Seri Surya Majapahit – Bagian kedua

WAOSAN KA-29

On 21 Mei 2011 at 06:47 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun
Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:
Waosan kaping-28; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-9] Masa Kejayaan Majapahit. [8]. On 14 Mei 2011 at 11:00. NSSI 10

Dongeng selanjutnya:
Waosan kaping-29:
BHRE JIWANA HAYAM WURUK MAHARAJA SRI RAJASANEGARA (1350-1389) [Parwa ka-10]

MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT [9]

K. Religi

Kemajuan tradisi budaya Jawa hari ini memang menjadi sebuah sumber peradaban masyarakatnya. Mulai dasar budaya asli Jawa, pola dan sistenm kerajaan, datangnya pengaruh etnis dan bangsa yang membawa agama dan budayanya seperti Hindu, Budha, Islam, Nasrani bangsa-bangsa Barat yang akhirnya menjadi bangsa penjajah, hingga zaman perjuangan kemerdekaan, semuanya membutuhkan waktu yang amat panjang.

Apalagi momentum perkembangan zaman juga mengubah peradaban masyarakat yang tak lain bisa kita sebut dengan masyarakat Jawa modern. Namun berbagai peradaban baru tidak mungkin lepas dengan sejarah perkembangannya. Mulai latar belakang masyarakat sampai kepada pengaruh yang timbul dalam masyarakat adalah faktor utama pengaruh modernisasi kebudayaan Jawa. Faktor yang mempengaruhi perkembangan Jawa adalah keberadaan sejarah, yang tak lain munculnya kerajaan Hindu-Budha, dan tentunya penyebar agama dan kerajaan Islam.

Jika dipandang dalam pemetaan sejarah, Jawa lahir dengan budaya primitif masyarakat. Budaya primitif ini timbul disaat masyarakat Jawa berinteraksi dengan alam, kepercayaan masyarakat terbentuk mulai dari teka-teki alam. Tetapi mereka percaya kepada adanya kekuatan yang tak tertandingi, yang dikenal dengan monoteisme primitif, percaya kepada Tuhan yang Esa. Tuhan Yang Satu, sesuatu yang abstrak dan umumnya ide-ide tentang ketuhanan menyangkut keyakinan terhadap adanya kuasa di luar batas emperisme dalam rangka meningkatkan kemanusiaannya sesuai dengan ajaran yang diajarkan dengan keyakinan.

Pemikiran mereka untuk memberikan definisi tentang Tuhan sesungguhnya sesuatu yang tak mungkin. Tuhan adalah sesuatu yang tidak mungkin salah, sebab suatu definisi yang baik harus mampu memberi gambaran yang jelas dan lengkap, sedangkan Tuhan mencakup pengertian yang luas dan serba mutlak.

Namun demi kepentingan praktis, baik dalam sudut keilmuan maupun dalam fungsinya sebagai media penghayatan keagamaan, definisi itu patut dihadirkan.
Pada mulanya, manusia menyembah kepada Tuhan yang monoteis, manusia “menciptakan” satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama (Causa Prima) bagi segala sesuatu dan Penguasa langit dan bumi.

Dia tidak terwakili oleh gambaran apa pun, sedang wujudNya tak tergambarkan, karena akal pikiran manusia tak mampu mencapaiNya dan kata-kata tak dapat menerangkanNya.

Mendefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk akal pikiran manusia sehingga tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaranNya.

Karena itu Wong Jåwå menyebutnya “tan kênå kinåyå ngåpå” (Dia tak dapat disepertikan), (Dia tak dapat diumpamakan).

Wong Jåwå biasa menyebut Pângéran yang berarti Raja. Masyarakat tradisional Jawa sering mengartikan “Pângéran” dengan kiråtå båså. Pângèran berasal dari kata “pangèngèran”, mempunyai makna “tempat bernaung atau berlindung”.

Sang Sangkan Paraning Dumadi, maka Tuhan adalah Sang Sangkan Dumadi sekaligus Sang Paran Dumadi, karena itu juga disebut Sang Hyang Sangkan Paran. Sang Penguasa dari mana kita berasal dan kemana kita kembali.

Ia hanya satu, tanpa kembaran, dalam bahasa Jawa dikatakan “Pângéran iku mung sajugå, tan kinêmbari” (Tuhan itu Esa, tidak ada satupun yang menyamaiNya). Dan berbagai nama sebutan lainnya.

Dahulu, para pujangga, empu, para cerdik cendekia di Jawadwipa, telah merumuskan berbagai etika berbentuk pitutur, pituduh dan wewaler dalam “berhubungan dengan Tuhan”.

Tuhan Yang Maha Esa disebut dengan berbagai nama yang disebut dengan sahasranama artinya ribuan nama. Keanekaragaman istilah terjadi karena faktor keterbatasan manusia pemujaNya di dalam memahamiNya. Disebutlah Dia dengan berbagai Nama Yang Baik sesuai dengan ‘peran’ yang dimilikiNya,

Dari sanalah agama Jawa hadir dan berangsur-angsur selaras dengan perkembangan fikir mulai berubah dengan kepercayaan-kepercayaan ritual adat. Bahkan tradisi adat inilah yang meyakinkan konsepsi budaya Jawa mulai terbentuk di sini.

Namun nampaknya Jawa memiliki pengaruh yang sangat penting dan berarti terhadap metabolisme perkembangannya. Masuknya pengaruh Hindu-Budha menjadikan pola pikir masyarakat lebih meluas dengan budaya kerajaan. Masyarakat yang tadinya hanya merupakan sebuah perkumpulan adat menjadi lebih luas dengan berkembangnya kerajaan.

Masuknya perkembangan Hindu-Budha di Jawa tak lain karena pola kesamaan masyarakat dengan latar belakang pemahaman. Saat itulah Jawa mulai dikenalkan dengan “bentuk” Sang Hyang.

Perkembangan budaya ini menyebar hingga kepelosok nusantara. Sehingga banyak berdiri kerajaan besar yang bernaung di Jawa sesuai dengan latar belakang adat masing-masing. Kerajaan Kanjuruhan, Mataram, Kadiri, sampai kepada perkembangan kerajaan Singasari dan Majapahit.

Berdirinya kerajaan Hindu-Budha tersebut mempengaruhi ekonomi, politik masyarakat. Yang lebih mengandalkan bercocok tanam sebagai gambaran masyarakat yang terikat dengan budaya kerajaan yang agraris.

Selain itu ekonomi bercocok tanam juga merupakan kebutuhan mendasar masyarakat untuk bertahan hidup. Namun sebagian hasil wajib untuk dijadikan upeti dan persembahan kepada kerajaan dan upacara keagamaan. Ritual ini silih berganti dengan berkembangnya, strata dalam masyarakatpun terbentuk dari sini.

Dibukanya saluran pembentukan ini, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Jawa dalam mempengaruhi kebudayaan yang lain. Kerajaan di Jawa menjelma menjadi kerajaan Hindu-Budha terbesar di area Asia Tenggara.

Sejak saat itulah Jawa menjadi budaya perkembangan kerajaan khususnya Hindu-Budha. Namun perkembangan kerajaan Hindu-Bhuda membuka alur perkembangan terutama dijalur perdagangan. Sampai akhirnya mulculah pedagang dan penyebar agama yang akan merubah Jawa pada perkembangan yang modern.

Hindu dan Budha

Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien.

Kedua tokoh besar ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan Dharma. Bukti- bukti peninggalan ini sangat banyak berupa sisa-sisa kerajaan Hindu seperti Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman di Jawa Barat.

Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman di Kalimantan Timur, Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dengan rajanya Sanjaya, Kerajaan Singosari dengan rajanya Kertanegara dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, begitu juga kerajaan Watu Renggong di Bali, Kerajaan Udayana, dan masih banyak lagi peninggalan Hindu tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

Raja-raja Hindu ini dengan para alim ulamanya sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan agama, seni dan budaya, serta kesusasteraan pada masa itu. Sebagai contoh candi- candi yang bertebaran di Jawa Bali dan Lombok, Yupa- yupa di Kalimantan, maupun arca-arca dan prasasti yang ditemukan hampir di seluruh Nusantara ini adalah bukti-bukti nyata sampai saat ini.

Kesusasteraan Ramayana, Mahabarata, Arjuna Wiwaha, Sutasoma, karangan Empu Tantular yang di dalamnya terdapat sloka “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa“, adalah merupakan warisan-warisan yang sangat luhur bagi umat selanjutnya. Agama adalah sangat menentukan corak kehidupan masyarakat waktu itu maupun sistem pemerintahan yang berlaku; hal ini dapat dilihat pada sekelumit perkembangan kerajaan Majapahit.

Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit menerapkan sistem keagamaan secara dominan yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Sewaktu meninggal, oleh pewarisnya dibuatkan pedharman atau dicandikan pada candi Sumber Jati di Blitar Selatan sebagai Bhatara Siwa dan yang kedua didharmakan atau dicandikan pada candi Antapura di daerah Mojokerto sebagai Amoga Sidhi (Budha).

Raja Jayanegara sebagai Raja Majapahit kedua setelah meninggal didharmakan atau dicandikan di Sila Petak sebagai Bhatara Wisnu sedangkan di Candi Sukalila sebagai Buddha.

Maha Patih Gajah Mada adalah seorang Patih Majapahit sewaktu pemerintahan Tri Buana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk. Ia adalah seorang patih yang sangat tekun dan bijaksana dalam menegakkan dharma, sehingga hal ini sangat berpengaruh dalam pemerintahan Sri Baginda. Semenjak itu raja Gayatri memerintahkan kepada putranya Hayam Wuruk supaya benar- benar melaksanakan upacara Sradha.

Upacara Sradha ini telah dilaksanakan sejak berabad-abad sebelum datangnya Agama Hindu dan Budha, lazimnya adalah upacara ‘slamêtan’ sehari, tiga hari, tujuh hari, seratus hari dan seribu hari sejak kematian seseorang, dan kemudian dilaksanakan setiap tahun pada hari mêndhak kematian seseorang.

Dengan datanganya Hindu dan Budha, upacara Sradha disesuaikan dengan ajaran Hindu Budha tersebut, dan yang paling terkenal adalah mendharmakan atau mencandikan para leluhur atau raja-raja yang telah meninggal dunia (amoring acintya). Upacara yang disebut Sradha ini dilaksanakan dengan Dharma yang harinya pun telah dihitung sejak meninggal tiga hari, tujuh hari, dan seterusnya sampai seribu hari dan tiga ribu hari.

Setelah Islam masuk ke Jawa upacara Sradha sampai sekarang masih dilaksanakan khususnya di Jawa yang disebut dengan istilah Sradha, Sradangan yang pada akhirnya disebut Nyadran, yang lazim dilakukan oleh masyarakat Jawa yang beragama Islam menjelang dan sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Memperhatikan perkembangan agama Hindu yang mewarnai kebudayaan serta seni sastra di Indonesia di mana raja-rajanya sebagai pimpinan memperlakukan sama terhadap dua agama yang ada yakni Siwa dan Budha, jelas merupakan pengejawantahan toleransi beragama atau kerukunan antar agama yang dianut oleh rakyatnya dan berjalan sangat baik.

Ini jelas merupakan nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada umat beragama yang ada pada saat sekarang.

Nilai-nilai luhur ini bukan hanya mewarnai pada waktu lampau, tetapi pada masa kini pun masih tetap merupakan nilai-nilai positif bagi pewaris- pewarisnya khususnya umat yang meyakini agama Hindu yang tertuang dalam ajaran agama dengan Panca Sradhanya.

Kendatipun agama Hindu sudah masuk di Indonesia pada permulaan Tarikh Masehi dan berkembang dari pulau ke pulau namun pulau Bali baru mendapat perhatian mulai abad ke-8 oleh pendeta-pendeta Hindu di antaranya adalah Empu Markandeya yang berasrama di wilayah Gunung Raung daerah Basuki Jawa Timur.

Beliaulah yang memimpin ekspedisi pertama ke pulau Bali sebagai penyebar agama Hindu dengan membawa pengikut sebanyak ± 400 orang. Ekspedisi pertama ini mengalami kegagalan.

Setelah persiapan matang ekspedisi kedua dilaksanakan dengan pengikut ± 2.000 orang dan akhirnya ekspedisi ini sukses dengan gemilang. Adapun hutan yang pertama dibuka adalah Taro di wilayah Payangan Gianyar dan beliau mendirikan sebuah pura tempat pemujaan di desa Taro.

Pura ini diberi nama Pura Murwa yang berarti permulaan. Dari daerah ini beliau mengembangkan wilayah menuju pangkal gunung Agung di wilayah Besakih sekarang, dan menemukan mata air yang diberi nama Sindhya. Begitulah permulaan pemujaan Pura Besakih yang mula-mula disebut Pura Basuki.

Dari sini beliau menyusuri wilayah makin ke timur sampai di Gunung Sraya wilayah Kabupaten Karangasem, selanjutnya beliau mendirikan tempat suci di sebuah Gunung Lempuyang dengan nama Pura Silawanayangsari, akhirnya beliau bermukim mengadakan Pasraman di wilayah Lempuyang dan oleh pengikutnya beliau diberi gelar Bhatara Geni Jaya Sakti. Ini adalah sebagai tonggak perkembangan agama Hindu di pulau Bali.

Berdasarkan prasasti di Bukit Kintamani tahun 802 Ç (880 M) dan prasasti Blanjong di desa Sanur tahun 836 Ç (914 M) daerah Bali diperintah oleh raja-raja Warmadewa sebagai raja pertama bernama Kesariwarmadewa. Letak kerajaannya di daerah Pejeng dan ibukotanya bernama Singamandawa. Raja-raja berikutnya kurang terkenal, baru setelah raja keenam yang bernama Dharma Udayana dengan permaisurinya Mahendradata dari Jawa Timur dan didampingi oleh Pendeta Kerajaan Empu Kuturan yang juga menjabat sebagai Mahapatih maka kerajaan ini sangat terkenal, baik dalam hubungan politik, pemerintahan, agama, kebudayaan, sastra, dan irigasi semua dibangun.

Mulai saat inilah dibangun Pura Kahyangan Tiga (Desa, Dalem, Puseh), Sad Kahyangan yaitu Pura Lempuyang, Besakih, Bukit Pangelengan, Uluwatu, Batukaru, Gua Lawah, Sistem irigasi yang terkenal dengan Subak, sistem kemasyarakatan, Sanggar/Merajan, Kamulan/Kawitan dikembangkan dengan sangat baik.

Agama dan sarana ritualnya

Raja-raja di Jawa sejak Mpu Sindok, sebagian besar menganut agama Siwa dari aliran Siwasiddhanta. Raja-raja Majapahit pada umumnya memeluk agama Siwasiddhanta, kecuali Ratu Tribhuwanottunggadewi, ibu raja Hayam Wuruk, memeluk agama Buddha Mahayana. Walaupun tidak banyak raja yang memeluk agama Buddha, namun kedua agama tersebut yaitu agama Siwa dan agama Buddha menjadi agama resmi Majapahit.

Untuk mengawasi berbagai kegiatan keagamaan telah diangkat dua pejabat tinggi keagamaan Siwa (Saiwa) maupun Budha (Bauddha). Jabatan tersebut adalah Dharmadhyaksa ring Kasaiwan atau Saiwadhyaksa, dan Dharmadhyaksa ring Kasogatan atau Buddhadhyaksa.

Di samping kedua pejabat tinggi tersebut terdapat Dewan Peradilan yang lebih rendah kedudukannya dari kedua pejabat tersebut di atas, anggotanya bergelar Sang Pamgat berjumlah 5-7 orang berasal dari kedua agama tersebut.

Jumlah anggota menjadi 7 orang terjadi pada waktu pemerintahan Tribhuwana dan secara keseluruhan tujuh pejabat itu disebut Sang Saptopapatti. Dalam kakawin Nagarakrtagama karangan Mpu Prapanca penjelasan tentang para pejabat tersebut adalah: dhyarmadhyaksa kalih lawan sang upapatti sapta dulur.

Namun pejabat agama Buddha terakhir kali ditemukan pada prasasti Waringin Pitu tahun 1447 M, sedangkan pejabat agama Siwa yang rupanya tetap bertahan. Para pejabat keagamaan ini bertugas mengawasi bangunan suci dan aktivitas pemeluk agama di wilayah Majapahit.

Di samping dua agama besar tersebut di Majapahit masih terdapat beberapa agama lainnya, di antaranya beberapa aliran agama Siwa, yaitu agama Siwa Bhairawa (Bherawa Siwapaksa) yang telah muncul sejak jaman Kadiri. Menurut salah satu prasasti raja Jayabhaya, guru raja Jayabhaya memeluk agama Siwa Bhairawa.

Selanjutnya di Majapahit terdapat agama Siwa yang dikembangkan oleh para resi (pertapa), para pemuja Siwa dalam bentuk Lingga, agama Waisnawa yang tidak terlalu banyak penganutnya, dan agama setempat atau agama lokal. Untuk mengelola agama-agama itu terdapat para agamawan yang disebut berkelompok tiga (tripaksa) yaitu rsi-saiwa-sogata, atau berkelompok empat (caturdwija) yaitu rsi-saiwa-sogata-mahabrahmana.

Rsi(resi) disini bukan tokoh mitos tetapi para pertapa yang telah meninggalkan keduniawian dan menjalani hidup tahap wanaprastha (tinggal di hutan). Sementara itu, mahabrahmana adalah pendeta-pendeta yang datang dari India dan menetap di Majapahit. Mereka disebut Brahmaraja, dan ahli dalam agama Siwa, Filsafat Hindu dan Tata Bahasa (Sansekerta).

Kakawin Nagarakrtagama membicarakan pula tempat-tempat suci masa Majapahit, termasuk status jenis-jenis bangunan suci. Menurut kakawin itu, ada dua kelompok besar tempat suci, yaitu pertama tempat-tempat suci yang ada di bawah pengawasan langsung pemerintah pusat dan kedua tempat-tempat suci yang berada di luar pengawasan pemerintah pusat. Tempat-tempat suci yang ada di bawah pengawasan pemerintah pusat adalah:

1. Dharma dalm atau dharma haji, yaitu tempat-tempat suci untuk kepentingan raja dan keluarganya, terdapat 27 buah termasuk yang didirikan pada masa Singasari. Tidak semua yang disebut kita kenali lagi, mungkin sudah rusak atau namanya sudah berganti. Bangunan suci yang disebut di antaranya Kagenengan (?), Jajaghu (Jago), Kidal, Jawi, Bhayalango, dan Simping.

2. Dharma-lpas, yaitu bangunan untuk para pemeluk agama Siwa, Buddha dan Karesyan, yang didirikan di atas bhudana (tanah yang diwakafkan). Termasuk kelompok kedua adalah tempat-tempat suci yang ada di luar pengelolaan pemerintah pusat, dan letaknya pun jauh dari pusat kota.

Tempat suci kelompok ini ada beberapa jenis, tetapi yang terpenting adalah Kadewaguruan yang dikenal sebagai Mandala, yaitu pusat pendidikan agama, dipimpin oleh seorang Maharesi (Siddharesi) yang juga disebut sebagai Dewaguru. Letak Kadewaguruan antara lain di lereng-lereng gunung, di tepi pantai, di hutan-hutan. Salah satu Mandala pernah dikunjungi oleh Hayam Wuruk ketika berkeliling mengunjungi wilayahnya, yaitu Wanasrama Sagara.

Pada masa Majapahit terdapat banyak tempat-tempat suci, baik dalam bentuk patirthan, gua-gua pertapaan, maupun candi-candi. Salah satu contoh patirthan masa Majapahit adalah candi Tikus yang terletak di Trowulan. Kolam berdenah bujur sangkar dengan ukuran 22.50 x 22.50 meter, dengan kedalaman 3.50 meter. Undak-undakan ada di sebelah utara dan ada dua kolam kecil di sudut-sudut utara kolam.

Air pengisi kolam, keluar dari pancuran yang ada di dinding kolam, dahulunya berjumlah 46 buah, sekarang tinggal 19 buah, sedangkan saluran untuk pembuangan air ada di dasar kolam. Pada sisi selatan terdapat lapik (batur) untuk menempatkan miniatur candi, dan beberapa altar, yang dipakai untuk meletakkan sesaji atau dipakai bersemedi, memusatkan fikiran kepada Paramasiwa.

Dalam agama Siwasiddhanta, puja kepada dewa ada dua macam, yaitu bahya puja (puja luar), yaitu puja kepada dewa tertentu yang diwujudkan dalam bentuk arca, yantra atau benda-benda tertentu.

Kedua manasa puja (puja dalam), puja tanpa sarana arca atau benda-benda lain. Manasa puja dilakukan oleh mereka yang pengetahuan spiritualnya telah sangat tinggi, misalnya para rsi (pertapa), sehingga candi-candi untuk kaum resi, misalnya candi-candi berundak teras di lereng-lereng gunung tidak diberi arca.

Gua-gua pertapaan terdapat beberapa buah, 9 di antaranya di lereng Gunung Penanggungan atau Gunung Pawitra. Satu di antaranya ada di dekat bangunan berundak teras Kendali Sada di lereng gunung Penanggungan. Keistimewaan gua ini, di dindingnya diberi relief Bhima sedang di tengah lautan, yaitu cuplikan cerita Dewaruci.

Pada masa akhir Majapahit, Bhima dianggap sebagai mediator antara manusia dan Siwa, dianggap sebagai penolong manusia yang ingin mencapai moksa. Arca-arcanya banyak ditemukan di lereng-lereng gunung, di candi-candi milik para resi (pertapa), termasuk candi Sukuh. Mengapa relief Dewaruci yang dipakai untuk menghias dinding pertapaan Kendalisada?

Cerita Dewaruci disusun pada masa Majapahit, menceritakan Bhima disuruh Durna, gurunya, mencari tirta amrta (air kehidupan). Di samping usahanya yang berhasil, Bhima berjumpa dengan Dewaruci, yang memberi pengetahuan tentang rahasia hidup, pemahaman tentang asal (sangkan) dan tujuan (paran) segala apa yang diciptakan (dumadi).

Bhima disuruh masuk tubuh Dewaruci yang tubuhnya sangat kecil melalui telinga kirinya. Semula ia menemukan diri dalam kekosongan tanpa batas dan kehilangan segala orientasi. Namun selanjutnya ia melihat kembali matahari, tanah, gunung dan laut. Ia melihat empat warna kuning, merah, hitam dan putih, serta sebuah boneka dari gading sangat kecil yang melambangkan pramana, prinsip hidup Ilahiah yang ada di dalam dirinya.

Bhima sadar bahwa hakikatnya yang paling dalam telah manunggal dengan Illahi. Dengan keberhasilannya mencapai dimensi realitas hidup yang terdalam, Bhima menjadi lambang keberhasilan dan menjadi tokoh panutan (semacam guru) para resi.

Berdasarkan ciri-ciri arsitektural dan struktural, candi-candi Majapahit ini paling sedikit memiliki dua gaya, yaitu candi-candi dengan gaya Singasari atau gaya Kidal. Candi-candi ini memiliki tiga bagian candi, beratap tinggi, dan tidak memiliki selasar untuk melakukan pradaksina (mengitari candi dengan mengikuti arah jarum jam). Namun para seniman agama (silpin) masa Majapahit telah mengembangkan daya kreasinya sehingga menghasilkan ciri-ciri yang khas masa Majapahit, yaitu munculnya sepasang tangga di kiri kanan tangga pintu masuk yang kemudian bertemu membentuk tangga tunggal masuk ke dalam candi. Salah satu contoh adalah tangga pada candi Pari.

Candi-candi gaya Majapahit memiliki ciri-ciri yang belum ada pada masa sebelum masa Majapahit, yaitu kaki candi berundak-teras tiga, salah satu atau lebih bagian tubuhnya tidak dijumpai lagi. Berdasarkan ciri-cirinya candi gaya Majapahit ini kita kelompokkan menjadi dua:

1. Kaki bangunan berundak-teras tiga, dengan dua tangga atau tunggal yang menghubungkan ketiga teras tersebut. Dengan adanya penampil untuk tangga yang menjorok ke depan maka tubuh candi seakan-akan tergeser ke belakang dari titik pusat bangunan. Tiga buah relung pada dinding tubuh candi untuk menempatkan arca dewa tertentu. Atap candi tidak ditemukan lagi, mungkin dibuat dari bahan yang mudah rusak dan bentuknya bertingkat seperti bentuk Meru di Bali. Hal ini dikemukakan, karena salah satu relief pada dinding candi Jago, Malang, terdapat relief candi dengan atap tumpang tujuh atau sembilan. Di samping candi Jago, termasuk kelompok ini adalah candi Rimbi dekat Jombang, candi induk Panataran dekat Blitar.

2. Bangunan dengan kaki berundak teras tiga, dengan kadang-kadang diberi penguat di bawahnya, tidak memiliki tubuh candi. Sebagai ganti tubuh, di atas teras teratas terdapat 1-3 altar, atau 2 altar dan satu miniatur candi, tanpa arca. Tepat di tengah-tengah teras terdapat tangga naik tunggal menuju altar di teras teratas. Candi jenis kedua ini terletak di lereng gunung, seringkali nampak “menempel” di lereng tersebut. Misalnya candi-candi di lereng gunung Penanggungan yang disebut gunung Pawitra dalam Nagarakrtagama.

Di samping bangunan dengan kaki berundak teras, terdapat beberapa candi yang tidak bisa dimasukkan ke dalam dua kelompok di atas, karena kaki candi hanya berbentuk seperti lapik (alas) dengan atau tanpa tubuh candi, misalnya candi Tegawangi dekat Pare, dengan dua altar dan satu miniatur candi misalnya candi Kotes. Namun ada candi yang mempunyai bentuk tersendiri, misalnya candi Sukuh yang berbentuk mirip yoni, candi Naga di kompleks Panataran berbentuk ruangan tanpa atap.

Tidak hanya struktur candi yang berbeda dari masa sebelumnya, juga berbagai tokoh dimunculkan pada waktu ini. Misalnya tokoh Punakawan dan Emban di beberapa dinding candi, antara lain di candi Tegawangi.

Jika ditilik cara penggambarannya, pada umumnya mempunyai ciri yang dekat dengan wayang kulit. Ciri ini terlihat pada penggambaran kedua kaki tokoh yang sama sekali miring ke satu arah, dada menghadap ke depan (ke pengamat), dan wajahnya miring atau ¾ miring. Apabila tokoh dihadapkan ke kiri, upawitanya (tanda tali kasta) melalui bahu kiri, tetapi apabila di hadapkan ke kanan berubah melalui bahu kanannya, sesuai wayang kulit jika diubah-ubah oleh sang dalang.

Di samping itu, relief pada jaman Majapahit mempunyai peranan penting terkait dengan fungsi candi. Ragam hias candi ada dua jenis, yaitu ragam hias pelengkap bangunan dan ragam hias penghias bangunan. Ragam hias pelengkap bangunan terkait dengan keseimbangan struktur candi, sedangkan ragam hias bangunan pada umumnya berupa relief cerita yang diambil dari karya sastra Jawa Kuna maupun Jawa Tengahan.

Cerita yang dipahat biasanya terkait dengan fungsi bangunan suci tersebut. Sebagai contoh relief cerita yang bertemakan kalepasan (moksa) dipahat di dinding candi-candi yang berfungsi sebagai pendharmaan (tempat didharmakan) raja yang wafat, dengan tujuan agar arwah raja cepat mencapai moksa. Misalnya cerita Sudamala yang dipahat di dinding candi Tegawangi pendharmaan raja Matahun, paman Hayam Wuruk.

Cerita Sudamala berintikan cerita penebusan dosa (lukat, ruwat) Durga Ranini yang merupakan bentuk kutukan Uma oleh Bhatara Guru karena selingkuh dengan dewa Brahma. Setelah 12 tahun tinggal di kuburan Setra Gandamayu, Durga Ranini di ruwat oleh Sadewa dan Bhatara Guru, sehingga dosanya hilang dan menjadi Uma yang cantik kembali.

Di kompleks candi Sukuh terdapat cerita Bhimaswarga, cerita tentang Bhima mencari air amrta ke sorga Siwa untuk arwah Pandu dan Madrim. Setelah berperang melawan bala tentara Yama, Bhima berhasil diberi air amrta oleh Siwa. Oleh karenanya di candi Sukuh Bhima dianggap sebagai mediator antara manusia dan Siwa bagi mereka yang ingin mencapai moksa.

Majapahit menjadi pusat percampuran budaya India dan budaya lokal. Banyak mitos tentang dewa-dewi yang tidak pernah terdengar di India sendiri, dijumpai di Jawa. Orang Majapahit dengan sadar menciptakan dewa-dewi baru dan dalam karya sastra bernama Tantu Panggelaran secara implisit disebut perubahan terjadi, karena “dewa-dewi Jambhudwipa (India) telah menjadi dewa-dewi Jawa” karena puncak gunung Mahameru telah dipindah ke pulau Jawa.

Hal ini mengakibatkan muncul budaya Majapahit yang sangat unik. Misalnya candi-candi berstruktur berundak-teras tiruan Mahameru muncul di mana-mana, antara lain candi Jago, candi Rimbi, candi induk Panataran, candi-candi para resi di lereng-lereng gunung.

Demikian pula relief rasaksi Durga Ranini yang bertaring, berambut gimbal, mata melotot, tinggal di kuburan, terdapat di relief candi Tegawangi dan candi Sukuh. Cerita Uma selingkuh sangat mengherankan, karena di India, Uma dianggap sebagai panutan isteri yang setia.

Bagaimana dengan fungsi candi-candi masa Klasik Muda? Fungsi candi-candi sebelum masa Singasari belum diperoleh, maka fungsi candi masa Singasari dan Majapahit yang akan dibicarakan disini. Melihat fungsinya, candi-candi masa Singasari dan Majapahit kita kelompokkan menjadi dua:

• Candi-candi yang mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai kuil pemujaan dewa, dan sebagai pendharmaan raja dan keluarganya. Kata pendharmaan berasal dari kata “dharma” yang berarti “kewajiban” dalam agama Hindu.

Dharma seorang raja adalah mendirikan sebuah bangunan suci, dan memperbaiki bangunan suci yang telah rusak. Setelah mendirikan bangunan suci dan raja tersebut wafat, maka dibuatkan arca berwujud dewa pelindungnya (istadewata), dan arca perwujudan tersebut diletakkan di dalam ruang utama (garbhagrha) candi yang telah disiapkan (didirikan) oleh raja yang wafat, sebagai dharma raja tersebut. Dewa pelindung (istadewata) bisa dewa tertinggi atau dewa-dewa tertentu pilihan seseorang. Raja-raja Singasari dan Majapahit seringkali diwujudkan sebagai arca Siwa dan sekaligus arca Buddha, karena bukankah dua dewa tersebut adalah wujud dari yang satu yaitu Hakekat Tertinggi ?

Dalam karya sastra Jawa Kuna, moksa disebut sebagai mantuk atau mulih ing dewapada (pulang ke kaki dewa). Dengan dibuatnya arca perwujudannya dalam wujud Siwa dan Buddha, berarti arwah raja tersebut telah menyatu dengan dewa pelindungnya, telah mencapai moksa.

Candi pendharmaan pada masa Singasari adalah candi Kidal, pendharmaan raja Anusapati, candi Jago, pendharmaan raja Wisniwarddhana, dan mungkin pula candi Singasari pendharmaan raja Krtanagara. Adapun candi berfungsi ganda pada masa Majapahit mempunyai struktur yang khas, yaitu kaki candi berteras tiga dan ada ruang utama (garbhagrha) pada tubuh candi untuk menempatkan arca perwujudan. Contoh adalah candi Jago dekat Tumpang, Malang, dan candi Rimbi dekat Jombang.

Perkecualian terdapat pada candi induk Panataran, walaupun memiliki tubuh candi dengan garbhagrha, namun tidak untuk menempatkan arca perwujudan raja tertentu, karena candi Panataran adalah candi Kerajaan bukan candi pendharmaan. Hingga sekarang belum diketahui arca utama candi itu.

• Candi-candi kelompok kedua ini hanya berfungsi sebagai kuil pemujaan. Termasuk kelompok ini adalah candi-candi milik para rsi, yang kebanyakan ada di lereng-lereng gunung, misalnya di lereng gunung Penanggungan, gunung Arjuna, gunung Wilis, gunung Lawu, termasuk candi Sukuh, merupakan candi para resi yang dipakai untuk upacara penyucian diri agar bisa segera mencapai kalepasan (moksa)

Telah dikemukakan di atas, di candi Sukuh ini Paramasiwa sebagai dewa yang dipuja, namun Bhima dianggap sebagai mediator antara manusia dan Siwa, yang menolong manusia untuk mencapai moksa, oleh karenanya dianggap tokoh penting. Arca Bhima dahulu pernah ditemukan, tetapi diletakkan di samping candi induk Sukuh, sedangkan yang di atas candi induk adalah sebuah lingga besar yang sekarang disimpan di museum Nasional Jakarta.

Kejayaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk
(menurut Babad Tanah Jawi).

Ayam Wuruk, Syri Rêjåsånagårå, Ratu kang kaping IV ing Måjåpait (tahun 1350-1389)

Awit saking gêdhéné lêlabuhané Patih Gajahmådå, nâgårå Måjåpait såyå suwé såyå misuwur kuwasané. Prabu Ayam Wuruk têtêp jumênêng ratu agung binathårå ngêrèh sapêpadhaning ratu. Sang Nåtå kråmå olèh nakdhèrèké piyambak kang wêwangi Rêtnå Kusumådèwi. Pårå santanané pådhå ginadhuhan tanah dhéwé-dhéwé ing samurwaté. Déné kuwajibané pårå santånå utåwå adipati mau ing mångså kang wus ditamtokaké kudu ngadhêp ing panjênêngané Nåtå, mulané kabèh pådhå duwé dalêm bêcik-bêcik ånå ing Måjåpait, muwuhi asrining nagårå.

Ing jaman iku ånå pujånggå kraton aran Prapanca (Budhå). Ing taun 1365 pujånggå iki nganggit layang kang aran Nāgåråkṛtāgåmå. Ånå manèh pujånggå aran Êmpu Tantular nganggit layang Arjunåwiwåhå. Måjåpait ing wêktu iku êmèh mbawahaké satanah Indhiya Wétan kabèh, kåyåtå: Tanah Jåwå Wétan lan Têngah, Sumatra, wiwit Lampung têkan Acèh (Pêrlak), Bornéo (Banjarmasin), Sèlèbés (Banggawai, Salaiya, Bantaiyan), Florès (Larantuka), Sumbawa (Dompo), saparoning Malaka lan sabagêyaning Niêuw Guinéa.

Tanah Sundhå ora ditêlukaké. Kang jumênêng ratu ånå ing tanah Sundhå mau ajêjuluk Prabu Wangi, putrané putri dilamar Prabu Ayam Wuruk iya dicaosaké, ananging Prabu Wangi banjur pasulayan karo Patih Gajahmådå, nganti dadi pêrang. Prabu Wangi sêdå ing paprangan lan akèh punggawané kang mati ånå paprangan; êwadéné tanah Sundhå ora dibawah Måjåpait, isih madêg dhéwé ing satêrusé.

Ing Jaman samono pårå ajar utåwå pandhitå (agåmå Budhå utawa Syiwah) mèlu nindakaké paprêntahan nagårå, mulané pådhå diparingi lungguh bumi dhéwé-dhéwé kang diarani bumi: Pradikan. Padésan ing sakubênging candhi utawa padhépokaning pårå pandhitå lumrahé ugå dadi bumi pradikan, wongé diwajibaké jågå lan ngopèni candhi padhêpokan mau. Kawulå liyané pådhå kênå pajêg pråpuluhan (sapråpuluhing pamêtuning buminé), lan kênå ing pagawéyan gugur gunung lan sapêpadhané. Pajêg råjåkåyå, pajêg panggaotan lan tambangan ing wêktu samono iya wis ånå. Pamêtoning pråjå gêdhé bangêt, pêrlu kanggo ragad pêrang lan kanggo kapraboning Sang Nåtå sartå kanggo yêyasan nagårå, kåyåtå: kraton, gêdhong-gêdhong, pasanggrahan-pasanggrahan lan liya liyané.

Ing nagårå Måjåpait wis akèh omah kang bêcik-bêcik, payoné sirap, déné omah kang lumrah pådhå apagêr gêdhèg, ananging ing jêro racaké ånå pêthiné watu kang santoså pêrlu kanggo nyimpên barangé kang pangaji. Wong-wong dhèk jaman samono pådhå doyan nginang, sênêngané pådhå tuku bålå pêcah såkå juragan Cinå, pambayaré nganggo dhuwit sing diarani Kèpèng. Wong lanang pådhå ngoré rambut, wong wadon gêlungan kondhé. Wiwit ênom wong wong pådhå nganggo gêgaman kêris, lan gêgaman iku kêrêp diêmpakaké. Wong yèn mati jisimé diobong, yèn sing mati iku bångså luhur utåwå wong sugih bojo bojoné (råndhå-randhané) pådhå mèlu obong.

Ora adoh såkå nagårå ånå papan kanggo adu adu kéwan utåwå uwong utåwå kanggo karaméyan liya liyané. Papan iku arané “Bubat”. Sang Nåtå kêrêp lêlånå tinggal nagårå, ing Blambangan sauruté iya tau dirawuhi.

Prakårå pêrdagangan iyå dadi gêdhé bangêt, awit såkå majuning lêlayaran kagåwå såkå kèhing nagårå-nagårå kang kabawah ing Måjåpait sing kêlêt lêtan sagårå. Bab kagunan, kåyåtå: ngukir-ukir sapêpadhané, kombulé ing Tanah Jawa Wétan dhèk pungkasané abad kang katêlulas, lan ing wiwitané abad kang patbêlas, mung baé panggawéné rêcå-rêcå kang apik apik iku nganggo tuntunaning wong Indhu utåwå nurun kagunan Indhu.

ånå tjandhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Telah Terbit on 25 Juni 2011 at 09:19  Comments (6)  

6 Komentar

  1. kok surya majapahit 1 isinya bagian 2 juga ??

    • lho….?!
      sepertinya gak tu?
      he he he …, link-nya lom di edit
      dah beres.

  2. Seri Surya Majapahit – Bagian Pertama

    yg ini nih isinya sama ajja dgn

    Seri Surya Majapahit – Bagian Kedua
    hi hi 😛

    • hadu…..
      yang ini linknya juga belum diedit rupanya
      maaf bu lik
      tetapi beda kok, surya majapahit 1 wedaran 1-19, sedang surya majapahit 2 wedaran 20-35
      link-nya, besok saja diperbaiki
      sekarang sudah teklak-tekluk, ngantuk

      kalau mau lihat sinya, yang diklik jangan daftar isinya, tetapi deretan halaman di bawah

      he he he ….

      • he he he
        sekalian buka komputer, sekalian saya edit link-nya, meskipun sambil terkantuk-kantuk
        sudah beres Nyi Dewi

  3. om, wedaran ke 47, 48 dan 49 kok isinya sama, padahal di daftar isi judulnya beda. tolong diperbaiki ya…

    kesalahan tautan sudah diperbaiki
    terima kasih atas informasinya


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: