Seri Surya Majapahit – Bagian kedua

WAOSAN KA-30

On 29 Mei 2011 at 01:58 punakawan bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun
Sugêng énjang

Lir sumilir lumakuning urip rinå lan wêngi, saput siti, ésuk umun-umun plêthek srengéngé, wisan gawé, têngah awan, lingsir kulon banjur wanci surup, srêngéngé anslup, wêngi têngah wêngi, lingsir wêngi, bali saput siti ésuk umun-umun, mangkono sapituruté, mugå-mugå antuk pêpayunganing lan pêpadhang Hyang Suksma Kawékas, Gusti Kang Måhå Wikan, Gusti Ingkang Måhå Wêlas miwah Måhå Asih, awit saking rumêntahing sih wilåså miwah sih nugråhå ingkang sampun tumanduk ing jiwanggå kitå waradin sagung dumadi raharjå minulyå.

Manêdyå wantah ora kêndat tansah éling lan manêmbah mring Gusti. Ing madyå ratri pating trênyêp sumrêsêp hêning, énang-énung awang-awung, lamat-lamat dumêling ing akåså, sumusup himå himantåkå, satémah mawéh prabåwå hambabar wahyu kunugrahan suci, mugå-mugå têtêp winêngku sukå basuki.

Demikianlah, Matahari secara perlahan tetapi pasti, menjalankan tugas yang diembannya itu dengan sebaik-baiknya. Sunahtullah. Tugas dari Yang Maha Pencipta.
Di pagi hari Sang Surya telah meninggalkan peraduannya. Cahayanya yang semburat kemerahan di pagi yang cerah. Di ufuk Timur. Ia akan datang pada saat ia harus datang.

Setelah sepanjang hari menyinari alam jaga raya, memberi berkah kehidupan atas izin Yang Maha Hidup kepada siapa saja, kepada apa saja, dan dia tidak pernah membeda-bedakan, dan ketika pada saatnya ia akan pergi pada saat ia harus pergi. Kembali semburat merah membayang di senja hari. Di ufuk Barat. Peredaran jinantra alam yang tak terkendalikan oleh kekuatan apapun, selain oleh Maha Penciptanya.

Demikian halnya Majapahit, kerajaan besar Nusantara di abad ke-XIII; Surya Majapahit perlahan tetapi pasti akan tenggelam, tetapi ada yang berbeda. Tenggelamnya Surya Majapahit lebih banyak dipicu ulah mereka yang tidak menghendaki Majapahit tetap jaya di Bhumi Nusantara, ditingkah pula oleh intriks dan perebutan dampar kêncånå oleh para bangsawan kerabat keraton sendiri. Maka mulailah saat-saat menuju sandyakalaning Majapahit.

Masa Suram Majapahit, setelah berturut-turut sejak masa pemerintahan Maharani Sri Tribhuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani (1328-1351) hingga Jiwana Hayam Wuruk Maharaja Sri Rajasanegara (1350-1389), Majapahit mengalami masa emas kegemilangannya.

Dongeng ini diawali Hari-hari Akhir Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Gajah Mada.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
SURYA MAJAPAHIT

Dongeng tentang Gajah Mada, terakhir adalah Waosan kaping-19. Gajah Mada. (Parwa ka-4) Pengabdian dan Kehidupan Gajah Mada. Kaidah-kaidah Utama Pengabdian Gajah Mada. On 25 Maret 2011 at 08:02.

Kemudian dilanjutkan dengan Dongeng Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389), berturut-turut dari Parwa ka-1 sd Parwa ka-10, yang menceritakan Masa-masa Kejayaan Majapahit.

  1. Waosan kaping-20: Bhre Jiwana Hayam Wuruk Maharaja Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-1]. On 13 April 2011 at 09:42 NSSI 01
  2. Waosan kaping-21: Bhre Jiwana Hayam Wuruk Maharaja Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-2].
    Masa Kejayaan Majapahit (1) – Perekonomian Majapahit [Bagian Pertama]. On 8 April 2011 at 13:31 di Gandhok Seri Surya Majapahit.
  3. Waosan kaping-22: Bhre Jiwana Hayam Wuruk Maharaja Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-3].
    Masa Kejayaan Majapahit (2) – Perekonomian Majapahit [Bagian Kedua] On 18 April 2011 at 13:09. NSSI 02.
  4. Waosan kaping-23: Bhre Jiwana Hayam Wuruk Maharaja Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-4].
    Masa Kejayaan Majapahit (3) – Undang-undang Kerajaan Majapahit (Seri-1). On 24 April 2011 at 19:51. NSSI 03.
  5. Waosan kaping-24: Bhre Jiwana Hayam Wuruk Maharaja Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-5].
    Masa Kejayaan Majapahit (4) – Undang-undang Kerajaan Majapahit (Seri-2). On 27 April 2011 at 07:41. NSSI 04.
  6. Waosan kaping-25; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-6]
    Masa Kejayaan Majapahit. [5]. Undang-undang Kerajaan Majapahit. Kutara Manawa Dharmasastra (Seri 3). On 30 April 2011 at 07:11 NSSI 05 .
  7. Waosan kaping-26; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-7] Masa Kejayaan Majapahit. [6]. On 6 Mei 2011 at 08:28. NSSI 07.
  8. Waosan kaping-27; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-8] Masa Kejayaan Majapahit. [7]. On 14 Mei 2011 at 10:35 NSSI 10.
  9. Waosan kaping-28; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-9] Masa Kejayaan Majapahit. [8]. On 14 Mei 2011 at 11:00. NSSI 10.
  10. Waosan kaping-29; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-10] Masa Kejayaan Majapahit. [9] On 21 Mei 2011 at 06:47 NSSI 12.

Berikut ini menyambung “dongeng yang terputus” tentang Gajah Mada, yang masih ada gandhèng cènèng dan sambung rapat dengan Dongeng Bhre Jiwana Hayam Wuruk, khususnya menjelang saat-saat akhir lèngsèrnya kedua tokoh ini.

Berikut dongengnya:

Waosan kaping-30
GAJAH MADA [Parwa ka-5]
HARI-HARI AKHIR GAJAH MADA
Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit

Perang Bubat

Perang Bubat, (kalaupun perang ini dianggap pernah terjadi) adalah perang yang diduga pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada.

Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di sebuah desa di lapangan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360M.

Terjadinya perang.

“Peristiwa” Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda.

Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Sangat disayangkan tidak ada satupun yang dapat memberikan rujukan tentang Juru Sungging Prabangkarta ini.

Catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda.

Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda.
Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3.

Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, seperti yang cantrik Bayuaji pernah sampaikan bahwa catatan sejarah Pajajaran tersebut sangat lemah kebenarannya, terutama karena berdasarkan sumber-sumber sajarah yang lain, nama Dyah Lembu Tal sebenarnya adalah nama laki-laki.

Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya.

Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati.

Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, di antaranya dengan cara menguasai Kerajan Dompu di Nusa Tenggara.

Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Kesalah-pahaman

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit; momentum ini digunakan oleh Mahapatih Gajah Mada untuk memenuhi sumpahnya, mengingat Tatar Sunda salah satu bagian dari Nusantara Raya yang belum masuk ke dalam kekuasaan Majapahit, dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan Sundalah yang belum dikuasai Majapahit.

Dengan maksud tersebut, maka kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta.

Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui kedaulatan Majapahit atas Sunda di Nusantara.

Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Gugurnya rombongan Sunda

Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya.
Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum sempat Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan meminta Linggabuana mengakui kedaulatan Majapahit.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.
Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.

Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya pada tahun 1364.

Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya di antaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda, yang dimaksud adalah Majapahit.

Konon pertempuran yang sangat tidak seimbang dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda gugur semuanya termasuk raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana, dan tidak hanya itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi — yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk — ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.

Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit sunda.

Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.

Tak pelak lagi, peristiwa Bubat dianggap sebagai catatan hitam seorang Gajah Mada yang menodai jasa-jasa yang sudah dia lakukan. Peristiwa yang pada awalnya merupakan prosesi pernikahan antara Raja Hayam Wuruk dengan putri kerajaan Sunda Dyah Pitaloka.

Sebagai satu-satunya kerajaan di pulau Jawa yang belum mengakui kerajaan Majapahit, maka pernikahan putri Sunda ini merupakan upaya untuk memperluas pengaruh Majapahit di seluruh pulau Jawa.

Namun, Gajah Mada justru meminta agar sang putri diantar kepada raja Majapahit sebagai persembahan dan bukti bahwa Sunda sudah takluk di tangan Majapahit. Permintaan inilah yang memicu pertempuran di lapangan Bubat yang akhirnya membunuh sang putri dan raja Sunda.

Tafsiran baru menyebutkan bahwa bukan Gajah Mada yang menjadi penyebab utama terjadinya peristiwa berdarah di Bubat. Adalah orang tua Hayam Wuruk, Kertawardana dan TribuanaTunggadewi, yang menjadi aktor utama peristiwa ini.

Orang tua Hayam Wuruk agaknya sudah berjanji kepada Rajadewi Maharajasa, adik Tribuana, untuk menikahkan putrinya yang bernama Indudewi kepada Hayam Wuruk, sehingga apabila Dyah Pitaloka benar-benar akan menikah dengan Hayam Wuruk maka Indudewi hanya akan menjadi selir raja saja dan akan mengundang perpecahan di kalangan dalam keluarga raja Majapahit.

Untuk mencegah hal ini maka orang tua Hayam Wuruk meminta kepada Gajah Mada agar pernikahan tersebut digagalkan dan kemudian terjadilah peristiwa Bubat.

Seandainya tafsiran itu benar maka Gajah Mada bukanlah yang bertanggung jawab dalam peristiwa Bubat tersebut, dia hanya menjalankan perintah kedua orang tua Hayam Wuruk.

Namun, Gajah Mada mendapatkan getahnya sampai sekarang, dia selalu dicaci dan dimaki, bahkan dalam Kidung Sunda disebutkan bahwa Gajah Mada akhirnya dibenci keluarga Majapahit karena telah menggagalkan pernikahan agung Hayam Wuruk.

Mungkin begitulah nasib para pahlawan, jasa-jasanya seolah-olah lenyap hanya oleh satu kesalahan yang belum tentu dia yang melakukannya. Gajah Mada juga manusia.

Gajah Mada ditempatkan sebagai pihak paling bersalah atas tragedi itu. Ia dihujat, dicaci, dan dicela. Namun, sesungguhnya sang legendaris ini juga merasa terluka.

Ia terluka karena merasa kerja kerasnya selama dua puluhan tahun lebih pada akhirnya tak ada harganya sama sekali. Segala pengorbanan yang ia berikan untuk dapat menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji-panji Majapahit justru gagal di langkah terakhir.

Namun, tak peduli betapapun kecewa Gajah Mada mendapati kenyataan cita-citanya tak terwujud secara sempurna, ia tetap bersalah telah menyebabkan ratusan orang terbantai.

Ia bersalah telah mengubah lengkung janur kuning menjadi ratap perkabungan. Gajah Mada pun harus menerima hukumannya. la dihempaskan dari dampar kepatihan dan harus melewati hari tua di Madakaripura, sebuah tempat terpencil dan jauh dari segala ingar-bingar urusan duniawi.

Akan tetapi, sekali lagi sejarah membuktikan bahwa nama besar Gajah Mada bukan isapan jempol belaka. Sepeninggal Gajah Mada, Majapahit mulai dilanda berbagai persoalan.

Persoalan terbesar adalah ancaman disintegrasi. Tanpa Gajah Mada, negara-negara bawahan Majapahit tak lagi takut melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

Dan, Prabu Hayam Wuruk akhirnya harus kembali mengandalkan Gajah Mada. Setelah setahun menyepi di Madakaripura, Gajah Mada dipanggil untuk menduduki jabatannya kembali.

Hanya saja, semua ada masanya. Sepertinya, puncak kejayaan memang sudah saatnya berlalu dari Majapahit karena Gajah Mada tetaplah manusia biasa. Gajah Mada tidak mungkin dapat membendung laju sang waktu. Gajah Mada tidak mungkin pula dapat melawan kodrat.

Dari tiada menjadi ada, lalu kembali ke tiada. Semua yang hidup pasti berujung pada kematian. Begitulah yang bakal terus terjadi.

Gajah Mada dengan segala romantika dan gegap gempitanya usai sudah. Drama Majapahit adalah cermin yang merefleksikan betapa tidak ada manusia yang sempurna, seorang Gajah Mada sekalipun, bahwa hidup tidak berhenti pada satu titik, bahwa ambisi harus dikendalikan, dan bahwa kerendahan hati mesti dimiliki.

Setelah peristiwa Bubat, Mahāpatih Gajah Mada mengundurkan diri dari jabatannya karena usia lanjut, sedangkan Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri bernama Pāduka Śori, anak dari Bhre Wĕngkĕr yang masih terhitung bibinya.

Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk kerajaan Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun politik.

Hayam Wuruk memerintahkan pembuatan bendungan-bendungan dan saluran-saluran air untuk kepentingan irigasi dan mengendalikan banjir.
Sejumlah pelabuhan sungai pun dibuat untuk memudahkan transportasi dan bongkar muat barang.

Jabatan patih Hamangkubhūmi tidak terisi selama tiga tahun sebelum akhirnya Gajah Enggon ditunjuk Hayam Wuruk mengisi jabatan itu.

Sayangnya tidak banyak informasi tentang Gajah Enggon di dalam prasasti atau pun naskah-naskah masa Majapahit yang dapat mengungkap sepak terjangnya.

Tetapi benarkah Perang Bubat itu pernah terjadi?.

Kontroversi tentang “Perang Bubat” akan diwedar tersendiri, karena ada hal-hal yang “disembunyikan”, dan sejarah telah mencatatnya.

KARYA TERAKHIR MAHAPATIH GAJAH MADA

Selama hampir dua tahun setelah Gajah Mada mengundurkan diri, dan kursi Mahapatih Amangkubumi kosong, Hayam Wuruk merasa kewalahan memimpin Majapahit.

Itulah sebabnya pada bulan Bhadrapada tahun saka 1281 atau bulan Agustus 1359, Gajah Mada diminta kembali duduk di kursi Mahapatih Amangkubumi. Pada tahun yang sama, ketika Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling ke Lumajang, Gajah Mada ikut serta dalam rombongan, tercatat dalam Nāgarakṛtāgama pupuh XVII-LX.

Nāgarakṛtāgama Pupuh XVII (17)

  1. sampun rabdha pageh ny adeg nrpati ri yawadharani jayeng digantara
    ngkana
    sriphalatiktanagara siran siniwi mulahaken jagaddhita
    kirnnekang yasa kirti dharmma ginawe niran n anukani buddhi ning para
    antri wipra bhujangga sang sama wineh wibhawa tumut akirti ring jagat.
  2. gong ning wiryya wibhuti kagraha tekap nrpati tuhutuhuttama prabhu
    lila nora kasangsayan ira n anamtami suka sakaharsa ning manah
    kanya sing rahajong ri
    janggala lawan ri kadiri pinilih sasambhawa
    astam tan kahanang sakeng parapurasing areja winawe dalem puri.
  3. salwa ning yawabhumi tulya nagari sasiki ri pangadeg naradhipa
    mewwiwu ng jana desa tulya kuwu ning bala mangideri kanta ning puri
    salwir ning paranusa tulya nika thaniwisaya pinahasukenaris
    lwir ndyana tikang wanadri sahananya jinajah ira tanpanangsaya.
  4. baryyan masa ri sampun ing sisirakala sira mahasahas macangkrama
    wanten thanyangaran ri sima kidul i
    jalagiri mangawetan ing pura
    ramyapan papunagyan ing jagat i kala ning sawung ika mogha tanpegat
    mwang
    wewe pikatan ri candi lima lot paraparan ira tusta lalana.
  5. yan tan mangka mareng phalah marek i jong hyang acalapati bhakti sadara
    pantes yan panulus dateng ri
    balitar mwang i jimur i salahrit alengong
    mukya ng
    polaman ing dahe, kuwu ri lingga mara bangin ika lanenusi
    yan ring
    janggala lot sabha nrpati ring surabhaya manulus mare buwun.
  6. ring sakaksatisuryya sang prabhu mahas ri pajang iniring ing sanagara
    ring sakangganaryyama sira mare
    lasem shawan i tira ning pasir
    ri dwaradripanendu panglengeng ireng
    jaladhri kidul atut wanalaris
    ngkaneg
    lodaya len tetu ri sidemen jinajah ira langonya yenitung.
  7. ndan ring saka sasangkanagarai bhadrapadamasa ri tambwang ing wulan
    sang sri raja sanagaran mahassahas ri
    lumajang angitung sakendriyan
    sakweh sri yawaraja sapriya muwah tumuti haji sabhrtya wahana
    mantri tanda sa wilwatikta nguniweh wiku haji kawiraja mangdulur.
  8. ngkan teking maparab prapanca tumut anglaeng angiringi jeng nareswara
    tan len sang kawi putra sang kawi samenaka dinulur ananmateng mango
    dhramadhyaksa kasogatan sira tekap narapati sumilih ri sang yayah
    sakweh sang wiku boddha mangjuru padangatuturaken ulah nireng dangu.
  9. ndan tingkah rakawi n marek ri haji duk rarai atutur asewa tan salah
    pinrihnye hati rakwa milwa sapara narapati n amalar kasanmata
    nghing tapwan wruh apetlango pisan ingun tetesa maminta gita ring karas
    na hetunya kawarnna desa sakamarggangaran ika irinci tut hawan.
  10. tambe ning kahawan winarnna ri japan kuti kuti hana candi sak rebah
    wetan tang
    tebu, pandawadri, daluwang, babala, muwah i kanci tan madoh len tekang kuti, ratnapangkaja muwah kuti haji kuti pangkaja dulur
    panjrak, mandala len ri pongging i jingan kuwu hanyar i samipa ning hawan.
  11. prapteng dharmma ring pancasara tumuluy dateng i kapulungan sira megil
  12. ndan lampah rakawi n lumaryamegil ing waru ri hering i tirtha tan madoh
  13. angganggehnya tekap bhatara kuti ring suraya pageh mara cinarocaken nghing rakwan kaselang turung mulih amogha matutur atisambhameng mango.

Beberapa nama kota atau daerah yang dikunjungi oleh Prabu Hayam Wuruk, ada yang masih dikenal hingga kini, tetapi ada juga yang sudah hilang.

Misalnya: Janggala dan Kadiri adalah Kediri, Surabhaya (Surabaya); Waru (Waru); Polaman (Lawang?); Lumajang (Lumajang); Lasem (Lasem); Balitar (Blitar); Jaladhri Kidul (Pantai Laut Selatan, diduga Watu Ulo), adapun nama-nama lainnya yang disebut dalam Nāgarakṛtāgama boleh jadi sudah tidak dapat ditemukan di peta, atau berganti nama lain, atau memakai sebutan lain yang berbeda sama sekali. Misalnya; Pongging, sekarang adalah Kecamatan Pungging, Nångkåjajar Pasuruan.

(Pada kesempatan berikutnya, akan didongengkan Perjalanan Ki Bayuaji Menyusuri Lorong Waktu napak tilas perjalanan dinas dan kunjungan kerja Sang Prabu Hayam Wuruk 652 tahun yang lalu, tepatnya ndan ring saka sasangkanagarai bhadrapadamasa ri tambwang ing wulan di Tahun 1281Ç di Badrapada bulan terang atau bulan September 1359M.

Selanjutnya Nāgarakṛtāgama Pupuh LX (60), menceritakan:

1. ikang adarat bala peka marampak
pipikupikul nika kirnna ri wuntat
marica kasumbha kapas kalapa wwah
kalar asem pinikul saha wijyan.

[Yang berjalan rampak berarak-arak,
Barisan pikulan bejalan belakang,
Lada, kesumba, kapas, buah kelapa,
Buah pinang, asam dan wijen terpikul.]

2. i wuri tikang mamikul abwat
kapasahar epwan arimbit anuntun
kirikirik ing tengah ing kiwa benjit
pitik itik ing kisa mewed arangkik.

[Di belakangnya pemikul barang berat,
Tertatih-tatih melambat berbimbingan tangan,
Kanan menuntun kirik dan kiri genjik,
Dengan ayam itik di keranjang merunduk].

3. aasiki pikul pikulanya manghanta
kacu kacubung bung upih kamal anwam
tapi kukusan haru dang dulang uswan
lwir amurutuk saranya ginuywan.

[Jenis barang terkumpul dalam pikulan,
Buah kecubung, rebung, seludang, cempaluk,
Nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk,
Gelaknya seperti hujan panah jatuh.]

4. nrpati pareng dateng i pura warnnan
telas umulih ri dalem ira sowang
atutur i solah ulah nira ngunten
asing anukana para swa ginong twas.

[Tersebut Baginda telah masuk pura,
Semua bubar masuk ke rumah masing-masing,
Ramai bercerita tentang hal yang lalu,
Membuat gembira semua sanak kadang.]

Tiga tahun kemudian setelah Gajah Mada kembali duduk menjabat Mahapatih Amangkubumi, Gajah Mada jatuh sakit. Hal ini terjadi setelah Sri Rajasanegara pulang dari Simping pada tahun 1362, tercatat dalam Nāgarakṛtāgama Pupuh LXX (70): 3

nrpathi n-umulih sangke simping wawang dating ing pura
prihati tekap ing gring sang mantry adhimantri gajamada
rasika sahakari wrddhya ning wawawani ring dangu
ri bali ri sadeng wyakty ny antuk nikanayaken musuh.

[Ketika raja pulang dari Simping, segera datang di istana,
prihatin karena sakitnya menteri adimantra Gajah Mada,
ia telah berusaha untuk meluaskan pulau Jawa pada waktu lampau,
yaitu dengan Bali, Sadeng, bukti keberhasilannya memusnahkan musuh.]

Walau kemudian dipanggil kembali ke istana pada tahun 1359, Gajah Mada tampak sudah sangat tua. Gairah politiknya menurun. Dia lebih banyak melakukan pendekatan diri kepada Sang Hyang Pencipta.

Prasasti Singasari

Prasasti Singasari, yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah. Ditulis dengan Aksara Jawa.

Prasasti ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada. Paruh pertama prasasti ini merupakan pentarikhan tanggal yang sangat terinci, termasuk pemaparan letak benda-benda angkasa. Paruh kedua mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.

Pembangunan caitya ini diduga sebagai karya terakhir Sang Mahapatih Gajah Mada sebelum beliau mokta.

1. / 0 / ‘i śaka ; 1214 ; jyeṣṭa māsa ; ‘irika diwaśani
2. kamoktan. pāduka bhaṭāra sang lumah ring śiwa buddha /’ ; /’ swa-
3. sti śri śaka warṣatita ; 1273 ; weśaka māsa tithi pratipā-
4. da çuklapaks.a ; ha ; po ; bu ; wara ; tolu ; niri tistha graha-
5. cara ; mrga çira naks.atra ; çaçi dewata ; bâyabya man.d.ala ;
6. sobhanayoga ; çweta muhurtta ; brahmâparwweśa ; kistughna ;
7. kâran.a wrs.abharaçi ; ‘irika diwaça sang mahâmantri mûlya ; ra-
8. kryan mapatih mpu mada ; sâks.at. pran.ala kta râsika de bhat.â-
9. ra sapta prabhu ; makâdi çri tribhuwanotungga dewi mahârâ
10. ja sajaya wis.n.u wârddhani ; potra-potrikâ de pâduka bha-
11. t.âra çri krtanagara jñaneçwara bajra nâmâbhis.aka sama-
12. ngkâna twĕk. rakryan mapatih jirṇnodhara ; makirtti caitya ri
13. mahâbrâhmân.a ; śewa sogata samâñjalu ri kamokta-
14. n pâduka bhaṭâra ; muwah sang mahâwṛddha mantri linâ ri dagan
15. bhat.âra ; doning caitya de rakryan. mapatih pangabhaktya-
16. nani santana pratisantana sang parama satya ri pâda dwaya bhat.â-
17. ra ; ‘ika ta kirtti
rakryan mapatih ri yawadwipa maṇḍala /’

1. Pada tahun 1214 Ç (1292 M) pada bulan Jyestha (Mei-Juni) ketika itulah
2. sang paduka yang sudah bersatu dengan Siwa Buddha.
3. Salam Sejahtera! Pada tahun 1273 Ç (1351 M), bulan Waisaka
4. Pada hari pertama paruh terang bulan, pada hari Haryang, Pon, Rabu, wuku Tolu
5. Ketika sang bulan merupakan Dewa Utama di rumahnya dan (bumi) berada di daerah barat laut.
6. Pada yoga Sobhana, pukul Sweta, di bawah Brahma pada karana
7. Kistugna, pada rasi Taurus. Ketika sang mahamantri yang mulia. Sang
8. Rakryan Mapatih Mpu (Gajah) Mada yang beliau seolah-olah menjadi perantara
9. Tujuh Raja seperti Sri Tribhuwanotunggadewi Mahara-
10. jasa Jaya Wisnuwarddhani, semua cucu-cucu Sri Paduka
11. Almarhum Sri Kertanegara yang juga memiliki nama penobatan Jñaneswara Bajra
12. Dan juga pada saat yang sama sang Rakryan Mapatih Jirnodhara yang membangun sebuah candi pemakaman (caitya) bagi kaum
13. Brahmana yang agung dan juga para pemuja Siwa dan Buddha yang sama-sama gugur
14. Bersama Sri Paduka Bhatara (=Kertanagara) dan juga bagi para Mantri senior yang juga gugur bersama-sama dengan
15. Sri Paduka Bhatara. Alasan diabangunnya candi pemakaman ini oleh sang Rakryan Mahapatih ialah supaya berbhaktilah
16. Para keturunan dan para pembantu dekat Sri Paduka Bhatara.
17. Maka inilah bangunan Sang Rakryan Mapatih di mandala Jawadwipa.

Sang Rakryan Mapatih itu adalah Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Mpu Mada. Dialah Gajah Mada.

Berdasarkan berbagai data yang ada, baik berita dari prasasti, karya sastra, dan tinggalan arkeologis, dapat ditafsirkan adanya dua alasan Gajah Mada untuk memuliakan Krtanagara di Candi Singasari, yaitu:

1. Gajah Mada mencari acuan legitimasi untuk membuktikan Sumpah Palapanya, bahwa ia akan berupaya keras agar wilayah Nusantara mengakui kejayaan Majapahit.

Sebenarnya raja pendahulu Gajah Mada yang mempunyai wawasan politik luas dengan memperhatikan daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa adalah Krtanagara.

Raja itulah yang mengembangkan wawasan Dwipantara mandala (daerah-daerah diluar pulau [Jawa]), Krtanagaralah yang membina hubungan dengan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara daratan, wilayah Semenanjung Melayu, dan Sumatera.

Krtanagara pula yang mengirimkan tentaranya ke Malayu seraya menghadiahi penguasa Malayu dengan arca Amoghapaśa Bhairawa. Dalam kitab Pararaton peristiwa berangkatnya bala tentara Singhasari ke Malayu itu dinamakan Pamalayu.

Dengan demikian Gajah Mada seakan-akan “ngalap berkah” kepada Raja Krtanagara yang telah menjadi bhattara (hyang) bersatu dengan dewa-dewa. Gajah Madalah yang meneruskan politik pengembangan mandala hingga seluruh Dwipantara/Nusantara yang awalnya telah dirintis oleh Krtanagara, yang dikenal dengan Cakrawala Mandala Nusantara.

Prabu Kertanagaralah sang pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Ingsun Tan Ayun Amuktia Palapa, Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada yang kelak menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945.

2. Sumpah Ingsun Tan Ayun Amuktia Palapa Gajah Mada penerus gagasan Krtanagara tersebut terbukti berhasil, Majapahit Raya pernah menguasai Nusantara dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk (1351 – 1389 M).

3. Dalam masa Jawa Kuno (Singasari-Majapahit) candi atau caitya bagi pemuliaan seorang tokoh (pendharmaan), selalu dibangun oleh kaum kerabat atau keturunan langsung tokoh tersebut.

Banyak candi pendharmaan yang didirikan oleh anak-cucu sang tokoh, misalnya Candi Jago (Jajaghu) yang pernah dibangun dalam masa Singasari untuk raja Wisnuwarddhana diperbaiki kembali oleh Mpu Aditya (Adityawarman) dalam masa Majapahit tahun 1265 Ç/1343 M, Candi Sumberjati bagi Raden Wijaya dibangun sekitar tahun 1321 M dalam masa pemerintahan Jayanagara, dan Candi Bhayalango pendharmaan bagi Rajapatni Gayatri dibangun oleh cucunya, yaitu Hayam Wuruk sekitar tahun 1362 M.

Demikianlah berdasarkan data itu dapat ditafsirkan bahwa sangat mungkin Gajah Mada masih keturunan dari raja Krtanagara! Setidaknya Gajah Mada masih mempunyai hubungan darah dengan Krtanagara. Paling tidak mereka terikat dalam satu ide Nusantara Raya.

Oleh karena itu, Gajah Mada mempunyai perhatian khusus kepada raja itu yang memang leluhurnya. Selanjutnya dapatlah dipahami mengapa Gajah Mada sangat menghormati Raja Krtanagara, karena raja itu tidak lain eyangnya sendiri, hanya keturunannya sajalah yang dengan senang hati membangun caitya bagi diri sang raja.

Krtanagara mungkin sangat menginspirasi Gajah Mada, terutama dalam hal pengembangan konsepsi Dwipantara mandala yang mendorong Gajah Mada mencetuskan Sumpah Palapanya.

Bagi Gajah Mada, tokoh Krtanagara adalah raja besar yang patut dijadikan teladan, layak mendapat pemujaan dan pemuliaan walaupun dia telah tiada.
Demi untuk mengenang kebesaran leluhurnya lalu didirikan caitya atau Candi Singasari sekarang.

Di Madakaripura, tempat asri yang sangat indah dan sejuk, Gajah Mada menghabiskan akhir-akhir hidupnya. Kekecewaan batinnya mempengaruhi fisik lahiriahnya.
Sebagai manusia biasa Gajah Mada tidak dapat menolak takdir. Tahun ke tahun kesehatannya semakin menurun.

Tahun 1362 diberitakan Gajah Mada sudah sulit melakukan aktifitas hariannya. Dia banyak berada di pasanggrahannya dan memberikan kekaguman setiap insani ditemani istri setianya Ken Bebed.

ånå tjandhaké

Nuwun

cantrik bayuaji
diwedar oleh: punåkawan bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Telah Terbit on 25 Juni 2011 at 09:19  Comments (6)  

6 Komentar

  1. kok surya majapahit 1 isinya bagian 2 juga ??

    • lho….?!
      sepertinya gak tu?
      he he he …, link-nya lom di edit
      dah beres.

  2. Seri Surya Majapahit – Bagian Pertama

    yg ini nih isinya sama ajja dgn

    Seri Surya Majapahit – Bagian Kedua
    hi hi 😛

    • hadu…..
      yang ini linknya juga belum diedit rupanya
      maaf bu lik
      tetapi beda kok, surya majapahit 1 wedaran 1-19, sedang surya majapahit 2 wedaran 20-35
      link-nya, besok saja diperbaiki
      sekarang sudah teklak-tekluk, ngantuk

      kalau mau lihat sinya, yang diklik jangan daftar isinya, tetapi deretan halaman di bawah

      he he he ….

      • he he he
        sekalian buka komputer, sekalian saya edit link-nya, meskipun sambil terkantuk-kantuk
        sudah beres Nyi Dewi

  3. om, wedaran ke 47, 48 dan 49 kok isinya sama, padahal di daftar isi judulnya beda. tolong diperbaiki ya…

    kesalahan tautan sudah diperbaiki
    terima kasih atas informasinya


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: