Seri Surya Majapahit – Bagian ketiga

WAOSAN KAPING-56

On 12 November 2011 at 01:18 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun
Sugêng énjang

Mugi pinaringå karahayon ing dintên punikå. Tinêbihnå ing sambékålå. Aamin.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:
Waosan kaping-55. Kerajaan Majapahit. Fakta Sejarah Yang Tidak Tersembunyi [Parwa ka-02] On 7 November 2011 at 22:10 JdBK 39

Waosan kaping-56
KERAJAAN MAJAPAHIT
FAKTA SEJARAH YANG TIDAK TERSEMBUNYI Parwa ka-3

IV. Raden Wijaya adalah seorang keturunan Arab, karena orang Arab banyak yang menjadi penguasa di Nusantara.

Demikian kesimpulan si pengarang buku, tetapi dia tidak dapat menyajikan data yang mendukung teorinya itu, bahwa seberapa banyakkah orang Arab atau keturunan Arab yang menjadi penguasa di Nusantara. Periode jaman kerajaankah? Kerajaan apa? Kapan? Siapa saja mereka?

Memang ada kerajaan di Nusantara yang didirikan oleh seorang keturunan Arab Islam, contohnya adalah Kesultanan Perlak di Aceh (840-1292).

Tetapi bila ditanya: Siapakah pendiri Majapahit? Sudah tentu Raden Wijaya yang berasal dari Nusantara sendiri, mungkin Sunda mungkin Jawa.

Kita tinjau fakta sejarah yang berupa Prasasti atau Piagam Kertarajasa Jayawardhana yang ketiga bertarikh 1305, prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) sendiri untuk memperingati pemberian otonomi kepada Candi Sri Harsawijaya.

Dalam piagam ini dinyatakan dengan jelas bahwa Sanggramawijaya (nama asli Raden Wijaya) mendirikan Dinasti Rajasa seperti nyata pada kalimat “Maharaja Sanggramawijaya Rajasa wangsa maniwrenda kostena ranangga surawira“.

Sanggramawijaya selaku pendiri kerajaan Majapahit, dalam beberapa prasasti selalu mengemukakan bahwa kerajaan Majapahit adalah kelanjutan dari kerajaan Singasari, dan raja Majapahit adalah keturunan raja-raja Singasari.

Lebih jauh lagi, setelah menobatkan dirinya menjadi raja Majapahit, beliau (Raden Wijaya) mengambil nama abhiseka (gelar) Kertarajasa Jayawardhana yang di dalam prasasti tahun 1305 bagian II dijelaskan arti dari nama gelaran tersebut yang terdiri dari 10 suku kata dan dapat dipecah menjadi empat kata yaitu kerta, rajasa, jaya dan wardhana.

Unsur kerta mengandung arti bahwa baginda memperbaiki pulau Jawa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh penjahat-penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat, oleh karenanya beliau bagi rakyat Majapahit waktu itu sama dengan matahari yang menerangi bumi.

Unsur rajasa mengandung arti bahwa baginda berjaya mengubah suasana gelap menjadi suasana terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap musuh, dengan kata lain beliau adalah penggempur musuh.

Unsur jaya mengandung arti bahwa baginda mempunyai lambang kemenangan berupa senjata tombak berujung mata-tiga (trisula-muka), karena senjata tersebut maka segenap musuh hancur lebur.

Perlu diketahui dan dicatat bahwa senjata Trisula adalah senjata Dewa Siwa, dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Sanggramawijaya (Raden Wijaya) adalah seorang pemeluk agama Siwa yang taat.

Selanjutnya unsur wardhana mengandung arti bahwa baginda menghidupkan segala agama, melipatgandakan hasil bumi, terutama padi demi kesejahteraan rakyat.

Demikianlah keterangan nama abhiseka Kertarajasa Jayawardhana menurut isi prasasti tahun 1305 yang dikeluarkan secara resmi atas perintah baginda (Wijaya) sendiri.

Selanjutnya dalam Piagam Kudadu menyebutkan pengakuan pribadi bahwa Nararya Sanggramawijaya (Raden Wijaya) sendiri adalah keturunan Singasari, putera Dyah Lembu Tal, cucu Narasingamurti dan menantu raja Kertanegara, oleh karenanya secara resmi rajakula Majapahit yang dikepalainya bernama Rajasa-wangsa seperti yang tercantum pada piagam 1305 tersebut di atas.

Terakhir, Nāgarakṛtāgama yang merupakan sumber sahih tentang kerajaan Majapahit lebih dipercaya karena diperkuat oleh prasasti Balawi yang diterbitkan oleh Raden Wijaya sendiri pada tahun 1305 M didalam pupuh XLVII/3 memberitakan bahwa raja Kertarajasa mangkat pada tahun saka 1231 (1309 M), jenazah beliau dimakamkan di Antahpura yakni di Istana Majapahit.

Di Simping ditegakkan arca Siwa (Harihara) untuk beliau. Oleh karenanya pengamatan kita sekarang berlanjut ke Candi Simping di Desa Sumberjati, Blitar. Fakta di lapangan yang kita dapati adalah reruntuhan sebuah candi yang bernuansa Hindu dan sama sekali tidak diketemukan jejak-jejak agama Islam di sana.

Dari bukti-bukti atau fakta-fakta sejarah yang masih dapat kita jumpai hingga kini, jelaslah kepada kita semua bahwa Sanggramawijaya atau yang terkenal dengan sebutan Raden Wijaya adalah seorang pemeluk agama Siwa yang taat, terbukti dari mulai senjata yang dimilikinya, Candi makamnya hingga arca perwujudannya semuanya bernuansa Hindu-Siwa.

Pengarang buku menyatakan bahwa: Raden Wijaya adalah seorang keturunan Arab, karena orang Arab banyak yang menjadi penguasa di Nusantara.

Bagaimana mungkin Raden Wijaya orang Arab. Andaikata benar bahwa orang Arab banyak menjadi penguasa Nusantara, tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa Raden Wijaya (penguasa Nusantara pada zamannya) adalah orang Arab atau ketutunan Arab.

Di luar hal-hal yang dianggap sebagai bukti di atas, ada yang berpendapat seperti ini:

Jika Majapahit adalah kerajaan besar yang beragama Buddha atau Hindu, harusnya sampai saat ini agama terbesar di Nusantara ini tentunya Buddha dan Hindu. karena yang namanya keyakinan itu pasti mengakar kuat. Tapi kenyataannya agama terbesar sampai saat ini dari sejak Nusantara sampai sekarang adalah Islam.

Disebutkan selanjutnya dalam bukunya, pengarang buku menulis bahwa hal Ini pararel dengan kenyataan bahwa Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama yang masih eksis berdiri sampai sekarang walapun sudah 60 tahun. dan itu baru organisasi, bukan sebuah kerajaan besar. Apalagi tentunya jika dibandingkan dengan kerajaan sebesar Majapahit. tentunya itu akan mewarisi ideologi/agama yang kuat. kenapa tidak Buddha atau Hindu yang besar? Melainkan Islam?

Pendapat di atas menafikan fakta sejarah yaitu munculnya kerajaan-kerajaan Islam di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Maluku, baik sezaman dengan Majapahit, maupun setelah Majapahit runtuh. Tentu hal ini, berpengaruh pada cepatnya penyebaran Islam di Indonesia. Perlu diketahui, saat Majapahit runtuh, tidak ada kerajaan non-Islam (Hindu-Buddha) di Indonesia yang pengaruhnya sebesar atau melebihi Majapahit.

Pendapat yang menyatakan bahwa Islam berkembang sejak sebelum zaman Majapahit itu adalah benar, tetapi kesimpulan bahwa Majapahit merupakan Kesultanan Islam adalah kesimpulan yang terburu-buru dan perlu diteliti lagi kebenarannya.

V. Agama Ibrahim

Pengarang buku selanjutnya memberikan pernyataan bahwa, jika dicermati dengan seksama religi yang berkembang di Nuswantara adalah agama Abraham atau millatu Ibrahim. Hal ini tertera misalnya dalam Catatan Fa Xian/Fa Shien sepulang dari India di era tahun ke-7 Kaisar Xiyi (411M). Fa Xian adalah seorang ulama senior di China saat itu. Ia singgah di Yapoti (Jawa dan atau Sumatra) selama 5 bulan. Ia menulis:

Kami tiba di sebuah negeri bernama Yapoti (Jawa dan atau Sumatra). Di negeri itu Agama Braham sangat berkembang, sedangkan Buddha tidak seberapa pengaruhnya.

Terjemahan di atas sangat dipaksakan. Berita Fa Hsien tidak pernah menyebut kata-kata Agama Ibrahim,.

Dokumen sejarah Berita Fa Hsien, dalam Bahasa Cina, dalam kronik Cina, dan buku-buku sejarah Nusantara apapun, lazim diterjemahkan sebagai berikut:

di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih “agama kotor.

Ungkapan Fa Hsien tentang “agama kotor” telah menimbulkan pertentangan para sejarahwan. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan agama kotor adalah agama Siwa Pasupata yang telah dipalsukan oleh sekelompok penduduk di Ye po ti (Jawa?).

Disebutkan oleh Huen Tsang (Abad ke-VIIM) bahwa di India telah berkembang agama Siwa Pasupata, yang ajarannya telah diselewengkan di Tarumanegara (Jawa), sehingga menjadi agama kotor.

Pendapat lain mengabarkan bahwa yang dimaksud agama kotor adalah agama orang Parsi (Majusi), yang mengajarkan upacara penempatan jenazah sedemikian rupa di atas tanah di dalam hutan (Jawa: diglêthaké), dan hanya diberi penutup dedauan.

Barangkali akan lebih dapat diterima jika “agama kotor” itu ditafsirkan sebagai agama yang sudah lama ada sebelum masuknya pengaruh India di Nusantara. Oleh karena agama ini mempunyai upacara-upacara yang berbeda dengan kedua agama yang dikenal Fa Hsien yakni Budha dan Hindu.

Pada jaman dahulu orang-orang di Nusantara menyembah dan memuja roh leluhurnya. Leluhur dianggap sebagai yang telah berjasa dan mempunyai banyak pengalaman. Roh leluhur, Hyang atau Dahyang namanya, menurut kepercayaan pada waktu itu dianggap mempunyai kekuatan gaib yang dapat digunakan oleh orang-orang yang masih hidup. Kekuatan gaib itu diperlukan jika orang akan memulai suatu pekerjaan yang penting, misalnya akan berangkat perang, akan memulai mengerjakan tanah dan lain sebagainya.

Mereka juga percaya bahwa benda-benda seperti pohon besar, batu besar, gunung dan sebagainya dihuni oleh roh-roh. Ada kalanya benda-benda senjata-senjata dianggap bertuah, sakti dan dijadikan jimat oleh pemiliknya.

Upacara pemujaan roh leluhur harus diatur sebaik-baiknya agar restunya mudah diperoleh. Dan pertunjukkan wayang, suatu bentuk kebudayaan Indonesia, erat hubungannya dengan upacara tersebut. Kepercayaan kepada Hyang inilah, yang menurut Fa Hsien disebut sebagai “agama kotor”. Tidak mustahil bahwa penamaan “agama kotor” itu pada dasarnya disebabkan ketidaktahuan Fa Hsien akan sistem kehidupan keagamaan asli Nusantara pada masa itu. Tetapi kemudian bila si pengarang buku menyebutnya dengan nama agama Braham, saya fikir dia terlalu gegabah.

VI. Gajahmada adalah Gaj Ahmada.

Pengarang buku menyebutkan bvahwa Gajahmada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, pengarang buku menyimpulkan, bahwa penulisan Gajahmada yang benar adalah ‘Gajahmada’ dan bukan ‘Gajah Mada’.

Gajahmada. Ada yang mengatakan kalau itu adalah sebuah gelar. Pada masa itu, memang lazim digunakan nama-nama hewan sebagai gelar seperti Prabu Gajah Agung, Lembu Agung, Lembu Tal, Gajah Kulon, Kebo Anabrang, dan lain-lain. Belum dapat dipastikan apakah Gajahmada benar-benar nama asli atau bukan.

Nylênèh bangêt, jika si pengarang buku menyimpulkan bahwa Gajahmada adalah Gaj Ahmada, suatu pendapat yang sungguh sangat lucu dan menggelikan.

Si pengarang buku memaksakan teorinya tentang nama Gajahmada, yang disebutnya sebagai Gaj Ahmada, agar terkesan adanya nama Ahmad, yang pasti seorang muslim.

Begitukah??????

Apakah arti “Gaj” itu?

Lalu dengan alasan apa si pengarang buku dengan sesuka hati, memenggal nama Gajahmada menjadi Gaj Ahmada?
Mengapa tidak Ga. J. Ahmada?, G. Aj. Ahmad A? atau G. Aj. Ahmada? Bukankah keinginan si pengarang buku pada kata Ahmad dengan demikian dapat juga terpenuhi?

Sangat disayangkan pengarang buku, lagi-lagi tidak dapat memberikan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap teorinya tentang nama Gaj Ahmada.

Mpu Prapanca melalui rontal Pujasastra Nāgarakṛtāgama, menceritakan Gajahmada dalam “pådå-pådå”-nya. Kita lebih percaya kebenaran rontal Pujasastra Nāgarakṛtāgama, karena ditulis semasa Gajahmada hidup. Sang Mpu Prapanca dengan sangat jelas menuliskan nama Gajahmada dan tidak sdekalipun menulis dengan kata Gaj Ahmada.

Beberapa larik dari Pujasastra
Nāgarakṛtāgama berikut di bawah ini membuktikan hal itu:

wetan lor kuwu sang Gajahmada patih ring tiktawilwadhita
mantri wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu
wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsahatan lalana
rajadhyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawartting jagat.

(Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajahmada,
Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara,
Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur,
Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda Negara.)

[Nāgarakṛtāgama XII (12) : 4].

wwanten dharma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng lango
simanugraha bhupati sang apatih Gajahmada racananya nutama
yekanung dinunung nareswara pasanggrahan ira pinened rinupaka
andondok mahawan rikang trasungai andyusi capahan atirthasewana.

(Tersebut tlatah dharma kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah,
Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajahmada, teratur rapi,
Di situlah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas,
Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi-bakti.)

[Nāgarakṛtāgama XIX (19) : 2]

enjing sri-natha warnnan mijil apupul aweh sewa ring bhrtya mantri
aryyadinya ng marek mwang para patih atata ring witana n-palinggih
ngka sang mantry apatih wira Gajahmada marek sapranamyadarojar
an wwanten rajakaryyolihulih nikanang dharyya haywa pramada.

(Tersebut paginya Sri Naranata dihadap para menteri semua,
Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur,
Patih amangkubumi Gajahmada tampil ke muka sambil berkata:
“Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan.”)

[Nāgarakṛtāgama LXIII (63) : 1]

bgka ta sri-nrpati n-pareng marek amuspa saha tanaya dara sadara
milw ang mantry apatih Gajahmada makadi nika pada maso mahan marek
mwang mantry akuwu ring paminggirathawa para ratu sahaneng digantara
sampunyan pada bhakty amursita palinggihan ika tinitah yathakrama.

(Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca,
Lalu para patih dipimpin Gajahmada maju ke muka berdatang sembah,
Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru,
Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.)

[Nāgarakṛtāgama LXV (65) : 2]

rakryan sang mapatih Gajahmada rikang dina muwah ahatur niwedya n-umarek
stryanggeng soka tapel nirarjja tiheb ing bhujagakusuma rajasasrang awilet
mantry aryyasuruhan pradesa milu len pra dapur ahatur niwedya n-angiring
akweh lwir ni wawanya bhojana hanan plawa giri yasa mataya tanpapegetan.

(Esoknya patih mangkubumi Gajahmada sore-sore menghadap sambil menghaturkan,
Kembang sesaji dibawa perempuan yang sedih di bawah nagasari dibelit rajasa,
Menteri, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian,
Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan)

[Nāgarakṛtāgama LXVI (66) : 2]

nrpathi n-umulih sangke simping wawang dating ing pura
prihati tekap ing gring sang mantry adhimantri Gajahmada
rasika sahakari wrddhya ning wawawani ring dangu
ri bali ri sadeng wyakty ny antuk nikanayaken musuh
.

(Sekembalinya dari Simping, segera masuk ke pura,
Terpaku mendengar Adimenteri Gajahmada gering,
Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa,
Di pulau Bali serta kota Sadeng memusnahkan musuh.)

[Nāgarakṛtāgama LXX (70) : 3]

Kemudian adanya pernyataan si pengarang buku, bahwa makam Gajahmada terdapat di Mojokerto yang pada nisannya terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

Hal ini masih perlu dilakukan penelitian dengan saksama, mengingat di dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh XIX (19): 2, mengabarkan:

wwanten dharma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng lango
simanugraha bhupati sang apatih Gajahmada racananya nutama

(Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajahmada, teratur rapi,)

Di Madakaripura, tempat asri yang sangat indah dan sejuk, Gajahmada menghabiskan akhir-akhir hidupnya. Kekecewaan batinnya mempengaruhi fisik lahiriahnya. Sebagai manusia biasa Gajahmada tidak dapat menolak takdir. Tahun ke tahun kesehatannya semakin menurun.

Asal-usul Mahapatih Gajahmada yang sangat masyhur ini belum jelas diketahui orang, baik menyangkut nama orang tuanya maupun tempat serta tahun kelahirannya. Demikian juga moktanya. Tidak diketahui dengan pasti tempat dan waktu meninggalnya.

Pararaton hanya menyebut tahun meninggalnya Gajahmada yang ditandai dengan candra sengkala Langit Muka Mata Bulan yang dibaca sebagai tahun 1290Ç atau 1368M, sedangkan Pujasastra Nāgarakṛtāgama menyebutkan tahun kematian Sang Maha Patih Gajahmada pada tahun 1286Ç atau 1364M.

Try angin ina saka purwwa rasika n-papangkwaken i sabwat ing sabhuwana
Pejah irikang sakabdha rasa tanwinasa naranatha mar salahasa

(Try angin ina saka (1253Ç) beliau mulai memikul tanggung jawab, sakabdha rasa (1286Ç) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu, bahkan putus asa,)

Dalam hal ini, berita dari Nāgarakṛtāgama lebih bisa dipercaya karena ditulis oleh Prapanca yang hidup sezaman dengan Gajahmada.

Pujasastra Nāgarakṛtāgama tidak menyebutkan tempat pendharmaan atau wafatnya beliau. Kakawin Nāgarakṛtāgama Pupuh Pupuh XIX (19) : 2 hanya mengabarkan tempat istirah dan pesemadian Gajahmada menjelang akhir hayatnya, yaitu di Madakaripura.

Pengarang buku menyatakan bahwa pada nisan makam Gajahmada di Trowulan Mojokerto pun terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

Dikaitkan dengan berita Pujasastra Nāgarakṛtāgama, bahwa Gajahmada hingga akhir hayatnya bermukim di Madakaripura.

Di mana letak Madakaripura? Demikian pertanyaan berikutnya. Yang pasti bukan di kompleks pemakaman Trowulan. Pembacaan data toponimi di daerah Trowulan dan sekitarnya tidak ada dan tidak pernah dtemukan pernah ada daerah (yang dahulu) bernama Madakaripura.

Teori yang menyatakan bahwa batu nisan yang bertuliskan kalimat ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’, adalah makam Gajahmada sangat diragukan, mengingat bahwa batu nisan itu dibuat tidak sejaman dengan saat Gajahmada meninggal.

Syeikh Mada, yang disebutkan oleh pengarang buku mengacu kepada Gajahmada, tidak didukung oleh bukti sejarah yang valid. Tidak ada satupun sumber sejarah yang menyebutkan bahwa Syeikh Mada adalah Gajahmada.

Letak Madakaripura

Masih di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di kawasan wisata Gunung Bromo tidak jauh dari lautan pasir Bromo, hanya sekitar 45 menit ke arah Probolinggo (ke Utara). Ada satu tempat namanya Air Terjun Madakaripura, tepatnya terletak di desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo.

Menurut penduduk setempat nama ini diambil dari cerita pada zaman dahulu, konon Patih Gajahmada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di air tejun ini.

Penduduk sekitar mengisahkan bahwa cerita ini didukung dengan adanya arca Gajahmada di tempat parkir area tersebut. Padahal arca tersebut adalah arca modern buatan pematung abad ke 20, sekitar tahun 1980an.

Logika alur ceritanya begini, lokasi air terjun desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo tersebut dinamakan Air Terjun Madakaripura, yang diduga tempat persinggahan terkahir Gajahmada, sehingga dibuatlah patung “Gajahmada” pada tahun 1980an, jadi bukan karena adanya patung Gajahmada lalu disebut Air Terjun Madakaripura.

Dari segi sejarah, Madakaripura (yang air terjun) belum dapat dikatakan sebagai situs purba peninggalan Gajahmada, berkenaan karena belum ditemukan bukti-bukti sejarah yang konkrit berupa tamla prasasti, epik, rontal ataupun yang sejenis, yang menyebutkan bahwa Madakaripura (menurut Nāgarakṛtāgama) adalah Madakaripura (yang air terjun).

Terlepas dari semua itu, sebagai tempat tujuan wisata, Air Terjun Madakaripura menyajikan pesona alam yang indah. Mungkin saja Sang Maha Patih Gajahmada yang hampir seluruh hidupnya diabdikan pada negaranya, maka di hari-hari senja beliau, Sang Maha Patih Gajahmada ingin menghibur diri dengan menikmati keindahan alam Bromo ini, seraya melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin). Hyang Wisesa Yang Maha Wikan. Tuhan Yang Maha Tahu.

Beberapa tempat yang diduga tempat lahir dan pemakaman Maha Patih Gajahmada:

a. Gajah Mada lahir di Dataran Malang di gugusan pegunungan Kawi dan Arjuna;
b. Gajah Mada lahir di Dataran tinggi sebuah desa di kaki Gunung Semeru yang bernama desa Maddha;
c. Gajah Mada lahir di Desa Modo Kabupaten Lamongan;
d. Gajah Mada lahir di Swarnadwioa, berasal dari Kerajaan Darmasraya.
e. Gajah Mada lahir dan moksa di Buton;
f. Gajah Mada adalah keturunan Mongol, anak salah seorang tentara Kubilai Khan.
g. Gajah Mada lahir di Bali;
h. Gajah Mada lahir di Pandaan;
i. Gajah Mada lahir di desa Mada atau di dusun Mada Karipura (Madakaripura?)
j. Selain itu ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa:

i. Gajah Mada adalah orang India, karena wajahnya bukan seperti wajah “wong Jåwå”

ii. Teori yang lebih spekulatif dan asal-asalan malah mengatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Sumatra, tetapi alasannya karena adanya binatang Gajah dan istilah “Mada” hanya ada di Sumatra. Tentunya pendapat ini sangat menggelikan, karena meskipun Gajah asli Sumatra, tapi kan Raja-raja Jawa dapat saja mendatangkan/ membelinya, jadi Gajah bukan hal yang aneh di Jawa. Istilah “Mada” juga ada dalam kosakata Jawa.

iii. Ada juga yang menyatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Dompo, Sumbawa, karena di sana ada kuburan Gajah Mada. Tentunya soal kuburan bisa saja dibuat dan diperakukan. Atau mungkin juga Gajah Mada yang lain, yang bukan di zaman Majapahit, atau tokoh lokal yang kharisma kepemimpinannya mirip tindak tanduk Gajah Mada, meski ruang-lingkupnya tidak setenar Gajah Mada Majapahit.

iv. Gajah Mada adalah orang Sunda, punggawa di Pajajaran lalu jatuh cinta dengan putri Pajajaran tetapi ditolak rajanya. Kecewa lalu ia bekerja di Majapahit.

v. Yang agak mengherankan adalah daerah Jawa Tengah yang tidak pernah menyatakan bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah dan juga tidak pernah diceritakan dalam naskah, legenda manapun, bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah.

vi. Gajah Mada adalah orang Banten yang pernah menjalin cinta dengan Dyah Pitaloka, dan keduanya sepakat untuk hidup bersama.

vii. Malahan ada juga teori yang menyatakan bahwa Gajah Mada orang Dayak di Kalimantan, karena di wilayah Dayak Krio ada tokoh bernama Jaga Mada yang diutus Demung Adat Kerajaan Kutai untuk menjelajah Nusantara. Namun teori ini dari segi logika hubungan dengan Majapahit sangat lemah. Mungkin juga dia adalah tokoh lokal yang dihormati oleh masyarakatnya setara dengan penghormatan terhadap Gajah Mada Majapahit.

viii. Dan kemudian, ada juga teori yang menyatakan, bahwa Gajah Mada itu mungkin benar lahir di wilayah Pamotan-Lamongan, namun bukan anak Raden Wijaya sebagaimana disebutkan oleh folklore di Modo, akan tetapi lahir dari ibu yang dinikahi Pasukan Mongol yang melarikan diri dari induk pasukannya.

Teori ini agak lemah, karena Pasukan Mongol yang ternyata bukan hanya dipimpin oleh Jendral-jendral Mongol, namun juga disertai oleh Kaisar Mongol sendiri, dibantai habis oleh Pasukan Raden Wijaya dan sisanya melarikan diri ke perahu di pelabuhan Ujung Galuh dan Tuban lalu segera pergi berlayar kembali ke Cina, sudah begitu di Cina mereka dibantai lagi oleh anak petani Cina yang sudah bosan dijajah Mongol lalu memberontak atas bantuan pasukan Majapahit dan kemudian merajakan diri, memerdekakan Cina dari penjajahan Mongol ratusan tahun. Pendapat ini, sangat sesuai dengan yang dikandung dalam kitab kuno “Tembang Harsawijaya” dan Prasasti Kertarajasa.

Jadi, kalaupun ada sepuluh – tiga puluh orang pasukan Mongol yang mampu menyelamatkan diri lalu lari ke hutan, tentu butuh waktu berpuluh-berbelas tahun baru berani menampakkan diri keluar dari hutan, lalu berani menikahi wanita lokal. Hal itu persis seperti yang dilakukan oleh pelarian pasukan Jepang di zaman perang kemerdekaan Indonesia, dan baru berani muncul dari hutan ketika Indonesia sudah lama merdeka dan melupakan suasana peperangan.

Padahal Gajah Mada lahir hanya setahun dua tahun dari peristiwa pembantaian Pasukan Mongol oleh Pasukan Majapahit. Maka, pasti ibunya tidak dinikahi oleh pasukan Mongol, melainkan oleh pemimpin pasukan Majapahit yang merayakan kemenangan, atau kalau merujuk ke folklor Modo, dinikahi — semacam nikah siri-lah– istilahnya oleh Raden Wijaya sendiri, dalam rangka pesta perayaan kemenangan, karena pertempuran hebat menumpas Pasukan Mongol memang terjadi di wilayah Lamongan.

Namun di atas semua teori dan tafsir sejarah, manusia hanya bisa berteori berdasar alasan-alasan dan data-data yang masuk akal, namun tak berhak mengklaim yang paling benar. Masih diperlukan penelitian secara aksiologis untuk menguak tabir kisah Maha Patih Gaja Mada yang penuh dengan misterius selama ini oleh para ahli antropolog budaya, ahli ethnologis, ahli arkeologis dan ahli sejarah guna mendapatkan suatu naskah sejarah Indonesia yang benar.

Tetapi bila ada pernyataan bahwa Gajahmada adalah sorang muslim dengan nama Gaj Ahmada, sungguh suatu kesimpulan yang dipaksakan dan tidak ada dasarnya.

ånå tutugé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Telah Terbit on 12 November 2011 at 07:05  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit-bagian-ketiga/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wikipedia

    Seri Surya Majapahit

  2. Terima kasih, nambah ilmu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: