Seri Surya Majapahit – Bagian kedua

SISIPAN: KULI KONTRAK – SURINAME

Nuwun
Sugêng siyang

Katur Ki Truno Podang.
Demikianlah sebenarnya yang terjadjiKi. Berikut ini dongeng tentang:

Wong Djowo dadi koeli kontrak ing Soeriname

Jauh sebelum Pemerintah Republik Indonesia mengirimkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Luar Negeri, Pemerintah Belanda pada tahun 1890 telah mengirimkan 32.986 orang TKI asal pulau Jawa ke Suriname, suatu Negara Jajahan Belanda di Amerika Selatan.

Tujuan pengiriman TKI itu adalah untuk mengganti tugas para budak asal Afrika yang telah dibebaskan pada tanggal 1 Juli 1863. Setelah secara resmi para budak itu dibebaskan, mereka beralih profesi dan bebas memilih lapangan pekerjaan yang dikehendakinya.

Dampak pembebasan para budak itu, banyak perkebunan didaerah itu tidak ada yang mengurus, terlantar dan mengakibatkan perekonomian yang selama itu sangat tergantung dari hasil perkebunan, turun drastis.

Adapun dasar Pemerintah Belanda memilih para TKI dari pulau Jawa itu adalah, rendahnya tingkat perekonomian penduduk sebagai akibat bencana meletusnya gunung berapi dan padatnya penduduk di pulau Jawa jika dibandingkan dengan daerah lainnya.

Berbagai cerita tentang meletusnya gunung berapi itu sering disampaikan para TKI pada saat itu kepada para anak cucunya di Suriname, karena mereka tahu betul, bahkan mengalami adanya udan awu akibat letusan gunung berapi sebelum mereka diberangkatkan untuk kerja kontrak ke Suriname.

Pada umumnya para TKI itu berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada juga dari daerah Jawa Barat tetapi jumlahnya lebih sedikit.

Pelayaran jarak jauh ini singgah di Negeri Belanda dan akhirnya tiba di Suriname pada tanggal 9 Agustus 1890. Oleh sebagian orang Jawa yang masih tinggal di Suriname dan yang sekarang masih tinggal di Negeri Belanda, tanggal 9 Agustus selalu dikenang dan diperingati sebagai suatu tanggal yang sangat bersejarah.

Para tenaga kerja di Suriname pada waktu itu, termasuk para TKI itu dipekerjakan di perkebunan tebu, perkebunan cacao (coklat), perkebunan kopi dan tambang bauxit.

Gerakan “mulih nDjowo”.

Pada tahun 1950 diselenggarakan pemilihan umum. Setelah terbentuk lembaga legislatif hasil Pemilu, Suriname menjadi Daerah Otonom dibawah Kerajaan Belanda.

Secara otomatis seluruh penduduk Suriname menjadi Warga Negara Belanda. Akan tetapi sekitar 75% orang-orang Jawa menolak menjadi warga negara Belanda dan ingin tetap menjadi Warga Negara Indopnesia.

Sejak Suriname merdeka pada tanggal 25 Nopember 1975, telah muncul beberapa partai politik yang “berbau” Indonesia. Antara lain Pendawalima dan Pertjatjah Luhur yang telah berhasil “melahirkan” banyak Pemimpin orang Jawa generasi kedua antara lain Willy Soemita dan Paul Salam Somohardjo.

Meskipun orang-orang Jawa ini telah lebih dari 100 tahun tinggal di Suriname, kenyataannya mereka masih memiliki adat dan kebiasaan seperti di Pulau Jawa. Antara lain masih ditemukan pesta tayuban, wayang kulit, wayang orang, ludruk, tarian jaran kepang, kenduren atau selametan.

Di District tertentu yang sebagian besar penduduknya suku Jawa, “suasana Jawa” masih terasa kental. Sayangnya, bahasa Indonesia belum banyak dimengerti, karena memang belum diajarkan. Bahasa Jawa “ngoko” masih digunakan oleh kalangan terbatas, khususnya di “District” Jawa.

Pada Pemilu tanggal 25 Mei 2005 telah berhasil memilih 8 orang Jawa menjadi anggota DPR dan sekaligus berhasil memilih Paul Salam Somohardjo sebagai Ketua Parlemen (DPR) Republik Suriname sampai sekarang ini.

Kelihatannya orang-orang Jawa ini telah memilih Republik Suriname dan Negeri Belanda sebagai tanah-airnya yang baru. Ini terungkap dari pernyataan beberapa orang yang tinggal di Negeri Belanda.

Mereka menyatakan lebih baik tinggal di Negeri Belanda atau pulang ke Suriname dari pada pulang ke Indonesia. Hal ini bisa dimengerti, karena mereka lebih banyak mengenal Negeri Belanda dan Suriname dari pada Indonesia.

Berbeda dengan rekan-rekan mereka yang telah lebih dahulu pulang ke Indonesia. Mereka yang telah pulang ke Indonesia ini lebih suka tinggal di Indonesia dan telah menjadikan Indonesia sebagai tanah tumpah darahnya, meskipun diantara mereka banyak yang lahir di Suriname.

Wong Jawa yang jadi ”Wong” di Suriname di antaranya:
a. Paul Salam Sumohardjo Ketua DPR/Parlemen Suriname (30 Juni 2005 sd sekarang).
b. Soewarto Moetadja Menteri Urusan Sosial dan Ekonnomi Kerakyatan, kemudian digantikan oleh Samuel Pawironadi.
c. Ramdien Sardjo Ketua Majelis Nasional.

Diberitakan kehidupan wong Jawa di Suriname sekarang ini jauh lebih baik daripada para pendahulunya, dan jauh lebih baik lagi dibandingkan yang mulih nJowo.

Semula Pemerintah Republik Indonesia akan “menempatkan” Repatrian asal Suriname itu di Kabupaten Metro, Lampung. Tetapi, atas dasar pertimbangan lain akhirnya ditempatkan di Desa Lingkin Baru (Tongar), Kapupaten Pasaman, Sumatera Tengah yang lokasinya sekitar 180 km dari Kota Padang.

Setelah berlayar selama satu bulan, sebelumnya singgah di Cape Town, Afrika Selatan, akhirnya pada tanggal 05 Februari 1954 rombongan tiba di pelabuhan Teluk Bayur, Padang dengan selamat.

Telah disepakati bahwa tanggal 05 Februari ini selalu dikenang dan diperingati oleh para mantan Repatrian asal Suriname, khususnya mereka yang berdomisili di Jakarta dan Sekitarnya serta di Riau sebagai suatu tanggal yang bersejarah.

Setelah istirahat beberapa hari di Padang, selanjutnya rombongan meneruskan perjalanan darat naik bis ke Desa Lingkin Baru (Tongar).

Ditempat yang baru ini para mantan repatrian hidupnya bukan menajdi semakin baik, tapi justru semakin menyedihkan.

Kepada para Repatrian ini, Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerindah Daerah Setempat telah menyediakan dan memberikan tanah garapan sekaligus tanah untuk tempat tinggal seluas 2.500 HA.

Diharapkan dengan pembagian tanah yang setiap keluarga akan memperoleh bagian sekitar 2 HA ini, mampu memberikan harapan masa depan yang lebih baik.

Akan tetapi sampai dengan tahun 2000an ini, proses untuk mengurus kepemilikan tanah yang telah diberikan oleh Pemerintah kepara para Repatrian ini masih sulit.

Bahkan sekarang ini sebagian tanah-tanah itu telah diambil dan dijual oleh golongan tertentu untuk perkebunan kelapa sawit.

Proyek Yayasan Tanah Air (YTA) di Lingkin Baru, Tongar, Kabupaten Pasaman, tidak berkembang bahkan dapat dikatakan telah berantakan. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya perang saudara (PRRI) di Sumatera pada tahun 1958 dan tidak adanya lapangan kerja yang memadai di Kabupaten Pasaman dan sekitarnya.

Akibatnya para generasi muda dan angkatan kerja asal Tongar banyak yang pindah dan mengadu nasib yang lebih baik ke Pekanbaru, Padang, Medan, Jambi, Palembang, Jakarta dan daerah lainnya.

Di tempat-tempat yang baru ini kondisi dan keberadaan para Repatrian telah menyatu dengan masyarakat Indonesia lainnya. Kondisi sosial dan ekonominya lebih baik.

Mereka bisa menyekolahkan anak dan keluarganya kesekolah-sekolah yang lebih tinggi, bisa berkembang, bisa memperoleh pekerjaan, bahkan banyak yang menempati jabatan-jabatan strategis baik di Perusahaan Swasta, di BUMN dan di Pemerintahan.

Pengalaman masa lalu yang pernah dialami oleh para sesepuh, para saudara, para famili, para orangtua, perlu dijadikan pelajaran yang sangat berharga untuk mewujudkan suatu masa depan yang lebih baik, mengingat mereka telah tinggal di negera sendiri dan tidak numpang serta tidak dijajah oleh bangsa lain.

Mungkin beliau-beliau menyimak pepatah lama:

Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri

Bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri.

Nuwun

cantrik bayuaji

Balas

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Telah Terbit on 25 Juni 2011 at 09:19  Comments (6)  

6 Komentar

  1. kok surya majapahit 1 isinya bagian 2 juga ??

    • lho….?!
      sepertinya gak tu?
      he he he …, link-nya lom di edit
      dah beres.

  2. Seri Surya Majapahit – Bagian Pertama

    yg ini nih isinya sama ajja dgn

    Seri Surya Majapahit – Bagian Kedua
    hi hi 😛

    • hadu…..
      yang ini linknya juga belum diedit rupanya
      maaf bu lik
      tetapi beda kok, surya majapahit 1 wedaran 1-19, sedang surya majapahit 2 wedaran 20-35
      link-nya, besok saja diperbaiki
      sekarang sudah teklak-tekluk, ngantuk

      kalau mau lihat sinya, yang diklik jangan daftar isinya, tetapi deretan halaman di bawah

      he he he ….

      • he he he
        sekalian buka komputer, sekalian saya edit link-nya, meskipun sambil terkantuk-kantuk
        sudah beres Nyi Dewi

  3. om, wedaran ke 47, 48 dan 49 kok isinya sama, padahal di daftar isi judulnya beda. tolong diperbaiki ya…

    kesalahan tautan sudah diperbaiki
    terima kasih atas informasinya


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: