasasti-prasasti yang lain, akan menghasilkan kerangka sejarah yang gamblang.

Sebelumnya kita tinjau kembali lima tokoh yang disebutkan dalam prasasti Wurare tersebut. Kelima tokoh tersebut adalah Arrya Bharad, Jaya Şriwisnuwarddhana yang disebut juga dengan nama Şri Hariwarddhana, Şri Jayawarddhani, Raja (yang memerintah membuat prasasti), dan Nada (sebagai pelaksana pembuat prasasti).

Siapa sebetulnya raja yang memerintah membuatkan prasati ini? Jawabnya tidak lain adalah raja Kretanegara, yaitu raja Singasari terakhir.

Dalam prasasti disebutkan bahwa ia adalah anak raja Şri Jaya Wisnuwarddhana dengan Şri Jayawarddhani.
Nama Şri Jaya Wisnuwarddhana sekarang lebih dikenal dengan nama Wisnuwarddhana atau Ranggawuni. Kemudian Arrya Bharad, nama ini dikenal pada masa pemerintahan raja Airlangga. Sedangkan Nada sudah jelas disebutkan bahwa ia adalah abdi raja.

Selanjutnya dari prasasti ini dapat diketahui data-data sejarah yang penting sebagai berikut:
Pada jaman kerajaan Medang, yaitu masa akhir pemerintahan raja Airlangga, tepatnya 963 Ç, terjadi pembagian kerajaan menjadi dua.

Hal ini terpakasa dilakukan untuk menghindari perebutan kekuasaan diantara dua putra mahkota. Pembagian kerajaan dilakukan oleh seorang pendeta yang sangat terkenal kesaktiannya, bernama Arrya Bharad.

Caranya membasahi dan membelah bumi dengan air kendi yang berkilat, Kedua kerajaan ini dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai Brantas, dan masing-masing disebut kerajaan Jenggala dan Pamjalu.

Kerajaan Jenggala meliputi daerah Malang dan delta sungai Brantas, dengan pelabuhan Surabaya, Rembang, dan Pasuruan. Ibukotanya adalah Kahuripan, yaitu bekas ibukota kerajaan Airlangga. Sedangkan kerajaan Panjalu, yang kemudian dikenal dengan nama Kediri, meliputi daerah Kdiri dan Madiun. Ibukotanya Daha, yang mungkin didaerah Kediri sekarang.

Pada jaman kerajaan Singasari, tepatnya pada masa pemerintahan raja Wisnuwarddhana, kerajaan Pamjalu dan Jenggala berusaha disatukan kembali dibawah kekuasaan kerajaan Singasari. Usaha yang dilakukan raja Wisnuwarddhana untuk mempersatukan tersebut dengan cara mengawainkan anaknya yang bernama Turukbali dengan Jayakatwang yang meupakan keturunan raja Kediri terakhir yaitu raja Kertajaya.

Jayakatwang yang merasa bahwa ia adalah pewaris sah atas tahta Kdiri sehingga ia berusaha merebut kembali kekuasaannya. Ulahnya yang selalu berusaha merebut kekuasaan itulah yang ingin dicegah raja Wisnuwarddhana dengan jalan mengadakan perkawinan politik tersebut.

Usaha itu kemudian dilanjutkan oleh keturunannya yang bernama raja Kretanegara yang mengawinkan anaknya dengan anak Jayakatwang yang bernama Arddhara.

Kenyataan tetap membuktikan bahwa usaha yang baik tidak selalu lancar. Jayakatwang tetap berusaha merebut kekuasaan. Kretanegara dianggap sebagai orang yang tidak berhak atas tahta kerajaan.

Cara yang ditempuh Kretanegara untuk menunjukkan bahwa ia adalah putra mahkota yang sah yaitu dengan menyebutkan Şri Jayawisnuwarddhana dan Şri Jayawarddhani sebagai orang tuanya dalam prasasti Wurare itu.

Disamping itu, disebutkan bahwa Kretanegara adalah raja yang pandai dalam dharma dan sastra, serta sebagai pendeta dari keempat pulau. Ia dikukuhkan sebagai Jina Mahasobya dengan gelar Şrijnanaciwabajra.

Maksud pengukuhannya sebagai Jina adalah untuk menunjukkan kekuasaan dan kebesaran dirinya. Mahasobya adalah dewa Aksobhya tertinggi. Sebutan Kretanegara sebagai Mahasobhya berarti ia mempunyai sifat yang ada dalam diri Dewa Aksobhya dan emanasinya, yaitu mempunyai sifat damai, berkuasa, dan kekuasaannya yang tiada tandingannya.

Sedangan gelarnya sebagai Şri Jnannaciwabajra dapat berarti bahwa ia adalah orang yang mempunyai pengalaman atau berpengalaman seperti Dewa Siwa, serta dapat memusnahkan kejahatan untuk kesejahteraan semua umat manusia.

Selain itu, gelar-gelar Kertanegara tersebut jua mempunyai latar belakang politik. Raja Kertanegara ingin menyaingi raja Kubilai Khan yang dikukuhkan sebagai Jina Mahamitabha.

Persaingan ini timbul karena raja Kubilai Khan ingin berkuasa diseluruh Asia Tengara. Tetapi raja Kertanegara tidak mau tunguk begitu saja. Pada 1211 Ç, utusan dari raja Kubilai Khan bernama Meng Khi, yang meminta pengakuan kekuasaan Kubilai Khan, ditolak dan disuruh pulang ke Mongol oleh raja Kertanegara.

Semua itu dilakukan bertepatan dengan dibuatnya prasasti Wurare yang menyatakan kekuasaan dan kebesaran raja Kertanegara sebagai Jina Mahasobhya.
Mahasobhya adalah Jina yang menguasai mata angin sebelah timur, sedangkan Mahamitabha menguasai mata angin sebelah barat.

Dengan demikian Kubilai Khan menguasai wilayah bagian barat sedangkan Kretanegara menguasai wilayah bagian timur. Dari semua keterangan tersebut dapat diketahui bahwa arca Joko Dolok merupakan perwujudan raja Kretanegara sendiri.

Sedangkan prasasti yang dipahatkan mengelilingi lapiknya mengandung nilai sejarah politik yang penting. Terutama sebagai bukti bahwa bangsa kita sejak jaman dahulupun tidak mau begitu saja menyerah kepada penjajah asing. Juga berusaha menggalang persatuan untuk menegakkan kekuatan.

(IV.) Pendharmaan Kertanagera.

Ring sakabdhijanaryyama nrepati mantuk ring jinendralaya
Sangke wruh nira ring kriyantara lawan sarwwopadesadika
Sang mokten siwabuddhaloka kalahan sri-natha ning sarat
Ringke sthana niran dhinarmma siwabuddharcca halepnyottama

pada tahun Saka abdhijanarryama (1214 Ç atau 1292 M), baginda berpulang ke Jinalaya (Alam Jina),
disebabkan beliau telah sempurna dalam kriyantara (Upacara agama Shiwa Buddha) dan sawrwopadesyadika (ajaran agama),
seluruh rakyat memberikan gelar kepada beliau Bathara Shiwa Buddha.
di candi beliau ditegakkan arca Shiwa Buddha, sangat-sangat indah menawan.

Lawan ring sagala pratista jinawimbatyanta ring sobhita
Tekwann arddhanareswari mwang ika sang sri-bajradewwy apupul
Sang rowang nira wrddhi ring bhuwana tunggal ring kriya mwang brata
Hyang wairocana locana lwir iran-ekarcca prakaseng praja.

di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan rupawan.
serta Arca Ardhanareshwari (Shiwa dan Durga menjadi satu) disatukan dalam Arca Bajradewi,
teman hidup beliau dalam tapa demi keselamatan dan kesuburan negara (Bajradewi istri Kartanegara).
arca tersebut juga lambang dari Wairochana dan Lochana dalam satu kesatuan tunggal, sangat masyhur dan indah.

Kertanegara dicandikan di Candi Singasari dan Candi Jawi yang dekat Pandaan, ke arah selatan dari Surabaya. Candi Singasari terletak di Jalan Kertanegara, Desa Candirenggo, Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang.

Kompleks candi tersebut adalah lima ratus meter ke arah barat dari jalan raya Malang ke Surabaya, kurang lebihnya duabelas kilometer dari kota Malang dan delapan puluh delapan kilometer dari Surabaya.

Candi Singasari ditemukan pada sekitar awal abad 18 (tahun 1800-1850) dengan pemberian nama/sebutan Candi Menara oleh orang Belanda. Mungkin pemberian nama ini disebabkan bentuknya yang menyerupai menara. Sempat juga diberi nama Candi Cella oleh seorang ahli purbakala bangsa Eropa dengan berpedoman adanya empat buah celah pada dinding-dinidng dibagian tubuhnya.

Juga menurut laporan dari W. Van Schmid yang mengunjungi candi ini pada tahun 1856, penduduk setempat menamakan Candi Cungkup. Akhirnya nama yang hingga sekarang dipakai adalah Candi Singasari karena letaknya di Singasari, adapula sebagian orang menyebutnya dengan Candi Renggo karena letaknya didesa Candirenggo.

Menurut laporan tertulis dari para pengunjung Candi Singasari dari tahun 1803 sampai 1939, dikatakan bahwa Candi Singasari merupakan kompleks percandian yang luas. Didalam kompleks tersebut didapatkan tujuh buah bangunan candi yang sudah runtuh dan banyak arca berserakan disana-sini.

Salah satu dari tujuh candi yang dapat diselematkan dari kemusnahan adalah candi yang sekarang kita sebut Candi Singasari. Adapun arca-arcanya banyak yang dibawa ke Belanda, sedangkan arca-arca yang saat ini berada dihalaman Candi Singasari sekarang ini, berasal dari candi-candi yang sudah musnah itu.

Tidak jauh dari Candi Singasari ada dua arca Dwarapala, tingginya 2.7 meter. Arca Dwarapala ini mungkin penjaga pintu masuk istana kerajaan Singasari. Semua candi dari kerajaan Singasari adalah candi yang tempat pendharmaan raja dan memperbesarkan ingatan raja itu.

Arca paling penting di dalam candi biasanya mirip raja dan keluarganya yang dipuja. Raja Kertanegara pasti raja yang terpenting karena dia ada candi lagi yang dipuja, yaitu Candi Jawi, yang letaknya tidak terlalu jauh dari Candi Singasari yaitu dekat kota Pandaan.

Candi Singasari dibuat dari batu andesit dan hampir sama dengan Candi Kidal. Di atas semua pintu masuk ada dua muka kala tetapi walaupun muka kala yang di atas sudah selesai oleh seniman yang membuat candi, semuanya yang di bawah tidak selesai.

Bagian-bagian candi dari bawah ke atas adalah sebuah tingkat bawah persegi empat yang disebut batur candi atau teras. Kaki candi yang tinggi dan sekaligus menjadi ruangan tempat arc-arca. Tubuh candi yang langsing dengan empat relung di masing-masing sisinya.

Atap atau puncak yang menjulang dan makin ke atas semakin runcing.
Bentuk bangunan Candi Singasari sendiri bisa dibilang istimewa, karena candi itu seolah-olah mempunyai dua tingkatan. Seharusnya bilik-bilik candi berada pada bagian badan candi, pada Candi Singasari justru terdapat pada kaki candi.

Bilik-bilik tersebut pada awalnya juga terdapat arca didalamnya yakni disebelah utara berisi arca Durgamahisasuramardhini, sebelah timur berisi arca Ganesha dan dibagian selatan terdapat arca Resi Guru yang biasa terkenal dengan sebutan Resi Agastya.

Namun saat ini hanya tinggal arca Resi Agastya saja, sedangkan arca lainnya telah dibawa ke Leidan – Belanda. Alasan mengapa arca resi Agastya tidak dibawa serta ke Belanda adalah mungkin dikarenakan kondisinya yang sudah rusak cukup parah, sehingga tidak layak dibawa sebagai hadiah kepada penguasa negeri belanda pada saat itu.

Hal lain yang menarik untuk diamati pada Candi Singasari ini adalah hiasan candi. Umumnya bangunan candi dihias dengan hiasan yang rata pada seluruh badan atau bagian candi. Pada Candi Singasari kita tidak mendapatkan hal yang demikian.

Hiasan Candi Singasari tidak seluruhnya diselesaikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Candi Singasari dahulu belum selesai dikerjakan tapi kemudian ditinggalkan. Sebab-sebab ditinggalkan tersebut dihubungkan dengan dengan adanya peperangan, yaitu serangan dari raja Jayakatwang dari kerajaan Gelang-gelang terhadap Raja Kertanegara kerajaan Singasari yang terjadi pada sekitar tahun 1292.

Serangan raja Jayakatwang tersebut dapat menghancurkan kerajaan Singasari. Raja Kertanegara beserta pengikutnya dibunuh. Diduga karena masa kehancuran (pralaya) kerajaan Singasari itulah, maka Candi Singasari tidak terselesaikan dan akhirnya terbengkalai.

Ketidak selesaian bangunan candi ini bermanfaat juga bagi kita yang ingin mengetahui teknik pembuatan ornamen (hiasan) candi. Tampak bahwa hiasan itu dikerjakan dari atas ke bawah. Bagian atas dikerjakan dengan sempurna, bagian tubuh candi (tengah) sebagian sudah selesai sedangkan bagian bawah sama sekali belum diselesaikan.

Dihalaman Candi Singasari masih terdapat beberapa arca yang tersisa, beberapa diantaranya berupa tubuh dewa/dewi meskipun bisa dibilang tidak utuh lagi. Bahkan terdapat satu arca Dewi Parwati yang memiliki bagian kepala yang terlihat “aneh”. nampaknya bagian tersebut bukan merupakan kepala arca yang sebenarnya. Karena kepala arca yang sebenarnya diduga putus dan tidak ditemukan kembali.

Menurut kosmologi agama Hindu Candi Singasari merupakan gunung-gunung dari Gunung Himalaya di India. Yang tertinggi, dan yang mirip tempat tinggal dewa Gunung Mahameru, adalah Gunung Gaurisangkar.

Empat gunung lebih rendah yang dikelilingi gunung tinggi itu tersebut adalah Gunung Daulagiri, Gunung Nanga Parbat, Gunung Nanda Dewi, dan Gunung Koncanjanghu. Struktur Candi Singasari terdiri dari sebuah bangunan yang tinggi dengan dikelilingi empat bangunan yang berpuncak lebih rendah.

Berkunjung ke Candi Singasari ini sambil memegang buku panduan wisata yang bercerita tentang sejarah candi Singasari, sempat menimbulkan kesedihan, betapa tidak, di beberapa bagian halaman buku tersebut terpampang jelas foto-foto arca yang telah dibawa ke negeri Belanda, lengkap beserta penjelasan posisi/sikap beserta atribut-atibut yang dikenakan oleh tokoh arca tersebut.

Foto-foto yang ada menunjukkan bahwa apa yang mereka (penjajah) bawa kenegeri mereka, memang merupakan arca yang masih utuh dengan tingkat seni yang bisa dibanggakan. Suatu perampokan oleh penjajah bangsa Belanda terhadap seni-budaya bangsa Indonesia.

Tamat.

Paripurna sudah wedaran Dongeng Arkeologi & Antropologi Seri Singasari Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, berturut-turut:

  1. Waosan kaping-1: Singasari Menuju Puncak Kejayaan, Parwa ke-1. On 28 Januari 2011 at 17:33,HLHLP 095;
  2. Waosan kaping-2: Singasari Menuju Puncak Kejayaan. Parwa ke-2. On 31 Januari 2011 at 00:58, HLHLP 096
  3. Waosan kaping-3: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara bertahta di Tumapel. On 1 Februari 2011 at 01:08, HLHLP 097;
  4. Waosan kaping-4: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Cakrawala Mandala Nusantara. On 2 Februari 2011 at 21:32. HLHLP 98;
  5. Waosan kaping-5: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Menghadapi Pemberontakan Dalam Negeri. dan Wwang Tartar. On 4 Februari 2011 at 22:42. HLHLP 099;
  6. Waosan kaping-6: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Runtuhnya Kerajaan Singasari. On 6 Februari 2011 at 22:50. HLHLP 100.
  7. Waosan kaping-7: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Sang Siva Buda. Politik dan Sinkreteisme Religius Hindhu-Buddha. Parwa ka-1 On 8 Februari 2011 at 23:50 HLHLP 101
  8. Waosan kaping-8: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Sang Siva Buda. Politik dan Sinkreteisme Religius Hindhu-Buddha. Parwa ka-2. On On 12 Februari 2011 at 20:29 HLHLP 103.
  9. Waosan kaping-9: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Sang Siva Buda. Politik dan Sinkreteisme Religius Hindhu-Buddha. Parwa ka-3 On 16 Februari 2011 at 21:05. HLHLP 105.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Singasari selama masa pemerintahan raja Kertanagara jika dilihat dari sudut pandang antropologi dari prespektif antroreligi, antropolitik, dan sosikultural melahirkan tiga kesimpulan, yaitu:

Pertama: Secara antroreligi, masa pemerintahan Kertanagara pada abad ke-13 tidak bisa dilepaskan dari perkembangan ajaran tantrisme Vajrayana yang disebutkan dalam Negarakretagama pupuh 43 (3) sebagai Tantra Subuthi. Aliran ini dipeluk oleh Kertanagara dan melegitimasikan dirinya sebagai Jina, Wairocana-Locana serta Ardhanaresvara.

Kedua: Secara antropolitik, raja Kertanagara adalah raja yang seringkali mengambil kebijakan politik out of state dari pada in of state. Kebijakan politik yang lebih mementingkan perluasan wilayah daripada penggalangan kekuatan di dalam negeri; Kertanagara selalu memandang bahwa ancaman negara Singasari berasal dari luar (kekuasaan asing: Kekasiaran Mongolia) dan tidak mengindahkan bahaya dari dalam negeri (Pemberontakan Mahisa Ranggah dan Pemberontakan Jayakatwang).

Ketiga: Secara sosiokultural, masa pemerintahan raja Kertanagara adalah masa kegemilangan secara politik (ekpedisi Pamalayu) namun meninggalkan ironi dalam hubungan ketata-negaraan dan ketata-pemerintahan, juga hubungan sosiokultural.
Untuk memenuhi ambisinya Kertanegara telah menyingkirkan orang-orang yang tidak sejalan dengan garis kebijakannya. Selanjutnya dalam ketata-pemerintahan Kertanegara didukung dan dikelilingi orang-orang yang terlalu mementingkan kepentingan lahiriah saja, bersenang-senang, bahkan ketika terjadi penyerbuan Jayakatwang Sang Prabu bersama orang-orang terdekatnya tengah berpesta seks dan bermasuk-mabukan.

Walaupun Kertanagara ditahbiskan sebagai Jina, yang seharusnya menerapkan dharma kebuddhaannya dengan mengayomi rakyat, tetapi yang terjadi adalah semakin mempersempit ruang gerak publik dengan merampas hak mengutarakan pendapat rakyatnya, bahkan berperilaku asusila.

Melihat kesimpulan kajian antropologi atas pemerintahan raja Kertanagara atas Singasari diatas baik secara antroreligi, antropolitik, dan sosiokultural.

Berbeda dengan Sanghyang Siksa Kandang Karesyan yang ditinggalkan oleh Sang Maha Prabu Siliwangi, maka hendaknya diperhatikan benar oleh para pemimpin bangsa Indonesia masa kini untuk tidak mengulangi pola pemerintahan seperti pada masa raja Kertanagara yang terlihat jaya di luar namun rusak dalam konsolidasi sosial sebagai bangsa dan negara yang berdaulat, dan bobrok dalam moral.

…….. anadhah sajeng lawan apatih. Dok sira kaprajaya, sama sira angemasi, [……… sedang minum minuman keras, berasyik-masyuk pesta-pora seks bersama sama dengan para punggawa, maka pada waktu itu ia dikalahkan, semuanya tewas.]

Ratu lan patihé kâtangkêp ing mungsuh isih têrus unjuk-unjukan baé (wuru),

mulané ora rêkåså pinurih sédané
[maka tidaklah terlalu sulit untuk membunuhnya.]

Referensi

  1. ________. Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). Narasi. Yogyakarta. 2007.
  2. ________.Babad Tanah Djawi versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana (1925).
  3. Atmodjo, M.M. S. Karto. Struktur Masyarakat Jawa Kuno pada Jaman Mataram Hindu dan Majapahit. Pusat Penelitian dan Studi Pedesaan dan Kawasan UGM Yogyakarta 1979.
  4. Bade, David W. Khubilai Khan and the Beautiful Princess of Tumapel: the Mongols Between History and Literature in Java. A. Chuluunbat Ulaanbaatar 2002.
  5. Bambang Sumadio (Penyunting Jilid), Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Balai Pustaka. Jakarta 1984.
  6. Bandung Mawardi Telusur Babad Tanah Jawi, Kabut. Institut Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Suara Merdeka 17 Mei 2009.
  7. Berg, C.C., Penulisan Sejarah Jawa, (terj.), Bhratara. Jakarta 1985
  8. Boechari. Epigraphic Evidence on Kingship in Ancient Java. Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, Jilid V(1), Bhratara, Jakarta, 1973.
  9. Boechari. Manfaat Studi Bahasa dan Sastra Jawa Kuna ditinjau dari Segi Sejarah dan Arkeologi. Majalah Arkeologi Tahun I No. 1. 1977.
  10. Coedes, George.The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1968.
  11. d’Ohsson, Constantin Mouradgea , Chapitre 3 Kublai Khan, Tome III, Histoire des Mongols, depuis Tchinguiz-Khan jusqu’à Timour Bey ou Tamerlan, Adamant Medi Boston. 2002
  12. Eliade, Mircea. Mitos Gerak Kembali Yang Abadi, Kosmos dan Sejarah. Terjemahan dari: The Myth of the Eternal Return or, Cosmos and History. Penerjemah: Cuk Ananta. Ikon Taralitera. Yogyakarta, 2002.
  13. Es Danar Pangeran. Menggali Sejarah Madura Lewat Babad Soengenep (8) : Kudapanole Menaklukkan Blambangan. Tabloid POSMO Edisi 44 Tahun I/ 2000.
  14. Groeneveldt, W.P. Historical Notes on Indonesia and Malaya. Compiled from Chinese Sources. Bhatara Djakarta. 1960.
  15. Hadiwijono, Harun. Konsepsi tentang Manusia Dalam Kebatinan Jawa. Sinar Harapan. Jakarta 1983.
  16. Hardjowirogo, Marbangun. Manusia Jawa. Inti Idayu Press. Jakarta 1984.
  17. Herusatoto, Budiono. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Hanindita. Yogyakarta 1985.
  18. Kartodirdjo, Sartono (ed.). Sejarah Nasional Indonesia Jilid III. Balai Pustaka. Jakarta 1977.
  19. Kartodirdjo, SartonoPengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid I. Gramedia. Jakarta, 1987.
  20. Levathes, Louise, When China Ruled the Seas, Simon & Schuster, New York 1994.
  21. Lombard, Denys. Nusa Jawa : Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu. Bagian II: Jaringan Asia. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.
  22. Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya II, Jaringan Asia. Terjemahan. Gramedia Pustaka Utama, Forum Jakarta-Paris, Ecole francaise d’Extreme-Orient. Jakarta. 2008.
  23. Man, John, Kublai Khan: The Mongol king who remade China, Bantam Books London 2007.
  24. Mangkudimedja, R.M., Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Departemen P dan K, Jakarta 1979;
  25. Mangkudimedja. R.M. Serat Pararaton Jilid 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Jakarta 1979;
  26. Megandaru W. Kawuryan. Negara Kertagama, Tata Pemerintahan Kraton Majapahit. Panji Pustaka Jakarta 2006;
  27. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. (Terjemahan). S’Gravenhage. 1903
  28. Mircea Eliade, Sakral dan Profan, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta 2002.
  29. Mudjadi dan Agus Salim (penerjemah), The Antiquites of Singasari. Terjemahan 1976. Blom, Yessy. 1939;
  30. Mulder, Niels. Kebatinan Dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa: kelangsungan dan perubahan kulturil.
  31. Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II. Balai Pustaka, Jakarta. 1984;
  32. Padmapuspita, Ki, PararatonTeks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia. Taman Siswa Jogjakarta. 1966
  33. Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas. Java in the Fourteenth Century: A Study in Culture History: The Nagarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D., Volume 4, Martinus Nijhoff, The Hague, 1962.
  34. Pitono, R. Pengaruh Tantrayana pada Kebudayaan Kuno di Indonesia. IKIP Malang tanpa tahun;
  35. Poerbatjaraka. Kapustakan Jawi. Djambatan. Jakarta. 1964.
  36. Poesponegoro & Notosusanto (ed.) Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Balai Pustaka Jakarta 1990;
  37. Poesponegoro Marwati Djoened, Nugroho Notosusanto Sejarah Nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia, Balai Pustaka Jakarta 2008.
  38. Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Edisi ke-4. Jilid II. Balai Pustaka Jakarta 1990.
  39. Prapantja, Rakawi, The Negara-Kertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 AD. trans. by Theodore Gauthier Pigeaud, Java in the 14th Century, A Study in Cultural History. The Hague, Martinus Nijhoff, 1962.
  40. Purbatjaraka, R. Ng. Kapustakan Jawi. Jambatan. Jakarta: 1958
  41. Resink, G.J. Indonesia’s History Between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory. The Hague: W. van Hoeve, 1968.
  42. Ricklefs, Merle Calvin. A Consideration of Three Versions of the Babad Tanah Djawi, with Excerpts on the Fall of Madjapahit, Bulletin of the School of Oriental and African Studies. Vol.35(2), London. 1972.
  43. Ricklefs, Merle Calvin. A History of Modern Indonesia Since c. 1300, 2nd ed. Stanford University Press, Stanford 1993.
  44. Ricklefs, Merle Calvin. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 Edisi ke-3. Diterjemahkan oleh S. Wahono dkk. Jakarta: Serambi, 2005.
  45. Ricklefs. MC. Sejarah Indonesia Modern (terj.) Gadjah Mada University Press. Yogyakarta 1991.
  46. Sapardi Djoko Damono dan Sonya Sondakh (Penyunting), Babad Tanah Jawi: Mitologi, Legenda, Folklor, dan Kisah Raja-raja Jawa.. Amanah Lontar Jakarta 2004.
  47. Sedyawati, Edi Keadaan Masyarakat Jawa Kuna Masa Kadiri dan Masalah Penafsirannya. Satyawati Suleiman (eds.) Pertemuan Ilmiah Arkeologi III. Puslitarkenas. Jakarta 1985.
  48. Sedyawati, Edi Pembagian Peranan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Budaya. Diskusi Ilmiah Arkeologi XIII, 6 April 2001 di Denpasar. 2001.
  49. Sentot, Drs. D. Tj. Sejarah Nasional dan Dunia. Prima Offset, Wonogiri, tanpa tahun.
  50. Slamet Muljana, Prof Dr. Sriwijaya, LKIS, Yogyakarta 2006
  51. Slamet Muljana, Prof. Dr, Nagara Kertagama, Tafsir Sejarahnya. LkiS Yogyakarta. 2006.
  52. Slamet Muljana, Prof. Dr. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Yayasan Idayu, Jakarta 1981.
  53. Slamet Muljana, Prof. Dr. Menuju Puncak Kemegahan.(Sejarah Majapahit) LKiS Yogyakarta 2005.
  54. Slamet Mulyana, Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit, Yayasan Idayu, Jakarta, 1983.
  55. Sumadio, B. (ed.). Sejarah Nasional Indonesia II. Balai Pustaka, Jakarta 1977.
  56. Sumatijnama, Pandita, Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya dan Sang Hyang Kamahayanan, Yayasan Bhumisambhara, Jakarta 2003.
  57. Suwardi Endraswara, Tradisi Lisan Jawa, Warisan Abadi Budaya Luhur Harasi Yogyakarta, 2005.
  58. Teeuw, Andries. (et al), Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung, Bibliotheca Indonesica 3, Martinus Nijhoff, The Hague, 1969.
  59. Tjandrasasmita, Uka (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, PN Balai Pustaka, Jakarta. 1984.
  60. Van Den Berg, H. J. Dr. , H. Kroeskamp, I. P. Simandjoentak. Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia. Djilid I : India, Tiongkok, dan Djepang, Indonesia. J. B. Wolters, Jakarta – Groningen, 1952.
  61. Wahju, Amman N. Waosan Babad Galuh: Dari Prabu Ciungwanara hingga Prabu Siliwangi (Naskah Kraton Kasepuhan Cirebon), Penerbit Pustaka. Jakarta. 2009.
  62. Zoetmulder, P. J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Djambatan – KITLV Jakarta 1983.

Gramedia. Jakarta 1983.

Dengan demikian paripurna sudah Dongeng Arkeologi & Antropologi Jagad Singasari yang berlangsung sejak Kuntum Bunga Panawijen di Kaki Gunung Kawi nDedes Sang Ken Ardanareswari hingga Shri Jnyanabadrishwara Kertanagera, maka untuk selanjutnya Kelir Pedalangan beralih ke:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SURYA MAJAPAHIT.

Nuwun. Sugêng dalu

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 18:02  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-sri-maharajadhiraja-krtanagara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. lho, dereng wedhar ta ki, …
    kula tetep setiya nengga tutugipun dongeng kertanegara lho ki, ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: