Seri ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA

WEDARAN KEDUA

On 31 Januari 2011 at 00:58 cantrik bayuaji said:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SINGASARI MENUJU PUNCAK KEJAYAAN [Parwå ka-2]

[Waosan kaping kalih]

Pararaton, Nagarakretagama, Prasasti Mula Malurung, dan beberapa prasasti lainnya memberitakan, bahwa upaya Sang Prabu Wisnuwardhana memakmurkan dan mensejahterakan kawula Singasari merayap naik untuk menuju puncak kejayaannya ternyata tidak disukai oleh sekelompok orang. Orang-orang yang tidak senang jika Singasari menjadi besar. Keluarga istana Kadiri terutama, di antara mereka ada yang tidak suka terhadap Ranggawuni, mereka keberatan terhadap penyatuan Kadiri dan Tumapel di bawah pemerintahan Någhå Roro Saléng itu.

Mereka merencanakan kudeta untuk melèngsèrkan Prabu Wisnuwardhana dan Ratu Anggabhaya Mahisa Campaka dari tahta kencana Singasari.

Penulis Pararaton menyebutkan Sang Lingganing Pati dari Mahibit:

Mangkat sira amrep ing Mahibit, anghilangaken Sang Lingganing Pati

[Ia berangkat menyerang Mahibit, untuk melenyapkan Sang Lingganing Pati].

Nagarakretagama Pupuh XLI:2 mewartakan seseorang yang bernama Linggapati:

Siranghilangaken duratmaka manama linggapati mati sirnna sahana

[Beliau (Prabu Wisnuwardhana dan Ratu Anggabhaya Bhatara Narasinghamurti) memusnahkan perusuh yang bernama Linggapati berserta seluruh pengikutnya],

Sedangkan Prasasti Mula Malurung menyebutkan seorang tokoh keluarga istana Kadiri yang tidak senang terhadap Ranggawuni, yaitu Sri Maharaja Lingga Chaya

Disebut pula tentang pembangunan pelabuhan di Canggu yang terletak di utara Kuthåråjå, mengingat pelabuhan lama kerajaan Tumapel Yortan perlu dicarikan penggantinya.

Bhatara Wisnuwardhana angadegaken kutha ring Canggu lor isaka 1193.

[Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun 1193Ç].

Pararaton menyebut pula nama Mahisa Bungalan.

Demi menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan kerajaan, maka para pemberontak itu harus dimusnahkan. Untuk itu sang prabu mengirim bala tentara kerajaan yang dipandégani oleh seorang perwira muda pemimpin pasukan tempur Sang Senopati hing Ayudhå haran sira Mahisa Bunghalan.

Banyak hal yang dikerjakan oleh SUNdSS. Penulis Pararaton mewartakan tentang pembangunan sebuah kutha pelabuhan di Canggu yang terletak di utara kotaraja, di tepian Bengawan Brantas,

Canggu dibangun untuk membuka keterpencilan ibukota Kuthåråjå, memperluas wilayah politis dan perdagangan. Sebagai kota pelabuhan, sekaligus benteng pertahanan terhadap musuh.

Dalam penyerbuannya ke Mahibit untuk menumpas pemberontak Linggapati, benteng Canggu pun digunakan oleh sang senopati Mahisa Bungalan sebagai garis depan pertahanan pasukannya, garis terdepan untuk menyerang Mahibit.

Namun sebenarnya Tumapel sudah memiliki pelabuhan besar yang dibangun semasa Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa atau Mpu Sindok sebagai raja pertama Kerajaan Medang (Mataram Lama atau lebih dikenal dengan sebutan Mataram Hindu) periode Jawa Timur yang memerintah sekitar tahun 929 sd 947, pelabuhan itu adalah Pelabuhan Jedung.

Dipercaya Pelabuhan Jedung digunakan dan dikembangkan semasa Prabu Jayabaya bertahta di Kadiri, yakni pada saat beliau mempersatukan dua kerajaan Panjalu dan kerajaan Janggala dalam kekuasaannya.

Pelabuhan dan benteng “kuthaCanggu, yang disebut-sebut digunakan sebagai benteng pertahanan garis terdepan penyerangan ke Mahibit oleh Sang Sénopati hing Ayudhå Mahésa Bungalan ketika menumpas gerombolan pemberontak Linggapati atas perintah Sang Prabu Ranggawuni Wisnuwardhana, ternyata menyimpan dongeng lain.

Mengapa Pelabuhan Jedung yang terletak tepi pantai Selat Madura berpindah ke Canggu yang terletak di pedalaman, justru menjauhi perairan bebas.

Pada akhir abad ke-12, sekitar tahun 1178 ketika seorang penulis, dan juga seorang pengelana Cina bernama Chou Ku Fei menulis dalam karyanya Ling Wai Taita, suatu catatan muhibah ke She Po (Tanah Jawa), dia seorang jurnalis, seperti Empu Prapanca dengan Nagarakertagamanya.

Buku ini berisi gambaran kehidupan tata pemerintahan, keadaan istana raja, dan perdagangan di Tanah Jawa semasa Kerajaan Kadiri (Panjalu).

Buku ini kemudian dikutip oleh Chau Ju Kua dalam karyanya yang berjudul Chu Fan Chi atau Catatan Negeri-negeri Asing pada tahun 1225. Saat itu kerajaan Kadiri sudah dikalahkan kerajaan Tu-ma-pan(Tumapel/Singasari).

Disebutnya bahwa kerajaan di Tanah Jawa yang terkenal adalah Pui Chi Lung. Disebutkan bahwa perdagangan antara Cina dan Pui Chi Lung telah berkembang pesat. Pui Chi Lung banyak mengekspor hasil bumi dan hasil hutan ke Cina.

Tentang perdagangan ini selanjutnya Chou Ku Fei menulis: “Di antara negara-negara asing yang kaya, yang di tepi pelabuhannya mempunyai gudang-gudang berisi berbagai macam barang-barang yang sangat berharga adalah Pui Chi Lung.

Kekayaannya hanya bisa ditandingi oleh negara Ta Shi; adapun San Fo Tsi belum bisa menyamai keduanya; kemudian baru yang lainnya.”

Pui Chi Lung (transliterasi Cina dari nama tempat di Jawa: Panjalu). Pada waktu itu Panjalu dan Janggala telah bersatu kembali berkat kemenangan Prabu Jayabhaya pada tahun 1135. Pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur telah dikuasi oleh Panjalu.

Ta-shi, suatu negara di Timur Tengah, Ta-shi transliterasi Cina, diduga adalah Arab; mengingat dalam tulisan selanjutnya disebut “raja Ta-shi” yang bernama Han-mi-mo-mi-ni mengirimkan utusan ke istana Cina. Boleh dipastikan bahwa nama ini adalah ucapan Cina untuk Amirul Mu’minin, gelar resmi para khalifah Islam.

Sedangkan San Fo Tsi adalah Suwarna Bhumi atau Sumatra, mungkin yang dimaksud adalah Sriwijaya.

Yang unik dalam pemberitaan Chou Ku Fei adalah perilaku para pedagang dan penjabat kerajaan baik Cina maupun Panjalu.

Chou Ku Fei menulis, bahwa telah ada suatu ketentuan dari penguasa kerajaan Cina, bahwa para pedagang Cina dilarang berdagang dengan Panjalu, dengan sebab yang tidak jelas; tetapi karena para pedagangnya dan para pejabatnya sudah berkolusi dan korup, maka perdagangan dari dan ke Panjalu didiamkan. Laporan yang dibuat oleh para pedagang Cina kepada pemerintahnya menyebutkan bahwa mereka berlayar ke wilayah selatan kerajaan sampai ke negara Sukitan, tanpa menyebut nama Panjalu.

Chou Ku Fei tahu bahwa Sukitan dan Pui Chi Lung atau Panjalu adalah negara yang sama dengan nama berbeda. Sehingga para pedagang itu telah menipu pemerintah kerajaan Cina, dan sudah barang tentu laporan itu telah dimanipulasi oleh para pedagang dengan sepengetahuan para pejabat kerajaan yang korup.

Yang ingin cantrik Bayuaji dongengkan di sini sebenarnya adalah tentang keberadaan dan letak geografi Pelabuhan Jedung, sedangkan dongeng tentang kolusi, korupsi dan mungkin nepotisme atau KKN di atas sekedar mengingatkan, bahwa “makhluk” KKN itu sudah pernah “hidup” di abad ke-12 sampai sekarang.

Chou Ku Fei selanjutnya mengabarkan bahwa pelabuhan tempat bersandarnya jung, perahu dan kapal-kapal para pedagang adalah Pelabuhan Yau Toung. Dibelakang pelabuhan ada gunung yang menjulang tinggi disebut dengan nama Gunung Pau Lau An dengan satu puncak utamanya yang dikeleilingi oleh empat puncak lainnya dan selalu tertutup kabut.

Gunung Pau Lau An ini digunakan sebagai kompas atau pedoman untuk perahu-perahu yang akan masuk pelabuhan.

Pelabuhan Yau Toung, transliterasi Cina dari Pelabuhan Jedung, sedangkan Gunung Pau Lau An adalah Gunung Penanggungan.

Dalam sejarah kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan (tinggi 1659 meter dpl. terletak di utara Gunung Arjuno-Welirang), adalah sebuah gunung yang penting. Kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat-nadikan Sungai Brantas, kerajaan-kerajaan itu ibaratnya bersandar mengelilingi Gunung Penanggungan, Kahuripan, Jenggala, Daha, Tumapel/Singasari dan Majapahit.

Gunung Penanggungan sering dijadikan ajang strategi perang, setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan-kerajaan itu. Airlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru.

Gunung Penanggungan dijadikan tempat untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Airlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Airlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. Makam-makam yang dikeramatkan ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus-ratus tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.

Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya indah-permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan-kerajaan ini nampaknya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.

Tanah Delta Brantas itu tidak stabil karena tanah di bawahnya masih terus saja bergerak. Tujuh jajaran antiklin sebagai sambungan ujung Pegunungan Kendeng yang mengarah ke Selat Madura. Misalnya, pernah terjadi kenaikan tanah di sekitar sambungan (muara) Kali Brantas dengan Kali Mas; palung sungai bergeser ke kiri sehingga airnya mengalir ke barat.

Setelah mengisi ledokan yang dinamai Kedunglidah (di sebelah barat Surabaya sekarang), kemudian mengalir menuju laut dan bermuara di dekat Gresik. Menurut catatan sejarah, Kedunglidah itu masih ada pada tahun 1838.

Sejak zaman Kerajaan Medang (Mataram Hindu periode Jawa Timur) pada abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh).

Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Jenggala atau Kahuripan yang letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (tidak jauh ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan lumpur Sidoarjo sekarang).

Setelah kerajaan Airlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri, yang kemudian dipersatukan kembali oleh Prabu Jayabhaya pada tahun 1135, di bawah kerajaan Panjalu, yang sudah didongengkan di atas.

Memperhatikan uraian di atas, maka pembangunan pelabuhan sekaligus benteng (Pararaton menyebutnya “kutha”) di Canggu, tidak semata-mata sebagai upaya penyerangan ke Mahibit, tempat gerombolan pemberontak Linggapati bertahan, tetapi juga dapat dihubungkan dengan mundurnya fungsi delta Brantas yang didahului oleh rentetan bencana geomorfologis, maka pelabuhan dari muara Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, menjauhi perairan bebas.

Menurut Prasasti Kelagyan (Kamalagyan) yang dibuat semasa Prabu Airlangga bercandra sengkala 959Ç atau 1037M. Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan menceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah-rumah penduduk.

Prabu Airlangga membuat bendungan untuk mengatur daerah aliran sungai Brantas. yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, Sang Prabu Airlangga bertindak membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa aliran sungai Brantas kembali mengalir ke utara.

Mungkin, berpindahnya daerah aliran sungai (DAS) Brantas inilah yang disebut sebagai bencana “banyu pindah” dalam Kidung Pararaton. Demikian juga dalam Pararaton memberitakan adanya “pagunung anyar, yang timbul karena terjadinya erupsi jalur gunung lumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal. Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Dan ini menunjukkan bahwa sepanjang jalur dari Gunung Penanggungan, sesar Watukosek, yang memotong Kali Porong, adalah sebuah mud volcano (pegunungan lumpur).

Secara geologi, Jalur Jombang-Mojokerto-Bangsal adalah masih di dalam Jalur Kendeng, sejalur dengan lokasi semburan lêndhut bêntèr, trasi muncrat Jeng LuSi, alias Lumpur Sidoarjo (ingat dongeng Timun Mas), masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), di bawahnya dari selatan ke utara ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil.

Secara struktural aktivitas deformasi di wilayah Kendeng bagian timur ini terjadi melalui gravitational tectogenesis sebab geosinklin Kendeng Timur-Selat Madura masih sedang menurun. Kondisi elisional semacam ini tentu memudahkan piercement structures seperti mud volcano eruption. Dari geosinklin menjadi antiklinorium jelas melibatkan sebuah sistem elisional.

Gunung Penanggungan, adalah gunung paling dekat ke lokasi semburan lumpur Sidoarjo. Gunung yang terletak di sebelah selatan Sungai Porong ini dan masih ke sebelah selatan dari Gawir Watukosek, sebuah gawir sesar hasil deformasi sesar Watukosek yang juga membelokkan Sungai Porong, melalui titik-titik semburan lumpur panas termasuk lêndhut bêntèr, trasi muncrat itu, juga melalui deretan gunung-gunung lumpur di sekitar Surabaya dan Bangkalan Madura.

Daerah genangan lumpur sidoarjo sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari zaman Empu Sindok dan Airlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit nantinya.

Penelitian selanjutnya telah menemukan bukti-bukti bahwa telah terjadi berbagai deformasi tanah yang pangkalnya adalah bukit-bukit Tunggorono di sebelah selatan kota Jombang sekarang, kemudian menjalar ke timurlaut ke Jombatan dan Segunung.

Akhirnya gerakan deformasi tersebut mengenai lokasi pelabuhan Canggu di sekitar Mojokerto sekarang, lalu makin ke timur menuju Bangsal (sekitar 25 km di sebelah barat lokasi semburan lumpur Sidoarjo sekarang).

Bencana erupsi semua gunung lumpur itu sangat dahsyat, dan bencana seperti ini nampaknya terjadi berulang-ulang, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256Ç atau 1334M pada zaman Majapahit.

Dan di abad ke-21 kini bencana banyu pindah dan pagunung anyar kembali terjadi gara-gara semburan “lêndhut bêntèr, trasi muncrat Jêng LuSi” atawa Lumpur Sidoarjo itu.

Pada akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13, pelabuhan Panjalu bukannya Pelabuhan Jung Galuh yang terletak di Muara Kali Mas, mengingat berita Cina itu menyebutkan nama pelabuhan lain yaitu Chung Kia Lu, Hujung Galuh).

Nama Janggala diperkirakan berasal kata Hujung Galuh, atau disebut Jung Yalu atau Chung Kia Lu berdasarkan dialek Cina. Hujung Galuh terletak di daerah muara sungai Brantas yang diperkirakan kini menjadi bagian kota Çhurabaya. Kota ini merupakan pelabuhan penting sejak jaman kerajaan Kahuripan, Janggala, Kadiri, Singasari, hingga Majapahit. Pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit pelabuhan ini kembali disebut sebagai Hujung Galuh.

Penyebutan Hujung Galuh itu bertalian dengan letak Tapan, negara jajahan Panjalu.

Tapan transliterasi Cina dari kata Sampang yang terletak di sebelah timur Jung Galuh, yakni Pulau Madura.

Memperhatikan cacatan perjalanan Chou Ku Fei tersebut, dapatlah ditetapkan bahwa Pelabuhan Jedung atau Pelabuhan Yau Toung dalam dialek Cina, berada di muara Kali Porong yang menghadap ke Selat Madura, beradu pandang dengan Sampang, yang di belakangnya menjulang Gunung Penanggungan.

Adapun Sukitan merupakan transliterasi Cina dari Supitan (Dalam bahasa Jawa, selat disebut supit atau supitan, atau laut yang sempit), dimaksud di sini adalah Supitan Madura, suatu tempat yang membentang di perairan selat Madura dari Bangil sampai Surabaya atau pantai Barat Daya Madura.

Hingga sekarang belum diketahui dengan pasti apa sebenarnya nama asli dari Pelabuhan Yau Toung ini. Jika disepakati bahwa Pelabuhan Yau Toung merupakan transliterasi Cina dari Pelabuhan Jedung, maka didapati suatu daerah di dekat Kembang Sri, tepian Kali Porong.

Dibuktikan pula dengan ditemukannya Prasasti Kembang Sri atau lebih dikenal dengan sebutan Prasasti Jedung, dari zaman Kemaharajaan Empu Sindok, bunyi sebutannya mirip Yau Tuoung, dan letak geografisnya tidak menyalahi kemungkinan sebagai pelabuhan pada masa itu.

Tetapi karena kita tidak mampu melakukan identifikasi pelabuhan itu hingga hari ini, maka dalam sejarah selalu disebut pelabuhan Yau Toung atau pelabuhan Yortan.

Runtuhnya kerajaan Kadiri karena serbuan Tumapel Singasari semasa Ken Arok. Prabu Kertajaya tewas pada peperangan di Ganter. Dengan demikian Pelabuhan Jedung menjadi pelabuhan wilayah Tumapel.

Telah didongengkan di atas bahwa pembangunan ‘kutha’ Canggu bukan semata-mata karena alasan keamanan negara, tetapi lebih banyak karena dipicu faktor alam, yaitu tidak berfungsinya Pelabuhan Jedung karena bencana banyu pindahdan pagunung anyar, meluapnya ‘lêndhut bêntèr, trasi muncrat’ maka pelabuhan dari muara Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu.

Baginda Prabu Wisnuwardhana seperti diterangkan dalam kitab Pararaton, yang menyebutkan bahwa beliau membangun ‘kutha’ Canggu Lor pada tahun 1193Ç/1271M.

Pararaton mengabarkan:

Bhatara Wisnuwardhana angadegaken kutha ring canggu lor isaka 1193.

[Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun 1193Ç/1271M.]

Disebutkan bahwa Canggu Lor terletak di sebelah timur percabangan sungai Brantas menjadi Kali Mas dan Sungai Porong. Tepatnya berada di sebelah utara daerah Trik. Sungai Mas satu sisi dari Tarik, dan sisi lainnya menuju Hujunggaluh dan Sungai Porong. Toponimi nama Trik sekarang menjadi Tarik, yang diduga lokasi ibukota Kerajaan Majapahit.

Kesimpulan ini mengacu kepada keterangan yang diperoleh dari Kidung Sundayana. Disebutkan pada Kidung Sundayana (versi CC Berg) bahwa ketika rombongan Sang Prabu Linggabhuana dari Kawali Sunda hendak menuju ke Majapahit, kapal-kapal dari tatar Sunda melalui “kota bandar” yang terletak di sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan, terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur. Di tempat inilah kapal-kapal yang ditumpangi rombongan Prabu Linggabhuana berlabuh dan kemudian membangun perkemahan di atas tanah lapang yang biasa digunakan upacara kenegaraan dan keagamaan.

Canggu boleh jadi yang dalam Kidung Sunda disebut disebut sebagai “kota bandar”, karena di tempat ini pernah ditemukan sisa-sisa bangunan dalam bentuk bangunan talud (penahan gelombang atau bangunan dermaga), dan bata kuno dalam jumlah cukup banyak yang berserakan di mana-mana. Tempat ini ditengarai sebagai lokasi pusat ibu kota Majapahit.

Di tempat ini pula terletak Dusun Medowo yang dalam naskah Negarakertagama disebut Madawapura. Dalam perjalanan waktu Canggu akhirnya memang menjadi “kota”. Sekarang, Desa Canggu termasuk wilayah kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Disebutkan dalam Pararaton, bahwa Mahibit berada tidak jauh dari benteng Canggu. Diduga terletak di daerah Terung, tidak jauh dari kota keraton Majapahit. Tetapi karena kurangnya data-data sejarah, sulit dibuktikan dengan tepat lokasinya.

Selanjutnya Pararaton mengabarkan penyerbuan pasukan tentara Singasari yang dipimpin oleh Sang Senopati ing Ayudhå Mahisa Bungalan.

Sangkan ing mahibit alah, lan engon wong, haran sira Mahisa Bunghalan,

[Adapun sebabnya Mahibit kalah, karena kemasukan orang yang bernama Mahisa Bungalan].

Prasasti Mula Malurung Lempengan X A dan XI A (?) menyatakan secara tersamar atas ketidak-senangan penyatuan kedua kerajaan itu dengan kalimat:

Sungguh takutlah para pengikut Sri Maharaja Lingga Chaya kepada Paduka para Prabu semuanya. Takutnya sama seperti rama Sri Maharaja Lingga Chaya kepada Paduka Sri Maharaja Jagannatha.”

Nagarakretagama memuat keterangan bahwa Prabu Wisnuwardhana menghancurkan para pemberontak yang dipimpin oleh Linggapati sehingga takutlah musuh baginda.

Siranghilangaken duratmaka manama linggapati mati sirnna sahana

Ares sahana ning parangmuka ri jong nireki tuhu dewamurtti sakala.

[Beliau memusnahkan perusuh Linggapati serta seluruh pengikutnya, Takut semua musuh kepada beliau, sungguh titisan Siwa di bumi].

Babad Tanah Jawi tidak menceritakan adanya penyerangan ke Mahibit. Peperangan antara Prabu Wismuwardhana dan Sang Lingganing Pati justru dikisahkan melalui relief pada tubuh Candi Jajaghu (nama lama dari Candi Jago), berupa peperangan antara Kresna dengan raja raksasa Kalayawana.

Digambarkan Kresna melarikan diri kedalam goa, dimana raja Mucukunda tertidur melepas-lelah setelah peperangan bersama para dewa melawan para raksasa. Sebagai hadiah atas bantuannya itu ia memperoleh kesaktian dapat membakar siapa saja yang berani mengganggu tidurnya.

Karena dikejar-kejar oleh Kalayawana, Kresna masuk kedalam goa dan bersembunyi di belakang tempat tidur Mucukunda. Kalayawana yang tidak berhati-hasti itu menendang Mucukunda, karena disangka Krisna. Resi Mucukunda marah, maka Kalayawana bersama para tentaranya terbakar oleh api yang keluar dari pandangan mata Mucukunda.

Kresna muda itu selalu nakal. Dan, karena kenakalannya ia dikejar-kejar oleh raksasa bernama Kalayawana. Kresna lalu berlindung kepada pendeta sakti Resi Mucukunda. Kalayawana terus mengejar Kresna. Karena tak tahu sopan santun di hadapan Resi Mucukunda, akhirnya Kalayawana mati terbakar api yang keluar dari jari Sang Resi.

Pada Kakawin Kresnayana, diceritakankan pula kisah peperangan antara Prabu Wismuwardhana dan Sang Lingganing Pati, sama seperti relief pada Candi Jago.

Pupuh 1 (bait 1-5) : Manggala dipersembahkan kepada Dewa Wisnu yang menjelma menjadi manusia pada zaman Dwapara.

Pada Pupuh 1 bait 1 sd 5 menceritakan bahwa Bhatara Wisnu turun ke dunia menjelma menjadi manusia Kresna bernama Bhatara Seminingrat Wisnuwardhana untuk memusnakan segala macam bentuk kejahatan di bumi.

Pupuh 2 (bait 1-8) : Ada suatu kerajaan yang bernama Dwarawati dengan rajanya bernama Kresna. Raja Kresna terkenal di dunia bermusuhan dengan raja Yawana yang bernama Kalayawana yang berbentuk raksasa.

Prabu Wisnuwardhana memerintahkan senopatinya Mahisa Bungalan membakar habis pemukiman Linggapati dan gerombolannya di Mahibit.

Bandingkan dengan gambar pada relief Candi Jago dan Kidung Krenayana, yang menceritakan bahwa Yawana mengejar ke gua dengan suara keras sehingga Resi Pendeta Mucukunda (Mahesa Bungalan) bangun dan sangat marah, keluar api dari matanya dan membakar Kalayawana.

Kresna tidak mau berhadapan di dalam peperangan, tetapi membuat strategi. Ia mencari perlindungan kepada Pendeta Mucukunda yang sedang tidur di gua di lereng Gunung Himawan Kresna. Kemudian, Yawana mengejar ke gua dengan suara keras sehingga Pendeta Mucukunda bangun dan sangat marah, keluar api dari matanya dan membakar kalayawana. Setelah Kresna menang barang rampasan perang dan wanita dari kerajaan Yawana dibawa ke Dwarawati.

Analisis data tahun

Data tahun pembangunan benteng pelabuhan Canggu yang dikabarkan Pararaton ternyata meragukan. Menurut Pararaton, pembuatan benteng di Canggu Lor adalah tahun 1193Ç/1271M. Angka tahun ini berselisih dengan data lainnya.

Prabu Wisnuwardhana menghancurkan pemberontakan Linggapati di Mahibit sekitar tahun 1174Ç atau 1252M, sebelum benteng Canggu dibangun, dan menurut Kitab Nagarakretagama, Prabu Wisnuwardhana meninggal pada tahun 1190Ç atau 1268M. Demikian juga data dari Candi Jago.

Dikabarkan pada data sejarah lainnya bahwa pembangunan Canngu dilakukan oleh Prabu Wisnuwardhana, maka sangatlah tidak mungkin pelabuhan Canggu dibuat setelah penyerangan ke Mahibit atau setelah Prabu Wisnuwardhana meninggal.

Dijelaskan pada dongeng sebelumnya bahwa benteng atau pelabuhan Canggu dibuat dengan maksud sebagai benteng pertahanan dan penyerangan musuh yang bertahan di Mahibit, selain sebagai pengganti pelabuhan Jedung yang rusak karena bencana alam meluapnya lumpur panas.

Data sejarah yang “agak” akurat berdasarkan analisis sumber sejarah yang ada, dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. peristiwa pembuatan bendungan karena banjir lumpur panas “banyu pindah” pertama adalah tahun 959Ç atau 1037M, semasa Prabu Airlangga memerintah di Janggala;
  2. peristiwa banyu pindah karena banjir lumpur panas kedua diperkirakan tahun 1172Ç atau 1250M;
  3. pembangunan benteng atau pelabuhan Canggu tahun 1174Ç atau 1252M. bukan tahun 1193Ç/1271M;
  4. penyerbuan ke Mahibit tahun 1174Ç atau 1252M;
  5. Linggapati pralaya tahun 1174Ç atau 1252M;
  6. Prabu Wisnuwardhana mangkat dan dicandikan di candi Jago tahun 1190Ç atau 1268M;
  7. peristiwa “pagunung anyar” akibat banjir lumpur panas ketiga tahun 1256Ç atau 1334M, jaman Majapahit.

Matahari bersinar cerah di langit Singasari, dan Någhå Roro Salèng atau Sepasang Ular Naga di Satu Sarang dapat tidur dengan nyenyak, pekerjaan selanjutnya adalah membuat Singasari semakin bercahaya, tidak ada lagi kesulitan yang bakal mengabut di seluruh daerah Singasari, musuh telah ditaklukkan, dan alampun telah dijinakkan.

Maka kemudian tibalah saat-saat cerah, Singasari semakin semarak di bumi yang semakin gemah ripah. Pada saatnya para sesepuh lengser, maka tampillah orang-orang muda menggantikannya.

Dan Någhå Roro Salèng itu semakin kuat dan di dalam pemerintahan Singasari, meskipun masih dibayang-bayangi oleh Kadiri yang tidak dapat melupakan kejayaan masa lalunya. Disana masih ada Jayakatwang yang bertahta di Gelang-gelang daerah Wurawan wilayah Kadiri. Itu adalah dongeng tersendiri.

Konflik Singasari pun berakhir pada pemerintahan Ranggawuni Sang Prabu Wisnuwardhana, sehingga beliau akhirnya meninggal tanpa harus terkena kutukan keris Empu Gandring.

Ketika Jayawisnuwardana meninggal, abunya dibagi dua dan disimpan di dua candi. Di Candi Mleri ia dipuja sebagai titisan Syiwa, dan di Candi Jago sebagai Bodhisatwa Amogapasya. Teras dan lorong Candi Jago dipenuhi dengan relief yang melukiskan cerita-cerita jataka dari Tantri Jawa Kuno, dan ketika Sang Anggabhaya Mahisa Campaka Narasinghamurti wafat, beliau dicandikan di Kumeper, sebagian abunya dicandikan di Wudi Kuncir.

Babad Tanah Jawi mengabarkan meninggalnya Sang Prabu Wisnuwardhana:

Sang Nåtå sédå ing taun 1190Ç, layoné diobong kåyå adat, awuné sing sêparo dicandhi ånå ing Weleri, ditumpangi rêcå Syiwah, sing sêparo kapêthak ånå candhi Jago (Tumpang) nganggo rêcå Budhå. Dadi têtéla ing wêktu iku agåmå Syiwah karo Budhå campur.

Perihal pendharmaan raja Wisnuwarddhana beserta Mahisa Campaka, Pararaton (18:10) menyatakan:

panjeneng ira Sri Ranggawuni ratu tahun 14. Tahun moktan ira 1190. Dhinarmma sira ring Jajaghu. Sira Mahisa Campaka mokta, dinarmma ring Kumeper. Pamelesatan ira ring Wudhik Kuncir.

[Beliau, Sri Ranggawuni menjadi raja selama empatbelas tahun, beliau wafat pada tahun 1190Ç/1268M, dicandikan di Jajaghu. Beliau Mahisa Campaka wafat, dicandikan di Kumeper, sebagian abunya dimuliakan di Wudi Kuncir].

Nagarakertagama mengabarkan:

Sakabda kana wawaniksiti bhatara wisnu mulih ing suralaya pejah

Dhinarmma ta sire waleri siwabimba len sugatawimba mungw i jajaghu Samantara muwah bhatara narasinghamurti sira mantuk ing surapada Hanar sira dhinarmma de haji ri wengker uttama-siwarcca munggwi kumitir .

[Tahun Sakabda kana wawaniksiti (1190Ç) raja Wisnu berpulang, Dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago berlambang arca Buda, Sementara itu Batara Narasingamurti pun pulang ke Surapada, Dicandikan di Wengker, di Kumeper diarcakan bagai Siwa Mahadewa].

Pendharmaan di Weleri sampai saat ini belum dapat diketahui lokasinya, tetapi pendharmaan sebagai Buddha Amoghapasa di Jajaghu masih dapat diidentifikasikan, yaitu Candi Jago di daerah Tumpang, Malang. Di candi itu didapatkan arca Dhyani Bhoddhisattva Amoghapasa dengan 4 pengiringnya (Bhrkuti, Hayagriva, Sudhanakumara, dan Syamatara) yang sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Proses unifikasi keagamaan itu disempurnakan oleh raja Singasari terakhir, Kertanagara, yang pada 1268 menggantikan ayahnya, yaitu dengan menjalankan pemujaan Siwa-Budha.

Pelangi Singasari episode SUNdSS telah berakhir dengan kemenangan Någhå Roro Salèng [Sepasang Ular Naga di Satu Sarang] dan pasukan tentaranya yang dipimpin oleh Sang Sénopati hing Ayudhå Mahisa Bungalan, lalu bersambung dengan dongeng “Babad” HLHLP dari rontal 1 sd rontal 118.

Dongèng tutugé: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara bertahta di Tumapel

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 18:02  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-sri-maharajadhiraja-krtanagara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. lho, dereng wedhar ta ki, …
    kula tetep setiya nengga tutugipun dongeng kertanegara lho ki, ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: