Seri Surya Majapahit – Bagian kedua

WAOSAN KA-44

  1. On 16 Agustus 2011 at 01:10 cantrik bayuaji said:

    Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-43. Gajah Mada. (Parwa ka-8) . Siapa Gajah Mada. Bagian ke-2 On 15 Agustus 2011 at 06:33 JdBK 11

    Waosan kaping-44:
    GAJAH MADA [Parwa ka-9]

    SIAPA GAJAH MADA? [Bagian ke-3]

    4. Gajah Mada lahir di Desa Modo Kabupaten Lamongan

    Gajah Mada diduga lahir di Desa Modo yang termasuk Kabupaten Lamongan. Buktinya, di tempat itu ada petilasan yang dipercaya sebagai tempat kelahiran sang Mahapatih Amangkubumi.

    Sejumlah cerita rakyat yang umum dikisahkan di wilayah pedalaman Lamongan mengenai keberadaan patih yang terkenal dengan Sumpah Palapanya tersebut di Lamongan. Cerita rakyat itu menuturkan bahwa Gajah Mada adalah anak kelahiran Desa Mada (sekarang Kecamatan Modo/Lamongan). Di era Kerajaan Majapahit, wilayah Lamongan bernama Pamotan.

    Berbagai cerita rakyat “versi Lamongan” tentang lahirnya Gajah Mada:

    Gajah Mada adalah anak Raja Majapahit secara tidak sah (Lembu Peteng) dengan gadis cantik anak seorang Demung (Kepala Desa) Kali Lanang. Anak itu dinamai Jåkå Mådå atau jejaka dari Desa Mada. Diperkirakan kelahirannya sekitar tahun 1300.

    Selanjutnya oleh kakek Gajah Mada yang bernama Empu Mada, Jåkå Mådå dibawa pindah ke Desa Cancing/Ngimbang. Wilayah yang lebih dekat dengan Biluluk, salah satu Pakuwon di Pamotan, benteng Majapahit di wilayah utara. Sementara benteng utama berada di Pakuwon Tenggulun/Solokuro.

    Di daerah Modo dan sekitarnya, termasuk Pamotan, Ngimbang, Bluluk, Sukorame dan sekitarnya, tersebar folklore atau cerita rakyat. Dongeng tutur tinular mengisahkan bahwa Gajah Mada adalah kelahiran wilayah Modo situ.

    Daerah Modo-Ngimbang-Pamotan-Bluluk dan sekitarnya memang ibukota sejak zaman Kerajaan Kahuripan Airlangga, bahkan anak-cucunya juga mendirikan ibukota di situ, karena strategis, alamnya bergunung-gunung, bagus untuk pertahanan, dan dekat dengan Kali Lamongan yang merupakan cabang utama Sungai Brantas.

    Sudah ada jalan raya Kahuripan-Tuban yang dibatasi Sungai Bengawan Solo di pelabuhan Bubat — kini bernama kota Babat (?) –. Ibukota ini baru digeser oleh cicit Airlangga ke arah Kertosono-Nganjuk, dan baru di zaman Jayabaya digeser lagi ke Mamenang, Kediri. Selanjutnya oleh Ken Arok digeser masuk lagi ke Singosari.

    Baru oleh Raden Wijaya dikembalikan ke arah muara, yaitu ke Tarik, namun anaknya yang akan dijadikan penggantinya, yakni Tribuana Tunggadewi, diratukan di daerah Lamongan-Pamotan-Bluluk lagi, yaitu Kahuripan. Jadi Tribuana Tunggadewi sebelum jadi Ratu Majapahit adalah Bre Kahuripan alias Rani Kahuripan, Lamongan.

    Ketika Gajah Mada menyelamatkan Raja Jayanegara dari amukan pemberontak Ra Kuti, dibawanya Jayanegara ke arah Lamongan, yakni Badander / bisa Badander Bojonegoro, bisa Badander Kabuh, Jombang, dua-duanya rutenya ke arah Lamongan (dalam hal ini adalah Pamotan-Modo-Bluluk dan sekitarnya).
    Kronik sejarah lain menerangkan bahwa Bedander adalah Blitar lama.

    Itu sesuai Teori Masa Anak-anak, di mana kalau anak kecil atau remaja berkelahi di luar desanya, pasti lari menyelamatkan diri ke desanya minta dukungan, tentu karena di desanya ada banyak teman, kerabat maupun guru silatnya. Gajah Mada pasti juga menerapkan taktik itu. Di wilayah Ngimbang-Bluluk sampai sekarang ada situs kuburan Ibunda Gajah Mada, yakni Nyai Andongsari.

    Di dekat situ pula ada situs kuburan kontroversial, karena ada kuburan yang diyakini sebagai kuburan Gajah Mada namun dalam posisi “Islam”, karena kuburannya menghadap ke arah yang persis sebagaimana kuburan orang Islam. Tapi tidak ada asatupun bukti sejarah yang dapat meyakinkan bahwa kuburan tersebut adalah kuburan Gajah Mada.

    Masih legenda desa Mada Lamongan, Gajah Mada yang diduga anak desa Modo, Lamongan dengan ibu asal desa Modo, tetapi ayahnya berasal dari keturunan Timur Tengah/Arab, untuk sementara ada dugaan bahwa beliau ada silsilah keturunan dengan Syekh Subaqir, juga ada dugaan bahwa Syekh Subaqir adalah Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, seorang Wali “angkatan pertama” Tanah Jawa.

    Ada bukti dari pertemuan ghoibiyah; beberapa winasis asal desa Karangpakis, Kabuh, bahwa beliau beragama Islam dan berperawakan tegap tinggi besar. Gajah Mada ditemukan oleh Ronggo Lawe, adipati Tuban. Dalam perjalanan dari Tuban ke desa Matokan, dekat Kabuh. Sewaktu itu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit di daerah ini, yaitu dataran tinggi dengan nama dusun Njeladri, desa Karangpakis, Kabuh, Jombang.

    Di desa Modo, perbatasan Jombang Lamongan ini, Ronggo Lawe melihat seorang anak usia belasan tahun yang berperawakan tegap gagah sedang berkelahi, kemudian Ronggo Lawe mengasuh anak ini, namanya Trimo, di Tuban. Setelah usia yang cukup Trimo dimasukkan ke dalam prajurit kerajaan Majapahit oleh Ronggo Lawe dengan pangkat bêkêl.

    Sewaktu pemberontakan Ra Kuti dan Ra Tanca di era Raja Jayanegara, bêkêl. Gajah Mada dan lima belas orang bhayangkara yang menyelamatkan raja Jayanagara ke Bedander. Dari kejaran telik sandi Ra Kuti yang disebar di seluruh prajurit Majapahit dan meminta nasehat ke kakeknya yaitu Mbah Wonokerto.

    Kakek atau Buyut Gajah Mada di desa Bedander ini yaitu mbah Wonokerto pernah meramalkan bahwa kejadian ini akan membawa Trimo/Gajah Mada akan menjadi orang besar di Majapahit, waktu itu Gajah Mada menjadi pemimpin pasukan Bhayangkara.

    4. Gajah Mada anak seorang tentara Kubilai Khan

    Ada pendapat bahwa Gajah Mada adalah keturunan Mongol. Ia terlahir selaku anak dari salah satu prajurit Mongol yang diam di Jawa dan menikah dengan perempuan Jawa. Argumentasi ini diambil oleh sebab di periode kelahiran Gajah Mada, wilayah Majapahit pernah diduduki atau paling tidak diserang oleh Dinasti Yuan yang keturuan Mongol tersebut. Namun, pendapat ini seperti halnya legenda Gajah Mada lainnya tidak memiliki bukti-bukti konkrit berupa inskripsi, prasasti, epik dan sejenisnya.

    Konon Gajah Mada kecil ikut dalam pasukan tentara Mongol yang dikirim Kublai Khan menyerbu Jawa guna membalas penghinaan yang dilakukan oleh Prabu Kertanegara mencoreng-coreng wajah utusan Tiongkok yang menuntut agar Singasari tunduk di bawah kekuasaan Tiongkok. Gajah Mada diajarkan oleh ayahnya orang Mongol itu mengenai prinsip senjata api sederhana.

    5. Pandaan, Tempat Lahir Gajah Mada

    Interpretasi lain: Gajah Mada lahir di Pandaan. Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon. Cucu Macan Kuping, penghulu tua Desa Pandakan. Bila benar Pandaan yang sekarang, dulu berpangkal kepada Desa Pandakan si Macan Kuping, maka Gajah Mada lahir di Jawa Timur, di dataran tinggi Malang, daerah awal mengalirnya Sungai Brantas.

    Walau secara geografis tidak secara tepat menyebut Pandaan sebagai dataran tinggi di Kabupaten Pasuruan di kaki gunung Welirang-Arjuno, pendapat tersebut sangat menarik untuk didiskusikan. Apalagi interpretasi ini sangat dekat dengan perkiraan Yamin bahwa Gajah Mada lahir di kaki gunung Kawi dan Arjuno.

    Berita Pararaton menyebutkan bahwa runtuhnya kraton Singasari adalah akibat serangan Jayakatwang dari Gelang-gelang/Kadiri. Awalnya Raden Wijaya, menantu Kertanegara disertai dengan pengawal dan teman-teman setianya seperti Lembusora, Nambi, Ranggalawe, Gajah Pagon, Pedang Dangdi mencoba bertahan. Tapi akhirnya diputuskan untuk mengungsi ke utara. Gajah Pagon yang telah bertempur hebat melawan tentara Kadiri terkena tombak di pahanya.

    Pararaton secara lugas dan panjang lebar menulis perjalanan Raden Wijaya yang mengungsi ke arah utara akhirnya tiba di hutan kawasan Telaga Pager. Diputuskan kemudian Raden Wijaya harus menuju Madura meminta perlindungan Arya Wiraraja. Akhirnya, dengan susah payah rombongan Raden Wijaya tiba di desa Pandakan dan diterima oleh kepala desa bernama Macan Kuping. Raden Wijaya disuguhi kelapa muda yang setelah dibuka ternyata isinya tak lain nasi putih.

    Lebih jauh Pararaton menyatakan:

    Gajah Pagon tidak dapat berjalan, berkata Raden Wijaya: “Penghulu Desa Pandakan saya titip seorang teman, Gajah Pagon tak dapat berjalan, agar ia tinggal disini”.
    Berkatalah orang Pandakan: “Hal itu akan membuat buruk tuanku, jika Gajah Pagon ditemukan di sini, sebaiknya jangan ada pengikut tuanku yang diam di Pandakan.

    Seyogyanya dia berdiam di tengah kebun, di tempat orang menyabit rumput ilalang, ditengah-tengahnya dibuat sebuah ruangan terbuka dan dibuatkan gubuk, sepi tak ada yang tahu, orang-orang Pandakan membawakan makanannya setiap hari

    Dari berita ini, dapat ditafsirkan keadaan berangsur-angsur aman dan Gajah Pagon sembuh dari lukanya. Sangat mungkin ia lalu menikah dengan anak perempuan Macan Kuping. Setelah penghulu Desa Pandakan itu meninggal, Gajah Pagon menggantikan kedudukannya menjadi kepala Desa Pandakan.

    Kemudian keadaan semakin membaik. Majapahit berdiri dan Raden Wijaya menjadi raja. Saat itulah teman-teman seperjuangan Wijaya mendapat kedudukan masing-masing walaupun berbagai sumber menyatakan ada yang tidak puas. Gajah Pagon tetap menjadi penguasa daerah Pandakan.

    Tokoh yang menonjol di awal Majapahit, ketika diperintah Raden Wijaya Kertarajasa Jayawardhana yang menggunakan nama “Gajah” adalah Gajah Pagon. Sedangkan tokoh selanjutnya yang bernama “Gajah“ yang juga terkenal adalah Gajah Mada, di zaman pemerintahan Jayanegara. Nama “Gajah“ sesungguhnya berarti pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya dan berperilaku seperti hewan gajah yang akan menghalau semua penghalang.
    Jadi dapat diduga bahwa Gajah Mada sejatinya adalah anak dari Gajah Pagon, salah seorang perwira dan pahlawan Majapahit yang terluka di Pandakan.

    Gajah Mada lahir dari hasil perkawinan Gajah Pagon dan putri Macan Kuping. Kedua “Gajah” ini punya nama dan sifat yang hampir identik. Maka, mudahlah menerima alasan bila Prabu Jayanegara memilih anak muda bernama Gajah Mada untuk menjadi Bêkêl Bhayangkâri, karena Gajah Mada memang memiliki track record yang istimewa.

    Ayah Gajah Mada adalah perwira pilih tanding, setia kepada Raden Wijaya, tidak terlibat dalam berbagai kerusuhan yang muncul saat awal Majapahit berdiri karena ketidak puasan pembagian jabatan atau daerah. Gajah Mada sendiri adalah prajurit unggul baik secara lahir maupun batin karena gemblengan yang diperolehnya dari ayah dan tokoh-tokoh lainnya kala itu.

    Bila Gajah Mada unggul dalam olah lahir dan olah batin hal tersebut dapat dengan mudah dipahami. Pandakan adalah termasuk lereng timur Gunung Penanggungan yang dulu disebut Pawitra. Gunung Penanggungan saat itu merupakan kiblat bagi masyarakat Majapahit.

    Di gunung suci inilah banyak terdapat mandala-mandala dan keresian tempat menggembleng berbagai macam ilmu. Baik ilmu ajaran keagamaan, yoga, mitologi, serta ilmu duniawi seperti ilmu pemerintahan, hukum, politik kerajaan, strategi perang dan mungkin juga dasar geografi Nusantara. Tak heran, bila akhirnya, Gajah Mada menjadi tokoh Majapahit yang mumpuni dan memiliki visi jauh ke depan.

    Masih ada pertanyaan. Dimanakah letak Telaga Pager? Benarkah Pandakan jaman dahulu sama dengan Pandaan sekarang? Hasil penelusuran terhadap berita Nāgarakṛtāgama, Pager Telaga terdiri dari dua nama, Pager dan Telaga. Desa Pager 2 km di utara Damar (termasuk Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari).

    Sedangkan Telaga merupakan nama lama dusun Kucur (Sumberejo) yang letaknya 3 Km di barat daya Pager. Ini jelas tidak bertentangan dengan berita Pararaton, yang menyatakan dari Telaga Pager, Raden Wijaya menuju Pandakan sebelum ke Rembang lalu menyeberang ke Madura. irikang dina mahawan i kuwarahari celong mwang i dada margga rantang i pager talaga pahanangan. (siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar, Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan)

    Nama Pandakan ada dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama: rahina muwah ri tambak i rabut wayuha balanak linakwan alaris anuju ri pandhakan ri bhanaragi amgil…. (Pada hari berikutnya ia melalui Tambak, Rabut Wayuha dan Balanak menuju Pandhakan dan Bhanaragi…).

    Tambak adalah dusun di Desa Lemahbang, 14 km dari Purwosari, Rabut Wayuha tak lain daripada Suwayuwo, 2 km di utara Lemahbang. Balanak dan Bhanaragi tak dikenal lagi. Dari urutan nama tempat itu jelas, Pandhakan tentu saja adalah Pandaan sekarang!

    Pandhakan jaman dulu adalah identik dengan Pandaan sekarang juga didukung uraian Piagam Kudadu bertahun 1294, dikeluarkan oleh Kertarajasa Jayawardana berdasarkan pengalamannya saat mengungsi ke Madura. Prasasti Kudadu yang berasal dari Gunung Buthak, Trawas Mojokerto menceritakan terima kasih raja Kertarajasa kepada ketua dusun Kudadu yang pernah menerimanya dengan ramah waktu singgah dalam perjalanan ke Madura.

    Saat mengungsi Raden Wijaya dalam masalah besar. Namun ketua dusun Kudadu menerimanya dengan ramah dan memberinya makan dan minum. Kemudian mengantarnya ke Rembang untuk melanjutkan menyeberang ke Madura. Demikianlah dapat disimpulkan, nama Kudadu sebenarnya identik dengan Pandak/Pandhakan atau Pandaan sekarang.

    Gajah Mada berasal dari Bali

    Prasasti Gajah Mada, juga disebut Prasasti Aria Bebed, berupa lempengan tembaga terdapat di halaman candi Aria Bebed di Desa Bubunan, Kecamatan Sririt, Kabupaten Buleleng, Singaraja.

    Ditulis dalam bulan Jyestha tahun Çaka 1881 (= Mei-Juni 1959). Prasasti ini memuat cerita tentang Gajah Mada yang diutus oleh Ratu Tribhuana dari Majapahit. Di Bali Gajah Mada kawin dengan putri pendeta Ki Dukuh Kedangan yang bernama Ni Luh Ayu Sekarini.

    Ketika istrinya mengandung, ia kembali ke Majapahit. Setelah anak Gajah Mada itu menjadi dewasa, ia mencari ayahnya, Hasti Mada, ke Majapahit. Sesuai pesan ayahnya, anak itu mengenakan kain gringsing ringgit.

    Sesampainya di Majapahit, anak itu duduk di atas batu di depan rumah Gajah Mada. Karena disoraki oleh orang-orang Majapahit, anak itu menangis. Patih Gajah Mada keluar menemui anak itu dan menanyakan siapa dan darimana asalnya. Anak itu berkata jujur berasal dari Bali, ibunya bernama Ni Luh Ayu Sekarini dan bermaksud mencari ayahnya Gajah Mada.

    Mendengar itu Gajah Mada terharu dan mengakui anak itu sebagai puteranya. Anak itu kemudian dibawa ke dalam rumah dipertemukan dengan istrinya Ken Bebed. Setelah dijelaskan, Ken Bebed yang belum mendapatkan anak itu sangat terharu.

    Anak itu akhirnya tinggal di Majapahit. Ken Bebed sangat menyayangi anak itu layaknya anak sendiri. Anak itu kemudian diberi nama Aria Bebed. Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit, Aria Bebed kembali ke Bali dan beranak-pinak di pulau itu.

    Prasasti ini “baru” ditulis pada abad ke-20 (1959M), dan bagaimanapun kebenaran sejarahnya masih perlu penelitian yang komprehensif.

    ***

    Ada pernyataan menyangkut hal yang supranatural pada tokoh Gajah Mada, seperti pada legenda Gajah Mada “versi Buton” dan dongeng Gajah Mada “versi Lamongan”, yang menyatakan bahwa adanya pengamatan secara spiritual setelah melalui pemantauan khusus secara metafisis, dan ditemukannya suatu bukti dari pertemuan ghoibiyah dari beberapa tokoh paranormal.

    Telah disebutkan di atas bahwa selain tembang atau kidung yang cenderung mengkedepankan dongeng khayal, maka pembacaan atas tokoh Gajah Mada kerap dihubungkan dengan dimensi supranatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut.

    Tetapi upaya penyingkapan jatidiri Gajah Mada hendaklah menghindari pencampur-adukan tersebut. Namun, pencampuran dengan dimensi religius tersebut paling tidak tetap dihargai sebagai upaya sebagian bangsa Indonesia untuk membanggakan tokohnya,

    ***

    Pembacaan data di atas, mengatakan bahwa:

    a. Gajah Mada lahir di Dataran Malang di gugusan pegunungan Kawi dan Arjuna;
    b. Gajah Mada lahir di Dataran tinggi sebuah desa di kaki Gunung Semeru yang bernama desa Maddha;
    c. Gajah Mada lahir di Desa Modo Kabupaten Lamongan;
    d. Gajah Mada lahir di Swarnadwioa, berasal dari Kerajaan Darmasraya.
    e. Gajah Mada lahir dan moksa di Buton;
    f. Gajah Mada adalah keturunan Mongol, anak salah seorang tentara Kubilai Khan.
    g. Gajah Mada lahir di Bali;
    h. Gajah Mada lahir di Pandaan;
    i. Gajah Mada lahir di desa Mada atau di dusun Mada Karipura (Madakaripura?)
    j. Selain itu ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa:

    i. Gajah Mada adalah orang India, karena wajahnya bukan seperti wajah “wong Jåwå”

    ii. Teori yang lebih spekulatif dan asal-asalan malah mengatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Sumatra, tetapi alasannya karena adanya binatang Gajah dan istilah “Mada” hanya ada di Sumatra. Tentunya pendapat ini sangat menggelikan, karena meskipun Gajah asli Sumatra, tapi kan Raja-raja Jawa dapat saja mendatangkan/ membelinya, jadi Gajah bukan hal yang aneh di Jawa. Istilah “Mada” juga ada dalam kosakata Jawa.

    iii. Ada juga yang menyatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Dompo, Sumbawa, karena di sana ada kuburan Gajah Mada. Tentunya soal kuburan bisa saja dibuat dan diperakukan. Atau mungkin juga Gajah Mada yang lain, yang bukan di zaman Majapahit, atau tokoh lokal yang kharisma kepemimpinannya mirip tindak tanduk Gajah Mada, meski ruang-lingkupnya tidak setenar Gajah Mada Majapahit.

    iv. Gajah Mada adalah orang Sunda, punggawa di Pajajaran lalu jatuh cinta dengan putri Pajajaran tetapi ditolak rajanya. Kecewa lalu ia bekerja di Majapahit.

    v. Yang agak mengherankan adalah daerah Jawa Tengah yang tidak pernah menyatakan bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah dan juga tidak pernah diceritakan dalam naskah, legenda manapun, bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah.

    vi. Gajah Mada adalah orang Banten yang pernah menjalin cinta dengan Dyah Pitaloka, dan keduanya sepakat untuk hidup bersama.

    vii. Malahan ada juga teori yang menyatakan bahwa Gajah Mada orang Dayak di Kalimantan, karena di wilayah Dayak Krio ada tokoh bernama Jaga Mada yang diutus Demung Adat Kerajaan Kutai untuk menjelajah Nusantara. Namun teori ini dari segi logika hubungan dengan Majapahit sangat lemah. Mungkin juga dia adalah tokoh lokal yang dihormati oleh masyarakatnya setara dengan penghormatan terhadap Gajah Mada Majapahit.

    viii. Dan kemudian, ada juga teori yang menyatakan, bahwa Gajah Mada itu mungkin benar lahir di wilayah Pamotan-Lamongan, namun bukan anak Raden Wijaya sebagaimana disebutkan oleh folklore di Modo, akan tetapi lahir dari ibu yang dinikahi Pasukan Mongol yang melarikan diri dari induk pasukannya.

    Teori ini agak lemah, karena Pasukan Mongol yang ternyata bukan hanya dipimpin oleh Jendral-jendral Mongol, namun juga disertai oleh Kaisar Mongol sendiri, dibantai habis oleh Pasukan Raden Wijaya dan sisanya melarikan diri ke perahu di pelabuhan Ujung Galuh dan Tuban lalu segera pergi berlayar kembali ke Cina, sudah begitu di Cina mereka dibantai lagi oleh anak petani Cina yang sudah bosan dijajah Mongol lalu memberontak atas bantuan pasukan Majapahit dan kemudian merajakan diri, memerdekakan Cina dari penjajahan Mongol ratusan tahun. Pendapat ini, sangat sesuai dengan yang dikandung dalam kitab kuno “Tembang Harsawijaya” dan Prasasti Kertarajasa.

    Jadi, kalaupun ada sepuluh – tiga puluh orang pasukan Mongol yang mampu menyelamatkan diri lalu lari ke hutan, tentu butuh waktu berpuluh-berbelas tahun baru berani menampakkan diri keluar dari hutan, lalu berani menikahi wanita lokal. Hal itu persis seperti yang dilakukan oleh pelarian pasukan Jepang di zaman perang kemerdekaan Indonesia, dan baru berani muncul dari hutan ketika Indonesia sudah lama merdeka dan melupakan suasana peperangan.

    Padahal Gajah Mada lahir hanya setahun dua tahun dari peristiwa pembantaian Pasukan Mongol oleh Pasukan Majapahit. Maka, pasti ibunya tidak dinikahi oleh pasukan Mongol, melainkan oleh pemimpin pasukan Majapahit yang merayakan kemenangan, atau kalau merujuk ke folklore Modo, dinikahi — semacam nikah siri-lah– istilahnya oleh Raden Wijaya sendiri,dalam rangka pesta perayaan kemenangan, karena pertempuran hebat menumpas Pasukan Mongol memang terjadi di wilayah Lamongan.

    Namun di atas semua teori dan tafsir sejarah, manusia hanya bisa berteori berdasar alasan-alasan dan data-data yang masuk akal, namun tak berhak mengklaim yang paling benar. Masih diperlukan penelitian secara aksiologis untuk menguak tabir kisah Maha Patih Gaja Mada yang penuh dengan misterius selama ini oleh para ahli antropolog budaya, ahli ethnologis, ahli arkeologis dan ahli sejarah guna mendapatkan suatu naskah sejarah Indonesia yang benar.

    Tetapi hal ini setidaknya menunjukkan betapa sebenarnya Gajah Mada adalah tokoh yang sangat dikenal secara luas oleh masyarakat Nusantara, diidolakan bahkan sangat dibanggakan oleh setiap daerah “tempat lahir dan atau wafatnya” Sang Mahapatih itu. Dia seorang pemimpin juga sebagai seorang abdi negara yang sangat dirindukan kehadirannya.

    Seperti telah saya paparkan di awal tulisan tentang Gajah Mada ini, bahwa daerah-daerah yang “mengaku” dan menempatkan Sang Gajah Mada sebagai putra- daerahnya, adalah merupakan upaya daerah tersebut untuk membanggakan tokoh putra-daerahnya, terlebih Indonesia yang terus mencari figur untuk diteladani di masa sekarang ini.

    Boleh jadi setiap jengkal tanah-air yang sekarang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan lebih luas lagi Nusantara Jaya akan meyatakan bahwa daerahnya adalah tempat lahir dan juga tempat pendharmaan Sang Bêkêl Bhayangkâri, Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Mpu Mada — dialah Sang Gajah Mada

    Informasi mengenai asal-usul dan moktanya Sang Gajah Mada masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Sebagian sumber yang saya ambil baru sebatas pada tutur tinular, atau tembang kidung, rontal yang belum dapat dikatakan sebagai bukti sejarah yang benar, sebelum dapat ditunjukkan adanya bukti otentik bukti-bukti sejarah yang konkrit berupa tamla prasasti, epik, rontal ataupun yang sejenis, yang mendukung kebenarannya yang dapat mendukung klaim tersebut. Jadi menurut saya semua yang ada mengenai asal-usul dan moktanya Sang Gajah Mada masih merupakan analisis semata bukan data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sehingga masih perlu dilakuan penelitian yang saksama.

    Sejarah termasuk sejarah Sang Gajah Mada ini masih dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis, epik, dan sejenisnya yang menunjang masih terjadi. Sebagaimana telah berulang kali saya sampaikan bahwa kebenaran sejarah bersifat hipotetik.

    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Telah Terbit on 25 Juni 2011 at 09:19  Comments (6)  

6 Komentar

  1. kok surya majapahit 1 isinya bagian 2 juga ??

    • lho….?!
      sepertinya gak tu?
      he he he …, link-nya lom di edit
      dah beres.

  2. Seri Surya Majapahit – Bagian Pertama

    yg ini nih isinya sama ajja dgn

    Seri Surya Majapahit – Bagian Kedua
    hi hi 😛

    • hadu…..
      yang ini linknya juga belum diedit rupanya
      maaf bu lik
      tetapi beda kok, surya majapahit 1 wedaran 1-19, sedang surya majapahit 2 wedaran 20-35
      link-nya, besok saja diperbaiki
      sekarang sudah teklak-tekluk, ngantuk

      kalau mau lihat sinya, yang diklik jangan daftar isinya, tetapi deretan halaman di bawah

      he he he ….

      • he he he
        sekalian buka komputer, sekalian saya edit link-nya, meskipun sambil terkantuk-kantuk
        sudah beres Nyi Dewi

  3. om, wedaran ke 47, 48 dan 49 kok isinya sama, padahal di daftar isi judulnya beda. tolong diperbaiki ya…

    kesalahan tautan sudah diperbaiki
    terima kasih atas informasinya


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: