Seri Surya Majapahit – Bagian kedua

WAOSAN KA-33

On 28 Juni 2011 at 04:09 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun
Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
SURYA MAJAPAHIT

Waosan sebelumnya:
Waosan kaping-32; Napak Tilas Perjalanan Prabu Hayam Wuruk [Bagian 2]. On 13 Juni 2011 at 06:09 NSSI 20

Waosan kaping 33:
PERANG BUBAT [Parwa ka-1]

guruh mangså katigå,
peristiwa yang jarang terjadi
kagyat sang nåtå dadi atěmah laywan
sangsåyå lårå kagagat,
pětěng rasanikang ati,
kapati sirå sang katong,
kang tangis mangkin gumirih,
lwir guruh ing katrini,
matag paněděng ing santun,
awor swaraning kumbang,
tangising wong lanang istri,
arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar.

Lintang Kêmukus Dini Hari September 1965
—Judul mengutip dari Buku Kedua Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Lintang Kêmukus Dinihari Oleh Ahmad Tohari.—

Menjelang Akhir Tahun 1965, dengan kepedihan yang amat sangat kita pernah mengalami mångså karo (puså). Katigå – mångså pacêklik. Kemarau yang menurut pranåtåmångså seharusnya perlahan sudah usai, tapi sepertinya tak akan pernah berakhir. Panas ngênthak-ngênthak.

Tak ada lagi genangan air. Kali-kali asat dan telaga telah mengering. Sumber mata air tinggal lêndhut amparan lumpur. Lêmah-lêmah nêlå. Semua gundul ora biså tukul.

Patêgalan, sawah, lêmah årå-årå åmbå, penuh alang-alang kering, garing mêkingking; gersang berwarna kelabu.

Segala jenis rumput, mati. Yang ada di sana-sini hanyalah krokot dan êri brodhot yang tumbuh hidup segan mati tak mau. Ampak-ampak beterbangan dihembus angin yang juga kering. Udara begitu pengab dan gerah.

Bantålå rêngkå ([Bantålå = bumi atau tanah; rêngkå = pecah, retak, kering, berbongkah-bongkah] bumi kering kerontang, berbongkah-bongkah); kemudian datang mångså katêlu (Manggasri), hampir tak ada bedanya dengan mångså sebelumnya.

Pada tengah bulan September hingga Oktober 1965; yang dalam pranåtåmångså dikenal sebagai mångså kapat (Sitrå). Sêmplah. “Waspå kumêmbêng jroning kalbu” [Air mata menggenang dalam kalbu]. Dengan pertanda alam: sumber kathah ingkang mampêt, anginipun dipun sêbut påncåwarnå têgêsipun lampahipun molah-malih, kawontênan mêgå awon.
Musim pancaroba. Banyak penyakit.

Diharapkan hujan segera turun, sehingga mata air (waspå) mulai menggenang penuh (kumêmbêng) dalam tanah (kalbu), tapi yang diharapkan tidak kunjung tiba.

Justru banyak orang menahan tangis karena kemarau panjang, makanan susah didapat, karena langka di pasaran, meskipun punya uang.

Banyak warga masyarakat makan bulgur, tapi lebih banyak lagi yang kelaparan dan bulgur menjadi pilihan yang tidak menyenangkan, daripada kelaparan.

– Bulgur adalah serealia dari berbagai spesies gandum. Namun yang paling banyak dari gandum durum (Triticum durum) Kata bulgur berasal dari bahasa Turki, yang kemudian diadopsi oleh bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia. Di Yunani, bulgur disebut pourgouri, di Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi burghul (bahasa Arab).

Bulgur itu “ampas” dari pengolahan biji gandum. Di Timur Tengah (Turki, Suriah, dan daerah sekitarnya) bulgur memang jadi menu utama sehari-hari. Masaknya persis cara kita ngliwêt nasi.

Bulgur masuk ke Indonesia sebagai bantuan AS (lewat USAid) untuk menanggulangi kemiskinan di Indonesia menjelang dan pasca dijatuhkannya Pemerintahan Bung Karno (1965, 1966).
Kenapa bulgur?

Rupanya Marshall Green (Duta Besar AS untuk Indonesia, di masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru); salah mengartikan dengan menyamakan nasi dengan bulgur. Program ‘bulgurisasi’ ini gagal total karena lidah Indonesia menolaknya.

Bentuk fisiknya yang menjijikkan kuning coklat kehitaman, mirip makanan kuda, dan memang sebagian rakyat lalu menggunakan bantuan itu untuk makanan ternak atau ditukar sama beras).

Rakyat rupanya lebih memilih nasi jagung daripada bulgur. “Makan Bulgur” kemudian menjadi ejekan buat kemiskinan yang keterlaluan sehingga untuk makan saja harus berebut sama ternak –

Beras, gula, minyak goreng, minyak tanah, dan bahan pokok lainnya harus dibeli melalui antrian. Jika ada barangnya, dan jika punya uang, itupun kalau bisa terbeli; tapi hampir setiap hari ada pawai: PNI, PKI, NU, Sukarelawan, Sukarelawati, Resimen Mahasiswa dll, dalam rangka Ganyang Malaysia.

Poster-poster, spaduk yang terbuat dari bagor dan coretan-coretan ‘revolusioner’ bertebaran di dinding-dinding tembok pagar. “Hidup PBR Bung Karno”; “Hidup Nasakom”; “Ganyang Neo Kolonialisme Imperialisme Malaysia”; dll.

RRI tak berani memperdengarkan lagu-lagu Koes Bersaudara, karena dilarang pemerintah, dan kelompok pemain musik Koes Bersaudara itu dipenjara tanpa proses hukum di Penjara Glodok (sekarang menjadi pertokoan sekitar Harco, Glodok).

Mereka dituduh bersalah karena selalu memainkan lagu-lagu The Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Sebuah tuduhan tanpa dasar hukum dan cenderung mengada ada, mereka dianggap memainkan musik “ngak ngik ngok” istilah penguasa saat itu, musik yang cenderung imperialisme pro barat. Sehari sebelum peristiwa 30 September 1965, mereka dibebaskan begitu saja.

Radio pemerintah itu setiap hari hanya menyiarkan lagu-lagu ‘perjuangan’ Ganyang Malaysia. Lagu Genjer-genjer dan Nasakom Bersatu berkumandang di mana-mana. sedangkan lagu-lagu hiburan terbatas pada lagu-lagu Lilies Suryani, dan Tety Kadi saja.

Ketika itulah beredar kabar, bahwa di langit timur ada lintang kêmukus. Masyarakat Jawa, sangat yakin, kemunculan lintang kêmukus atau komet di tengah situasi sosial politik yang demikian mencekam, sontak membuat banyak orang mengamini suatu konsepsi bahwa: lintang kêmukus adalah benda langit pertanda akan datangnya bencana.

Lintang kêmukus adalah pertanda dari langit, bahwa sebentar lagi akan ada “pagêblug” (wabah penyakit) yang mematikan. Orang ketakutan. Meski demikian, banyak orang bangun sekitar pukul 04.00 dini hari, lalu naik ke atas daaran atau atap rumah yang lebih tinggi, agar bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri, benarkah ada lintang kêmukus di langit timur sana?

Adalah dua astronom amatir Jepang, Kaoru Ikeya dan Tsutomu Seki, telah menemukan sebuah komet baru pada tanggal 18 September 1965, secara terpisah, dengan waktu penemuan hanya berselisih 15 menit.

Untuk mengenang jasanya, komet baru ini diberi nama Ikeya-Seki, dengan nomor kode C/1965 S1, 1965 VIII, dan 1965f. Rangkaian observasi kemudian menyimpulkan komet Ikeya-Seki merupakan komet pelintas dekat Matahari (sungrazer atau sundiving). Diduga setiap 600 atau 700 tahun sekali “mengunjungi” bumi.

– Ikeya-Seki merupakan anggota utama keluarga komet Kreutz. Komet-komet dari keluarga komet Kreutz inilah yang berpartisipasi dalam badai komet Desember 2010 yang lalu. Komet-komet Kreutz kemungkinan besar berasal dari sebuah komet sangat besar (dengan diameter inti ~100 km atau lebih dari dua kali lipat diameter inti komet legendaris Hale–Bopp) yang menempuh orbit sangat lonjong (eksentrisitas ~ 0,99) dengan periode 600 – 700 tahun.

± pada tahun 400an SM, Aristoteles, Ephorus dari Cymea dan sejarawan Callisthenes dari Olynthus. turut menjadi saksi munculnya komet ini, namun yang mengejutkan tak satupun peradaban di luar Yunani — misalnya Cina atau Mesir — yang mencatatnya. Saat itu komet terlihat sangat cemerlang dengan ekor sangat panjang memenuhi langit.

Berselang beberapa waktu kemudian terjadilah gempa besar Achaea yang menghancur-leburkan kota Helice dan Buris. Inilah yang kelak di kemudian hari membuat Aristoteles menabalkan komet sebagai benda langit pembawa berita buruk, sebuah miskonsepsi yang terus bertahan hingga kini. –

Berita kehadiran lintang kêmukus dini hari ini disiarkan radio, dan dimuat di koran-koran. Namun di kampung saya, tak mengenal istilah komet.

Sebagaimana Aristoteles yang menabalkan komet sebagai benda langit pembawa berita buruk; maka warga ndésaku hanya tahu bahwa yang ada di langit adalah lintang kêmukus pertanda akan datangnya pagêblug.

Kemunculan komet Ikeya-Seki pada tahun 1965 itu memiliki kesan tersendiri dalam sejarah kelam perjalanan bangsa kita, terjadinya pemberontakan berdarah di akhir masa berkuasanya Orde Lama; tetapi hal itu sebenarnya tak ada keterkaitan antara komet Ikeya-Seki dan peristiwa berdarah 1965-1966 tersebut, kesamaan waktu keduanya hanyalah kebetulan semata, tetapi penduduk tidak mempercayainya.

Lha wong nyatané ånå ontran-ontran lan pagêblug. Akèh wong sing dibêlèh” [Lha nyatanya ada huru-hara dan bencana, Banyak orang yang disembelih” Demikian Êyang Kyai Guru Anom, pak modin dusun berujar.

Beberapa bulan di Akhir Tahun 1965 dan di Awal Tahun 1966, lintang kêmukus itu menampakkan dirinya di langit timur menjelang Shubuh, pada waktu-waktu itu semua kepala keluarga seantero padusunan, diminta berkumpul di pendapa rumah Pak Kalèbun (Kepala Dusun setingkat Kepala Desa).

Pak Kalèbun berpesan, agar seluruh warga padusunan, harus bergotong-royong memasak sêgå gurih, lengkap dengan ingkung ayam bumbu arèh, ditambah sambal goreng ati, dan pada hari yang sudah ditetapkan, sêgå gurih, ingkung bumbu arèh dan sambal goreng ati dibawa di halaman depan langgar samping pendapa padusunan.

Seluruh warga masyarakat patuh pada arahan Pak Kalèbun. Mereka berupaya mendapatkan uang guna membeli beras, yang harganya mencapai Rp 20.000 per kg. uang lama [kurs: Rp. 1.000,00 (uang lama) = Rp. 1,00 (uang baru)]

Kebanyakan warga masyarakat hanya mampu menyiapkan sekedarnya saja, dan ingkung ayam adalah sumbangan Pak Kalèbun tiga ekor dan sumbangan Êyang Kyai Guru, lima ekor ayam kampung.

Setelah semua siap, selepas sholat Maghrib, menu istimewa yang disiapkan di halaman depan langgar samping pendapa padusunan dibawa lagi ke perempatan jalan di tengah padusunan. Di situlah tikar digelar, Pak Kalèbun memberi kata sambutan, dan Pak Modin memanjatkan dongå agar warga padusunan terhindar dari pagêblug dan mara bahaya.

Lintang kêmukus dini hari, dan Waspå kang kumêmbêng jroning kalbu, saat hati sêmplah. Air mata yang menggenang dalam kalbu, pada akhirnya jatuh dalam bentuk tangis kepedihan.
Tanggal 01 Oktober 1965 dini hari di Lubang Buaya Jakarta Timur, meletus peristiwa yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September.

Pasukan tentara tampak di mana-mana. Banyak warga masyarakat hilang atau dihilangkan. Istilah yang populer waktu itu adalah “diciduk” atau “diamankan”.

Tidak hanya airmata yang tumpah, tetapi juga darah, dan hati yang semakin sêmplah. “Perang Saudara”. Menyusul pembunuhan dan pembantaian masal terhadap para anggota PKI, dan simpatisannya (BTI, Lekra, Gerwani, Pemuda Rakyat dll), dan darah tumpah dimana-mana, di sudut-sudut jalan bahkan di tengah alun-alun kota kabupaten dengan mudah kita dapat temui jasad manusia yang sudah tidak utuh lagi. Demikian juga sungai yang mengalir di tengah kota, beberapa bagian dari jasad manusia timbul tenggelam dibawa arus air.

Pembantaian orang-orang “kiri”, orang-orang komunis, orang-orang yang dituduh terlibat peristiwa pemberontakan 30 September. Di Akhir 1965 hingga menjelang akhir tahun 1966, suasana sangat mencekam.

Alhamdulillah, di dusunku tidak ada satupun warga padusunanku yang “diglandang”; bagaimana mungkin, lha wong warga padusunan itu sebagian besar adalah petani dan nelayan, dan beberapa pedagang hasil bumi, yang buta sama sekali tentang politik dan tidak mau tahu urusan politik, sungsang njêmpalik golèk sandang pangan saja sudah rêkåså abot bangêt, berusaha mencukup-cukupkan, meskipun hasilnya akan tidak dapat mencukupi.

Namun dalam suasana diam yang tegang, tetapi kalut dan ketakutan yang amat sangat, para lelaki dewasa dan pemuda-pemuda warga padusunan, dengan berbekal “jimat rapalan” dari Êyang Kyai Guru Sêpuh, sêsêpuh padusunan; setiap hari siang dan malam bergantian berjaga-jaga di perbatasan sekeliling padusunan.

Selama itulah lintang kêmukus menampakkan dirinya menjelang Shubuh dini hari di ufuk timur, sejak September 1965 dan perlahan mengakhiri “kunjungannya” di akhir Januari 1966; dengan meninggalkan malapetaka bagi anak bangsa.

— Êyang Kyai Guru Sêpuh adalah cikal-bakal penduduk padusunan, sedangkan Êyang Kyai Guru Anom adalah putranya. Pada waktu perisitiwa Gerakan 30 September 1965 Êyang Sêpuh berusia ± 75 tahun [beliau wafat pada tahun 2000 yang lalu]; sedangkan Êyang Anom, pada waktu itu berusia ± 50 tahun, kini berusia ± 96 tahun, beliau masih segar bugar, dengan daya ingat yang masih tajam dan cemerlang, tapi sudah tidak kuat berdiri lama-lama –

Mada Jiwana Pita

Mada, Jiwana Pita adalah judul sebuah sandiwara radio yang mengisahkan kisah cinta Jiwana Calon Raja Majapahit dan Putri Sunda yang berujung pada pembantaian dan pertumpahan darah, di lapangan Bubat. Mada adalah Mahapatih Gajah Mada,

Jiwana adalah nama abhiseka Hayam Wuruk ketika masih remaja, dan Pita adalah putri Kerajaan Pasundan Galuh Dyah Ayu Pitaloka.
Sandiwara radio itu diudarakan di salah satu studio radio di Jawa Timur, bertepatan dengan huru-hara dan perang saudara, ketika negara sedang kisruh, ketika terjadi peristiwa pembunuhan dan pembantaian massal orang-orang PKI dan yang dituduh simpatisannya, di jelang akhir tahun 1965 hingga akhir tahun 1966, seperti yang diceritakan di atas.

Sandiwara Mada Jiwana Pita menceritakan peperangan di Lapangan Bubat yang diduga terjadi pada tahun 1360M, semasa pemerintahan Hayam Wuruk. 600 tahun sejak kemunculan terakhir lintang kêmukus dini hari September 1965.

Sedangkan lintang kêmukus yang sama diduga setiap 600 – 700 tahun sekali “mengunjungi” bumi.
Adakah ini suatu kebetulan belaka? Adakah sanak kadang percaya tentang hal ini?

Demikian sandiwara itu mengakhiri kisahnya dengan tembang:

sangsåyå lårå kagagat,
pětěng rasanikang ati,
kapati sirå sang katong,
kang tangis mangkin gumirih,
lwir guruh ing katrini,
matag paněděng ing santun,
awor swaraning kumbang,
tangising wong lanang istri,
arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar.

Semakin lama semakin sakit rasa penderitaannya.
Hatinya terasa gelap,
beliau sang Raja semakin merana
tangisnya semakin keras,
bagaikan guruh di bulan ketiga,
yang membuka kelopak bunga untuk mekar,
bercampur dengan suara kumbang.
begitulah tangis para pria dan wanita,
rambut-rambut yang lepas terurai bagaikan kabut.
Bulan Ketiga yang masih merupakan musim kemarau. Jadi suara guruh pada bulan ini merupakan suatu hal yang tidak lazim.

ånå toétoégé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Telah Terbit on 25 Juni 2011 at 09:19  Comments (6)  

6 Komentar

  1. kok surya majapahit 1 isinya bagian 2 juga ??

    • lho….?!
      sepertinya gak tu?
      he he he …, link-nya lom di edit
      dah beres.

  2. Seri Surya Majapahit – Bagian Pertama

    yg ini nih isinya sama ajja dgn

    Seri Surya Majapahit – Bagian Kedua
    hi hi 😛

    • hadu…..
      yang ini linknya juga belum diedit rupanya
      maaf bu lik
      tetapi beda kok, surya majapahit 1 wedaran 1-19, sedang surya majapahit 2 wedaran 20-35
      link-nya, besok saja diperbaiki
      sekarang sudah teklak-tekluk, ngantuk

      kalau mau lihat sinya, yang diklik jangan daftar isinya, tetapi deretan halaman di bawah

      he he he ….

      • he he he
        sekalian buka komputer, sekalian saya edit link-nya, meskipun sambil terkantuk-kantuk
        sudah beres Nyi Dewi

  3. om, wedaran ke 47, 48 dan 49 kok isinya sama, padahal di daftar isi judulnya beda. tolong diperbaiki ya…

    kesalahan tautan sudah diperbaiki
    terima kasih atas informasinya


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: