Seri ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA

WEDARAN KETUJUH

On 8 Februari 2011 at 23:50 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun, ndungkap hing madyaning ratri, cantrik bayuaji ngêndit rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA, SANG SIVA BUDA. POLITIK DAN SINKRETEISME RELIGIUS HINDHU-BUDDHA. Parwa ka-1 [Waosan kaping-7]

  1. Waosan kaping-1: Singasari Menuju Puncak Kejayaan, Parwa ke-1. On 28 Januari 2011 at 17:33. HLHLP 095;
  2. Waosan kaping-2: Singasari Menuju Puncak Kejayaan. Parwa ke-2. On 31 Januari 2011 at 00:58, HLHLP 096;
  3. Waosan kaping-3: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara bertahta di Tumapel. On 1 Februari 2011 at 01:08, HLHLP 097;
  4. Waosan kaping-4: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Cakrawala Mandala Nusantara. On 2 Februari 2011 at 21:32. HLHLP 98;
  5. Waosan kaping-5: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Menghadapi Pemberontakan Dalam Negeri. dan Wwang Tartar. On 4 Februari 2011 at 22:42. HLHLP 099;
  6. Waosan kaping-6: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Runtuhnya Kerajaan Singasari. On 6 Februari 2011 at 22:50. HLHLP 100.

Pada wedaran berikut ini, dapat terjadi adanya pengulangan uraian yang telah ditulis pada waosan-waosan sebelumnya, hal ini bermaksud untuk lebih menekankan pemahaman: “Bagaimanakah masa pemerintahan Kertanagara dikaji dari sudut pandang antropologi prespektif religi antropolitik, dan sosiokultural berkaitan dengan kejatuhan Singasari?

Masa pemerintahan raja Kertanagara mendapat tempat khusus dalam Nagarakretagama. Kitab Pujasastra yang digubah di zaman Hayam Wuruk ini menempatkannya sebagai seorang Yogin sejati pengikut Tantrisme Subhuti. Ciri khas keagamaan Tantrisnya melahirkan konsepsi religius sinkretis Hindhu-Buddha, sebagai Tantrisme Kalacakra. Tak ayal kemudian, konsep religius ini mempengaruhi jalan kebijakan politik yang Kertanagara tempuh.

Ekspedisi ke negeri Malayu yang berjaya gilang-gemilang, mempunyai akibat yang sangat buruk didalam negeri. Pada tahun 1280 M, timbul pemberontakan yang dipimpin oleh Mahisa Rangkah. Mahisa Rangkah menurut Prof. Berg sama dengan Mahisa Cempaka ratu angabhaya dari Wisnuwardhana, atas dasar persamaan kata rangki dan campaka.

Tafsir ini tidak sesuai dengan Negarakretagama pupuh 41 (4) ataupun Prasasti Sarwadharma, karena Mahisa Cempaka meninggal setahun setelah Wisnuwardhana mangkat 1269. Pemberontakan Mahisa Rangkah tercatat dalam Negarakretagama pada tahun 1202 Ç atau 1280 M, sebelas tahun setelah Mahisa Cempaka meninggal.

Kemungkinan Mahisa Rangkah adalah orang dalam Singasari yang menaruh kebencian terhadap pola pemerintahan Kertanagara yang diwujudkan dalam pemberontakan pada Kertanagara namun akhirnya dapat dipadamkan.

Menurut pemberitaan Negarakretagama pupuh 42 (1). Pembesar-pembesar yang dipecat, terutama adipati Wiraraja di Sumenep, mendapat kesempatan baik untuk membalas dendam dan melampiaskan kemarahannya kepada Sri Kertanagara. Ia menghasut raja bawahan Jayakatwang dari Kediri yang berkuasa di Gelang-gelang untuk memberontak dengan cara mengirim surat, pada tahun 1214 Ç atau 1292 M,

Surat ini tercatat persis dalam Kidung Harsawijaya dan Serat Pararaton bagian IV. Surat ini menjadi bukti bahwa pembalasan dendam itu semata-mata ditujukan kepada diri raja Kertanagara pribadi, bukan kepada pemerintahan Singasari. Wiraraja masih memiliki simpati besar terhadap raden Wijaya (menantu Kertanagara) sebagai keturunan Bhatara Narasinga (Mahisa Cempaka).

Jika Jayakatwang berhasil menggulingkan raja Kertanagara, kemudian ia akan membantu raden Wijaya untuk menggulingkan Jayakatwang. Permainan Wiraraja tercium oleh utusan Wiraraja, Wirondaya, ia menasehati Jayakatwang akan permainan Wiraraja namun Jayakatwang tidak menggubris.

Isi surat merupakan terjemahan bebas atas naskah Kidung Harsawijaya dan Serat Pararaton bagian IV. Kemiripan di antara keduanya membuat suatu kesimpulan bahwa Kidung Harsawijaya merupakan “salinan asli” dari Serat Paraton Bagian IV.

Dari surat hasutan Wiraraja diatas, nyata bahwa Singasari dalam keadaaan kosong. Tidak ada lagi orang yang dapat dibanggakan. Raganata adalah satu-satunya pembesar, yang terpandang sebagai pahlawan, namun ia sudah tua renta, kang ingaranan macan guguh, apan sampun atuha seperti harimau kawakan, yang tidak lagi bergigi. Meskipun demikian, raja Kertanagara segan menyadari kenyataaan itu.

Beliau berani menolak permintaan Meng Khi, utusan Kaisar Cina Kubilai Khan, untuk mengakui kekuasaan kaisar dan mengirim utusan ke Tiongkok dengan membawa upeti sebagai tanda takluk. Meng Ki pun dipahat dahinya dan disuruh pulang. Alasan penolakan ini lebih bersifat politik pribadi Kertanagara yang nampak dari sikap ahangkara¬nya atas kekuasaan Kubilai Khan. Hinaan terhadap utusan Kaisar Tiongkok itu berlangsung pada tahun 1289 M.
Prabu Kertanagara segan tunduk kepada kemauan Kaisar Kubilai, apalagi takluk kepada kekuasaannya.

Setelah Jayakatwang membaca surat Wiraraja, tahulah beliau akan makna ibarat yang disuarakan oleh Wiraraja dan segera bertanya kepada Wirondaya, tentang bagaimana keadaan Singasari sebenarnya. Jawabnya, semenjak Raja Kertanagara memegang tampuk pimpinan kenegaraan, segala nasihat Mpu Raganata dan para wreddha menteri diabaikan. Para wreddha menteri digeser dari kedudukan mereka dan diganti oleh menteri muda. Sang prabu cenderung untuk menerima segala nasehat para menteri baru.

Rakyat tidak puas dengan sikap demikian. Jayakatwang lalu menyakan pendapat Patih Mahisa Mundarang. Jawabnya; “Moyang Paduka, Prabu Dandang Gendis (Kertajaya), binasa akibat pemberontakan anak petani Pangkur, Ni Ndok. Itulah raja Singasari yang pertama dan bergelar Raja Rajasa. Bala tentara Kediri sirna bagai gunung disambar halilintar. Prabu Kertajaya beserta bala tentaranya musnah karena tindakan Ken Arok. Kediri karenanya dijajah Singasari. Padukalah yang memiliki kewajiban membangun kembali kerajaan Kediri dan membalas kekalahan mendiang Prabu Kertajaya!

Setelah mendengar nasihat adipati Wiraraja dan pendapat patih Mundarang, Raja Jayakatwang segera mengeluarkan perintah menyerbu Singasari. Jaran Guyang berangkat menyerang Singasari dari jurusan utara, Patih Mahisa Mundarang menyerang dari selatan.
Bala tentara Daha dibawah pimpinan Jaran Guyang melintas sawah ke jurusan utara; membawa kereta, bende, gong, dan tunggul, berhenti di desa Mameling.

Banyak orang desa yang ketakutan, lari mengungsi ke kota Singasari. Yang berani melawan, menderita luka parah. Utusan dari Mameling sudah sampai di istana melaporkan bahwa tentara Kediri telah sampai di Mameling, namun Prabu Kertanagara tidak percaya. Baru setelah menyaksikan sendiri para pengungsi mengalir ke kota, beliau percaya akan kebenaran laporan, namun telah terlambat. Nararya Sangramawijaya dengan bala tentaranya, yang tidak siap berperang, mendadak diperintahkan berangkat ke Mameling untuk menanggulangi musuh.

Sementara itu, Prabu Kertanagara tinggal di puri keputrèn, minum-minuman keras, bermabuk-mabukan, dan berpesta pora seks, tenggelam dalam kenikmatan jasmani, seolah-olah tidak ada bahaya mengancam. Ditemui oleh Patih Angragani, beliau terperanjat mendengan sorak bala tentara Daha di Manguntur.

Ketika terjadi penyerbuan oleh Jayakatwang, Kidung Harsawijaya menceritakan tentang pesta pora seks Kertanagara sebelum kejatuhaannya. Selanjutnya Kidung Harsawijaya menguraikan bahwa adhyaksa Raganata dan menteri angabhaya Wirakreti memberi nasehat kepada sang prabu demikian: “Adalah pantangan bagi seorang raja mati terbunuh oleh tentara musuh dalam puri keputrèn. Lawanlah musuh yang datang menyerang!

Demikianlah raja Kertanagara kali itu mengindahkan nasehat Mpu Raganata. Raja Kertanagara, Panji Anggragani, Mpu Ragganata, dan Wikreti gugur dalam perlawanan gigih melawan musuh, yang mendadak datang menyerbu kota Singasari, mulané ora rêkåså pinurih sédané, demikian Babad Tanah jawi mewartakan, maka tidaklah terlalu sulit untuk membunuhnya.

Sejarah Singasari berakhir dengan mangkatnya Prabu Kertanagara pada tahun 1292 M. Negarakretagama pupuh 43 (5) mencatat bahwa Sri Kertanagara pulang ke Jinalaya pada tahun 1214 Ç atau 1292 M dan diberi gelar “Yang Mulia di alam Siwa-Buddha.”

Versi Negarakretagama dan Pararaton mengatakan bahwa Jayakatwang adalah raja Kediri perlu dibetulkan karena menurut prasasti Mula-Malurung, Jayakatwang adalah raja Gelang-Gelang berkat perkawinannya denga Nararya Turukbali, putri Sang Prabu Seminingrat atau Wisnuwardhana. Yang menjadi raja Kediri sejak tahun 1254 sampai 1292 ialah raja Kertanagara.

Jadi, serangan Jayakatwang terhadap Singasari pada tahun 1292 dilancarkan dari Gelang-Gelang; (Prasasti Kudadu, 1296), bukan dari Kediri seperti diuraikan dalam Pararaton dan Negarakretagama serta beberapa kidung. Prasasti Mula-Malurung mengatakan dengan jelas bahwa Jayakatwang adalah kemenakan Raja Seminingrat, jadi saudara sepupu dengan Sri Kertanagara. Baru setelah berhasil memusnahkan Sri Kertanagara, menurut prasasti Pananggungan, 1296, Jayakatwang menduduki ibokota Daha dan memerintah Singasari sebagai negara bawahan.

Kidung Harsawijaya berulang kali menyebut Jayakatwang raja Kediri, sehingga utusan Bupati Wiraraja dari Sumenep datang ke Kediri untuk memberitahu sang prabu supaya serangan terhadap Singasari segera dilancarkan, kesempatan yang baik jangan dibiarkan lewat. Mahisa Mundarang memberikan nasehat yang serupa dan menyebut Jayakatwang sebaga keturunan Raja Kertajaya.

Berdasarkan prasasti Mula-Malurung, utusan Wiraraja itu dikirim ke Gelang-Gelang tidak ke Kediri. Kidung Harasawijaya mengatakan bahwa Sri Kertanagara tidak khawatir tentang akan adanya kemungkinan serangan dari Kediri, karena ia percaya bahwa raja Jayakatwang tidak akan menyalahgunakan kebaikan sang prabu, yang telah sudi mengangkatnya sebagai raja Kediri.

Uraian di atas tidak tepat, karena yang mengangkat Jayakatwang sebagai raja ialah Nararya Seminingrat menurut prasasti Mula-Malurung. Lagi pula, Jayakatwang tidak diangkat sebagai raja Kediri, melainkan sebagai raja Gelang-Gelang. Seperti ditunjukkan diatas, baru pada tahun 1292, Jayakatwang menjadi raja Kediri setelah menaklukkan Kertanagara.

Telah diutarakan bahwa penobatan Kertanagara berlangsung pada tahun 1176 Ç atau tahun Masehi 1254. Penobatan itu harus ditafsirkan bahwa Kertanagara pada waktu itu baru dinobatkan sebagai raja muda atau yuwaraja. Hal ini terbukti dari istilah makamngalnya (di bawah pengawasan) yang sering ditemukan dalam prasasti Kertanagara sebelum tahun 1929.

Baru setelah raja Wisnuwardana wafat pada tahun 1190 Ç atau tahun 1268 M, maka Kertanagara mempunyai tanggung jawab penuh sebagai raja. Sejak pembentukan kerajaan Singasari oleh Ken Arok alias raja Rajasa, yang pada waktu itu belum bernama Singasari tetapi Kutaraja.

Mengikuti dan memberikan tafsir baru mengenai Ken Arok, maka bila selaput kepercayaan Hindu-Jawa yang menutupi sejarah Ken Arok itu disingkirkan dahulu, yang kita dapati ialah sejarah anak petani dari dusun Pangkur yang karena keberaniannya berhasil menjadi raja yang pertama di kerajaan Singasari.

Peristiwa itu ganjil dalam kerangka zamannya. Justru karena keganjilannya maka pengarang Pararaton ingin memberikan tafsirannya manurut konstruksi kepercayaan Hindu-Jawa yang kuat dianut kala itu.

Demikianlah sejarah Ken Arok lalu kedengaran seperti dongengan. Ken Arok memang bukan orang sembarangan, ia merupakan manusia yang serba bisa serta berani menyabung untung dengan menggunakan segala daya yang ia miliki dan keberanian menyerempet bahaya. Oleh karenanya beberapa sejarahwan mengatakan bahwa berita tentang Ken Arok dalam Pararaton sepenuhnya ahistoris.

Kertanagara adalah raja pertama dan terakhir, dia adalah satu-satunya raja Singasari yang penobatannya tanpa pertumpahan darah. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa terdapat kebenaran dalam pembunuhan beruntun dalam dinasti Rajasa awal menurut berita Serat Pararaton.

Istilah saling bunuh-membunuh ini disebutkan dalam prasasti Mula-Malurung sebagai līna, kakek Nararya Seminingrat yang meninggal dibangku emas disebutkan sebagai sang lineng dampa kanaka.

Siapa namanya waktu masih kecil tidak diketahui. Baik Pararaton maupun Negarakretagama serta Prasasti Sarwadharma dan Kidung Panji Wijayakrama tidak menyebutnya. Negarakretagama dan prasasti Sarwadharma dengan tegas menyebut bahwa nama Kertanagara adalah nama abhiseka. Dalam Kidung Panji Harsawijaya, raja Kertanagara biasa disebut Siwa-Buddha.

Dalam bidang agama, Kertanagara memperkenalkan penyatuan agama Hindu aliran Syiwa dengan agama Buddha. Oleh karena itu dalam Pararaton. Kertanagara sering juga disebut Bhatara Siwa Buda. Ajaran Siwa-Buddha merupakan campuran (sinkretisme) agama Hindu dan agama Budha

Sebagai penganut Ajaran Siwa Budha, disebut juga Jainisme, Sang Prabu Kertanegara adalah Yogin sejati pengikut Tantrisme Subhuti. Sebagai raja gelar abhiseka Prabu Kertanegara, yakni Shri Jnyanabadreshwara .

Menurut Nagarakretagama Pupuh 43 (2) sd (6):

2. Nahan hetu narendra bhakti ri pada sri-sakyasinghastiti
Yatnanggegwani pancasila krtasangskarabhisekakrama
Lumra nama jinabhiseka nira sang sri-jnanabajreswara
Tarkka-wyakaranadi sastra ng-anji srinatha wijnanulus.

2. Itulah sebabnya, baginda (Kertanegara) sangat teguh berbakti memuja kaki padma Sakyamuni (Buddha),
kokoh setia menjalankan pancasila (Pancasila Buddhis), samskara dan abhisekakarma.
Gelar Jina beliau adalah Shri Jnyanabadreshwara.
Mumpuni dalam tattwa (filsafat agama Shiwa dan agama Buddha), tata bahasa (sanskerta dan Palli) dan sutra-sutra lainnya.]

3. Ndan ri wreddhi nireki matra rumegep sarwwakriyadhyatmika
Mukya’ng tantra subhuti rakwa tinengot kempen rasanye hati
Puja yoga samadhi pinrih ira’n amrih sthitya ning rat kabeh
Astam tang ganasastra nitya madulur ddaneniwo ring praja.

3. Sangat giat beliau mempelajari segala ilmu spiritualitas.
Terutama Tantra Subhuti sangat diutamakannya. Ajarannya merasuk kedalam jiwa beliau.
Beliau giat melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh Kerajaan.
Agar terhindar dari tenung dan agar seluruh rakyat kecil sejahtera semua.

4. Tan wwanten karengo kadi nrepati sakweh sangng atitaprabhu
Purnneng sadguna sastrawit nipuna ring tatwopadesagama
Dharmestapageh ing jinabrata mahotsaheng prayogakriya
Nahan hetu ni tus nira padaikacchatra dwaprabhu.

4. Di antara para leluhurnya tidak ada yang setara dengan beliau, paham akan sadgunna (Enam macam ilmu Politik yang diajarkan Weda), sempurna dalam ilmu ketata negaraan dan ahli dalam tattwa agama (Shiwa Buddha). Teguh menjalankan aturan Jina, dan senantiasa berlaku utama. Itulah sebabnya sampai seluruh keturunannya diberkati sebagai pemimpin utama

5. Ring sakabdhijanaryyama nrepati mantuk ring jinendralaya
Sangke wruh nira ring kriyantara lawan sarwwopadesadika
Sang mokten siwabuddhaloka kalahan sri-natha ning sarat
Ringke sthana niran dhinarmma siwabuddharcca halepnyottama

5. ada tahun Saka abdhijanarryama (1214 Ç atau 1292 M), baginda berpulang ke Jinalaya (Alam Jina),
disebabkan beliau telah sempurna dalam kriyantara (Upacara agama Shiwa Buddha) dan sawrwopadesyadika (ajaran agama),
seluruh rakyat memberikan gelar kepada beliau Bathara Shiwa Buddha.
Di Candi beliau ditegakkan arca Shiwa Buddha, sangat-sangat indah menawan.

6. Lawan ring sagala pratista jinawimbatyanta ring sobhita
Tekwann arddhanareswari mwang ika sang sri-bajradewwy apupul
Sang rowang nira wrddhi ring bhuwana tunggal ring kriya mwang brata
Hyang wairocana locana lwir iran-ekarcca prakaseng praja.

6. Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan rupawan.
Serta Arca Ardhanareshwari (Shiwa dan Durga menjadi satu) disatukan dalam Arca Bajradewi,
teman hidup beliau dalam tapa demi keselamatan dan kesuburan negara (Bajradewi istri Kartanegara).
Arca tersebut juga lambang dari Wairochana dan Lochana dalam satu kesatuan tunggal, sangat masyhur dan indah.

Kertanagara telah menguasai semua ajaran agama Hindu dan Buddha, tidak lain karena prabu Kertanagara memang mempunyai pengetahuan yang sangat mendalam tentang ajaran agama Siwa dan Buddha dan memiliki pengetahuan tentang ajaran agama.

Itu sebabnya Kertanagara dikisahkan pula dalam naskah-naskah kidung sebagai seorang yang bebas dari segala dosa.
Gelar keagamaan Kertanagara dalam Nagarakretagama adalah Sri Jnanabajreswara, sedangkan dalam prasasti Tumpang ia bergelar Sri Jnaneswarabajra.

Kertanagara diwujudkan dalam sebuah patung Jina Mahakshobhya (Buddha) yang kini terdapat di Taman Apsari, Surabaya. Patung yang merupakan simbol penyatuan Syiwa-Buddha itu sebelumnya berasal dari situs Kandang Gajak, Trowulan, yang pada tahun 1817 dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis. Oleh masyarakat patung tersebut dikenal dengan nama Joko Dolog.

Dari Negarakretagama kita ketahui bahwa perubahan nama Kutaraja menjadi Singasari terjadi dalam pemerintahan raja Wisnuwardhana di sekitar tahun 1176 Ç atau tahun 1254 M. Sumber sejarah lainnya tidak menyebut nama dusun Kutaraja yang kemudian berganti nama Singasari.

Pararaton menceritakan hal lain, yakni bahwa Wisnuwardana mendirikan perbentengan (kota?) di Canggu Lor dalam tahun 1271 M. Canggu Lor terletak ditepi Sungai Brantas, dan mungkin sekali pembuatan perbentengan di Canggu Lor itu ada hubungannya dengan penyerangan atas Mahibit oleh raja Wisnuwardana, karena dapat diperkirakan Mahibut pun terletak di tepi Sungai Brantas, dekat Terung, tidak jauh dari letak keraton Majapahit dikemudian hari.

Negarakretagama agak panjang menguraikan pemerintahan raja Kertanagara. Sudah pasti bahwa uraian itu hanya menyinggung segi-segi yang baik saja, karena uraian itu ditulis dalam rangka pujasastra.

Pujasastra dapat dipandang sebagai kegiatan ritual Hindu yang bertujuan untuk memuja kebaikan dan kehebatan leluhur terutama leluhur raja-raja yang memerintah. Negarakretagama dibuat oleh Prapanca dalam rangka memuja leluhur raja Hayam Wuruk.

Demikianlah dari Negarakretagama itu saja, kita tidak akan memperoleh gambaran yang sekedar mendekati kenyataan peristiwa sejarah.

Kecuali itu, uraiannya boleh dikatakan singkat singkat. Sumber sejarah lainnya akan sekedar menambah pengetahuan kita tentang diri dan pemerintahan raja Kertanagara. Dengan harapan, didapatkan informasi solid dan valid tentang diri dan pemerintahan raja Kertanagara.

Dengan demikian pendekatan antropologi dapat dilakukan secara utuh tidak fragmentis sehingga didapatkan hasil kajian dari prespektif antroreligi, antropolitik, dan sosiokultural. Hal ini menjadi penting sebab kajian antropologi berusaha meneropong raja Kertanagara sebagai bagian dari profanitas dan bukan sakralitas sebagaimana banyak diatributkan dalam pemberitaan beberapa Serat, Prasasti dan beberapa Kidung.

Penalaran akan profanitas raja Kertanagara dapat melahirkan paradigma baru bahwa Kertanagara bukanlah manusia adi-luhung sebagaimana disebutkan dalam inskripsi kuno. Melainkan ia hanyalah manusia biasa yang dapat saja tergelincir dalam subjektifitas dan egoisme atau dapat dikatakan juga memiliki kekurangan di dalam kelebihan pemerintahannya.

Hal ini akan terlihat dalam kajian antropolitik pemerintahan raja Kertanagara yang banyak mengandung paradoks. Begitu dengan pendekatan religi dan sosiokultural pemerintahan Kertanagara.

Ånå candhaké.
Mêkatên, dongèng kapunggêl dumugi sêmantên rumiyin. Dongèng tutugé:Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Sang Siva Buda. Politik dan Sinkreteisme Religius Hindhu-Buddha. Parwa ka-2. Dongeng pungkasan

Nuwun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Telah Terbit on 29 Januari 2011 at 18:02  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-sri-maharajadhiraja-krtanagara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. lho, dereng wedhar ta ki, …
    kula tetep setiya nengga tutugipun dongeng kertanegara lho ki, ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: