Seri ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA

WEDARAN KE LIMA

On 4 Februari 2011 at 22:42 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA MENGHADAPI PEMBERONTAKAN DALAM NEGERI & WWANG TARTAR
[Waosan kaping-5]

  1. Waosan kaping-1: Singasari Menuju Puncak Kejayaan, Parwa ke-1. On 28 Januari 2011 at 17:33,HLHLP 095;
  2. Waosan kaping-2: Singasari Menuju Puncak Kejayaan. Parwa ke-2. On 31 Januari 2011 at 00:58, HLHLP 096;
  3. Waosan kaping-3: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara bertahta di Tumapel. On 1 Februari 2011 at 01:08, HLHLP 097;
  4. Waosan kaping-4: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Cakrawala Mandala Nusantara. On 2 Februari 2011 at 21:32. HLHLP 98;

Jangka pendek raja Kertanagara sepintas berhasil melaksanakan politik cakrawala mandala secara baik dan bernilai positif. Ekspedisi ini dinilai berhasil dengan baik dimana tentara Singasari berhasil menundukkan raja Melayu yaitu Tribuwanaraja Mauliwarmadewa dari kerajaan Darmasraya yang berpusat di Jambi dan menguasai Selat Malaka.

Namun bila dilihat efek politik terhadap stabilitas dalam negeri berdampak negatif karena bermunculan pemberontakan mikro (Mahisa Rangga dan Cayaraja) serta pemberontakan makro (Jayakatwang).

Sakabda yamasunyasuryya diwasa nrpati muwah amati durjjana
Ikang mahisa rangkah atyaya katungka nika pinaleh ing sanagara
.

[Tahun Saka yamasunyasuryya (1202 Ç / 1280 M) Baginda raja memberantas penjahat, Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara,…]

Pada pupuh 42 (1), Negarakretagama kembali menyebutkan pengiriman kembali tentara Singasari atas perintah Kertanagara untuk menaklukkan Bali. Ekspedisi kedua ini berhasil dan mengantarkan raja Bali sebagai tawanan perang.

Ring anggawiyatarkka saka sira motusan kana ri bali curnnitan
Ndatandwa kawenang ratunya kahanang teka marek i narendra sakrama
.

[….Tahun Saka anggawiyatarkka (1206 Ç / 1284 M) mengirim utusan menghancurkan Bali, Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan.]

Selain kedua negeri tersebut, juga berhasil ditaklukkan daerah-daerah lainnya, yaitu Gurun, Pahang, dan Bakulapura.

Apa yang dicita-citakan oleh Kertanegara, mengakibatkan daerah kekuasaan Singasari meluas, meliputi:

1. Semenanjung Malaka: Kla lo hi (Calya), Langkasuka, Khan Tan (Kelantan), Tang ya nong (Trangganu), Kedah, Pahang, dan Tan masik (Tumasik, sekarang Singapura);
2. Swarnadwipa (Sumatera): Samudra Pasai; Lamun (?), Klen pi (Kambe), Barus, Pane, Melayu, Jambi, dan Palembang;
3. Jawadwipa (Jawa): Tumapel, Singasari (Pusat Pemerintahan), Sunda, dan Madura;
4. Bali;
5. Warunadwipa (Borneo, Kalimantan): Tanjung Pura, dan Bakulapura;
6. Sulawesi: Salaya (Pulau Selayar);
7. Maluku: Seram dan Gurun.
8. Papua (?)

Telah disebutkan pada tulisan terdahulu bahwa pada tahun 1286 Raja Kertanagara mengirimkan Arca Amoghapaca sebagai hadiah kepada kerajaan Melayu disertai piagam penyerahan yang diiringi oleh berbagai pembesar dari kerajaan Singasari. Pemberian hadian tersebut bertujuan untuk memperkokoh persahabatan dan membendung pengaruh politik Kubilai Khan di wilayah Nusantara.

Untuk tujuan yang sama pula Raja Kertanagara mengirimkan putrinya yaitu Dewi Tapasi untuk dikawinkan dengan Raja Campa, dimana wilayah Campa merupakan benteng pertama untuk membendung pengaruh Kubilai Khan.

Berkat perkawinan tersebut Raja Jaya Singawarman melarang tentara Tartar yang berlayar ke Jawa akhir tahun 1292 untuk menghukum Raja Kertanagara mendarat di pantai Campa. Prasasti Po Sah (di Hindia belakang) yang menuliskan bahwa raja Jaya Simphawarman III mempunyai dua permaisuri yang salah satunya dari Jawa.

Pada prasasti Padangroco tertulis bahwa, arca Amoghapasa dikawal dari Jawa oleh 14 orang, termasuk Adwayabrahma (Mahisa Anabrang). Pada alas kaki arca Amoghapasa yang diketemukan di Sungai Langsat (hulu sungai Batanghari dekat Sijunjung), diterangkan bahwa di tahun 1286 atas perintah Maharajadhiraja Sri Krtanagara Wikrama Dharmottunggadewa, sebuah arca Amoghapasa beserta 13 arca pengikutnya dipindahkan dari bhumi Jawa ke Suwarnabhumi.

Atas hadiah ini rakyat Malayu sangat senang terutama sang raja, yaitu Maharājādhirāja Śrīmat Śrī-Udayādityavarmma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Varrmmadeva.

Di dalam negeri untuk mengantisapasi timbulnya kerusuhan selama tentara Singasari bertugas di negeri Melayu, Raja Kertanagara menikahkan putrinya dengan Ardharaja yang merupakan putra dari Jayakatwang dan Raden Wijaya yang merupakan Panglima perang Singasari dijodohkan dengan dua orang putrinya. Dengan jalan demikian maka dendam dari keturunan kerajaan Kediri yang ditundukkan pada jaman Ken Arok diharapkan akan dapat dihindari.

Pada perempat akhir abad ke-13, Kertanegara raja Singasari terlibat persaingan melawan Kubilai Khan kaisar Mongol dalam memperebutkan pengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Kubilai adalah “Kha Khan (Khan Besar) Mongolia Terakhir”. Kubilai Khan atau Khan Besar Terakhir (23 September 1215 – 18 Pebruari 1294) adalah kaisar Mongol (1260-1294) dan juga pendiri Dinasti Yuan Kekaisaran Cina.

Kubilai terlahir sebagai putra kedua dari Tului dan Sorghatani Beki. Kubilai adalah cucu Jenghis Khan. Masa mudanya dihabiskan untuk mempelajari kebudayaan Tiongkok.

Saat Mengke menjadi kaisar, Kubilai menjadi gubernur daerah Selatan Mongol. Saat menjabat, Kubilai meningkatkan hasil bumi provinsi Henan dan meningkatkan kesejahteraan sosial Xi’an.

Pada tahun 1253, Kubilai menyerang Yunnan. Kemudian ia menguasai dan menghancurkan kerajaan Dali.
Pada tahun 1258, Mengke menunjuk Kubilai untuk memimpin Pasukan dari Timur untuk membantu menaklukkan Sichuan dan Yunnan.

Sebelum tiba (1259), ada berita bahwa Mengke wafat. Saat itu Kubilai tetap menyerang Wuhan. Tak lama ia mendengar bahwa adiknya merebut tahta. Kubilai langsung berdamai dengan negeri Sung dan pulang ke arah utara padang Mongolia.

Kubilai dan adiknya masing-masing lalu mengangkat diri menjadi Khan. Pertempuran keduanya berlangsung selama 3 tahun, dimana Kubilai muncul sebagai pemenang.

Kubilai kemudian mengangkat dirinya bukan saja sebagai Khan dari Kekaisaran Monggolia, namun juga sebagai Kaisar Cina, dan membangun Dinasti Yuan di tanah Cina. Ia lalu memerintahkan untuk memindahkan ibukota Mongol ke Beijing.

Pada saat itu kerajaan Mongol mencapai jaman keemasannya dimana pedagang dari Cina dapat pergi berdagang di Eropa dengan aman. Para pedagang Eropa yang haus akan kain sutra pun dapat datang membeli barang dagangan di Cina dengan aman tentram.

Marco Polo dari Italia tiba di Cina pada masa Dinasti Yuan, dan pernah dijadikan gubernur oleh Kubilai Khan.

Hal inilah menandakan perdagangan langsung pertama kalinya muncul antar Eropa dan Cina, dimana permintaan Eropa akan porselein, ukiran, dan sutra dari Cina melaju tinggi.

Keinginan untuk memperluas pengaruh bangsa Mongol setelah menjajah Cina adalah menundukkan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur dengan melancarkan perdagangan dan menggunakan kekuatan militer dan politik.

Caranya dengan meminta para penguasa lokal untuk mengakui kaisar Mongol sebagai penguasa tunggal dan mengharuskan raja-raja lokal tersebut untuk mengirim upeti (tribute) kepada kaisar Cina. Salah satunya adalah ke Jawa yang kala itu diperintah oleh Raja Kartanagara dari kerajaan Singasari.

Demikianlah sejak kedatangan tentara Singasari ke Melayu, kapal kapal Tiongkok tidak lagi bebas keluar masuk pelabuhan seperti sebelumnya. Hal tersebut menimbulkan persaingan dengan kerajaan Tiongkok yang telah menjalin hubungan sejak jaman Kerajaan Sriwijaya.

Sejak tahun 1280 Kerajaan Tiongkok telah berulang kali mengirimkan utusan ke Pulau Jawa agar Prabu Kertanagara datang menghadap kaisar Tiongkok, karena hampir seluruh raja di pulau Sumatra telah menghadap kaisar Tiongkok.

Kekuasaan Singasari yang naik menjadi perhatian Kubilai Khan di Cina dan pada tahun 1211 Ç / 1289 M Kubilai Khan mengirim utusan bernama Meng Khi.

Utusan tersebut membawa surat yang isinya meminta agar Prabu Kertanagara tunduk kepada Kaisar Tiongkok dan mengirim urapeti ke Mongol setiap tahunnya.
Kertanegara menolak permintaan itu, bahkan ia berani melukai wajah Meng Khi. Perisriwa ini 14 tahun setelah ekspediri Pamalayu.

Babad Tanah Jawi mengabarkan:

Ånå utusan såkå ratu agung ing nâgårå Cinå (Chubilai) dhawuh supåyå Prabu Kârtånagårå nyalirani dhéwé utåwå wakilsuwånå marang nâgårå Cinå perlu caos bêkti (taun 1289). Sang Prabu dukå bangêt. Bathuking Cinå utusan digambari pasêmon kang ora apik, nélakaké dukané Sang Prabu. Barêng têkan ing nâgårå Cinå patrapé ratu Jâwå kang mangkono iku mau njalari dukané ratu binathårå ing Cinå, Ing taun 1292 ånå prajurit gêdhé såkå ing Cinå arêp ngukum ing kuwanèné wong Jåwå.

Kertanagara merasa tersinggung, utusan itu dicederai wajahnya oleh Kertanagara dan meingirimnya pulang ke Cina dengan pesan tegas bahwa ia tidak akan tunduk di bawah kekuasaan raja Mongol.

Perlakuan Keartanegara terhadap Meng Khi dianggap sebagai penghinaan kepada Kublai Khan. Sebagai seorang kaisar yang sangat berkuasa di daratan Asia saat itu, ia merasa terhina dan berniat untuk menghancurkan Jawa yang menurutnya telah mempermalukan. Penghinaan terhadap kekuasaan Mongol ini menyebabkan kemarahan Sang Kaisar Kubilai Khan.

Pada tahun 1292 Kubilai Khan mengirim 20.000 pasukan ke Jawa dipimpin oleh tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi dan Ike Mese yang orang Mongol, dan Kau Hsing satu-satunya pejabat tinggi kerajaan yang berdarah Cina.

Mereka datang di Jawa untuk untuk menaklukkan Singasari dan menghukum raja Kertanagara atas penghinaan terhadap kekaisaran Mongol, dan memaksanya untuk tunduk kepada kehendak kaisar Kubhilai. Pasukan berjumlah besar ini setelah berhenti di Pulau Belitung untuk beberapa bulan dan kemudian memasuki Jawa melalui sungai Brantas langsung menuju ke Daha.

Tentara Kubilai Khan itu dalam Negarakretagama, Pararaton, Kidung Harsa Wijaya dan Panji Wijayakrama disebut tentara Tartar (Pararaton menyebutnya wong Tatar, sedagkan Negarakertagama menyebutnya wwang Tatar). Tentara itu jelas bukan tentara Tionghoa, sebab setelah berkuasanya Kubilai Khan pada tahun 1276 bahkan lama sejak Jengis Khan atas Tiongkok ia tidak menggunakan orang-orang Cina sebagai tentaranya.

Dalam ekspedisi inipun ia tidak menggunakan orang Tionghoa, karena ia tidak menaruh kepercayaan kepada mereka. Dalam pemerintahan ia mengambil alih pejabat-pejabat pemerintahan dinasti Sung, namun untuk jabatan tinggi hanya digunakan orang-orang Mongolia. Orang Tionghoa dilarang memanggul senjata. Ini berarti tugas kemiliteran terlarang bagi orang Tionghoa.

Pasukan Tartar tersebut mendarat di Jawa tahun 1293 di mana saat itu Kertanagara telah lebih dulu meninggal akibat pemberontakan Jayakatwang.

Dalam Kronik Cina tersebut, tentu saja nama-nama Jawa tertulis dalam ejaan Cina, antara lain:
• Kertanagara disebut Ka-ta-ma-ka-la;
• Raden Wijaya disebut Tu-han-pi-ja-ya;
• Jayakatwang disebut Ha-ji-ka-tang;
• Gelang-Gelang disebut Ka-lang;
• Daha disebut Ta-ha;
• Tumapel disebut Tu-ma-pan;
• Tuban disebut Tu-ping-suh.

Peristiwa penyerbuan ke Jawa ini dituliskan dalam beberapa sumber di Cina dan merupakan sejarah yang sangat menarik tentang kehancuran kerajaan Singasari dan munculnya kerajaan Majapahit. Kisah serangan Mongol terhadap Jawa tersebut tercantum dalam Catatan Sejarah Dinasti Yuan yang telah diterjemahkan oleh W.P. Groeneveldt, dalam bukunya, Notes on The Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Sources (1880).

Kisah selanjutnya peperangan Wwang Tartar di Tanah Jawa ini akan diwedarkan kemudian, pada episode Surya Majapahit.

Tak banyak bangsa yang dapat menahan atau bahkan mengalahkan serbuan buas tentara Mongol di era kejayaan para Khannya. Tidak juga Rusia, termasuk juga kesultanan-kesultanan Islam, banyak di antaranya tersungkur bersimbah darah di ujung panah dan pedang tentara Mongol.

Kekejaman tentara Mongol dalam menyerbu dan menjarah kerajaan-kerajaan yang dikalahkannya menjadi dongeng kelam kehancuran moralitas dan kemanusiaan. Selain tidak menghargai nyawa manusia, mereka juga telah menghancurkan peradaban umat manusia dengan membakari gedung-gedung perpustakaan milik kerajaan yang dikalahkannya.

Ketika kesultanan Islam di Baghdad ditaklukan oleh tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulegu Khan, konon kekejaman hanya dapat ditandingi oleh Hitler. Dalam suatu kisah pasukan Mongol mendirikan “piramid” dengan bahan baku penggalan kepala manusia, sebagai bukti kemenangannya terhadap Kesultanan Abasiyah pimpinan al-Mutashim di tahun 1258 M.

Yang menyedihkan selain banyaknya korban yang tewas, mereka membakari perpustakan kesultanan yang konon pada saat itu memiliki koleksi terbesar di dunia.

Saking brutalnya penghancuran kota Baghdad oleh Hulegu Khan, dikisahkan sungai Tigris dan Eufrat yang membelah kota Bagdad berubah warnanya menjadi merah kehitam-hitaman selama beberapa hari. Warna ini berasal dari darah penduduk kota Bagdad yang tewas dibantai tanpa prikemanusiaan, dan hitamnya merupakan tinta yang luntur dari buku-buku yang dibuang tentara Mongol ke sungai tersebut.

Ketika itu Khubilai Khan berhasil menyatukan daratan Cina dalam genggamannya. Dan melirik ke wilayah-wilayah laut sekitarnya sebagai batas baru penaklukannya.

Tapi pengalaman perang tentara Mongol menjadi sangat tidak berarti manakala mereka dihadapkan pada perang laut dan perang rimba yang berkepanjangan.
Ketika Khubilai Khan mulai mengembangkan ototnya ke daratan seberang, nyatalah kelemahan tentara Mongol.

Mereka yang terbiasa berperang di stepa-stepa kering Asia Tengah, tak dapat mempertahankan diri dalam medan laut yang ganas, dan kondisi iklim tropis yang terik dan lembab. Selain tentunya keletihan yang amat sangat dalam misi perang yang tidak berkesudahan.

Kegagalan Mongol -mungkin- bisa jadi juga diakibatkan telah dicabutnya mandat dari langit untuk berkuasa, suatu kepercayaan yang kental melekat di benak penguasa daratan Chung Kuo. Bahwa kekaisaran bisa berjaya karena adanya mandat dari langit.
Boleh jadi mandat itu berakhir di tangan Khubilai Khan.

Bersama Mesir dan Jepang, Jawa merupakan salah satu kekuatan besar regional yang mampu tidak hanya menahan tapi juga melumpuhkan kekuatan tentara Mongol.

Bahkan Mesir dan Jawa yang berhasil secara militer menaklukan tentara Mongol, dibandingkan Jepang yang menang karena kebetulan dimana Tentara Mongol yang menyerbu habis tersapu dalam badai bahkan dalam dua ekspedisi yang berbeda waktunya!

Mesir yang ketika itu berada dalam kekuasaan dinasti Mameluk berhasil untuk pertama kalinya dalam sejarah menaklukkan tentara Mongol dalam perang terbuka di tahun 1260 sehingga memaksa Mongol menarik diri dari Mesir dan Palestina.

Keberhasilan Mameluk menaklukkan tentara Mongol tidak hanya disebabkan oleh kehebatan tentaranya yang memang sama-sama keturunan penakluk dari Asia Tengah, tapi juga karena koordinasi yang sinergis serta cepatnya informasi melalui sinyal api yang merentang dari Iraq ke Mesir menyebabkan Mameluk dengan sigap dapat mengumpulkan tentaranya menghantam Mongol.

Namun dalam literatur-literatur mengenai Mongol, kekalahan Mongol oleh Mesir dan Jepanglah yang acapkali disebut. Sedangkan kehancuran Mongol di Jawa kadang tidak disebutkan secara eksplisit.
Kecuali dengan pernyataan sederhana bahwa Mongol mengirimkan ekspedisi ke Jawa dan gagal tanpa penjelasan yang spesifik di mana letak kegagalannya.

Sialnya dalam buku “Genghis Khan and The Mongol Conquests 1190 – 1400″ Stephen Turnbull meyebutkan bahwa kegagalan ekspedisi Mongol di Asia Tenggara lebih disebabkan oleh faktor iklim dan cuaca yang tidak bersahabat bagi Tentara Mongol.

Memang itu adalah faktor yang menentukan dalam kegagalan ekspedisi Mongol ke Jepang. Namun dalam kasus ekspedisi ke Jawa, kekuatan Mongol benar-benar hebat khususnya dalam melumat kerajaan Kediri pimpinan Jayakatwang yang berhasil mengalahkan Kertanegara.

Jadi faktor iklim dan cuaca menjadi hal yang tidak beralasan dalam kasus ekpedisi ke Jawa.
Kekalahan Mongol akibat serbuan mendadak tentara Raden Wijaya pada saat pesta kemenangan terhadap Kediri, tetaplah suatu keberhasilan strategi militer.

Dalam perang aspek pendadakan serta upaya menimbulkan korban yang besar di pihak lawan melalui tipu muslihat adalah hal biasa dan tidak mengurangi kredibilitas Raden Wijaya dan tentaranya dalam mengalahkan tentara Mongol di tahun 1292 M.

Memang dalam kacamata sejarawan barat, kemenangan tentara Jawa kurang bergengsi dibandingkan keberhasilan dinasti Mameluk, tapi setidaknya masih jauh lebih hebat dibandingkan Jepang yang semata-mata berhasil menahan serbuan Mongol karena cuaca.

Dari sejumlah kesuksesan menguasai hampir sepertiga wilayah dunia. Ternyata Mongol yang demikian besar, justru kalah oleh bangsa Nusantara. Sisa-sisa tentara Mongol yang kalah perang, kemudian melarikan diri ke Kalimantan (Singkawang) karena tidak berani melaporkan kekalahan pada Kakaisaran Mongol.

ana tutugé

Dongèng candhaké: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara. Runtuhnya Kerajaan Singasari.

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 18:02  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-sri-maharajadhiraja-krtanagara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. lho, dereng wedhar ta ki, …
    kula tetep setiya nengga tutugipun dongeng kertanegara lho ki, ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: