Seri Surya Majapahit – Bagian kedua

WAOSAN KA-34

On 29 Juni 2011 at 19:56 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun
Wilujêng wêngi

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
SURYA MAJAPAHIT

Waosan sebelumnya:
Waosan kaping-33; Perang Bubat [Parwa ka-1] On 28 Juni 2011 at 04:09 NSSI 25

Waosan kaping 34:
PERANG BUBAT [Parwa ka-2]

Perang Bubat adalah perang yang diduga pernah terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada.

Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Lingabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M.

Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini terutama adalah Kidung Sundayana dan Kidung Sunda yang berasal dari Bali.

“Perang Bubat” ini mengambil asumsi perang itu pernah terjadi. Perang yang merupakan lembaran hitam dari sejarah kebesaran Majapahit. Perang yang merupakan lembaran hitam juga bagi karir politik mahapatih Gajah Mada. Perang yang akhirnya memaksa Gajah Mada turun dari kedudukannya sebagai mahapatih Majapahit.

Sumber adanya perang Bubat diperoleh dari buku Pararaton, sebuah karya sastra yang berisi cerita peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit.

Buku lain yang juga banyak menceritakan peristiwa sejarah pada masa yang sama, yaitu Pujasastra Nāgarakṛtāgama, tidak sekali pun menyebutkan adanya peristiwa perang Bubat ini.

Dua puluh tahun sejak Gajah Mada mengikrarkan sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa yang terkenal itu. Majapahit telah menjelma menjadi kerajaan besar yang menguasai Nusantara dan perairannya.

Dengan armada lautnya yang sangat besar, yang dipimpin oleh Senapati Sarwajala Nala, Gajah Mada telah berhasil mewujudkan cita-citanya mengajak kerajaan-kerajaan di Nusantara bersatu di bawah kekuasan Majapahit.

Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara bersatu, salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tartar yang hendak memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan.

Wilayah Nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut Nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah Nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tartar.

Dari mulai Tumasek (Singapura), Tanjungpura, Bali, Dompo, hingga Seram seluruh penguasanya menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit.

Tetapi di kala semua kerajaan yang letaknya relatif jauh sudah menyatakan tunduk, ada dua kerajaan yang sangat dekat bahkan seperti di halaman rumah sendiri, belum menyatakan tunduk.

Dua kerajaan tersebut adalah Sunda Galuh yang berpusat di Galuh (sekarang berada di sekitar Ciamis — Situs Astana Gede Kawali terletak di Dusun Indrayasa Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis 7° 11’ 16“ LS dan 108° 22’ 18“ BT — ), dan Sunda Pakuan ( — 6° 36’ 35“ LS dan 106° 48’ 53“ BT yang terletak lebih ke arah barat, di Kota Bogor sekarang –).

Sebagai sebuah kerajaan yang sudah sangat kuat pada saat itu maka Majapahit dapat saja menundukkan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran), namun Sang Mapatih lebih memilih menghindari kekerasan dan pertumpahan darah Kerajaan Sunda Galuh saat itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama prabu Lingga Buana.

Di sebelah timur, wilayah Sunda Galuh berbatasan langsung dengan wilayah Majapahit di sepanjang sungai Pamali (sekarang bagian dari Kali Brebes, titik perbatasan: 6° 52’ 14“ LS dan 109° 02’ 02“ BT).

Sedangkan di sebelah barat, wilayah Sunda Galuh berbatasan langsung dengan wilayah Sunda Pakuan di sepanjang sungai Citarum (DAS Citarum, pada titik perbatasan: 6° 59’ 05“ LS dan 107° 35’ 35“ BT ).

Pandangan Gajah Mada untuk sesegera mungkin menyatukan kedua kerajaan Sunda tersebut ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit, bertentangan dengan pandangan kalangan istana.

Baik ibu suri Tribhuana Tunggadewi maupun Dyah Wyah berpendapat bahwa kerajaan Sunda adalah kerabat sendiri, karena apabila dilihat dari silsilah keluarganya, salah satu leluhurnya berasal dari bangsawan Sunda. Sementara sikap prabu Hayam Wuruk sendiri terlihat lebih mendukung kedua ibu suri tersebut daripada Gajah Mada.

Seiring dengan perjalanan waktu, Jiwana Sang Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara (Raden Tetep) telah beranjak dewasa. Pada suatu waktu tibalah saatnya bagi prabu Hayam Wuruk untuk mencari seorang permaisuri yang akan mendampingi dirinya.

Maka dikirimlah beberapa juru gambar untuk melukis putri-putri yang cantik dari kalangan kerajaan bawahan maupun kerajaan tetangga untuk kemudian diperlihatkan kepada sang prabu.

Dengan harapan apabila ada salah satu gambar yang berkenan di hati sang prabu, maka tibalah saatnya bagi sang prabu untuk menjatuhkan pilihannya kepada putri yang beruntung tersebut.

Sudah sekian banyak juru gambar yang kembali membawa lukisannya, namun sang prabu Hayam Wuruk masih belum berkenan menjatuhkan pilihannya.

Sampai tibalah saatnya dikirim juru gambar ke kerajaan Sunda Galuh untuk menggambar putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang kabar kecantikannya sudah terkenal ke mana-mana.

Sementara itu, Gajah Mada melihat adanya kesempatan untuk membawa kepentingannya sendiri ke dalam utusan juru gambar Majapahit ke Sunda Galuh.

Kemudian Gajah Mada menyusupkan beberapa orang bawahannya untuk pergi bersama-sama ke kerajaan Sunda Galuh menyampaikan maksud Gajah Mada agar kerajaan Sunda Galuh segera menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit.

Sekembalinya utusan tersebut, prabu Hayam Wuruk ternyata berkenan dengan kecantikan putri Dyah Pitaloka dan berniat menjadikannya sebagai permaisuri.

Maka diberangkatkan rombongan utusan kedua yang membawa berbagai macam keperluan untuk meminang putri tersebut sekaligus membicarakan kapan dan di mana pesta perkawinan antara raja dan putri akan dilangsungkan.

Akhirnya disepakati bersama bahwa raja Lingga Buana, permaisuri, dan beberapa bangsawan istana akan berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan putri Dyah Pitaloka sekaligus melangsungkan acara pesta perkawinan di ibu kota Majapahit.

Maka pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah prabu Lingga Buana beserta rombongan ke Majapahit. Tidak terlalu banyak pasukan yang mengiringi mereka mengingat maksud dan tujuan sang prabu ke Majapahit adalah untuk menikahkan putrinya, Dyah Pitaloka.

Perjalanan jauh mereka tempuh dari Galuh (Ciamis) menuju ke ibu kota Majapahit (Trowulan). Sesampainya rombongan tersebut di lapangan Bubat, tanpa terduga rombongan tersebut dicegat oleh utusan Gajah Mada yang menyampaikan maksud Gajah Mada agar putri Dyah Pitaloka diserahkan ke kerajaan Majapahit sebagai persembahan, tanda bahwa Sunda Galuh tunduk dibawah kekuasaan Majapahit.

Namun rombongan sunda bersikeras agar Raja Majapahit harus turun sendiri menjemput pengantin dan rombongannya di daerah tersebut.

Sang Mapatih dihadapkan pada dilema, baik menerima maupun menolak persyaratan itu sama-sama akan membahayakan jalinan persatuan Nusantara yang sudah dengan susah payah dibangunnya sebelum ini.

Sebuah persatuan yang pada masa itu dapat dipertahankan diatas wibawa Sang Penguasa Kerajaan Majapahit. Para raja lain dibawah kekuasaan Majapahit akan membaca peristiwa tersebut sebagai isyarat melemahnya kerajaan besar tersebut oleh kepemimpinan Sang Raja yang masih muda itu.

Ini berarti akan berkobarnya kembali perang karena pemberontakan dari kerajaan-kerajaan dibawah Majapahit. Akhirnya perang mulut tak dapat dihindari, keduabelah pihak sama sama mempertahankan pendiriannya masing masing dan tidak mau mengalah.

Prabu Lingga Buana merasa harga dirinya terinjak-injak dengan perlakuan Gajah Mada tersebut, namun sebagai seorang pemimpim yang arif sang prabu tidak bertindak gegabah untuk dengan serta merta mengadakan perlawanan di tempat.

Namun kearifan hati sang prabu tidak diikuti oleh segenap anak buahnya. Dalam situasi demikian, setiap orang yang berada dalam rombongan tersebut pasti merasa marah dan dilecehkan. Satu lesatan anak panah, entah terlepas dari busur siapa melaju menerjang utusan Gajah Mada tersebut hingga ambruk. Suasana pun menjadi tidak terkendali.

Perang pun tidak terlelakkan lagi terjadi di lapangan Bubat. Rombongan pasukan Sunda Galuh yang tidak siap berperang terpaksa harus menghunus pedang dan merentangkan gendewa menghadapi pasukan Majapahit yang juga sebenarnya tidak siap untuk berperang.

Kalah jumlah dan berada dalam lokasi yang salah akhirnya seluruh anggota rombongan pasukan Sunda Galuh pun gugur di lapangan Bubat, termasuk prabu Lingga Buana dan permaisurinya.

Putri Dyah Pitaloka pun akhirnya bunuh diri. Akibat dari peristiwa tersebut prabu Hayam Wuruk akhirnya mencopot jabatan Gajah Mada dari mahapatih Majapahit yang selama ini disandangnya.

Gajah Mada memiliki kekuasaan yang sangat besar, bahkan melebihi kekuasaan sang prabu sendiri. Boleh dikata jalannya roda pemerintahan berada di bawah kendali Gajah Mada.

Sedangkan sang prabu hanya duduk manis di atas dampar dan menerima laporan dan hasilnya saja. Langkah pencopotan Gajah Mada tentunya bisa menimbulkan gejolak politik yang sangat besar yang bahkan bisa menimbulkan adanya perang.

Perang saudara antara prajurit Majapahit yang mendukung dan menentang Gajah Mada hampir terjadi setelah peristiwa Bubat. Penentang Gajah Mada berasal dari orang-orang yang marah akibat kehendak rajanya untuk segera memiliki permaisuri gagal, bahkan calon permaisuri – putri Sunda Galuh dan keluarganya – beserta seluruh pengiringnya melakukan bunuh diri di lapangan Bubat.

Sedangkan pendukung Gajah Mada kebanyakan berasal dari pasukan dan orang-orang yang selama ini dengan setia berada di belakangnya.

Gajah Mada sendiri memandang peristiwa Bubat bukanlah kesalahan dirinya, dan bukan pula kesalahan Majapahit. Gajah Mada mengungkapkan bahwa selama ini sikap dan pandangan Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan lain yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara sudah jelas.

Majapahit menempatkan diri sebagai pemimpin dan pengayom wilayah Nusantara, dan kerajaan lain harus satu kata dengan Majapahit. Dengan kata lain kerajaan-kerajaan lain harus tunduk kepada Majapahit.

Sikap Majapahit tersebut tidak boleh dibeda-bedakan, pun terhadap dua kerajaan Sunda yang letaknya di sebelah barat pulau Jawa. Pandangan Gajah Mada yang demikian tidak sejalan dengan sang prabu dan keluarganya.

Gajah Mada lebih memandang tunduknya dua kerajaan Sunda di wilayah barat tersebut mesti diberlakukan sama dengan tunduknya kerajaan-kerajaan lain, kalau perlu dengan kekuatan militer. Sedangkan sang prabu dan keluarga lebih memilih jalan damai.

Jalan damai tersebut salah satunya adalah dengan berbesanan dengan keluarga kerajaan Sunda Galuh. Alasan Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara bersatu salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tartar yang hendak memperlebar wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan.

Wilayah Nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut Nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah Nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tartar.

Pandangan keras Gajah Mada berujung pada kesalahan pengelolaan keadaan sehingga terjadi perang Bubat. Raja Sunda Galuh dan seluruh pengiringnya tewas dibantai di lapangan Bubat, termasuk calon permaisuri sang prabu.

Gajah Mada yang kemudian dicopot dari jabatan mahapatih menjadi orang biasa, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di sebuah tempat untuk bertapa dan mawas diri. Tempat pertapaan Gajah Mada tersebut terkenal dengan sebutan Madakaripura.

Peristiwa Bubat tidak menyebabkan kerajaan Sunda Galuh merasa perlu untuk membangun kekuatan militer dan menyerang kerajaan Majapahit. Orang-orang Sunda Galuh cinta damai. Walaupun demikian, secara individu beberapa orang yang setia kepada raja Sunda Galuh yang terbantai di lapangan Bubat, memutuskan untuk membalas dendam secara sembunyi-sembunyi.

Mereka kemudian membentuk satu kelompok penari yang diberangkatkan ke Majapahit dengan sasaran bidik yang sudah jelas, yaitu Gajah Mada.

Gerakan senyap dan samar yang dilakukan orang-orang Sunda ini langsung menusuk ke lingkungan istana Majapahit. Persiapan yang sangat matang dan teliti adalah kunci keberhasilan gerakan tersebut.

Pagelaran tari-tarian pun diselenggarakan di dekat pusat arena berkumpulnya prajurit Majapahit, dengan tujuan untuk mempengaruhi beberapa prajurit Majapahit pilihan, dan mengubahnya untuk dijadikan pelaksana lapangan yang nantinya akan memburu Gajah Mada.

Kecantikan dan gemulainya gerakan penari Sunda adalah senjata utama mereka. Tujuan tersebut hampir berhasil mereka capai. Seorang prajurit pilihan Majapahit berpangkat lurah, yang dulunya menjadi pengawal setia Gajah Mada, yang juga pemimpin prajurit pelindung istana kepatihan akhirnya masuk perangkap namun Gajah Mada tidak berhasil mereka singkirkan.

ånå toétoégé
Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Telah Terbit on 25 Juni 2011 at 09:19  Comments (6)  

6 Komentar

  1. kok surya majapahit 1 isinya bagian 2 juga ??

    • lho….?!
      sepertinya gak tu?
      he he he …, link-nya lom di edit
      dah beres.

  2. Seri Surya Majapahit – Bagian Pertama

    yg ini nih isinya sama ajja dgn

    Seri Surya Majapahit – Bagian Kedua
    hi hi 😛

    • hadu…..
      yang ini linknya juga belum diedit rupanya
      maaf bu lik
      tetapi beda kok, surya majapahit 1 wedaran 1-19, sedang surya majapahit 2 wedaran 20-35
      link-nya, besok saja diperbaiki
      sekarang sudah teklak-tekluk, ngantuk

      kalau mau lihat sinya, yang diklik jangan daftar isinya, tetapi deretan halaman di bawah

      he he he ….

      • he he he
        sekalian buka komputer, sekalian saya edit link-nya, meskipun sambil terkantuk-kantuk
        sudah beres Nyi Dewi

  3. om, wedaran ke 47, 48 dan 49 kok isinya sama, padahal di daftar isi judulnya beda. tolong diperbaiki ya…

    kesalahan tautan sudah diperbaiki
    terima kasih atas informasinya


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: