Seri ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA

WEDARAN KETIGA
On 1 Februari 2011 at 01:08 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA BERTAHTA DI TUMAPEL

[Waosan kaping-3]

Sri Maharaja Kertanagara (1268M – 1292M), adalah raja terakhir yang memerintah kerajaan Singasari menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana. Menurut Pararaton ia adalah satu-satunya raja Singasari yang naik takhta secara damai.

Dari Negarakretagama kita ketahui bahwa perubahan nama Kutaraja menjadi Singasari terjadi dalam pemerintahan raja Wisnuwardhana di sekitar tahun 1176Ç atau 1254M. Sumber sejarah lainnya tidak menyebut nama dusun Kutaraja yang kemudian berganti nama Singasari yang awalnya adalah Tunapel. Namun disebutkan bahwa nama Tumapel itu masih dipakai ketika Kertanegara naik tahta.

Semasa pemerintahan Kertanagara merupakan masa keemasan bagi kerajaan Singasari dan Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang bertekad ingin menyatukan wilayah Nusantara, salah satunya diwujudkan dalam ekspedisi Pamalayu.

Prabu Kertanagaralah sang pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Ingsun Tan Amukti Palapa, Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada yang kelak menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945.

Namun ironis bagi Sri Prabu Kertanegara, kemajuan yang dicapai di satu pihak beriringan dengan kemunduran di pihak lain yaitu pemberontakan dalam negeri oleh Jayakatwang sebagai titik didih perlawanan Kadiri atas sikap ahangkara Sri Baginda Kertanagara. Pergantian para wreddha-patih dan pengangkatan para yuwa-patih, serta kejatuhan Kertanagara sebagai akhir dari kekuasaan Singasari atau dinasti Rajasa.

Kertanagara adalah putera Wisnuwardhana raja Singasari tahun 1248-1268. Ibunya bernama Waning Hyun yang bergelar Jayawardhani. Waning Hyun adalah putri Mahisa Wonga Teleng (putra Ken Arok).

Pararaton mengabarkan:

Sri Ranggawuni atinggal putra lanang, haran Sri Krettanagara. Sira Mahisa Campaka, atinggal putra lanang haran Raden Wijaya.

[Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki laki, bernama Sri Kertanegara, Mahisa Campaka meninggalkan seorang anak laki laki juga, bernama Raden Wijaya].

Istri Kertanagara bernama Sri Bajradewi. Dari perkawinan mereka lahir beberapa orang putri, yang dinikahkan antara lain dengan Raden Wijaya putra Lembu Tal, dan Ardharaja putra Jayakatwang. Nama empat orang putri Kertanagara yang dinikahi Raden Wijaya menurut Nagarakretagama adalah Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri.

Pararaton mengabarkan pengangkatan Kertanegara sebagai raja Singosari:

Siraji Krettanagara, sira anjeneng Prabhu, abhiseka Bhatara Siva Buddha

[Kertanegara menjadi Raja, bernama nobatan Batara Siwabuda.]

Negarakretagama pupuh 41 (3) menguraikan bahwa pada tahun 1176Ç (1254M) Raja Wisnuwardhana menobatkan putranya. Segenap raja Janggala dan Panjalu datang ke Tumapel untuk menghadiri upacara penobatan itu. Setelah dinobatkan, putra mahkota mengambil nama abhiseka Sri Kertanagara.

i saka rasaparwwatenduma bhatara wisnu ngabhiseka sang suta siwin

Samasta parasamya ring kadiri janggalomarek amuspa ring purasabha Narendra krtanagarekang abhisekanama ri siran huwus prakasita Pradesa kutaraja mangkin atisobhitangaran i Singasarinagara.

[Tahun Çaka rasaparwwatenduma (1176Ç/1254M) Batara Wisnu menobatkan puteranya, Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura tempat upacara penobatan, Raja baru itu bergelar Kertanagara, tetap demikianlah seterusnya, Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama menjadi praja Singasari.]

Uraian di atas seolah-oleh memberi kesan pada tahun 1254 itu, Wisnuwardhana menyerahkan kekuasaannya kepada putranya Kertanagara. Hal itu tidak benar karena dalam prasasti Mula-Malurung dinyatakan dengan jelas bahwa pada tahun 1255 Wisnuwardhana masih memerintah di Tumapel, sebagai raja agung yang menguasai Janggala dan Panjalu.

Prasasti Mula Malurung mengabarkan bahwa sebelum menjadi raja Singasari, Kertanagara dinobatkan di Daha sebagai raja bawahan atau muda-yuwaraja pada tahun (1254M – 1268M). Berkat kelahirannya dari perkawinan Wisnuwardhana dengan Permaisuri Waning Hyun, Kertanagara mempunyai kedudukan sebagai raja mahkota, mengepalai raja-raja bawahan lainnya. Nama gelar abhiseka yang ia pakai ialah Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa.

Sebagai raja bawahan yang memerintah Daha makamañgalya, ia mempunyai hak untuk mengeluarkan prasasti di wilayahnya. Hal itu memang terjadi. Prasasti Pakis Wetan, bertarikh 8 Februari 1267, dikeluarkan oleh raja Kertanagara pada waktu raja Wisnuwardhana masih hidup.

Di dalam Prasasti Pakis Wetan terdapat kata makamañgalya. Istilah makamañgalya biasa diterjemahkan sebagai ‘di bawah pengawasan’. Istilah itu dipakai juga oleh Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani dalam prasasti Brumbung yang berangka tahun 1329 dan di dalam prasasti Prapancasarapura.

Di dalam prasasti itu disebutkan bahwa Tribhuwanatunggadewi ‘di bawah pengawasan’ perintah Bhattara Kertarajasapatni (istri Kertarajasa). Didalam contoh ini, ratu Tribhuwanatunggadewi mengeluarkan perintahnya pada waktu orang tuanya, yang menjadi raja sebelumnya masih hidup.

Dengan kata lain bila dianalogikakan Kertanagara memerintah Daha dengan makamañgalya dari raja Wisnuwardhana atau dapat dikatakan ia menjadi muda-yuwaraja. Baru sepeninggal raja Wisnuwardhana pada tahun 1270M, Kertanagara bertindak sebagai raja agung menguasai Singasari dan Kediri seperti mendiang Wisnuwardhana.

Berdasarkan Prasasti Padang Roco yang bertarikh 1286, setelah menjadi raja Singosari Kertanagara bergelar Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa.

Babad Tanah Jawi Perangan Kang Kapisan Bab 5 menyebutkan bahwa Kertangera adalah raja terakhir Singasari, Sang Prabu sangat peduli terhadap pengetahuan umum dan kesusastraan, demikian juga pemikirannya tentang perluasan wilayah kekuasaan, tetapi selain kekuatan, dikabarkan beliau mempunyai kelemahan-kelemahan yaitu sifatnya yang kurang berhati-hati, dan suka minum-minuman keras.

Ratu Singåsari kang Kaping Gangsal, jumênêng mêkasi. Sasédané Syri Wisynuwardhånå pangéran pati jumênêng Nåtå, ajêjuluk Prabu Kârtånagårå. Sang Prabu manggalih marang kawruh kagunan, lan kasusastran, lan iyå manggalih marang undhaking jajahan, nanging kurang ngatos atos, lan kêrså ngunjuk nganti dadi wuru.

Kidung Panji Wijayakrama pupuh 1 menguraikan watak Sri Kertanagara, seperi berikut:

Raja Kertanagara mempunyai mahamantri, bernama Mpu Raganata. Mpu Raganata adalah orang baik, jujur dan pemberani. Tanpa tedeng aling-aling, ia berani mengemukakan keberatan-keberatannya terhadap sikap dan pimpinan sang Prabu. Hubungannya dengan Prabu Kertanagara disamakan dengan hubungan Patih Sri Laksmikirana dengan Prabu Sri Cayapurusa dalam cerita Singhalanggala. Juga patih Sri Laksmikirana bersikap jujur, berani membantah dan mencela sikap sang Prabu Cayapurusa. Prabu Kertanagara yang berwatak angkuh dan sadar akan kekuatan dan kekuasaannya (ahangkara), menolak mentah-mentah pendapat dan keberatan Mpu Raganata bahkan beliau menjadi muram lagi murka, seolah-olah disiram dengan kejahatan, mendengar ujaran Mpu Raganata. Dengan serta merta Mpu Raganata dipecat dari jabatannya, digantikan oleh Mahisa Anengah Panji Angragani.

Prasasti Wurare, angka tahun 1289, menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289M, Sri Kertanagara yang juga bergelar Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurane.

Gelar raja itu ialah Kertanagara setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha).

Dalam Kidung Harasawijaya pupuh 1/28b sampai 30a, disebut dengan jelas bahwa Prabu Kertanagara melorot Mpu Raganata dari kedudukannya sebagai patih hamangkubhumi (mahamenteri) menjadi ramadhyaksa di Tumapel. Mpu Raganata kecewa, tidak senang dengan pemerintahan Sang Prabu Kertanegara. Dikatakan dalam kidung: asmu ewa sang mantri wrédha rirehira sang ahulun.

Mpu Raganata Sang Ramapati Mapanji Singharsa yang sangat setia pada Sang Prabu, maha-patih yang sangat peduli dan menjaga kewibawaan Sang Prabu Sri Jnamasiwabajra itu diangapnya terlalu sering menentang kebijaksanaan Sri Baginda Prabu Kertanegara, dan sebagai gantinya Sang Prabu memilih orang-orang yang dianggap dapat mengikuti semua kemauannya.

Babad Tanah Jawi memberitakan tentang pencopotan ini:

Pêpatihé Sang Nåtå aran Rågånåthå rumêkså bangêt marang ratuné, nganti sok wani ngaturi pèngêt marang Sang Prabu ing bab kang ora bênêr, nanging Sang Prabu ora rênå ing galih, ora nimbangi rumêksaning patih sêtyå iku, malah banjur milih patih liyå kang biså ngladèni karsané. Patih wrêdhå diundur, winisudå dadi: nayåkå pradåtå, dadi wis ora campur karo prakårå pangrèh pråjå.

Pararaton mengabarkan:

Hana ta patih ira duk mahwa anjeneng ratu, apuspathaa sira Mpu Raganatha. Nityasa angaturi rahayuan ing tuwan, tan kadhep den ira Sri Krettanagara. Sangkan ira Mpu Raganata asalah linggih. Ginanten den ira Kebo Nengah Sang Apanji Araghani. Sira Mpu Raghanata gumanti dadi adhyaksa ring Tumapel.

[Ada Patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganata, ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara, karenanya itu Mpu Raganata lalu meletakkan jabatan tak lagi menjadi Patih, diganti oleh Kebo Tengah Sang Apanji Aragani].

Demikianlah dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Pararaton kita dapati peristiwa sejarah tentang pemecatan mahamantri patih Raganata, seorang yang bijak lagi cakap dalam melaksanakan tugasnya. Namun umurnya sudah lanjut. Oleh Wiraraja, bupati Sumenep, patih dongkol Raganata disamakan dengan harimau tua. wonten macan ipun, anghing guguh, [ada harimaunya, tetapi tak bergigi].

Mahamantri Empu Raganata selalu memberikan nasihat-nasihatnya kepada sang prabu. Segala kesulitan dalam menjalankan pemerintahan secara jujur dikemukan. Tindakan-tindakan yang demikian itu tidak disukai oleh Sang Prabu Kertanegara Bhatara Siwa Buddha, kahngkaraneng bhumi.

Epiteton itu mengandung pengertian bahwa raja Kertanagara mengagungkan kekuatannya sendiri. Ia sadar bahwa ia menguasai kekuatan gaib.

Arya Wiraraja yang bergelar Sang Apanji Adhimurti Nararyya Wiraraja, yang dicintai seluruh rakyat tlatah Madura, dicopot juga dari jabatannya oleh Kertanegara, dan dijadikan adipati di Madura Timur. Ia tidak senang terhadap pemerintahan Raja Kertanagara. Dikatakan dalam kidung: tan trepti rehing nagari arawat-rawat kewuh.

Tetapi berbeda dengan Babad Tanah Jawi yang mengabarkan, bahwa telah diingatkan jika Banyak Wide akan mbalélå kepada Sang Prabu:

Ånå nayakaning pråjå aran Banyak Widhé utåwå Aryå Wiråråjå, têpung bêcik lan Jåyåkatwang, adipati ing Dåhå. Satriyå iku ora sungkêm marang ratuné, malah wis sêkuthon karo Jåyåkatwang, arêp mbalélå. Dumadakan ånå punggåwå kang matur prakårå iku, nanging Sang Prabu ora mênggalih, Wiråråjå malah diangkat dadi adipati ånå ing Mâdurå.

Ada kesan bahwa Arya Wiraraja masih disayang oleh Sang Prabu, meskipun dia “arêp mbalélå

Siapa Arya Wiraraja?

Pararaton mengabarkan:

Hana ta wong ira, babatangan ira bhuyut ing nagka, haran Banyakwide. Sinungan pasengahan Aryya Wiraraja.

[Adalah seorang hambanya, babatangan keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja].

Selain itu, untuk melengkapi informasi selanjutnya ketika terjadi ontran-ontran “pemberontakan” Ranggalawe, sumber ini menerangkan bahwa Nambi adalah putera Arya Wiraraja sedangkan Ranggalawe disebutkan sebagai keturunan bangsawan Singasari yang terkenal (?).

Kidung Panji Wijayakarma/Kidung Ranggalawe memberikan kesaksian pada Pupuh I nomor 1220:

Woten Wongira babatang buyut nangka, Banyak Wide anami, sinung Abiseka, Arya Wiraraja………..

[Ada seorang hambanya, babatang keturunan orang tertua di Nangka, Banyak Wide namanya, dia diberi gelar Arya Wiraraja].

Dalam kidung ini dikatakan juga bahwa Ranggalawe adalah anak dari Arya Wiraraja yang berasal dari desa tanjung Madura Barat. Dalam pada itu Kidung Sorandaka menyanyikan bahwa bahwa Nambi adalah anak dari Pranaraja.

Menarik sekali untuk diketengahkan sebagai suatu hipotesa, kita ingin meneliti siapa sebenarnya yang dimaksud dengan Pranaraja dan Mahapati yang disebut dalam Kidung Sorandaka dan Pararaton. Pranaraja telah disebut pada piagam Kudadu (1294), namun tanpa nama.

Pada piagam Penanggungan (1296) namanya dijelaskan pada lempengan IV a baris 1 yakni Sang Pranaraja:

Mapasanggahan Sang Pranaraja Rakryanmantri Empu Sina. Sang Pranaraja di sini bernama Mpu Sina.

Jelaslah sekarang bahwa Ranggalawe alias Arya Adikara adalah putera Wiraraja, sedangkan Mpu Nambi (Tami) adalah putera Mpu Sina, dan bahwa Arya Wiraraja berasal dari Madura. Atas dasar keterangan-keterangan yang didapat dari sumber diatas makin kuatlah dugaan Arya Wiraraja, berasal dari Madura.

Adapun desa Nangka yang disebutkan beberapa sumber, diperkirakan nama desa Nangka yang berada di Kabupaten Bangkalan atau desa Karangnangka yang berada di Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep.

Disebutkan bahwa Arya Wiraraja adalah seorang babatangan atau di beberapa naskah disebut sebagai demung. Babatangan adalah gelar jabatan Arya Wiraraja yang menunjukkan bahwa Banyak Wide (Wiraraja) adalah pejabat tinggi kraton atau orang penting di kerajaan Singasari.

Babatangan (Jawa; mbatang = menebak, menerka), sering diterjemahkan sebagai juru ramal atau semacam penasehat spiritual yang sebenarnya adalah seorang penasehat ahli strategi (militer dan politik ketatanegaran) yang bisa membaca situasi. Kecemerlangan analisa-analisanya menyebabkan orang mengira dia punya suatu kelebihan sebagai orang yang bisa meramal kejadian-kejadian yang akan datang.

Kedudukan jabatan dalam pemerintah Singasari menyebabkan dia dekat sekali hubungannya dengan penguasa Singasari (sebelum Raja Kertanegara). Kemungkinan lain yang mendekati kebenaran, ialah sebagai Demung Kerajaan Bawahan Singasari (Hring) yang menurut prasasti Mula Malurung diperintah oleh Narasinghamurti.

Dicopotnya Wiraraja kemungkinan besar karena pengetahuannya tentang strategi militer dan politik ketatanegaraan kerajaan kerap-kali dianggap bertentangan dengan kebijaksanaan politik Sang Raja Kertanegara.

Tumenggung Wirekreti dilorot kedudukannya sebagai tumenggung menjadi mantri angabhaya (menteri pembantu), dan Pujangga Santasemereti meninggalkan Pura untuk bertapa di hutan.

Pupuh 1 (82a) menguraikan bahwa penurunan Wiraraja dari jabatan demung manjadi adipati sangat melukai hati dan menimbulkan kemarahan. Dari percakapan antara Wirondaya dan Raja Jayakatwang, dalam pupuh 2 (16a)- (16b) dengan jelas diceritakan, bahwa sejak pemecatan para wreddha-mantri (mentrri sepuh) dan pengangkatan yuwa-mantri (menteri muda) rakyat tidak senang terhadap sikap Sang Prabu Kertanagara.

Adapun pengangkatan pejabat baru yang masih muda (yuwa mantri), sangatlah disukai oleh Sang Prabu. Babad Tanah Jawi melukiskan bahwa pejabat-pejabat baru itu kegemarannya hanya pintar memuji-muji sang Prabu, dan menyukai pesta pora sambil minum-minuman keras.

Babad Tanah Jawi memberitakan:

Patih wrêdhå diundur, winisudå dadi: nayåkå pradåtå, dadi wis ora campur karo prakårå pangrèh pråjå. Patih anyar sênêngé mung ngalêm marang ratuné lan ngladosi unjuk unjukan.

Pararaton menulis:

Teka ring Tumapel Sang Apanjiya Raghani angatur i tadahan prati dina. Akasukan Siraji Krettanagara

[sedatangnya di Tumapel Sang Apanji Aragani mempersembahkan makanan tiap tiap hari, raja Kertanegara bersenang senang].

Perbuatan itu menimbulkan kegelisahan dan kesenjangan antara generasi tua zaman Wisnuwardhana yang masih hidup dengan generasi muda zaman Kertanagara yang mendukung gagasan perluasan cakrawala mandala. Perubahan itu menimbulkan kegelisahan pula di antara para prajurit, punggawa dan rakyat.

Demikianlah sepeninggal Wisnuwardhana dan Bhatara Narasinghamurti, Prabu Kertanagara segera mengadakan perubahan besar-besaran dalam bidang pemerintahan untuk disesuaikan dengan pelaksanaan politik ekspansinya. Para pejabat kerajaan yang telah lama mengabdi semasa pemerintahan Prabu Wisnuwardhana dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan politik baru yang akan dijalankan oleh Prabu Kertanagara, disingkirkan dan diganti oleh tenaga-tenaga muda yang baru, yang menyetujui gagasan politik Sang Prabu Kertanagara.

Nama Mpu Raganata tidak tercatat dalam prasasti Sarwadharma yang dikeluarkan pada bulan Kartika tahun 1191Ç (Oktober-November 1269). Pada prasasti tersebut, yang tercatat ialah Patih Kebo Arema dan Sang Ramapati, yang sangat dipuja sebagai penasehat politik sang prabu dalam mengadakan hubungan dengan pembesar-pembesar di Madura dan Nusantara.

Sang Ramapati mengepalai kabinet menteri yang terdiri dari patih, demung, tumenggung, rangga, dan kanuruhan. Melihat fungsinya dalam pemerintahan, kiranya Sang Ramapati dalam prasasti Sarwadharma itu sama dengan Mpu Raganata dalam Pararaton dan Kidung Harsawijaya ataupun Panji Wijayakrama.

Siapa Kebo Arema ?

Jika Sang Ramapati dengan jelas disebutkan, lalu siapa Kebo Arema? Nama ini jarang disebut oleh para sejarahwan, nyaris tenggelam di bawah bayang-bayang kebesaran Prabu Kertanegara.

Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema dikala Singasari diperintah Raja Kertanegara. Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis juga dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur.

Kitab Kidung Pararaton yang terkenal pun tidak mengabarkan dengan jelas peranan Kebo Arema ini. Pada Bagian V (31b) Pararaton hanya menyebut Kebo Arema sebagai kawulan ira (hamba sahayanya):

Sapanjeneng Sri Krettanagara, anghilangaken kalana, haran kalana, haran bhaya. Huwus ing kalana mati, angutus ing kawulan ira, angadona maring Malayu, sumangka akdhik kari wong Tumapel, akeh kang katuduh maring Malayu.

[Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba sahayanya, untuk pergi menyerang Melayu].

Demikian juga Kitab Pujasastra Nagarakretagama, nama Kebo Arema tidak disebut. Pada pujasaatra tersebut hanya disebutkan bahwa setelah Baginda Kertangera memusnahkan perusuh yang bernama Cayaraja, Baginda “menyuruh” (Siapa yang disuruh. Tidak disebutkan nama dan jabatannya) untuk menundukkan tanah Melayu.

Pujasastra Negarakertagama Pupuh 41 (5) mengabarkan:

Kathakena muwah narendra krtanagaranghilangaken katungka kujana

Manama cayaraja sirnna rikana sakabda bhujagosasiksaya pejah Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu Lewes mara bhayanya sangka rika dewamurti nira nguni kalaha nika

.

[Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat,

Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Saka bhujagosasiksaya (1192), Tahun Saka nagasyabhawa (1197) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu, Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu sahaja].

Kebo Aremalah yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari.

Pemberontakan-pemberontakan itu, meskipun akhirnya dapat ditumpas, tetapi menghambat pelaksanaan gagasan politik perluasan wilayah. Untuk dapat mengirim tentara ke seberang lautan, kekeruhan didalam negeri harus diatasi dulu.

Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Harsawijaya, dan Negarakretagama pupuh 41, semuanya menyebutkan pengiriman tentara Singasari ke negeri Melayu (Suwarbabhumi) pada tahun 1187Ç (1275M), lima tahun setelah pecahnya pemberontakan Kelana Bhayangkara atau Cayaraja.

Dalam Kidung Harsawijaya, dinyatakan bahwa nasehat Raganata tentang pengiriman tentara ke Suwarnabhumi ditolak oleh Prabu Kertanagara.

Raganata mengingatkan sang prabu tentang kemungkinan balas dendam Raja Jayakatwang dari Kediri terhadap Singasari, sebab Singasari dalam keadaan kosong akibat pengiriman tentara ke Suwarnabhumi.

Prabu Kertanagara berpendapat, raja bawahan Jayakatwang tidak akan memberontak karena beliau berutang budi kepada sang prabu. Salah satunya putra raja Jayakatwang yang bernama Ardaraja diambil sebagai menantu Kertanagara. Perkawinan ini merupakan pendekatan politik Kertanagara demi reda dan terhapusnya dendam lama Kediri atas Singasari.

Jayakatwang adalah bekas pengalasan (pegawai) keraton Singasari, yang diangkat sebagai raja bawahan di Kediri oleh Sri Kertanagara. Dia menggantikan pendahulunya Sastrajaya (1258-1271 M) pengganti dari Jayasaba (1222-1258 M) yang diangkat oleh raja Rajasa (Ken Arok?).

Dengan demikian kemungkinan bukan Kertanagara yang mengangkat Jayakatwang melainkan pendahulu Jayakatwang atas restu pendahulu dinasti Rajasa, yang juga berarti berlawanan dengan berita Kidung Harsawijaya tentang pengangkatan Jayakatwang oleh Kertanagara.

Lagi pula berdasarkan prasasti Mula-Malurung Nararya Seminingrat mengangkat Jayakatwang sebagai raja bawahan di Gelang-Gelang bukan Kediri sebagaimana teruraikan dalam prasasti Kudadu tahun 1292, akibat perkawinannya dengan anak dari raja Seminingrat.

Sampun lingsir wêngi andungkap énjing, pramilå dongèng kapunggêl sêmantên rumiyin, dongèng candhakipun: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Cakrawala Mandala Nusantara.

Nuwun

cantrik bayuaji.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 18:02  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-sri-maharajadhiraja-krtanagara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. lho, dereng wedhar ta ki, …
    kula tetep setiya nengga tutugipun dongeng kertanegara lho ki, ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: