Seri Surya Majapahit – Bagian ketiga

WAOSAN KA-46

On 21 Agustus 2011 at 05:12 cantrik bayuaji said:

Nuwun
Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:
Waosan kaping-45; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-11] Akhir Pemerintahan Prabu Hayam Wuruk [Bagian ke-1] On 21 Agustus 2011 at 05:05 JdBK 13

Waosan kaping-46:
BHRE JIWANA HAYAM WURUK MAHARAJA SRI RAJASANEGARA (1350-1389) [Parwa ka-12]

AKHIR PEMERINTAHAN PRABU HAYAM WURUK [Bagian ke-2]

Sansåyå dalu araras abyor kang lintang kumedhap. Titi sonyå têngah wêngi lumarang gandaning puspitå ‘rum, kasiliring samirånå mrik, Ong……….. sêkar gadhung, kongas gandanyå o…. mawèh raras rênaning driyå, o…. o…. o….

Surya Majapahit mulai meredup menuju sandyakala

Upacara ini disebut Sradha yang dilaksanakan dengan dharma yang harinya pun telah dihitung sejak meninggal tiga hari, tujuh hari, dan seterusnya sampai seribu hari dan tiga ribu hari. Hal ini sampai sekarang di Jawa masih berjalan yang disebut dengan istilah sradha, sradangan yang pada akhirnya disebut nyadran.

Memperhatikan perkembangan agama Hindu yang mewarnai kebudayaan serta seni sastra di Indonesia di mana raja-rajanya sebagai pimpinan memperlakukan sama terhadap dua agama yang ada yakni Syiwa dan Budha, jelas merupakan pengejawantahan toleransi beragama atau kerukunan antar agama yang dianut oleh rakyatnya dan berjalan sangat baik.

Ini jelas merupakan nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada umat beragama yang ada pada saat sekarang. Nilai-nilai luhur ini bukan hanya mewarnai pada waktu lampau, tetapi pada masa kini pun seharusnya tetap merupakan nilai-nilai positif bagi pewaris-pewarisnya.

Sebagai patih Amangkubhumi Gajah Mada menyampaikan pesan kepada para Menteri dan Punggawa untuk turut berperan-serta dalam upacara srada tersebut. Pada hari pertama upacara tersebut dimulai dengan pemujaan Budha.

Upacara ini dipimpin oleh pendeta Stapaka dengan dibantu Empu dari Paruh. Semua pendeta berdiri dalam lingkaran untuk menyaksikan pemujaan Budha oleh Sang Prabu. Kemudian menyusul doa untuk memanggil jiwa Rajapatni dari Budhaloka yang ditampung dalam arca bunga.

Pada malam berikutnya dilanjutkan pemujaan terhadap arca bunga yang telah terisi jiwa Rajapatni, pemujaan dipimpin oleh pendeta dengan samadi dan puji pujian. Paginya arca bunga dibawa keluar disambut dengan bunyi tambur dan genderang. Arca bunga kemudian didudukkan di Singgasana setinggi orang berdiri. Pemujaan dimulai dengan semua pendeta Budha kemudian dilanjutkan dengan Raja, permaisurinya dan putra putranya serta anggota keluarga lainnya.

Pada hari ketujuh dipentaskan tari-tarian dan kesenian lainnya dari berbagai wilayah Majapahit. Upacara srada akhirnya ditutup pada hari kedelapan, Pagi pagi pendeta Budha berkumpul untuk melakukan pemujaan dengan lagu-lagu pujaan yang diciptakan khusus untuk Rajapatni yang telah berpulang ke Budhaloka. Arca bunga kemudian diturunkan dari singgasana dengan upacara, semua sajian kemudian di bagikan habis ke semua undangan. Demikianlah upacara srada telah selesai dan dilanjutkan dengan perbaikan makam Rajapatni di Kamal Pandak.

***

Hayam Wuruk lahir tahun 1334, beberapa bulan sebelum Gajah Mada dikukuhkan sebagai Mahapatih Amangkubumi. Pada saat Gajah Mada mengucapkan sumpah sakral Tan Ayun Amuktia Palapa bayi Hayam Wuruk baru saja menikmati udara Majapahit.

Dia tidak tahu dan mengalami langsung peristiwa bersejarah itu, tapi belasan tahun kemudian tangannyalah yang kemudian memimpin dan membawa Majapahit melaksanakan program maha dahsyat itu.
Di tangannyalah kemudian seluruh perairan Nusantara bersatu menentang penjajahan bangsa asing dari Daratan Utara.

Sabdanya telah membentuk negara menjadi pemerintahan yang berwibawa dan disegani rakyatnya. Masyarakat Majapahit menunduk hormat sambil merapatkan kedua telapak tangannya dengan ikhlas kepada sang Raja. Sabda raja adalah hukum yang harus dihormati.

Tiga puluh delapan tahun masa pemerintahannya sejak tahun 1351 sd 1389, Hayam Wuruk telah membawa seluruh rakyat Majapahit, Wilwatikta Agung, ke puncak kejayaan dan keemasan. Membawa seluruh rakyatnya mengalami kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan. Setiap perayaan agung di pusat kerajaan dimeriahkan oleh seluruh rakyat tanpa kecuali.

Pada masa pemerintahannya itulah kerajaan-kerajaan lain di Nusantara Raya ini tidak hanya sekedar sebagai negara bawahan yang tidak mempunyai kemerdekaan, tetapi semua kerajaan itu bersama-sama dengan pemerintah pusat di Jawa Timur mengembangkan potensi daerah masing-masing bagi kepentingan Nusantara Raya ini.

Persatuan dan kesatuan yang menjadi program dasar Majapahit Agung telah memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat bagi pengembangan daerah yang pada akhirnya membawa negara besar ini ke pintu gerbang kemajuan peradaban bangsa yang disegani oleh negara sahabat dan mancanegara.

Tercatat, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk tidak ada pemberontakan di dalam negeri yang cukup berarti seperti pada masa-masa pemerintahan sebelumnya. Hubungan dengan negara tetangga sangat baik, terutama dengan Cina.

Ditandai dengan gempa bumi yang sangat dahsyat yang oleh Pararaton disebut peristiwa pabanyu pindah (peristiwa ini berulang kembali di Abad ke-21, namun akibat ulah manusia yaitu Lêndhut Bêntèr ‘Jêng’ LuSiLumpur Sidoarjo –) yang menimbulkan kerugian harta dan nyawa, dan didahului dengan munculnya pemberontakan-pemberontakan dan krisis kepemimpinan di pusat kerajaan Majapahit, lahirlah bayi Hayam Wuruk di tengah-tengah masyarakatnya pada tahun 1334.

Seluruh masyarakat, dari kasta paling rendah sampai para bangsawan dan petinggi Majapahit menyambut kelahiran jabang bayi calon pemimpin besar bangsa ini. Semua bergembira. Lebih dari sebulan Majapahit menyambut kelahiran putra mahkota itu dengan mengadakan pesta rakyat di alun-alun Bubat.

Para pendeta Hindu dan Budha melakukan upacara keagamaan yang sangat sempurna. Candi-candi dan tempat-tempat ibadah dibersihkan. Para pujangga dan seniman istana mengukir dan memuji si jabang bayi dengan sentuhan estetika mereka. Setiap desa, padukuhan dan tanah perdikan di seluruh Majapahit, Daha, Kahuripan dan Singasari mengantarkan hasil bumi mereka ke kotaraja bagi keberlangsungan upacara-upacara yang diadakan.

Mereka bersama-sama merayakan hari bahagia menyambut putra mahkota di kotaraja. Alun-alun Bubat dipenuhi tenda-tenda yang disediakan oleh kerajaan bagi para pemimpin daerah yang datang. Seluruh Majapahit bergembira, putra mahkota telah lahir, seorang laki-laki yang tampan, sempurna lahir dan batiniah.

Hayam Wuruk yang juga bernama Raden Tetep itu bersama-sama Gajah Mada, orang yang memomongnya dengan tlatèn sejak dia masih kecil, telah memberikan garis kebijakan yang sangat jelas mengenai rantai kepulauan besar Nusantara, yang menurut Mohammad Yamin (berdasarkan uraian Nāgarakṛtāgama) terbagi dalam daerah yang delapan, yaitu:

I. Seluruh Jawa, meliputi: Jawa, Madura dan Galiyao (Kangean).

II. Seluruh Pulau Sumatra (Melayu), meliputi: Lampung, Palembang, Jambi, Karitang (Inderagiri), Muara Tebo, Dharmasraya (Sijunjung), Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tamiang, Perlak, Barat (Aceh), Lawas (Padang Lawas, Gayu Luas), Samudra (Aceh), Lamuri (Aceh tiga segi), Bantam dan Barus.

III. Seluruh Pulau Kalimantan (Tanjungnegara), meliputi: Kapuas, Katingan, Sampit, Kuta Lingga (Serawak), Sedu (Sedang di Serawak), Kota Waringin, Sambas, Lawar (Muara Labai), Kedangdanan (Kendangwangan), Landak, Samedang (Simpang), Tirem (Peniraman), Sedu (Serawak), Brunai, Kalka Saludung, Solot (Solok, Sulu), Pasir, Baritu, Sebuku, Tabalong (Amuntai), Tanjung Kutai, Malanau dan Tanjungpuri.

IV. Seluruh Semenanjung Melayu (Malaka), meliputi: Pahang, Hujungmedini (Johar), Lengkasuka (Kedah), Saimwang (Semang), Kelantan, Trengganu, Nagor (Ligor), Pakamuar (Pekan Muar), Dungun (di Trengganu), Tumasik (Singapura), Sanghyang Hujung, Kelang (Kedah, Negeri Sembilan), Kedah. Jere (Jering, Petani), Kanjab (Singkep) dan Niran (Karimun).

V. Di sebelah timur Jawa, seluruh Nusa Tenggara, meliputi: Bali, Bedulu, Lwagajah (Lilowan, Negara), Gurun (Nusa Penida), Taliwang (Sumbawa), Dompo (Sumbawa), Sapi (Sumbawa), Sanghyang Api (Gunung Api, Sangeang), Bima, Seram, Hutan (Sumbawa), Kedali (Buru), Gurun (Gorong), Lombok Mira (Lombok Barat), Saksak (Lombok Timur), Sumba dan Timor.

VI. Seluruh Sulawesi, meliputi: Bantayan (Bontain), Luwuk (Luwu), Udamakatraya (Talaud), Makasar, Butun (Buton), Banggawi (Banggai), Kunir (Pulau Kunyit), Salaya (Saleier) dan Solot (Solor).

VII. Seluruh Maluku, meliputi: Muar (Kei), Wandan (Banda), Ambon dan Maluku (Ternate).

VIII. Seluruh Irian (Barat), meliputi: Onin (Irian Utara) dan Seram (Irian Selatan).

Wilayah Kekuasaan Majapahit Jaman Pemerintahan Hayam Wuruk

Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Menurut Kakawin Nāgarakṛtāgama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi hampir seluas wilayah Negara Keastuan Republik Indonesia sekarang, termasuk daerah-daerah Sumatra di bagian barat dan di bagian timur Maluku serta sebagian Papua (Wanin), dan beberapa negara Asia Tenggara.

Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Cina.

Daerah-daerah di luar Jawa yang dikuasai Majapahit pada jaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk seperti diuraikan dalam Nāgarakṛtāgama pupuh 13 dan 14 antara lain:

[Pupuh XIII (13)]

[1].
lwir ning nusa pranusa pramuka sakahawat ksoni ri malayu
ning jambi mwang palembang karitang i teba len dharmasraya tumut
kandis kahwas manangkabwa ri siyak i rokan kampar mwang i pane
kampe harwathawe mandahiling i tumihang parlak muang i barat.

[2].
i lwas lawan samudra mwang i lamuri batan lampung mwang i barus
yakadhinyang watek bhumi malayu satanan kapwamateh anut
len tekang nusa tanjungnagara ri kapuhas lawan ri katingan
sampit mwang kutalingga mwang i kuta waringin sambas mwang i lawai.

[Pupuh XIV (14)]

[1].
kadangdangan i landa len ei samedang tirem tan kasah
ri sedu baruneng ri kalka saludung ri solot pasir
baritw i sawaku muwah ri tabalung ri tanjung kute
lawan ri malano makapramuka ta(ng) ri tanjungpuri.

[2].
ikang sakahawan pahang pramuka tang hujungmedhini
ri lengkasuka len ri saimwang i kalantan i trenggano
nasor pakamuwar dungun ri tumasik ri sanghyang hujung
kelang keda jere ri kanjapiniran sanusapupul.

[3].
sawetan ikanang tanah jawa muwah ya warnnanen
ri balli makamukya tang badahulu mwang i lwagajah
gurun makamuka sukun ri taliwang ri dompo sapi
ri sanghyang api bhima seran i hutan kadalyapupul.

[4].
muwah tang i gurun sanusa mangaran ri lombok mirah
lawan tikang i saksakadi nikalun kahajyan kabeh
muwah tanah i bantayan pramuka bantayan len luwuk
tekeng udamakatrayadhi nikanang sanusapupul.

[5].
ikang sakasanusanusa makasar butun banggawi
kunir ggaliyao mwang i salaya sumba solot muar
muwah tikang i wandan ambwan athawa maloko wwanin
ri seran i timur makadi ning angeka nusatutur.

Di Sumatra : Jambi, Palembang, Toba, Darmasraya, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane Kampe, Haru, Mandailing, Tamihang, Perlak dan Padang, Samudra, Lamuri, Batan, Lampung, Barus, dan negara-negara Melayu.

Di Kalimantan Tanjungnegara: Kapuas-Katingan Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kadandangan, Landa Samadang, Tirem, Sedu, Barune(ng) (Brunai), Kalka, Saludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung Kutei, Malano.

Di Semenanjung Tanah Melayu Hujung Medini: Pahang, Langkasuka, Saimwang, Kelantan, Trengganu, Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang, Kedah, Jerai, dan Kanjapiniran.

Sebelah Timur Jawa: Bali, Badahulu, Lo Gajah, Gurun, Sukun, Taliwang, Pulau Sapi, Dompo, Sang Hyang Api, Bima, Seram, Hutan Kendali (Kadali), Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah, Sasak, Bantayan, Luwuk, Udamakatraya, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian, Salayar, Sumba, Solot, Muar (Saparua), Wanda(n) (Banda), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, dan Timor, dan beberapa lagi pulau-pulau lain.

Setelah menyimak data tersebut, Gajah Mada berhasil mewujudkan sumpahnya. Wilayah kekuasaan Majapahit hampir meliputi seluruh wilayah Nusantara, bahkan Semenanjung Malaya juga berhasil dikuasai Majapahit kecuali kerajaan Pajajaran (Sunda) yang belum dikuasainya.

Masih dalam Nāgarakṛtāgama pada Pupuh 15, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk Majapahit sudah menetapkan batasan wilayah negara tetangga (bukan negara bawahan).

[Pupuh XV (15)]

[1].
nahan lwir ning desantara kacaya de sri narapati
tuhun tang syangkayodhyapura kimutang dharmanagari
marutma mwang ring rajapura nguniweh singhanagari
ri campa kambojanyati yawana miteka satata.

[Inilah nama negara asing yang mempunyai hubungan,
Siam dengan Ayudyapura, begitu pun Darmanagari,
Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari,
Campa, Kamboja dan Yawana ialah negara sahabat.]
Sin atau Siam (Syangka), Thai, Dharmanagara, Martaban atau Marutma (Birma), Kalingga (Rajapura), Singanagari, Campa, Kamboja dan Annam (Yawana).

[2].
kunang tekang bhumi madhura tanani lwir para puri
ri denyan tunggal mwang yawadharani rakwekana dangu
samudrananggung bhumi keta sakakalanya karengo
tewekny dadyapantara sasiki tatwanya adoh.

[Tentang pulau Madura, tidak dipandang negara asing,
Karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu,
Konon tahun Saka samudrananggung bhumi keta, itu saat,
Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.]

[3].
huwus rabdha ng dwipantara sumiwi ri sri narapati
padasthity awwat pahudhama wijil angken pratimasa
sake kotsahan sang prabhu ri sakahaywanya n iniwo
bhujangga mwang mantrinutus umahalotpatti satata.

[Semenjak nusantara menadah perintah Sri Baginda,
Tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti,
Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan,
Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti.]

Gajah Mada, seorang Mahapatih Amangkubhumi Majapahit dari 1331 ke 1364, memperluas kekuasaan kekaisaran ke pulau sekitarnya. Pada tahun 1377, yaitu beberapa tahun sesudah kematian Gajah Mada, angkatan laut Majapahit menduduki Palembang, menaklukkan daerah terakhir bekas kerajaan Sriwijaya.

***

Hayam Wuruk suka menari (memainkan peran wanita) sebagai Pager Antimun, menjadi dalang dengan gelar Tirtaraju, kalau jadi pelawak dalam wayang mengambil peran Gagak Ketawang, sebagai pemeluk agama Syiwa dikenal sebagai Janeswara. Sebagai raja selain mengambil nama abiseka Sri Rajasanagara juga sering disebut Sang Hyang Wekasing Suka.

Kepopuleran Hayam Wuruk bukan saja di dalam negeri, tetapi juga di mancanegara. Seorang bhiku dari pertapaan Sadwihara di daerah Kancipuri (India) yang bernama Sri Budhatiya mengarang buku Bhogawali, berisi pujian kepada Sang Prabu Hayam Wuruk.

Hayam Wuruk dinobatkan sebagai putra mahkota (yuwaraja) sejak masih kanak-kanak di Kahuripan dengan gelar abhiseka Sri Rajasanagara yang terus dipakainya sampai menjadi raja di Majapahit (dinobatkan pada usia 16 tahun, pada pertengahan tahun 1351).

Menurut Pararaton, sehabis perang Bubat (kegagalan Hayam Wuruk memperistri putri Sunda: Dyah Pitaloka) Hayam Wuruk memperistri Paduka Sori, putri Bhatara Hyang Paramesywara dengan Dyah Wiyat Sri Rajadewi Maharajasa. Bhatara Hyang Paramesywara adalah Bhre Wengker (raja di Wengker). Dyah Wiyat adalah bibinya, adik ibunya yang menjadi ratu di Daha (Bhre Daha). Jadi Paduka Sori masih adik sepupunya.

Dari perkawinan itu lahir Bhre Lasem Sang Ahayu. Menurut Nāgarakṛtāgama pupuh VII (7):4 Bhre Lasem Sang Ahayu bernama Kusumawardhani yang akhirnya kawin dengan Bhre Mataram Wikramawardhana, putra sulung Bhre Pajang. Sepeninggal Sri Rajasanagara, Wikramawardhanalah yang menjadi raja di Majapahit.

Nāgarakṛtāgama Pupuh VII (7) : 4

takwan wrddhi siran pakanak i sireng nrpati kusumawarddhaniswari
rajni rajakumarii anindya siniwing pura ring kabalan utameng raras
sang sri wikramawarddhanendra saniruktya nira pangucap ing sanagara
saksat dewata dewati sira n atemwa helem anukani twas ing jagat.

[Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardani, sangat cantik
Sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan
Sang menantu Sri Wikramawardana memegang perdata seluruh negara
Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menyenangkan pandangan.]

Masa-masa Suram Majapahit

Hayam Wuruk wafat tahun 1369, yang diperkirakan dimuliakan di Tayung (daerah Brebek Kediri), yang digantikan oleh keponakannya yang juga menantunya, Wikramawardhana, suami dari anak perempuannya, Kusumawarddhani. Sedangkan anak Hayam Wuruk dari isteri bukan permaisuri, Bhre Wirabhumi, diberi pemerintahan di ujung Jawa Timur.

Sepeninggal Mahapatih Gajah Mada (1364 M) dan Raja Hayam Wuruk (1389 M), kerajaan pemersatu Nusantara, Kerajaan Majapahit, pecah menjadi Kedaton Wetan dan Kedaton Kulon akibat sengketa keluarga yang saling berebut kekuasaan. Pertengkaran keluarga terjadi. Kelompok-kelompok pendukung dibentuk untuk saling menggalang kekuatan, bersengketa untuk merebut posisi kunci kekuasaan. Bau permusuhan dan saling curiga-mencurigai menebar di mana-mana di seluruh wilayah Majapahit, negeri tak terurus.

Surêm-surêm dwiyangkårå kingkin. Lir manguswå kang layon. Dènyå ilang mêmanisé
[Remang-remang redup memudar cahaya surya matahari seakan bersedih. Seakan mencium bau mayat ….. Dan hilanglah keindahannya.

Majapahit menuju sandhyakala ………………

ånå toêtoêgé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Telah Terbit on 12 November 2011 at 07:05  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit-bagian-ketiga/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wikipedia

    Seri Surya Majapahit

  2. Terima kasih, nambah ilmu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: