Seri Surya Majapahit – Bagian ketiga

On 13 November 2011 at 11:00 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun
Sugêng énjang andungkap siyang

Mugi pinaringå karahayon ing dintên punikå. Tinêbihnå ing sambékålå. Aamin.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:
Kerajaan Majapahit. Fakta Sejarah Yang Tidak Tersembunyi [Parwa ka-03] On 12 November 2011 at 01:18 JdBK 40

Waosan kaping-56 (episode tancêp kayon):

KERAJAAN MAJAPAHIT
FAKTA SEJARAH YANG TIDAK TERSEMBUNYI –Parwa ka-4–

VII. Syeikh Maulana Malik Ibrahim adalah hakim agama Islam kerajaan Majapahit

Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam jajaran Wali Sångå yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit.

Atas dasar itu pengarang buku berkesimpulan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.

Pada nisan makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Syeikh Maghribi atau Sunan Gresik, terdapat inskripsi yaitu surat al-Baqarah ayat 225 (ayat Kursi), surat Ali Imran ayat 185, surat al-Rahman ayat 26-27, dan surat al-Taubah ayat 21-22 serta tulisan dalam bahasa Arab yang artinya:

Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, kebanggaan para pangeran dan sebagai petunjuk sekalian para Sultan dan Menteri, penolong para kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridhaNya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah. atau 8 April 1419M atau tahun 1341Ç.

Pernyataan di atas dengan mudah dapat kita bantah, bahwa tidak ada dalam inskripsi tersebut yang menyatakan bahwa beliau adalah hakim agama Islam di kerajaan Majapahit.

Terjemahan Sultan dan Menteri dalam inskripsi tersebut ditujukan untuk Sultan Samudera Pasai, karena nisan Maulana Malik Ibrahim berasal dari Pasai yang memiliki kemiripan dengan nisan makam sultan-sultan dari Samudera Pasai. Sultan dan menteri yang berduka dengan meninggalnya Maulana Malik Ibrahim itu berasal dari Gujarat dan Samudera Pasai, yang mengirimkan jirat dan nisan beserta pertulisannya tersebut, sebagai tanda hormat kepadanya.

Dalam hal, kalau memang perkataan Sultan dan Menteri itu merujuk kepada Majapahit, mengapa di peninggalan Majapahit seperti di candi-candi, tidak menggunakan huruf Arab?

Dan kalau memang Maulana Malik Ibrahim pernah menjabat sebagai menteri kerajaan, lalu apakah berarti Majapahit merupakan negara Islam?

Laksamana Cengho juga seorang muslim, tapi Kekaisaran Tiongkok tidak/bukan merupakan negara Islam.

Menurut Prasasti-prasasti yang ditemukan era Majapahit (Prasasti Waringin Pitu 1447 M; Piagam Bendansari, Prasasti Brumbung 1329M, dan sebagainya).

Prasasti-prasasti tersebut semacam Surat Keputusan Prabu Majapahit tentang pengangkatan para “tanda” (kalau sekarang pejabat pemerintah, pegawai negeri sipil, anggota tentara, polisi, dan para penyelenggara negara lainnya).

Pejabat yuridiksi yang menangani masalah-masalah keagamaan, era Majapahit disebut Dharmadhyaksa.

Dharmadhyaksa bertindak sebagai dan pemuka agama (dalam hal ini adalah Hindu dan Budha), dan dari piagam atau prasasti yang sempat ditemukan, ternyata tidak terdapat adanya pejabat-pejabat yang menangani masalah-masalah keagamaan Islam.

Untuk gambaran selengkapnya berikut urutan Tata Pemerintahan Kerajaan Majapahit:

1. raja;
2. yuwaraja/kumaraja (raja muda);
3. rakryan mahamatri katrini;
4. rakryan mantri ri pakirakiran;
5. dharmadhyaksa.

1. Raja.

Raja adalah pemegang otoritas tertinggi, baik dalam kebijakan politik mau pun istana lainnya. Kedudukannya diperoleh dari hak waris yang telah digariskan secara turun-temurun. Di samping raja, ada kelompok yang disebut sebagai Bhatara Sapta Prabu semacam Dewan Pertimbangan Agung.

Dalam Nāgarakṛtāgama (Pupuh 73:2), dewan ini disebut pahom narendra yang beranggotakan sembilan orang; sedangkan dalam Kidung Sundayana disebut Sapta Raja.

kunang i pahom narendra haji rama sang prabhu kalih sireki pinupul
ibu haji sang rwa tansah athawanuja nrepati karwa sang priya tumut
gumunita sang wruheng gumunadosa ning bala gumantyane sang apatih
linawelawo ndatan hana katrpti ning twas mangun wiyoga sumusuk

Pada masa Raja Dyah Hayam Wuruk, mereka yang menduduki jabatan tersebut di antaranya:

1. Raja Hayam Wuruk;
2. Kertawardhana (Ayah Sang Raja);
3. Tribhuwana Tunggadewi (Ibu Suri);
4. Rajadewi Maharajasa (Bibi Sang Raja);
5. Wijayarajasa (Paman Sang Raja);
6. Rajasaduhiteswari (Adik Sang Raja);
7. Rajasaduhitendudewi (Adik Sepupu Sang Raja);
8. Singawardhana (Suami Rajasaduhiteswari);
9. Rajasawardhana (R. Larang, Suami Rajasaduhitendudewi).

2. Yuwaraja/Rajakumara/Kumaraja (Raja Muda)

Jabatan ini biasanya diduduki oleh putra mahkota. Dari berbagai prasasti dan Nāgarakṛtāgama diketahui bahwa para putra mahkota sebelum diangkat menjadi raja pada umumnya diberi kedudukan sebagai raja muda.

Misalnya, Jayanagara sebelum menjadi raja, terlebih dahulu berkedudukan sebagai rajakumara di Daha. Hayam Wuruk sebelum naik takhta menjadi raja Majapahit, terlebih dahulu berkedudukan sebagai rajakumara di Kabalan. Jayanegara dinobatkan sebagai raja muda di Kadiri tahun 1295.

Pengangkatan tersebut dimaksud sebagai pengakuan bahwa raja yang sedang memerintah akan menyerahkan hak atas takhta kerajaan kepada orang yang diangkat sebagai raja muda, jika yang bersangkutan telah mencapai usia dewasa atau jika raja yang sedang memerintah mangkat.

Raja muda Majapahit yang pertama ialah Jayanegara. Raja muda yang kedua adalah Dyah Hayam Wuruk yang dinobatkan di Kahuripan (Jiwana). Pengangkatan raja muda tidak bergantung pada tingkatan usia. Baik raja Jayanegara mau pun Hayam Wuruk masih kanak-kanak, waktu diangkat menjadi raja muda, sementara pemerintahan di negara bawahan yang bersangkutan dijalankan oleh patih dan menteri.

3. Rakryan Mahamatri Katrini

Jabatan ini merupakan jabatan yang telah ada sebelumnya. Sejak zaman Mataram Kuno, yakni pada masa Rakai Kayuwangi, jabatan ini tetap ada hingga masa Majapahit. Penjabat-penjabat ini terdiri dari tiga orang yakni:
rakryan mahamantri i hino,
rakryan mahamantri i halu,
dan
rakryan mahamantri i sirikan.

Mahamentri Katrini:
Rakryan Menteri i Hino : Dyah Anarjaya
Rakryan Menteri i Halu : Dyah Mano
Rakryan Menteri i Sirikan : Dyah Lohak

Ketiga penjabat ini memunyai kedudukan penting setelah raja, dan mereka menerima perintah langsung dari raja. Namun, mereka bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah raja; titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya.

Di antara ketiga penjabat itu, rakryan mahamantri i hinolah yang terpenting dan tertinggi. Ia memunyai hubungan yang paling dekat dengan raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti). Oleh sebab itu, banyak para ahli yang menduga jabatan ini dipegang oleh putra mahkota.

4. Rakryan Mantri ri Pakirakiran

Jabatan ini berfungsi semacam Dewan Menteri atau Badan Pelaksana Pemerintah. Biasanya terdiri dari lima orang rakryan (para tanda rakryan), yakni:

1. Rakryan Mahapatih atau Patih Amangkubhumi;
2. Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan);
3. Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan);
4. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima);
5. Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas upacara).

Sang Panca Wilwatika:

Rakryan Patih Majapahit : Pu Krewes
Rakryan Demung : Pu Tanparowang
Rakryan Kanuruhan : Pu Blen
Rakryan Rangga : Pu Roda
Rakryan Tumenggung : Pu Wayuh

Para tanda rakryan ini dalam susunan pemerintahan Majapahit sering disebut Sang Panca ring Wilwatikta atau Mantri Amancanagara. Dalam berbagai sumber, urutan jabatan tidak selalu sama.

Namun, jabatan rakryan mahapatih (patih amangkubhumi) adalah yang tertinggi, yakni semacam perdana menteri (mantri mukya). Untuk membedakan dengan jabatan patih yang ada di Negara daerah (provinsi) yang biasanya disebut mapatih atau rakryan mapatih, dalam Nāgarakṛtāgama jabatan patih amangkubhumi dikenal dengan sebutan apatih ring tiktawilwadika.
Gajah Mada sebagai patih adalah Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mapatih Gajah Mada.

Berikut Nama Nama Patih Majapahit menurut Kitab Pararaton :
1. Mahapatih Nambi 1294 – 13162.
2. Mahapatih Dyah Halayuda (Mahapati) 1316 – 13233.
3. Mahapatih Arya Tadah (Empu Krewes) 1323 – 13344.
4. Mahapatih Gajah Mada 1334 – 1364
5. Mahapatih Gajah Enggon 1367 – 1394.
6. Mahapatih Gajah Manguri 1394 – 13987.
7. Mahapatih Gajah Lembana 1398 – 14108.
8. Mahapatih Tuan Tanaka 1410 – 1430

5. Dharmadhyaksa

Dharmadhyaksa adalah penjabat tinggi yang bertugas secara yuridis mengenai masalah-masalah keagamaan. Jabatan ini diduduki oleh dua orang, yaitu:
1. Dharmadhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa,
2. Dharmadhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Buddha.

Masing-masing dharmadhyaksa ini dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut dharmaupapatti atau upapatti, yang jumlahnya amat banyak.

Pada masa Hayam Wuruk hanya dikenal tujuh upapatti, yakni: sang upapatti sapta:
i. sang pameget i tirwan,
ii. kandhamuni,
iii. manghuri,
iv. pamwatan,
v. jhambi,
vi. kandangan rare,
dan
vii. kandangan atuha.

Di antara upapatti itu ada pula yang menjabat urusan sekte-sekte tertentu, misalnya: bhairawapaksa, saurapaksa, siddahantapaksa, sang wadidesnawa, sakara, dan wahyaka.

6. Paduka Bhatara (Raja Daerah)

Dalam pembentukannya, kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan Singasari, terdiri atas beberapa kawasan tertentu di bagian timur dan bagian tengah Jawa. Daerah ini diperintah oleh uparaja yang disebut Paduka Bhattara yang bergelar Bhre,

Gelar ini adalah gelar tertinggi bangsawan kerajaan mereka berada di bawah raja Majapahit sebagai raja-raja daerah yang masing-masing memerintah sebuah negara daerah. Biasanya mereka adalah saudara-saudara raja atau kerabat dekat.

Tugas mereka adalah untuk mengelola kerajaan mereka, memungut pajak, dan mengirimkan upeti ke pusat, dan mengelola pertahanan di perbatasan daerah yang mereka pimpin.

Selama masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 s.d. 1389) ada 12 wilayah di Majapahit, yang dikelola oleh kerabat dekat raja (Lihat pada waosan berikutnya tentang Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit).

Tanda


1. Rakryan;
2. Arya;
3. Dang Akarya.

Di Majapahit para pegawai pemerintahan disebut tanda, masing-masing diberi sebutan atau gelar sesuai dengan jabatan yang dipangkunya. Dalam hal kepegawaian, sebutannya mengalami perubahan dari masanya; gelar yang sama Kerajaan Mataram belum tentu bermakna yang sama dengan masa Majapahit, misalnya gelar rake atau rakai dan mangkubumi.

Ditinjau dari gelar-sebutannnya seperti yang kedapatan pada pelbagai piagam, tanda ini dapat digolongkan yakni: golongan rakryan atau rakean, golongan arya, dan golongan dang acarya.

1. Rakryan

Rakryan disebut juga Rakean, beberapa piagam, di antaranya Piagam Surabaya, menggunakan gelar rake yang maknanya sama dengan rakryan. Jumlah jabatan yang disertai gelar rakryan terbatas sekali. Para tanda yang berhak menggunakan gelar rakryan atau rake seperti berikut:

1. Mahamantri katrini, yaitu:
mahamantri i hino, mahamantri i sirikan, dan mahamantri i halu.

Misalnya, pada Piagam Kudadu tertulis:
a. rakryan mantri i hino adalah Dyah Pamasi;
b. rakryan mantri i sirikan adalah Dyah Palisir;
c. rakryan mantri i halu adalah Dyah Singlar.

2. Pasangguhan, sama dengan hulubalang (Kalau sekarang setara dengan pejabat yang bertanggung-jawab pertahanan dan keamanan negara, setingkat menetri pertahanan, atau panglima tentara). Pada zaman Majapahit hanya ada dua jabatan pasangguhan, yakni: pranaraja dan nayapati.

Misalnya, pada Piagam Kudadu, tarikh 1294:
a. mapasanggahan sang pranaraja, Rakryan mantra Mpu Sina (nama ini ditemukan juga dalam Piagam Penanggungan)
b. mapasanggahan sang nayapati, Mpu Lunggah.

Pada zaman awal Majapahit, ada empat orang pasangguhan, yakni dua orang yang disebutkan di atas ditambah rakryan mantri dwipantara Sang Arya Adikara dan pasangguhan Sang Arya Wiraraja.

3. Sang Panca Wilwatikta, yakni lima orang pembesar yang diserahi urusan pemerintah Majapahit. Mereka itu rangga dan tumenggung.

Piagam Penanggungan menyebut:
a. Rakryan Apatih adalah Pu Tambi,
b. Rakryan Demung adalah Pu Rentang,
c. Rakryan Kanuhunan adalah Pu Elam,
d. Rakryan Rangga adalah Pu Sasi, dan
e. Rakryan Tumenggung adalah Pu Wahana.

4. Juru pangalasan, yakni pembesar daerah mancanegara. Piagam Penanggungan menyebutkan raja Majapahit sebagai Rakryan Juru Kertarajasa Jayawardana atau Rakryan Mantri Sanggramawijaya Kertarajasa Jayawardhana. Piagam Bendasari menyebut Rake Juru Pangalasan Pu Petul.

5. Para patih negara-negara bawahan.
Pada Piagam Sidateka tarikh 1323 disebutkan:
a. Rakryan Patih Kapulungan: Pu Dedes;
b. Rakryan Patih Matahun: Pu Tanu.

Piagam Penanggungan, tarikh 1296, menyebut Sang Panca ri Daha dengan gelar rakryan, karena Daha dianggap sejajar dengan Majapahit.

2. Arya

Para tanda arya mempunyai kedudukan lebih rendah dari rakryan, dan disebut pada piagam-piagam sesudah Sang Panca Wilwatikta. Ada berbagai jabatan yang disertai gelar arya. Piagam Sidakerta memberikan gambaran yang agak lengkap, yakni:

1. Sang Arya Patipati: Pu Kapat;
2. Sang Arya Wangsaprana: Pu Menur;
3. Sang Arya Jayapati: Pu Pamor;
4. Sang Arya Rajaparakrama: Mapanji Elam;
5. Sang Arya Suradhiraja: Pu Kapasa;
6. Sang Arya Rajadhikara: Pu Tanga;
7. Sang Arya Dewaraja: Pu Aditya;
8. Sang Arya Dhiraraja: Pu Narayana.

Karena jasa-jasanya, seorang arya dapat dinaikkan menjadi wreddhamantri atau mantri sepuh. Baik Sang Arya Dewaraja Pu Aditya maupun Sang Arya Dhiraraja Pu Narayana mempunyai kedudukan wreddhamantri dalam Piagam Surabaya.

3. Dang Acarya

Sebutan ini khusus diperuntukkan bagi para pendeta Siwa dan Buddha yang diangkat sebagai dharmadhyaksa (hakim tinggi) atau upapatti (pembantu dharmadhyaksa kesiwaan dan dharmadhyaksa kebuddhaan).

Jumlah upapatti semula hanya berjumlah lima, semuanya dalam kasaiwan (kesiwaan); kemudian ditambah dua upapatti kasogatan (kebuddhaan) di kandangan tuha dan kandangan rahe.

Dengan demikian, semuannya berjumlah tujuh dalam pemerintahan Dyah Hayam Wuruk. Pembesar-pembesar pengadilan ini biasanya disebut sesudah para arya.

Contohnya, susunan pengadilan seperti yang dipaparkan dalam Piagam Trawulan, tarikh 1358, sebagai berikut.
1. Dharmadhyaksa Kasaiwan: Dang Acarya Dharmaraja;
2. Dharmadhyakasa Kasogatan: Dang Acarya Nadendra;
3. Pamegat Tirwan: Dang Acarya Siwanata;
4. Pamegat Manghuri: Dang Acarya Agreswara;
5. Pamegat Kandamuni: Dang Acarya Jayasmana;
6. Pamegat Pamwatan: Dang Acarya Widyanata;
7. Pamegat Jambi: Dang Acarya Siwadipa;
8. Pamegat Kandangan Tuha: Dang Acarya Srigna;
9. Pamegat Kandangan Rare: Dang Acarya Matajnyana.

Tambahan dua orang upapatti yang biasa disebut (sang) pamegat dilakukan sesudah tahun 1329, yakni pada zaman pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, karena pada Piagam Berumbung, pamegat kandangan tuha dan rare belum disebut. Penyebutan yang pertama didapati yang pertama terdapat pada Piagam Nglawang, tidak bertarikh.

VIII. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’

Koin-koin emas semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid. Demikian pengarang buku menyimpulkan.

Pada tahun 2009, Tim Evaluasi Neo Pusat Informasi Majapahit (Neo PIM) menemukan peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit di situs Trowulan. Hampir semua benda kuno yang dimiliki masyarakat pada masa itu ditemukan.

Keris, mata tombak serta alat pembuat mata tombak juga ditemukan tim eskavasi. Dari temuan-temuan itu, menandakan jika lokasi yang digali merupakan wilayah padat penduduk. Sejumlah alat rumah tangga kuno juga ditemukan. Berikut sisa-sisa lantai dan dinding rumah.

Temuan-temuan ini sekaligus memberikan penilaian dari tim evaluasi jika masyarakat Majapahit memiliki peradaban yang tinggi. Benda-benda ini menandakan jika masyarakat Majapahit bisa menyalip seniman dan arsitektur jaman sekarang.

Temuan paling mencengangkan adalah ribuan mata uang kuno yang berasal dari Cina Tiongkok. Mata uang tersebut bertuliskan huruf Tiongkok, dan jumlahnya sekitar 60 ribu keping. Bahannya terbuat dari perunggu dan berlubang di bagian tengahnya,

Mata uang bertuliskan huruf Cina dalam jumlah yang banyak itu menandakan jika Majapahit pernah menjalin hubungan dagang dengan kerajaan di Cina. Itu juga diperkuat dengan sejumlah keramik asal Cina yang ditemukan dalam kondisi yang sudah terpecah belah.

Apakah ini menandakan bahwa Majapahit adalah kerajaan yang beragama Konghucu, Taoisme, atau agama apapun yang berasal dari Tiongkok? Tentu tidak.

Majapahit sendiri punya uang lokal yang disebut dengan Gobog. Uang Tiongkok, uang bertuliskan kalimat-kalimat berbahasa Arab (Islam), dan sebagainya, adalah fenomena yang tidak bisa dipungkiri, karena aktivitas dagang. Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur memastikan bahwa koin tersebut berasal dari era Majapahit.

Sekedar ilustrasi, bahwa hubungan perdagangan antara Cina, Jawa dan Arab, telah berlangsung berabad-abad, apalagi semenjak ditemukannya Jalur Sutra yang sangat terkenal itu.

Pada akhir abad ke-12, sekitar tahun 1178 ketika seorang penulis, dan juga seorang pengelana Cina bernama Chou Ku Fei menulis dalam karyanya Ling Wai Taita, suatu catatan muhibah ke She Po (dialek Cina untuk Tanah Jawa), dia seorang jurnalis, seperti Empu Prapanca dengan Nagarakertagamanya. Buku ini berisi gambaran kehidupan tata pemerintahan, keadaan istana raja, dan perdagangan di Tanah Jawa semasa Kerajaan Kadiri (Panjalu).

Buku ini kemudian dikutip oleh Chau Ju Kua dalam karyanya yang berjudul Chu Fan Chi atau Catatan Negeri-negeri Asing pada tahun 1225. Saat itu kerajaan Kadiri sudah dikalahkan kerajaan Tu-ma-pan(Tumapel/Singasari).

Disebutnya bahwa kerajaan di Tanah Jawa yang terkenal adalah Pui Chi Lung. Disebutkan bahwa perdagangan antara Cina dan Pui Chi Lung telah berkembang pesat. Pui Chi Lung banyak mengekspor hasil bumi dan hasil hutan ke Cina.

Tentang perdagangan ini selanjutnya Chou Ku Fei menulis: “Di antara negara-negara asing yang kaya, yang di tepi pelabuhannya mempunyai gudang-gudang berisi berbagai macam barang-barang yang sangat berharga adalah Pui Chi Lung. Kekayaannya hanya bisa ditandingi oleh negara Ta Shi; adapun San Fo Tsi belum bisa menyamai keduanya; kemudian baru yang lainnya.”

Pui Chi Lung (transliterasi Cina dari nama tempat di Jawa: Panjalu). Pada waktu itu Panjalu dan Janggala telah bersatu kembali berkat kemenangan Prabu Jayabhaya pada tahun 1135. Pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur telah dikuasi oleh Panjalu.

Ta-shi, suatu negara di Timur Tengah, Ta-shi transliterasi Cina, diduga adalah Arab; mengingat dalam tulisan selanjutnya disebut “raja Ta-shi” yang bernama Han-mi-mo-mi-ni mengirimkan utusan ke istana Cina, dan ke She Po. Boleh dipastikan bahwa nama ini adalah ucapan Cina untuk Amirul Mu’minin, gelar resmi para khalifah Islam.

Sedangkan San Fo Tsi adalah Suwarna Bhumi atau Sumatra, mungkin yang dimaksud adalah Sriwijaya.

Adalah wajar, bila alat tukar yang dipakai para pedagang pada masa itu adalah uang logam atau koin asing dari masing-masing etnis, mengingat semakin kompleksnya perekonomian di Tanah Jawa, maka selain alat tukar resmi, dalam sistem mata uang Majapahit, yang dikeluarkan oleh pihak kerajaan Majapahit, yang dikenal dengan Gobog, maka alat tukar lainnya, sebagai alat tukar “valuta asing” agar dapat digunakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari di pasar Majapahit.

Penemuan koin emas yang bertuliskan kalimat tauhid dengan huruf Arab ini menandakan para pedagang dari Timur Tengah telah menjalin hubungan dagang dengan para pedagang nusantara, khususnya Majapahit.

Terlalu tergesa-gesa bila menyimpulkan Majapahit adalah Kerajaan Islam karena ditemukannya koin emas berlafazkan “La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah”.

Penduduk lokal Majapahit mungkin sudah ada yang memeluk Islam yang disebarkan para pedagang/ulama yang datang dari Timur Tengah, tapi tidak dapat disimpulkan bahwa kerajaan Majapahit adalah kerajaan/kesultanan Islam.

Majapahit adalah negara besar. Banyak pedagang dari seluruh dunia yang berbisnis di wilayah Majapahit. Tentu saja, akan banyak ditemukan uang-uang asing di wilayah Majapahit.

IX. Telapak kaki Purnawarman dan sedekah 1000 ekor sapi

Melihat prasasti yang tercetakkan telapak kaki Purnawarman. Pengarang buku menyimpulkan bahwa hal itu menunjukkan Purnawarman mengikuti tradisi Nabi Ibrahim as. Dia menyandarkan teorinya pada cetakan telapak kaki Ibrahim pada Maqam Ibrahim yang letaknya beberapa langkah dari pintu Ka’abah. Sehinga disimpulkan oleh pengarang buku bahwa Purnawarman menganut agama Ibrahim as.

Demikian halnya dengan sedekah 1000 ekor sapi, disebut oleh pengarang buku, bahwa Purnawarman melakukan pemotongan hewan qurban mengikuti ajaran Nabi Ibrahim as.

Benarkah????

Bahasan berikut, dan dengan disertakan bukti-bukti sejarah, menunjukkan hal lain:

1. Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun terletak di desa Ciaruteun Hilir, kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Tempat ditemukannya prasasti ini merupakan bukit (bahasa Sunda: pasir) yang diapit oleh tiga sungai: sungai Cisadane, Cianten, dan Ciaruteun.

Sampai abad ke-19, tempat ini masih dilaporkan sebagai Pasir Muara, yang termasuk dalam tanah swasta Ciampéa, sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.

Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari tiga baris dan pada bagian bawah tulisan terdapat pahatan gambar umbi dan sulur-suluran (pilin), sepasang telapak kaki dan laba-laba.

Isinya:

vikkrantasyavanipat eh
srimatah purnnavarmmanah
tarumanagarendrasya
visnoriva padadvayam

[inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawamman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia].

Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut). Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat

2. Prasasti Telapak Gajah

Tak jauh dari lokasi terdapat pula tiga situs lainnya, yakni Prasasti Kebun Kopi, Situs Congklak, dan Prasasti Batutulis. Prasasti Kebun Kopi dinamakan demikian karena prasasti ini ditemukan di kebun kopi milik Jonathan Rig, dibuat sekira 400 Masehi.

Prasasti ini dikenal pula dengan Prasasti Tapak Gajah karena terdapat cetakan sepasang kaki gajah beserta sebuah prasasti.

Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:

jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam

[Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.]

Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.

3. Prasasti Tugu

Prasasti Tugu adalah salah satu prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanegara. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.

Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

Prasasti Tugu ditemukan di kampung Batutumbuh, desa Tugu, sekarang menjadi wilayah kelurahan Tugu Selatan, kecamatan Koja, Jakarta Utara.

pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau//
pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana//
prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih
ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka//
pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//

[Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur.

Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) beliau pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman).

Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan, Untuk membajak sawah.]

Tidak diperoleh adanya penjelasan bahwa Purnawarman penganut Agama Ibrahim; tidak pula terdapat penjelasan bahwa budaya cap telapak kaki harus mutlak tradisi Ibrahim.

Jelas Purnawarman sangat menghormati Batara Wisnu dan Indra bahkan gajah tunggangannya diberi nama Airawata, gajah tungangan Batara Indra.

Adapun tentang hadiah 1000 ekor sapi, dalam prasasti tidak pernah terdapat kalimat sapi tersebut disembelih untuk dijadikan qurban (sebagaimana diduga pengarang buku, mengikuti jejak Nabi Ibrahim as).

Pada penutup prasasti disebutkan “untuk membajak sawah”. Hal ini diperkuat adanya kata Gomati (dalam bahasa Sansekerta berarti kadang sapi atau tempat pemeliharaan sapi untuk diperah susunya), jadi bukan ternak potong).

Tidak jauh dari DAS Kali Bekasi (dahulu Chandrabhaga — Chandra = Sasi = Bulan, Chandrabhaga berubah nama menjadi Bhagasasi, akhirnya Bekasi) — Ada perkampungan dengan nama Kandang Sampi.

Diduga tempat ini adalah tempat peternakan sampi (=sapi) hadiah Purnawarwan untuk penduduk sekitar tempat pengalian Kali Chandrabhaga. Kini Kampung Kandang Sampi masuk wilayah Cilincing Jakarta, dengan kode pos 14140.

X. Tidak ada pengaruh India.

Pengarang buku memberikan pernyataan bahwa sama sekali tidak ada kata dari salah satu bahasa yang dipakai secara lisan, kesenian di India pada jaman dahulu yang tersisa di Indonesia.

Disebutkan selanjutnya bahwa suatu dominasi politik oleh orang-orang India (yang konon beragama Hindu atau Budha) sama sekali tidak mungkin.

Benarkah????

Suatu hal yang sangat aneh dan janggal. Langsung atau tidak langsung. Suka atau tidak suka pengaruh India itu ada.

a. Budaya: kesenian (tarian, wayang). Bukankah Kakawin Mahabharata, Ramayana, dan Bharatayudha “asli’ made in India?

b. Bahasa, khususnya nama orang atau nama benda seperti Aryo, Haryo, Pandu, Sri, Dewi, Endhang, Agung, Nugraha, Ardi, Bantala, Seta, Cakra, Mandala, Agni, Tirta, Ksatria, Perwira, Gusti, Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca, Sad, Sapta, Hasta, Nawa, Dasa, dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

c. Politik: Tata pemerintahan Kerajaan Majapahit dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan India.

d. Hukum dan Undang-undang yang berlaku pada masa Majapahit adalah Kitab Kutaramanawa berasal dari Manawa Dharma Sastra yang berdasrkan Kitab Suci Weda dan Bhagawat Gita. yang berasal dari India.

XII. Ekspedisi Pamalayu adalah ekspedisi silaturahmi antara Singasari dan Suwarnabhumi serta Champa.

Pengarang buku menyimpulkan bahwa Ekspedisi Pamalayu adalah kunjungan silaturahmi dan kekeluargaan antara Kerajaan Singasari di Tanah Jawa dan Kerajaan Dharmasraya di Tanah Melayu.

Pendapat ini jelas sangat meremehkan dan mengecilkan arti semangat “nasionalisme” Sang Prabu Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa. atau Kertanagara yang bergelar Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa.

Serbuan ke Tanah Melayu yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu, sebagai sebuah operasi militer yang dilakukan Kerajaan Singasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275-1293 terhadap Kerajaan Melayu Dharmasraya di Pulau Sumatera.

Adalah Kertanegara, raja agung Singasari yang berjasa besar menghalau kekuatan asing untuk bercokol di bumi nusantara. Adalah sebuah nasionalisme yang tinggi. Prabu Kertanegara berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa.

Ekspedisi Pamalayu adalah wujud nyata semangat nasionalisme Sang Prabu Kertanagara, sebagai pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Ingsun Tan Amukti Palapa, Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada yang kelak menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bagaimana mungkin sebuah peristiwa peperangan besar mengusir dominasi asing (Cina, Kubilai Khan) dari Tanah Melayu, oleh pengarang buku hanya disebut sekedar kunjungan anjangsana silaturahmi????

Nāgarakṛtāgama pupuh 41 (5) menyebut pengiriman tentara oleh Kertanagara untuk menaklukkan Melayu pada tahun 1197Ç atau tahun 1275M.

…Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu…

[… Tahun Saka nagasyabhawa (1197Ç/1275M) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,…]

Latar belakang pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menghadang serbuan bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah.

Saat itu wilayah jajahan bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan atau Dinasti Yuan sedang mengancam wilayah Asia Tenggara. Untuk itu, Kertanagara mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut, dan tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan Kerajaan Singasari.

Semasa pemerintahan Kertanagara merupakan masa keemasan bagi kerajaan Singasari dan Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang bertekad ingin menyatukan wilayah Nusantara, salah satunya diwujudkan dalam ekspedisi Pamalayu.

Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh 41 (5) mengabarkan:

Kathakena muwah narendra krtanagaranghilangaken katungka kujana
Manama cayaraja sirnna rikana sakabda bhujagosasiksaya pejah
Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu
Lewes mara bhayanya sangka rika dewamurti nira nguni kalaha nika.

[Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat,
Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Saka bhujagosasiksaya (1192),
Tahun Saka nagasyabhawa (1197) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,
Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu sahaja].

Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad yang dikatakan sebagai pembalasan terhadap sikap para penguasa Abbasiyah. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Kubilai Khan boleh berjaya di Timur Tengah, tetapi dia kalah oleh Tentara Singosari dari Jawa di Tanah Malayu.

Beberapa tahun kemudian, Tentara Mongol kalah oleh serangan pasukan Raden Wijaya di Surabaya pada tahun 1292, di mana Raden Wijaya mengibarkan Sang Såkå Gulå-Kêlåpå, yang disebut juga Sang Saka Merah-Putih atau Sang Såkå Gêtih-Gêtah, seperti disebut dalam Piagam Butak atau Prasasti Butak yang kemudian dikenal sebagai Piagam Merah Putih.

Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya.

Ada beberapa hal lagi yang kurang pas dan terlalu dipaksakan:

1. kalau Majapahit merupakan kesultanan Islam mengapa peninggalan yang ditemukan tidak pernah ada semacam kubah, kemudian lambang bulan dan bintang dan relief panjang tulisan ayat Al Qur’an yang merupakan simbol khas dari sebuah dinasti muslim, tetapi yang ada adalah candi, arca yang merupakan ciri khas agama Hindu atau Budha.

2. eksodusnya rakyat Majapahit kala itu saat akhir dari masa kejayaan Majapahit ke pulau Bali dimana sampai saat ini kita masih bisa melihat perkembangan agama Hindu.

Islam memang telah ada pada jaman Majapahit dan dinasti saat itu telah memiliki toleransi beragama yang tinggi sehingga tidak menutup kemungkinan rakyat dan perangkat kerajaan beragama islam.

Kesimpulan pengarang buku yang terlalu terburu-buru dan mungkin bisa menyesatkan karena seperti ulasan dalam buku terlihat beberapa hal terlalu dipaksakan seperti pada lambang Majapahit, nama Gajah Mada, asal-usul Raden Wijaya, dsbnya.

Oleh karenanya mereka-mereka yang mengajarkan dan menyebarkan keyakinan bahwa Sanggramawijaya (Raden Wijaya) adalah pemeluk agama Islam, Gajahmada adalah seorang muslim yang nama sebenarnya Gaj Ahmada. Lambang Surya Majapahit bertuliskan huruf-huruf Arab, yang berujung pada kesimpulan bahwa Majapahit adalah kesultanan Islam, sebenarnya sedang mencari legitimasi, tetapi disayangkan bahwa hal itu dilakukan secara membabi-buta dengan mengesampingkan fakta-fakta sejarah yang jelas-jelas memiliki dasar baik berupa piagam atau prasasti, maupun berupa kitab-kitab atau kidung-kidung turun-temurun.

Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa mereka secara jelas, terbuka dan terang-terangan telah mengaburkan fakta-fakta sejarah, dan perbuatan ini dapat digolongkan kepada tindakan pembohongan terhadap publik dan seharusnya memiliki tanggung-jawab moral terhadap bangsa.

REFERENSI:

Beberapa buku yang dijadikan sebagai rujukan adalah milik Badan-badan Pemerintah berikut ini: Perpustakaan Nasional RI, Museum Nasional Jakarta, Museum Negeri Mpu Tantular Surabaya, dan milik atau koleksi pribadi Penulis.

Buku-buku tersebut dalam daftar di bawah ini digunakan sebagai rujukan penulisan Dongeng Arkelogi & Antropologi Seri Surya Majapahit

1. ________, Babad Demak II. Gina dan Babariyanto. Transliterasi Terjemahan Bebas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1981.

2. ________, Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Jakarta 1989.

3. ________, Babad Tanah Djawi versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana (1925).

4. ________, Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terjemahan). Narasi. Yogyakarta 2007.

5. ________, Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Terjemahan dari judul asli: Notes on The Malay Archipelago and Mallaca Compiled from Chinese Sources. Komunitas Bambu. Depok 2009.

6. ________, Sejarah Kebudayaan Indonesia II, Penerbit Kanisius. Yogyakarta 1983.

7. A. Latif Osman, Ringkasan Sejarah Islam, Widjaya. Jakarta 1992.

8. Aan Merdeka Permana, Perang Bubat, Tragedi di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka, Qanita Mizan Pustaka. Bandung 2009.

9. Abas, H.M.S, Drs, M.Si. dkk., Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan di Jawa Timur. Jawa Timur: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. Surabaya 2001.

10. Abdoel Moeis, Hikajat Damar Wulan. G. Kolff. Bandung 1950.

11. Abdul Hadi, WM. Sunan Bonang, Perintis dan Pendekar Sastra Serat. Tulisan Lepas. 1993.

12. Abdul Munir Mulkan, Syekh Siti Jenar, Pergumulan Islam-Jawa.
Yayasan Bentang Budaya. Yogyakarta November 1999.

13. Abu Ahmadi, Drs. Perbandingan Agama. Jilid I. AB Sitti Syamsiyah, Surakarta 1974.

14. Abubakar Aceh, Prof. Dr., Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawwuf. Ramadhani. Surakarta 1989.

15. Abubakar Aceh, Prof. Dr., Sejarah Al Quran Ramadhani. Surakarta 1989.

16. Agus Aris Munandar. Dr. M. Hum., Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian. Komunitas Bambu. Jakarta Desember 2008.

17. Agus Aris Munandar. Dr. M. Hum., Prasasti Mula-Malurung: Pelengkap Sejarah Kerajaan Singhasari, dalam Buku IIa Aspek Sosial Budaya, Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, Cipanas, 3-9 Maret 1986. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Jakarta 1986.

18. Agus Sunyoto, Petunjuk Wisata Sejarah Kabupaten Malang. Malang: Lingkaran Studi Kebudayaan Malang. Malang 2000.

19. Al Murtadho, H. Sayid Husein, dan KH Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman Abd. Djaliel, Keteladanan Dan Perjuangan Wali Sångå Dalam Menyiarkan Islam Di Tanah Jawa. CV Pustaka Setia. Bandung 1999.

20. Alwi Shihab, Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia. Mizan. Jakarta 1998.

21. Amman N. Wahju, Waosan Babad Galuh: Dari Prabu Ciungwanara hingga Prabu Siliwangi (Naskah Kraton Kasepuhan Cirebon), Penerbit Pustaka. Jakarta 2009.

22. Andjar Any, Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? . Aneka Ilmu. Semarang 1980.

23. Andjar Any, Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Aneka Ilmu. Semarang 1989.

24. Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, Volume 1-2, translated from Portuguese, The Hakluyt Society. London, 1944.

25. Atja, Drs, Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang. Bandung. 1968.

26. Ayatrohaedi, DR., Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” dari Cirebon. Pustaka Jaya. Jakarta 2005.

27. Bade, David W., Khubilai Khan and the Beautiful Princess of Tumapel: the Mongols Between History and Literature in Java. A. Chuluunbat. Ulaanbaatar 2002.

28. Bambang Noorsena, Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Andi. Yogyakarta 2007.

29. Bambang Sumadio (Penyunting Jilid), Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Balai Pustaka. Jakarta 1984.

30. Bandung Mawardi, Telusur Babad Tanah Jawi, Kabut. Institut Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Suara Merdeka 17 Mei 2009.

31. Berg, CC, Prof Dr., Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundāyana). De Bliksem. Soerakarta 1927.

32. Berg, CC, Prof Dr., Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen. De Bliksem. Soerakarta 1927.

33. Berg, CC, Prof Dr., Penulisan Sejarah Jawa, (terjemahan), Bhratara. Jakarta 1985.

34. Berg, CC, Prof. Dr., Het rijk van de vijfvoudige Buddha (Verhandelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen, Afd. Letterkunde, vol. 69, no. 1). N.V. Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij. Amsterdam 1962.

35. Bertram Johannes Otto Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two: Ruler and Realm in Early Java W. van Hoeve, The Hague. Bandung 1957.

36. Bhre Tandes Mohamad Hendratnoko, Astadasa Kottamaning Prabhu — 18 Rahasia Sukses Pemimpin Besar Nusantara Gajah Mada — Gramedia. Jakarta 2007.

37. Boechari, Drs., Epigraphic Evidence on Kingship in Ancient Java, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, Jilid V(1), Bhratara. Jakarta 1973.

38. Boechari. Drs., Manfaat Studi Bahasa dan Sastra Jawa Kuna ditinjau dari Segi Sejarah dan Arkeologi. Majalah Arkeologi Tahun I No. 1 1977.

39. Boedenani, H., Sejarah Sriwijaya. Tarate. Bandung 1976.

40. Brandes, Jan Laurens Andries, Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit, bewerkt door Nicolaas Johannes Krom, Verhandelingen 62, Bataviaasch Genootschap. Batavia 1920.

41. Budiono Herusatoto, Simbolisme dalam Budaya Jawa. Hanindita. Yogyakarta 1985.

42. Budya Pradipta Nagara, KRT. Dr., Sumpah Palapa Cikal Bakal Gagasan NKRI Makalah pada “Seminar Naskah Kuno Nusantara dengan tema Naskah Kuno sebagai perekat NKRI”, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta Pusat 2004.

43. Chambert-Loir, Henri, Kerajaan Bima Dalam Sastra dan Sejarah: Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-dewa, Hikayat Sang Bima, Syair Kerajaan Bima Kepustakaan Populer Gramedia & École française d’Extrême-Orient. Damais, Louis-Charles, 1970. Répertoire Onomastique de L’Epigraphie Javanaise (Jusqu’a Pu Sindok Śrī Iśānawikrama Dharmmotuŋgadewa). Paris: École Française D’Extrême-Orient. Jakarta 2004.

44. Christie, J.W., Patterns of Trade in Western Indonesia: Ninth through Thirteenth Centuries A.D. School of Oriental and African Studies, University of London. London 1982.

45. Christie, J.W., Weights and Measures in Early Javanese States, dalam Klokke dkk. Southeast Asian Archaeology. Center of Southeast Asian Studies, University of Hull. Leiden 1998.

46. Clifford James Geertz, Prof.,Santri dan Abangan di Jawa. INIS. Jakarta 1988.

47. Coedes, George The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press. Kuala Lumpur 1968.

48. Coedes, George.The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press. Kuala Lumpur 1968.

49. Damais, Louis-Charles, Etudes d’Epigraphie Indonesienne: III. Liste de principales inscriptions datees de l’Indonesie, Bulletin de l’Ecole Francaise d’Extreme-Orient, tome 46. Paris, 1952.

50. Damais, Louis-Charles, Etudes Javanaises: I. Les tombes musulmanes datees de Tralaya, Bulletin de l’Ecole Francaise d’Extreme-Orient, tome 48. Paris 1957.

51. Djoko Pramono SIP MBA, Mayjen Marinir, Budaya Bahari. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2005.

52. d’Ohsson, Constantin Mouradgea, Chapitre 3 Kublai Khan, Tome III, Histoire des Mongols, depuis Tchinguiz-Khan jusqu’à Timour Bey ou Tamerlan, Adamant Medi. Boston 2002.

53. Drewes, G.W.J. The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang. The Hague Martinus. Nijhoff 1969.

54. Drewes. G.W.J. The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat Dermagandul. Dalam Bijdragen Tot De Taal,- Land- En Volkenkunde Edisi. 122 No. 3. S. Gravenhage-Martinus Nijhoff, Leiden, 1966.

55. Edi Sedyawati. Prof. Dr. Keadaan Masyarakat Jawa Kuna Masa Kadiri dan Masalah Penafsirannya. Satyawati Suleiman (eds.) Pertemuan Ilmiah Arkeologi III. Puslitarkenas. Jakarta 1985.

56. Edi Sedyawati. Prof. Dr. Pembagian Peranan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Budaya. Diskusi Ilmiah Arkeologi XIII, 6 April 2001 di Denpasar 2001.

57. Edi Suhardi Ekajati, Prof. Dr. H. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta 2005.

58. Eliade, Mircea. Mitos Gerak Kembali Yang Abadi, Kosmos dan Sejarah. Terjemahan dari: The Myth of the Eternal Return or, Cosmos and History. Penerjemah: Cuk Ananta. Ikon Taralitera. Yogyakarta 2002.

59. Endang Sri Hardiati, “Arca Raja Majapahit”, Majapahit-Trowulan, Indonesian Heritage Society. Jakarta 2006.

60. Es Danar Pangeran. Menggali Sejarah Madura Lewat Babad Soengenep (8) : Kudapanole Menaklukkan Blambangan. Tabloid POSMO Edisi 44 Tahun I/ 2000.

61. George Coedes, The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press. Kuala Lumpur 1968.

62. Graaf, H.J. de Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Terjemahan: Soemarsaid Moertono. Grafitipers dan KITLV. Jakarta 1985.

63. Graaf, H.J.de dan T.H. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Tinjauan Sejarah Abad XV dan XVI. (Terjemahan). Pustaka Utama Grafiti. Jakarta 1985.

64. Graaf, H.J.de dan T.H. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terjemahan). Pustaka Utama Grafiti. Jakarta 2001.

65. Groeneveldt, W.P., Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources, reprint, Bhratara. Djakarta 1960.

66. Groslier, Bernard Philippe, Indocina Persilangan Kebudayaan. Penerjemah Ida Sundari Hoesen. Kepustakaan Populer Gramedia, École française d’Extrême-Orient, Pusat Penelitian Arkeologi. Jakarta-Paris 2002.

67. Gusti Pudja, M.A, SH. dan Tjokorda Rai Sudharta M.A Manawa Dharmacastra Compendium Hukum Hindu; 1976 – 1977.

68. Gusti Pudja, M.A. SH. Satu Pengantar Dalam Ilmu Weda. Mayasari. Jakarta 1985.

69. Hadi Sidomulyo (nama aslinya: Nigel Bullogh), Napak tilas perjalanan Mpu Prapanca; (kata pengantar: Prof. Dr. Edi Sedyawati). Wedatama Widya Sastra bekerja sama dengan Yayasan Nandiswara [dan] Jurusan Pendidikan Sejarah, FIS Unessa. Jakarta 2007.

70. Hadisoebroto. Aksara Djawa: Tatanan Panulise Basa Djawa sarta Latin. Pantjawarna, Solo 1959.

71. Hall, D.G.E., Sejarah Asia Tenggara. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh I.P.Soewarsha. Usaha Nasional. Surabaya 1988.

72. Hamka. Prof. Dr. Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional Pte Ltd,. Singapore 2005.

73. Hariani Santiko, “Agama” dalam Majapahit-Trowulan, Indonesian Heritage Society. Jakarta 2006.

74. Hariwijaya, M. & Ratih Sarwiyono. Serat Jåyåbåyå, Edisi Revisi. Media Wacana. Yogyakarta Juli 2008.

75. Harun Hadiwijono. Konsepsi tentang Manusia Dalam Kebatinan Jawa. Sinar Harapan. Jakarta 1983.

76. Hasan Djafar, Girindrawarddana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Yayasan Dana Penerbitan Buddhis Nalanda. Jakarta 1978.

77. Hermanus Sinung Janutama Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta 2010.

78. Herry Nurdi. Risalah Islam Nusantara, Sabili Edisi Khusus: Sejarah Emas Muslim Indonesia. No. 9 Th. X 2003.

79. I Gede Sura. Pengendalian Diri dan Etika Dalam Ajaran Agama Hindu. Hanuman Sakti. Jakarta 1993.

80. I Gusti Ngurah Bagus. Prof. Pertentangan kasta dalam bentuk baru pada masjarakat baru {i.e. Bali}. makalah lepas. Fakultas Sastra Universitas Udayana. Bali 1969.

81. I Gusti Putu Phalgunadi. Sekilas Sejarah Evolusi Agama Hindu. Editor: I B Putu Suamba. Widya Dharma. Denpasar 2006

82. I Wayan Maswinara. Sistem Filsafat Hindu. Paramita. Surabaya 1999.

83. Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda Kasta di Bali: Kesalah-pahaman yang sudah sirna, tulisan lepas, Denpasar Bali 2010.

84. Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, Catur Ashrama, Canang Sari Dharmawacana. Denpasar tanpa tahun.

85. Iman Anom. Serat linglung Sunan Kalijaga (Syeh Melaya) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Khafid Kasri (et al.) ; editor, Kasmiran W. Sanadji
Jakarta. Balai Pustaka. Jakarta 1993.

86. Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, BPK Gunung Muia Jakarta 2004.

87. Johns, A.H. The Role of Structural Organisation and Myth in Javanese Historiography. The Journal of Asian Studies 1964.

88. Jong, S. de. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa. Yayasan Kanisius. Yogyakarta 1976.

89. Karkono Partokusumo. Falsafah Kepemimpinan dan Satria Jawa dalam Perspektif Budaya. Bina Rena Pariwara. Jakarta 1998.

90. Karto Atmodjo, M.M. S. Struktur Masyarakat Jawa Kuno pada Jaman Mataram Hindu dan Majapahit. Pusat Penelitian dan Studi Pedesaan dan Kawasan UGM. Yogyakarta 1979.

91. Koesoemawardhani, Goesti Raden Adjeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati. Damar Woelan Ngarit. Toneelstuk van de Langendrija-Klitik Lakon Wayang Klitik). Soerakarta 1930.

92. Krom, Nicolaas Johannes, Hindoe-Javaansche Geschiedenis, tweede herziene druk, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage 1931.

93. Kusen, dkk., Agama dan Kepercayaan Masyarakat Majapahit, dalam 700 Tahun Majapahit (1293-1993) Suatu Bunga Rampai, Wisnu Murti. Surabaya 1993.

94. Leona Anderson. Review of Kinney, Ann R. Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. Department of Religious Studies, University of Regina, H-Buddhism, H-Net Reviews. Canada 2005.

95. Levathes, Louise, When China Ruled the Seas, Simon & Schuster. New York 1994.

96. Lombard, Denys Prof., Nusa Jawa: Silang Budaya. Warisan Kerajaan-kerajaan Kosentris. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2005.

97. Lombard, Denys. Nusa Jawa : Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu. Bagian II: Jaringan Asia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2005.

98. Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya II, Jaringan Asia. Terjemahan. Gramedia Pustaka Utama, Forum Jakarta-Paris, Ecole francaise d’Extreme-Orient. Jakarta 2008.

99. Ma Huan Ying-Yai Sheng-Lan (1433): The Overall Survey of the Ocean’s Shores. (Laporan Umum Tentang Pantai-pantai Lautan). Diterjemahkan dari teks China, diedit oleh Feng Chéng-Chun dengan catatan dan introduksi oleh J.V.G Mills. Publikasi Cambridge University Press. Cambridge 1970.

100. Machi Suhadi, Tanah Sima Dalam Masyarakat Majapahit, Disertasi, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta 1993.

101. Man, John, Kublai Khan: The Mongol king who remade China, Bantam Books. London 2007.

102. Mangkudimedja, R.M., Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Departemen P dan K. Jakarta 1979.

103. Mangkudimedja. R.M. Serat Pararaton Jilid 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Jakarta 1979.

104. Marbangun Hardjowirogo. Manusia Jawa. Inti Idayu Press. Jakarta 1984.

105. Martha A. Muusses, Singhawikramawarddhana, Feestbundel, Volume 2, Bataviaasch Genootschap (150 jarig bestaan 1778–1928), Batavia, 1929.

106. Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (ed.). Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Balai Pustaka. Jakarta 1990.

107. Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia, Balai Pustaka. Jakarta 2008.

108. Mas Sastradiredja, Wawatjan Damarwoelan. Balai Poestaka. Batavia 1931.

109. Megandaru W. Kawuryan. Negara Kertagama, Tata Pemerintahan Kraton Majapahit. Panji Pustaka. Jakarta 2006.

110. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. (Terjemahan). S’Gravenhage 1903.

111. Mircea Eliade, Sakral dan Profan, Fajar Pustaka Baru. Yogyakarta 2002.

112. Moedjianto. Konsep Kekuasaan Jawa, Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Kanisius. Yogyakarta 1994.

113. Moehadi. Modul Sejarah Indonesia. Karunia Jakarta. 1986.

114. Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jåyåbåyå Versi Sabda Palon. Yudha Gama Corp. Jakarta 1982.

115. Moh. Hari Soewarno. Sêrat Darmogandhul dan Serat Gatoloco tentang Islam. Antar Surya Jaya. Surabaya 1985.

116. Moh. Hasyim Munif, Drs. Pioner & Pendekar Syiar Islam Tanah Jawa Yayasan Abdi Putra Al-Munthasimi. Gresik 1995.

117. Mohamad Sobary. Sunan Drajad, Kompas 29 Desember 1996.

118. Mohammad Dahlan, KH. Haul Sunan Ampel Ke-555, Yayasan Makam Sunan Ampel. Surabaya 1979.

119. Mudjadi dan Agus Salim (penerjemah), The Antiquites of Singasari. Terjemahan 1976. Blom. Yessy 1939.

120. Muhammad Yamin, Tatanegara Madjapahit. Risalah Sapta Parwa, berisi 7 Djilid atau Parwa, Hasil Penelitian Ketatanegaraan Indonesia tentang Dasar dan Bentuk Negara Nusantara Bernama Madjapahit, 1293 sd 1525. Prapantja. Djakarta 1962.

121. Muhammad Yamin. 6000 Tahun Sang Merah Putih. Siguntang. Jakarta 1954.

122. Muhammad Yamin. Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara. Balai Pustaka. Jakarta 1977.

123. Mulder, Niels. Kebatinan Dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa: kelangsungan dan perubahan kulturil. Gramedia. Jakarta 1983.

124. Mulja, S. Balsafah Gatholotjo. Permata. Semarang tanpa tahun.

125. Noorduyn, Jacobus, Majapahit in the Fifteenth Century, Bijdragen 134, Koninklijk Instituut, Leiden, 1978.

126. Noorduyn, Jacobus, The Eastern Kings in Majapahit, Bijdragen 131, Koninklijk Instituut, Leiden, 1975.

127. Nurul Huda. Tokoh Antagonis Darmo Gandhul, tragedi sosial historis dan keagamaan di penghujung kekuasaan Majapahit. Pura Pustaka, Yogyakarta 2002.

128. Nyoman Sri Susilowati, Akibat hukum terhadap perkawinan nyeburin antar kasta menurut Hukum Adat Bali. Tesis pada Program Pasca Sarjana UGM Yogyakarta 2003.

129. Padmapuspita, Ki, PararatonTeks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia. Taman Siswa. Jogjakarta 1966.

130. Panitia Seminar. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Panitia Seminar. Medan 1963.

131. Paul Ravaisse, L’inscription coufique de Leran a Java, Tijdschrift 65, Bataviaasch Genootschap, Batavia, 1925.

132. Pigeaud, Theodore Gautier Thomas. Java in the Fourteenth Century: A Study in Culture History: The Nagarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D., Volume 4, The Hague. Martinus Nijhoff 1962.

133. Pigeaud, Theodore Gautier Thomas. Javanese and Balinese manuscripts and some codices written in related idioms spoken in Java and Bali: descriptive catalogue, with examples of Javanese script, introductory chapters, a general index of names and subjects. Steiner. 1975

134. Pigeud, Theodore Gautier Thomas. Java in the 14th Century A Study in Cultural History I Javanese Texts in Transcription, The Hague. M. Nijhoff 1960.

135. Pitono Hardjowardojo. Pararaton. Bhratara. Djakarta 1965.

136. Pitono, R. Pengaruh Tantrayana pada Kebudayaan Kuno di Indonesia. IKIP Malang tanpa tahun.

137. Poerbatjaraka, R. Ng. Kapustakan Jawi. Jambatan. Jakarta 1958.

138. Pogadaev, V. A., Gajah Mada: The Greatest Commander of Indonesia. Historical Lexicon. XIV –XVI Century. Vol. 1. h.245-253, Znanie Мoscow. 2001.

139. Prapantja, Rakawi, The Negara-Kertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 AD. trans. by Theodore Gauthier Pigeaud, Java in the 14th Century, A Study in Cultural History. The Hague, Martinus Nijhoff 1962.

140. Priyohutomo. Nawaruci. JB. Wolters Uitgevers Maatschapij. Groningen 1934. (Reprint).

141. Purwadi. Sejarah Raja-Raja Jawa Media Ilmu. Yogyakarta 2007.

142. R. Soegondo. Kolonel Inf.Ilmu Bumi Militer Indonesia. Pembimbing, Jakarta 1954.

143. Raffles, Sir Thomas Stamford, F.R.S. The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. Vol II, 2nd Ed, 1830 (Terjemahan). Reprint. tanpa tahun.

144. Rahimsyah. MB. Legenda dan Sejarah Lengkap Wali Sångå. Amanah. Surabaya tanpa tahun.

145. Rahmad Subagya. Agama Asli Indonesia. Sinar Harapan, Jakarta 1981.

146. Resink, G.J. Indonesia’s History Between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory. The Hague: W. van Hoeve 1968.

147. Restu Gunawa, Muhammad Yamin dan cita-cita persatuan Indonesia. University of Michigan Press. Michigan 2005.

148. Riboet Darmosoetopo. Dampak Kutukan dan Denda terhadap Penetapan Sima pada Masyarakat Jawa Kuna, dalam AHPA. Proyek Penelitian Purbakala Jakarta. Jakarta 1995.

149. Ricklefs, Merle Calvin, A Consideration of Three Versions of the Babad Tanah Djawi, with Excerpts on the Fall of Madjapahit, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, Vol.35(2), London, 1972.

150. Ricklefs, Merle Calvin. A Consideration of Three Versions of the Babad Tanah Djawi, with Excerpts on the Fall of Madjapahit, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, Vol.35(2). London 1972.

151. Ricklefs, Merle Calvin. A History of Modern Indonesia Since c. 1300, 2nd ed. Stanford University Press. Stanford 1993.

152. Ricklefs, Merle Calvin. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 Edisi ke-3. Diterjemahkan oleh S. Wahono dkk. Serambi. Jakarta 2005.

153. Ricklefs, Merle Calvin. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan Dharmono Hardjowidjono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta 1995.

154. Robson, Stuart O. Désawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu Prapanca. KITLV Press. Leiden 1995.

155. Sanoesi Pane, Sandyakala Ning Majapahit. Balai Poestaka. Batavia 1933.

156. Sapadi Djoko Damono, Sonya Sondakh (penyunting) Babad Tanah Jawi: Mitologi, Legenda, Folklor, dan Kisah Raja-raja Jawa. Buku I. Amanah Lontar. Jakarta 2004.

157. Sartono Kartodirdjo (ed.). Sejarah Nasional Indonesia Jilid III. Balai Pustaka. Jakarta 1977.

158. Sartono Kartodirdjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid I. Gramedia. Jakarta 1987.

159. Sentot, Drs. D. Tj. Sejarah Nasional dan Dunia. Prima Offset. Wonogiri. Tanpa tahun.

160. Sidjabat. Dr. W. B. (ed.) et. all. Latar Belakang Sosial dan Kultural dari Geredja-geredja Kristen di Indonesia. Panggilan Kita di Indonesia Dewasa ini. BP Kristen. Jakarta 1964.

161. Simuh, Sufisme Jawa, Transformasi Tasawwuf ke Mistik Jawa. Bentang Budaya. Yogyakarta 1995.

162. Singgih Hadi Mintardja, Nagasasra Sabukinten Kedaultan Rakyat Yogyakarta.

163. Singgih Hadi Mintardja, Pelangi di Langit Singosari (serial) Yayasan Panuluh. Yogyakarta.

164. Siti Maziyah, Kontroversi Serat Gatholoco perdebatan teologis penganut kejawen dengan paham puritan. Swarta Pustaka. Yogyakarta 2005.

165. Slamet Muljana, Prof Dr., Sriwijaya, LKIS. Yogyakarta 2006

166. Slamet Muljana, Prof. Dr., Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Yayasan Idayu. Jakarta 1981.

167. Slamet Muljana, Prof. Dr., Nagara Kertagama, Tafsir Sejarahnya. LkiS. Yogyakarta 2006.

168. Slamet Muljana, Prof. Dr., Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. LkiS Yogyakarta 2008.

169. Slamet Muljana, Prof. Dr., Menuju Puncak Kemegahan.(Sejarah Majapahit) LkiS. Yogyakarta 2005.

170. Slamet Mulyana, Prof Dr., Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit, Yayasan Idayu. Jakarta 1983.

171. Slamet Mulyana, Prof. Dr., Perundang-undangan Majapahit, Bhatara. Djakarta 1967.

172. Soekama Karya, H., et all., Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. Logos Jakarta 1996.

173. Soekama Karya. H., et all. Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. Logos, Jakarta 1996.

174. Soekmono, Candi, Fungsi dan Pengertiannya, Disertasi: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta 1974.

175. Soekmono, Drs. R., Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Penerbit Kanisius. Yogyakarta 1988.

176. Solichin Salam, Sekitar Wali Sångå, Menara Kudus. Kudus 1960.

177. Sri Sukesi Adiwimarta. Kidung Sunda (Sastra Daerah Jawa), Antologi Sastra Daerah Nusantara. Yayasan Obor. Jakarta 1999.

178. Subalidinata, R.S., Sumarti Suprayitno, Anung Tedjo Wirawan Sejarah dan perkembangan cerita murwakala dan ruwatan dari sumber-sumber sastra Jawa. University of Michigan Press. Michigan 1985.

179. Sudibya, Z.H. Babad Tanah Jawi. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1980.

180. Sumadio, B. (ed.). Sejarah Nasional Indonesia II. Balai Pustaka. Jakarta 1977.

181. Sumatijnama, Pandita, Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya dan Sang Hyang Kamahayanan, Yayasan Bhumisambhara. Jakarta 2003.

182. Sunarno Sisworahardjo, Pituduhing Ngaurip, Panjebar Semangat. Surabaja 1960.

183. Supratikno Rahardjo. Peradaban Jawa. Komunitas Bambu. Jakarta 2002.

184. Suroyo, A.M. Djuliati, dkk. Penelitian Lokasi Bekas Kraton Demak. Kerjasama Bappeda Tingkat I Jawa Tengah dengan Fakultas Sastra UNDIP. Semarang 1995.

185. Suwardi Endraswara, Tradisi Lisan Jawa, Warisan Abadi Budaya Luhur Narasi. Yogyakarta 2005.

186. Suyamto. Refleksi Budaya Jawa dalam Pemerintahan dan Pembangunan. Dahana Prize. Semarang 1992.

187. Syaikh Ahmad Musthafa Al Maraghi. Tafsir Al Maraghi. Juz I. Terj. Drs. M. Thalib. Ramadhani, Surakarta 1989.

188. Tandhanagara, K.R.T, Darmogandhul , Carita Adêge Nagara Islam Ing Dêmak Bêdhahe Nagara Majapahit. Sadu Budi Sala. Surakarta 1959.

189. Teeuw, Andries et al, Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung, Bibliotheca Indonesica 3, Martinus Nijhoff, The Hague, 1969.

190. Teeuw, Andries. (et al), Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung, Bibliotheca Indonesica 3, Martinus Nijhoff. The Hague 1969.

191. Teeuw, Andries. Sastra Indonesia Modern II. Pustaka Jaya. Jakarta 1989.

192. Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. Khasanah Budaya Nusantara V.. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1994.

193. Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. Khasanah Budaya Nusantara VI.. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1995.

194. Tjakraningrat, Kangdjeng Pangéran Harja. Serat Damarwulan. R. Soemodidjojo. Ngajogjakarta Hadiningrat 1953.

195. Toru Aoyama, Kitab Sutasoma. Australisan National University. Canberra 1991.

196. Uka Tjandrasasmita, Majapahit dan Kedatangan Islam serta Prosesnya, dalam 700 Tahun Majapahit (1293-1993) Suatu Bunga Rampai, Wisnu Murti, Surabaya 1993.

197. Uka Tjandrasasmita. (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, PN Balai Pustaka. Jakarta 1984.

198. Umar Hasyim. Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Menara Kudus. Kudus 1981.

199. Umar Hasyim. Sunan Giri dan Pemerintahan Ulama di Giri Kedaton. Menara Kudus, Kudus 1979).

200. Van Bruinessen, Martin. Najmuddin al-Kubra, Jumadil Kubra and Jamaluddin al-Akbar: Traces of Kubrawiyya influence in early Indonesian Islam, Bijdragen tot de Taal-. Land- en Volkenkunde
1994.

201. Van Den Berg, H. J. Dr. , H. Kroeskamp, I. P. Simandjoentak. Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia. Djilid I : India, Tiongkok, dan Djepang, Indonesia. J. B. Wolters. Jakarta – Groningen 1952.

202. Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle. Bandung 1987.

203. Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten. Bandung 2005.

204. Yuanzhi Kong. Prof. Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Penyunting: Prof. HM. Hembing Wijayakusuma. Pustaka Populer Obor. Jakarta 2000.

205. Yuliadi Soekardi, Nalusur Sejarahe Sunan Gunungjati. Majalah Panjebar Semangat Edisi 23-27. Surabaya 2002.

206. Zoetmulder, P. J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Djambatan – KITLV. Jakarta 1983.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Telah Terbit on 12 November 2011 at 07:05  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit-bagian-ketiga/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wikipedia

    Seri Surya Majapahit

  2. Terima kasih, nambah ilmu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: