Seri ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA

WEDARAN PERTAMA

Dikirim pada tanggal 2011/01/28 pukul 17:33

Sugêng sontên.

Nuwun,

Cantrik Bayuaji sowan sinarêng sang bagaskårå sampun gumléwang ing bang kilén miring nuju angslup, kalingan mégå lan mêndung, andungkap wayah surup..

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SINGASARI MENUJU PUNCAK KEJAYAAN [Parwå ka-1]

[Waosan kaping sêtunggal]

Rånggåwuni Syri Wisynuwardhånå Sêminingrat jumênêng Nåtå nganti nakdhéréké Anggåbåyå Bathårå Nåråsinghå

Demikian Babad Tanah Jawi mengabarkan jumênêngnya Ranggawuni dan Mahisa Campaka di Tahta Singasari.

Dalam sejarah dicatat keturunan Ken Dedes dari benih Tunggul Ametung jauh sampai ke cucu-cicitnya. Juga dari benih Ken Angrok, Ken Dedes memberikan putra-putrinya, cucu dan keturunannya, untuk memimpin Tanah Jawa ini.

Ranggawuni anak Anusapati yang berarti cucu Tunggul Ametung dan Ken Dedes, dinobatkan sebagai raja, dengan abhiseka Bhatara Wisnuwardhana, bergelar Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana.

Prasasti Maribong (Trowulan II) di wilayah Jipang, angka tahun 1186Ç/1264M semula terbaca 1170Ç/1248M, menyebutkan bahwa nama abhiseka Baginda Wisnuwardhana adalah Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat, yang naik tahta pada tahun 1170Ç/1248M.

Prasasti yang sama menyebutkan bahwa Sang Prabu Seminingrat adalah cucu Bhatara Syiwa (Ken Arok) líneng dampa kanaka (yang wafat di tahta kencana), pendiri kerajaan yang sekarang diperintah oleh sang prabu. Ken Arok disebut sebagai swapitãmahã stawanã binaśrantalokapãlaka (yang mententramkan dan mempersatukan dunia.)

Saat Ranggawuni menjadi raja. Mahisa Campaka anak Mahisa Wonga Teleng cucu Ken Arok dan Ken Dedes, menjadi raja Anggabaya dengan gelar Sang Medawa Ratu Anggabhaya Narasinghamurti .

Keduanya memerintah Singasari yang besar. Keduanya mengakhiri konflik Singasari yang sepertinya tak pernah selesai. Pararaton menggambarkan kegembiraan Ken Dedes melihat cucu-cucu keturunannya yang diibaratkan dwi-tunggal mengakhiri pertikaian antar keluarga. Keduanya menyatukan keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Angrok.

Tidak ada keterangan yang pasti kapan Sang Ardanareswari. Ken Dedes Kuntum Bunga dari Panawijen Kaki Gunung Kawi yang teramat cantik itu, yang selama hidupnya nglakoni karma amamadangi itu menutup ajal.

Dari guwa-garba Ken Dedes Sang Ardanariswari inilah raja-raja besar para penguasa Tanah Jawa, dinasti Rajasa, Singasari, Majapahit, raja-raja Demak, Pajang, hingga Mataram Islam, berasal.

Berlandaskan uraian cerita Garudeyå pada Candi Kidal (simak kembali Dongeng Arkeologi & Antropologi, dongeng kaping-14 PdLS-73.) Digambarkan dalam bentuk relief pada sisi utara candi, relief ketiga yakni relief yang menggambarkan Sang Garudeya dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan membebaskan dari perbudakan.

Relief ini ingin menceritakan bahwa Anusapati yang digambarkan sebagai Sang Garudeya sedang mengendong ibunya, tiada lain bermaksud Anusapati meruwat ibunya, Ken Dedes yang cantik jelita namun nestapa selama hidupnya. Anusapati sangat berbakti dan mencintai ibunya.

Dia ingin ibunya menjadi suci kembali sebagai wanita utama dan sempurna lepas dari penderitaan serta nestapa. Sehingga Anusapati mendapat julukan “Sang Garuda Yang Berbakti.”

Pararaton mengabarkan pengangkatan Ranggawuni dan Mahisa Campaka menjadi penguasa kerajaan:

Tumuli sira Ranggawuni angadeg ratu, kadi nagha roro saleng. Lawan sira Mahisa Campaka, sira Ranggawuni, abhiseka Bhatara Wisnu Wardhana karatun ira. Sira Mahisa Campaka dadi ratu Angabhaya, abhiseka Bhatara Narasingha. Atyanta patut ira tan hana wiwal.”

[Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan seperti sepasang ular naga di satu sarang.

Ranggawuni bernama nobatan Wisnuwardana, demikanlah namanya sebagai raja, Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya, bernama nobatan Batara Narasinga. Sangat rukunlah mereka, tak pernah berpisah.]

Nagarakretagama menceritakan:

Bhatara wisnuwarddhana kateka putra nira sang gumanti siniwi,

Bhatara narasingha rowang ira tulya madhawa sahagrajamagehi rat.”

[Batara Wisnuwardana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, beserta Narasinga, beliau berdua bagaikan Madawa dan Indra di dalam memerintah negara.]

Nagarakretagama tidak menyebutkan siapa nama asli Wisnuwardhana. Nama Ranggawuni sendiri tidak pernah dijumpai dalam prasasti apa pun sehingga diduga oleh para ahli sejarah merupakan nama ciptaan penulis Pararaton.

Sebuah prasasti yang terbuat dari tembaga yang kini tersimpan di musium Frankfurt am Main Jerman, menerangkan Bhattãra Jaya Srí Wisnuwarddhana bersama Bhatãra ring Singhanãgara, memerintah Singasari.

Babad Tanah Jawi menulis:

Rånggåwuni jumênêng Nåtå ajêjuluk Syri Wisynuwardhana nganti nakdhéréké Nåråsingå. Nganti têkan ing sédå priyagung loro mau rukun banget, nganti dibasakaké: Kåyå Wisynu lan kâng råkå Bathårå Éndrå. Kâratoné mundhak gêdhé pulih kåyå dhék jamané Prabu Érlangga, malah jajahané wuwuh Mâdurå.”

Prasasti Mula Malurung mencatat:

Sepeninggal sang prabu Tohjaya, Nararyya Seminingrat naik tahta berkat dukungan semua para pembesar, terutama dukungan Sang Pamegat ing Ranu Kebayan Sang Apanji Patipati. Berkat dukungan itu, pulihlah kembali kerajaan Tumapel. …...”

Di dalam prasasti Piagam Mula Malurung dikeluarkan pada tahun 1177Ç/125 nama Wisnuwardhana tidak pernah disebut, beliau disebutkan dengan nama Narãryya Semining Rat atau Seminingrat atau Semining Rat Jagannatha yang beristrikan Narãryya Waning Hyun, putri pamannya yaitu Bhatara Parameswara (Pararaton: Mahisa Wonga Teleng.)

Pararaton menyebutkan Mahisa Wonga Teleng adalah ayah dari Mahisa Campaka alias Narasinghamurti. Menurut Nagarakretagama, Narasingamurti memiliki putra bernama Lembu Tal, yang kemudian menjadi ayah dari Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit.

Apabila Bhatara Parameswara benar-benar identik dengan Mahisa Wonga Teleng, maka dapat disimpulkan kalau Waning Hyun adalah saudara perempuan Narasinghamurti. Dengan demikian, hubungan antara Narasinghamurti dengan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar.

Prasasti Wurara yang berangka tahun 1211Ç/1289M menyebutkan bahwa istri Wisnuwardhana adalah Jayawarddhanibarrya (Jayawarddhani), maka dapat dipastikan bahwa Narãryya Waning Hyun identik dengan Jayawardhani.

Berkat dukungan Sang Apanji Patipati, Wisnuwardhana Nararyya Semining Rat berhasil menyatukan kembali kerajaan Singasari yang diwarisinya dari Anusapati dan kerajaan Kadiri yang diwarisinya melalui pernikahannya dengan Putri Waning Hyun dari Bhatara Parameswara.

Sebuah penjelasan yang sangat menarik mengenai penobatan Narãryya Seminingrat kita dapati pula pada Prasasti Mula Malurung ini. Keterangan itu menyebutkan bahwa sepeninggal Narãryya Tohjaya, semua pejabat kerajaan dengan dipimpin oleh Sang Pamegat ring Ranu Kabayan Sang Arya Apanji Patipati Empu Kapat.

Panji Patipati Empu Kapat ini yang menyelamatkan hidup mereka dari ancaman Panji Tohjaya diangkat sebagai dharmadikarana (hakim tertinggi) seperti terbukti dalam serat Kekancingan Gunung Wilis tahun saka 1191; dengan jabatan barunya itu, menobatkan Narãryya Seminingrat sebagai raja Tumapel. “(nararyya smining rat ta pinasangaken prajapatya).“

Penjelasan ini menimbulkan kesan tentang tidak adanya calon raja yang sah yang duduk di tahta kerajaan, atau menunjukkan bahwa terdapat beberapa orang yang tidak berhak, tetapi mereka berusaha untuk dapat menduduki tahta kerajaan.

Dari Pararaton diketahui bahwa pada awal kerajaan Singasari tiga raja berturut-turut memerintah menggantikan yang lainnya dengan cara pembunuhan. Ketiga raja tersebut adalah Tunggul Ametung, mati dibunuh Ken Angrok yang menggantikannya menjadi raja. kemudian Ken Arok pun dibunuh oleh Anusapati melalui tangan seorang pangalasan dari batil.

Akhirnya Tohjaya anak Angrok dari Ken Umang berhasil membunuh Anusapati, dan menggantikannya menjadi raja. Tohjaya pun mati terbunuh juga.

Berita tentang peristiwa saling membunuh di antara raja-raja Singasari dalam Prasasti Mula Malurung disebut dengan istilah lína. Ken Arok, kakek Narãryya Seminingrat pendiri kerajaan Singasari yang meninggal di tahta kencana disebut sang líneng dampa kanaka. Bhatara Parameswara (Mahisa Wonga Teleng), ayah Waning Hyun, ayah mertua, juga paman Narãryya Seminingrat meninggal di Kebon Agung disebut sang líneng kubwan agêng, dan lína pwa pamanira.

Mengapa pewaris kerajaan Kadiri adalah Seminingrat dan bukan Mahisa Campaka, Ada kemungkinan bahwa Waning Hyun lahir dari garwâ padmi (permaisuri) sedangkan Mahisa Campaka lahir dari garwâ ampil/ampéyan (selir), itulah sebabnya maka Prasasti Mula Malurung menekankan pernikahan antara Nararyya Waning Hyun dan Seminingrat.

Setelah ‘gonjang-ganjing’ selama 32 tahun, sejak terbunuhnya Tunggul Ametung di tahun 1222, hingga terbunuhnya Tohjaya di tahun 1250. Singasari yang kisruh, naiknya seorang raja selalu diawali dengan terbunuhnya raja terdahulu. Singasari tidak pernah tenang, dendam, pertikaian demi pertikaian selalu mengguncang tahta Singasari di tahun-tahun itu. Tetapi sejak naiknya cucu Ken Dedes di tahta kencana Singasari, Singasari diberitakan aman, damai, dan tenteram. Ternyata tidak!

Ada sekelompok “teroris” yang menginginkan agar Singasari kacau balau. Ketenangan dan ketentraman Singasari tidak boleh terjadi. Singasari sengaja dibuat kisruh oleh sekelompok orang yang tidak menyukai sepasang ular naga di satu sarang itu.

Orang-orang yang masih menyimpan dendam lama.

Di antara keluarga raja Kadiri ada yang tidak suka terhadap Ranggawuni, mereka keberatan terhadap penyatuan Kadiri dan Tumapel di bawah pemerintahan någhå roro saléng itu.

Prasasti Mula Malurung Lempengan X A dan XI A (?) menyatakan secara tersamar atas ketidak-senangan penyatuan kedua kerajaan itu dengan kalimat:

Sungguh takutlah para pengikut Sri Maharaja Lingga Chaya kepada Paduka para Prabu semuanya. Takutnya sama seperti rama Sri Maharaja Lingga Chaya kepada Paduka Sri Maharaja Jagannatha.”

Semasa pemerintahan Sri Baginda Jaya Wisnuwardhana di tahta Singasari dari tahun 1250 sampai tahun 1272, atau selama 22 tahun (menurut Pararaton), setidaknya ada lima peristiwa penting yang diwartakan oleh penulis Pararaton, Mpu Prapanca dalam pujasastra Negarakretagama, Tamra Prasasti Mula Malurung, dan beberapa peninggalan sejarah lainnya.

Pertama: perkawinan politis dalam upaya penyatuan dua kerajaan dalam satu negara kerajaan Singasari;

Kedua: Singasari menuju masa kejayaan;

Ketiga: penganugerahan desa sima dan pembebasan pajak pada daerah tertentu;

Keempat: pemusnahan gerombolan pemberontak Linggapati; dan

Kelima: pengalihan pelabuhan dan pembangunan pelabuhan baru sebagai upaya perluasan wilayah politis dan perdagangan.

Semenjak pemerintahan Ranggawuni Wisnuwardhana dan Mahisa Campaka Sang Ratu Anggabhaya Narasinghamurti, Singasari dalam keadaan aman damai. Kedua pemimpin negara, raja dan wakil raja itu berkesempatan mempersatukan kembali Tumapel dan Kadiri di bawah negara kesatuan kerajaan Singasari, dan membangun Singasari menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi

Pada masa-masa pemerintahan Någhå Roro Saléng (SUNdSS) itulah Singasari mulai merambah naik mengalami masa kejayaan, dan kelak mencapai masa keemasan dan kejayaannya pada masa pemerintahan putranya. Prabu Kertanagara.

Hal yang tidak disinggung oleh Ki Dhalang SH Mintardja dalam SUNdSSnya adalah upaya Ranggawuni Wisnuwardhana dan Mahisa Campaka menyatukan kembali dua kerajaan yang terpecah pasca tewasnya Ken Arok.

Daha dibawah kekuasaan Mahisa Wonga Teleng atau Bhatara Parameswara, Janggala yang beribukotakan Kuthåråjå dibawah pemerintahan Anusapati.

Salah satu cara yang ditempuh oleh para sesepuh kraton yang diprakarsai oleh Sang Ardanareswari Ken Dedes untuk menyatukannya, sekaligus menyatukan kedua keturunan dari satu ibu yang berbeda ayah itu adalah menikahkan dua cucu keturunannya.

Sebagai putra mahkota pada waktu itu, Ranggawuni putra Anusapati dinikahkan dengan Waning Hyun. Waning Hyun yang mempunyai gelar abhiseka Jayawardhani adalah puteri raja Daha Kadiri Bhatara Parameswara, saudara perempuan Narasinghamurti sendiri, demikanlah maka hubungan antara Narasinghamurti dan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar.

Pernikahan ini menjadikan Janggala dan Daha yang tadinya terpecah, menjadi satu kembali di dalam kerajaan besar Tumapel yang bernama Singasari, seperti yang pernah dirintis oleh Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi alias Ken Arok.

Ibukota kerajaan Tumapel yang luas seolah gadis muda yang baru terjaga, lalu bersolek dengan pupur harapan dan sehelai impian yang disampirkan di pundak kota baru bernama Pråjå Singasari. Maka Kuthåråjå telah memprakarsai angên-angên, konsep yang akan terus hidup membayangi bhumi Tumapel di masa depan.

Dari wangsa-wangsa sebelum Tumapel, Ranggawuni, Sang Bhatara Indra Jaya Wisnuwardhana yang yang menurut Prasasti Maribong (angka tahun 1248M), beliau memetik hikmah, seperti yang dituturkan para adiguru:

Tat twam ashi, [Aku adalah engkau, ungkapan lainnya sama dengan Sirå yå Ingsun, Ingsun yå Sirå];

Bhinneka tunggal ika, (Bhine ika tunggal ika) [berbeda-beda itu tetaplah satu jualah itu] {Ika (Jawa Kuno) = iku (bahasa Jawa yang dipakai sekarang)};

Tan hana dharma mangrwa [tiada kesetiaan yang mendua].

Dalam menjalankan pemerintahannya Prabu Semining Rat dibantu oleh Ratu Anggabhaya Narasinghamurti. Sedangkan pemerintahan sehari-hari dilakukan oleh Mahamentri Patih Raganata.

Bersama Sang Ratu Anggabhaya yang berkewajiban mengurus keamanan segenap penjuru Tumapel, Sang Mapanji Seminingrat menjalankan pemerintahan didukung para pembesar utama Janggala-Kadiri, dukungan diberikan oleh Sang Pamegat ring Ranu Kabayan Sang Arya Apanji Patipati Empu Kapat, yang berhasil membulatkan suara raja-raja bawahan Kadiri.

(Sang Pamegat ring Ranu Kabayan Sang Arya Apanji Patipati Empu Kapat adalah orang yang menyembunyikan Ranggawuni dan Mahisa Campaka ketika masih kecil dari pencarian Tohjaya, raja Singasari pada waktu itu dari garis Ken Arok dan Ken Umang.)

Ratu Anggabhaya yang memiliki nama kecil Mahisa Campaka adalah adik laki-laki Sang Permaisuri Waning Hyun. Mahisa Campaka masih terlalu muda sehingga pamannya yang bernama Guning Bhaya menjadi walinya dan mengurus kerajaan Kadiri. Namun saat Mahisa Campaka dewasa, Prabu Guning Bhaya digulingkan saudaranya yang seayah namun berlainan ibu, Nararya Tohjaya, putera Ken Angrok dengan Ken Umang.

Didampingi pejabat tinggi Kadiri yang setia kepada ayah dan pamannya, yaitu Pranaraja, Mahisa Campaka bersekutu dengan kakak ipar sekaligus sepupunya, Sri Semining Rat, putera mahkota kerajaan Janggala.

Pada tahun 1176Ç/1254M ibu kota Kerajaan Tumapel diganti nama dari Kuthåråjå menjadi Singasari.

Demikianlah, di masa tenang pada tahun yang sama, saat Sri Kertanagara dinobatkan sebagai yuwaraja Kadiri, maka Ratu Anggabhaya telah memerintah kerajaan bagian Hring dengan abhiseka Sri Narajaya.

Sejak pemerintahan Någhå Roro Saléng , Bhumi Tumapel yang subur menggeliat, pajak dari warga kilalan masuk ke dalam kas kerajaan bagai mata air yang tak pernah surut.

Cengkeh, pala, merica, kayu cendana, gaharu, kapur barus, kapas, garam, gula, gading liman hingga cula badak, rempah-rempah, sulfur, bermacam-macam jenis burung diburu para vaniyaga dari negeri jauh (antara lain: Cina), Jawadwipa (Singasari/Majapahit, Kesultanan Tidore, Ternate sejak awal abad ke-13 merupakan percabangan dari jalur sutra yang terkenal itu); seraya membawa barang dagangan di atas perahu masing-masing seperti emas batangan, piring emas, perak, lempengan tembaga, barang-barang pecah-belah dari porselin, keramik, kain sutera, kain brokat adiwarna, dan kain damas.

Bengawan Brantas yang mengalir deras dipecah dalam tiga kanal yang bermuara di laut Jawa telah lama sekali dilalui perahu-perahu para pedagang yang pergi ke Hujung Galuh (Churabaya), pusat perdagangan dan pelabuhan di masanya, tempat para vaniyaga bertransaksi sementara kapal-kapal mereka berlabuh di dermaga.

Jual beli yang bernilai besar dibayar menggunakan tail emas, emas atau perak dengan berat yang telah ditentukan. sebagai alat pembayaran atau alat tukar yang sah.

Sang Maharaja Wisnuwardhana menyadari jika kemajuan Tumapel tidak terjadi dengan sendirinya, kalangan yang berjasa perlu dianugerahi desa sima. Terutama para brahmana dan pendeta yang berada di seluruh kawasan Janggala dan Panjalu, mereka semua dibebaskan dari ikatan thanibala, berhak penuh mengurus bangunan suci masing-masing tanpa diberatkan lagi dengan kewajiban membayar pajak. Pendapatan mereka melambung ditambah pengakuan yang sangat tinggi dari kawula kerajaan.

Pada tahun 1176Ç/1254M, Maharaja Wisnuwardhana atau Prabu Sri Seminingrat telah memerintahkan seorang puteranya yang menjabat raja muda di Daha menyelenggarakan pasamuhan agung untuk meneguhkan prasasti Mula Malurung, dihadiri raja-raja vasal dan pembesar Tumapel.

Mereka diminta persetujuannya untuk pemberian anugerah desa swatantra kepada pejabat kerajaan yang berjasa, Sang Pranaraja.

Sang Ramapati Mapanji Singharsa yang bertindak sebagai juru bicara, menghaturkan salam hormat seraya menyebut satu-persatu nama besar yang melingkupinya:

Sejahteralah Sri Seminingrat yang bergelar Maharaja Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana sang penguasa utama kerajaan Tumapel, penuh kemuliaan Sang Permaisuri Waning Hyun dengan abhiseka Sri Jaya Wardhani.

Kedua paduka yang bersinar berlangkan bintang citra kasih para putera dan puteri, yang mulia Sang Apanji Adhimurti Nararyya Wiraraja yang dicintai seluruh rakyat tlatah Madura, yang agung Nararyya Kirana penguasa bumi Lamajang, Nararyya Murddhaya yang gagah nan perkasa sang yuwaraja yang menduduki kerajaan Kadiri, Nararyya Turuk Bali sang juwita kesayangan puteri agung pengayom rakyat nagari Glang-Glang didampingi sang pangeran perkasa nan perwira Sang Jaya Katong.”

Ramapati mengambil jeda dengan selintas tarikan napas tenang, seraya menghadapkan wajahnya kepada deretan para priyagung yang duduk dalam sikap wibawa di atas kursi kebesaran para natha. Nama para bangsawan itu lalu bergema ke seantero paseban, mengalir dalam suara terang sang juru bicara sesepuh Tumapel yang dihormati.

Junjungan hamba yang berjiwa besar dan ksatria agung, Prabu Sri Narajaya yang bertahta di Hring. Juga saudara muda terkasih paduka raja, sang prabu Sri Ratnaraja sebagai penguasa kerajaan bagian Morono. Dan yang mulia Sri Sabhajaya, keluarga paduka pemangku sejati kerajaan Lwa.”

Lalu Sang Ramapati meletikkan ingatan segenap yang hadir kepada keagungan masa lalu yang telah menjayakan trah Wangsa Rajasa, bahwa Sang Prabhu Sri Semining Rat adalah cucu Sang Bhatara Syiwa yang wafat di tahta kencana, bahwa perkawinan Sang Prabhu dan Nararyya Waning Hyun telah memancarkan kebahagiaan di antara kedua keluarga utama kerajaan Tumapel hingga lahirlah putera mahkota, Sri Kertanagara.

Tutur Sang Ramapati khidmat, “atas kebesaran para leluhur kerajaan Tumapel, Sang Bhatara Parameswara, ayahanda Nararya Waning Hyun, pamanda sekaligus ayahanda mertua Sang Prabhu Sri Seminingrat, menganugerahkan desa sima Mula-Malurung kepada Pranaraja dan sanak kadang. Karena jasa-jasa Sang Pranaraja yang teramat besar kepada keluarga Janggala-Kadiri, menjalankan tugas-tugas dengan kukuh diliputi semangat pengabdian yang tiada pernah pupus. Yang bersangkutan telah bekerja keras semenjak mangkatnya Sang Bhatara Parameswara, lalu mengabdi kepada Sang Prabu Guning Bhaya, menjadi roda-roda kerajaan Kadiri hingga kepemimpinan Nararya Tohjaya. Sejak Tumapel kembali dilindungi panji-panji leluhur, Sri Seminingrat naik tahta menyatukan para keluarga, dan Pranaraja membuktikan sebagai abdi setia Sri Seminingrat, memimpin segala pekerjaan yang diembankan sampai selesai.”

Namun adakalanya kata yang tak terucap lebih besar gaungnya di luar dinding keraton, sudah menjadi rahasia umum jika keluarga kerajaan Tumapel pasca tewasnya Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi terpecah ke dalam dua kubu.

Kerajaan Kadiri dengan ibukotanya di Daha dikuasai oleh Mahisa Wong Ateleng, sedangkan Janggala beribukotakan Kuthåråjå di bawah pimpinan Anusapati. Namun ibunda sang penguasa kedua kubu tak membiarkan ketegangan di antara anak-anaknya yang berlainan ayah itu memanas, ia melakukan hal yang memang sepatutnya dilakukan seorang eyang, menikahkan cucu perempuannya, Waning Hyun, puteri raja Kadiri, dengan sepupunya, Ranggawuni, putera mahkota kerajaan Janggala. Dan Pranaraja yang memahami keinginan Ken Dedes, senantiasa mengupayakan jalan tengah dan menyediakan diri sebagai juru damai.

Siapa Sang Ramapati Mapanji Singharsa?

Beliau disebut oleh Pararaton:

Hana ta patih ira duk mahwa anjeneng ratu, apuspatha sira Mpu Raganatha

[Ada patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganatha, bergelar Sang Mahamentri Patih Raganatha.]

Tetapi nama Raganata hanya dikenal oleh Pararaton, tidak dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan semasa Tumapel atau Singasari.

Disebutkan, Raganata digantikan Kebo Anengah pada awal pemerintahan Kertanagara, yang naik tahta tahun 1190Ç/1268M.

Pada prasasti Penampihan (angka tahun 1191Ç /1269M) ditemukan nama-nama para pejabat Singasari, antara lain Sang Ramapati. Disebutkan pula bahwa, Ramapati adalah tokoh senior yang bijaksana, yang merupakan pemuka para petinggi kerajaan.

Nama lengkap Ramapati justru terdapat dalam prasasti Mula Malurung, yaitu Sang Ramapati Mapanji Singharsa, sebagai tokoh yang menyampaikan perintah Wisnuwardhana kepada bawahan, dan sebaliknya, menyampaikan permohonan bawahan kepada raja.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, nama sebenarnya dari Raganata adalah Mapanji Singharsa, bergelar Sang Ramapati.

Siapa pula Kebo Anengah?. Pertanyaan ini akan dijawab kemudian pada wedaran Ekspedisi Pamalayu.

Semua abdi bhumi Tumapel yang berjasa telah menerima anugerah desa sima dari Sang Prabu Seminingrat. Mereka yang beruntung telah membakar seribu dupa, mempersembahkan sesaji dengan hiasan kembang adirupa yag telah dironce sebagai wujud syukur kepada para nayaka seraya mendoakan kesehatan dan kemuliaan segenap raja di pulau Jawa dan Madura.

Setiap pemberian anugerah kemudian dicatat dalam kitab bhumi, dilaksanakan oleh para ksatria yang terdiri dari:

Rakryan Mahamantri i Hino,

Rakryan Mahamantri i Sirikan, dan Rakryan Mahamantri i Halu.

Lalu diteruskan ke bawah kepada para tanda Rakryan Pakirakiran, juga kepada para Dang Acarya.

Para penerima anugerah dan ‘sanak-kadang’nya telah kuat kedudukannya disandingi prasasti yang diwujudkan dalam tamra prasasti.

Dongèng kapunggêl sêmantên rumiyin, ånå tutugé

sumånggå siågå,

sêsuci hangrêsiki hangilangké rêrêgêd lan kaluputan. Sumadyå sébå hing ngarsané Gusti.

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 18:02  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-sri-maharajadhiraja-krtanagara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. lho, dereng wedhar ta ki, …
    kula tetep setiya nengga tutugipun dongeng kertanegara lho ki, ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: