Seri ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA

 

PEMBUKA

On 26 Januari 2011 at 23:15 cantrik bayuaji said:

Nuwun

Awignam astu namas sidam

[Mugi linupútnå ing rêridhu]

Pårå wasi, pårå ubhwan, pårå ajar, pårå putut manguyu, pårå jêjanggan, pårå tåpå, pårå tapi, pårå èndhang, pårå dhayang, pårå mentrik, pårå kadang cantrik, pårå kaki bêbahu padépokan.

Pårå sanak kadang sutrêsnå padépokanpelangisingosariingkang dahat kinurmatan.

Pårå murid kang nêmbé ngangsu kawruh kautaman gêsang dumateng pårå mursyid.

Lir sumilir lumakuning urip rinå lan wêngi,

wanci surup, srêngéngé anslup, wêngi têngah wêngi, lingsir wêngi, saput siti, ésuk umun-umun plêthek srengéngé, wisan gawé, têngah awan, lingsir kulon banjur bali surup manèh, mugå-mugå antuk pêpayunganing Gusti Kang Måhå Wikan, manêdyå wantah ora kêndat tansah éling lan manêmbah mring Gusti. Ing madyå ratri pating trênyêp sumrêsêp hêning, énang-énung awang-awung, lamat-lamat dumêling ing akåså, sumusup himå himantåkå, satémah mawéh prabåwå hambabar wahyu kunugrahan suci, mugå-mugå têtêp winêngku sukå basuki.

Paripurna sudah Dongeng Arkeologi & Antropologi Magawe Rahayu Magawe Kerta, sejarah Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji yang magawe rahayu magawe kerta Tatar Sunda Kerajaan Kawali hingga Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Ada kata-kata yang menarik dari Éyang Agung Sang Maha Prabu Siliwangi ini, sebelum Sri Baduga Maharaja ngahyang, yang menunjukkan keteguhan Sang Prabu akan keyakinan yang tidak mudah digoyahkan oleh keadaan apapun:

Aku memberi kebebasan bagi siapa pun untuk memilih agama. Yang aku cemaskan adalah keserakahan orang. Setelah memilih yang satu, lalu berganti-ganti lagi memilih yang baru, begitu seterusnya. Sementara bagi seorang raja, keyakinan adalah sebuah kehormatan dan tidak dapat berganti-ganti seperti orang dengan mudahnya membalikkan telapak tangan,

Gemah Ripah Repeh Rapih, Runtut Raut Sauyunan, Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wangian sangkan dugi kana Karahayuan. Sing kabeh pada bakti ka Batara Seda Niskala

Maha Prabu Sang Maung Lodaya, telah kembali mulih kajati mulang kaasal ka Nu Mahawisesa, Nu Maha Murbeng Alam, tetapi “ruh”nya masih bersemayam di hati Urang Sunda. Ruh Siksa Kandang Karesian jeung Magawe Rahayu Magawe Kerta.

Éyang Agung Maha Prabu Siliwangi Sang Maung Lodaya, mengajarkan bagaimana hidup dalam kesederhanaan meskipun beliau seorang raja yang agung, jauh dari pamrih duniawi, tidak pernah mengeluh, dan mampu menjaga sepuluh sumber nafsu duniawi.

Hormat dan sopan dalam ucapan dan ulah, dalam tingkah dan perbuatan, setia dalam pengabdian, semua dilakukannya semata-mata untuk kepentingan negara.

Kukuh, kuat dalam batas-batas kebenaran, penuh kenyataan sikap baik dalam jiwa. Jujur dan benar dalam menjalankan tugasnya, tidak senang kalau dipuji, selalu menghindari segala macam perbuatan nista dan khianat.

Berduka jika rakyatnya menderita, bersedih jika kawulanya miskin, berpakaian compang-camping, dan lapar.

Merasa tidak pantas menjadi raja jika rakyatnya menderita kelaparan dan miskin.

Beliau berjuang agar kelak di masa depan dan di kehidupan selanjutnya, rakyatnya dapat meraih kejayaan dan tidak kekurangan sesuatu apapun.

Pada masa sekarang ini adakah pemimpin yang seperti?

Pårå sanak kadang sutrêsnå padépokanpelangisingosariingkang dahat kinurmatan,

Dongeng selanjutnya kita kembali ke ‘khittah’ pakem pelangisingosari.

Ada satu dongeng yang mungkin ditunggu-tunggu oleh sanak kadang yaitu tentang ‘Sabdo Palon Nåyå Génggong Menagih Janji’, namun dongengnya masih sangatlah jauh. Dari “pakem” yang ada “janji” itu diucapkan pada masa surutnya kerajaan Majapahit.

Semenjak Ranggawuni Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Semining Rat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana dan Mahisa Campaka Sang Medawa Ratu Anggabhaya Narasinghamurti menduduki tahta Singasari yang oleh Serat Pararaton disebut bagaikan Någhå roro Salèng atau Sepasang Ular Naga di Satu Sarang.

Pararaton, Nagarakretagama, Prasasti Mula Malurung, dan beberapa prassati lainnya memberitakan, bahwa upaya Sang Prabu Wisnuwardhana memakmurkan dan mensejahterakan kawula Singosari merayap naik untuk menuju puncak kejayaannya, tetapi beliau tidak disukai oleh sekelompok orang.

Orang-orang yang tidak senang jika Singosari menjadi besar. Keluarga istana Kadiri terutama, di antara mereka ada yang tidak suka terhadap Ranggawuni, mereka keberatan terhadap penyatuan Kadiri dan Tumapel di bawah pemerintahan Någhå Roro Saléng itu.

Mereka merencanakan kudeta untuk melengserkan Prabu Wisnuwardhana dan Ratu Anggabhaya Mahisa Campaka dari tahta kencana Singosari.

Penulis Pararaton, Nagarakretagama dan Prasasti Mula Malurung menyebutkan seorang tokoh keluarga istana Kadiri yang tidak senang terhadap Ranggawuni.

Namun pada akhirnya pemberontakan itu dapat ditumpas dan pemimpin pemberontak yaitu Sang Linggapati dibunuh oleh Senopati Hing Ayudha Mahesa Bungalan. Hingga di sini PdLS PBM masih mengikuti pakem sejarah.

Selanjutnya Ki Dhalang SH Mintardja “melenceng” dari pakem sejarah dan membuat pakem sendiri dengan menciptakan tokoh-tokoh baru antara lain Ken Padmi, Mahisa Pukat, Mahisa Murti, Mahesa Amping, dan Mahesa Semu, selain tokoh-tokoh lama yang masih “mendampingi” Sri Baginda Wisnu Wardhana, yaitu Mahisa Agni dan Mahendra.

Sebagaimana serial PdLS, SUNdSS dan PBM yang berlatar belakang Kerajaan Singosari, maka HLHLP juga, tetapi lebih spesifik lagi “kejadiannya” yakni semasa pemerintahan Sepasang Ular Naga di Satu Sarang.

Tetapi karena jalinan kisah dan tokoh-tokohnya hanya ada pada rontal Pribadi Ki Dhalang SH Mintardja, jadi tidaklah mungkin akan ditemukan dalam kronika sejarah Singosari.

Dengan tidak “mengganggu-gugat” cerita carangannya Ki Dhalang SH Mintardja, pada kesempatan kaki ini Cantrik Bayuaji bermaksud “menyambung” dongeng Ki Dhalang SH Mintardja.

Cantrik Bayuaji mengajak pårå sanak kadang padepokan pelangisingosari untuk kembali menyelusuri “jalan yang lurus” yaitu kembali ke pakem babon dongeng trah singosaren, yaitu Kidung Pararaton, Pujasastra Nagarakertagama, Babad Tanah Jawi, Tamra Prasasti dan kropak sejarah lainnya yang berkaitan dengan itu.

Insya Allah, Dongeng Arkeologi & Antropologi Trah Singosaren akan diwedar, yang secara garis besarnya meliputi:

  1. Singosari mencapai puncak kejayaan;
  2. Singosari Mandala Nusantara, ide dasar yang mengilhami Sumpah Ingsun Tan Amukti Palapa, yang merupakan konsep negara kesatuan;
  3. Ekspedisi Pamalayu;
  4. Perang Kadiri Singosari;
  5. Runtuhnya Singosari dan berdirinya Majapahit;
  6. Raden Wijaya, Pendiri dan Raja Pertama Majapahit;
  7. Sora, Nambi dan Ranggalawe;
  8. Gajah Mada Sang Bekel Bhayangkara;
  9. Sumpah Ingsun Tan Amukti Palapa, cikal bakal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  10. Decawarnana. Nagakertagama;
  11. Bubat, Parereg;
  12. Sirna Ilang Kertaning Bhumi. Bêdhahé Kraton Måjåpahit Adhêgé Kraton Dêmak Bintårå.

Dongeng Arkeologi & Antropologi masih dapat dilanjutkan, setelah runtuhnya Majapahit maka kemudian memasuki era baru kerajaan Jawa (Islam):

  1. Era keraton Pesisir Utara Jawa: Demak Bintårå.
  2. Arya Penangsang pewaris sah keraton Demak?;
  3. Penyerbuan ke Bandar Sunda Kelapa;
  4. Ratu Kalinyamat, Portugis, Pajajaran. Cirebon, dan Banten;
  5. Keraton Pajang: Djoko Tingkir;
  6. Peran para wali dalam pemerintahan;
  7. Wahyu keraton berpindah ke pedalaman: Era Mataram Islam, Awal Kebangkitan Mataram. Pemerintahan Panembahan Senopati.
  8. Era VOC;
  9. Perjanjian Giyanti. Berakhirnya Kerajaan Mataram, lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Pangeran Mangkubumi. Sultan Hamengkubuwono I) dan Kasunanan Surakarta (Pakubuwono III, raja Mataram terakhir. raja Kasunanan Surakarta I). Mangkunegårå Pangeran Samber Nyåwå

Dan masih banyak Dongeng Arkeologi & Antropologi yang belum sempat tersaji, seperti dongeng kuno Nusantara (Mataram Lama, Candi Borobudur, Roro Jonggrang, Ratu Baka, Ratu Sima, Kalingga, Sriwijaya, dst).

Mudah-mudahan dongeng-dongeng tersebut dapat diwedar, bagaimanapun juga kemampuan Cantrik Bayuaji sangatlah terbatas dalam segala hal.

Lagi pula kita hanya punya kesempatan beberapa saat saja, mengingat HLHLPnya Ki Dhalang SH Mintardja, kalau tidak salah tinggal 25 jilid lagi (sekarang HLHLP 093, dan terakhir HLHLP 118). Semoga.

Nuwun. Sugêng dalu

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 18:02  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-sri-maharajadhiraja-krtanagara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. lho, dereng wedhar ta ki, …
    kula tetep setiya nengga tutugipun dongeng kertanegara lho ki, ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: